Beranda blog

Ada Apa Dengan Buah-Buahan?

0

Ada Apa Dengan Buah-Buahan?

Menurut survei, saat ini kualitas pangan kita sangat lemah, hingga berada di urutan 74 dari 105 negara yang diranking oleh The Economist pada beberapa waktu lalu. Sangat mungkin hal tersebut disebabkan karena adanya kekeliruan dalam memilih komposisi bahan makanan pokok yang dikonsumsi.

Mungkin selama ini, kita terlalu fokus pada bahan pokok dari jenis serelia (tanaman rumput-rumputan yang bijinya digunakan sebagai makanan manusia) seperti padi dan gandum, kemudian jenis umbi-umbian seperti singkong, dan ekstrak tepung seperti sagu.

Lalu, bagaimana dengan buah-buahan? Justru selama ini tidak dianggap sebagai bahan makanan pokok, padahal buah-buahan ini paling banyak disebut di dalam Al-Quran, yang telah Allah jadikan untuk makanan manusia di dunia ataupun di Surga.

Ternyata terdapat lebih dari 60 ayat di dalam Al-Quran yang membahas buah-buahan dari berbagai sisinya. Sementara, kurang dari 10 ayat terkait dengan biji-bijian yang terdiri dari serelia dan kacang-kacangan. Sedangkan, untuk umbi-umbian dan makanan dari batang pohon sagu malah kami belum menemukan ayatnya yang sesuai, meskipun kami juga yakin ada penjelasannya di dalam Al-Quran, karena salah satu sifat Al-Quran adalah menjelaskan segala sesuatu.

Dengan adanya sekitar 60 ayat dalam Al-Quran yang membahas buah-buahan, hal tersebut sangat menguatkan pernyataan, bahwa sesungguhnya bahan makan utama manusia yang seharusnya dominan dikonsumsi adalah dari jenis buah-buahan, sedangkan yang lain sifatnya hanya melengkapi, bukan sebaliknya.

Dalam tulisan ini, insyaallah akan membahas tentang buah-buahan dalam dua sisi penjelasan, yakni berdasarkan syariat dan medis.

A. BERDASARKAN SYARIAT

1. Sebagai Simbol Rezeki.
Allah azza wa jalla berfirman;

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّا رْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ‏
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: Ya Rabbku, jadikanlah negeri Mekah ini, negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman: Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam adzab Neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 126)

رَبَّنَاۤ اِنِّيْۤ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ ۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوْا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْۤ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
“Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb yang demikian itu agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
(Surat Ibrahim: ayat 37)

وَقَالُوْۤا اِنْ نَّـتَّبِعِ الْهُدٰى مَعَكَ نُـتَخَطَّفْ مِنْ اَرْضِنَا ۗ اَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَّهُمْ حَرَمًا اٰمِنًا يُّجْبٰۤى اِلَيْهِ ثَمَرٰتُ كُلِّ شَيْءٍ رِّزْقًا مِّنْ لَّدُنَّا وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Dan mereka berkata: Jika kami mengikuti petunjuk bersamaMu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami. Allah berfirman: Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat tersebut buah-buahan dari segala macam tumbuh-tumbuhan sebagai rezeki bagi kalian dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(Surat Al-Qashash: ayat 57)

2. Sebab Tidak Kelaparan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَجُوعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمْ التَّمْرُ
“Tidak akan lapar penghuni rumah yang memiliki kurma.”
(HR. Imam Muslim, no.3811)

يَا عَائِشَةُ بَيْتٌ لَا تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ يَا عَائِشَةُ بَيْتٌ لَا تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ أَوْ جَاعَ أَهْلُهُ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
“Wahai Aisyah! Rumah yang di dalamnya tidak ada kurma, maka penghuninya akan lapar. Wahai Aisyah! Rumah yang di dalamnya tidak ada kurma, maka penghuninya akan lapar.”
(HR. Imam Muslim, no.3812)

بَيْتٌ لَا تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ
“Rumah yang tidak ada kurma di dalamnya, maka penghuninya adalah orang-orang yang lapar.”
(HR. Abu Dawud, no.3335)

3. Tersedia Di Seluruh Dunia.
Allah azza wa jalla berfirman:

وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَ نَامِ ۙ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَ كْمَامِ ۖ وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ ۚ فَبِاَيِّ اٰلَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
“Dan bumi telah dibentangkanNya untuk makhlukNya. Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum aromanya. Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(Surat Ar-Rahman: ayat 10-13)

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِۢرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ ۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
“Dan perumpamaan orang-orang yang menginfaqkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, yaitu seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun tersebut menghasilkan buah-buahan dua kali lipat (lebih banyak), jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun pun memadai. Allah maha melihat apa yang kalian kerjakan.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 265)

وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَآءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ ۗ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmatNya (hujan), sehingga apabila angin tersebut membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah tersebut. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan tersebut berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kalian bisa mengambil pelajaran.”
(Surat Al-Araf: ayat 57)

4. Termasuk Produk Allah.
Allah azza wa jalla berfirman;

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَ خْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ ۚ وَسَخَّرَ لَـكُمُ الْـفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖ ۚ وَسَخَّرَ لَـكُمُ الْاَ نْهٰرَ ۚ 
“Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Dan Dia telah menundukkan kapal bagi kalian agar berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagi kalian.”
(Surat Ibrahim: ayat 32)

وَهُوَ الَّذِيْۤ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَا لزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَا بِهٍ ۗ كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۤ اِذَاۤ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖ ۖ وَلَا تُسْرِفُوْا ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ۙ 
“Dan Dia (Allah) yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakat) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(Surat Al-Anam: ayat 141)

وَ فِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۗ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
“Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengerti.”
(Surat Ar-Radu: ayat 4)

5. Termasuk Tanaman Surga.
Allah azza wa jalla berfirman:

مُتَّكِــئِيْنَ عَلٰى فُرُشٍۢ بَطَآئِنُهَا مِنْ اِسْتَبْرَقٍ ۗ وَجَنَاالْجَـنَّتَيْنِ دَانٍ ۚ 
“Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal. Dan buah-buahan di kedua Surga itu dapat dipetik dari dekat.”
(Surat Ar-Rahman: ayat 54)

وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلٰلُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوْفُهَا تَذْلِيْلًا
“Dan naungan pepohonannya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik buahnya.”
(Surat Al-Insan: ayat 14)

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗ وَلَهُمْ فِيْهَاۤ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwa untuk mereka disediakan Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari Surga, mereka berkata: Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu. Mereka telah diberi buah-buahan yang serupa. Dan di sana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 25)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullah menjelaskan;
“Ada yang berpendapat maknanya adalah serupa dalam namanya, tapi berbeda rasanya. Ada yang berpendapat serupa dalam warnanya, tapi berbeda namanya. Ada juga yang berpendapat semua buah-buahan di Surga serupa satu sama lainnya dalam keindahan, kelezatan dan kenikmatannya, mungkin saja pendapat terakhir ini yang benar.”
(Taisiru Al-Karimi Ar-Rahman, hlm.46)

Catatan: Ayat-ayat Al-Quran di atas hanya sebagian dari penjelasan yang tercantum dalam Al-Quran. Karena secara umum, sangat banyak ayat-ayat yang semakna dengan ayat-ayat yang sudah tercantum di atas, sehingga kami hanya mencantumkan beberapa ayat yang semakna. Selain itu, ada banyak juga ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang buah-buahan dari sisi yang lainnya.

B. BERDASARKAN MEDIS

1. Bermanfaat Untuk Tubuh.
Di antara manfaat buah-buahan untuk tubuh manusia adalah;
– Sebagai sumber vitamin.
– Sebagai sumber air.
– Sebagai sumber gizi.
– Sebagai sumber antioxidan.
– Sebagai sumber energi.
– Sebagai sumber nutrisi.
– Sebagai sumber enzim.
– Sebagai sumber obat dari berbagai penyakit.
– Sebagai sumber penurunan berat badan.
(ilmusupertop.blogspot.com)

2. Memiliki Banyak Manfaat.
Di antara manfaatnya adalah;
– Mencegah obesitas dan menjaga berat badan yang ideal.
– Menurunkan kadar kolesterol.
– Menurunkan tekanan darah.
– Menurunkan risiko penyakit, seperti diabetes tipe 2, stroke, penyakit jantung, kanker dan hipertensi.
– Kandungan serat pada buah membantu mencegah dan mengatasi masalah pencernaan, seperti sembelit.
– Menjaga kesehatan mata dan mencegah penyakit mata terkait penuaan, katarak, dan degenerasi makula (gangguan penglihatan pada orang tua).
(alodokter.com)

3. Memiliki Banyak Kandungan.
Di antara kandungnya adalah;
– Alpukat.
Mengandung lemak sehat oleat atau omega 9, vitamin e, zat besi, tembaga, kalium, serat, asam folat, dan vitamin b6. Dapat membantu pembentukan sel darah merah, melembutkan dan mengencangkan kulit melalui pembentukan kolagen, memcegah anemia, membentuk reaksi basa sehingga kekebalan tubuh meningkat, mengendalikan kadar kolesterol jahat dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), membantu meringankan luka lambung dan radang usus besar.

– Anggur.
Mengandung gula alami levilosa, magnesium, fruktosa, zat besi, dan aneka antioksidan. Dapat meningkatkan fungsi ginjal dan pencernaan, memacu proses pembuangan racun dalam hati, memperbaiki kekebalan tubuh, membantu pembentukan sel darah merah, dan mencegah anemia, penyedia energi, memacu peremajaan sel.

– Apel.
Mengandung serat dan pektin, vitamin c, kuersetin. Dapat menjadi pembersih racun dalam usus, meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah flu dan penyakit infeksi lainnya, menjaga kesehatan mata, mengendalikan tekanan darah dan kadar gula darah, mengurangi resiko stroke dan serangan jantung, menurunkan resiko kanker, untuk mengatasi diare maupun sembelit.

– Jambu biji.
Mengandung vitamin c, kalium, kalsium, fosfor, sulfur, klorin, pektin. Dapat menaikan kekebalan tubuh, menggiatkan sistem limfatik dan mengatasi kanker, mencegah keropos tulang dengan cara membantu penyerapan mineral.

– Jeruk lemon.
Mengandung bioflavonoid, terpen, limonen, kalium, magnesium, kalsium, fosfor, tembaga, zat besi, vitamin c, dan vitamin b1. Dapat meningkatkan fungsi hati dan ginjal untuk membuang racun, mengaktifkan fungsi otak, membuat rileks, meningkatkan kekebalan tubuh, mengatasi flu dan demam, memperkecil resiko kanker.

– Kiwi.
Mengandung vitamin c, serat dan pektin, betakoroten, vitamin e, kalium. Dapat mengendalikan hipertensi, mengurangi resiko stroke dan jantung, meningkatkan kekebalan tubuh, mengatasi anemia.

– Mangga.
Mengandung gula buah, asam lagat, vitamin c, betakaroten. Dapat memperbaiki pencernaan, menggiatkan fungsi pembersihan racun dalam tubuh, menyusutkan risiko stroke dan serangan jantung, meredakan bau badan.

– Pisang.
Mengandung serat dan pektin, kalium, gula buah mudah cerna. Dapat memperbaiki pencernaan makanan alami bagi bakteri didalam usus besar, mengatasi sembelit dan diare serta gangguan lambung, meredakan tekanan darah tinggi, memulihkan kesehatan sehabis sakit, menyusutkan resiko stroke dan jantung.

– Semangka.
Mengandung kalium, natrium, betakaroten, sitrulin. Dapat meningkatkan kekebalan tubuh lewat kemampuannya sebagai pembentuk basa, memacu pembuangan racun dalam tubuh, dan menggiatkan peremajaan sel.

– Tomat.
Mengandung vitamin c, betakaroten, lutein, likopen, asam kumarat, serat, dan pektin. Dapat meningkatkan peremajaan sel, menurunkan resiko kanker dan membantu mengatasi kanker, menggiatkan fungsi hati, dapat mengaggalkan pembentukan kerak lemak pada dinding pembulu darah.
(kompasiana.com)

• Selain itu, terdapat juga penjelasan kandung dan manfaat lainnya pada situs yang berbeda, di antaranya;

– Apel.
Manfaat buah apel dipercaya dapat menurunkan kolesterol dan membantu membersihkan kotoran-kotoran yang tersisa di usus besar. Agar mendapatkan manfaat apel dengan maksimal, disarankan mengonsumsi buah apel dengan kulitnya, karena kulit apel mengandung banyak serat dan antioksidan.

Selain itu, kandungan pektin pada apel dapat memberi nutrisi bagi bakteri baik di dalam saluran pencernaan, sehingga membantu memelihara kelancaran fungsi pencernaan tubuh. Manfaat buah ini juga berguna bagi kita yang ingin menurunkan berat badan.

– Jeruk.
Manfaat buah jeruk yang berguna bagi kesehatan karena mengandung vitamin c. Vitamin c sendiri memiliki manfaat untuk menstimulasi sistem kekebalan, mengatasi lendir di tenggorokan dan rongga hidung.

Karena jeruk menjadi sumber serat yang sangat baik, dan jeruk juga dipercaya dapat mencegah sindrom iritasi usus besar. Selain itu, jeruk juga merangsang produksi cairan dan memperbaiki pencernaan. Bagi kita yang memiliki gangguan lambung, pilihlah jeruk yang tidak terlalu asam.

– Pisang.
Manfaat buah pisang yang bisa kita dapatkan adalah mencegah peradangan pada lambung. Kandungan nutrisi pada pisang dapat melapisi dinding-dinding lambung yang pada akhirnya membentuk lapisan antiradang.

Selain itu, karena adanya kandungan antioksidan di dalam pisang, khasiat yang bisa kita dapatkan adalah menangkal efek kerusakan jaringan dan sel tubuh. Bagi kita yang sedang menjalan program diet, kita harus mendapatkan manfaat buah pisang, karena buah ini membuat kenyang lebih lama.

– Alpukat.
Mengonsumsi alpukat disertai dengan pola makan yang sehat dapat membantu mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Manfaat buah ini pada akhirnya dapat membantu menjaga kesehatan jantung.

– Blewah.
Bagi kita yang memiliki riwayat penyakit hipertensi, mengonsumsi buah blewah secara rutin dapat membantu mengendalikan tekanan darah tinggi. Kandungan kalium pada blewah dipercaya dapat membantu menurunkan tekanan darah dan menjaga kesehatan otot. Manfaat buah ini yang juga bisa kita dapatkan adalah dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh, karena blewah mengandung 90 persen air.

– Kurma.
Manfaat buah kurma dapat memperlancar pencernaan, karena kandungan seratnya yang tinggi. Dengan kandungan serat yang tinggi, khasiat yang bisa didapatkan adalah dapat mencegah datangnya sembelit. Selain itu, buah kurma juga dapat membantu mengontrol gula darah, karena indeks glikemik yang rendah dan berfungsi sebagai antioksidan.

– Pir.
Buah pir kaya akan kandungan vitamin c dan vitamin k. Tingginya kandungan vitamin c tentu akan sangat baik bagi sistem imun tubuh dan membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik, sehingga produksi sel darah merah menjadi lebih baik.

– Tomat.
Tomat mengandung antioksidan alami bernama likopen. Likopen diduga mampu meningkatkan kemampuan kulit untuk melindungi diri dari paparan sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya dan membantu menjaga kulit tampak awet muda.

Selain itu, manfaat buah tomat lainnya adalah merangsang antioksidan dan kolagen yang membantu mencegah kerusakan kulit oleh polusi dan sinar matahari.

– Kelengkeng.
Manfaat buah kelengkeng yaitu dapat membantu menyembuhkan luka dengan cepat. Hal ini dikarenankan buah kelengkeng mengandung polifenol yang dapat membantu mencegah kerusakan sel-sel dalam tubuh dan menangkal serangan radikal bebas.

– Belimbing.
Berbagai macam nutrisi yang ada pada belimbing menunjukkan efek penurun kolesterol, karena bisa meningkatkan pembuangan kolesterol jahat, asam empedu dan lipid melalui kotoran.

Selain itu, manfaat buah ini juga dapat membantu menghilangkan racun dari tubuh dan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dari risiko terkena kanker.

– Semangka.
Semangka mengandung vitamin a, vitamin c, serta antioksidan likopen yang dibutuhkan oleh tubuh. Antioksidan dapat membantu tubuh melawan radikal bebas penyebab kanker. Selain itu, vitamin c dan likopen juga mampu mengurangi risiko munculnya kanker prostat, dan menurunkan risiko terjadinya penyakit kronis.

– Nanas.
Kandungan pada nanas dapat berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel kulit dari kerusakan terhadap sinar UV.

Selain itu, nanas juga meningkatkan kepadatan tulang dan mineral secara keseluruhan, sehingga mencegah osteoporosis.

– Kelapa.
Pada dasarnya, nutrisi yang terkandung di dalam buah kelapa bisa didapat dari semua bagiannya, seperti daging buah dan air kelapa, bahkan setelah diolah menjadi santan dan minyak kelapa.

Air kelapa diyakini bisa menurunkan kolesterol dan trigliserida, sehingga bisa membantu mengurangi risiko gangguan jantung. Dagingnya bisa mengurangi luka pada permukaan lambung dan melawan bakteri dan virus. Sementara minyak kelapa memiliki efek antijamur dan bisa melembapkan kulit kering.
(doktersehat.com)

4. Mengenal Kandungan Buah.
Di antara istilah kandungan manfaat yang terdapat pada buah-buahan dan makanan secara umum yang perlu kita ketahui, agar kita dapat memanfaatkan buah-buahan dan makanan dengan tepat adalah;

a. Zat makanan bergizi.

Banyak orang yang sudah mengetahui, bahwa di dalam buah-buahan terdapat zat makanan yang mengandung gizi seperti karbonhidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Masing-masing buah mengandung kompenen zat gizi yang berbeda-beda. Di dalam buku karangan Nurheti Yuliarti: 1001 Khasiat Buah-Buahan, kandungan gizi utama dalam buah adalah vitamin dan mineral. Vitamin yang terdapat dalam buah dan juga sayuran adalah pro vitamin a, vitamin c, k, e, dan berbagai kelompok vitamin B kompleks. Selain itu, buah juga kaya akan berbagai jenis mineral, di antaranya kalium (K), kalsium (Ca), natrium (Na), zat besi (Fe), magnesium (Mg), seng (Zn), selenium (Se), dan Boron ( Bo). 

– Karbohidrat.
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Zat ini berfungsi sebagai sumber energi untuk aktivitas otak, pembentukkan sel darah merah dan sistem saraf, serta membantu dalam proses metabolisme protein dan lemak. Karbohidrat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu karbohidrat kompleks yang terdiri dari poliksakardia (pati, dekstrin, dan glikogen) serta serat. Sementara karbohidrat sederhana terdiri dari monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa, manosa, dan pentosa), disakarida (sukrosa, maltosa, laktosa, dan trebalosa), gula alkohol (sorbitol, manitol, dan inositol), serta oligosakarida (rafinosa, stakiosa, verbaskosa, dan fruktan). Karbohidrat yang terdapat dalam buah umumnya banyak mengandung pati dan selulosa.

– Lemak.
Lemak merupakan sumber energi tubuh. Kandungan lemak pada buah dan sayuran umumnya sedikit. Asam lemak yang terdapat dalam bahan pangan nabati biasanya berupa asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh ini merupakan komponen membran syaraf dan senyawa yang menyerupai hormon. Selain itu, penting juga untuk proteksi terapi penyakit jantung serta kanker. Berbagai jenis buah yang mengandung lemak, misalnya alpukat.

– Protein.
Protein berfungsi sebagai bahan dasar pembentuk sel-sel dan jaringan tubuh. Selain itu, protein juga berperan dalam proses pertumbuhan, pemeliharaan, dan perbaikan jaringan tubuh yang mengalami kerusakan. Protein merupakan molekul besar yang terdiri dari rangkaian asam amino. Tanaman pangan sering kekurangan satu atau lebih asam amino esensial, maka penting untuk dikombinasikan dengan jenis protein lain, sehingga satu dengan yang lain bersifat saling melengkapi.

– Vitamin.
Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil. Di dalam tubuh, vitamin berperanan sebagai zat pengatur. Vitamin dikelompokkan menjadi dua, yakni vitamin yang larut lemak dan vitamin yang larut air. Vitamin yang larut lemak adalah vitamin a, d, e, dan k.

b. Zat makanan non gizi.

Yang termasuk zat makanan non gizi di antaranya: Serat makanan (dietary fiber), enzim, pigmen, (karoten, klorofil, flavonoid), senyawa yang menyerupai vitamin dan mineral, dan substansi zat makanan minor.

– Serat makanan.
Sebagian besar serat pada dinding tanaman terdiri dari zat-zat yang larut dalam air. Selain daya kerja yang sama dengan serat yang tidak larut, serat jenis ini dapat berfungsi sebagai penurun kolesterol, serat jenis ini juga akan membentuk gel, sehingga lambung cepat penuh dan menyebabkan cepat kenyang yang disebabkan karena kemampuannya menyerap air. Sebagian besar serat makanan yang terdapat dalam buah-buahan berupa pektin. Pektin terdapat pada semua dinding sel tanaman dan kulit paling luar dari buah-buahan dan sayur-sayuran. Pektin memiliki kemampuan membentuk gel karenanya dipergunakan dalam pembuatan jeli atau jam. Kemampuannya membentuk gel ini memiliki pengaruh yang baik dalam penurunan kolesterol.

– Enzim.
Enzim akan bekerja sama dengan vitamin untuk mempercepat reaksi kimia. Enzim terdapat dalam jumlah banyak dalam makanan segar, karena sangat sensitif terhadap panas dan akan rusak selama pemasakan ataupun pasteurisasi. Enzim utama dalam buah dan sayuran adalah sintetase dan hidrolase.

– Pigmen.
Karoten atau karotenoid merupakan pigmen yang paling banyak tersebar secar alami. Karoten dikenal mempunyai kemampuan mengonversi menjadi vitamin a dan sebagai antioksidan. Sumber karoten yang utama adalah sayuran berdaun hijau, seperti kangkung, bayam, daun singkong, daun pepaya, dan semisalnya. Karoten juga terdapat pada buah-buahan berwarna kuning orange, seperti pepaya, mangga, wortel, labu, dan semisalnya. Minum jus yang mengandung karoten tinggi lebih menguntungkan dibandingkan meminum suplemen yang kaya akan betakaroten atau memakan makanan utuh yang tinggi karoten, karena bentuk segar memecahkan sel-sel membran, sehingga zat-zat gizi lebih mudah diserap.

Flavonoid merupakan kelompok pigmen tanaman yang memberikan perlindungan terhadap serangan radikal bebas yang merusak. Senyawa ini berperan dalam memberikan pada buah dan bunga. Beberapa fungsi flavonoid di antaranya meningkatkan kadar vitamin c dalam tubuh, mengurangi kebocoran dan pecahnya pembuluh darah kecil, melindungi kerusakan akibat serangan radikal bebas dan memperkuat struktur persendian. Beberapa flavonoid berfungsi sebagai antialergi misalnya quercetin. Quercetin memiliki kemampuan sebagai antioksidan yang mengurangi pengeluaran histamin dan zat-zat alergi lainnya.

