Beranda Belajar Islam Aqidah Allah Ada Di Mana?

Allah Ada Di Mana?

1125
0
BERBAGI

Allah Ada Di Mana?

Sebuah polemik yang sangat berkaitan dengan akidah Islam namun, realitanya masih sangat banyak umat Islam yang belum bisa meyakini tentang keberadaan Allah azza wa jalla dengan baik dan benar.

Tidak sedikit, banyak umat Islam termasuk kita, yang masih terkecoh dan tertipu oleh penjelasan ilmu akidah yang berkaitan dengan keberadaan Allah, hanya karena retorika dan logisnya sebuah penjelasan tersebut.

Ketahuilah saudara-saudariku, bahwa benarnya suatu penjelasan ilmu itu, jika sesuai dengan dalil yang berasal dari Al-quran (firman Allah) dan As-sunnah (sabda Rasulullah). Dan cara memahami kedua sumber ilmu Islam tersebut yang benar adalah dengan mengikuti cara Rasulullah dan para Sahabat dalam memahaminya.

Imam Ahmad bin Abdul Halim Al-harani berkata:
“Sebagian ulama besar Syafiiyyah mengatakan, bahwa dalam Al-quran terdapat 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian, di atas seluruh makhlukNya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal tersebut.”
(Majmu Al-fatawa, 5;121)

A. CARA MEMAHAMI DALIL

Secara ringkas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah telah menjelaskan kaidah-kaidah dalam memahami dan menafsirkan Al-quran, di antaranya:
– Menafsirkan Al-quran dengan Al-quran.
– Menafsirkan Al-quran dengan As-sunnah.
– Menafsirkan Al-quran dengan perkataan para Sahabat Nabi.
– Menafsirkan Al-quran dengan perkataan para Tabiin.
– Menafsirkan Al-quran dengan bahasa Al-quran dan As-sunnah, atau keumuman bahasa Arab.
(Tafsir Al-quran Al-azhim, Hlm.4-5)

Allah azza wa jalla berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Maka jika telah datang kepada kalian petunjuk dariKu, lalu barang siapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan sesat dan dia tidak akan celaka. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
(Surat Thaha, Ayat 123-124)

Allah juga berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
“Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan malah mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, maka akan Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya tersebut, dan Kami masukkan ia ke dalam Neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.”
(Surat An-nisa, Ayat 115)

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan, pejabat, pemerintah) di antara kalian! Kemudian, jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-quran) dan Rasul (As-sunnah), jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat! Yang demikian itu, lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.”
(Surat An-nisa, Ayat 59)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Al-quran dan As-sunnah.”
(HR. Malik, 2;899. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini sanadnya hasan, Takhrij Misykat Al-mashabih, No.184)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi Sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi Tabiin), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi Tabiut Tabiin).”
(HR. Bukhari, No.2652)

Nabi juga bersabda:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Sesungguhnya, Bani Israil telah terpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan terpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam Neraka, kecuali satu agama. Mereka (para Sahabat) bertanya; siapakah mereka, wahai Rasulullah? Beliau menjawab; siapa saja yang mengikutiku dan para Sahabatku.”
(HR. Tirmidzi, No.2565. Syaikh Salim Ied Al-hilali menyatakan hadits ini hasan, Nashhu Al-ummah, Hlm.24)

Dari berbagai penjelasan di atas, sudah sangat jelas dan nyata, bahwa sangat terlarang dan tidak layak bagi seorang muslim berani menentang, menolak dan berpaling dari wahyu Allah, baik berasal dari Al-quran ataupun As-sunnah. Karena Allah azza wa jalla memberikan akal terhadap manusia, itu untuk menerima dan mengikuti dalil, bukan untuk menolak dan mengingkari dalil.

