Beranda Belajar Islam Aqidah Apa Itu Manhaj Salaf?

Apa Itu Manhaj Salaf?

1250
0
BERBAGI

Apa Itu Manhaj Salaf?

A. Pengertian

1. Manhaj
Menurut bahasa adalah jalan yang lurus, jelas dan terang.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا 
“Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan (manhaj) yang terang.”
(Surat Al-Maidah: ayat 48)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan;
“Sahabat Ibnu Abbas berkata: maksudnya adalah jalan dan sunnah.”
(Tafsir At-Thabari, 6:271)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan;
“Ayat ini berisi informasi tentang berbagai umat yang berbeda-beda agamanya, dari sisi perbedaan syariat dalam hukum amaliah, tetapi sama dalam masalah tauhid.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 2:105)

Sedangkan menurut istilah, Manhaj adalah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran-pelajaran ilmiyyah, seperi kaidah-kaidah bahasa arab, ushul aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir. Dengan ilmu-ilmu tersebut pembelajaran ilmu Islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama sesuai pemahaman para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum.

2. Salaf
Menurut bahasa adalah yang terdahulu (nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama.
(Lisan Al-Arab, 6:331)

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

فَلَمَّاۤ اٰسَفُوْنَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنٰهُمْ اَجْمَعِيْنَ ۙ  فَجَعَلْنٰهُمْ سَلَفًا وَّمَثَلًا لِّلْاٰخِرِيْنَ
“Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Maka Kami jadikan mereka sebagai kaum terdahulu (salaf), dan pelajaran untuk orang-orang yang kemudian atau setelahnya.”
(Surat Az-Zukhruf: ayat 55-56)

Sedangkan menurut istilah, salaf adalah generasi pertama dan terbaik dari umat Islam, yang terdiri dari para Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin. Mereka adalah generasi yang dimuliakan oleh Allah azza wa jalla, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi Sahabat), kemudian orang-orang yang setelahnya mengiringi mereka (yaitu generasi Tabiin), kemudian orang-orang yang setelahnya mengiringi mereka (yaitu generasi Tabiut Tabiin).”
(HR. Imam Bukhari, no.2652)

Kata salaf berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para Sahabat radhiyallahu anhum. Adapun para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini, karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para Sahabat.
(Limadza, hlm.30)

Berkaitan dengan pengertian salaf, ahlussunnah wal jamaah juga dikatakan sebagai As-Salafiyyuun, karena mereka mengikuti manhaj salafush shalih dari kalangan Sahabat, Tabiin, dan Tabiut Tabiin. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka sepanjang hidupnya, maka mereka disebut Salafi, hal tersebut karena dinisbatkan pada kata salaf. Dan salaf bukanlah kelompok atau golongan seperti yang dipahami oleh sebagian orang, tetapi yang benar manhaj adalah sistem hidup dalam beraqidah, beribadah, berhukum, berakhlaq dan hal lainnya. Hal tersebut yang wajib diikuti oleh setiap orang yang beragama Islam. Jadi, pengertian salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.
(Mauqif Ahli As-Sunnah Wa Al-Jamaah Min Ahli Al-Ahwa Wa Al-Bida, 1:63-64)

B. Penjelasan

Makna manhaj secara ringkas adalah cara beragama. Manhaj merupakan sesuatu yang nantinya akan mengarahkan, dan membentuk cara beragama, aqidah, akhlaq dan ibadahnya seseorang.

Sehingga, ketika manhaj seseorang sesat dan bathil, maka kesesatan di dalam manhaj ini akan terbawa ke dalam aqidah dan ibadah orang tersebut.

Sebagai contoh;
• Ketika seseorang bermanhaj sufi, maka secara otomatis aqidah, akhlaq, dan ibadahnya pun sufi.
• Ketika seseorang bermanhaj jamaah tabligh, maka secara otomatis aqidah, akhlaq, dan ibadahnya pun jamaah tabligh.
• Ketika seseorang bermanhaj ikhwanul muslimin, maka secara otomatis aqidah, akhlaq, dan ibadahnya pun ikhwanul muslimin.
• Ketika seseorang bermanhaj jil (jaringan Islam liberal) maka secara otomatis aqidah, akhlaq, dan ibadahnya pun jil.
• Ketika seseorang bermanhaj  khawarij, maka secara otomatis aqidah, akhlaq, dan ibadahnya pun khawarij.