Klorofil adalah pigmen tanaman berwarna hijau yang ada dalam kloroplas tanaman. Seperti pigmen tanaman yang lainnya, klorofil juga berfungsi sebagai antioksidan dan antikanker. Dianjurkan agar klorofil ditambahkan dalam makanan-makanan tertentu. Seperti halnya makanan, aroma tembakau dan tembakau kunyah dapat mengurangi risiko kanker. Anjuran lainnya adalah dengan makanan sehari-hari, sayuran hijau seperti seledri, bayam, daun pepaya, dan bit hijau kaya akan klorofil, karoten, dan mineral seperti kalsium. Oleh karena itu, sayuran hijau ini perlu dikonsumsi setiap hari untuk mengimbangi makanan yang digoreng, dibakar, ataupun dipanggang.

c. Zat-zat yang menyerupai vitamin.

Beberapa zat makanan bereaksi sama dengan vitamin, yakni berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam tubuh. Alasan zat-zat ini tidak dimasukkan ke dalam vitamin adalah karena zat-zat ini merupakan kelompok makanan yang non esensial. Yang termasuk dalam golongan ini adalah karnitin, kholin, koenzim Q10, dan inositol.

– Karnitin.
Karnitin berfungsi merangsang pemecahan asam lemak rantai panjang oleh mitokondria. Kekurangan karnitin menyebabkan penurunan kadar asam lemak dalam mitokondria dan mengurangi produksi energi untuk sel.

– Kholin.
Kholin dalam bentuk phosphatidylcholine (lesitin) dan sphingomyelin mempunyai fungsi penting dalam pembuatan komponen utama membran. Kholin juga dibutuhkan dalam metabolisme lemak. Dalam sebuah percobaan, hewan yang diberi makanan yang kekurangan kholin ternyata mengalami penyakit hati dan ginjal. Kholin terdapat dalam biji-bijian dan kacang-kacangan sebagai lecitin.

– Koenzim Q10.
Koenzim Q10 merupakan komponen sel yang penting dan banyak peranan dalam memproduksi energi. Seperti kanitin, koenzim, Q10 bisa disintesis dalam tubuh. Kekurangan zat ini dapat terjadi akibat kerusakan sintesis, kekurangan zat gizi, genetis, ataupun meningkatnya kebutuhan jaringan.

– Inositol.
Inositol fungsinya hampir sama dengan kholin. Inositol merupakan komponen utama sel membran yang berikatan sebagai fasfatidikholin. Walaupun inositol bukan merupakan zat esensial dalam makanan manusia, kehadirannya menguntungkan terutama berkaitan dengan penyakit hati dan diabetes. Tanaman sumber inositol yang baik adalah buah jeruk, semua biji-bijian, dan leguminosa.

d. Zat makanan minor.

Komponen-komponen tanaman lainnya juga dapat berpengaruh bagi kesehatan. Beberapa dari komponen ini dikelompokkan dalam zat makanan minor. Zat makanan minor ini di antaranya glutation yang ada pada beragam buah dan sayuran. Glutation merupakan antikanker yang penting dan membantu menetralkan logam berat seperti HG, pestisida, dan pelarut lainnya. Buah-buahan dan sayur-sayuran segar mengandung glutation yang berarti, sedangkan pada makanan yang di masak jumlahnya menurun secara drastis. 

Phytoestrogen merupakan senyawa kimia dari hormon tumbuhan. Phytoestrogen berfungsi meningkatkan aktivitas estrogen di dalam tubuh. Pada masa peri menopause atau menopause saat kadar estrogen sangat rendah, asupan Phytoestrogen mampu berfungsi sebagai estrogen yang berfungsi melindungi tubuh dari sindrom menopause dan osteoporosis. Bentuk utama Phytoestrogen adalah lignan dan isoflavonoid. Phytoestrogen banyak terdapat dalam buah-buahan apel. Sumber Phytoestrogen tersebut juga mengandung substansi yang dapat mencegah kanker seperti indoles, betakaroten, serat, dan vitamin c. Urutan bahan makanan yang mengandung isoflavonoid mulai yang tertinggi, yaitu apel, anggur, bawang putih, stroberi, timun, tomat, dan wortel.
(ondyx.blogspot.com)

Catatan: Penjelasan buah-buahan secara medis sangat banyak referensi yang bisa digunakan. Namun, sesuai keterbatasan kami, sehingga kami hanya bisa mencantumkan penjelasan seperti di atas. Kami sarankan kepada para pembaca untuk membaca penjelasan dari para ahli kesehatan atau penulis ilmiah lainnya untuk menambah wawasan sekaligus menguatkan pemahaman terhadap ilmu, salah satunya yang kami kenal adalah dr.Zaidul Akbar dan dr.Raehanul Bahraen. Mereka adalah ahli-ahli kesehatan yang berusaha menggabungkan antara ilmu syariat dengan medis. Silakan para pembaca bisa mengikuti mereka berdua di berbagai media sosial, karena sudah cukup banyak juga tersebar kajian-kajian mereka berdua yang insyaallah bermanfaat.

Semoga dengan mengetahui penjelasan tentang buah-buahan dari sisi syariat dan medis, memberikan pengetahuan yang bermanfaat serta motivasi yang kuat untuk mulai menjalankan pola hidup sehat seperti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Karena ternyata buah-buahan adalah produk Allah, bukan produk manusia. Dan Allah lebih tahu tentang kebutuhan tubuh kita, sehingga di dalam buah-buahan sudah tersedia berbagai zat manfaat yang dibutuhkan oleh tubuh kita.

Karena dengan berusaha menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, itu merupakan bukti syukur kita kepada Allah azza wa jalla yang telah memberikan tubuh yang indah dan sehat kepada kita. Dan sebetulnya tujuan utama kita menjaga kesehatan tubuh dengan merubah isi piring dan isi gelas yang kita konsumsi adalah untuk menstabilkan tubuh kita dalam beribadah kepada Allah yang menjadi tujuan hidup kita diciptakan oleh Allah azza wa jalla.

Karena ketika tubuh kita sakit (bermasalah) disebabkan sesuatu yang kita konsumsi, tentu itu akan menghambat dan mengganggu kestabilan tubuh kita dalam beribadah, seperti munculnya sifat malas untuk ibadah, tidak maksimalnya ibadah yang dikerjakan, bahkan bisa berdampak pada munculnya rasa enggan untuk beribadah.

اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قَلْبِيْ عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yang mampu memalingkan hati, palingkanlah hatiku pada ketaatan beribadah kepadaMu!”
(HR. Imam Muslim, no.4798)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلِْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Imam Muslim, no.4897)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu berbagai perbuatan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan ampunilah aku dan rahmatilah aku! Apabila Engkau menghendaki suatu fitnah kepada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah (husnul khatimah)! Aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3159)
___
@Kota Udang Cirebon, 02 Safar 1441H/02 Oktober 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

Fiqih Darah Wanita

0

Fiqih Darah Wanita

Di tulisan kali ini kita akan mengenal dan menyikapi darah yang dialami oleh para wanita beserta pembahasan hukumnya dengan tuntas. Sehingga para wanita bisa mengetahui tentang status hukum darahnya dan bisa mengetahui sikap yang harus dilakukannya, dan hendaknya para lelaki juga mengetahui ilmu tentang hal ini, untuk mengajarkan kepada ibunya, istrinya, putrinya, dan saudarinya.

Pembahasan tentang darah yang menjadi kebiasaan para wanita di antaranya: Haidh, nifas, dan istihadhah. Itu semua adalah pembahasan yang paling sering dipertanyakan oleh kaum wanita, dan pembahasan ini juga merupakan salah satu bahasan yang tersulit dalam masalah ilmu fiqih, sehingga masih sangat banyak yang keliru dalam memahaminya dan menyikapinya. Bahkan walaupun pembahasannya sudah dibahas berulang kali, ternyata masih banyak wanita muslimah yang belum memahami kaidah dan perbedaan dari ketiga darah tersebut. Itu semua disebabkan karena darah tersebut keluar dari jalur yang sama namun, pada setiap wanita memiliki keadaan yang berbeda, sehingga berbeda juga hukum dan cara menyikapinya.

Termasuk realita yang menyedihkan adalah ketika seorang wanita mengalami salah satu di antara 3 jenis darah tersebut namun, dia malah kebingungan, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Bertanya kepada orang tuanya, tidak paham. Bertanya kepada saudarinya, tidak paham. Bertanya kepada suaminya, tidak paham juga. Pada akhirnya, tindakan yang dilakukannya berdasarkan hawa nafsu, bukan ilmu.

Mari, kita tunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan mempelajari syariatnya dengan benar dan totalitas!

Maka sebab itu, silakan baca dan pelajari penjelasannya di bawah ini dengan perlahan dan tuntas. Semoga Allah berikan kemudahan kepada kita untuk memahami syariatNya dengan benar. Selamat membaca!

A. DARAH HAIDH

Haidh adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita pada waktu-waktu tertentu yang bukan disebabkan oleh suatu penyakit atau karena adanya proses persalinan, dan keluarnya darah tersebut merupakan sunnatullah (ketentuan Allah) yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kaum wanita. Sifat darah ini berwarna merah kehitaman yang kental, keluar dalam jangka waktu tertentu, bersifat panas, dan memiliki aroma yang khas dan tidak sedap.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ
“Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam.”
(HR. Imam Bukhari, no.285)

Haidh adalah sesuatu yang normal terjadi pada seorang wanita, dan pada setiap wanita memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Ada yang ketika keluar haidh ini disertai dengan rasa sakit pada bagian pinggul namun, ada juga yang tidak merasakan sakit tersebut. Ada yang masa haidhnya 3 hari, ada juga yang lebih dari 10 hari. Ada yang ketika keluar didahului dengan lendir kuning kecoklatan, ada juga yang langsung berupa darah merah yang kental. Dan pada setiap kondisi inilah yang harus dikenali oleh setiap wanita, karena dengan mengenali masa dan karakteristik darah haidh merupakan dasar untuk seorang wanita dapat membedakannya dengan darah-darah lain yang keluar setelahnya.

Memang tidak banyak para wanita yang secara sadar melihat dan memperhatikan warna darah haidhnya. Karena ternyata warna darah haidh juga bervariasi dan bisa menjadi indikasi kesehatan tubuhnya.

Secara umum, coba lihat kulit kita ketika terluka, darah yang pertama kali keluar dari tubuh kita adalah berwarna merah segar. Kemudian kita menutupi luka tersebut dengan perban atau semisalnya.

Apakah ada perubahan? Lama kelamaan darah yang menempel pada perban akan berubah menjadi warna merah gelap. Karena darah tersebut sudah bereaksi dengan lingkungan sekitarnya, salah satunya adalah oksigen.

Darah yang keluar pada saat haidh itu bukan berasal dari kolam darah yang ada di dalam rahim wanita, melainkan berasal dari sel telur yang tidak berhasil dibuahi. Hal tersebut membuat menurunnya kadar progesteron dan estrogen, sehingga dinding rahim pun luruh (runtuh) menjadi darah haidh. Lalu proses luruh dan situasi di dalam rahim itulah yang mempengaruhi warna darah haidh.

1. Mengenali Darah Haidh.
Di antara penjelasan warna darah haidh yang harus diketahui dan dipahami oleh para wanita adalah;

Pertama: Warna cokelat atau merah tua.
Pada saat awal dan akhir masa haidh, darah yang keluar akan berwarna cokelat atau merah tua, dan warna darah haidh seperti ini artinya normal.

Kemudian darah tidak keluar deras ketika awal dan akhir masa haidh, itu disebabkan darah butuh waktu keluar lebih lama dari uterus, dan warna cokelat atau merah tua itu disebabkan oleh hal tersebut.

Kedua: Warna Merah Terang.
Bedakanlah warna merah pada darah haidh, karena ada yang gelap dan ada juga yang terang.

Darah haidh berwarna merah terang biasanya terjadi pada hari kedua atau ketiga, karena saat itu dinding rahim melepaskan sel telur yang tidak terbuahi dengan sangat cepat. Saking cepatnya luruh, tidak ada waktu bagi molekul lain untuk menggelapkan warnanya.

Ketiga: Warna Merah Muda.
Darah berwarna merah muda atau pink biasanya keluar dalam bentuk bercak pendarahan. Beberapa orang kerap mengalami ‘mid cycle spotting’.

Menurut beberapa pakar ilmu keperawatan, warna merah muda atau pink pada darah haidh terjadi karena kurangnya kadar hormon estrogen. Apalagi jika diiringi dengan volume darah yang sangat sedikit dan haidh tidak teratur. Hati-hati, kekurangan estrogen bisa menyebabkan vagina kering, tubuh lemas, dan kehilangan gairah seksual.

Estrogen adalah sebutan untuk sekelompok hormon yang berperan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan karakteristik seksual wanita serta proses reproduksi. Hormon ini sebenarnya tidak hanya diproduksi dalam tubuh wanita, tapi juga terdapat dalam tubuh pria dengan kadar yang jauh lebih rendah.

Keempat: Warna Merah Keabuan.
Jika warna darah haidh abu-abu, segera konsultasikan ke dokter atau ahli kesehatan lainnya. Sebab ini bisa jadi karena gejala infeksi atau bisa jadi tanda keguguran. Sehingga keadaan semacam ini kemungkinan terjadi karena sedang hamil, meskipun tidak disadari kehamilannya.

Kapan kita harus berwaspada? Karena selain adanya perubahan warna, ada beberapa faktor lainnya juga yang perlu diwaspadai, di antaranya;

– Volume darah yang keluar saat haidh. Karena normalnya 40 cc atau sekitar 3 sendok makan setiap harinya.
– Periode haidh memanjang lebih dari 7-8 hari. Karena normalnya adalah 3-5 hari.
– Siklus haidh terganggu (lebih cepat 21 hari atau lebih lama 35 hari) dari hari pertama haidh terakhir. Siklus normal 21-35 hari. Karena rata-rata wanita memiliki siklus haidh hingga 28 hari atau 1 bulan.
(Diambil dari situs theasianparent.com, dengan perubahan kalimat)

2. Mengetahui Darah Haidh.
Secara medis, waktu lamanya masa haidh bisa memanjang atau memendek karena adanya gangguan hormon atau penyakit. Misalkan normal masa haidh itu 3-7 hari, maka bisa bertambah lebih dari 7 hari atau berkurang dari 3 hari. Demikian juga panjang siklus haidh, bisa memanjang dan bisa juga memendek. Misalnya panjang siklus 15 hari (normalnya 28 hari atau 1 bulan), maka dalam 1 bulan bisa mengalami 2x haidh atau siklus memanjang, sehingga 2 bulan sekali dapat haidh.

Adapun istilah yang berkaitan dengan siklus darah haidh adalah;

– Menoragi: Haidh memanjang dari normal.
– Brakimenore: Haidh memendek dari normal.
– Polimenore: Siklus haidh memendek dari normal.
– Oligomenore: Siklus haidh memanjang dari normal.

Para ulama juga berbeda pendapat mengenai batas waktu maksimal dan minimal haidh, tetapi pendapat yang lebih kuat adalah tidak adanya batasan maksimal dan minimal haidh, dan pendapat ini juga didukung oleh fakta secara medis. Di antara alasannya;

Pertama: Syariat Islam tidak menetapkan angka tertentu tentang lamanya masa haidh. Karena haidh adalah masalah yang sangat umum, sehingga jika memang ada angka tertentu dalam masa haidh, pasti syariat sudah menjelaskannya.

Kedua: Syariat menetapkan alasan (illat) bersih haidh yaitu bersih dari kotoran. Waktu bersih darah haidh, itulah berhentinya masa haidh.

Ketiga: Para ulama berselisih pendapat tentang batasannya dengan angka yang tidak tetap.

– Madzhab maliki.
Imam Ibnu Nafi rahimahullah berkata;
“Batas maksimal seorang wanita boleh meninggalkan shalat karena haidh adalah 15 hari, kemudian dia harus mandi dan shalat.”
(Al-Mudawanah, 1:151)

– Madzhab syafii.
Imam Al-Qadhi Abu Syuja rahimahullah berkata;
“Batas minimal waktu haidh adalah sehari-semalam, batas maksimalnya adalah 15 hari dan umumnya adalah 6-7 hari.”
(Matan Ghayah Wa Taqrib, hlm.51)

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata;
“Batas minimal adalah 3 hari dan malam, dan maksimalnya adalah 10 hari.”
(Fathu Al-Qadir 1:111)

Imam Malik rahimahullah berkata;
“Tidak ada batas waktu minimal, jika dia melihat satu tetes darah maka itu haidh, dan maksimalnya adalah 15 hari.”
(Asy-Syarhu Ash-Shagir, 1:75)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Dalam mazhad Imam Ahmad (Hanbali) tidak ada perselisihan, bahwa minimal haidh adalah sehari sedangkan maksimalnya adalah 15 hari, ada juga yang berkata 17 hari.”
(Al-Mughni, hlm.325)

Kemudian pendapat yang dilihat lebih kuat dan mendekati kebenaran (rajih), bahwa haidh tidak ada batasan maksimal dan minimalnya.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Mengenai haidh, Allah mengaitkan banyak hukum yang berlaku ketika haidh. Allah tidak memberikan batasan minimal dan maksimal, tidak juga batas hari suci antara dua masa haidh. Padahal hal tersebut sesuatu yang umum di masyarakat dan mereka butuh penjelasan batasan tersebut. Secara bahasa juga tidak menerapkan batasan tertentu, jika menetapkannya berarti menyelesihi Al-Quran dan As-Sunnah. Di antara ulama, ada yang menetapkan batas masa haidh maksimal dan minimal. Namun, mereka berbeda pendapat tentang berapa rincian batas tersebut. Ada juga ulama yang memberi batas maksimal masa haidh namun, tidak memberi batas minimal masa haidh. Maka pendapat ketiga yang dilihat lebih benar, bahwa tidak ada batas minimal dan tidak ada batas maksimal masa haidh.”
(Majmu Fatawa 4:251)

Allah azza wa jalla menjelaskan haidh adalah kotoran, ketika kotoran itu telah berhenti dan suci dari kotoran, maka itulah bukti berhentinya haidh, sehingga diperbolehkan kembali melakukan ibadah.

Sebagimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, itu adalah sesuatu yang kotor. Sebab itu jauhilah istri pada waktu haidh dan jangan kalian dekati mereka sebelum mereka suci! Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepada kalian! Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 222)

Sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَأَهْلَلْنَا بِعُمْرَةٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيُهِلَّ بِالْحَجِّ مَعَ الْعُمْرَةِ ثُمَّ لَا يَحِلُّ حَتَّى يَحِلَّ مِنْهُمَا جَمِيعًا قَالَتْ فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ لَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَلَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ انْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ وَدَعِي الْعُمْرَةَ قَالَتْ فَفَعَلْتُ فَلَمَّا قَضَيْنَا الْحَجَّ أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ إِلَى التَّنْعِيمِ فَاعْتَمَرْتُ فَقَالَ هَذِهِ مَكَانُ عُمْرَتِكِ فَطَافَ الَّذِينَ أَهَلُّوا بِالْعُمْرَةِ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ثُمَّ حَلُّوا ثُمَّ طَافُوا طَوَافًا آخَرَ بَعْدَ أَنْ رَجَعُوا مِنْ مِنًى لِحَجِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَانُوا جَمَعُوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ فَإِنَّمَا طَافُوا طَوَافًا وَاحِدًا
“Kami pergi haji bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada tahun haji Wada, lalu kami ihram untuk umrah. Kemudian beliau bersabda: Barang siapa yang membawa hadya (hewan qurban) boleh ihram untuk haji dan umrah, dan tidak boleh tahallul sebelum keduanya selesai. Aisyah berkata: Setibanya aku di Makkah, tiba-tiba aku haidh, sehingga aku tidak thawaf di Baitullah dan tidak sai antara Shafa dan Marwa. Hal tersebut aku ceritakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau pun bersabda: Lepaskan sanggulmu dan bersisirlah, kemudian teruskan ihrammu untuk haji dan tinggalkan umrah! Apa yang diperintahkan beliau aku laksanakan semuanya. Setelah kami selesai mengerjakan haji, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruhku bersama-sama Abdurrahman bin Abu Bakr pergi ke Tan’im untuk melakukan umrah. Beliau bersabda: Itulah ganti umrahmu yang gagal. Orang-orang yang tadinya ihram untuk umrah, setibanya di Makkah mereka terus thawaf dan sai antara Shafa dan Marwa. Kemudian sekembalinya mereka dari Mina, mereka thawaf kembali sebagai thawaf akhir. Adapun orang-orang yang menggabungkan niat haji dan umrah, mereka thawaf satu kali saja.”
(HR. Imam Muslim, no.2108)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda;

وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ ثُمَّ حُجِّي وَاصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ وَلَا تُصَلِّي
“Dan bertalbiyahlah untuk melakukan haji, kemudian lakukan haji serta kerjakan apa yang dilakukan oleh orang yang melakukan haji, hanya saja janganlah kamu melakukan thawaf di Kabah dan jangan mengerjakan shalat!”
(HR. Abu Dawud, no.1521)

3. Menyikapi Darah Haidh.
Wanita yang sedang haidh tidak dibolehkan shalat, puasa, thawaf, berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya (farji), dan menyentuh mushaf. Meskipun demikian, dia tetap boleh membaca Al-Quran dengan tanpa menyentuh mushaf secara langsung (yakni boleh dengan menggunakan penghalang seperti kain yang suci dari najis atau dengan menggunakan media elektronik seperti gadget), boleh berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya di tempat selain pada kemaluannya.

Ketika wanita yang sedang haidh dilarang melakukan berbagai ibadah namun, ada suatu ibadah yang harus diqadhanya pada saat suci, yaitu puasa.

Sebagaimana Muadzah bin Abdillah rahimahallah bercerita;

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ
“Aku bertanya kepada Aisyah: Kenapa wanita haidh mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat? Aisyah menjawab: Apakah kamu dari golongan Haruriyah? Aku menjawab: Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya. Dia menjawab: Kami dahulu mengalami haidh, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”
(HR. Imam Muslim, no.508)

Tanda berakhirnya masa haidh adalah dengan adanya gumpalan atau lendir putih (seperti keputihan) yang keluar dari jalan rahim. Namun, jika tidak menjumpai adanya lendir putih, maka bisa mengeceknya dengan menggunakan kapas putih yang dimasukkan ke dalam kemaluan (vagina). Jika kapas tersebut tidak terdapat bercak sedikit pun, dan benar-benar bersih, maka wajib untuk segera mandi dan shalat. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa masa haidh sudah selesai.

Sebagaimana dahulu para wanita mendatangi Aisyah radhiyallahu anha dengan menunjukkan kapas yang terdapat cairan kuning, kemudian Aisyah berkata;

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ
“Janganlah kalian terburu-buru hingga kalian melihat gumpalan putih.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.198)

Jadi, tanda berakhirnya masa haidh itu bukan ditentukan bergantung pada hitungan hari (waktu) namun, ditentukan dengan adanya gumpalan putih yang keluar dari kemaluan (vagina).

