Beranda Belajar Islam Aqidah Mengenal Dan Menyikapi Hari Valentine

Mengenal Dan Menyikapi Hari Valentine

1163
0
BERBAGI

Mengenal Dan Menyikapi Hari Valentine

A. Pandangan Umum

Dalam situs website Wikipedia, terdapat sekilas sejarah hari valentine;

Hari raya ini sekarang diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk “valentines”. Simbol modern valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per-tahun (Berita liputan6.com). Hal tersebut membuat hari raya ini menjadi hari raya terbesar kedua setelah natal, di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanita yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Sebuah kencan pada hari valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu merupakan hari percintaan, bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih, valentine merupakan hari terbesar dalam soal percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Di Amerika Serikat, hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik “Happy Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun teman pria kepada teman prianya, dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda: Seorang pastor di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), seorang martir di provinsi Romawi Africa.

Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun, hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus (Ensiklopedi Katolik, Hari Raya Santo Valentinus). Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Churchdi Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus Santo-Santa yang asal usulnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun, pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Guru ilmu Gnostisisme yang berpengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: “Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil “penebusan dosa” (apolytrosis) dan “tempat pelaminan”.

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Dia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa
For this was sent on Seynt Valentyne’s day (Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus) When every foul cometh there to choose his mate(Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya)
Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine”. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London (First Valentine). Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai Santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa;
• Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), dia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis: “Dari Valentinusmu”.
• Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, Santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan dia mendapat petunjuk untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu valentine Inggris yang dia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”).

B. Pandangan Islam

Pada perayaan hari valentine terdapat sangat banyak pelanggaran nilai-nilai Islam, di antaranya;

1. Membuat hari raya baru dalam Islam.
Dalam agama Islam, hari raya besar umat islam itu cuma ada dua, dan tidak ada yang lainnya. Yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dahulu orang-orang Jahiliyyah mempunyai dua hari dalam setiap tahun untuk bermain-main. Setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau bersabda: Kalian dahulu mempunyai dua hari untuk bermain-main, sungguh Allah telah menggantinya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha.”
(HR. An-Nasai, no.1538)

Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الْأَنْصَارُ فِي يَوْمِ بُعَاثٍ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَبِمَزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدِ الْفِطْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Abu Bakar masuk ke dalam rumahku, sementara di sisiku ada dua anak gadis Anshar. Keduanya melantunkan nyanyian yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari raya Buats, dan mereka berdua bukanlah seorang penyanyi. Lalu Abu Bakar berkata: Apakah ada seruling setan di rumah Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Dan pada saat itu bertepatan hari raya Idul Fithri, hingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.”
(HR. Ibnu Hibban, no.1888)

Dalam riwayat yang lain, Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِدُفَّيْنِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُنَّ فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا
“Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam masuk ke tempatnya dan di sisinya ada dua anak perempuan yang sedang menabuh dua rebana, maka Abu Bakar pun membentak kedua budak tersebut. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Biarkan saja mereka! Sesungguhnya bagi setiap kaum memiliki hari raya.”
(HR. An-Nasai, no.1575)

2. Menyerupai kaum Nashrani (Kristen).
Jadi, hal mendasar yang harus kita ketahui dan pahami, bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dan hari raya untuk umat Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Karena ketika suatu kaum mengikuti hari raya dari hari raya kaum yang lainnya, atau mengikuti kebiasaan dari kaum lainnya, maka dia dihukumi sama seperti kaum tersebut.

Sehingga ketika kita selaku umat Islam sudah memiliki dua hari raya, lalu kita malah mengikuti juga hari raya umat lainnya, semisal umat Nashrani, yakni dengan ikut merayakan hari raya valentine, natal dan semisalnya, maka dengan demikian, kita akan termasuk juga sebagai umat Nashrani (Kristen). Waliyyadzubillah!