B. ALLAH MENJELASKAN KEBERADAANNYA

Allah azza wa jalla berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
“Allah yang maha pengasih bersemayam di atas Arsy.”
(Surat Thaha, Ayat 5)

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَالْاَمْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
“Sungguh, Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dia ciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk terhadap perintahNya. Ingatlah, segala penciptaan dan urusan menjadi hakNya! Maha suci Allah, Rabb seluruh alam.”
(Surat Al-araf, Ayat 54)

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ ۗ مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖ ۗ ذٰ لِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat (pertolongan), kecuali setelah ada izinNya. Itulah Allah, Rabb kalian, maka sembahlah Dia! Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?”
(Surat Yunus, Ayat 3)

اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ
“Allah yang meninggikan langit tanpa tiang, seperti yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhlukNya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya), agar kalian yakin akan pertemuan dengan Rabb kalian.”
(Surat Ar-radu, Ayat 2)

اَلَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۚ اَلرَّحْمٰنُ فَسْئَـلْ بِهٖ خَبِيْرًا
“Dia yang menciptakan langit dan bumi, dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Allah yang maha pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad)!”
(Surat Al-furqan, Ayat 59)

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍ ۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ
“Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Bagi kalian tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Allah. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?”
(Surat As-sajdah, Ayat 4)

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
“Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui sesuatu yang masuk ke dalam bumi dan sesuatu yang keluar dari dalamnya, sesuatu yang turun dari langit dan sesuatu yang naik ke sana. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah maha melihat setiap yang kalian kerjakan.”
(Surat Al-hadid, Ayat 4)

بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيْهِ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
“Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadapanNya. Allah maha perkasa, maha bijaksana.”
(Surat An-nisa, Ayat 158)

تَعْرُجُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَ الرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍ ۚ
“Para Malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepadaNya dalam sehari, setara dengan 50.000 tahun.”
(Surat Al-maarij, Ayat 4)

ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِيْ السَّمَآءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَا هِيَ تَمُوْرُ ۙ
“Sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kalian ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”
(Surat Al-mulk, Ayat 16)

اَمْ اَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يُّرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۗ فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ
“Atau sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepada kalian? Namun, kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu.”
(Surat Al-mulk, Ayat 17)

يَخَافُوْنَ رَبَّهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Mereka takut terhadap Rabb mereka yang (berkuasa, berada) di atas mereka dan melaksanakan sesuatu yang diperintahkan (kepada mereka).”
(Surat An-nahl, Ayat 50)

C. RASULULLAH MENJELASKAN KEBERADAAN ALLAH

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي
“Ketika Allah menetapkan penciptaan makhluk, Dia menulis di dalam KitabNya (Al-lauh Al-mahfuzh), yang berada bersamaNya di atas Arsy (yang isinya); Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu.”
(HR. Bukhari, No.2955)

Muawiyah bin Al-Hakam As-sulami berkata:

بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتِهِمْ قَالَ وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ قَالَ ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ قَالَ قُلْتُ وَمِنَّا رِجَالٌ يَخُطُّونَ قَالَ كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ قَالَ وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
“Ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum bersin. Lalu aku mengucapkan: Yarhamukallah (semoga Allah memberimu rahmat). Maka seluruh jamaah menujukan pandangannya kepadaku. Aku berkata; aduh, celakalah ibunya! Mengapa kalian memelototiku? Mereka bahkan menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam, tetapi aku pun telah diam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, aku berkata; ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya dari pada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul dan tidak memakiku. Beliau bersabda: Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al-quran, atau sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Aku berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya aku dekat dengan masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan agama Islam, sedangkan di antara kita ada beberapa laki-laki yang mendatangi dukun. Beliau bersabda; janganlah kamu mendatangi mereka! Aku berkata; dan di antara kita ada beberapa laki-laki yang bertathayyur (berfirasat sial). Beliau bersabda: Itu adalah rasa waswas yang mereka dapatkan dalam dada mereka yang seringkali menghalangi mereka (untuk melakukan sesuatu), maka janganlah menghalang-halangi mereka! Ibnu Shabbah berkata dengan redaksi; maka jangan menghalangi kalian! Aku berkata; di antara kami adalah beberapa orang yang menuliskan garis hidup. Beliau menjawab; dahulu salah seorang Nabi menuliskan garis hidup, maka barang siapa yang bersesuaian garis hidupnya, maka itulah (yang tepat, maksudnya seorang Nabi boleh menggambarkan masa yang akan datang). Aku berkata lagi; dahulu aku mempunyai budak wanita yang menggembala kambing di depan gunung Uhud dan Al-jawwaniyah. Pada suatu hari aku memeriksanya, ternyata seekor serigala telah membawa seekor kambing dari gembalaannya. Aku adalah laki-laki biasa dari keturunan bani Adam yang bisa marah sebagaimana mereka juga bisa marah. Tetapi aku menamparnya sekali. Lalu aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan beliau anggap tamparan itu adalah masalah besar. Aku berkata; (untuk menebus kesalahanku), tidakkah lebih baik aku memerdekakannya? Beliau bersabda; bawalah dia kepadaku! Lalu aku membawanya menghadap beliau. Lalu beliau bertanya; di manakah Allah? Budak itu menjawab; di langit. Beliau bertanya; siapakah aku? Dia menjawab; anda adalah utusan Allah. Beliau bersabda; bebaskanlah dia! Karena dia adalah seorang wanita yang beriman.”
(HR. Muslim, No.836)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِابْنَيْ الْخَالَةِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَيَحْيَى بْنِ زَكَرِيَّاءَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمَا فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قَالَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيسَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا). ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلَالِ قَالَ فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتْ فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ خَمْسِينَ صَلَاةً قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ قَالَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ يَا رَبِّ خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ حَطَّ عَنِّي خَمْسًا قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ قَالَ فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً قَالَ فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ
“Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya. Beliau bersabda lagi; maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis. Beliau bersabda lagi; kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mengerjakan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku lalu keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu. Dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata; kamu telah memilih fitrah. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan; siapakah kamu? Jibril menjawab; Jibril. Ditanyakan lagi; siapa yang bersamamu? Jibril menjawab; Muhammad. Jibril ditanya lagi; apakah dia telah diutus? Jibril menjawab; ya, dia telah diutus. Maka dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi; siapakah kamu? Jibril menjawab; Jibril. Jibril ditanya lagi; siapa yang bersamamu? Jibril menjawab; Muhammad. Jibril ditanya lagi; apakah dia telah diutus? Jibril menjawab; Ya, dia telah diutus. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam, dan Nabi Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik menuju langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan: Siapakah kamu? Jibril menjawab; Jibril. Jibril ditanya lagi; siapa yang bersamamu? Jibril menjawab; Muhammad. Jibril ditanya lagi; apakah dia telah diutus? Jibril menjawab; ya, dia telah diutus. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik menuju langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi; siapakah kamu? Jibril menjawab; Jibril. Jibril ditanya lagi; siapa yang bersamamu? Jibril menjawab; Muhammad. Jibril ditanya lagi; apakah dia telah diutus? Jibril menjawab; Ya, dia telah diutus. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah berfirman; (dan Kami telah menganggkat ke tempat yang tinggi darajatnya). Aku dibawa lagi naik menuju langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi; Siapakah kamu? Jibril menjawab; Jibril. Jibril ditanya lagi; siapa yang bersamamu? Jibril menjawab; Muhammad. Jibril ditanya lagi; apakah dia telah diutus? Jibril menjawab; ya, dia telah diutus. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun, dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik menuju langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi; siapakah kamu? Jibril menjawab; Jibril. Jibril ditanya lagi; siapakah bersamamu? Jibril menjawab; Muhammad. Jibril ditanya lagi; apakah dia telah diutus? Jibril menjawab; Ya, dia telah diutus. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik menuju langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi; Siapakah kamu? Jibril menjawabnya; Jibril. Jibril ditanya lagi; siapa yang bersamamu? Jibril menjawab; Muhammad. Jibril ditanya lagi; apakah dia telah diutus? Jibril menjawab; Ya, dia telah diutus. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan 70.000 Malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan. Beliau bersabda: Ketika beliau menaikinya dengan perintah Allah, maka sidratul muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya, karena saking indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada beliau dengan mewajibkan shalat 50 waktu sehari-semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa alaihissalam, dia bertanya; apakah yang telah difardhukan oleh Rabbmu kepada umatmu? Beliau bersabda; shalat 50 waktu. Nabi Musa berkata; Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya! Aku pernah mencoba Bani Israil dan menguji mereka. Beliau bersabda; aku kembali kepada Allah, seraya berkata; wahai Rabbku, berilah keringanan terhadap umatku! Lalu Allah subhanahu wa taala. mengurangi lima waktu shalat dari beliau. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata; Allah telah mengurangi lima waktu shalat dariku. Nabi Musa berkata; umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan lagi! Beliau bersabda; aku masih saja bolak-balik antara Rabbku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman; wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardhukan 5 waktu shalat sehari-semalam. Setiap shalat fardhu dilipat-gandakan dengan 10 kali lipat. Maka itulah 50 shalat fardhu. Begitu juga barang siapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, pasti akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat 10 kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, maka tidak dicatat baginya sesuatu apapun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata; kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan! Aku menjawab: Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Rabbku, sehingga menyebabkanku malu terhadapNya.”
(HR. Muslim, No.234)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita (Allah) tabaaraka wa taala turun di setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, dan berfirman; siapa pun yang berdoa kepadaKu, pasti Aku kabulkan. Dan siapa pun yang meminta kepadaKu, pasti Aku penuhi. Dan siapa pun yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.”
(HR. Bukhari, No.1077)