Jadi, manhaj adalah sesuatu yang akan menentukan benar ataukah salah cara beragamanya seseorang. Oleh karena itu, manhaj ada yang benar (haq) dan ada juga yang salah (bathil), sehingga wajib bagi kita untuk berpegang teguh dengan manhaj yang benar (haq), yaitu cara beragama (manhaj) Rasulullah, para Sahabatnya.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Sesungguhnya, Bani Israil telah terpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan terpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam Neraka, kecuali satu agama. Mereka (para Sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang selamat? Beliau menjawab: Siapa saja yang mengikutiku dan para Sahabatku.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2565. Syaikh Salim Ied Al-Hilaly menyatakan hadits ini hasan)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hambaNya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam dari pada memperoleh dua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam bisa tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah seorang hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (Al-Maghdhubi Alaihim), yaitu orang-orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya, seseorang akan selamat dari jebakan jalan orang yang sesat (Adh-Dhallin) yaitu orang-orang yang pemahamannya salah. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (Anamta Alaihim), yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman yang benar dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut jalan yang lurus (Shiratha Al-Mustaqim).”
(Ilamu Al-Muwaqqiin, 1:87)

Sehingga, orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj yang benar (haq), mereka itu adalah Ahlussunnah wal jamaah.

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly hafizhahullah menjelaskan;
“Adapun salafiyyah adalah penisbatan diri kepada kaum salaf. Ini merupakan penisbatan terpuji yang disandarkan kepada manhaj yang lurus dan bukanlah menciptakan sebuah madzhab yang baru ada.”
(Limadza, hlm.33)

Sedangkan, jika para ulama membahas dan menyebut kata salaf, maka yang dimaksud adalah salah satu di antara tiga golongan, yaitu: Para Sahabat Nabi, Tabiin, Tabiut Tabiin serta para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam, yaitu mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah dan berjuang memusnahkan bidah (perkara yang baru dalam masalah agama).
(Al-Wajiz, hlm.21)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Dan tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri padanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.”
(Majmu Fatawa, 4:149)

Maka sungguh sangat aneh, jika ada beberapa orang di zaman ini yang menganggap, bahwasanya salafiyyah adalah sebuah aliran baru yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah yang berusaha memberontak dari tatanan yang sudah ada dengan berbagai aksi penghancuran dan pengkafiran. Sehingga, jika mereka mendengar istilah salaf, salafi, salafiyyah, maka yang tergambar di benak mereka adalah kaum Wahabi yang suka mengacaukan ketentraman umat Islam dengan berbagai aksi penyerangan, tindakan makar dan tindakan tidak sopan lainnya. Pernyataan semacam ini menunjukkan, bahwa sebetulnya mereka itu tidak paham tentang sejarah munculnya istilah salaf, salafi atau salafiyyah. Dan sungguh tuduhan semacam ini adalah tuduhan yang sangat buruk!

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly hafizhahullah menjelaskan;
“Orang yang mengeluarkan pernyataan semacam ini atau yang turut menyebarkannya adalah orang yang tidak mengerti sejarah kalimat ini, baik menurut tinjauan makna, asal-usul dan perjalanan waktu yang hakikatnya tersambung dengan para salafush shalih. Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan para ulama pada masa terdahulu untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pemahaman para Sahabat radhiyallahu anhum dalam hal aqidah dan manhaj sebagai seorang salafi (pengikut salaf).”
(Limadza, hlm.34-35)

Allah azza wa jalla berfirman;

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَا لْاَنْصَارِ وَا لَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍ ۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ ذٰلِكَ الْـفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”
(Surat At-Taubah: ayat 100)

Pada ayat di atas, Allah memuji tiga golongan manusia yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan konsisten (istiqamah). Maka Muhajirin dan Anshar adalah generasi salafush shalih. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itulah mereka yang disebut sebagai salafi atau salafiyyah.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ
“Tanda keimanan adalah mencintai (kaum) Anshar dan tanda kemunafiqkan adalah membenci (kaum) Anshar.”
(HR. Imam Bukhari, no.16)

Maka dari itu, mulai saat ini jadilah seorang muslim yang mencintai Rasulullah dan para Sahabatnya, bukan malah membencinya! Agar keimanan yang sudah kita miliki, tidak berubah menjadi kemunafiqkan.