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, maka dia juga termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud, no.3512)

Maksud dari tasyabbuh pada hadits tersebut bersifat umum, siapa pun yang mengikuti kebiasaan yang menjadi ciri khas suatu kaum apa pun bentuknya, maka dia termasuk ke dalam golongan kaum tersebut. Dan sangat hina dan merugi jika kita selaku umat Islam, umat yang Allah muliakan namun, malah mengikuti umat yang sudah Allah hinakan dan binasakan. Maka dari itu, jadilah umat Islam yang tidak latah! Yang tidak asal mengikuti dan melakukan sesuatu, tanpa mencari tahu tentang hukum dari perbuatan tersebut sebelumnya. Karena agama Islam adalah agama dalil (ilmu), sehingga setiap hal yang berkaitan dengan Islam harus disertai dengan alasan yang sesuai dalil dari Al-Quran (firman Allah) dan As-Sunnah (sabda Rasulullah).

Jadi, agama Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati perayaan selain dari keduanya (Idul Fithri dan Idul Adha). Seperti hari valentine, natal, Yesus Kristus, hari ibu, hari Kartini, kelahiran Nabi, tahun baru hijriyah, tahun baru masehi, turunnya Al-Quran, Isra Miraj, Isa Al-Masih, hari buruh Nasional, dan berbagai hari raya lainnya yang disematkan atas nama Islam atau pun atas nama nasional. Sehingga kita selaku umat Islam tidak perlu ikut campur merayakan hari valentine, baik dengan melakukan ritualnya, mengucapkan kata selamat hari valentine, saling tukar kado atau hadiah lainnya, ikut menyebarluaskan informasi berkenaan hari raya tersebut, ataupun hal-hal lainnya yang berkaitan dengan hari valentine.

Seharusnya umat Islam merasa bahagia dengan agamanya (Islam) dan mencukupkan diri dengan pedoman yang sudah Islam ajarkan, yakni dengan merayakan dua hari perayaan Islam tersebut. Karena dua hari perayaan yang sudah dijelaskan oleh Rasulullah (Idul Fithri dan Idul Adha) adalah hari perayaan yang Allah berikan untuk kita selaku umat Islam, hari raya yang lebih baik dan lebih mulia dari pada hari perayaan selainnya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla menjelaskan tentang agama Islam;

اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agama kalian, maka sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu! Pada hari ini sudah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku cukupkan nikmatKu untuk kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”
(Surat Al-Maidah: ayat 3)

Islam adalah agama yang sudah sempurna syariatnya, sehingga tidak perlu direnovasi dan diubah, tidak perlu ditambah dan dikurangi. Cukup bagi kita sebagai umat Islam melakukan apa pun yang Allah perintahkan, dan mengikuti apa pun yang Rasulullah contohkan.

Para ulama pun menjelaskan;
“Dan perayaan Valentine Day’s termasuk bentuk tasyabbuh (menyerupai) terhadap orang-orang kafir, sebab ia berasal dari Paganisme Kristen, maka tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah taala dan hari akhir ikut merayakannya, menyetujuinya, atau pun mengucapkan selamat kepada pihak yang merayakannya. Bahkan wajib untuk meninggalkannya dan menjauhinya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah taala dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam, dan dalam rangka menjauhi sebab-sebab yang bisa mengantarkan pada kemurkaan Allah azza wa jalla dan adzabNya.”
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2:263)

Termasuk dampak buruk lainnya dari mengikuti perayaan hari valentine dan hari raya semisalnya adalah hal itu merupakan bukti loyalitas (ketaatan) kita terhadap keburukan dan kemaksiatan.

Padahal Allah azza wa jalla sudah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi wali-wali (orang-orang yang kalian bersikap loyal kepada mereka). Sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
(Surat Al-Maidah: ayat 51)

Para ulama juga menjelaskan;
“Dan apabila ternyata hari perayaan yang diada-adakan tersebut asalnya dari orang-orang kafir, maka bertambahlah dosanya, sebab dalam hal itu terdapat tasyabbuh (penyerupaan) dan merupakan satu bentuk sikap loyal kepada orang-orang kafir. Dan sungguh Allah subhanahu wa taala dalam kitabNya (Al-Quran) yang mulia telah melarang kaum mukminin untuk tasyabbuh dan loyal kepada orang-orang kafir.”
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2:263)

Selain itu, Allah telah melarang umat Islam dari tolong-menolong dalam keburukan. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan keburukan!”
(Surat Al-Maidah: ayat 2)

Ketahuilah wahai umat Islam! Perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar, jika kita tidak mengetahuinya. Mengucapkan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari Islam saja terlarang, semisal ucapan selamat hari valentine. Bagaimana lagi dengan mengikuti perayaan orang-orang yang bukan beragama Islam? Tentu hal tersebut lebih terlarang!

Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan namun, hal tersebut bisa menjadi masalah yang berat dan besar dalam masalah keyakinan (aqidah).

Sebagai contoh: Coba kita minta kepada orang-orang yang bukan beragama Islam, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat! Apakah mereka bakalan mau mengucapkannya? Tentu tidak! Karena mereka tahu konsekuensi dari mengucapkan dua kalimat tersebut, yakni mereka secara otomatis akan keluar dari agama mereka, lalu masuk ke dalam agama Islam.

Lebih parah lagi, jika ada di antara umat Islam yang ikut membantu perayaan valentine, misalnya dengan ikut membantu menyebarkan informasi yang berkaitan tentang ritual ibadah atau hari perayaan tersebut, seperti berupa sms, broadcast, spanduk, baliho, pamflet, dan media-media semisalnya. Padahal Allah azza wa jalla berfirman;

إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَا سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتٰنٌ عَظِيمٌ. يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِۦٓ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِينَ
“Ingatlah, ketika kalian menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya sedikit pun, dan kalian menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu adalah sesuatu yang besar. Dan mengapa kalian tidak berkata ketika mendengarnya: Tidak pantas bagi kita membicarakan ini, maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang besar. Allah memperingatkan kalian agar tidak kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kalian orang yang beriman.”
(Surat An-Nur: ayat 17)

Maka dari itu, umat Islam yang berprofesi sebagai pedagang atau pengrajin, tidak boleh menerima pesanan yang berkaitan dengan aktivitas ritual ibadah mereka, termasuk untuk hari perayaan mereka, karena itu pun termasuk ke dalam tolong-menolong dalam keburukan dan dosa yang sudah Allah larang.

Selain itu, umat Islam yang profesinya sebagai pekerja juga tidak boleh mematuhi peraturan instansi tempatnya bekerja atau pihak mana pun yang mewajibkannya untuk mengenakan atribut yang berkaitan dengan ritual ibadah, atau hari perayaan selain dari agama Islam, apa pun bentuknya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Bagi setiap muslim, wajib mendengar dan taat kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai atau pun hal yang tidak disukai, kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak perlu mendengarnya dan tidak boleh mentaatinya.”
(HR. Imam Bukhari no.7144)

Sahabat Ali radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengutus satu pasukan dan mengangkat seseorang sebagai amir (pemimpin) mereka, amir tersebut kemudian menyalakan api dan memberi perintah: Masuklah kalian ke dalam api ini! Sebagian mereka ingin memasukinya dan sebagian lainnya berkata: Bukankah kita sendiri ingin melarikan diri dari api (Neraka)? Akhirnya mereka melaporkan kasus tersebut kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau bersabda kepada mereka yang ingin memasukinya: Kalau mereka memasukinya, niscaya mereka tetap berada dalam api itu hingga Kiamat tiba. Dan beliau berkata kepada sebagian yang lain: Sama sekali tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.”
(HR. Imam Bukhari, no.6716)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dengan bermaksiat kepada Allah azza wa jalla.”
(HR. Ahmad, no.1041. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan hadits ini sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Maka sebab itu, meskipun kita tidak ikut merayakannya, kita juga tidak boleh ikut membantu orang-orang yang merayakannya dengan menyediakan atau menjual pernak perniknya, pakaiannya, makanannya semisal cokelat yang dihiasi logo-logoya, lalu menerima hadiah yang terkait dengannya, dan semua bentuk bantuan apa pun.

