Beranda Belajar Islam Amalan Menyambut Ramadhan Di Bulan Syaban

Menyambut Ramadhan Di Bulan Syaban

989
0
BERBAGI

Menyambut Ramadhan Di Bulan Syaban

Merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum ketika di bulan Syaban, menjelang bulan Ramadhan, yaitu mereka bersiap-siap untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Walhamdulillah kebiasaan ini pula yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia setiap tahun.

Di dalam KBBI kata menyambut bermakna:
• Menerima (Kami menerima penghargaan itu dengan rasa haru).
• Memberi tanggapan (balasan, jawaban, reaksi dan sebagainya).

Dinamakan menyambut berarti kita akan berusaha mempersiapkan segala kebutuhan yang akan digunakan dalam rangka menyambut kedatangan seseorang atau sesuatu.

Misal; Ketika seorang wanita mendapatkan kabar, bahwa pekan depan dia akan kedatangan seorang lelaki yang akan menemui orang tuanya untuk melamarnya. Maka wanita tersebut dan keluarganya akan berusaha menyiapkan segala kebutuhan yang akan dipersembahkannya nanti untuk menyambut kedatangan tamu tersebut. Jadi, namanya menyambut itu butuh persiapan.

Sebagaimana menyambut bulan Ramadhan, kita pun sangat butuh dengan persiapan untuk menyambutnya nanti. Baik persiapan fisik untuk berpuasa, harta untuk beramal shalih dan ilmu untuk beribadah. Karena banyaknya keutamaan yang ada di dalamnya, membuat kita harus bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendapatkan keutamaan yang sangat banyak didalam bulan Ramadhan.

Meskipun demikian, perlu kita ketahui bahwa tidak ada riwayat yang shahih mengenai doa khusus dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam mau pun para Sahabatnya radhiyallahu anhum ketika menyambut bulan Ramadhan. Hanya saja, para Sahabat dan para ulama setelahnya, mereka menyambut bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, mereka ungkapkan kegembiraan ini dengan kalimat-kalimat yang mengandung doa kebaikan dan harapan.

Mualla bin Fadhl rahimahullah menjelaskan:
“Dahulu para Sahabat Rasulullah, selama enam bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan setelahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal ibadah yang telah mereka kerjakan ketika di bulan Ramadhan.”
(Lathaif Al-maarif, Hal.264)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Di antara doa sebagian Sahabat Nabi ketika datang bulan Ramadhan: Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai pada Ramadhan dan antarkanlah Ramadhan kepadaku dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”
(Lathaif Al-maarif, Hal.264)

Pada tulisan ini, insyaallah Penulis akan berusaha menjelaskan berbagai keutamaan bulan Syaban. Karena pada bulan tersebut terdapat banyak keutamaan di dalamnya, sehingga dengan kita mengetahui berbagai keutamaan yang ada di dalamnya, membuat kita juga harus tahu apa saja yang harus kita lakukan ketika itu, agar kita juga bisa mendapatkan berbagai keutamaan yang ada di dalamnya.

Di antara perkara yang bisa diketahui dan dikerjakan di dalam bulan Syaban adalah:

1. Memperbanyak Puasa Di Bulan Syaban.
Aisyah radhiyallahu anha menjelaskan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Terkadang Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan; Beliau tidak pernah tidak puasa dan terkadang beliau tidak puasa terus-menerus, hingga kami katakan; Beliau tidak melakukan puasa. Dan aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, aku juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan syaban.”
(HR. Bukhari, No.1969)

Aisyah radhiyallahu anha menjelaskan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan perhatiannya terhadap hilal bulan Syaban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lainnya. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal (bulan Ramadhan) tidak terlihat, beliau genapkan Syaban hingga 30 hari.”
(HR. Ibnu Hibban, No.3444)

Aisyah radhiyallahu anha menjelaskan:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Belum pernah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak daripada puasa di bulan Syaban. Terkadang hampir beliau berpuasa Syabanan sebulan penuh.”
(HR. Bukhari, No.1970)

Ummu Salamah radhiyallahu anha menjelaskan:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain di bulan Syabanban, kemudian beliau sambung dengan bulan Ramadhan.”
(HR. Nasai, No.2352)

Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang kesungguhannya (intensitas) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan puasa di bulan Syaban dengan lebih sering dibandingkan bulan-bulan lainnya (di luar bulan Ramadhan) dan itu semua pasti ada hikmahnya. Karena tidak mungkin Rasulullah melakukan sesuatu yang sia-sia (tidak bermanfaat), apalagi beliau sangat bersungguh-sungguh dalam melakukannya.

