Beranda Konsultasi Islam (Tanya-Jawab) Hukum Paket Atau Tabungan Lebaran

Hukum Paket Atau Tabungan Lebaran

1122
0
BERBAGI

📃 Pertanyaan;

Bagaimana hukum dalam islam bila kita membuka tabungan kue lebaran atau menjual kue lebaran? Sedangkan barang tersebut belum di miliki.

📝 Jawaban;

Konsep tabungan lebaran (paket lebaran) dan semisalnya, adalah inden. Maksudnya pembelian suatu barang dengan cara memesan dan membayar terlebih dahulu.

Termasuk bentuk transaksi yang terlarang dalam Islam adalah jual beli utang dengan utang. Di antara dalil dari larangan ini adalah;

Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu berkata;

‎أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang jual-beli Al-Kali Bil-Kali (utang dengan utang).
(HR. Ibnu Hajar, Takhrij Misykah Al-Mashabih, 3:164. Hadits ini hasan)

Imam As-Syaukani rahimahullah menjelaskan;
“Meski pun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Musa bin Ubaidah Ar-Rabadzi namun, ada pendukung kuat dari penulikan ijma, bahwa tidak boleh jual-beli utang dengan utang.”
(As-Sailu Al-Jarar, hlm.480)

Imam Malik rahimahullah menjelaskan;
Jual beli Al-Kali Bil-Kali hukumnya terlarang.”
(Al-Muwatha, 2:628)

Imam As-Syafii rahimahullah berkata;
“Kaum muslimin dilarang untuk jual-beli utang dengan utang.”
(Al-Umm, 4:30)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Ibnul Mundzir mengatakan: Ulama sepakat bahwa jual-beli utang dengan utang tidak boleh. Imam Ahmad mengatakan: Ulama sepakat dalam masalah ini.”
(Al-Mughni, 4:186)

Sehingga berdasarkan ijma ulama inilah yang menjadi landasan kita untuk menyatakan, bahwa jual-beli utang dengan utang hukumnya terlarang dalam Islam.

Sebagai penjelasan dari dalil-dalil di atas, mari simak keterangan di bawah ini!

Al-Kali secara bahasa maknanya Nasiah (tertunda). Dan berasal dari susunan kata kala-a yakla-u (كلأ–يكلأ).”
(An-Nihayah, 4:194)

Kasus dalam transaksi paket lebaran adalah misal Ahmad ikut program paket lebaran kepada Muhamad. Sesuai waktu yang sudah ditetapkan, misal perhari Ahmad membayar cicilan atau angsuran kepada Muhamad dengan tujuan pembelian suatu barang, dengan kata lain dengan cara kredit atau tidak tunai (utang). Dan Muhamad juga menyerahkan barang pesanan Ahmad tidak secara langsung pada saat transaksi dimulai namun, barang tersebut diserahkan nanti ketika menjelang Idul Fitri (lebaran), dan ketika pembayaran sudah lunas, dengan kata lain Muhamad pun menyerahkan barang tersebut dengan cara tidak tunai (utang).

Inilah salah satu bentuk transaksi utang dengan utang yang telarang dalam Islam.

Selain pada konsep transaksi paket lebaran, transaksi terlarang semacam ini juga berlaku pada konsep transaksi lainnya.

Intinya, setiap transaksi yang si pembeli itu harus membayar DP atau membayarnya secara angsur (kredit), dan si Penjual pun tidak langsung menyerahkan barang yang dijualnya kepada si Pembeli, misal diberikan beberapa hari setelah transaksi dimulai, karena si Penjual belum memiliki barang tersebut atau dia bukan sebagai produsen, maka ini termasuk juga dalam transaksi Al-Kali Bil-Kali (utang dengan utang) yang terlarang dalam Islam.

Solusinya, untuk para Pembeli jika ingin memesan barang, maka bayarlah pembiayaan tersebut seluruhnya di awal transaksi atau di akhir transaksi, ketika barang yang dipesan sudah tersedia.

Untuk para Penjual, juallah barang yang sudah dimiliki atau tersedia padanya dan jika barang tersebut bersifat inden, maka jangan berikan syarat pada Pembeli untuk membayar DP atau angsuran pertama.

Selain itu, pada transaksi paket lebaran terdapat juga pelarangan syariat lainnya yaitu gharar.

Al-Gharar menurut bahasa adalah Al-Khathr (pertaruhan).
(Al-Mujam Al-Wasith, hlm.648)

Syaikh As-Sadi rahimahullah berkata;
“Al-gharar adalah Al-Mukhatharah (pertaruhan) dan Al-Jahalah (ketidak jelasan). Perihal ini masuk dalam kategori perjudian.”
(Bahjah Qulub Al-Abrar Wa Qurratu Uyun Al-Akhyaar Fii Syarh Jawami Al-Akhbar, hlm.164)

Sehingga dari penjelasan di atas, yang dimaksud jual beli gharar adalah semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan, pertaruhan, atau perjudian.

Dalam syariat Islam, jenis jual-beli gharar adalah terlarang. Sebagaimana Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata;

‎نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang jual-beli Al-Hashah dan jual-beli gharar.”
(HR. Imam Muslim, no.1513)

Dalam sistem jual-beli gharar ini terdapat unsur memakan harta orang lain dengan cara tidak benar (bathil). Dan hal itu dilarang oleh Allah.

Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang salah, dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain tersebut dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 188)

Dalam ayat yang lain;

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku berdasarkan suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh dirimu! Sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepada kalian.”
(Surat An-Nisa: ayat 29)

Sisi gharar pada transaksi paket lebaran terletak pada penentuan harga barang. Jika harga barang yang dibayar oleh si Pembeli pada saat dimulainya transaksi lebih murah dibandingkan harga pada saat menjelang lebaran, apalagi di negeri Indonesia sudah terkenal dengan naiknya harga barang saat menjelang lebaran, sehingga berdampak kerugian pada si Penjual. Namun, sebaliknya jika harga yang dibayar oleh si Pembeli lebih mahal dibandingkan harga pada saat menjelang lebaran, maka akan berdampak kerugian untuk si Pembeli. Sehingga pada transaksi ini terdapat ketidak jelasan harga dan taruhan kerugian.

Dilarangnya transaksi gharar adalah untuk menutup celah kezhaliman pada salah satu pihak transaksi, dan Islam melarang adanya kezhaliman pada umatnya.

Wallahu alam. Hanya Allah yang mampu memberikan kemudahan. Semoga bisa dipahami.

Dijawab oleh: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMuamalah Bersama Keluarga
Artikel sesudahnyaLafazh Dzikir Setelah Shalat Fardhu
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here