Sebagaimana para ulama telah memberikan peringatan untuk kita;
“Diharamkan atas seorang muslim untuk membantu perayaan Valentine Day dan perayaan-perayaan lainnya yang diharamkan, apakah membantunya dalam bentuk makanan, minuman, penjualan, pembelian, pembuatan, hadiah, pengiriman, pengumuman, atau bantuan apa pun juga tetap diharamkan, sebab hal itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, serta merupakan maksiat kepada Allah taala dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam. Allah jalla wa alaa berfirman: Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan kalian saling tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertaqwalah kalian kepada Allah! Sesungguhnya Allah sangat berat siksaNya. (Surat Al-Maidah: ayat 2).”
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2:263)

Sehingga, seharusnya kita lebih percaya diri dalam beraktivitas dan beramal. Karena Islam sudah mengajarkan dan menjelaskan semua permasalahan kepada umatnya. Maka teruslah berjuang dan berusaha untuk mempelajari semua ilmu Islam, agar kita memiliki bekal ilmu untuk beramal. Karena dengan ilmu kita bisa membedakan mana yang benar untuk kita kerjakan dan mana yang salah untuk kita tinggalkan. Sehingga, kita tidak mudah dibohongi, dibodohi dan ditipu oleh orang-orang yang bukan beragama Islam, termasuk di dalamnya adalah orang-orang munafiq.

Adanya realita saat ini, umat islam mudah dibohongi, dibodohi dan ditipu oleh orang-orang yang bukan beragama Islam, karena lemahnya iman kita, yang disebabkan lemah dan minimnya ilmu yang kita miliki, sehingga kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

3. Berduaan dengan yang bukan mahram.
Menyendiri dan berduaan dengan seseorang yang bukan mahram, merupakan bentuk kesalahan yang dampak buruknya sangat berbahaya bagi para pelakunya.

Mahram adalah orang yang haram dinikahi karena sebab tertentu.

Sangat banyak orang tua yang meremehkan masalah ini, sehingga dampaknya sudah terjadi di berbagai daerah, berupa tindak kriminalitas dan asusila, seperti zina, pelecehan seksual, dan kejadian semisalnya.

Di antara bentuk khalwat (berduaan) yang dilarang oleh syariat Islam adalah seperti tindakan seorang wanita yang menerima dan menyambut tamu laki-laki suaminya, atau kerabat laki-laki suaminya, atau kerabat laki-lakinya sendiri, serta duduk-duduk bersama mereka, dan berlemah-lembut dalam berbicara dan bersenda-gurau dengan mereka. Atau seperti seorang lelaki yang jalan bareng, berboncengan dengan seorang wanita yang bukan ibunya, bukan saudarinya dan bukan juga istrinya, apa pun alasan dan tujuannya, hal tersebut tetap tidak boleh dilakukan oleh siapa pun, dimana pun dan kapan pun.

Khalwat seperti itu jelas dilarang dan diharamkan oleh syariat Islam. Seorang muslim tidak boleh menyepelekan masalah seperti ini, dengan alasan percaya dengan teman laki-laki atau istrinya. Larangan tersebut disebabkan karena dampaknya jelas sangat buruk dan tidak terpuji.

Tidak mungkin ada orang yang rela atau setuju dengan tindakan semacam itu, kecuali orang yang telah sakit jiwanya, kehilangan rasa cemburu, serta kehilangan harga diri atau kehormatannya.

Kasus khalwat yang semisal, tapi dampaknya lebih berbahaya lagi adalah seperti seorang wanita yang melakukan perjalanan jauh (safar) sendirian, atau hanya dengan sopir, pembantu laki-laki dan orang-orang yang bukan mahramnya. Demikian juga, sama halnya jika seorang wanita pergi ke dokter seorang diri tanpa ditemani mahram atau suaminya, karena hal tersebut akan menyebabkan kerusakan dan keburukan yang sangat dahsyat bahayanya.

Sungguh Islam itu melarang semua tindak kriminal dan kemaksiatan, serta mencegah semua sebab yang bisa mengantarkan pada hal tersebut.

