Beranda Belajar Islam Amalan Jangan Mau Kesusul!

Jangan Mau Kesusul!

632
0
BERBAGI

Jangan Mau Kesusul!

Salah satu kalimat motivasi yang harus kita jadikan sebagai moto hidup adalah Aku Ingin Masuk Surga. Karena yang seharusnya kita cari dan kita dapatkan dengan berbagai macam usaha serta kemampuan adalah Surga.

KETIKA MEREKA BISA MENDAPATKAN SURGA ALLAH, MENGAPA KITA TIDAK BISA?

Allah azza wa jalla berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
“Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan! Sesungguhnya kepada Allah, kalian semua akan kembali.”
(QS. Al-maidah, Ayat 48)

Imam Hasan Al-bashri rahimahullah berkata:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُنَافِسُكَ فِي الدُّنْيَا فُنَافِسُهُ فِي الْآخِرَةِ
“Apabila kamu melihat seseorang bisa mengunggulimu dalam urusan dunia, maka unggulilah dia dalam urusan akhirat!”
(Lathaif Al-maarif, Hlm.428)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah juga berkata:

لَوْ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ بِأَحَدٍ أَطْوَعُ لِلَّهِ مِنْهُ كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُحْزِنَهُ ذَلِكَ
“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah dari dirinya, sudah seharusnya dia bersedih, karena dia telah diungguli dalam hal ketaatan.”
(Lathaif Al-maarif, Hlm.244)

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ
“Apabila salah seorang dari kalian melihat orang yang diberi kelebihan harta dan bentuk tubuhnya, maka hendaklah dia memandang pada keadaan orang yang lebih rendah darinya, yakni dari orang yang dia diberi kelebihan di atas orang tersebut.”
(HR. Muslim, No.5263)

Mari kita simak kisah dari orang-orang shalih yang mereka tidak mau kesusul dari orang lain untuk mendapatkan Surga!

Allah azza wa jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi alaihimussalam dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al-quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat (dongeng), akan tetapi ia membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yusuf, Ayat 111)

Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu bercerita:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ قَالَ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang aku miliki. Lalu aku mengatakan; Apabila aku dapat mendahului Abu Bakar pada suatu hari, maka hari ini aku akan mendahuluinya. Kemudian aku datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Aku katakan; Harta yang sama seperti ini. Lalu Umar berkata; Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh harta yang dia miliki. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Dia menjawab; Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya. Maka aku mengatakan kepada Abu Bakar; Aku tidak akan bisa mendahuluimu terhadap sesuatu apapun selamanya.”
(HR. Abu Dawud, No.1429. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapakah di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa? Abu Bakar menjawab; Aku. Beliau bertanya lagi; Siapa di antara kalian yang hari ini telah menghantarkan jenazah? Abu Bakar menjawab; Aku. Beliau bertanya lagi; Siapa di antara kalian yang hari ini telah memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab; Aku. Beliau bertanya lagi; Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab; Aku. Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidaklah semua amalan tersebut ada pada diri seseorang, kecuali dia pasti akan masuk Surga.”
(HR. Muslim, no.1707)

Abu Bakar Al-muzani rahimahullah berkata:

مَا فَاقَ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَصْحَابَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمٍ وَلاَ صَلاَةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ قَالَ الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ اَلحُبُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّصِيْحَةُ فِي خَلْقِهِ
“Tidaklah Abu Bakar bisa melampaui para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam semata karena banyak mengerjakan puasa atau shalat, tetapi karena adanya iman yang bersemayam di dalam hatinya. (Mengomentari perkataan Al-muzani tersebut), Ibnu Aliyah berkata; Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah azza wa jalla dan sikap nasihat, yakni ingin terus memberi kebaikan terhadap makhluk Allah (manusia).”
(Jami Al-ulum Wa Al-hikam, 1;225)

Imam Hasan Al-bashri rahimahullah berkata:

أَخْفَى قَوْمٌ عَمَلَهُمْ فَأَخْفَى اللَّهُ لَهُمْ مَا لَمْ تَرَ عَيْنٌ وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Suatu kaum ada yang menyembunyikan amalan mereka. Allah pun membalasnya dengan menyembunyikan balasan untuk mereka yang sebelumnya tak pernah mereka pandang dan tak pernah terbetik dalam benak.”
(Tafsir Al-quran Al-azhim, 6;145)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita:

أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً. قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ
“Bahwa orang-orang fakir (miskin) dari kalangan Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sambil berkata; Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya; Apa maksud kalian? Mereka menjawab; Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa namun, mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan (amal shalih) kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan? Mereka menjawab; Baiklah, wahai Rasulullah. Beliau bersabda; Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak 33 kali. Abu shalih berkata; Tidak lama kemudian, orang-orang fakir Muhajirin datang kembali ke Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata; Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu juga! Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Itu adalah keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya.”
(HR. Muslim, No.936)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh mendengki (hasad) kecuali pada dua hal; Terhadap seseorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran (kebaikan), dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.”
(HR. Bukhari, No.71)

لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
“Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal, yaitu; Seseorang yang diberi karunia Al-quran oleh Allah, sehingga dia bisa membacanya (shalat dengannya) di pertengahan malam dan siang hari. Dan seseorang yang diberi karunia harta oleh Allah, sehingga dia bisa menginfakkannya di malam dan siang hari.”
(HR. Bukhari, No.4637)

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِى إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu taufik, agar bisa mengamalkan semua kebaikan, meninggalkan semua kemungkaran, dan bisa mencintai orang miskin. Jika Engkau menghendaki bagi hamba-hambaMu ujian (fitnah), maka wafatkanlah aku tanpa terkena fitnah tersebut!”
(HR. Tirmidzi, No.3157)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu semua kebaikan yang cepat (di dunia) ataupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui ataupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepadaMu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) ataupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui ataupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku memohon kepadaMu kebaikan yang dimohonkan hambaMu dan NabiMu kepadaMu, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang hambaMu dan NabiMu berlindung darinya kepadaMu. Ya Allah, sungguh aku memohon Surga kepadaMu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku memohon kepadaMu, agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.”
(HR. Ibnu Majah, No.3836)
___
@Kota Angin Majalengka, Jawa Barat.
15 Jumadal Ula 1440H/21 Januari 2019M.

Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMenjadi Manusia Yang Amanah
Artikel sesudahnyaAllah Ada Dimana?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here