D. ULAMA MENJELASKAN KEBERADAAN ALLAH

Mujahid dari ulama kalangan Tabiin mentafsirkan makna istawa dengan tinggi.
(Al-arsy, 2;9)

Jadi maksud dari makna ayat Al-quran, surat Thaha, Ayat 5 adalah Allah yang maha pemurah berada tinggi di atas Arsy.

• Pertanyaan:
Apakah boleh istawa (tinggi) ditafsirkan dengan istaula (menguasai)?

• Jawaban:
Tidak boleh dan itu tafsir yang salah. Karena menyelisihi tafsir para ulama, seperti yang telah disebutkan di atas. Dan tafsir tersebut (memahami makna istawa dengan istaula) juga tidak dikenal oleh para ahli bahasa Arab.

Imam Ibnul Arabi rahimahullah merupakan seorang ulama dan ahli bahasa Arab, beliau pernah berdialog dengan seorang tokoh Liberal dan juga penyesat umat dari kalangan Mutazilah, yaitu Ibnu Abi Duad. Ibnu Abi Duad pernah meminta bantuan kepada Ibnul Arabi untuk mencarikan referensi dalam bahasa Arab tentang makna istawa itu istaula. Maka, Ibnul Arabi menjawab:
“Demi Allah, itu tidak ada dan tidak mungkin aku mendapatinya.”
(Al-arsy, 2;13-14)

• Pertanyaan:
Jika ada pertanyaan: Kalau Allah itu istawa (tinggi) di atas Arsy, berarti Allah butuh terhadap Arsy?