2. Hikmah Memperbanyak Puasa Di Bulan Syaban.
Sebelum kita mempelajari hikmah dari amalan puasa yang Rasulullah lakukan di bulan Syaban, hendaknya kita memahami tentang makna hikmah terlebih dahulu.

Di dalam KBBI kata hikmah bermakna:
• Kebijaksanaan; Kita memohon kebijaksanaan dari Allah taala
• Kesaktian; Kesaktian kata-kata
• Kemanfaatan; Wejangan yang penuh.

Merujuk pada bahasa Arab, asalnya kata hikmah punya beberapa arti (lafazh musytarak). Dalam kitab Lisan Al-arab, Ibnu Manzhur menyebut hikmah adalah Al-qadha, artinya; Memutuskan.

Sedangkan, di dalam Al-mujam Al-wasith, hikmah berasal dari kata HAKAMA, bermakna melarang atau menghalangi (mana’a). Hukum itu dikatakan tegak jika menghalangi seseorang berbuat kezhaliman.

Selanjutnya, hikmah juga bermaksud adil dalam memutuskan sesuatu. Hikmah adalah mengetahui hakikat (pokok) segala sesuatu apa adanya dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.

Jadi, makna hikmah yang dilihat lebih tepat untuk menjelaskan maksud puasa sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah di bulan Syaban adalah mengetahui hakikat (dasar) segala sesuatu apa adanya dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.

Di antara hikmah yang terkandung adalah:

Para ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Syaban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini.

Pendapat yang dilihat sangat kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadits dari Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu, beliau pernah bertanya; “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan (di luar bulan Ramadhan) sebagaimana anda berpuasa di bulan Syaban. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak manusia, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan di mana amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam (Allah). Dan aku merasa senang ketika amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”
(HR. Nasai, No.2356. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Ini sebagai bukti atas realita yang terjadi saat ini, banyaknya manusia yang mulai terlalaikan dari amalan sunnah tersebut. Saking sibuknya mereka untuk mempersiapkan kebutuhan di bulan Ramadhan, mulai dari kurma, sirup, sembako, pakaian baru dan kebutuhan lainnya, membuat mereka semakin kerja keras, banting tulang untuk mendapatkan banyak harta, sehingga waktu dan tenaga mereka terkuras habis hanya untuk mencari harta dunia yang hakikatnya kecil dihadapan Allah azza wa jalla. Akhirnya mereka tidak sempat, tidak punya waktu dan tenaga untuk mengerjakan puasa sunnah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum. Jadilah kita hamba Allah dan umatnya Rasulullah yang merugi, rugi karena tidak mendapatkan bonus, serta pahala sunnah dari Allah azza wa jalla. Dan perlu diketahui, bahwa kerugian ini lebih besar nilainya dari kerugian seseorang terhadap harta dunianya.

Terkadang kita mati-matian untuk mendapatkan sesuatu yang tidak akan bisa dibawa mati. Sadarlah wahai saudaraku! Dunia ini kecil dan hina, bahkan tidak lebih mulia dari sayap seekor nyamuk.