Ada satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa dampak dari mengabaikan penyebab terjadinya suatu yang terlarang, maka akan membuat kita terperosok ke dalam larangan tersebut.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali wanita itu disertai mahramnya! Dan seorang wanita juga tidak boleh bepergian sendirian, kecuali ditemani oleh mahramnya. Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki dan bertanya: Ya Rasulullah, sesungguhnya istriku hendak menunaikan ibadah haji, sedangkan aku ditugaskan pergi berperang ke sana dan ke situ? Beliau menjawab: Pergilah kamu untuk berhaji bersama istrimu!”
(HR. Imam Muslim, no.2391)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali ketiganya adalah setan.”
(HR. At-Tirmidzi, no.1091)

Larangan tersebut disebabkan karena khalwatnya seorang laki-laki dengan seorang wanita yang bukan mahram dan setan ikut bersama mereka, maka setan akan membawa dan menggiring mereka berdua pada kebinasaan, serta menggiring mereka pada perbuatan dosa. Karena pada saat mereka berduaan, kesempatan untuk berbuat dosa, dan melakukan berbagai maksiat sangat terbuka lebar.

Khalwat itu akan membantu dan memicu birahi manusia untuk bangkit. Maka dari itu, perbuatan berkhalwat atau berduaan dengan orang yang bukan mahram sangat dilarang oleh Allah dan RasulNya.

Itulah alasan Islam memerintahkan kepada para lelaki yang ingin melihat (nazhar) sosok wanita yang ingin dinikahinya dengan disertai oleh mahramnya, misal berupa ibu, bibi, atau saudari dari si wanita tersebut. Hal itu disebabkan karena lelaki yang sedang melamar tersebut belum sah menjadi suami baginya, meski pun niat yang tertanam di hati mereka adalah ingin menikah. Karena dalam keadaan seperti ini, masing-masing di antara mereka berdua masih berstatus sebagai orang asing.

Selain khalwat, ternyata ada dampak kemaksiatan lainnya jika seseorang berduaan dengan yang bukan mahram, yaitu akan terjadinya sentuhan yang tidak halal, misal tangan dengan tangan, atau pun semisalnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak (paku) dari besi, sungguh itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”
(HR. At-Thabrani, Mujam Al-Kabir 20:211. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Tidak boleh menyentuh kulit wanita yang bukan mahram tanpa (ada alasan) darurat, seperti berobat dan keadaan semisalnya.”
(Syarh Shahih Muslim, 13:10)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda;

إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ
“Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita.”
(HR. An-Nasai, no.4110)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang sudah dijamin masuk Surga, beliau tidak berani dan tidak mau menyentuh wanita yang bukan mahram dan istrinya, tapi masa kita yang belum tentu masuk Surga, berani menyentuh wanita yang bukan mahram dan istri kita?

Mari kita buktikan rasa cinta kita kepada Allah dan Rasulullah dengan sikap bukan hanya dengan lisan!

Sebagai catatan: Bahwa larangan menyentuh tersebut berlaku untuk laki-laki dan wanita.

4. Menghadiri perayaan orang kafir.
Allah azza wa jalla telah menjelaskan sifat orang-orang beriman. Salah satu sifat mereka adalah mereka tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik (orang yang menyekutukan Allah). Sehingga tidak boleh bagi umat Islam merayakan perayaan agama lain, seperti valentine, natal dan hari perayaan semisalnya.

Allah azza wa jalla menjelaskan sifat-sifat orang yang beriman;

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ ۙ وَ اِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا
“Dan mereka adalah orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah (bermanfaat), mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.”
(Surat Al-Furqan: ayat 72)

Sehingga, umat Islam harus bisa menjaga kemuliaan dirinya, yakni dengan tidak ikut merayakan Valentine’s Day, karena ikut merayakan dan meramaikannya bukanlah termasuk ciri dari sifat orang yang beriman. Karena sudah sangat jelas, bahwa hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

5. Mencintai orang kafir.
Ketika seorang muslim ikut merayakan atau meramaikan hari valentine, atau hari perayaan lainnya yang bukan berasal dari Islam, maka hal tersebut sebagai bukti dia mencintai orang-orang kafir.