B. DARAH NIFAS

Nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita bersamaan dengan proses melahirkan, yakni sesudah atau sebelum melahirkan, yang disertai dengan dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan, seperti rasa sakit. Rasa sakit yang dimaksud adalah rasa sakit yang kemudian sertai dengan kelahiran, karena jika darah yang keluar tidak disertai rasa sakit, atau disertai rasa sakit tapi tidak diiringi dengan proses kelahiran bayi, maka itu bukan darah nifas.

Sehingga jika seorang wanita mengalami keguguran, lalu ketika dikeluarkan janinnya belum berwujud manusia (bayi), maka darah yang keluar tersebut dihukumi sebagai darah penyakit (istihadhah) yang tidak menghalangi wanita tersebut dari shalat, puasa, dan ibadah lainnya.

Maka darah jenis ini tentu lebih mudah untuk dikenali, karena penyebabnya sudah pasti, yaitu karena adanya proses persalinan manusia.

Selain itu, harus diketahui juga oleh para wanita, bahwa waktu tersingkat untuk sebuah janin menjadi manusia adalah 80 hari, dimulai dari hari pertama hamil. Dan ada sebagian pendapat lainnya yang mengatakan 90 hari.

Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ
“Sungguh salah seorang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi alaqah (zigot) selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian Allah mengirim Malaikat yang diperintahkan dengan 4 ketetapan (dan dikatakan kepadanya): Tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, dan sengsara serta bahagianya, lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amalan penghuni Neraka hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan Neraka kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan takdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni Surga kemudian masuk surga. Dan ada juga seseorang yang beramal dengan amalan penghuni Surga hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan Surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan takdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni Neraka lalu dia masuk Neraka.”
(HR. Imam Bukhari, no.3085)

1. Mengenali Darah Nifas.
Berdasarkan pengalaman dan pengakuan dari beberapa responden, secara umum darah nifas ini lebih banyak dan lebih deras keluarnya daripada darah haid, warnanya tidak terlalu hitam, kekentalannya hampir sama dengan darah haidh namun, aromanya lebih kuat daripada darah haidh.

Secara ringkas, dalam jangka beberapa waktu, darah nifas akan mengalami perubahan, di antaranya;

– Hari 1: Darah berwarna merah terang atau merah kecoklatan, karena darah nifas mengandung cukup banyak darah.
– Hari 2-6: Darah nifas akan lebih berair dan berwarna cokelat tua atau merah muda.
– Hari 7-10: Warna darah sama atau menjadi cokelat muda atau merah muda.
– Hari 11-14: Warna darah sama atau semakin muda, ditambah adanya cairan berwarna putih atau putih kekuningan. Ini karena darah nifas kebanyakan terdiri dari sel darah putih lapisan rahim. Namun, jika seorang wanita sudah mulai beraktivitas, maka warna darah nifas mungkin akan menjadi lebih kemerahan dari sebelumnya.
– Pekan 3-4: Jika masih keluar, darah nifas akan berwarna lebih pucat atau putih krem.
– Pekan 6: Jumlah darah nifas yang keluar menjadi semakin sedikit dan berwarna cokelat, merah muda, atau kuning krem.
Kemudian apabila seorang wanit melahirkan melalui operasi Caesar, biasanya jumlah darah nifas yang keluar akan lebih sedikit. Namun, durasi waktunya tetap beberapa pekan, dan warna darah akan berubah dari merah, cokelat, kuning, hingga bening.
(Diambil dari situs alodokter.com, dengan perubahan kalimat)

2. Mengetahui Darah Nifas.
Tidak ada batas minimal masa nifas, sehingga jika kurang dari 40 hari darah tersebut sudah berhenti, maka seorang wanita tersebut wajib mandi dan bersuci, kemudian shalat dan dihalalkan kembali atasnya sesuatu yang dihalalkan bagi wanita yang suci. Adapun mengenai batasan maksimalnya, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama.

Sebagaimana Ummu Salamah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَتْ النُّفَسَاءُ تَجْلِسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَكُنَّا نَطْلِي وُجُوهَنَا بِالْوَرْسِ مِنْ الْكَلَفِ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَهْلٍ عَنْ مُسَّةَ الْأَزْدِيَّةِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ وَاسْمُ أَبِي سَهْلٍ كَثِيرُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى ثِقَةٌ وَأَبُو سَهْلٍ ثِقَةٌ وَلَمْ يَعْرِفْ مُحَمَّدٌ هَذَا الْحَدِيثَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَهْلٍ وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ عَلَى أَنَّ النُّفَسَاءَ تَدَعُ الصَّلَاةَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا إِلَّا أَنْ تَرَى الطُّهْرَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّهَا تَغْتَسِلُ وَتُصَلِّي فَإِذَا رَأَتْ الدَّمَ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ فَإِنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا لَا تَدَعُ الصَّلَاةَ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ وَيُرْوَى عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّهَا تَدَعُ الصَّلَاةَ خَمْسِينَ يَوْمًا إِذَا لَمْ تَرَ الطُّهْرَ وَيُرْوَى عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَالشَّعْبِيِّ سِتِّينَ يَوْمًا
“Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wanita-wanita yang sudah melahirkan duduk berdiam diri selama 40 hari, kami memoles wajah kami dengan waras (sejenis tumbuhan yang wangi) karena sebab kotoran. Abu Isa berkata: Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Abu Sahl, dari Mussah Al-Azdiah dari Ummu Salamah. Dan nama Abu Sahl adalah Katsir bin Ziyad. Dalam hal ini Muhammad bin Ismail berkata: Ali bin Abdul A’la dan Abu Sahl adalah orang yang terpercaya. Dan Muhammad tidak mengetahui hadits ini kecuali dari hadits Abu Sahl. Para ulama telah sepakat, bahwa para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Tabiin, dan orang-orang sesudah mereka telah sepakat, bahwa wanita yang sudah melahirkan boleh meninggalkan shalat selama 40 hari, kecuali jika dia telah suci sebelum waktu tersebut, maka dia harus mandi dan shalat. Apabila dia melihat darah setelah 40 hari, maka sebagian ulama berkata: Dia tidak boleh meninggalkan shalat setelah 40 hari. Ini adalah pendapat sebagian besar ahli fiqih, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Syafii, Ahmad, dan Ishaq. Dan diriwayatkan juga dari Hasan Al-Bashri, dia berkata: Sesungguhnya wanita yang sudah melahirkan, dia tidak shalat selama 50 hari jika dia tidak melihat bahwa dia telah suci. Dan diriwayatkan juga dari Atha bin Abu Rabah dan Asy Sya’bi, yaitu 60 hari.”
(HR. At-Tarmidzi, no.129. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Jumhur ulama Syafiiyyah berpendapat, bahwa umumnya masa nifas adalah 40 hari sesuai dengan kebiasaan kaum wanita secara umum namun, batas maksimalnya adalah 60 hari.

Kemudian ada juga beberapa ulama lainnya yang berpendapat, bahwa tidak ada batasan maksimal masa nifas, bahkan jika lebih dari 50 atau 60 hari, itu masih dihukumi nifas. Namun, pendapat ini tidak dikenal (masyhur) dan tidak didasari oleh dalil yang shahih.

3. Menyikapi Darah Nifas.
Wanita yang sedang nifas juga tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh wanita yang sedang haidh, seperti tidak boleh shalat, puasa, thawaf, berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya (farji), dan menyentuh mushaf. Meskipun demikian, dia tetap boleh membaca Al-Quran dengan tanpa menyentuh mushaf secara langsung (yakni boleh dengan menggunakan penghalang seperti kain yang suci dari najis atau dengan menggunakan media elektronik seperti gadget), boleh berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya di tempat selain pada kemaluannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Adapun masalah yang diduga oleh sebagian wanita, bahwa seorang wanita harus tetap meninggalkan shalat hingga mencapai 40 hari, meskipun dia sudah mendapatkan kesuciannya sebelum 40 hari itu, itu adalah dugaan yang salah dan tidak benar. Yang benar adalah jika seorang wanita telah mendapatkan kesuciannya, maka wajib baginya untuk shalat seperti wanita-wanita suci lainnya, walaupun kesucian tersebut didapati pada hari 10 setelah masa persalinan.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail, 4:281)

Beliau rahimahullah juga menjelaskan;
“Jika wanita nifas telah mendapatkan kesuciannya sebelum 40 hari, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat dan puasa jika hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan, dan bagi suaminya dibolehkan untuk menyetubuhinya (berjima) meskipun belum mencapai 40 hari, dan wanita yang telah mendapatkan kesuciannya pada hari 35 dari saat persallinannya ini wajib mengerjakan puasa dan shalat sebagaimana biasanya, lalu jika darah nifas tersebut kembali mengalir setelah 40 hari, maka darah yang keluar itu dianggap darah haidh, kecuali jika keluarnya darah tersebut di luar masa haidh yang biasa dia alami, maka dia hanya meninggalkan shalat selama waktu yang biasanya dia mendapatakan masa haidh saja, kemudian setelah itu dia harus mandi dan mengerjakan shalat sebagaimana biasanya.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail, 4:289)

C. DARAH ISTIHADHAH

Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haidh dan tidak juga karena melahirkan. Secara umum darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering disebut sebagai darah penyakit.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي
“Bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy mengalami istihadhah (mengeluarkan darah penyakit). Maka aku bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan beliau menjawab: Itu adalah darah dari pembuluh darah (yang terluka) dan bukan darah haidh. Jika haidh datang, maka tinggalkanlah shalat dan jika telah selesai mandilah dan shalatlah!”
(HR. Imam Bukhari, no.309)

إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“Itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haidh, apabila darah haidh datang, tinggalkanlah shalat! Apabila darah haidh telah berlalu, bersihkanlah darah tersebut dari dirimu, kemudian shalatlah!”
(HR. Imam Muslim, no.501)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita bukan pada waktunya dan keluarnya dari urat.”
(Syarh Shahih Muslim, 4:17)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga menjelaskan;
“Istihadhah adalah darah segar yang di luar kebiasaan seorang wanita, disebabkan urat yang terputus.”
(Jami Li Ahkami Al-Quran, 3:57)

Aisyah radhiyallahu anha juga bercerita;

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَتَنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ فَاسْتَفْتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ وَلَكِنَّ هَذَا عِرْقٌ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي
قَالَتْ عَائِشَةُ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ فِي مِرْكَنٍ فِي حُجْرَةِ أُخْتِهَا زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَتَّى تَعْلُوَ حُمْرَةُ الدَّمِ الْمَاءَ
“Bahwa Ummu Habibah binti Jahsy, kerabat dekat dari istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan merupakan istri Abdurrahman bin Auf, mengalami istihadhah selama 7 tahun, lalu dia meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Ini bukanlah darah haidh, tetapi ini adalah darah penyakit, maka mandilah dan shalatlah! Aisyah berkata: Maka dia mandi di baskom besar di kamar saudarinya, Zainab binti Jahsy, hingga warna merah darahnya naik ke permukaan air.”
(HR. Imam Muslim, no.503)

1. Mengenali Darah Istihadhah.
Berdasarkan penjelasan dalil di atas menunjukkan, bahwa istihadhah itu tidak sama dengan haidh yang sifatnya alami, yaitu yang pasti dialami oleh setiap wanita normal sebagai salah satu tanda baligh. Namun, istihadhah adalah suatu penyakit yang menimpa kaum wanita dan disebabkan perbuatan setan yang ingin menimbulkan keraguan pada anak Adam (wanita) dalam pelaksanaan ibadahnya.

Sebagaimana Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Makna dari sabda Nabi: Yang demikian itu hanyalah suatu dorongan atau gangguan dari setan, adalah setan mendapatkan jalan untuk membuat kerancuan terhadap para wanita dalam perkara agamanya, antara masa sucinya dan shalatnya, hingga setan menjadikannya lupa terhadap kebiasaan haidhnya. Darah istihadhah berasal dari urat yang dinamakan ‘aadzil, karena dimungkinkan setan mendorong urat tersebut hingga terpancar darah darinya.”
(Subulu As-Salam, 1:159)

Keberadaan darah istihadhah dan darah haidh merupakan suatu masalah yang rumit. Sehingga menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, keduanya harus dibedakan. Caranya bisa dengan adat (mengetahui kebiasaan haidh), atau dengan tamyiz (membedakan sifat darah).

Perbedaan antara darah istihadhah dengan darah haidh adalah darah istihadhah keluar karena pecahnya urat, sifatnya tidak alami, tidak pasti dialami setiap wanita, serta keluar dari urat yang ada di sisi rahim. Sedangkan darah haidh merupakan darah alami, biasa dialami wanita normal dan keluarnya dari rahim.

Kemudian ada perbedaan lain dari sifat darah istihadhah jika dibandingkan dengan darah haidh, di antaranya;

– Perbedaan warna. Darah istihadhah secara umum berwarna merah segar, sedangkan darah haidh berwarna hitam.
– Perbedaan tekstur. Darah istihadhah bertekstur lunak, sedangkan darah haidh bertekstur keras.
– Perbedaan sifat. Darah istihadhah bersifat cair, sedangkan darah haidh bersifat kental.
– Perbedaan aroma. Darah istihadhah tidak beraroma, sedangkan darah haidh beraroma tidak sedap.

2. Mengetahui Darah Istihadhah.
Sifat darah istihadhah ini umumnya berwarna merah segar seperti darah pada umumnya, encer, dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan dia hanya akan berhenti setelah keadaan normal atau darahnya mengering. Kemudian jika seorang wanita memiliki kebiasaan, maka sesuatu yang melebihi kebiasaannya adalah darah istihadhah.

Maka sebab itu, untuk mengetahui siklus darah istihadhah adalah dengan mengetahui perbedaan warna, tekstur, dan sifat di atas. Sehingga tidak berpatokan pada waktu, dan lebih mudah untuk menentukannya.

Jika dia bisa membedakan kedua darah tersebut, maka darah haidh adalah yang berwarna hitam sebagaimana dikenal. Sedangkan yang selain itu adalah istihadhah.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiyallahu anha;

إِذَا كَـانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ أَسْـوَدُ مَعْرُوْفٌ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Jika memang itu darah haidh, maka ia berwarna hitam sebagaimana dikenal, maka tinggalkanlah shalat! Jika tidak seperti itu, maka berwudhulah! Karena ia adalah penyakit.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.204)

3. Menyikapi Darah Istihadhah.
Wanita yang mengalami istihadhah dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga dia tetap harus mengerjakan shalat, puasa, dan boleh berhubungan badan (jima) dengan suaminya.

Wanita yang sedang istihadhah memiliki beberapa keadaan, di antaranya;

– Dia memiliki kebiasaan haidh yang tertentu (teratur) sebelum dia mengalami istihadhah. Sehingga ketika keluar darah dari kemaluannya, untuk membedakan darahnya tersebut antara darah haidh atau darah istihadhah, dia cukup kembali pada kebiasaan haidhnya tersebut. Sehingga dia meninggalkan shalat dan puasa di hari-hari kebiasaan haidhnya kemudian berlaku kepadanya hukum-hukum wanita haidh. Adapun di luar kebiasaan haidhnya jika masih keluar darah, maka darah tersebut adalah darah istihadhah dan berlaku kepadanya hukum-hukum wanita suci.

Contoh: Seorang wanita yang haidhnya biasa datang selama 6 hari di setiap awal bulan. Kemudian dia mengalami istihadhah, darahnya keluar secara terus-menerus, maka cara dia untuk menetapkan hukum haidh atau istihadhahnya adalah dengan menghitung 6 hari yang awal di setiap bulannya sebagai darah haidh, sedangkan selebihnya sebagai darah istihadhah.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“Itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haidh, apabila darah haidh datang, tinggalkanlah shalat! Apabila darah haidh telah berlalu, bersihkanlah darah tersebut dari dirimu, kemudian shalatlah!”
(HR. Imam Muslim, no.501)

Sehingga wanita yang keadaannya seperti ini, dia meninggalkan shalat hanya di hari-hari yang menjadi kebiasaan haidhnya, kemudian dia mandi dan setelah itu dia boleh mengerjakan shalat dan tidak perlu mempedulikan darah yang keluar setelahnya, karena darah tersebut adalah darah istihadhah dan dia hukumnya sama dengan wanita yang suci.

– Dia tidak memiliki kebiasaan haidh yang tertentu (tidak teratur) sebelum dia mengalami istihadhah namun, dia bisa membedakan darah tersebut, maka untuk membedakan sifat darah haidh dan darah istihadhah menggunakan cara tamyiz (pembedaan sifat darah). Darah haidh dikenal dengan warnanya yang hitam, kental, dan beraroma tidak sedap. Sehingga jika dia dapati darahnya demikian, maka berlaku padanya hukum-hukum haidh, sedangkan di luar dari itu berarti ia adalah darah istihadhah.

Contoh: Seorang wanita yang melihat darah keluar dari kemaluannya secara terus-menerus, tapi 10 hari yang awal dia melihat darahnya hitam, sedangkan selebihnya berwarna merah, atau 10 hari awal beraroma darah haidh dan selebihnya tidak beraroma, berarti 10 hari yang awal tersebut adalah darah haidh dan selebihnya adalah darah istihadhah.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiyallahu anha;

إِذَا كَـانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ أَسْـوَدُ مَعْرُوْفٌ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Jika memang itu darah haidh, maka ia berwarna hitam sebagaimana dikenal, maka tinggalkanlah shalat! Jika tidak seperti itu, maka berwudhulah! Karena ia adalah penyakit.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.204)

Jika ada seorang wanita yang istihadhah memiliki kebiasaan haidh (adat), dan bisa membedakan sifat darah (tamyiz), cara mana yang harus dia dahulukan untuk menentukan hukum darahnya, adat atau tamyiz?

Maka dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat cara tamyiz yang didahulukan, sebagaimana ini adalah pendapatnya Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad rahimahumullah. Mereka berdalil dengan hadits Fathimah bintu Abu Hubaisy radhiyallahu anha yang sudah dicantumkan di atas. Ada juga yang berpendapat cara adat yang didahulukan, sebagaimana ini adalah pendapatnya Imam Abu Hanifah serta pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumullah.

Jadi, apabila ada seorang wanita memiliki adat haidh (kebiasaan) 5 hari, lalu pada hari ke-4 dari adatnya keluar darah berwarna merah segar seperti darah istihadhah namun, pada hari ke-5 darah yang keluar tersebut kembali berwarna hitam seperti darah haidh, maka dia berpegang dengan adatnya yang 5 hari, sehingga hari ke-4 yang keluar darinya darah berwarna merah segar, itu tetap terhitung dalam masa haidhnya, dan pendapat inilah yang dinilai lebih kuat.

– Dia tidak memiliki kebiasaan haidh (adat) dan tidak juga bisa membedakan darahnya (tamyiz). Sedangkan darah keluar secara terus-menerus sejak awal dia melihat darah keluar dari kemaluannya, dan sifat darahnya tidak jelas perbedaannya. Maka untuk membedakan haidh dan istihadhahnya adalah melihat kebiasaan mayoritas wanita, yaitu dia menganggap dirinya haidh selama 6 atau 7 hari pada setiap bulannya, dan dimulai sejak awal dia melihat keluarnya darah. Kemudian selebihnya itu dihukumi sebagai darah istihadhah.

Contoh: Seorang wanita yang melihat darah pertama kalinya pada hari Kamis bulan Ramadhan dan darah tersebut terus keluar dan tidak bisa dibedakan antara haidh ataukah bukan, maka dia menganggap dirinya haidh selama 6 atau 7 hari, dimulai sejak hari Kamis.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Hamnah binti Jahsyi radhiyallahu anha;

إِنَّمَا هذِهِ رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَياَّمٍ أَوْ سَبْعَةً فِيْ عِلْمِ اللَّهِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ حَتَّـى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَيْتِ فَصَلِّي أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةٍ أَوْ ثَلاَثاً وَعِشْرِيْنَ وَأَيَامَهُنَّ وَصُوْمِيْ فَإِنَّ ذلِكَ يُجْزِيْكِ وَكَذلِكَ فَافْعَلِي فِي كُلِّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيْضُ النِّسَاءُ وَكَمَا يَطْهُرْنَ لِمِيْقَاتِ حَيْضِهِنَّ وَطُهْرِهِنَّ
“Ini adalah salah satu dorongan setan. Maka jalanilah haidhmu selama 6 atau 7 hari menurut ilmu Allah, kemudian mandilah! Sehingga jika kamu menganggap dirimu telah suci dan bersih, maka shalatlah selama 24 malam atau 23 hari, dan berpuasalah, karena itu sudah mencukupimu! Lakukanlah seperti itu di setiap bulan, sebagaimana para wanita menjalani haidh dan suci berdasarkan waktu haidh dan suci mereka.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.205)

Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Makna dari sabda Nabi: Yang demikian itu hanyalah suatu dorongan atau gangguan dari setan, adalah setan mendapatkan jalan untuk membuat kerancuan terhadap para wanita dalam perkara agamanya, antara masa sucinya dan shalatnya, hingga setan menjadikannya lupa terhadap kebiasaan haidhnya. Darah istihadhah berasal dari urat yang dinamakan ‘aadzil, karena dimungkinkan setan mendorong urat tersebut hingga terpancar darah darinya.”
(Subulu As-Salam, 1:159)

Beliau pun menjelaskan;
“Dalam hadits ini, untuk menentukan antara haidh dengan selainnya, Nabi mengembalikan pada kebiasaan umumnya para wanita.”
(Subulu As-Salam, 1:159)

Wanita yang memiliki keadaan seperti ini, maka dia menganggap dirinya suci selama 24 hari jika kebiasaan haidhnya 6 hari atau dia menganggap dirinya suci selama 23 hari jika kebiasaan haidhnya 7 hari. Dan untuk menentukan 6 atau 7 hari itu bukan dengan seenaknya (semaunya) memilih namun, dengan melihat kepada wanita lain yang paling dekat kekerabatannya dan berdekatan umur dengannya.

Sebagaimana Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Nabi mengatakan demikian untuk mengumumkan, bahwasannya para wanita memiliki salah satu dari dua adat, yakni 6 atau 7 hari. Karena di antara mereka ada yang berhaidh 6 hari dan ada yang 7 hari. Maka seorang wanita yang meiliki kebiasaan seperti itu, mengembalikan kebiasaannya kepada wanita yang sama usia dengannya dan memiliki keserupaan (rahim) dengannya.”
(Subulu As-Salam, 1:160)

Para ulama fikih juga menjelaskan;
“Apabila wanita yang istihadhah memiliki adat (kebiasaan) yang tetap dan teratur, maka ketika dia melihat darah haidh, dia berhenti shalat dan puasa pada hari-hari adatnya tersebut, karena adat lebih kuat dari selainnya. Apabila dia tidak mengetahui adatnya, maka dia melakukan tamyiz (membedakan sifat darah). Apabila dia tidak mampu juga membedakan darah, maka dia melihat secara umum kebiasaan kaum wanita.”
(Bulughu Al-Maram, hlm.54)

Sehingga konsekuensinya, apabila kebiasaan wanita yang seumuran dan paling dekat kekerabatan dengannya itu bukan 6 atau 7 hari, misalnya 10 hari, maka dia tetap harus berpedoman dengan kebiasaan wanita tersebut, yaitu 10 hari.

