Beranda Muamalah (Interaksi) Menjadi Manusia Yang Amanah

Menjadi Manusia Yang Amanah

268
0
BERBAGI

Menjadi Manusia Yang Amanah

Amanah akan menjadi indah, ketika kita berusaha menunaikannya. Dan amanah akan menjadi musibah, ketika kita melalaikannya.

Maka dari itu, cara untuk menjadi manusia yang amanah adalah dengan mempelajari dan memahami amanah dengan tuntas. Karena dengan cara itulah kita bisa mengenali amanah dengan jelas dan menunaikannya dengan ikhlash.

A. Pengertian Amanah

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan;
“Amanah adalah segala sesuatu yang mewajibkanmu untuk menunaikannya.”
(Tuhfatu Al-Ahwadzi Syarh Jami At-Tirmidzi, 4:400)

Imam Ibnu Al-Atsir rahimahullah menjelaskan;
“Amanah bisa bermakna ketaatan, ibadah, titipan, kepercayaan dan jaminan keamanan.”
(An-Nihayah Fii Gharib Al-Hadits Wa Al-Atsar, 1:80)

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah menjelaskan;
“Amanah adalah kepercayaan manusia berupa barang-barang titipan, dan perintah Allah berupa shalat, puasa, zakat dan semisalnya, menjaga kemaluan dari hal-hal haram, dan menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa.”
(Al-Kabair, hlm.282)

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali hafizhahullah menjelaskan;
“Amanah adalah sebuah perintah menyeluruh dan mencakup segala hal berkaitan dengan perkara-perkara yang dengannya, seseorang terbebani untuk menunaikannya, atau dia dipercaya dengannya. Sehingga amanah ini mencakup seluruh hak-hak Allah atas seseorang, seperti perintah-perintahNya yang wajib. Dan juga meliputi hak-hak orang lain, seperti barang-barang titipan yang harus ditunaikan dan disampaikan kepada si Pemiliknya. Sehingga, sudah seharusnya seseorang yang dibebani amanah, dia menunaikannya dengan sebaik-baiknya, dengan menyampaikan kepada Pemiliknya. Dia tidak boleh menyembunyikan, mengingkari, atau bahkan menggunakannya tanpa izin yang dibenarkan oleh syariat Islam.”
(Bahjatu An-Nazhirin Syarh Riyadhu Ash-Shalihin, 1:288)

B. Allah Memberikan Perintah Kepada Kita Untuk Menunaikan Amanah

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kalian menetapkan hukum dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi maha melihat.”
(Surat An-Nisa: ayat 58)

Allah azza wa jalla berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui!”
(Surat Al-Anfal: ayat 27)

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah pada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul (menerima) amanah tersebut, karena mereka khawatir akan mengkhianatinya. Lalu dipikullah amanah tersebut oleh manusia, sesungguhnya manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 72)

C. Rasulullah Memberikan Perintah Kepada Kita Untuk Menunaikan Amanah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan jangan kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu!”
(HR. Abu Dawud, no.3068. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
“Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah.”
(HR. Ath-Thabrani, Al-Mujam Al-Ausath, no.2292. Al-Mundziri menyatakan hadits ini sanadnya shahih atau hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ سُرَيْجٌ وَيَنْظُرُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ
“Sebelum tiba hari kiamat, akan datang tahun-tahun yang penuh tipu daya, orang yang jujur didustai sedangkan pendusta dipercayai, orang yang amanah dikhianati sedangkan pengkhianat diamanahi, dan Ruwaibidhah akan berbicara. Suraij berkata: Pada tahun tersebut orang-orang ruwaibidhah akan melihat.”
(HR. Ahmad, no.8105. Syaikh Ahmad Syakir menyatakan hadits ini sanadnya shahih)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sebelum munculnya dajjal akan ada tahun-tahun (masa) munculnya para penipu, sehingga orang jujur didustakan sedangkan pendusta dibenarkan, orang yang amanat dikhianatkan sedangkan orang yang suka berkhianat dipercayakan, dan para ruwaibidhah angkat bicara. Ada yang bertanya kepada Rasulullah, apa itu ruwaibidhah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang bodoh yang ikut berbicara dalam urusan yang luas.”
(HR. Ahmad, no.12820. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan hadits ini hasan)

D. Hadiah Untuk Yang Menunaikan Amanah

Allah azza wa jalla menyebutkan amanah adalah sifat orang-orang yang beriman;

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan mereka adalah orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji.”
(Surat Al-Mukminun: ayat 8)

Allah azza wa jalla menjelaskan keadaan orang yang beriman;

أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ
“Mereka itu (kekal) di dalam Surga, lagi dimuliakan.”
(Surat Al-Maarij: ayat 35)