Bukankah kita selaku umat Islam ingin masuk ke dalam SurgaNya Allah? Dan SurgaNya Allah hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang beriman, dan orang-orang kafir tidak akan bisa memasukinya, karena tempatnya mereka adalah di NerakaNya Allah. Sedangkan di akhirat, seseorang akan bersama orang yang dicintainya. Jika kita sebagai umat Islam namun, mencintai orang kafir, maka kita pun akan ikut masuk ke dalam Neraka bersama mereka. Waliyyadzubillah!

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ. لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ. وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan, mereka mempunyai tikar tidur dari api Neraka dan di atas mereka ada selimut (api Neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya. (Surat Al-Araf: ayat 40-42)

Sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang hari Kiamat. Dia bertanya: Kapan terjadinya hari Kiamat? Lalu Beliau balik bertanya: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Orang itu menjawab: Tidak ada. Kecuali, aku mencintai Allah dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam. Maka beliau berkata: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai. Aku (Anas) berkata: Kami belum pernah bergembira atas sesuatu, seperti gembiranya kami dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai. Selanjutnya aku berkata: Maka aku mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan aku berharap bisa berkumpul bersama mereka disebabkan kecintaanku terhadap mereka, meski pun aku tidak memiliki amal seperti amal mereka.”
(HR. Imam Bukhari, no.3412)

Maka dari, perhatikanlah siapa sosok yang kita cintai! Cintailah Rasulullah, para Sahabatnya dan orang-orang shalih yang sudah Allah wafatkan di atas kebaikan dan keshalihan, agar kelak kita pun bisa berkumpul bersama mereka di SurgaNya Allah, Aamiin!

C. Alasan Tidak Boleh Merayakan Hari Valentine

1. Mengandung zina.
Sebagian orang yang kurang ilmu dan iman, menjadikan momen Valentine Day sebagai sarana zina. Mereka berusaha membungkus perbuatan zina dengan berbagai cara dan istilah, salah satunya melalui ritual hari valentine. Karena di dalamnya mengandung sangat banyak perbuatan zina, mulai dari zina mata, zina pipi, zina mulut, zina tangan, hingga zina kemaluan. Dan semua itu dibungkus dalam satu tipuan setan yang disebut dengan hari “Kasih Sayang”, yang pada hakikatnya itu semua menjadi sebab datangnya murka Allah azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, zina jiwa adalah mengkhayal, dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.6122)

Maka sebab itu, Allah azza wa jalla telah melarang semua jalan dan sarana yang dapat mengantarkan seseorang pada zina, sebagaimana Allah berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina! Karena zina merupakan perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(Surat Al-Isra: ayat 32)

Mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukannya?

Selain itu ternyata momen valentine dijadikan juga oleh beberapa oknum untuk meraup banyak keuntungan dunia, seperti yang dilakukan oleh sebagian pihak yang menjual atau mempromosikan produk-produk cokelat, bunga, alat kontrasepsi dan semisalnya. Sehingga wajar jika kita juga bertanya-tanya, tentang keberadaan pihak-pihak tersebut, yang sebagiannya merupakan perusahaan asing yang ada di negeri Indonesia, apakah tujuan atau misinya berada di Indonesia hanya untuk berdagang atau sekaligus ingin menghancurkan rakyat Indonesia?

Ingat, Allah azza wa jalla berfirman;

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu tersebar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.”
(Surat An-Nur: ayat 19)

Maka dari, sadarlah wahai saudaraku! Segencar apa pun usaha kalian untuk menyesatkan umat Islam, ingat ada balasan dari Allah untuk kalian, dan balasan Allah sangat dahsyat dan pedih!

Hanya kepada Allah azza wa jalla kita berlindung dan memohon pertolongan.