Dari Sahabat Sahl bin Said As-saidi radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya sama dengan sayap seekor nyamuk, pasti Allah tidak akan memberi minum (air) walau seteguk kepada orang kafir.”
(HR. Tirmidzi, No.2320)

Mari, kita lihat! Saat ini orang kafir tidak hanya bisa minum air. Bahkan mereka mampu memakan makanan yang bermacam, memiliki harta yang melimpah, rumah megah dan kendaraan mewah. Ini sebagai bukti bahwa dunia itu di sisi Allah nilainya lebih rendah dibandingkan sayap nyamuk. Karena kalau saja nilai dunia itu sama seperti sayap seekor nyamuk, pasti kita akan dapati orang-orang kafir menjadi miskin, tidak punya harta, kendaraan, rumah, bahkan mereka tidak memiliki makanan dan minuman sedikit pun. Karena Allah tidak akan memberikan minum seteguk pun kepada orang-orang kafir, jika nilai dunia sama nilainya seperti sayap seekor nyamuk. Dunia menyamai nilainya sayap seekor nyamuk saja tidak bisa, apalagi melebihinya.

Dari Sahabat Kaab bin Iyadh radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta.”
(HR. Tirmidzi, No.2336)

Dari Abu Said Al-khudri radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ
“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau dan sesungguhnya Allah taala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi, kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita!”
(HR. Muslim, no.2742)

Ketika kita sudah mengetahui hakikat dunia itu kecil dan hina, maka ubahlah pola fikir anda untuk tidak berlebihan dalam masalah harta dan tidak mati-matian dalam mencarinya. Maka carilah dunia sekadar kebutuhannya saja, bukan sekadar keinginannya! Karena tidak semua yang kita inginkan, itu kita butuhkan.

Dari Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ أَو عَابِرُ سَبيلٍ
“Jadilah kamu di dunia ini seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat (musafir)!”
(HR. Ibnu Hibban, No.698)

Dari Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian beristirahat sejenak di sana, dan lalu meninggalkannya.”
(HR. Tirmidzi, No.2377. Dia berkata hadits ini hasan shahih)

Saudaraku, kita hidup di dunia ini tidaklah lama, hanya sebentar. Sekedar untuk beristirahat, sambil mencari kebutuhan sebagai bekal melanjutkan perjalanan dan tujuan perjalanan kita adalah akhirat. Maka carilah bekal untuk menuju akhirat sebanyak-banyaknya!

3. Ketika Tiba Di Pertengahan Bulan Syaban.
Masyarakat secara umum, biasanya ketika masuk pertengahan bulan Syaban (nishfu Syaban), mereka melakukan sebuah ritual yang dinamakan malam tutup buku amalan, yang jatuh pada tanggal 15 Syaban (nishfu Syaban).

a. Keutamaan malam nishfu Syaban.
Ada beberapa riwayat tentang keutamaan malam nishfu Syaban yang dikomentari oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah, bahwa riwayat-riwayat tersebut masih diperselisihkan tentang keshahihan riwayatnya. Kebanyakan para ulama menilainya lemah (dhaif), sementara Ibnu Hibban rahimahullah menilai sebagiannya shahih dan beliau rahimahullah membawakannya dalam kitab Shahih Ibnu Hibban.

Di antaranya, dalam sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu anha:
“Sesungguhnya Allah azza wa jalla akan turun ke langit dunia pada malam nishfu Syaban, lalu Allah azza wa jalla memberikan ampunan kepada (manusia yang jumlahnya) lebih dari jumlah bulu kambing-kambing milik Bani Kalb.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Imam Tirmidzi rahimahullah menyebutkan bahwa Imam Bukhari rahimahullah menilai hadits ini lemah. Kemudian Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan beberapa hadits yang semakna dengan ini seraya mengatakan; “Dalam bab ini terdapat beberapa hadits lainnya namun, memiliki kelemahan.”

Imam Asy-syaukani rahimahullah menyebutkan, bahwa dalam riwayat Aisyah radhiyallahu anha tersebut ada kelemahan dan sanadnya terputus. Syaikh bin Baz rahimahullah menyebutkan bahwa ada beberapa hadits lemah yang tidak bisa dijadikan pedoman (dalil) tentang keutamaan malam nishfu Syaban.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan malam nishfu Syaban semuanya tidak shahih. Sehingga tidak bisa dijadikan landasan (dalil) dalam beramal, karena kita boleh melakukan sebuah amalan ibadah, jika ada dalil shahih atau hasan yang menjelaskannya. Namun, jika tidak ada, maka kita tidak boleh melakukannya. Begitulah cara beragama yang benar, mengikuti perintah Allah azza wa jalla dan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

b. Shalat pada malam nishfu Syaban.
Untuk masalah ini ada 3 rincian penjelasan.