• Jawaban:
Allah tidak butuh terhadap Arsy serta segala sesuatu yang ada di bawahnya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
“Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
(Surat Al-ankabut, Ayat 6)

Imam Ath-thahawi rahimahullah berkata:
“Allah menciptakan Arsy dan Dia tinggi di atas Arsy, hal tersebut bukan karena Allah butuh terhadap Arsy. Namun, Allah memiliki hikmah (kebijaksanaan) yang mengharuskan penciptaan Arsy. Adapun sesuatu yang ada di atas, maka itu tidak selalu yang di bawahnya meliputi sesuatu yang di atas, atau tidak selalu yang di atas butuh terhadap sesuatu yang di bawah. Lihatlah pada langit yang berada di atas bumi, ia tidak butuh kepada bumi yang berada di bawahnya!”
(Syarh Al-aqidah Ath-thahawiyyah, Hlm.258)

Imam Abu Hanifah rahimahullah menjelaskan:
“Barang siapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka dia telah kafir.”
(Itsbat Shifat Al-uluw, Hlm.116-117)

Abu Muthi Al-hakam bin Abdillah Al-balkhiy berkata:
“Aku bertanya kepada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan; aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi? Lalu Imam Abu Hanifah mengatakan; orang tersebut telah kafir karena Allah taala sendiri berfirman; Allah menetap tinggi di atas Arsy (Surat Thaha, Ayat 5). Dan ArsyNya berada di atas langit. Orang tersebut mengatakan lagi; aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas Arsy. Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah Arsy, di langit ataukah di bumi? Abu Hanifah lalu menjelaskan; jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”
(Al-uluw Li Al-aliyyi Al-ghaffar, Hlm.135-136)

Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas rahimahullah juga meyakini Allah berada di atas langit. Beliau menyatakan:
“Allah berada di atas langit. Sedangkan, ilmuNya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmuNya.”
(Al-uluw Li Al-aliyyi Al-ghaffar, Hlm.138)

Dari Yahya bin Yahya At-taimi rahimahullah berkata:
“Suatu waktu ada yang mendatangi Imam Malik, lalu dia berkata; wahai Abu Abdillah (Imam Malik), Allah taala berfirman; Allah menetap tinggi di atas Arsy. (Surat Thaha, Ayat 5). Lalu bagaimana Allah beristiwa (menetap tinggi)? Dikatakan; aku tidak pernah melihat Imam Malik bersikap (marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun tegang, dan orang tersebut pun terdiam. Kecemasan (marah) beliau pun pudar, lalu beliau menjawab; hakikat dari istiwa tidak mungkin bisa digambarkan namun, istiwa Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa adalah suatu kewajiban. Dan bertanya mengenai hakikat istiwa adalah bidah. Aku khawatir kamu termasuk orang sesat. Kemudian orang tersebut diperintahkan untuk keluar.”
(Al-uluw Li Al-aliyyi Al-ghaffar, Hlm.378)

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii rahimahullah, ulama yang menjadi rujukan mayoritas umat Islam di Indonesia dalam masalah fikih, beliau meyakini juga Allah berada di atas langit. Beliau berkata:
“Perkataan di dalam As-sunnah (hadits Rasulullah) yang aku dan pengikutku serta para ulama hadits meyakininya dan hal ini juga diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya; kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar, kecuali hanya Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sesungguhnya Allah berada di atas ArsyNya, yang berada di atas langit namun, meskipun demikian Allah pun dekat dengan makhlukNya sesuai yang Dia kehendaki. Allah taala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendakNya.”
(Al-uluw Li Al-aliyyi Al-ghaffar, Hlm.165)

Selain itu, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga meyakini Allah bukan berada di mana-mana namun, berada di atas Arsy.

Imam Adz-dzahabi rahimahullah bercerita, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya:
“Apa makna dari firman Allah; dan Allah bersama kalian di mana saja kalian berada (Surat Al-Hadid, Ayat 4). Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah keempatnya (Surat Al-mujadilah, Ayat 7). Yang dimaksud dengan kebersamaanNya tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui segala hal yang ghaib (tersembunyi) dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, yang nampak dan yang tersembunyi. Namun, Rabb kita tetap menetap tinggi di atas Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. KursiNya meliputi langit dan bumi.”
(Al-uluw Li Al-aliyyi Al-ghaffar, Hlm.176)