– Dia memliki kebiasaan haidh tertentu (teratur) namun, masa haidhnya tidak teratur bilangannya, maka jika masih memungkinkan melakukan tamyiz, maka kondisinya disesuaikan dengan kondisi kedua di atas.

– Dia memiliki kebiasaan (adat) namun, lupa waktu dan bilangan hari haidhnya dan tidak dapat membedakannya, sementara darah terus-menerus keluar, maka ulama berselisih pendapat mengenai masalah ini. Ada yang berpendapat hukumnya sama dengan wanita yang baru haidh yang tidak dapat membedakan darahnya. Ada juga yang berpendapat untuk kehati-hatian dia anggap dirinya haidh, sehingga tidak halal bagi suaminya untuk menggaulinya dan di sisi lain dia anggap dirinya suci hingga dia terus shalat dan puasa. Ada yang mengatakan dia menetapkan hari-hari haidhnya setiap awal bulan dan jumlah harinya sama dengan wanita di sekitarnya. Adapun yang lain berpendapat dia harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membedakan darahnya semampu dia dan berusaha mengingat keadaan haidhnya.
(Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, 2:396)

Dalam masalah ini yang dinilai lebih kuat (rajih), menurut Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Al-Mumti, adalah mengembalikannya pada kebiasaan wanita yang lain namun, dalam hal ini lebih dipersempit. Misal, wanita tersebut hanya ingat bahwa dia haidh di awal bulan namun, dia lupa tanggalnya, kemudian keluar darah secara terus menerus. Sedangkan ibu dari wanita tersebut memiliki haidh yang teratur di setiap awal bulan pada tanggal tertentu, demikian juga dengan saudarinya di akhir bulan. Maka wanita tersebut harus menetapkan tanggal haidhnya sesuai tanggal haidh ibunya, meskipun kekerabatan rahim dan umurnya lebih mendekati kepada saudarinya.

– Dia tahu bilangan (durasi) haidhnya dan letak waktunya di setiap bulan (awal, tengah atau akhir) namun, dia lupa tanggal berapa tepatnya dia mulai haidh, maka dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ada yang berpendapat, bahwa dia harus mengambil tanggal haidhnya di awal bulan, meskipun dia yakin biasa haidh di tengah bulan. Tetapi menurut Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitab Syarh Al-Mumti yang lebih mendekati pada kenyataan sebenarnya adalah mengambil tanggal pasti dari awal, tengah, atau akhir bulan. Misal wanita tersebut yakin bahwa dia haidh di tengah bulan namun, lupa di tanggal berapa, maka yang lebih mendekati kebenaran dalam kasus ini adalah dia menetapkan tanggal haidhnya adalah tanggal 13, daripada menetapkan tanggal haidhnya di awal bulan.

4. Hukum Wanita Istihadhah.
Perlu dipahami, bahwa hukum wanita yang istihadhah itu sama seperti hukum wanita yang suci, kecuali pada beberapa keadaan, di antaranya;

– Wanita istihadhah jika ingin berwudhu, maka dia harus mencuci bekas darah dari kemaluannya dan menahan darahnya tersebut dengan kain atau pembalut.
Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِهَا مِنْ الْمَحِيضِ فَأَمَرَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ قَالَ خُذِي فِرْصَةً مِنْ مَسْكٍ فَتَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهَّرُ قَالَ تَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِي فَاجْتَبَذْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ
“Seorang wanita bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang cara mandi dari haidh. Beliau lalu menjelaskan kepada wanita tersebut tentang bagaimana cara mandi. Beliau bersabda: Ambillah sepotong kapas yang diberi wewangian, lalu bersucilah! Wanita tersebut bertanya: Bagaimana aku bersucinya? Beliau menjawab: Bersucilah dengan kapas itu! Wanita tersebut berkata lagi: Bagaimana caranya aku bersuci? Beliau bersabda: Bersucilah dengan menggunakan kapas itu! Wanita tersebut bertanya lagi: Bagaimana caranya? Maka beliau berkata: Subhaanallah. Bersucilah kamu! Lalu aku manarik wanita tersebut ke arahku, lalu aku katakan: Kamu bersihkan sisa darahnya dengan kapas itu.”
(HR. Imam Bukhari, no.303)

جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ قَالَ لَا إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ اجْتَنِبِي الصَّلَاةَ أَيَّامَ مَحِيضِكِ ثُمَّ اغْتَسِلِي وَتَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ وَإِنْ قَطَرَ الدَّمُ عَلَى الْحَصِيرِ
“Fatimah binti Hubaisy datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya: Sesungguhnya aku adalah wanita yang keluar darah istihadhah hingga tidak suci, maka apakah aku boleh meninggalkan shalat? Beliau menjawab: Tidak, itu hanyalah penyakit dan bukan haidh. Jauhilah shalat di hari-hari haidhmu, kemudian shalatlah, dan wudhulah pada setiap shalat, meskipun darah menetes di atas tikar!”
(HR. Ibnu Majah, no.616)

– Wanita istihadhah dianjurkan wudhu setiap kali akan shalat.
Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiyallahu anha;

إِذَا كَـانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ أَسْـوَدُ مَعْرُوْفٌ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Jika memang itu darah haidh, maka ia berwarna hitam sebagaimana dikenal, maka tinggalkanlah shalat! Jika tidak seperti itu, maka berwudhulah! Karena ia adalah penyakit.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.204)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“Itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haidh, apabila darah haidh datang, tinggalkanlah shalat! Apabila darah haidh telah berlalu, bersihkanlah darah tersebut dari dirimu, kemudian shalatlah!”
(HR. Imam Muslim, no.501)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Tambahan yang ditinggalkan penyebutannya oleh Imam Muslim adalah: Watawaddhai (berwudhulah). Imam An-Nasai dan lainnya menyebutkan tambahan ini, sedangkan Imam Muslim membuangnya karena Hammad, salah seorang perawi hadits ini, disebabkan bersendiri dalam menyebutkan tambahan tersebut, adapun perawi-perawi yang lain juga tidak menyebutkan tambahan: Berwudhulah.”
(Syarah Shahih Muslim, 4:22)

Jadi perintah wudhu bukanlah berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan perintah yang ada dalam masalah ini adalah lemah, sebagaimana dilemahkan oleh para ulama. Namun, jika ada wanita istihadhah yang wudhunya belum batal dan ingin memperbarui wudhunya ketika akan shalat, maka dibolehkan, meskipun tidak diwajibkan.

– Wanita istihadhah dianjurkan mandi setiap kali akan shalat.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha juga bercerita;

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَتَنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ فَاسْتَفْتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ وَلَكِنَّ هَذَا عِرْقٌ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي
قَالَتْ عَائِشَةُ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ فِي مِرْكَنٍ فِي حُجْرَةِ أُخْتِهَا زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَتَّى تَعْلُوَ حُمْرَةُ الدَّمِ الْمَاءَ
“Bahwa Ummu Habibah binti Jahsy, kerabat dekat dari istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan merupakan istri Abdurrahman bin Auf, mengalami istihadhah selama 7 tahun, lalu dia meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Ini bukanlah darah haidh, tetapi ini adalah darah penyakit, maka mandilah dan shalatlah! Aisyah berkata: Maka dia mandi di baskom besar di kamar saudarinya, Zainab binti Jahsy, hingga warna merah darahnya naik ke permukaan air.”
(HR. Imam Muslim, no.503)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Ketahuilah tidak wajib bagi wanita istihadhah untuk mandi ketika akan mengerjakan shalat, tidak juga wajib mandi dari satu waktu yang ada, kecuali sekali saja setiap berhentinya haidh. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf.”
(Syarh Shahih Muslim, 4:19)

Syaikh Musthafa Al-Adawy hafizhahullah menjelaskan;
“Adapun hadits yang terdapat tambahan lafazh: Nabi memerintahkan Ummu Habibah untuk mandi setiap akan shalat, itu adalah tambahan yang syadz karena Ibnu Ishaq (seorang perawi hadits ini) salah dalam membawakan riwayat, sementara para perawi lainnya yang lebih kuat darinya, meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Syihab dengan lafazh: Adalah Ummu Habibah mandi setiap akan shalat. Dan perbedaan antara kedua lafazh ini sangat jelas. Bahkan Laits bin Saad dan Sufyan Ibnu Uyainah (dua perawi yang lebih kuat) jelas-jelas mengatakan dalam riwayat Abu Dawud, bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintah Ummu Habibah untuk mandi.”
(Jami Ahkami An-Nisa, 1:220)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Bahwasannya mandi setiap akan shalat, itu hanyalah sunnah, tidak wajib menurut pendapat imam yang empat, bahkan yang wajib bagi wanita istihadhah adalah wudhu setiap akan shalat lima waktu, menurut pendapat jumhur ulama, di antaranya: Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad.
(Bulughu Al-Maram, hlm.53)

– Wanita istihadhah boleh berjima (berhubungan badan) dengan suaminya. Karena larangan berjima tidak berlaku bagi wanita yang istihadhah.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, itu adalah sesuatu yang kotor. Sebab itu jauhilah istri pada waktu haidh dan jangan kalian dekati mereka sebelum mereka suci! Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepada kalian! Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 222)

Pada ayat tersebut, Allah azza wa jalla hanya menyebutkan: “Jangan kalian dekati mereka sebelum mereka suci”, yang berarti ketika seorang wanita dalam keadaan suci, suaminya boleh mendekatinya, dan wanita istihadhah hukumnya sama seperti wanita suci.

Meskipun demikian, sebetulnya seorang wanita tetap boleh didekati oleh suaminya, dengan syarat mencumbunya di selain kemaluannya.

Sebagaimana Maimunah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mencumbui istri-istrinya pada daerah di atas sarung (pakaian bagian bawah), sedangkan mereka dalam keadaan haidh.”
(HR. Imam Muslim, no.442)
___
@Kota Udang Cirebon, 20 Muharram 1441H/19 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

0

Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak juga membiarkannya untuk disakiti. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah pun akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah pun akan menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah pun akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.”
(HR. Imam Bukhari, no.2262)

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقْ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan barang siapa menyusahkan manusia, maka Allah juga akan menyusahkannya pada hari Kiamat.”
(HR. Imam Bukhari, no.6619)

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan di dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari Kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hamba tersebut mau menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke Surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al-Quran, kecuali mereka akan diberikan ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para Malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada para Malaikat yang berada di sisiNya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak akan bisa meninggikannya.”
(HR. Imam Muslim, no.4867)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan;
“Kesempitan (Al-Kurbah) adalah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan (At-Tanfis) maksudnya adalah berupaya meringankan beban tersebut dari si penderita. Sedangkan, upaya melepaskan (At-Tafrij) dengan cara menghilangkan beban penderitaan dari si penderita, sehingga kesedihan dan kesusahannya hilang. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain adalah Allah akan meringankan kesulitannya. Dan balasan menghilangkan kesulitan adalah Allah akan menghilangkan kesulitannya.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:286)

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَا فِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
“Dan masing-masing orang memiliki tingkatannya (derajat) sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Rabbmu tidak lengah terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Surat Al-Anam: ayat 132)

Kemudian Rasulullah bersabda;

مَنْ أَرَادَ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَأَنْ تُكْشَفَ كُرْبَتُهُ فَلْيُفَرِّجْ عَنْ مُعْسِرٍ
“Barang siapa yang ingin dikabulkan doa dan dihilangkan kesusahannya, hendaklah dia meringankan beban orang yang sedang kesusahan.”
(HR. Ahmad, no.4519. Al-Haitsami menyatakan hadits ini para perawinya tsiqah, Majmu Az-Zawaid, 4:136)

• Mengapa kita harus mendapatkan kemudahan dari Allah?

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمْ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ قَالَ فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا
“Pada hari Kiamat, matahari didekatkan kepada manusia hingga sebatas satu mil. Berkata Sulaim bin Amir: Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata, lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang, dan ada juga yang benar-benar tenggelam oleh keringat.”
(HR. Imam Muslim, no.5108)

إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ بَاعًا وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ أَوْ إِلَى آذَانِهِمْ
“Sesungguhnya keringat pada hari Kiamat menyebar di tanah seluas 70 depa (1 depa=4 hasta), dan sesungguhnya keringat tersebut mencapai mulut-mulut manusia atau hingga telinga-telinga mereka.”
(HR. Imam Muslim, no.5107)

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ. يَقُومُ أَحَدُهُمْ فِي رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ
“Firman Allah: Pada hari manusia menghadap Rabb alam semesta (Surat Al-Muthaffifin: ayat 6). Rasulullah bersabda: Mereka di hari itu dalam genangan keringatnya hingga pertengahan kedua telinganya.”
(HR. Imam Bukhari, no.6050)

يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ
“Pada hari Kiamat manusia akan berkeringat, hingga keringat mereka di bumi setinggi 70 hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinga.”
(HR. Imam Bukhari, no.6051)

تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan dengan keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan. Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan, satu sama lain bisa melihat auratnya? Nabi menjawab: Kejadian ketika itu lebih dahsyat, sehingga memalingkan mereka dari keinginan seperti itu.”
(HR. Imam Bukhari, no.6046)

Allah azza wa jalla berfirman;

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا. وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا. وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا. يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا. بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا. يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya: Mengapa bumi menjadi begini? Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan padanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, pasti dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan sekecil apapun, pasti dia akan melihat balasannya juga.”
(Surat Al-Zalzalah: ayat 1-8)

Syaikh As-Sadi rahimahullah menjelaskan;
“Bumi menjadi saksi bagi setiap orang yang dahulu telah beramal di atasnya. Sejak dahulu bumi telah menjadi saksi terhadap amalan setiap hamba. Dan Allah memerintahkan (bumi) untuk memberitahukan amalan-amalan manusia.”
(Taisir Al-Karimi Ar-Rahman, hlm.932)

Lalu, beliau pun berkata;
“Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walaupun sedikit. Begitu juga menunjukkan ancaman bagi yang beramal buruk walaupun itu kecil.”
(Taisir Al-Karimir Ar-Rahman, hlm.932)

Allah subhanahu wa taala berfirman;

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰٓئِکَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَالسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِ ۚ وَاَ قَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّکٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Kebaikan itu bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan ke arah barat, tetapi kebaikan itu adalah kebaikan orang yang beriman kepada Allah, hari Akhirat, Malaikat-Malaikat, kitab-kitab, dan Nabi-Nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya (budak), yang mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan (kesusahan), penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 177)

وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kalian menyedekahkan, itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 280)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercerita;

كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَجَاوَزُوا عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ
“Ada seorang pedagang yang memberi pinjaman kepada manusia, sehingga jika dia melihat mereka dalam kesulitan, maka dia berkata kepada para pembantunya: Berilah dia tempo hingga mendapatkan kemudahan! Semoga Allah memudahkan urusan kita. Maka kemudian Allah memudahkan urusan pedagang tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.1936)

Lalu, Abdullah bin Abi Qatadah rahimahullah bercerita;

أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ طَلَبَ غَرِيمًا لَهُ فَتَوَارَى عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ فَقَالَ إِنِّي مُعْسِرٌ فَقَالَ آللَّهِ قَالَ آللَّهِ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللَّهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ
“Bahwa Abu Qatadah pernah mencari seseorang yang berutang kepadanya, ternyata orang yang berutang kepadanya tersebut berusaha bersembunyi dan menghindar. Ketika ditemukan, orang tersebut berkata: Sungguh aku sedang dalam kesulitan. Abu Qatadah berkata: Demi Allah! Dia berkata: Demi Allah! Abu Qatadah melanjutkan: Baiklah kalau begitu, sungguh aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa ingin diselamatkan oleh Allah dari kesusahan di hari Kiamat, maka hendaklah dia memberi tangguhan kepada orang yang kesulitan, atau membebaskan utangnya.”
(HR. Imam Muslim, no.2923)

Ubadah bin Al-Walid bin Ubadah bin Ash-Shamit rahimahumullah juga bercerita;

خَرَجْتُ أَنَا وَأَبِي نَطْلُبُ الْعِلْمَ فِي هَذَا الْحَيِّ مِنْ الْأَنْصَارِ قَبْلَ أَنْ يَهْلِكُوا فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ لَقِينَا أَبَا الْيَسَرِ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ غُلَامٌ لَهُ مَعَهُ ضِمَامَةٌ مِنْ صُحُفٍ وَعَلَى أَبِي الْيَسَرِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيَّ وَعَلَى غُلَامِهِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيَّ فَقَالَ لَهُ أَبِي يَا عَمِّ إِنِّي أَرَى فِي وَجْهِكَ سَفْعَةً مِنْ غَضَبٍ قَالَ أَجَلْ كَانَ لِي عَلَى فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ الْحَرَامِيِّ مَالٌ فَأَتَيْتُ أَهْلَهُ فَسَلَّمْتُ فَقُلْتُ ثَمَّ هُوَ قَالُوا لَا فَخَرَجَ عَلَيَّ ابْنٌ لَهُ جَفْرٌ فَقُلْتُ لَهُ أَيْنَ أَبُوكَ قَالَ سَمِعَ صَوْتَكَ فَدَخَلَ أَرِيكَةَ أُمِّي فَقُلْتُ اخْرُجْ إِلَيَّ فَقَدْ عَلِمْتُ أَيْنَ أَنْتَ فَخَرَجَ فَقُلْتُ مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ اخْتَبَأْتَ مِنِّي قَالَ أَنَا وَاللَّهِ أُحَدِّثُكَ ثُمَّ لَا أَكْذِبُكَ خَشِيتُ وَاللَّهِ أَنْ أُحَدِّثَكَ فَأَكْذِبَكَ وَأَنْ أَعِدَكَ فَأُخْلِفَكَ وَكُنْتَ صَاحِبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ وَاللَّهِ مُعْسِرًا قَالَ قُلْتُ آللَّهِ قَالَ اللَّهِ قُلْتُ آللَّهِ قَالَ اللَّهِ قُلْتُ آللَّهِ قَالَ اللَّهِ قَالَ فَأَتَى بِصَحِيفَتِهِ فَمَحَاهَا بِيَدِهِ فَقَالَ إِنْ وَجَدْتَ قَضَاءً فَاقْضِنِي وَإِلَّا أَنْتَ فِي حِلٍّ فَأَشْهَدُ بَصَرُ عَيْنَيَّ هَاتَيْنِ وَوَضَعَ إِصْبَعَيْهِ عَلَى عَيْنَيْهِ وَسَمْعُ أُذُنَيَّ هَاتَيْنِ وَوَعَاهُ قَلْبِي هَذَا وَأَشَارَ إِلَى مَنَاطِ قَلْبِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ
“Aku dan ayahku pergi untuk menuntut ilmu di perkampungan Anshar ini sebelum mereka meninggal. Orang yang pertama kali kami temui adalah Abu Al-Yasar, Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dia bersama seorang budak miliknya, dia membawa sekumpulan lembaran, Abu Al-Yasar mengenakan selimut ma’afiri dan budaknya juga mengenakan selimut ma’afiri. Ayahku berkata kepadanya: Wahai pamanku, sesungguhnya aku melihat tanda bekas marah di wajahmu. Dia berkata: Benar. Fulan bin Fulan memiliki utang kepadaku, aku mendatangi keluarganya, aku mengucapkan salam, lalu aku mengucapkan kata-kata, kemudian mereka berkata: Tidak. Lalu seorang anak berperut buncit keluar, aku bertanya: Mana ayahmu? Dia berkata: Dia mendengar suaramu. Selanjutnya ibuku, Arikah, masuk, lalu aku berkata: Keluarlah kemari, aku sudah tahu dimana kamu berada. Aku bertanya: Kenapa kamu bersembunyi dariku? Dia menjawab: Demi Allah, aku akan menceritakan kepadamu, aku tidak bohong, demi Allah, aku takut bercerita kepadamu kemudian aku berdusta dan aku berjanji kepadamu kemudian aku pungkiri. Kamu adalah Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan demi Allah, aku sedang susah. Aku mengucapkan: Allah. Dia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Dia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Dia menyahut: Allah. Lalu dia mengambil lembaran kemudian dihapus dengan tangannya, dia berkata: Bila kamu punya uang lunasilah, dan bila tidak punya maka kamu bebas (dari utang). Penglihatan kedua mataku ini -dia meletakkan jari-jemarinya ke kedua matanya-, pendengaran kedua telingaku ini dan dipahami oleh hatiku ini -dia menunjuk ke tempat hatinya-, menyaksikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa menangguhkan orang susah atau membebaskannya dari utangnya, maka Allah akan menaunginya dalam naunganNya.”
(HR. Imam Muslim, no.5328)

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang sangat bermanfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah taala adalah membuat seorang muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”
(HR. At-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, no.13280. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan, Shahih Al-Jami, no.176)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah bercerita;
“Hasan Al-Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan kepada murid-muridnya: Hampirilah Tsabit Al-Banani, bawa dia bersama kalian! Ketika Tsabit didatangi, dia berkata: Maaf, aku sedang itikaf. Murid-murid tersebut kemudian kembali mendatangi Hasan Al-Bashri, lalu mereka mengabarinya. Kemudian Hasan Al-Bashri berkata: Wahai A’masy, tahukah kamu, bahwa jika kamu berjalan menolong saudaramu yang sedang membutuhkan pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji? Lalu mereka pun kembali kepada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan itikaf dan mengikuti murid-murid Hasan Al-Bashri untuk memberikan pertolongan kepada orang lain.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:294)

Allah azza wa jalla berfirman;

هَلْ جَزَآءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُ
“Tidak ada balasan untuk kebaikan, kecuali kebaikan.”
(Surat Ar-Rahman: ayat 60)

مَنْ يَّعْمَلْ سُوْٓءًا يُّجْزَ بِهٖ ۙ وَلَا يَجِدْ لَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا
“Barang siapa mengerjakan keburukan, pasti akan dibalas sesuai dengan keburukan tersebut, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.”
(Surat An-Nisa: ayat 123)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap (sifat), maka Allah akan menyikapinya juga dengan sikap tersebut di dunia dan akhirat.”
(Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm.49)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ
“Barang siapa yang senang Allah mengabulkan doanya ketika dalam keadaan sempit serta berduka maka hendaknya ia banyak berdoa ketika dalam keadaan lapang.”
(HR. At-Tarmidzi, no.3304. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, jika Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.974)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Imam Muslim, no.4897)
___
@Kota Udang Cirebon, 17 Muharram 1441H/17 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

Apa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?

0

Apa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?

Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus kita ketahui jawabannya, agar kita bisa bersikap bijak dalam menilai dan menyikapi keberadaan media-media yang menisbatkan aktivitasnya terhadap dakwah Islam.

Seperti adanya Yayasan Islam, Pondok Pesantren, Sekolah Islam, Lembaga Dakwah, Panitia Kajian, dan ada juga Media Dakwah yang berusaha menyebarkan dan mensyiarkan agama Islam dengan berbagai macam fikih dakwah serta cara yang dibolehkan oleh syariat Islam. Dan pihak-pihak tersebut juga memiliki porsi peran (bagian) dalam dakwah yang berbeda-beda. Di antaranya;

1. Yayasan: Sebuah badan hukum yang bisa melegalkan dan menguatkan berbagai macam kegiatan, termasuk kegiatan keagamaan dan keislaman. Karena untuk mendapatkan badan hukum yayasan ini kita harus berurusan dengan pihak hukum yakni notaris, dan semua prosedurnya mengikuti aturan pemerintah.