• Pertama; Shalat yang dikerjakan oleh orang yang terbiasa melakukannya di luar malam nishfu Syaban, seperti orang yang terbiasa melakukan shalat malam (qiyamul lail). Jika orang tersebut melakukan shalat malam yang sudah biasa dilakukannya di luar malam nishfu Syaban, lalu bertepatan dengan malam nishfu Syaban dan tanpa memberikan tambahan ibadah khusus dan tanpa ada keyakinan bahwa malam tersebut memiliki keistimewaan, maka shalat yang dikerjakan orang tersebut tidak mengapa (boleh). Karena dia tidak membuat suatu ibadah yang baru dalam agama Allah azza wa jalla (Islam).

• Kedua; Shalat yang khusus dikerjakan pada malam nishfu Syaban. Ini termasuk amalan yang tidak sesuai sunnah Rasulullah (bidah). Karena tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah, yang menjelaskan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan atau mengerjakan hal tersebut.

Begitu juga dengan para Sahabatnya radhiyallahu anhum. Ada pun hadits dari Ali radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullah; “Jika malam nishfu Syaban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya!” Di paragraf sebelumnya sudah dijelaskan, bahwa Ibnu Rajab rahimahullah menilai hadits tersebut lemah, sementara Rasyid Ridha rahimahullah menilainya palsu. Hadits seperti ini tidak bisa dijadikan sandaran (dalil) untuk menetapkan suatu hukum syari.

Para ulama memberikan toleransi dalam masalah beramal dengan hadits lemah dalam masalah fadhailul amal, tapi itu pun dengan 2 syarat yang harus terpenuhi, di antaranya:
– Kelemahan hadits tersebut tidak parah. Sementara kelemahan hadits (tentang shalat nishfu Syaban) ini sangat parah. Karena di antara perawinya ada orang yang pernah memalsukan hadits, sebagaimana dinukilkan dari Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah.
– Hadits yang lemah tersebut menjelaskan sesuatu yang ada dasarnya (ada hadits shahih yang menjelaskannya). Misalnya; Ada ibadah yang ada dasarnya lalu ada hadits-hadits lemah yang lain menjelaskannya sementara kelemahannya tidak parah, maka hadits-hadits lemah ini bisa memberikan tambahan motivasi untuk melakukannya, dengan mengharapkan pahala yang disebutkan tanpa meyakininya sepenuh hati. Artinya; Jika keutamaan amal tersebut benar, maka itu kebaikan bagi yang melakukannya, sedangkan jika tidak benar, maka itu tidak membahayakannya, karena ada dalil shahih yang dijadikan landasan utamanya.

Sebagaimana sudah diketahui, bahwa dalil yang memerintahkan untuk menunaikan shalat nishfu Syaban di dalamnya tidak terpenuhi syarat-syarat tersebut. Karena perintah ini tidak memiliki dalil yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dan yang lainnya.
(Lathaif Al-maarif, Hal.145)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:
“Begitu juga tentang shalat malam pada malam nishfu Syaban, tidak ada satu dalil shahih pun dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau pun dari Sahabat radhiyallahu anhum.”

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah mengatakan:
“Semua riwayat yang menjelaskan keutamaan shalat malam nishfu Syaban adalah riwayat palsu.”