Yusuf bin Musa Al-Ghadadiy juga berkata, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya:
“Apakah Allah azza wa jalla berada di atas langit ke tujuh, di atas ArsyNya, terpisah dari makhlukNya, sedangkan kemampuan dan ilmuNya di setiap tempat (di mana-mana)? Imam Ahmad menjawab; betul. Allah berada di atas ArsyNya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmuNya.”
(Itsbat Shifat Al-uluw, Hlm.116)

Abu Bakr Al-atsram berkata, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bercerita, bahwa Ibnul Mubarak rahimahumullah ketika ada yang bertanya kepadanya:
“Bagaimana kami bisa mengetahui Rabb kami? Lalu Ibnul Mubarak menjawab; Allah di atas langit yang tujuh, di atas ArsyNya. Imam Ahmad lalu mengatakan; begitu juga keyakinan kami.”
(Itsbat Shifat Al-uluw, Hlm.118)

Ishaq bin Rahuyyah manyatakan, bahwa seluruh ulama Ahlussunnah bersepakat tentang keberadaan Allah azza wa jalla di atas Arsy. Beliau berkata:
“Allah taala berfirman; Allah menetap tinggi di atas Arsy (Surat Thaha, Ayat 5). Para ulama sepakat (berijma), bahwa Allah berada di atas Arsy dan beristiwa (menetap tinggi) di atasNya. Namun, Allah maha mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawahNya, sampai pun di bawah lapis bumi yang ketujuh.”
(Al-uluw Li Al-aliyyi Al-ghaffar, Hlm.179)

E. KESIMPULAN

Sangat banyak pernyataan dari ayat Al-quran, As-sunnah, dan Ijma ulama tentang keberadaan Allah azza wa jalla itu di atas Arsy. Dan tidak ada satu pun keterangan dari itu semua yang menyatakan Allah azza wa jalla berada selain di atas Arsy.

Perlu kita ketahui, bahwa menetapkan sifat keberadaan Allah azza wa jalla di atas Arsy, bukan berarti kita menyamakan sifat Allah dengan makhlukNya. Karena yang menyatakan Allah berada di atas Arsy itu Allah dan RasulNya, serta para ulama yang berpegang teguh dengan Al-quran dan As-sunnah pun menyatakan bahwa Allah berada di atas Arsy, dan kita diwajibkan hanya untuk mengimaninya.

Karena Allah azza wa jalla berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya, dan Dia yang maha mendengar dan melihat.”
(Surat Asy-syura, Ayat 11)

Abu Utsman Ash-shabuni rahimahullah berkata:
“Ashabul Hadits (Ahlussunnah) berkeyakinan dan bersaksi, bahwasanya Allah berada di atas langit yang ke tujuh dan beristiwa di atas ArsyNya.”
(Aqidah As-salaf Wa Ashabu Al-hadits, Hlm.175)

Abu Nuaim rahimahullah berkata:
“Metode kami dalam menetapkan sifat Allah adalah seperti jalan hidup orang yang mengikuti Al-quran, As-sunnah, dan Ijma (kesepakatan para ulama). Di antara keyakinan yang dipegang oleh mereka (para ulama) bahwa hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menetapkan Allah berada di atas Arsy, dan mereka meyakini bahwa Allah beristiwa (menetap tinggi) di atas ArsyNya. Mereka menetapkan hal ini tanpa melakukan takyif (menyatakan hakikat sifat tersebut), tanpa tamtsil (memisalkannya dengan makhluk), dan juga tanpa tasybih (menyerupakannya dengan makhluk). Allah terpisah dari makhluk, dan makhluk pun terpisah dari Allah. Allah tidak mungkin menyatu dan bercampur dengan makhlukNya. Allah menetap tinggi di atas ArsyNya, dan bukan menetap di bumi ini bersama makhlukNya.”
(Majmu Al-fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al-harani, 5;60)

Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan:
“Ketinggian Allah selain ditetapkan melalui Al-quran dan As-sunnah, ditetapkan juga melalui akal dan fitrah manusia. Adapun tetapnya ketinggian Allah melalui akal, dapat ditunjukkan dari sifat kesempurnaanNya. Sedangkan tetapnya ketinggian Allah secara fitrah, maka perhatikanlah setiap orang yang berdoa kepada Allah, pastilah hatinya mengarah ke atas dan kedua tangannya menengadah, bahkan barang kali pandangannya juga tertuju ke arah yang tinggi.”
(Syarh Al-aqidah Ath-thahawiyyah, Hlm.389-390)

Bukti nyata lain bahwa Allah itu berada di atas, penjelasan yang sesuai akal dan fitrah manusia adalah ketika Allah azza wa jalla menurunkan air hujan. Yang namanya menurunkan itu dari atas ke bawah.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهٗ ثُمَّ يَجْعَلُهٗ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖ ۚ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْۢ بَرَدٍ فَيُـصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَآءُ وَ يَصْرِفُهٗ عَنْ مَّنْ يَّشَآءُ  ۗ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهٖ يَذْهَبُ بِالْاَبْصَارِ ۗ
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia juga menurunkan butiran-butiran es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung, maka ditimpakanNya butiran-butiran es itu kepada siapa pun yang Dia kehendaki dan dihindarkanNya dari siapa pun yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”
(Surat An-nur, Ayat 43)

Bukti nyata lain bahwa Allah itu berada di atas, penjelasan yang sesuai akal dan fitrah manusia adalah ketika Allah azza wa jalla menaikan Nabi Isa alaihissalam. Yang namanya menaikan itu dari bawah ke atas.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيْهِ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
“Tetapi, Allah telah mengangkat (menaikkan) Isa ke hadapanNya. Allah maha perkasa, maha bijaksana.”
(Surat An-nisa, Ayat 158)

Menetapkan sifat Allah azza wa jalla berada di atas Arsy, menunjukan Allah memiliki tempat. Namun, perlu kita ingat kembali! Bahwa tempatNya Allah itu tidak mungkin sama seperti tempatnya makhluk, misal rumah yang menjadi tempat tinggal manusia. Seperti halnya tempat tinggal kita dengan tempat tinggal hewan, apakah sama? Lalu seperti ketika Allah menyatakan, bahwa Dia memiliki tangan, apakah tangan Allah sama seperti tangan kita? Tentu berbeda.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman:

قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِ
“Katakanlah (Muhammad)! Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.”
(Surat Ali Imran, Ayat 154)

Dalam ayat yang lain, Allah azza wa jalla berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ يَدُ اللّٰهِ مَغْلُوْلَةٌ ۗ غُلَّتْ اَيْدِيْهِمْ وَلُعِنُوْا بِمَا قَالُوْا ۘ بَلْ يَدٰهُ مَبْسُوْطَتٰنِ ۙ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَآءُ
“Dan orang-orang Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu. Sebenarnya tangan mereka lah yang dibelenggu, dan mereka lah yang dilaknat disebabkan sesuatu yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka, Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki.”
(Surat Al-maidah, Ayat 64)

Allah juga berfirman:

اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓئِرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah namun, kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(Surat Al-araf, Ayat 131)

Selanjutnya, ketika kita memiliki penglihatan (mata) dan pendengaran (telinga), lalu Allah azza wa jalla juga menyatakan, bahwa Allah juga memiliki penglihatan dan pendengaran, apakah sama penglihatan dan pendengaran kita dengan milik Allah?

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman:

لَهٗ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ اَبْصِرْ بِهٖ وَاَسْمِعْ
“MilikNya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya.”
(Surat Al-kahfi, Ayat 26)

Allah azza wa jalla juga berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًۢا بَصِيْرًا
“Sungguh, Allah maha mendengar, maha melihat.”
(Surat An-nisa, Ayat 58)

Selanjutnya, ketika kita memiliki telapak kaki, lalu Allah azza wa jalla juga menyatakan, bahwa Dia memiliki telapak kaki, apakah sama telapak kaki kita dengan milik Allah?