2. Pondok Pesantren: Sebuah tempat yang menjadi sarana belajar agama Islam. Secara umum, memang pondok pesantren sedikit berbeda dengan sekolah, karena kalau sekolah lebih fokus pada pendidikan umum, sedangkan pondok pesantren fokus pada pendidikan Islam.

3. Sekolah Islam: Sebuah lembaga pendidikan yang fokus pada pendidikan umum dan Islam. Meskipun dinamakan sekolah Islam namun, aktivitas pembelajarannya tidak bisa lepas dari pendidikan umum, karena hukum asal sekolah adalah untuk mempelajari pengetahuan umum. Sehingga meskipun ada pendidikan Islam di dalamnya, porsi waktu pembelajarannya tidak banyak.

4. Lembaga Dakwah: Sebuah komunitas yang menangani semua urusan yang berkaitan dengan program-program dakwah Islam.

5. Panitia Kajian: Sebuah komunitas yang fokus pada penyelenggaraan pengajian yang bersifat rutin, atau sewaktu-waktu, seperti: Tabligh Akbar, Daurah Ilmiah, dan semisalnya.

6. Media Dakwah: Sebuah komunitas yang fokus pada penyebaran konten dakwah, berupa video, poster, artikel, hingga program-program sosial.

Kalau dicermati, di antara pihak-pihak yang berkontribusi di dalam dunia dakwah ternyata hanya Media Dakwah yang memiliki porsi peran yang cukup banyak, luas, dan fleksibel.

Sebagai contoh: Yayasan Islam, Pondok Pesantren, Sekolah Islam, Lembaga Dakwah, Panitia Kajian, semuanya akan bisa merealisasikan program-program dakwahnya (seperti pengajian), dan menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan sosial (seperti baksos) hanya dengan melalui Media Dakwah. Karena Media Dakwah adalah sarana dan penghubung antara para aktivis dakwah tersebut dengan masyarakat. Sudah terbukti, saat ini sudah banyak juga Media Dakwah yang siaran dakwah dan sosialnya bisa tembus hingga pelosok daerah dan luar negeri.

Hal tersebut disebabkan karena Media Dakwah memiliki berbagai macam sarana dan strategi dalam menyebarluaskan dakwah Islam, mulai dari konten audio, video, buletin, baliho, poster, dan cara semisalnya. Selain itu, sarana dan strategi tersebut bisa dilakukan dimanapun, kemanapun, kapanpun, dan berapapun. Disebabkan banyaknya peluang yang bisa dilakukan oleh Media Dakwah, mengharuskan Media Dakwah saat ini membuat program sosial juga, seperti: Penyaluran air bersih, pemanfaat harta riba dan harta syubhat, kegiatan baksos (tebar busana, buku, sembako, donor darah, dan kegiatan semisalnya), pembagian makanan gratis kepada masyarakat, pembebasan tanah wakaf, renovasi rumah warga tidak mampu, membantu orang-orang miskin dan yatim-dhuafa.

Program dakwah dan sosial dari Media Dakwah tersebut semuanya bisa dilakukan karena banyaknya manusia yang bisa mengetahui informasinya dan merasakan manfaat dari programnya. Di antaranya ada yang memanfaatkan waktu mereka untuk belajar ilmu Islam dari konten-kontennya, dan memanfaatkan hartanya untuk disalurkan melalui program-programnya.

Sebetulnya, pihak-pihak yang lain pun bisa mengadakan program dakwah dan sosial tersebut, hanya manfaat yang mereka akan lakukan sangat terbatas, kecuali jika dibantu dengan Media Dakwah, sehingga manfaatnya tersebut menjadi tidak terbatas. Itulah salah satu manfaat besar dari Media Dakwah, karena tanpa Media Dakwah, kegiatan sebesar apapun manfaatnya, maka akan terbatas. Sehingga akan membuat sebagian besar masyarakat tidak mengetahui informasinya dan tidak bisa merasakan manfaat dari programnya.

Sebagai bukti: Media Dakwah berupa Media Sosial, Website, Channel, Radio atau TV, itu bisa menyiarkan sebuah penjelasan ilmu dan menyebarluaskan sebuah penjelasan informasi dengan jarak serta waktu yang tidak terbatas.

• Mengapa Media Dakwah tidak hanya membuat dan menyebarluaskan program dakwah namun, program sosial juga?

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru pada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Surat Ali Imran: ayat 104)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُونَ
“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh (berbuat) yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman namun, kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (pelaku dosa).”
(Surat Ali Imran: ayat 110)

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”
(Surat An-Nisa: ayat 114)

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebaikan, dan berkata: Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”
(Surat Fusshilat: ayat 33)

Berdasarkan dalil-dalil di atas, membuat sebagian orang-orang yang berada di Media Dakwah berusaha membuat konsep program dakwah dan juga sosial, agar masyarakat bisa mengikuti dan merasakan manfaat dari program-program tersebut.

Semua aktivitas dakwah dan sosial yang dibuat itu bertujuan untuk mengajak manusia pada kebaikan serta kewajiban, dan mengingatkan manusia dari keburukan serta kelalaian.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

لَوْلَا يَنْهٰىهُمُ الرَّبّٰنِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka dari mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk sesuatu yang mereka perbuat.”
(Surat Al-Maidah: ayat 63)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنۢ بَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ، كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Nabi Daud dan Nabi Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk sesuatu yang mereka perbuat.”
(Surat Al-Maidah: ayat 78-79)

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya! Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya! Dan jika tidak mampu, maka ingkarilah dengan hatinya! Dan hal tersebut menunjukkan serendah-rendahnya iman.”
(HR. Imam Muslim, no.49)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Imam Muslim, no.1893)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
(HR. Imam Muslim, no.2674)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِي النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya para Malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, hingga semut-semut di sarangnya, mereka semua bershalawat (mendoakan dan memintakan ampunan) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
(HR. Imam At-Tirmidzi, no.2685)

فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.”
(HR. Imam Bukhari, no.2942)

Imam Abu Al-Tayyib Muhammad Syams Al-Haqq rahimahullah menjelaskan;
“Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para Sahabat Nabi).”
(Aunu Al-Mabud, 4:206)

“Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan masyarakat Arab ketika itu (di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam).”
(Aunu Al-Mabud, 10:69)

Maka sebab itu, semua aktivis dakwah memiliki tujuan baik, yaitu berusaha mengajak manusia pada agama Islam, merangkul manusia yang mulai lalai terhadap kewajibannya sebagai seorang muslim dengan berbagai macam cara dan strategi. Jadi, meskipun berbeda konsep dan program, selama tujuannya adalah mengajak manusia pada syariat Allah dan sunnah Rasulullah, mari kita dukung! Karena kita tidak tahu, konten atau program mana yang sudah kita berikan kepada manusia, lalu menjadi sebab hidayah (petunjuk) serta taufiq (kemudahan) dari Allah untuk mereka?

Karena pada realitanya, sudah sangat banyak juga manusia yang bertaubat dan masuk Islam, hanya karena mendengarkan penjelasan ilmu dari Media Dakwah. Kemudian banyak juga manusia yang sadar dan mau memanfaatkan rezeki yang sudah Allah amanahkan kepadanya untuk menolong sesama dan mendukung berbagai program kebaikan lainnya, hanya karena membaca penjelasan informasi sosial dari Media Dakwah. Maka apapun kemampuan kita, mari kerahkan itu semua untuk Allah dan di jalan Allah!

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 286)

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. Mereka adalah penghuni-penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya”.
(Surat Al-Araf: ayat 42)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

‎خُذُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَمَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ يَقُولُ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ
“Lakukanlah amalan yang mampu kalian lakukan! Karena Allah tidak akan pernah bosan, hingga kalian sendirilah yang merasa bosan. Dan Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (rutin), meskipun sedikit.”
(HR. Imam Muslim, no.1958)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Kewajiban yang mengenai individu itu bertingkat sesuai pada kemampuan, sesuai tingkat pengetahuan dan kebutuhan.”
(Majmu Al-Fatawa, 3:312)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan;
”Jika setan melihatmu kontinu (rutin atau terus-menerus) dalam melakukan amalan ketaatan, ia pun akan menjauhimu. Namun, jika setan melihatmu beramal, kemudian kamu meninggalkannya setelah itu, dan malah melakukan amalan ketaatan hanya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak dan kontinu untuk menggodamu.”
(Tajridu Al-Ittiba Fi Bayani Asbabi Tafadhuli Al-Amal, hlm.86)

• Nasihat untuk para aktivis dakwah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;

يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ مِنْ الدَّعْوَةِ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُهُ سَقَطَ عَنْهُ وَمَا عَجَزَ لَمْ يُطَالَبْ بِهِ وَأَمَّا مَا لَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَيْهِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِهِ
“Setiap orang dari umat ini punya kewajiban untuk menyampaikan dakwah sesuai kemampuannya. Jika sudah ada yang berdakwah, maka gugurlah kewajiban yang lain. Jika tidak mampu berdakwah, maka tidak terkena kewajiban karena kewajiban dilihat dari kemampuan. Jika tidak ada yang berdakwah padahal ada yang mampu, maka dia terkena kewajiban untuk berdakwah.”
(Majmu Al-Fatawa, 15:166)

قَدْ يُؤَخِّرُ الْبَيَانَ وَالْبَلَاغَ لِأَشْيَاءَ إلَى وَقْتِ التَّمَكُّنِ كَمَا أَخَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ إنْزَالَ آيَاتٍ وَبَيَانَ أَحْكَامٍ إلَى وَقْتِ تَمَكُّنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا إلَى بَيَانِهَا
“Suatu penjelasan dan dakwah pada suatu masalah bisa saja diakhirkan hingga waktu yang memungkinkan, sebagaimana Allah subhanahu wa taala mengakhirkan turunnya ayat dan penjelasan hukum hingga waktu yang memungkinkan saat Rasulullah bisa menerima dan bisa menjelaskannya.”
(Majmu Al-Fatawa, 20:59)

فَإِذَا قَوِيَ أَهْلُ الْفُجُورِ حَتَّى لَا يَبْقَى لَهُمْ إصْغَاءٌ إلَى الْبِرِّ، بَلْ يُؤْذُونَ النَّاهِيَ لِغَلَبَةِ الشُّحِّ وَالْهَوَى وَالْعُجْبِ سَقَطَ التَّغْيِيرُ بِاللِّسَانِ فِي هَذِهِ الْحَالِ وَبَقِيَ بِالْقَلْبِ
“Jika pelaku maksiat sudah semakin keras kepala dan tidak mau berubah menjadi baik, bahkan malah jadi menyakiti orang yang melarangnya dari kemungkaran, maka gugurlah kewajiban mengingkari kemungkaran (berdakwah) dengan lisan dalam kondisi seperti ini. Namun, tetap punya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan hati.”
(Majmu Al-Fatawa, 2:110)

Ingat, di saat Media Konvesional merusak manusia dengan konten dan program umumnya, maka sekarang saatnya Media Dakwah hadir untuk memperbaiki manusia dengan konten dan program Islamnya!

Teruslah berjuang serta berusaha mengenalkan dan menyebarluaskan syariat Allah dan sunnah Rasulullah kepada manusia, yang tujuannya untuk membuat manusia menjadi shalih! Karena dengan menjadi orang yang shalih, kita akan bisa mendapatkan ridhaNya, dan hal tersebut adalah syarat untuk masuk SurgaNya Allah yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Terus bersemangatlah dan jangan putus asa!

Karena Allah azza wa jalla berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.”
(Surat Muhammad: ayat 7)

Imam Al-Auzai rahimahullah bercerita;
“Aku pernah menemui Abu Dzar, yang sedang duduk di dekat Jumrah Al-Wustha (tempat melempar Jumrah). Orang-orang sedang berkumpul di sekelilingnya dan meminta fatwa. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dan berhenti di hadapannya seraya berkata: Bukankah Amirul Mukminin telah melarang anda untuk berfatwa? Lalu beliau mendongakkan kepalanya, kemudian berkata: Apakah kamu bertugas memantauku? Kalau pun kamu sekalian meletakkan pedang baja di atas ini -sambil beliau menunjukkan tengkuknya sendiri- (leher bagian belakang), sedangkan aku yakin, bahwa aku sedang menyampaikan sabda yang kudengar sendiri dari Rasulullah (shahih), dan meskipun kalian menghalangiku, pasti tetap akan aku sampaikan sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam.”
(Siyar Alam An-Nubala, 2:64)

Maka, sekarang jangan pernah berpikir: Apa manfaat dari agama Islam untuk kehidupanku? Tapi berpikirlah: Apa manfaat dari kehidupanku untuk agama Islam?

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Ya Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebaikan yang Engkau ridhai. Dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir hingga kepada anak cucuku! Sungguh, aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang beragama Islam.”
(Surat Al-Ahqaf: ayat 15)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Imam Muslim, no.4897)
___
@Kota Udang Cirebon, 14 Muharram 1441H/14 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly
(Pembina Media Dakwah Khiyaar TV & Pengasuh Website Islam Khiyaar.com)

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya

0

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً. قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ
“Bahwa orang-orang faqir (miskin) dari kalangan Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sambil berkata: Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya: Apa maksud kalian? Mereka menjawab: Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa namun, mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan (amal shalih) kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan? Mereka menjawab: Baiklah, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak 33 kali. Abu shalih berkata: Tidak lama kemudian, orang-orang faqir Muhajirin datang kembali ke Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu juga! Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Itu adalah keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya.”
(HR. Imam Muslim, no.936)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh mendengki (hasad) kecuali pada dua hal: Terhadap seseorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran (kebaikan), dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.”
(HR. Imam Bukhari, no.71)

كُلُّ مَعْرٌوْفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap kebaikan itu bernilai sedekah.”
(HR. Imam Bukhari, no.6021)

Rasulullah juga bersabda;

لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
“Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal, yaitu: Seseorang yang diberi karunia Al-Quran oleh Allah sehingga dia bisa membacanya (shalat dengannya) di pertengahan malam dan siang hari, dan seseorang yang diberi karunia harta oleh Allah sehingga dia bisa menginfaqkannya di malam dan siang hari.”
(HR. Imam Bukhari, no.4637)

Kemudian Rasulullah bersabda;

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
“Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang, yaitu: Pertama, seorang hamba yang dikarunia oleh Allah harta dan ilmu, dengan ilmu dia bertaqwa kepada Allah dan dengan harta dia menyambung silaturrahim dan dia mengetahui Allah memiliki hak pada hartanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik. Kedua, seorang hamba yang diberi oleh Allah ilmu, tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, dia berkata: Andai saja aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan seperti amalan si Fulan, maka dia mendapatkan apa yang dia niatkan, pahala mereka berdua sama. Ketiga, seorang hamba yang diberi harta oleh Allah, tapi tidak diberi ilmu, dia melangkah serampangan tanpa ilmu dalam menggunakan hartanya, dia tidak takut kepada Rabbnya dengan harta tersebut dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah pada hartanya, ini adalah tingkatan terburuk. Keempat, seorang yang tidak diberi oleh Allah harta ataupun ilmu, dia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si Fulan yang serampangan mengelola hartanya, dan niatnya benar, maka dosa keduanya sama.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2247)

Sahabat Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhu bercerita;

بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadaku, beliau memerintahkan: Ambillah pakaianmu dan senjatamu, lalu menghadaplah kepadaku! Aku pun mendatangi beliau ketika beliau sedang berwudhu. Beliau melihat-lihat kepadaku, kemudian bersabda: Aku akan mengutusmu memimpin satu pasukan, semoga Allah akan menyelamatkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap kamu menyukai harta dengan kesukaan yang baik. Amr bin Al-Ash berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak masuk Islam karena harta. Tetapi aku masuk Islam karena mencintai Islam dan agar aku bisa bersama Rasulullah. Lalu beliau bersabda: Wahai Amr, sebaik-baik harta yang baik adalah untuk orang yang shalih.”
(HR. Ahmad, no.17798. Ibnu Hajar menyatakan hadits ini sanadnya hasan)

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ. لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Seseorang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat). Mereka melakukan hal tersebut agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karuniaNya kepada mereka, dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.”
(Surat An-Nur: ayat 37-38)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga berkata; “Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan atau dilalaikan dengan perniagaan usahanya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya. Maka ketika tiba waktu shalat fardhu, hendaknya dia segera meninggalkan perniagaannya untuk menunaikan shalat, agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah taala dalam ayat di atas.”
(Tafsir Al-Qurthubi, 5:156)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan atau dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli (berbisnis) dan meraih keuntungan besar dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (Allah) yang maha menciptakan dan melimpahkan rezeki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa balasan kebaikan di sisi Allah taala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis atau musnah, sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal (abadi).”
(Tafsir Ibnu Katsir, 3:390)

Sebagaimana Sahabat Abdullah bin Asy-Sakhir bin Auf radhiyallahu anhu bercerita;

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ: أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ. قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan beliau sedang membaca ayat Al-Quran (artinya): Bermegah-megahan telah melalaikan kalian! (Surat At-Takatsur: ayat 1). Lalu beliau bersabda: Anak cucu Adam (manusia) berkata: Hartaku, hartaku! Lalu beliau melanjutkan sabdanya: Hartamu wahai anak cucu Adam, hanyalah sesuatu yang kamu makan lalu habis, yang kamu kenakan lalu usang, atau yang kamu sedekahkan lalu kekal.”
(HR. Imam Muslim, no.5258)

Selain itu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمْ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا
“Sungguh orang-orang yang memperbanyak (mengumpulkan harta) akan menjadi sedikit (melarat) pada hari Kiamat, kecuali orang yang diberikan kebaikan oleh Allah padanya, beliau sambil meniup ke sebelah kanan, kiri, depan, dan belakangnya, lalu dia menggunakan harta tersebut dengan baik.”
(HR. Imam Bukhari, no.5962)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Yang dimaksudkan dengan ‘memperbanyak’ adalah dengan harta, dan ‘menyedikitkan’ adalah dengan pahala akhirat. Ini (terjadi) pada diri orang yang memperbanyak harta, akan tetapi dia tidak memenuhi dengan sifat yang ditunjukkan oleh pengecualian setelahnya, yaitu berinfaq.”
(Fathu Al-Bari, 18:261)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang menggunakan harta Allah dengan cara tidak benar, bagi mereka adalah Neraka pada hari Kiamat.”
(HR. Imam Bukhari, no.2886)

Selain itu, Rasulullah bersabda;

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah yang ada di sekitarnya, dengan sebab doa mereka, shalat mereka, dan keikhlashan mereka.”
(HR. An-Nasai, no.3127)

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki, melainkan karena adanya (doa) orang-orang yang lemah di antara kalian.”
(HR. Imam Bukhari, no.2681)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah menjelaskan;
“Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlash dan lebih terasa khusyu, karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali hanya dekat kepada Allah. Amalan mereka bersih dan doa mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan). Al-Muhallab berkata: Yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan untuk bersifat tawadhu, tidak sombong, dan tidak perlu menoleh pada harta yang ada di orang lain.”
(Syarh Al-Bukhari Li Ibni Batthal, 9:114)

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat itu memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2258)

Imam Al-Munawi rahimahullah menjelaskan;
“Menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang dapat merusak agama), karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah taala dan membuatnya lupa pada akhirat, sebagaimana firmanNya: Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian merupakan fitnah untuk kalian, dan di sisi Allah pahala yang besar. (Surat At-Taghabun: ayat 15).”
(Faidhu Al-Qadir, 2:507)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Dua serigala lapar yang dilepas menyerang sekelompok kambing, kerusakannya tidak melebihi ambisi seseorang untuk memperoleh harta dan kemuliaan yang dapat merusak agamanya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2298)

Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata;
“Dunia atau harta tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena harta itu bisa menghalangi manusia untuk mencapai ridha Allah taala. Sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu tidak menghalangi dan menyibukkan manusia dari beribadah kepada Allah. Karena berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari beribadah kepada Allah taala, seperti Nabi Sulaiman alaihissalam, demikian juga Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu. Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya justru melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepadaNya.”
(Al-Adabu Asy-Syariyyah, 3:469)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
“Orang termewah sedunia yang termasuk penghuni Neraka didatangkan pada hari Kiamat, lalu orang tersebut dicelupkan sekali ke dalam Neraka, setelah itu dikatakan kepadanya: Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kebaikan sedikit pun, apa kamu pernah merasakan kenikmatan sedikit pun? Dia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb! Kemudian orang tersengsara di dunia yang termasuk penghuni Surga didatangkan juga, lalu ditempatkan di Surga sebentar, setelah itu dikatakan kepadanya: Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kesengsaraan sedikit pun, apa kamu pernah merasakan sengsara sedikit pun? Dia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb! Aku tidak pernah merasa sengsara sedikit pun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan sedikit pun juga.”
(HR. Imam Muslim, no.5021)

Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhshin Al-Badr hafizhahumallah berkata;
“Perlu diketahui, bahwa kenikmatan Allah azza wa jalla kepada hambaNya ada dua macam, yaitu: Nikmat muthlak dan nikmat muqayyad. Pengertian nikmat muthlak, nikmat yang akan mengantarkan pada kebahagiaan abadi, seperti Islam, sunnah, dan lainnya. Adapun nikmat muqayyad, nikmat yang kebahagiaannya khusus di dunia ini, seperti anggota badan yang lengkap, kesehatan, rezeki, harta benda, anak istri, kedudukan, dan hal semisalnya. Semua itu wajib disyukuri, dan ini merupakan jalan keutuhan dan untuk berkembangnya nikmat tersebut. Sebaliknya, dengan tidak disyukuri, nikmat tersebut akan lenyap (hilang). Kami memohon kepada Allah azza wa jalla, agar membimbing kita untuk mensyukuri nikmatNya dan melindungi kita dari perbuatan mengingkari nimatNya.”
(Fiqhu Al-Ad’iyah Wa Al-Adzkar, 1:269)

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmatKu) kepada kalian, tetapi jika kalian mengingkari (nikmatKu), maka pasti adzabKu sangat dahsyat.”
(Surat Ibrahim: ayat 7)

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat kepada kalian. Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian ingkar kepadaKu!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 152)

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نّـِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِ لَيْهِ تَجْئَرُوْنَ ۚ 
“Dan segala nikmat yang ada pada kalian itu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kalian ditimpa kesengsaraan, maka kepadaNya kalian meminta pertolongan.”
(Surat An-Nahl: ayat 53)

Kemudian, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
“Jika salah seorang di antara kalian melihat keadaan orang yang dilebihkan harta dan fisiknya, maka hendaknya dia melihat keadaan orang yang ada di bawahnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.6009)

Karena Nabi bersabda;