Keterangan yang dilihat paling tepat dan terbaik tentang shalat malam nishfu Syaban, yaitu merupakan perbuatan sebagian Tabiin, sebagaimana Ibnu Rajab menjelaskan:
“Malam nishfu Syaban diagungkan oleh Tabiin dari Syam. Mereka bersungguh-sungguh melakukan ibadah pada malam tersebut. Dari mereka inilah, keutamaan dan pengagungan malam ini diambil. Ada yang mengatakan; Riwayat yang sampai kepada mereka tentang malam nishfu Syaban adalah riwayat-riwayat Israiliyat. Ketika kabar ini tersebar keseluruh negeri, manusia mulai berselisih pendapat, ada yang menerimanya dan sependapat untuk mengagungkan malam nishfu Syaban, sedangkan ulama Hijaz mengingkarinya, mereka mengatakan; Semua itu perbuatan bidah.”

Israiliyat adalah berita yang dinukil dari orang Bani Israil, yang beragama Yahudi atau Nashrani. Dan umumnya berasal dari masyarakat Yahudi.

Tidak diragukan lagi, pendapat ulama Hijaz ini adalah pendapat yang benar. Karena Allah berfirman, yang artinya; “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (QS. Al-maidah, Ayat 3).

Seandainya shalat malam nishfu Syaban itu bagian dari agama Allah, tentu Allah azza wa jalla jelaskan dalam kitabNya (Al-quran) atau dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui ucapan atau pun perbuatannya (As-sunnah). Ketika keterangan tersebut tidak ada, itu membuktikan shalat khusus malam nishfu Syaban bukan bagian dari syariat Islam. Semua amalan yang bukan bagian dari agama Islam adalah bidah (tidak ada tuntunan dari Rasulullah), sementara ada dalil shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda; “Semua bidah itu sesat”.

• Ketiga; Pada malam tersebut dikerjakan satu shalat khusus dengan jumlah tertentu dan ini dilakukan setiap tahun. Maka ini lebih parah daripada tingkatan kedua dan lebih jauh dari sunnah. Riwayat-riwayat yang menjelaskan keutamaan shalat tersebut adalah hadits palsu. Imam As-syaukani rahimahullah mengatakan; “Semua riwayat tentang shalat malam nishfu Syaban ini adalah riwayat bathil dan palsu.”
(Al-fawaidu Al-majmuah, Hal.15)

c. Puasa nishfu Syaban.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan; Dalam Sunan Ibnu Majah dengan sanad yang lemah dari Sahabat Ali radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Jika pada malam nishfu Syaban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya! Karena Allah azza wa jalla turun pada saat matahari tenggelam, lalu berfirman; “Adakah orang yang memohon ampun, lalu akan Aku ampuni? Adakah yang memohon rezeki, lalu akan Aku beri?” (HR.Ibnu Majah, No.1388).

Imam Ibnu Rajab rahimahullah juga mengatakan:
“Hadits ini telah dihukumi sebagai hadits palsu oleh penulis kitab Al-mannar. Beliau rahimahullah mengatakan; Yang benar, bahwa hadits tersebut adalah maudhu (palsu), karena dalam sanadnya terdapat Abu Bakr, Abdullah bin Muhammad, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Abi Bisrah. Imam Ahmad rahimahullah dan Yahya bin Main rahimahullah mengatakan; Orang ini pernah memalsukan hadits. (Majmu Fatawa, 5;622).
(Lathaif Al-maarif, Hal.143)

Berdasarkan penjelasan ini, maka puasa khusus pada pertengahan bulan Syaban adalah bukan amalan sunnah. Karena berdasarkan kesepakatan para ulama, hukum syariat tidak bisa ditetapkan dengan hadits-hadits yang derajatnya tidak shahih, seperti: Lemah dan palsu. Kecuali kalau kelemahannya tidak parah dan bisa tertutupi dengan banyaknya jalur periwayatan dan riwayat-riwayat pendukung lainnya yang shahih, sehingga hadits tersebut bisa naik derajatnya menjadi Hadits Hasan Lighairihi dan ketika itu boleh dijadikan landasan untuk beramal, dengan syarat isinya tidak mungkar atau syadz (nyeleneh). Untuk lebih jelas mengenai penjelasan status hadits, para pembaca bisa mempelajari kitab Musthalah Al-hadits, sudah tersedia dengan bahasa arab dan bahasa Indonesia.