2. Perbuatan sia-sia.
Allah azza wa jalla berfirman;

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا. اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْۤا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan (musafir). Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros! Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar (kufur) terhadap Rabbnya.”
(Surat Al-Isra: ayat 27)

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu menjelaskan;

اَلتَّبْذِيرُ: اَلْإِنْفَاقُ فِي غَيْرِ حَقٍّ
“Pemborosan adalah membelanjakan harta pada jalan yang tidak benar.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 5:69)

Imam Qatadah rahimahullah juga menjelaskan;

التَّبْذِيرُ: النَّفَقَةُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَفِي غَيْرِ الْحَقِّ وَفِي الْفَسَادِ
“Pemborosan adalah pengeluaran harta dalam bermaksiat kepada Allah taala, pada jalan yang tidak benar, dan pada kerusakan.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 5:69)

Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Sesungguhnya termasuk tanda dari baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2239)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan;
“Hadits tersebut mengandung makna, bahwa di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, baik berupa perkataan atau perbuatan.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 1:288)

Saudara-saudariku, tidak ada cinta yang indah kecuali cinta yang tumbuh dari pernikahan. Sebesar apa pun cinta kita terhadap seseorang, itu tidak akan bermakna jika tidak dibuktikan dengan pernikahan, cinta itu tidak akan pernah terobati kecuali dengan menikah.

Karena memang cinta terhadap manusia hanya bisa disembuhkan oleh satu jenis obat, yaitu menikah.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
“Aku belum pernah melihat solusi (obat) untuk dua orang yang saling jatuh cinta (kasmaran), selain dengan menikah.”
(HR. Ibnu Majah, no.1847, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Para ulama salafush shalih sangat menganjurkan untuk menikah dan mereka benci hidup membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri.

Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallaahu anhu pernah berkata;
“Seandainya aku tahu bahwa ajal usiaku tinggal 10 hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah. Aku ingin pada malam-malam yang tersisa bersama seorang istri yang tidak berpisah dariku (selalu menemaniku).”
(Mushannaf Abdurrazzaq, 6:170)

Untuk teman-teman yang ingin memulai proses pernikahannya dengan konsep Islam, awal proses mencari jodoh, hingga penyelenggaraan resepsi pernikahannya, silakan bisa baca dan pelajari juga tulisan yang ada di website khiyaar.com, dengan judul: Rute Menjemput Jodoh dan Pesta Pernikahan Islami.

Teman-teman juga bisa beli buku Penulis yang berjudul: Saatnya Untuk Menikah. Buku tersebut sudah beredar dan tersebar di berbagai toko buku Islam yang ada di Indonesia. Atau bisa beli di Khiyaar Store, unit usaha milik media dakwah Khiyaar TV.

Maka dari itu, masih sangat banyak ibadah wajib yang masih kita lalaikan dan tinggalkan. Masih sangat banyak amalan sunnah yang belum kita ketahui dan belum kita biasakan. Selain itu, masih sangat banyak juga ilmu Islam yang belum kita ketahui dan pelajari. Sehingga jangan biarkan waktu dalam sehari pun yang Allah berikan untuk kita dibiarkan tanpa adanya ibadah yang kita lakukan, amalan sunnah yang kita kerjakan dan ilmu yang kita amalkan.

Sungguh sangat merugi, jika hidup yang singkat ini diisi hanya dengan maksiat. Sungguh sangat hina hidup kita selaku manusia biasa yang hanya dihiasi dengan dosa.

Mari kita sadar, sebanyak apa pun dosa yang sudah kita lakukan, sebesar apa pun kesalahan yang sudah kita kerjakan, pintu ampunan Allah selalu terbuka untuk hambaNya yang mau meminta ampunanNya dan bertaubat kepadaNya!

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk hambaNya yang sedang jatuh cinta untuk segera menikah dengan pasangan hidup yang baik agama dan akhlaqnya.

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan kehidupan kita bersama keluarga kita menjadi kehidupan yang sakiinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin
___
@Kota Angin-Majalengka, Jawa Barat.
30 Jumadal Ulaa 1440H/04 Februari 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaApa Itu Kursi Allah?
Artikel sesudahnyaMAU JADI MUJAHID SEPERTI PARA SAHABAT NABI?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here