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya adalah baik dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan, dia bersyukur dan syukur tersebut baik untuknya. Dan apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar dan sabar tersebut baik untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.5318)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Sahabat Abdullah bin Masud berkata: Iman itu terbagi menjadi dua bagian, sebagiannya adalah sabar dan sebagian lainnya adalah syukur.”
(Uddatu Ash-Shabirin, hlm.88)

Beliau rahimahullah juga menjelaskan;
“Rukun syukur ada tiga yaitu: Mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah taala, menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara nampak (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalam rangka mensyukurinya), menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah. Rukun sabar juga ada tiga yaitu: Menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah taala, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti ketika terjadi musibah menampar wajah, merobek pakaian, memotong rambut, dan keadaan semisalnya.”
(Al-Wabilu Ash-Shayyib, hlm.11)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Hakikat syukur dalam peribadahan adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lidah hambaNya, yaitu dengan pujian dan pengakuan (terhadap nikmat tersebut). Pada hati hamba, yaitu dengan menyaksikan dan mencintai. Dan pada anggota badan hamba, yaitu dengan patuh dan taat. Sehingga syukur dibangun di atas lima tiang (pondasi), di antaranya: Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang disyukuri, kecintaannya, pengakuan terhadap nikmat tersebut, pujiannya dengan sebab nikmat tersebut, dan dia tidak mempergunakannya pada perkara yang tidak disukai oleh si pemberi nikmat tersebut. Inilah lima pondasi syukur, bangunan syukur berada di atas lima ini. Maka jika salah satunya tidak ada, rusaklah satu pondasi dari pondasi-pondasi syukur. Semua orang yang membicarakan tentang syukur dan definisinya, maka pembicaraannya akan kembali dan berkisar pada lima pondasi ini.”
(Madariju As-Salikin, 2:200-201)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Manusia berbeda pendapat, mana yang lebih utama antara: Orang faqir-miskin yang sabar, atau orang kaya yang bersyukur? Pendapat yang benar adalah orang yang lebih utama dari keduanya, yaitu orang yang paling bertaqwa. Jika ketaqwaan keduanya sama, maka derajat keduanya akan sama. Sesungguhnya orang-orang faqir-miskin akan mendahului orang-orang kaya masuk ke dalam Surga, karena tidak ada hisab (penghitungan harta) terhadap mereka. Sedangkan, orang-orang kaya akan ada hisab (penghitungan harta), maka orang-orang kaya yang kebaikannya lebih banyak dari kebaikan orang-orang miskin, derajatnya di Surga lebih tinggi, meskipun mereka lebih lambat masuk ke dalam Surga. Sedangkan, orang-orang kaya yang kebaikannya di bawah kebaikan orang-orang miskin, maka derajatnya di Surga pun lebih rendah dari orang miskin.”
(Majmu Fatawa, 11:21)

Beliau rahimahullah juga berkata;
“Sepantasnya seseorang itu mengambil harta dengan kemurahan jiwa, agar dia diberkahi di dalam hartanya. Jangan sampai dia mengambilnya dengan ambisi dan rakus! Seharusnya dia memandang harta itu seperti fungsi kamar kecil (WC). Manusia membutuhkannya namun, dia tidak memiliki tempat di hati. Dan jika dia berusaha mencari harta, maka dia berusaha mencari harta seperti memperbaiki kamar kecil.”
(Al-Washiyatu Al-Kubra, hlm.55)

Allah azza wa jalla berfirman;

اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّا لٍ وَّبَنِيْنَ. نُسَا رِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْـرٰتِ ۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu berarti bahwa Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, tetapi mereka tidak menyadarinya.”
(Surat Al-Mukminun: ayat 55-56)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya yaitu: Ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal) yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk fasilitas umum, atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya di waktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia wafat.”
(HR. Al-Albani, Shahih Ibnu Majah, no.200. Beliau menyatakan hadits ini hasan)

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apapun yang kalian infaqkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia adalah pemberi rezeki yang terbaik.”
(Surat Saba: ayat 39)

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah (laki-laki dan perempuan), dan memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka akan dilipat gandakan (balasan pinjamannya) untuk mereka, dan mereka juga akan mendapatkan pahala yang banyak (berharga).”
(Surat Al-Hadid: ayat 18)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jari tangannya ini ke dalam lautan, perawi bernama Yahya menunjukkan jari telunjuk, maka perhatikanlah apa yang didapat pada jari tangannya!”
(HR. Imam Muslim, no.5101)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Wajib bagi kalian untuk mengejar negeri akhirat. Kami banyak melihat orang yang mengejar akhirat dia mendapatkan juga dunianya. Namun, kami tidak melihat ada seseorang yang mengejar dunia, tapi dia mendapat akhirat juga bersama dunianya.”
(Az-Zuhd, hlm.12)

اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي وَوَلَدِي وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي
“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku!”
(HR. Imam Bukhari, no.5859)

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Jadikanlah aku kaya dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu!”
(HR. At-Tirmidzi, no.3486. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Silakan, baca juga serial sebelumnya: Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin.
___
@Kota Udang Cirebon, 12 Muharram 1441H/11 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

LAPORAN DONASI WAKAF PEMBELIAN UNIT SMARTPHONE UNTUK SIARAN DAKWAH KHIYAAR TV

0

LAPORAN DONASI WAKAF PEMBELIAN UNIT SMARTPHONE UNTUK SIARAN DAKWAH KHIYAAR TV

Bismillah, Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmush shaalihaat. Sudah mulai masuk dana wakaf untuk pembelian unit smartphone Khiyaar TV, di antaranya;

📆 Bulan Muharram/September
1. Hamba Allah (Majalengka) Rp.100.000
2. Hamba Allah (Cirebon) Rp.200.000
3. Apakah anda yang akan berwakaf selanjutnya?

___
💰 Donasi yang dibutuhkan: Rp.8.500.000
💵 Donasi yang terkumpul: Rp.300.000
📆 Kami berharap kepada Allah, semoga donasi ini bisa terkumpul sebelum hari Ahad pukul 18.00 wib, (14 Shafar 1441H/13 Oktober 2019M).
📃 Untuk mengetahui informasi selengkapnya tentang program wakaf ini, silakan klik di sini.
🗃 Untuk mengetahui perkembangan dakwah Khiyaar TV, silakan klik di sini.
🗳 Teman-teman boleh membantu sesuai kemampuannya.
___
Silakan, kirimkan ke sini;
🏧 bjb (kode 110): 0075466056100
💳 a.n: Muhamad Fadly
📲 Konfirmasi: 0812-2060-5065

Kepada teman-teman yang sudah ikut berkontribusi dalam program wakaf pembuatan unit usaha Khiyaar TV dengan harta dan juga doanya, kami ucapakan;
Terima kasih, jazaakumullaahu khaira. Baarakallaahu lakum fii ahlikum wa maalikum, wa ahsanallaahu ilaikum, waffaqakumullaah. Aamiin

@Media Dakwah & Sosial Khiyaar TV

WAKAF PEMBELIAN UNIT SMARTPHONE UNTUK SIARAN DAKWAH KHIYAAR TV

0

WAKAF PEMBELIAN UNIT SMARTPHONE
UNTUK SIARAN DAKWAH KHIYAAR TV

Kami ingin mengajak teman-teman untuk bersama menghidupkan dakwah Islam di kota angin Majalengka, yang insyaallah manfaatnya akan dirasakan juga oleh daerah lainnya. Bahkan saat ini jangkauan siaran dakwah Khiyaar TV sudah sampai di luar negeri. Di antaranya: Taiwan, Hongkong, Malaysia, dan negara lainnya.

Ini adalah solusi untuk Khiyaar TV agar bisa meningkatkan kualitas siaran dan menyiarkan siaran langsung kajian kepada para pemirsa lebih efisien dan efektif. Karena salah satu kendala yang sering dialami oleh Khiyaar TV adalah teknis siaran kajian. Terkadang, tidak adanya Kru yang membersamai Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly secara intensif saat mengisi kajian, malah membuat Ustadz tersibukkan untuk menyiapkan peralatan untuk siaran kajiannya sendiri. Selain itu, selama ini jika alat disiapkan oleh Ustadz sendirian, maka siaran langsung kajian menggunakan kamera depan, sehingga hasilnya kurang maksimal, mulai dari resolusinya dan gambar yang muncul tampak terbalik. Hal semacam ini yang sering memicu kesalahpahaman di antara para pemirsa. Bahkan pernah ada yang menuduh Ustadz minum dengan tangan kiri, padahal Ustadz minum menggunakan tangan kanan, dikarenakan menggunakan kamera depan sehingga hasil gambarnya tampak terbalik, yang membuat tangan kanan terlihat tangan kiri.

🗳 Di program ini, seperti biasa teman-teman boleh ikut berwakaf sesuai kemauan dan kemampuannya. Kemudian dana yang dibutuhkan untuk pembelian unit smartphone Samsung A80 senilai: 8.500.000,-

📝 Untuk mengetahui tentang laporan donasi wakaf yang sudah masuk, silakan klik di sini.

Silakan, kirimkan wakafnya melalui;
🏧 bjb (kode 110): 0075466056100
💳 a.n: Muhamad Fadly
📲 Konfirmasi: 0812-2060-5065

🎁 Selain itu, apabila ada juga teman-teman yang ingin memberikan wakaf berupa unit smartphone tipe tersebut secara langsung, kami juga mempersilakan.

📩 Pertanyaan: Mengapa harus smartphone tipe Samsung A80 yang dipilih?

✍ Jawaban: Karena untuk saat ini tipe tersebut yang sesuai dengan kebutuhan Khiyaar TV. Melihat konten yang sudah berjalan dengan rutin adalah siaran langsung kajian, dan saat ini Khiyaar TV hanya fokus pada memaksimalkan perangkat smartphone dikarenakan masih terbatasnya SDM, maka smartphone tipe tersebut insyaallah mampu melengkapi kekurangan yang sedang dialami oleh Khiyaar TV.

Selain itu, smartphone Samsung A80 memiliki RAM 8 GB, layar yang lebar, dan fitur spesialnya, yaitu kamera yang bisa diputar. Sehingga meskipun smartphone digunakan pada bagian depan (selfie) namun, gambar yang dihasilkan berasal dari kamera belakang yang memiliki resolusi sangat baik, dibandingkan resolusi kamera depan smartphone secara umum. Maka sebab itu, sangat tepat untuk digunakan siaran langsung kajian dengan konsep yang sudah dilakukan oleh Khiyaar TV, sebagaimana penjelasannya sudah disampaikan di atas.

Kemudian, kapasitas memori internal dan RAM yang besar mampu membuat stabil kejernihan resolusi siaran kajian, dan mampu menampung banyak aplikasi serta data yang dibutuhkan.

📄 Untuk mengetahui tentang spesifikasi lengkap Samsung A80, silakan klik di sini.

🗓 Untuk mengetahui jadwal kajian rutin Khiyaar TV, silakan klik di sini.

🎞️ Untuk melihat produksi video dan siaran kajian Khiyaar TV lainnya, silakan klik link di sini.

📆 Kami buka program wakaf ini hingga hari Ahad, 14 Shafar 1441H/13 Oktober 2019M. Semoga program wakaf ini bisa segera terealisasi. Aamiin

Seperti biasa, insyaallah untuk laporan dana wakaf Khiyaar TV yang sudah masuk akan kami data dan informasikan secara berkala di website Khiyaar.Com.

Kepada teman-teman yang sudah bisa ikut berkontribusi dengan hartanya di program ini, kami ucapkan;

جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا
“Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.”
(HR. At-Tirmidzi, no.1958)

بَارَكَ اللَّهُ لَكُمْ فِي أَهْلِكُمْ وَمَالِكُمْ
“Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian dalam keluarga dan harta kalian.”
(HR. An-Nasai, no.4604)

Kepada teman-teman yang belum bisa ikut berkontribusi dengan hartanya di program ini, silakan bisa tetap ikut berkontribusi dengan cara bantu mendoakan kebaikan untuk kami dan menyebarluaskan informasi ini kepada keluarga dan teman-temannya. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa mengajak pada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.”
(HR. Imam Muslim, no.4831)

Catatan: Berapapun dan apapun yang teman-teman berikan untuk Khiyaar TV, itu sangat bermanfaat untuk umat. Luruskan niat, semoga Allah beri kemudahan untuk istiqamah. Aamiin

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, jika Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.974)

@Media Dakwah & Sosial Khiyaar TV

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin

0

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ الْأُكْلَةَ وَالْأُكْلَتَانِ وَلَكِنْ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِي أَوْ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا
“Bukanlah disebut miskin, yaitu orang yang bisa di atasi dengan satu atau dua suap makanan. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan namun, dia menahan diri (malu) atau orang yang tidak meminta-minta secara mendesak.”
(HR. Imam Bukhari, no.1382)

Kemudian beliau bersabda;

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni Surga? Yaitu setiap orang lemah dan ditindas, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni Neraka? Yaitu setiap orang yang keras membela kesalahan, kikir (gemar mengumpulkan harta), dan sombong.”
(HR. Imam Bukhari, no.4537)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Orang lemah yang dimaksud adalah orang yang diremehkan orang lain karena keadaan yang lemah di dunia, yakni miskin.”
(Syarh Shahih Muslim, 17:168)

Lalu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bercerita;

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ
“Aku berdiri di pintu Surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang yang mempunyai kekayaan tertahan. Kecuali para penghuni Neraka, mereka telah diperintahkan masuk ke dalam Neraka, dan aku berdiri di pintu Neraka, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah wanita.”
(HR. Imam Bukhari, no.6065)

Dalam riwayat yang lain, beliau bersabda;

إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Sungguh aku melihat Surga, dan di dalamnya aku memperoleh setangkai anggur. Seandainya aku mengambilnya, tentu kalian akan memakannya sehingga urusan dunia akan terabaikan. Kemudian aku melihat Neraka, dan aku belum pernah melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan hari ini, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para Sahabat bertanya lagi: Mengapa begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Karena mereka sering kufur (mengingkari). Ditanyakan kepada beliau: Apakah mereka mengingkari Allah? Beliau menjawab: Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik terhadap salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu, maka dia akan berkata: Aku belum pernah melihat kebaikan darimu sedikitpun.”
(HR. Imam Bukhari, no.993)

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الْأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا
“Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum muhajirin akan mendahului orang-orang kaya pada hari Kiamat masuk ke dalam Surga dengan jarak waktu 40 tahun.”
(HR. Imam Muslim, no.5291)

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ
“Orang-orang fakir dari kaum mukminin akan masuk Surga sebelum orang-orang kaya dengan jarak setengah hari yang setara dengan 500 tahun.”
(HR. Ibnu Majah, no.4112. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Sedangkan Allah azza wa jalla berfirman;

وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu.”
(Surat Al-Hajj: ayat 47)

Di antara penjelasan dua hadits di atas, maksud adanya perbedaan waktu masuk ke dalam Surga dari orang-orang miskin kalangan muhajirin dan orang-orang miskin kalangan mukminin, dibandingkan orang-orang kaya di antara mereka adalah;

1. Bahwa ada di antara orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya masuk Surga dalam waktu 500 tahun. Ada juga di antara orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya dalam waktu 40 tahun. Hal ini tergantung pada keadaan orang miskin dan orang kaya. Sebagaimana pelaku kemaksiatan dari kalangan Ahli Tauhid, lama tidaknya mereka disiksa itu tergantung pada keadaan mereka.

2. Keadaan orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya masuk Surga itu bukan suatu hal yang pasti, karena mereka mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari orang-orang kaya (yang masuk belakangan setelah mereka). Dan terkadang juga orang yang belakangan masuk Surga lebih tinggi kedudukannya, meskipun didahului oleh orang lain dalam kesempatan masuk Surga.

3. Maka orang kaya ketika dihisab hartanya, kemudian ternyata dia termasuk orang yang mensyukuri nikmat harta tersebut, mempergunakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dibelanjakan untuk jalan-jalan kebaikan, ketaatan, sedekah, dan amalan semisalnya, maka orang kaya semacam ini akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi daripada orang miskin yang lebih dulu masuk Surga yang dia tidak memiliki amalan-amalan kebaikan yang dilakukan oleh orang kaya. Apalagi, orang kaya tersebut bisa menyaingi amalan-amalan kebaikan orang miskin, atau bahkan orang kaya tersebut bisa mengerjakan lebih banyak amal kebaikan dari orang miskin. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang berbuat kebaikan.”
(Al-Fauz Al-Mubin Wa Al-Khusran Al-Mubin Fi Dhaui Al-Kitab Wa As-Sunnah, 1:32-33)

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki, melainkan karena adanya (doa) orang-orang yang lemah di antara kalian.”
(HR. Imam Bukhari, no.2681)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah menjelaskan;
“Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlash dan lebih terasa khusyu, karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali dekat kepada Allah saja. Amalan mereka bersih dan doa mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan). Al-Muhallab berkata: Yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sahabat Saad agar bersifat tawadhu, tidak sombong dan tidak perlu menoleh pada harta yang ada di orang lain.”
(Syarh Al-Bukhari Li Ibni Batthal, 9:114)

Rasulullah juga bersabda;

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah yang ada di sekitarnya, dengan sebab doa mereka, shalat mereka, dan keikhlashan mereka.”
(HR. An-Nasai, no.3127)

Maka sebab itu, Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata;

أَحِبُّوا الْمَسَاكِينَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
“Cintailah oleh kalian orang-orang miskin! Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berucap dalam doanya: Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikan aku dalam keadaan miskin, serta kumpulkan aku ke dalam golongan orang-orang miskin!”
(HR. Ibnu Majah, no.4116)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan wafatkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku pada hari Kiamat bersama golongan orang-orang miskin! Aisyah bertanya: Kenapa wahai Rasulullah? beliau menjawab: Sesungguhnya mereka akan masuk Surga 40 tahun lebih dulu daripada orang-orang kaya. Wahai Aisyah, jangan kamu tolak orang-orang miskin walaupun hanya dengan memberikan secuil kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, karena Allah akan mendekat kepadamu pada hari Kiamat.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2275)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Seandainya Allah mau, Dia bisa menjadikan kalian kaya, tidak ada yang miskin di antara kalian. Tapi Dia ingin menguji kalian satu dengan yang lainnya.”
(Ihya Ulum Ad-Din, hlm.307)

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya adalah baik dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan, dia bersyukur dan syukur tersebut baik untuknya. Dan apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar dan sabar tersebut baik untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.5318)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Sahabat Abdullah bin Masud berkata: Iman itu terbagi menjadi dua bagian, sebagiannya adalah sabar dan sebagian lainnya adalah syukur.”
(Uddatu Ash-Shabirin, hlm.88)

Lalu beliau rahimahullah berkata;
“Hadits di atas menunjukkan, bahwa tingkatan-tingkatan iman seluruhnya berkisar antara sabar dan syukur.”
(Thariqu Al-Hijratain, hlm.399)

Beliau rahimahullah juga menjelaskan;
“Rukun syukur ada tiga yaitu: Mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah taala, menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara nampak (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalam rangka mensyukurinya), menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah. Rukun sabar juga ada tiga yaitu: Menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah taala, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti ketika terjadi musibah menampar wajah, merobek pakaian, memotong rambut, dan keadaan semisalnya.”
(Al-Wabilu Ash-Shayyib, hlm.11)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat sesuatu yang dia senangi, maka beliau mengucapkan: ALHAMDULILLAH ALLADZI BINIMATIHI TATIMMUSH SHAALIHAAT (Segala puji untuk Allah yang dengan sebab nikmatNya semua kebaikan menjadi sempurna). Dan apabila melihat sesuatu yang dia benci, maka beliau mengucapkan: ALHAMDULILLAH ALAA KULLI HAAL (Segala puji untuk Allah atas setiap keadaan).”
(HR. Ibnu Majah, no.3793. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata;
“Setiap nikmat (rezeki) yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah.”
(Jamiu Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:82)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Wajib bagi kalian untuk mengejar negeri akhirat. Kami banyak melihat orang yang mengejar akhirat dia mendapatkan juga dunianya. Namun, kami tidak melihat ada seseorang yang mengejar dunia, tapi dia mendapat akhirat bersama dunianya.”
(Az-Zuhd, hlm.12)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih!”
(Surat An-Naml: ayat 19)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memintaMu berbagai perbuatan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan ampunilah aku dan rahmatilah aku! Apabila Engkau menghendaki suatu fitnah kepada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah (husnul khatimah)! Aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3159)

Simak juga penjelasannya di sini.

Silakan, baca juga serial setelahnya: Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya.
___
@Kota Udang Cirebon, 11 Muharram 1441H/10 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

WAKAF PEMBUATAN UNIT USAHA UNTUK KHIYAAR TV

0

WAKAF PEMBUATAN UNIT USAHA UNTUK KHIYAAR TV

Kami ingin mengajak teman-teman untuk bersama menghidupkan dakwah Islam di kota angin Majalengka, yang insyaallah manfaatnya akan dirasakan juga oleh daerah lainnya. Bahkan saat ini jangkauan siaran dakwah Khiyaar TV sudah sampai di luar negeri. Di antaranya: Taiwan, Hongkong, Malaysia, dan negara lainnya.

Ini adalah cara untuk Khiyaar TV bisa berdakwah secara mandiri. Karena keuntungan yang didapatkan akan digunakan untuk biaya operasional dakwah dan sosial Khiyaar TV. Sehingga Khiyaar TV tidak akan lagi mengandalkan Donatur (Muhsinin) untuk pembiayaan operasional. Semoga Allah beri kemudahan untuk bisa segera terealisasi. Aamiin

Di program ini, seperti biasa teman-teman boleh ikut berwakaf sesuai kemauan dan kemampuannya. Tentu dengan konsekuensi, kita hanya akan mendapatkan sesuai apa yang kita lakukan.

Jika teman-teman ingin mengetahui konsep usahanya, silakan bisa klik di sini.

Adapun untuk file rincian analisa bisnisnya, insyaallah akan kami berikan kepada teman-teman secara langsung (privasi).

💰 Dana yang dibutuhkan untuk pembuatan unit usaha Khiyaar TV senilai: Rp.23.460.000.
📄 Laporan donasi wakaf yang sudah masuk ada di sini.

Silakan, kirimkan harta wakafnya ke sini;
🏧 bjb (kode 110): 0075466056100
💳 a.n: Muhamad Fadly
📲 Konfirmasi: 0812-2060-5065

Jadi, apabila teman-teman punya kewajiban zakat mal, harta syubhat, harta haram, atau ingin menjadikan harta halalnya untuk tabungan akhiratnya, silakan bisa menyalurkannya di program wakaf ini!

Selain itu, apabila ada juga teman-teman yang ingin menjadi investor Khiyaar TV dalam konsep usaha ini, kami juga mempersilakan. Insyaallah kita bisa menjalin kerjasama ini dengan sistem syirkah mudharabah (bagi-hasil). Untuk penjelasan secara rinci mengenai sistem kerjasama ini, nanti akan kami jelaskan juga secara privasi (japri).

Maka sebab itu, sekali lagi kami ingin mengajak kepada teman-teman, mari bantu Khiyaar TV agar bisa berdakwah dengan mandiri!