4. Larangan Puasa Setelah Pertengahan Bulan Syaban.
Ada beberapa hadits yang membicarakan tentang larangan puasa setelah pertengahan bulan Syaban. Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا
“Jika tersisa separuh bulan Syaban, janganlah berpuasa!”
(HR. Abu Dawud, No.2337)

Dalam riwayat yang lain:

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنِ الصِّيَامِ، حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ
“Jika tersisa separuh bulan Syaban, maka tahanlah diri kalian dari berpuasa, hingga datang bulan Ramadhan!”
(HR. Ibnu Qudamah, 1;364, hadits ini hasan)

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلاَ صَوْمَ حَتَّى يَجِىءَ رَمَضَانُ
“Jika tersisa separuh bulan Syaban, maka tidak ada puasa hingga tiba bulan Ramadhan.”
(HR. Ibnu Majah, No.1347)

Sebetulnya, para ulama berselisih pendapat dalam menilai hadits-hadits di atas dan berkenaan hukum mengamalkannya.

Di antara ulama yang menshahihkan hadits di atas adalah At-tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-hakim, Ath-thahawiy, dan Ibnu Abdil Barr. Kemudian di antara ulama belakangan yang menshahihkannya adalah Syaikh Al-albani rahimahumullah.

Sedangkan ulama lainnya mengatakan, bahwa hadits tersebut adalah hadits yang mungkar, sedangkan hadits mungkar termasuk di antara hadits yang lemah.

Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Abdurrahman bin Mahdiy, Imam Ahmad, Abu Zurah Ar-razi, dan Al-atsram. Alasan mereka adalah karena hadits di atas bertentangan dengan hadits:

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ
“Janganlah mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari.”
(HR. Muslim, No.1082)

Imam Al-atsram rahimahullah menjelaskan:
“Hadits larangan berpuasa setelah separuh bulan Syaban, itu bertentangan dengan hadits lainnya. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpuasa di bulan Syaban seluruhnya dan beliau lanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Dan hadits di atas juga bertentangan dengan hadits yang melarang berpuasa dua hari sebelum Ramadhan. Sehingga kesimpulannya; Hadits tersebut adalah hadits yang syadz, bertentangan dengan hadits lainnya yang shahih dan lebih kuat.”

Imam At-thahawiy rahimahullah menjelaskan:
“Hadits larangan berpuasa setelah separuh Syaban adalah hadits yang mansukh (sudah dihapus). Bahkan Ath-thahawiy menceritakan, bahwa telah ada ijma (kesepakatan ulama) untuk tidak beramal dengan hadits tersebut. Dan memang mayoritas ulama tidak mengamalkan hadits tersebut.

Namun, ada pendapat dari Imam Asy-syafii serta ulama Syafiiyyah dan hal ini juga sesuai dengan pendapat sebagian ulama belakangan dari Hanbali. Mereka mengatakan:
“Larangan berpuasa setelah separuh bulan Syaban adalah bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa ketika itu. Jadi, bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa (seperti puasa Senin dan Kamis), maka boleh berpuasa ketika itu, menurut pendapat ini.”
(Lathaif Al-maarif, Hal.245)

Pendapat yang dilihat sangat tepat dalam masalah ini adalah bolehnya berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban, karena hadits mengenai larangan berpuasa setelah separuh bulan Syaban, termasuk hadits yang lemah, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah atau dalil.

5. Persiapan Para Ulama Salaf Untuk Menyambut Ramadhan.
Syaikh Shalih Fauzan Al-fauzan menjelaskan:
“Para ulama salaf meminta kepada Allah azza wa jalla agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, karena mereka mengetahui bahwa di bulan tersebut terdapat banyak kebaikan dan kemanfaatan yang sangat luas.