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا
“Surga dan Neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: Orang-orang congkak dan sombong memasukiku. Surga berkata: Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku, selain orang-orang lemah, yang hina dalam pandangan manusia. Lalu Allah berfirman kepada Surga; kamu adalah rahmatKu, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu. Kemudian Allah berfirman kepada Neraka: Kamu adalah siksaKu, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki. Dan masing-masing dari keduanya ada isinya. Sedangkan, Neraka tidak terisi penuh, hingga Allah meletakkan kakiNya kemudian Neraka berkata: Cukup, cukup! Saat itulah Neraka penuh dan sebagiannya menindih sebagian yang lain. Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhlukNya. Sedangkan Surga, Allah menciptakan penghuninya.”
(HR. Bukhari, No.4472)

Berdasarkan beberapa keterangan di atas, menunjukan bahwa Allah azza wa jalla memiliki sesuatu yang namanya sama seperti sesuatu yang makhlukNya miliki. Namun, tentu di antara kita ketika fitrahnya (sifat) masih sehat dan bersih dari pemikiran serta pemahaman yang sesat dan keliru, maka kita akan menyatakan bahwa sesuatu yang dimiliki Allah dengan sesuatu yang dimiliki makhlukNya, tentu sangat berbeda wujud, bentuk dan sifatnya.

Jika teman-teman masih belum bisa menerima dan memahami penjelasan tersebut, maka Penulis memiliki beberapa penjelasan yang logis, yang dengan izin Allah akan menjadi sebab kita lebih mudah untuk memahami hakikat dari penjelasan di atas.

• Contoh:
Teman-teman tahu pengrajin kayu? Mereka adalah orang yang bisa membuat sesuatu dari bahan kayu. Misal; meja, kursi, lemari dan semisalnya. Dan tentunya kita juga tahu, bahwa meja, kursi dan lemari memiliki kaki, yang dibuat dengan tujuan agar benda-benda tersebut bisa berdiri.

• Pertanyaan:
Apakah kaki meja, kursi dan lemari itu sama dengan kaki si pengrajin kayu tersebut? Apakah bentuk dan fungsinya juga sama?

• Contoh:
Teman-teman tahu robot? Robot adalah suatu benda yang dilengkapi dengan berbagai alat teknologi dan diberikan beberapa anggota tubuh padanya, misal: kepala, mata, telinga, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya.

• Pertanyaan:
Apakah anggota tubuh yang ada pada robot tersebut sama seperti anggota tubuh si pembuatnya? Apakah bentuk dan fungsinya juga sama?

• Realita:
Ketika Allah azza wa jalla menciptakan makhlukNya dengan berbagai keindahan, dilengkapi oleh berbagai anggota tubuh, misal; mata, telinga, tangan dan semisalnya. Disertai juga kemampuan dan fungsinya yang beragam.

• Pertanyaan:
Apakah sama anggota tubuh makhlukNya dengan milik Allah?

Semoga Allah azza wa jalla memberikan pemahaman yang benar dan ilmu yang bermanfaat kepada kita. Aamiin

Jadi, yang menyatakan dan menetapkan Allah azza wa jalla berada di atas Arsy adalah Allah dan RasulNya. Kita selaku hambaNya dan makhlukNya hanya meyakini (mengimani) dan berusaha menjelaskan (mendakwahkan) keyakinan ini kepada manusia.

Sebagai penutup dan pelengkap, bagi teman-teman yang belum paham tentang Arsy Allah, mari simak penjelasannya di website Khiyaar.com, dengan judul artikel; Apa Itu Arsy Allah?

Semoga Allah azza wa jalla melindungi akidah yang kita miliki, sehingga bisa selamat dari kesesatan dan kekeliruan. Aamiin!
___
@Kota Angin-Majalengka, Jawa Barat.
26 Jumadal Ula 1440H/01 Februari 2019M.

✍🏻 Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaJangan Mau Kesusul!
Artikel sesudahnyaApa Itu Arsy Allah?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here