Ini bukan soal seberapa besar nominal yang kalian sedekahkan, tapi seberapa banyak manusia yang mendapatkan hidayah Allah melalui harta yang sudah kalian sedekahkan melalui Khiyaar TV.

Kami buka program wakaf ini hingga hari Ahad, 30 Muharram 1441H/29 September 2019M. Semoga di bulan Muharram, di bulan yang mulia dan banyak keutamaan di dalamnya, wakaf harta yang dibutuhkan untuk modal pembuatan unit usaha Khiyaar TV bisa segera terkumpul. Aamiin

Seperti biasa, insyaallah untuk laporan dana wakaf usaha Khiyaar TV yang masuk akan kami data dan informasikan secara berkala di website Khiyaar.Com.

Kepada teman-teman yang sudah bisa ikut berkontribusi dengan hartanya di program ini, kami ucapkan;

جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا
“Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.”
(HR. At-Tirmidzi, no.1958)

بَارَكَ اللَّهُ لَكُمْ فِي أَهْلِكُمْ وَمَالِكُمْ
“Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian dalam keluarga dan harta kalian.”
(HR. An-Nasai, no.4604)

Kepada teman-teman yang belum bisa ikut berkontribusi dengan hartanya di program ini, silakan bisa tetap ikut berkontribusi dengan cara bantu mendoakan kebaikan untuk kami dan menyebarluaskan informasi ini kepada keluarga dan teman-temannya. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa mengajak pada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.”
(HR. Imam Muslim, no.4831)

Catatan: Berapapun dan apapun yang teman-teman berikan untuk Khiyaar TV, itu sangat bermanfaat untuk umat. Luruskan niat, semoga Allah beri kemudahan untuk istiqamah. Aamiin

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, jika Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.974)

@Media Dakwah & Sosial Khiyaar TV
___

Baca selengkapnya di sini.

Adab Khutbah Jumat

0

ADAB KHUTBAH JUMAT

1. Duduk Dekat Dengan Tempat Khatib Atau Imam.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اُحْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنْ الْإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا
“Hadirilah peringatan (khutbah) dan mendekatlah kepada imam! Karena seseorang yang selalu menjauh darinya, hingga dia juga akan diakhirkan masuk ke dalam Surga, meskipun dia tetap akan memasukinya.”
(HR. Abu Dawud, no.934. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَغَدَا وَابْتَكَرَ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barang siapa menggauli istrinya (berjima) dan mandi, lalu dia segera berangkat (ke masjid) sedini (sesegera) mungkin serta mendekat kepada imam, dan dia tidak melakukan hal yang sia-sia, maka setiap langkahnya seperti amalan satu tahun disertai puasa dan shalat malamnya.”
(HR. An-Nasai, no.1364)

Catatan: Adab seperti ini berlaku tidak hanya untuk majelis khutbah Jumat, tapi berlaku juga untuk majelis ilmu secara umum. Karena hal ini merupakan adab yang harus diketahui dan diamalkan oleh setiap muslimmuslim terhadap orang yang menyampaikan ilmu atau nasihat.

2. Tidak Boleh Duduk Dengan Posisi Memeluk Atau Bertekuk Lutut.
Sebagaimana Muadz bin Anas rahimahullah berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang duduk ihtiba (memeluk lutut) ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat.”
(HR. Abu Dawud, no.936. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Jadi kalau mau duduk bisa dengan bersila, iftirasy, atau tawaruk (seperti duduk saat tasyahud dalam shalat).

3. Pilih Orang Yang Berilmu Untuk Menjadi Khatib.
Salah satu dampak kerusakan di dunia itu disebabkan ucapan orang-orang yang tidak berilmu di atas mimbar, di majelis ilmu, dan forum semisalnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ
“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang ulamanya banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang meminta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik daripada berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-mintanya banyak dan yang memberinya sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik daripada beramal.”
(HR. Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.3189)

Setiap orang yang tidak berilmu namun, berani berbicara masalah ilmu tanpa ilmu, maka dia adalah Ruwaibidhah. Maka jauhilah orang yang semacam itu!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sebelum munculnya Dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu. Sehingga orang jujur didustakan, sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanah dikhianati, sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para Ruwaibidhah ikut angkat bicara. Ada yang bertanya: Apa itu Ruwaibidhah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang fasiq yang berbicara tentang persoalan publik.”
(HR. Ahmad, no.12820. Syaikh Al-Arnauth menyatakan hadits ini hasan)

Orang fasiq adalah orang yang melakukan dosa besar dan tidak bertaubat darinya, atau orang yang melakukan dosa kecil secara terus menerus.

Seorang khatib harus benar-benar menguasai ilmu yang akan disampaikannya. Setidaknya dia berusaha memahaminya dan mengamalkannya. Sehingga dia bisa menjiwai pembahasan ilmu tersebut ketika menyampaikannya kepada para jamaah shalat Jumat.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya.”
(HR. Imam Muslim, no.1435)

Salah satu tanda seorang khatib itu berilmu dan paham terhadap ilmu yang disampaikannya, dia akan berkhutbah dengan waktu yang singkat dan ilmu yang padat. Lalu dia akan lebih memanjangkan shalatnya daripada khutbahnya.

Imam Abu Wail rahimahullah bercerita;

خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا
“Ammar pernah menyampaikan khutbah Jumat kepada kami dengan bahasa yang singkat dan padat. Maka ketika dia turun dari mimbar, kami pun berkata kepadanya: Wahai Abu Yaqzhan! Khutbahmu begitu singkat dan padat, alangkah baiknya jika kamu panjangkan lagi. Ammar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sungguh lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang itu menunjukkan tentang pemahamannya tentang agamanya. Karena sebab itu, panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah, karena sebagian dari penjelasan adalah sihir (memiliki daya tarik)!”
(HR. Imam Muslim, no.1437)

Imam Az-Zuhri rahimahullah menjelaskan;
“Apabila suatu majelis berlangsung lama, maka setan pun ikut mengambil bagian di dalamnya.”
(Hilyatu Al-Auliya, 3:366)

Kemudian hendaknya setiap khatib berusaha untuk menyampaikan khutbahnya dengan suara yang jelas per-huruf dan per-kalimatnya. Agar para jamaah bisa mendengarkan khutbahnya dengan jelas dan memahaminya dengan tuntas.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ
“Ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu jelas, sehingga dapat dipahami oleh siapa saja yang mendengarnya.”
(HR. Abu Dawud, no.4199. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka (orang-orang bodoh) ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Imam Bukhari, no.98)

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu serta tersebarnya kebodohan, dan diminumnya khamer serta praktik perzinaan secara terang-terangan.”
(HR. Imam Bukhari, no.78)

• Catatan;
– Hal-hal di atas tidak hanya berlaku untuk khatib shalat Jumat namun, berlaku juga untuk seluruh manusia yang menyampaikan ilmu di hadapan umum, seperti forum pengajian, tausyiah, kultum, dan forum semisalnya.
– Peringatan untuk para pengurus masjid atau panitia pengajian, untuk tidak sembarangan memilih orang untuk menjadi imam atau khatib. Karena jika kalian salah memilih orang dalam menyampaikan ilmu untuk umat, maka kalian pun ikut mendapatkan dosanya.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أُجُورِ مَنْ اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa memberikan contoh yang baik, kemudian contoh tersebut menjadi teladan (diikuti), maka dia akan mendapatkan pahala amalannya secara sempurna berserta pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memberikan contoh yang buruk, kemudian contoh tersebut menjadi teladan, maka dia pun akan mendapatkan dosa dari perbuatannya secara sempurna beserta dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
(HR. Ibnu Majah, no.200)

– Ilmu tidak bisa asal diambil dari sembarangan orang. Karena Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah menjelaskan;

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Ilmu adalah bagian dari agama, sebab itu perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian!”
(Siyar Alam An-Nubala, 4:606)

Beliau pun bercerita;
“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad. Lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata: Sebutkan kepada kami orang-orang yang menjadi sumber ilmu kalian! Maka jika dilihat orang-orang tersebut Ahlussunnah maka haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut Ahlu bidah maka haditsnya ditolak.”
(Muqaddimah Shahih Muslim, 1:15)

Sebetulnya orang yang belajar ilmu agama itu sedang membangun ideologi. Sehingga ketika sumber ilmunya adalah orang sesat, maka akan terbentuk ideologi yang sesat juga pada orang tersebut. Maka sebab itu, perhatiankan siapa yang menjadi guru agama kita!

Sebagian masyarakat memiliki prinsip: “Ketika mereka mengikuti ajaran seorang guru, maka mereka bebas dari tanggung jawab. Sehingga kalau mereka salah mengikuti guru, nanti yang akan menanggung dosanya tersebut adalah gurunya.” Prinsip semacam itu tidak benar, karena bertentangan dengan firman Allah azza wa jalla.

Allah azza wa jalla menceritakan tentang pertengkaran antara tokoh yang sesat dan para pengikutnya. Allah berfirman;

قَالَ ٱدْخُلُوا۟ فِىٓ أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ فِى ٱلنَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُوا۟ فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَىٰهُمْ لِأُولَىٰهُمْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ ٱلنَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ
“Allah berfirman: Masuklah kalian ke dalam api Neraka bersama golongan jin dan manusia yang sudah lebih dahulu dari kalian! Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang masuk belakangan kepada orang yang sudah masuk terlebih dahulu: Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api Neraka yang berlipat ganda kepada mereka! Allah berfirman: Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.”
(Surat Al-Araf: ayat 38)

Kemudian orang yang sudah lebih dahulu masuk Neraka juga balas berkata;

وَقَالَتْ أُولَىٰهُمْ لِأُخْرَىٰهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ
“Dan orang yang sudah masuk Neraka lebih dahulu berkata kepada orang yang masuk belakangan: Kalian tidak memiliki kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.”
(Surat Al-Araf: ayat 39)

Kita saksikan, mereka saling menyalahkan dan bahkan meminta kepada Allah, agar siksaan orang yang telah membuatnya sesat di dunia ditambahkan berlipat ganda.

Allah juga bercerita, tentang penyesalan sebagian penghuni Neraka karena mereka mengikuti tokoh atau orang yang sesat. Allah berfirman;

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا. يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا
“Dan ingatlah, pada hari ketika orang-orang zhalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya) sambil berkata: Aduhai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Aduhai, celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Quran) ketika itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”
(Surat Al-Furqan: ayat 27-29)

Kita saksikan penyesalan mereka di hari Kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, dahulu mengikuti para guru yang sesat tersebut. Padahal sudah sampai kepadanya peringatan yang sangat jelas, yang menunjukkan kesesatannya.

Sebab itulah, semua orang yang beriman harusnya menyadari, bahwa mengambil sumber ilmu itu akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah azza wa jalla. Prinsip-prinsip yang keliru seperti di atas harus ditinggalkan. Jika orang tersebut jelas menyimpang, membela sesuatu yang salah, maka jangan lagi dijadikan referensi dalam belajar ilmu agama!

Sebagai renungan, ketika tubuh kita sakit maukah kita pergi ke sembarang orang? Begitu juga ketika jiwa kita sakit, maukah kita pergi ke sembarang orang? Semoga tersadarkan.

4. Khatib Berdiri Di Atas Mimbar.
Salamah bin Dinar rahimahullah bercerita;

أَنَّ نَفَرًا جَاءُوا إِلَى سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَدْ تَمَارَوْا فِي الْمِنْبَرِ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ فَقَالَ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْرِفُ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ وَمَنْ عَمِلَهُ وَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ يَوْمٍ جَلَسَ عَلَيْهِ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا عَبَّاسٍ فَحَدِّثْنَا قَالَ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى امْرَأَةٍ قَالَ أَبُو حَازِمٍ إِنَّهُ لَيُسَمِّهَا يَوْمَئِذٍ انْظُرِي غُلَامَكِ النَّجَّارَ يَعْمَلْ لِي أَعْوَادًا أُكَلِّمُ النَّاسَ عَلَيْهَا فَعَمِلَ هَذِهِ الثَّلَاثَ دَرَجَاتٍ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوُضِعَتْ هَذَا الْمَوْضِعَ فَهِيَ مِنْ طَرْفَاءِ الْغَابَةِ وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي
“Bahwa sejumlah orang datang kepada Sahl bin Sa’d karena mereka bertengkar mengenai mimbar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terbuat dari kayu apakah mimbar tersebut? Sahl menjawab: Demi Allah, aku tahu betul dari kayu apa mimbar itu dibuat, lalu siapa yang membuatnya, bahkan aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam duduk di situ pada hari pertama mimbar tersebut selesai dibuat. Kata Abu Hazim: Wahai Abu Abbas (Sahl)! Ceritakanlah kepada kami! Lalu Sahl bercerita: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh (untuk memanggil) seorang perempuan Abu Hazim berkata: Beliau menyebutkan namanya pada waktu itu. Lalu beliau bersabda kepadanya: Suruhlah anakmu yang tukang kayu itu membuatkan sebuah mimbar kayu untuk tempatku berpidato (berkhutbah) kepada orang-orang! Maka dia membuat tiga tingkat ini. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar meletakkan mimbar tersebut di tempat ini. Mimbar tersebut terbuat dari kayu hutan. Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di atas mimbar itu. Lalu beliau bertakbir, maka orang-orang pun bertakbir juga di belakangnya, sedangkan beliau masih di atas mimbar. Kemudian beliau bangkit dari ruku, lalu turun sambil mundur sehingga beliau sujud di kaki mimbar. Kemudian beliau kembali lagi ke atas mimbar hingga selesai shalat. Sesudah itu, beliau menghadap kepada orang-orang lalu bersabda: Wahai sekalian manusia, aku melalukan ini agar kalian semua mengikutiku, dan agar kalian belajar cara shalatku.”
(HR. Imam Muslim, no.847)

Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذَلِكَ الْجِذْعِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ لَكَ أَنْ نَجْعَلَ لَكَ شَيْئًا تَقُومُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَرَاكَ النَّاسُ وَتُسْمِعَهُمْ خُطْبَتَكَ قَالَ نَعَمْ فَصَنَعَ لَهُ ثَلَاثَ دَرَجَاتٍ
“Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat menghadap ke arah sebatang kayu kurma, sebab masjid pada masa itu tidak mempunyai dinding dan beliau juga berkhutbah di atas kayu tersebut. Seorang laki-laki dari Sahabatnya berkata: Bagaimana jika kami buatkan sesuatu (mimbar) yang dapat engkau gunakan berdiri di hari Jumat, hingga orang-orang dapat melihatmu dan mendengar khutbahmu? Beliau menjawab: Ya. Maka Sahabat tersebut membuatkan Rasulullah mimbar yang mempunyai tiga tingkatkan.”
(HR. Ibnu Majah, no.1404. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Di dalam hadits tersebut terdapat pernyataan, bahwa mimbar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu ada tiga tingkat (anak tangga).”
(Syarh Shahih Muslim, hlm.544)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi rahimahullah menjelaskan;
“Dalam hadits lain disebutkan, bahwa mimbar Nabi itu ada dua tingkat, kemudian yang ke tiga adalah tempat duduknya.”
(Al-Jauhar Fi Adadi Darajati Al-Mimbar, hlm.55-56)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Disyariatkan berkhutbah di atas mimbar seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di antara hikmah berkhutbah di atas mimbar adalah memudahkan makmum untuk melihat khatib dan mendengarkan khutbahnya.”
(Fathu Al-Bari, 2:400)

Beliau juga berkata;
“Keseringan dari khutbah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dilakukan di atas mimbar masjid, kecuali khutbah dua id (Idul Fithri dan Idul Adha), lalu di musim haji serta semacamnya.”
(Fathu Al-Bari, 3:403)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan;
“Di antara bentuk bidah adalah membuat tingkatan mimbar lebih dari tiga tingkat (anak tangga).”
(Al-Ajwibah An-Nafiah, hlm.120)

Hendaknya mimbar diletakkan di sebelah kanan tempat shalat imam atau sebelah utara arah kiblat.

Imam An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan;
“Dianjurkan agar posisi mimbar di sebelah kanan mihrab. Artinya di sebelah kanan tempat imam, ketika dia berada di mihrab menghadap kiblat. Seperti ini tradisi umat Islam.”
(Al-Majmu, 4:527)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Dianjurkan agar mimbar diletakkan di sebelah kanan ketika melihat ke arah kiblat. Karena seperti inilah Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukannya.”
(Al-Mughni, 2:144)

Catatan: Penjelasan tentang posisi mimbar Rasulullah hanya bersifat anjuran atau sunnah, dan tidak menunjukkan bahwa hal tersebut wajib. Meskipun dianjurkan untuk memposisikannya demikian dalam rangka meniru keadaan yang ada di zaman Rasulullah namun, hal tersebut tidak mempengaruhi hukum khutbah dan shalat jumat.

Termasuk hal yang terlarang pada mimbar adalah membuat hiasan seperti memasang kain penutup di sekitar mimbar, apalagi kainnya harus berwarna putih, memberikan alas untuk pijakan kaki serta tempat duduk berupa karpet atau kain, dan hal-hal semisalnya.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Di antara bentuk bidah adalah memasang kain-kain penutup di mimbar.”
(Al-Ajwibah An-Nafiah, hlm.119)

Imam Asy-Syuqairi rahimahullah menjelaskan; “Penutup-penutup pada mimbar itu adalah bidah. Padahal anak-anak yatim, para janda, dan orang-orang miskin lebih berhak mendapatkan nilai uang yang digunakan untuk membeli kain penutup tersebut.”
(As-Sunan Wa Al-Mubtadat, hlm.75)

5. Khatib Boleh Membawa Tongkat.
Jumhur ulama berpendapat disunnahkannya membawa tongkat saat berkhutbah. Ini pendapat ulama Malikiyyah, Syafiiyyah, dan Hanabilah.

Imam Malik rahimahullah menjelaskan;
“Di antara hal yang dianjurkan bagi para khatib adalah membawa tongkat saat berkhutbah Jumat, untuk bertumpu di saat mereka berdiri.”
(Al-Mudawwanah Al-Kubra, 1:232)

Imam Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Aku suka menganjurkan para khatib berkhutbah untuk bertumpu pada sesuatu.”
(Al-Umm, 1:396)

Imam Buhuti rahimahullah juga menjelaskan;
“Disunnahkan bertumpu pada pedang, busur panah, atau tongkat saat berkhutbah dengan salah satu tangan.”
(Kasyaf Al-Qana, 2:36)

Sebagaimana ketika Fathimah binti Qais radhiyallahu anha ketika menceritakan tentang Al-Masih Dajjal, dia berkata;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda seraya memukulkan tongkat pendek beliau ke mimbar: Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah, maksud beliau adalah Madinah.”
(HR. Imam Muslim, no.5235)

Bahkan tiga khalifah setelah Rasulullah (Khulafa Ar-Rasyidin), yaitu Abu Bakar, Umar bin Khatthab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu anhum, membawa tongkat yang biasa dibawa Rasulullah saat berkhutbah di dalam khutbah-khutbah mereka.

Sebagaimana Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila berdiri untuk khutbah, beliau mengambil tongkat lalu beliau bertumpu pada tongkat tersebut saat beliau di atas mimbar. Demikian yang diceritakan oleh Abu Dawud dan Ibnu Syihab. Kemudian perbuatan ini diikuti oleh tiga Khulafa Ar-Rasyidin sepeninggal Nabi.”
(Zadu Al-Maad, 1:179)

Ada juga ulama yang memiliki pendapat, bahwa membawa tongkat saat khutbah Jumat adalah masalah yang kondisional. Saat tongkat atau benda semisalnya yang sama fungsinya dibutuhkan, maka disunahkan membawanya. Namun, jika tidak dibutuhkan, maka tidak perlu membawa tongkat saat khutbah.

Sebagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Bertumpu pada tongkat, hanya dilakukan pada saat dibutuhkan. Jika khatib butuh tumpuan, bisa jadi karena fisiknya lemah sehingga butuh pegangan tongkat, maka bertumpu pada tongkat pada kondisi seperti ini hukumnya sunnah. Karena tongkat tersebut membantunya untuk berdiri, yang itu hukumnya sunnah.”
(Syarhu Al-Mumthi, 5:63)

6. Mengumandangkan Dan Menjawab Adzan.
Sahabat As-Saib bin Yazid radhiyallahu anhu bercerita;

كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ. قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ
“Adzan untuk panggilan shalat Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam sudah duduk di atas mimbar. Hal ini dipraktikkan sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma. Ketika masa Utsman radhiyallahu anhu, dan manusia sudah semakin banyak, maka dia menambah adzan ketiga di Az-Zaura. Abu Abdillah berkata: Az-Zaura adalah bangunan yang ada di pasar di Kota Madinah.”
(HR. Imam Bukhari, no.861)

Maksud tiga adzan di atas adalah adzan pertama sebelum Utsman keluar untuk khutbah, adzan kedua adalah ketika beliau sudah duduk di atas mimbar, dan adzan yang ketiga adalah iqamah, karena iqamah juga dinamakan adzan.

Imam Syafii rahimahullah berkata;
“Aku menyukai untuk dikumandangkan adzan pada hari Jumat ketika imam (khatib) telah masuk masjid dan duduk di tempat dia berkhutbah (mimbar). Apabila imam telah melakukan hal tersebut, muadzin mulai mengumandangkan adzan. Apabila telah selesai adzan, imam berdiri menyampaikan khutbahnya, tidak lebih dari itu. Lalu menyebutkan hadits As-Saib bin Yazid di atas, kemudian berkata: Atha mengingkari atau tidak menyetujui bahwa yang melakukan adzan ketiga itu adalah Utsman. Atha berkata, bahwa yang membuat adzan Jumat menjadi tiga itu adalah Muawiyah. Namun, siapa pun yang melakukan tiga adzan pertama kali, perkara yang ada di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut (mengumandangkan satu adzan dan satu iqamah) tetap lebih aku sukai.”
(Al-Umm, 1:503-504)

• Waktu shalat Jumat.
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Waktu shalat Jumat dimulai sejak tergelincir matahari, hingga akhir waktu shalat Zhuhur. Dan inilah waktu yang disepakati oleh para ulama.”
(Al-Mughni, 3:160)

Apakah boleh dikerjakan sebelum tergelincir matahari? Maka dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat.