Kemudian, apabila bulan Ramadhan sudah masuk mereka pun meminta kepada Allah untuk memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka dalam beramal shalih di bulan tersebut. Kemudian, apabila Ramadhan usai mereka juga memohon kepada Allah, agar Allah menerima amalan mereka, sebagaimana Allah jalla wa ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُونَ أُولٰٓئِكَ يُسٰرِعُونَ فِى الْخَيْرٰتِ وَهُمْ لَهَا سٰبِقُونَ
“Dan mereka yang memberikan apa pun yang mereka sanggup berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabbnya (Allah). Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.”
(QS. Al-mukminun, Ayat 61)

Para ulama salaf (terdahulu) sangat bersungguh-sungguh dalam beramal, kemudian setelah itu mereka dirundung rasa cemas dan khawatir setelah beramal; Apakah amalnya tersebut diterima ataukah ditolak?

Yang demikian itu, dikarenakan mereka sangat mengetahui tentang agungnya kedudukan Allah azza wa jalla dan bahwasanya Allah hanya akan menerima amalan ibadah yang ikhlas untuk mencari wajahNya dan amalan yang sesuai sunnah RasulNya shallallahu alaihi wa sallam.

Maka sebab itu, mereka tidak menganggap dirinya suci, bahkan mereka merasa khawatir kalau amal-amal mereka tersebut terhapus atau tidak diterima. Sehingga, mereka sangat berharap agar amalnya bisa diterima dan hal ini jauh lebih membuat letih pikiran mereka daripada sekedar mengerjakannya. Karena sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya akan menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-maidah, Ayat 27)

Mereka (para ulama salaf) itu dahulu berusaha untuk meluangkan waktunya untuk bisa menikmati ibadah di bulan Ramadhan dan mereka pun mengurangi atau mempersedikit kegiatan atau urusan dunianya.

Adalah mereka itu memadati waktu-waktu mereka dengan duduk di rumah-rumah Allah azza wa jalla (masjid). Mereka mengatakan; “Kami ingin menjaga puasa kami, kami tidak ingin menggunjing siapa pun.” Dan mereka pun menghadirkan mushaf-mushaf (Al-quran) untuk dibaca dan mereka saling mempelajari kandungan kitabullah azza wa jalla (Al-quran), mereka senantiasa berusaha menjaga agar waktunya tidak terbuang sia-sia.

Mereka tidak suka membuang-buang waktu dan menyia-nyiakannya, tidak seperti keadaan yang ada pada kebanyakan orang di masa sekarang ini. Akan tetapi, mereka (salafus shalih) berusaha menjaga waktu-waktu mereka, malam mereka diisi dengan shalat malam, sedangkan siang hari mereka diisi dengan puasa, membaca Al-quran, dzikir kepada Allah, dan berbagai amal kebaikan lainnya.

Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadhan, meskipun sedetik saja atau sekejap, kecuali mereka selalu berusaha untuk bisa mempersembahkan amal shalih di dalamnya.”
(Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/9840)

Ada beberapa kisah orang-orang shalih, yang mereka rela menghentikan aktivitas rutinnya selama bulan Ramadhan.

Di antaranya yang dilakukan oleh Imam Darul Hijrah; Imam Malik rahimahullah dan Imam Masjidil Haram; Syaikh Abdurrahman As-sudais hafizhahullah, mereka meliburkan majelis-majelis ilmunya (kegiatan mengajar) selama bulan Ramadhan, dengan tujuan supaya punya waktu lebih banyak untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla dan terkhusus bisa menghatamkan Al-quran secara berulang-ulang di bulan Ramadhan.

Tentu kebiasaan baik tersebut dilakukan juga oleh para ulama salaf lainnya, dengan kegiatan yang mungkin berbeda. Karena mereka tidak ingin merasakan kerugian yang besar di bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah azza wa jalla.

Maka ini sebagai nasihat dan penggugah jiwa kita, bahwa jangan sibukkan diri kita dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat selama bulan Ramadhan! Meskipun di bulan-bulan lainnya, kita pun diperintahkan untuk tetap meninggalkan kegiatan yang tidak bermanfaat. Maka di bulan Ramadhan perintah tersebut lebih ditekankan, agar kita bisa memaksimalkan waktu yang kita miliki untuk beribadah kepada Allah.