Di antara ciri khusus manhaj salaf yang membedakan dengan kelompok-kelompok lainnya, adalah;
1. Cara memahami Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan cara Rasulullah dan para Sahabatnya memahami, bukan dengan cara pemahaman pribadi, kelompok, atau organisasi lainnya.
2. Selalu mendahulukan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah dari pada akal, perasaan, mimpi, wangsit atau pendapat orang lain. Serta menjauhi perdebatan yang tercela, meskipun dalam keadaan benar.
3. Senantiasa menegakkan tauhid dan sunnah, menjauhi syirik dan bidah, serta meninggalkan hal yang tidak bermanfaat dan melakukan berbagai hal yang bermanfaat.
4. Selalu berusaha untuk taat kepada Allah dan tidak meremehkan maksiat atau dosa sekecil apa pun, serta berusaha untuk mengamalkan sunnah seringan apa pun dengan istiqamah.
5. Menjaga persaudaraan dan persatuan di atas kebenaran, bukan di atas kesesatan. Serta saling mengingatkan dan menasihati dari keburukan dan kesesatan.
6. Berusaha memuliakan orang yang berilmu dengan tidak berlebihan, dan mentaati para pemerintah muslim hanya dalam perkara yang tidak bertentangan dengan hukum Allah, dan tidak memberontak kepada pemimpin muslim yang adil maupun zhalim. Namun, berusaha menasihatinya secara sembunyi-sembunyi, tidak mengghibahi atau menggosipi, tidak menjelek-jelekkan, dan tidak menyebarkan aib serta keburukannya.
7. Berusaha untuk komitmen mengikuti semua kebiasaan baik dari generasi salaf secara totalitas, mulai dari cara belajar, beragama, beribadah, bermuamalah, berdebat, berpenampilan, beraktivitas dan hal-hal lainnya.

Dengan mengetahui berbagai macam ciri khusus dari manhaj salaf di atas, membuat penisbatan diri kita terhadap manhaj salaf itu tidak hanya di lisan atau di penampilan. Namun, kita bisa mengikuti cara beragama Islam sesuai dengan manhaj salaf secara totalitas. Inilah yang dikatakan sebagai salafi sejati.

Semoga Allah azza wa jalla selalu memberikan kemudahan untuk kita beribadah kepadaNya dengan mengikuti manhaj salaf secara istiqamah. Aamiin

Sebagai penutup, jika ada di antara para pembaca yang bertanya: Mengapa dalam suatu penjelasan harus dijelaskan secara bahasa dan istilah?

Maka Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Faidahnya adalah supaya kita mengetahui keterkaitan makna antara objek penamaan syariat dan objek penamaan lughawi (menurut bahasa). Sehingga akan tampak jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syariat tidaklah melenceng secara total dari sumber pemaknaan bahasanya. Bahkan sebenarnya ada keterkaitan satu sama lain. Oleh sebab itu, kalian jumpai para ahli fiqih atau ahli agama rahimahumullah, setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu, maka mereka pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian, sedangkan secara terminologi (istilah) adalah demikian. Hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagi kalian adanya keterkaitan antara makna lughawi dengan makna ishthilahi.”
(Syarh Ushul Min Ilmi Al-Ushul, hlm.38)
___
@Kota Angin Majalengka, Jawa Barat.
14 Jumadal Akhirah 1440H/19 Februari 2019M

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaINFORMASI JADWAL KAJIAN KHIYAAR TV
Artikel sesudahnyaMenyambut Ramadhan Di Bulan Syaban
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here