Beranda Renungan Kenapa Aku Begini?

Kenapa Aku Begini?

1282
0
BERBAGI

Kenapa Aku Begini?

Ketika aku mendengar nama Allah, hatiku tidak bergetar sedikit pun…

Kenapa aku begini?

Padahal Allah azza wa jalla berfirman;

‎إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang ketika disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka, dan ketika dibacakan ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka. Dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.”
(Surat Al-Anfal: ayat 2)

Ketika aku membaca ayat Al-Quran, imanku tidak bertambah sedikit pun…

Kenapa aku begini?

Padahal Allah azza wa jalla berfirman;

‎يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu pada keimanan, jika kamu orang yang benar.”
(Surat Al-Hujurat: ayat 17)

Ketika aku mempelajari ilmu, amalku tidak bertambah sedikit pun…

Kenapa aku begini?

Padahal Allah azza wa jalla berfirman;

‎مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰٮةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا ۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
(Surat Al-Jumuah: ayat 5)

Kenapa aku begini?

Ternyata banyaknya dosa sudah membuat hatiku menjadi batu…

Allah azza wa jalla berfirman;

‎ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 74)

Lalu, masih adakah kesempatan untukku melembutkan hatiku?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
“Jika kamu ingin agar hatimu menjadi lunak (lembut), maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim!”
(HR. Al-Albani, Shahih Al-Jami, no.1410. Beliau menyatakan hadits ini hasan)

Kenapa aku begini?

Ternyata banyaknya kelalaian sudah membuat imanku menjadi buruk…

Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang-binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat (buruk) lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”
(Surat Al-Araf: ayat 179)

Lalu, masih adakah kesempatan untukku memperbaiki imanku?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ
“Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang di antara kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka mohonlah kepada Allah agar memperbarui iman di hati kalian!”
(HR. Al-Albani, Shahih Al-Jami, no.1590)

Kenapa aku begini?

Ternyata banyaknya ilmu tidak membuat amalku menjadi bertambah…

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
“Seseorang didatangkan pada hari Kiamat kemudian dilemparkan ke Neraka hingga ususnya terburai keluar dan berputar-putar di Neraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya, kemudian penduduk Neraka bertanya: Wahai Fulan! Apa yang menimpamu, bukankah dulu kamu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? Dia menjawab: Benar, dulu aku memerintahkan kebaikan, tapi aku tidak melakukannya dan aku melarang kemungkaran, tapi aku malah melakukannya.”
(HR. Imam Muslim, no.5305)

Lalu, masih adakah kesempatan untukku memperbanyak amalku?

Allah azza wa jalla berfirman;

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih (ibadah), baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(Surat An-Nahl: ayat 97)

Semoga keadaanku tidak selalu begini…

‎رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan agar aku dapat mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih!”
(Surat An-Naml: ayat 19)

Ya Allah, berikan kemudahan kepadaku untuk mempelajari ilmu, memahaminya dan mengamalkannya dengan istiqamah! Aamiin

Agar diriku tidak selalu dalam keadaan begini…
___
@Kota Angin Majalengka, Jawa Barat.
05 Rajab 1440H/12 Maret 2019M

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaTernyata, Dia Lebih Baik Dariku
Artikel sesudahnyaMuamalah Bersama Keluarga
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here