Di antara bukti baiknya seorang muslim adalah dia meninggalkan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Waktunya di isi hanya dengan hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Sedangkan tanda orang yang tidak baik Islamnya adalah sebaliknya.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
(HR. Tirmidzi, No.2317)

Yang namanya ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah. Lalu agar amal ibadah kita diterima oleh Allah, maka haruslah kita melakukannya dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu atau perasaan semata, karena agama Islam adalah agama dalil (ilmu).

Maka di bulan Syaban ini, segera kita memohon pertolongan kepada Allah, agar kita selalu dimudahkan untuk melakukan amalan sunnah dan sambutlah bulan Ramadhan dengan hati bahagia, penuh harapan kebaikan, dan rasa semangat untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah azza wa jalla.

Ada satu kisah yang berasal dari salah satu kawan semasa kecil Penulis, sebut saja si Fulan. Dia profesinya sebagai kuli bangunan, yang kita tahu kuli bangunan kerjanya cukup melelahkan meski pun upah yang didapatkan cukup besar. Dia menggeluti profesi ini dari masa dia lulus SMP, berarti sudah lebih 10 tahun dia menjalani profesinya. Ada pelajaran dari kisahnya tersebut yang bagi Penulis bisa dijadikan teladan untuk kita.

Yakni dia merupakan seorang kuli bangunan yang memiliki prinsip hidup yang sangat baik, dibandingkan dengan para kuli lainnya. Di saat bulan Ramadhan akan tiba, biasanya mereka semakin bersemangat untuk bekerja, dengan tujuan agar bisa mendapatkan banyak uang, untuk dibawanya nanti ketika mudik. Namun, berbeda dengan si Fulan. Dia ketika menjelang bulan Ramadhan, malah menghentikan pekerjaannya tersebut. Dia meminta izin kepada mandornya untuk pulang ke kampungnya. Dan tujuan dia izin pulang dan libur bekerja, itu bukan karena malas dan semisalnya. Namun, dia ingin di dalam bulan Ramadhan tidak tersibukkan dengan kerjaan yang membuatnya lalai dari beribadah kepada Allah, setidaknya dia bisa menjalankan ibadah puasanya dengan khusyu, tenang, dan semangat.

Coba kita perhatikan! Biasanya jika di bulan Ramadhan para kuli bangunan umumnya mereka puasa atau tidak? Jawabannya pasti tidak. Karena mereka merasa kelelahan, kehausan, dan semisalnya. Karena bekerja di bulan lainnya saja mereka merasa lemas, apalagi di bulan Ramadhan? Maka hal itulah yang membuat si Fulan rela menghentikan aktivitas pekerjaannya sejak menjelang bulan Ramadhan, agar bisa fokus merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah azza wa jalla di bulan Ramadhan, yang penuh dengan rahmat dan ampunanNya.

Jadi, sudah seharusnya kita juga mencoba mengambil keputusan yang membuat kita lebih mudah untuk beribadah kepada Allah, meskipun kita mendapatkan kerugian secara duniawi. Namun, yakinlah kerugian tersebut tidak akan sebanding dengan kemuliaan dan balasan pahala yang akan Allah berikan.

Semoga Allah selalu memberikan hidayahNya kepada kita dan semoga Allah selalu melembutkan hati kita untuk mendapatkan ilmu dan nasihat.

Mintalah kemudahan kepada Allah untuk beribadah! Karena hanya Allah yang mampu memberikan kemudahan. Dan mintalah kepada Allah untuk diberikan istiqamah dalam menjalankan syariatNya!

Karena perlu kita ingat, melakukan ibadah itu mudah namun, untuk istiqamah itu sangat susah.

اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yang mampu memalingkan hati, palingkanlah hati kami pada ketaatan beribadah kepadaMu!”
(HR. Muslim, No.2654)
_____
@Bojong Cideres – Majalengka, 15 Syaban 1439H/01 Mei 2018M.
Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaApa Itu Manhaj Salaf?
Artikel sesudahnyaKita Bertemu Untuk Berpisah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here