E. Hukuman Untuk Yang Melalaikan Amanah

Allah azza wa jalla juga menyebutkan bahwa melalaikan (mengkhianati) amanah adalah termasuk sifat orang-orang Yahudi;

وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا
“Dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.”
(Surat Ali Imran: ayat 75)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan bahwa melalaikan amanah juga termasuk sifat orang-orang Munafiq;

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda sifat munafiq itu ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika diberi amanah dia khianat (lalai).”
(HR. Imam Bukhari, no.32)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna dari sifat munafiq;

اَلنِّفَاقُ هُوَ إِظْهَارُ الْخَيرِ وَإِسْرَارُ الشَّرِّ
“Kemunafiqkan adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 1:176)

Selanjutnya, Imam Ibnu Katsir mengatakan;

وَالنِّفَاقُ أَنْوَاعٌ: اِعْتِقَادِي، وَهُوَ الَّذِي يُخَلِدُ صَاحِبُهُ فِي النَّارِ، وَعَمَلِي وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الذُّنُوبِ
“Dan sifat kemunafiqkan itu bermacam-macam: Kemunafiqkan berupa keyakinan, dan itulah kemunafiqkan yang menyebabkan pelakunya kekal di dalam Neraka. Kemunafiqkan berupa amal, dan itu termasuk dosa besar.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 1:176)

Allah azza wa jalla menjelaskan tentang keadaan orang-orang munafiq di akhirat;

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا
“Sungguh, orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah (dasar atau kerak) dari Neraka. Dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun untuk mereka.”
(Surat An-Nisa: ayat 145)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang panasnya api Neraka;

نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا
“Api kalian (di dunia ini) merupakan bagian dari 70 bagian dari api Neraka Jahannam. Ditanyakan kepada Beliau: Wahai Rasulullah, satu bagian itu saja sudah cukup (untuk menyiksa pelaku maksiat)? Beliau bersabda: Ditambahkan atasnya dengan 69 kali lipat yang sama panasnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.3025)

Allah azza wa jalla juga menjelaskan tentang panasnya api Neraka;

فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْۤا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَالُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَـرِّ ۗ  قُلْ نَارُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّا ۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), mereka merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Dan mereka berkata: Janganlah kalian berangkat (pergi berjihad) dalam panas terik seperti ini. Maka katakanlah (Muhammad) kepada mereka: Api Neraka Jahanam itu lebih panas dari itu, jika mereka mengetahui.”
(Surat At-Taubah: ayat 81)

Allah azza wa jalla menjelaskan salah satu jenis api Neraka;

وَمَاأَدْرَاكَ مَاهِيَهْ. نَارٌحَامِيَةٌ
“Dan tahukah kamu, apa itu Neraka Hawiyah? Yaitu api yang sangat panas.”
(Surat Al-Qariah: ayat 10-11)

Allah azza wa jalla menjelaskan keadaan para penghuni Neraka;

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا. إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
“ِMereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak juga mendapati minuman, selain air yang mendidih dan air yang sangat dingin (nanah).”
(Surat An-Naba: ayat 24-25)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اشْتَكَتْ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الزَّمْهَرِيرِ
“Neraka mengadu kepada Rabbnya, ia berkata: Rabbku, sebagian dariku menghancurkan sebagian yang lainnya. Allah berfirman kepada Neraka: Jika demikian, maka kamu dapat bernafas dua kali, yakni satu nafas di musim dingin dan satu nafas di musim panas. Maka itulah hawa panas yang paling panas dan hawa dingin yang paling dingin.”
(HR. Imam Bukhari, no.3020)

Sungguh tidak ada adzab dan siksa Allah yang ringan di dalam Neraka! Oleh karena itu, jangan pernah merasa nyaman dalam bermaksiat kepada Allah azza wa jalla dengan segala macam bentuk kemaksiatan. Dosa kecil, dosa besar, itu semua akan dibalas oleh Allah subhanahu wa taala.

Maksiat adalah segala hal yang tidak diperintahkan, tidak diridhai dan dibenci oleh Allah azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan sebaliknya, ibadah adalah segala hal yang diperintahkan, diridhai dan dibenci oleh Allah azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Semoga Allah azza wa jalla selalu memberikan kemudahan untuk kita menunaikan segala amanah yang sudah kita terima dengan istiqamah. Aamiin

Semoga Allah azza wa jalla menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia dan Allah hilangkan dari diri kita akhlak yang buruk. Aamiin

Semoga Allah azza wa jalla menjauhkan diri kita dari Neraka dan Allah menjadikan diri kita sebagai penghuni SurgaNya. Aamiin
___
@Kota Angin-Majalengka, Jawa Barat.
Jumat Mubarakah, 12 Jumadal Ulaa 1440 H/18 Januari 2019 M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaBumi Itu Bulat Atau Datar?
Artikel sesudahnyaJangan Mau Kesusul!
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here