– Hukumnya tidak sah.
Ini adalah pendapat jumhur ulama. Sebagaimana Sahabat Salamah bin Amru bin Al-Aqwa radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika matahari tergelincir. Setelah itu, kami pulang dalam keadaan masih perlu mencari-cari naungan untuk tempat berlindung.”
(HR. Imam Muslim, no.1423)

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحِيطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian kami pulang namun, kami tidak lagi mendapati naungan pada dinding untuk berteduh.”
(HR. Imam Muslim, no.1424)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat Jumat ketika matahari sudah tergelincir.”
(HR. Imam Bukhari, no.853)

Imam Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para imam setelah mereka, mengerjakan shalat Jumat setelah tergencilir matahari.”
(Al-Majmu, 4:380)

– Hukumnya tetap sah.
Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Ishaq rahimahumallah. Sebagaimana Sahabat Sahl bin Saad radhiyallahu anhu berkata;

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Biasanya kami tidak pernah tidur siang dan tidak juga makan siang, kecuali setelah menunaikan shalat Jumat.”
(HR. Imam Muslim, no.1422)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan;
“Maksudnya makan dan tidur siang dalam adat bangsa Arab dahulu itu dilakukan sebelum tergelincir matahari, sebagaimana dinyatakan Ibnu Qutaibah. Demikian juga Rasulullah berkhutbah dua khutbah, kemudian diriwayatkan membaca surat Qaf, atau dalam riwayat lain surat Al-Furqan, atau dalam riwayat lain surat Al-Jumuah dan Al-Munafiqun. Seandainya beliau hanya shalat Jumat setelah tergelincir matahari, maka ketika selesai, orang akan mendapatkan bayangan benda untuk bernaung dari panas matahari dan telah keluar dari waktu makan dan tidur siang.”
(Nailu Al-Authar, hlm.3:275)

Sahabat Salamah bin Amru bin Al-Aqwa radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika matahari tergelincir. Setelah itu, kami pulang dalam keadaan masih perlu mencari-cari naungan untuk tempat berlindung.”
(HR. Imam Muslim, no.1423)

Imam Muhammad bin Ali bin Husain rahimahullah berkata;

أَنَّهُ سَأَلَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ مَتَى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ قَالَ كَانَ يُصَلِّي ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا. زَادَ عَبْدُ اللَّهِ فِي حَدِيثِهِ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ يَعْنِي النَّوَاضِحَ
“Bahwa dia bertanya kepada Jabir: Kapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat Jumat? Dia menjawab: Biasanya beliau shalat Jumat, kemudian setelah itu kami pulang ke ternak unta kami, dan mengistirahatkannya. Abdullah menambahkan di dalam haditsnya: Saat matahari tergelincir, yakni setelah unta diberi minum.”
(HR. Imam Muslim, no.1421)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan;
“Ini jelas menunjukkan waktu shalat Jumat dilakukan sebelum tergelincir matahari.”
(Al-Ajwiba An-Nafiah, hlm.22)

• Kesimpulan: Pendapat yang dinilai lebih kuat dan mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Bahwa waktu shalat Jumat adalah waktu shalat Zhuhur, dan tetap sah jika dilakukan sebelum tergelincir matahari.

Sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu bercerita;

سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى الْمِنْبَرِ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ مُعَاوِيَةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَلَمَّا أَنْ قَضَى التَّأْذِينَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا الْمَجْلِسِ حِينَ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ يَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ مِنِّي مِنْ مَقَالَتِي
“Aku mendengar Muawiyyah bin Abu Sufyan ketika dia sedang duduk di atas mimbar dan muadzin sedang mengumandangkan adzan: Allahu Akbar Allahu Akbar, Muawiyyah mengucapkan: Allahu Akbar Allahu Akbar. Ketika muadzin membaca: Asyhadu An Laa Ilaha Illallah. Muawiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Dan ketika muadzin membaca: Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, Muawiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Ketika adzan sudah selesai, Muawiyyah berkata: Wahai manusia, sungguh ketika adzan dikumandangkan aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan dari tempat ini seperti yang kalian dengar dari (bacaan) ucapanku tadi.”
(HR. Imam Bukhari, no.863)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar suara muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin! Kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di Surga, tidaklah layak tempat tersebut, kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap termasuk hamba tersebut. Dan barang siapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.577)

Catatan: Menjawab adzan ini berlaku untuk setiap kali mendengar suara adzan di waktu-waktu shalat, sehingga tidak hanya di waktu shalat Jumat. Dan hendaknya dilakukan dengan suara yang pelan.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut! Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Surat Al-Araf: ayat 55)

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
“Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah!”
(Surat Al-Araf: ayat 205)

7. Khatib Mengawali Khutbah Dengan Khutbatul Hajah.
Adapun lafazh khutbatul hajah adalah;

إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ نَحْمَدُهُ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. KepadaNya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam!”
(Surat Ali Imran: ayat 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, serta darinya Allah menciptakan istrinya dan keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) namaNya kalian saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.”
(Surat An-Nisa: ayat 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 70-71)

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Amma badu: Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap yang baru itu adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”
(HR. Abu Dawud, no.1097)

Intinya, khutbatul hajat itu harus mengandung kalimat tasyahud (persaksian) yang itu merupakan kalimat tauhid. Karena Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu menjelaskan;

كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيْهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ
“Setiap khutbah yang tidak terdapat tasyahud di dalamnya, maka ia seperti tangan yang berpenyakit kusta atau yang terpotong.”
(HR. Abu Dawud, no.4841)

8. Menghadapkan Wajah Ke Arah Khatib.
Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa salam berada di atas mimbar, maka kami menghadap ke arahnya dengan seluruh wajah kami.”
(HR. At-Tirmidzi, no.467)

Imam Tsabit rahimahullah berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلَهُ أَصْحَابُهُ بِوُجُوهِهِمْ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam bangun dari mimbar, maka para Sahabat menghadapkan wajah-wajah mereka ke arahnya.”
(HR. Ibnu Majah, no.1126)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Jika berkhutbah Jumat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri, sementara sahabat-sahabat beliau menghadapkan wajah mereka ke arah beliau.”
(Zadu Al-Maad, 1:430)

9. Tidak Boleh Bicara Dan Berusaha Fokus Menyimak Khutbah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jumat (shalat Jumat): Diamlah! Padahal imam (khatib) sedang memberikan khutbah, maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia (tidak mendapat pahala).”
(HR. Imam Bukhari, no.882)

Para ulama menjelaskan;
“Mengkhususkan pembacaan hadits tersebut ketika imam sedang naik mimbar atau setelahnya, baik dibaca oleh imam ataupun muadzin, maka termasuk amalan bidah.”
(Fatawa Lajnah, 8:241-242)

Imam An-Nadhr bin Syumail rahimahullah menjelaskan;
“Kalimat Laghauta bermakna: Luput dari pahala. Ada juga ulama yang berpendapat, maksudnya adalah Tidak mendapatkan keutamaan ibadah Jumat. Ulama lain berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah ibadah Jumatnya menjadi shalat Zhuhur.”
(Fathu Al-Bari, 2:414)

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam menamakannya sebagai orang yang berbuat sia-sia, padahal dia memerintahkan hal yang maruf. Maka hal itu menunjukkan wajibnya diam dan haramnya berbicara saat khatib berkhutbah.”
(Majmu Al-Fatawa, 30:252)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Hadits di atas menunjukkan larangan berbicara dengan berbagai macam bentuknya ketika imam berkhutbah. Begitu juga dengan perkataan untuk menyuruh orang diam, padahal awalnya ingin melakukan amar maruf (memerintahkan kebaikan), itupun tetap disebut ‘laghwu’ (perkataan yang sia-sia). Jika seperti itu saja dianggap sia-sia, maka perkataan yang selainnya tentu jelas terlarang. Jika kita ingin beramar maruf pada saat itu, maka cukuplah sambil diam dengan berisyarat yang membuat orang lain paham. Jika tidak bisa dipahami, cukup dengan sedikit perkataan dan tidak boleh lebih dari itu. Lalu mengenai hukum berbicara di sini haram ataukah makruh, para ulama berbeda pendapat. Imam Syafii memiliki dua pendapat dalam hal ini. Al-Qadhi berkata bahwa Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafii serta kebanyakan ulama lainnya berpendapat, wajibnya diam saat khutbah. Dalam hadits disebutkan: Ketika imam berkhutbah. Ini menunjukkan bahwa wajibnya diam dan larangan berbicara adalah ketika imam berkhutbah saja. Inilah pendapat madzhab Imam Syafii, Imam Malik, dan mayoritas (jumhur) ulama. Berbeda dengan Abu Hanifah, yang menyatakan wajib diam hingga imam keluar (masjid).”
(Syarh Shahih Muslim, 6:138-139)

Catatan;
– Hadits di atas adalah untuk pelajaran setiap umat Islam dan sebagai peringatan dalam pelaksanaan shalat Jumat, bukan untuk dibacakan atau dilafazhkan. Jadi cukup pahami maknanya, lalu amalkan!

– Adapun untuk pembicaraan satu arah (tidak terjalin komunikasi), maka masih dibolehkan seperti: Ketika khatib mengingatkan jamaah yang mengobrol, bermain, berlari, main HP, dan aktivitas semisalnya. Atau khatib mengingatkan jamaah yang belum shalat Tahiyatul masjid saat masuk masjid. Atau ucapan dari jamaah disebabkan pertanyaan khatib, seperti yang dijelaskan pada hadits di atas (point sebelumnya) tentang perintah shalat sunnah Tahiyyatul masjid pada saat masuk masjid. Atau juga sebuah ucapan karena jamaah meminta sesuatu pada saat khatib berkhutbah, seperti meminta khatib untuk menertibkan jamaah yang sedang berbincang atau berbuat keributan, membetulkan khatib ketika dia menyampaikan penjelasan atau dalil yang keliru, dan bertanya tentang suatu permasalahan muamalah ataupun ibadah.

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhuma bercerita;

أَصَابَتْ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ وَمِنْ الْغَدِ وَبَعْدَ الْغَدِ وَالَّذِي يَلِيهِ حَتَّى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَقَامَ ذَلِكَ الْأَعْرَابِيُّ أَوْ قَالَ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَهَدَّمَ الْبِنَاءُ وَغَرِقَ الْمَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. فَمَا يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ السَّحَابِ إِلَّا انْفَرَجَتْ وَصَارَتْ الْمَدِينَةُ مِثْلَ الْجَوْبَةِ وَسَالَ الْوَادِي قَنَاةُ شَهْرًا وَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ بِالْجَوْدِ
“Pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam manusia tertimpa paceklik. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada seorang Arab badui berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangan dan berdoa, dan pada saat itu kami tidak melihat sedikitpun ada awan di langit. Namun, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh beliau tidak menurunkan kedua tangannya kecuali gumpalan awan telah datang membumbung tinggi laksana pegunungan. Dan beliau belum turun dari mimbar, hingga akhirnya aku melihat hujan turun membasahi jenggot beliau shallallahu alaihi wa sallam. Maka pada hari itu, keesokan harinya, dan lusa kami terus-menerus mendapatkan guyuran hujan dan hari-hari berikutnya, hingga hari Jumat berikutnya. Pada Jumat berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri seraya berkata: Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa: ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami). Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya pada gumpalan awan, melainkan awan tersebut hilang seketika. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, Madinah juga tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan. Dan tidak seorang pun yang datang dari segala pelosok kota, kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.881)

Sahabat Al-Bara bin Azib radhiyallahu anhu juga bercerita;

خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ فَقَامَ خَالِي أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أُصَلِّيَ وَعِنْدِي جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا أَوْ قَالَ اذْبَحْهَا وَلَنْ تَجْزِيَ جَذَعَةٌ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (penyembelihan qurban), beliau bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari raya kami ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan melaksanakan penyembelihan qurban. Maka barang siapa mengerjakan seperti itu, berarti dia telah memenuhi sunnah kami. Dan barang siapa menyembelih qurban sebelum pelaksanaan shalat id, maka itu hanyalah daging yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak sedikitpun mendapatkan (pahala) ibadah qurban. Tiba-tiba pamanku, Abu Burdah bin Niyar, berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih hewan sebelum aku shalat namun, aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah berumur dua tahun. Maka beliau pun bersabda: Jadikanlah ia sebagai pengganti (dari apa yang telah kamu sembelih sebelum shalat)! Atau beliau mengatakan: Sembelihlah namun, hal itu tidak berlaku bagi orang setelahmu!”
(HR. Imam Bukhari, no.915)

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
“Barang siapa yang berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi Jumat, mendengarkan (khutbah) tanpa berkata-kata, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dengan hari Jumat yang lain, ditambah tiga hari. Dan barang siapa yang memegang batu kerikil, maka dia telah berbuat kesia-siaan.”
(HR. Imam Muslim, no.1419)

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبِ امْرَأَتِهِ إِنْ كَانَ لَهَا وَلَبِسَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِهِ ثُمَّ لَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ وَلَمْ يَلْغُ عِنْدَ الْمَوْعِظَةِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهُمَا وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا
“Barang siapa yang mandi untuk melaksanakan shalat Jumat dan mengenakan wewangian istrinya apabila dia mempunyai wewangian, serta memakai pakaian yang paling bagus (terbaik), kemudian tidak melangkahi pundak-pundak orang lain dan tidak main-main (fokus) dalam mendengarkan khutbah, maka dia akan mendapatkan penghapusan dosa di antara dua Jumat. Dan barang siapa yang main-main (melakukan hal yang sia-sia) dalam mendengarkan khutbah, maka baginya hanyalah pahala shalat Zhuhur.”
(HR. Abu Dawud, no.293. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Bahkan mayoritas ulama berpendapat, haram juga hukumnya makmum (jamaah) saling berbicara di antara mereka.

Sehingga ketika ada makmum yang sedang berbincang dengan orang lain pada saat khatib berkhutbah, maka kita boleh memberikan isyarat kepadanya untuk diam (tanpa berbicara atau bersuara). Termasuk ketika ada orang lain yang tertidur pada saat khutbah, maka kita dianjurkan untuk membangunkannya dengan isyarat, bukan ucapan.

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah berkata;
“Dianjurkan untuk membangunkan mereka dengan perbuatan, bukan dengan ucapan. Sebab berbicara ketika khutbah tidak boleh (terlarang).”
(Majmu Al-Fatawa, 30:253)

Bahkan isyarat seperti itu bisa digunakan juga untuk menjawab salam di antara jamaah, menjawab bersin, menjawab adzan, mengingatkan orang lain yang tidak fokus menyimak khutbah semisal karena memainkan HP, menghentikan kegaduhan di dalam masjid, dan keadaan semisalnya.

Syaikh Abu Malik rahimahullah berkata;
“Termasuk dalam larangan adalah menjawab salam orang lain ketika imam berkhutbah. Balasannya cukup dengan isyarat.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:589)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya;
“Apa hukum menjawab salam dan menjawab bersin saat khutbah Jumat? Apa juga hukum menyodorkan tangan kepada orang yang ingin bersalaman ketika imam berkhutbah? Beliau menjelaskan: Menjawab salam orang lain dan menjawab bersin saat imam berkhutbah tidak diperbolehkan, karena hal tersebut termasuk berbicara yang terlarang dan hukumnya haram. Karena seorang muslim (jamaah) tidaklah diperintahkan untuk mengucapkan salam pada saat itu. Disebabkan salamnya tidak diperintahkan, maka demikian juga dengan balasannya. Orang yang bersin pun tidak diperintahkan mengeraskan bacaan ‘alhamdulillah’ ketika imam berkhutbah. Oleh sebab itu, ucapannya tidak perlu dibalas dengan ucapan ‘yarhamukallah’. Sedangkan menyambut jabatan tangan orang yang ingin bersalaman, sebaiknya tidak dilakukan karena termasuk membuat lalai, kecuali jika dikhawatirkan terdapat mafsadat (kerusakan), maka ketika itu tidaklah mengapa (boleh) menyambut sodoran tangannya, akan tetapi tidak boleh ditambah dengan obrolan. Lalu jelaskan juga kepadanya setelah shalat, bahwa pembicaraan saat khutbah itu haram.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin, 16:94)

Adapun untuk menjawab salam khatib (imam), maka memiliki hukum yang berbeda.

Imam Al-Mardawi rahimahullah menjelaskan;
“Menjawab salam imam (ketika dia masuk dan menghadap jamaah) dan juga menjawab setiap salam adalah sesuatu yang diperintahkan dan hukumnya fardhu kifayah bagi para jamaah umat Islam.”
(Al-Inshaf Fi Marifati Ar-Rajih Min Al-Khilaf, 4:56)

Sehingga ketika sudah ada orang yang menjawab salamnya, maka yang lain sudah tidak berkewajiban untuk menjawab salamnya. Dan hukum menjawab salam ini berlaku juga di luar majelis shalat Jumat.

Imam Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qari rahimahullah berkata;
“Menjawab salam dan tidak terdengar (di telinga orang yang memberi salam), itu belum menggugurkan kewajiban.”
(Mirqatu Al-Mafatih Syarh Misykatu Al-Mashabih, 6:13)

Selain itu, menjawab adzan pada saat khatib di atas mimbar maka dibolehkan, dan cukup diucapkan dengan suara lirih (pelan), sebagaimana hukum asal doa dan dzikir adalah dengan suara yang pelan. Dan hal ini juga berlaku untuk menjawab shalawat ketika khatib menyebut nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar suara muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin! Kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di Surga, tidaklah layak tempat tersebut, kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap termasuk hamba tersebut. Dan barang siapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.577)

Allah azza wa jalla berfirman;

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut! Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Surat Al-Araf: ayat 55)

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
“Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah!”
(Surat Al-Araf: ayat 205)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila aku disebutkan di hadapannya, maka dia tidak mengucapkan shalawat kepadaku.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3469)

10. Tidak Boleh Tidur Saat Khatib Berkhutbah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ
“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), maka hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.”
(HR. Abu Dawud, no.944)

Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah menjelaskan;
“Mereka memakruhkan tidur ketika khatib sedang berkhutbah. Dan mereka berkata tegas mengenai hal tersebut.”
(Al-Qaulu Al-Mubin, no.346)

Beliau juga menjelaskan;
“Mereka (para Sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras. Ibnu Aun berkata: Aku bertemu lagi dengan Ibnu Sirin, lalu bertanya: Apa komentar Sahabat tentang mereka? Ibnu Sirin menjawab: Mereka (para Sahabat) berkata, Orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan tidak juga mendapatkan ghanimah).”
(Tafsir Al-Qurthubi, 18:117)

11. Khatib Tidak Boleh Banyak Bergerak.
Imam Ibnul Atthar rahimahullah menjelaskan;
“Di antara bidah yang diharamkan ketika memberikan nasihat dan peringatan adalah banyak bergerak yang dilakukan oleh para penasihat (khatib), yaitu dengan mencondongkan badan, menjejakkan kaki, bergoyang-goyang, mencondongkan badan 1 derajat atau 2 derajat, kemudian menaikkan badan lagi serta mengobarkan jiwa para jamaah dengan teriakan dan suara yang keras. Dan juga membacakan syair-syair pengobar semangat, sehingga menyimpang dari tujuan disyariatkannya suatu nasihat dan peringatan, yang seharusnya membawa ketenangan, keagungan, dan keheningan.”
(Adab Al-Khatib, hlm.122)

Imam Syafii rahimahullah juga berkata;
“Jika seorang khatib tidak bertumpu pada sebuah tongkat, maka aku lebih suka dia mendiamkan tubuh dan kedua tangannya dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, atau meletakkannya pada sisi kedua tubuhnya.”
(Al-Umm, 1:230)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Disunnahkan bagi seorang khatib untuk mendiamkan jari-jemari tangannya, baik meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, ataupun menyejajarkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.”
(Al-Mughni, 3:180)

12. Khatib Tidak Boleh Mengkhususkan Khutbah Kedua Hanya Untuk Berdoa.
Hal seperti ini terjadi karena sebagian khatib mengira, bahwa khutbah kedua merupakan bagian yang menyatu dari khutbah pertama. Sehingga sebagian khatib mengisi khutbah kedua hanya dengan doa atau beberapa kalimat saja, dengan tujuan untuk mempercepat khutbah kedua.

Imam Ibnul Aththar rahimahullah menjelaskan;
“Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian khatib dengan mempersingkat khutbah kedua, serta membacanya dengan suara rendah (pelan), dan tidak memperdengarkan suaranya kepada para jamaah dengan jelas karena tidak menganggapnya sebagai bagian dari khutbah dan juga tidak mengerti syariatnya, maka hal tersebut merupakan sebuah kelalaian dan kebodohan. Menurut syariat, khutbah kedua adalah khutbah yang tersendiri (terpisah dari khutbah pertama), rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, dan sunnah-sunnahnya, serta adab-adabnya, kemudian juga keharusan mendengarkannya secara jelas. Meskipun demikian, sunnahnya khutbah kedua disampaikan lebih singkat dari khutbah pertama.”
(Adab Al-Khatib, hlm.132-133)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Di antara hal-hal yang dimakruhkan dalam berkhutbah adalah terlalu mempercepat penyampaian khutbah kedua dan merendahkan suaranya.”
(Al-Majmu, 4:400)

Imam Asy-Syarbini rahimahullah berkata;
“Sesuatu yang dimakruhkan dalam khutbah adalah sesuatu yang diada-adakan oleh para khatib yang tidak mengetahui, yaitu mempercepat khutbah kedua dan merendahkan suaranya.”
(Mughni Al-Muhtaj, 1:557)

Jadi, isilah khutbah kedua dengan ilmu, nasihat, dan kalimat bermanfaat lainnya. Jangan diisi hanya dengan doa, apalagi dengan ucapan yang sangat singkat, karena Rasulullah tidak pernah melakukan hal tersebut!

13. Khatib Mengangkat Jari Telunjuk Saat Berdoa.
Sahabat Umarah bin Ruaybah radhiyallahu anhu berkata;

رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ
“Dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika menjadi khatib) di atas mimbar. Umarah lalu berkata kepadanya: Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini, karena aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika menjadi khatib tidak menambah lebih dari yang seperti ini (Umarah lalu mengacungkan jari telunjuknya).”
(HR. Imam Muslim, no.847)

Al-Istighfar adalah cara berdoa dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan ke atas.

Sebagaimana Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan;
“Cara ini khusus bagi khatib yang berdiri. Jika dia berdoa, cukup jari telunjuknya menunjuk ke atas. Ini simbol dari doa dan tauhidnya. Tidak disyariatkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya (ketika berdoa), jika dia berkhutbah sambil berdiri di atas mimbar atau di atas benda lainnya, kecuali jika sedang berdoa istisqa, maka boleh mengangkat kedua tangan.”
(Syarh Arbain An-Nawawiyyah, 1:112)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Makruh bagi seorang khatib untuk mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya menunjuk dengan jari-jarinya (ke atas) ketika berdoa.”
(Al-Ikhthiyarat Al-Ilmiyyah, hlm.48)

Maka khatib shalat Jumat ketika membaca doa dalam khutbahnya cukup dengan mengacungkan jari telunjuk kanannya ke arah langit, bukan dengan mengangkat kedua tangan.

Catatan: Penjelasan mengenai posisi tangan saat berdoa, silakan bisa membaca tulisan Penulis di website Khiyaar.Com yang berjudul: Adab Berdoa.

Semoga dengan penjelasan-penjelasan di atas membuat hari Jumat yang kita lalui lebih baik dan bermakna, serta ibadah yang kita kerjakan di dalamnya lebih optimal dalam mengikuti syariat Allah dan sunnah Rasulullah. Aamiin

Kalau bukan sejak sekarang kita memperbaiki hari-hari yang kita lalui dan ibadah-ibadah yang kita kerjakan, kapan lagi?

Teruslah meminta hidayah (petunjuk) dan taufiq (kemudahan) kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu memberikan hidayah dan taufiq!

Baca pembahasan selengkapnya tentang ilmu dan ibadah seputar hari Jumat di sini.
___
@Kota Angin Majalengka,07 Muharram 1441H/06 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

Recent Posts