Beranda Pengetahuan Umum Bumi Itu Bulat Atau Datar?

Bumi Itu Bulat Atau Datar?

122
0
BERBAGI

Bumi Itu Bulat Atau Datar?

Salah satu polemik yang dahulu sempat ramai dibahas, dan sampai saat ini masih membuat masyarakat bingung tentang kebenaran dari polemik tersebut adalah soal bumi itu bentuknya bulat atau datar?

Maka untuk menghilangkan syubhat (kesamaran) dan keraguan terhadap polemik tersebut, mari kita baca dan pelajari penjelasan di bawah ini!

Berkenaan masalah bentuk bumi, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama, di antaranya;

A. Bumi Itu Bulat

Allah azza wa jalla berfirman;

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ  ۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ اَ لَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ
“Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan atau menggantikan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah yang maha perkasa, yang maha pengampun.”
(Surat Az-Zumar: ayat 5)

Takwir itu bermakna lingkaran atau melingkari. Karenanya bumi itu bulat seperti bola, sehingga terjadi bergantian siang dan malam. Dan sebagaimana makna dari surat At-Takwir adalah menggulung.

Ada sebagian ulama yang menyatakan adanya ijma (kesepakatan) dari para ulama tentang bumi itu bulat.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Telah berkata Imam Abul Husain Ibnul Munadi rahimahullah (beliau termasuk ulama terkenal dalam pengetahuannya terhadap atsar-atsar dan kitab-kitab besar pada cabang ilmu agama, yang termasuk dalam tingkatan kedua ulama dari pengikut imam Ahmad), beliau berkata: Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa langit itu seperti bola (bulat). Beliau juga berkata: Demikian mereka telah bersepakat bahwa bumi ini dengan seluruh pergerakannya, baik itu di daratan maupun di lautan, bentuknya seperti bola. Dan beliau juga berkata: Dalilnya adalah matahari , bulan dan bintang-bintang tidak terbit dan tenggelam pada semua penjuru bumi dalam satu waktu, akan tetapi terbit di timur dahulu, sebelum terbit di barat.”
(Majmu Fatawa, 25:195)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Bahkan alam semesta dan bumi bentuknya adalah bola (bulat), demikian juga penjelasan bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari, dan gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan terhalang oleh bumi yang terletak antara bulan dan matahari.”
(Miftah Dari As-Saadah, 2:212)

Ibnu Hazm rahimahullah juga menjelaskan;
“Para Imam kaum muslimin yang berhak mendapatkan gelar imam radhiyallahu anhum, mereka tidak mengingkari bahwa bumi itu bulat. Tidak juga diketahui dari mereka yang membantah sedikit pun, bahkan bukti-bukti dari Al-Quran dan As-Sunnah membuktikan, bahwa bumi itu bulat.”
(Fashlu Fii Al-Milal, 2:78)

Selain mereka, ada beberapa ulama kontemporer, seperti: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan ulama lainnya rahimahumullaah rahmatan wasiatan yang berpendapat bumi itu bulat.

B. Bumi Itu Datar

Perlu diketahui, bahwa ada beberapa ulama juga yang menafikan (tidak setuju) dengan pendapat yang menyatakan bahwa bumi itu bulat.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”
(Surat Al-Ghasyiyah: ayat 20)

Pada ayat tersebut dijelaskan, bahwa lafazh ayat dikatakan bumi dengan istilah SUTIHAT, menunjukkan bumi itu SATHHIYYATUN yaitu datar. Sebagaimana dijelaskan;
“Makna SUTIHAT zhahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar, dan dijelaskan oleh para ulama bukan bulat, sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom.”
(Tafsir Jalalain, 1:805)

Mereka yang berpendapat bumi itu datar mengatakan: Penjelasan bumi itu dihamparkan, merupakan sebuah pernyataan yang sangat jelas. Semisal seseorang menghamparkan karpet. Tentu hal tersebut hanya bisa dilakukan pada permukaan benda yang datar.

Dalam ayat yang lain, Allah azza wa jalla berfirman;

وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُوْنٍ
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan juga padanya gunung-gunung, serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran.”
(Surat Al-Hijr: ayat 19)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan;
“Ini adalah bantahan untuk mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola (bulat).”
(Tafsir Al-Qurthubi, 10:13)

Allah azza wa jalla berfirman;

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ. وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ. وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ
“Dan demi Baitul Mamur. Dan atap (langit) yang ditinggikan. Dan laut yang di dalam tanahnya terdapat api.”
(Surat At-Thur: ayat 4-6)

Mereka yang berpendapat bumi itu datar mengatakan: Jika bumi bulat seperti bola dan berputar, bagaimana mungkin baitul mamur bisa sejajar dengan baitullah di Mekkah? Berarti baitul mamur berputar di atas langit, mengikuti bumi? Ini pernyataan yang tidak masuk akal. Namun, kalau bumi datar maka masuk akal jika bisa sejajar.

C. Kesimpulan

Sebetulnya tidak ada dalil yang tegas dan jelas menyatakan bahwa bumi bulat atau datar.

Pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat yang sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiyah dari ilmu dunia, seperti ilmu geografi dan ilmu semisalnya.

Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menyatakan bahwa bumi itu bulat atau datar. Karena pembahasan bumi bulat atau datar bukanlah permasalahan akidah. Sehingga tidak layak bagi umat Islam saling berpecah belah, saling mencela, menyindir dan bermusuhan hanya karena membahas permasalahan yang bukan termasuk masalah prinsip dari agama Islam.

Karena pembahasan ini bukanlah masalah akidah, maka tidak bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir hanya karena berbeda keyakinan tentang bumi ini bulat atau datar.

Pertanyaan bumi itu bulat atau datar, maka dikembalikan pada penelitian serta fakta ilmiyah dari para ahli dalam masalah ini.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ilmu), jika kalian tidak mengetahui!”
(Surat An-Nahl: ayat 43)

Perlu diketahui, dalil Al-Quran dan As-Sunnah yang sudah pasti dan tegas (qathi) itu tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiyah dan akal manusia yang sehat.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Semua yang telah ada dari dalil qathi, maka itu tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat.”
(Daru At-Taarudh, 1:80)

Karena yang terpenting dari pembahasan “bumi datar atau bulat” adalah saat ini kita hidup di atas bumi, dan akan meninggalkan bumi ini menuju kampung akhirat yang kekal, yaitu SurgaNya Allah azza wa jalla yang penuh dengan kenikmatan. Dan kita harus berusaha agar bumi ini bisa menjadi tempat kita mencari bekal untuk pulang ke kampung akhirat, yaitu berupa bekal iman, takwa, dan berbagai amal shalih yang bermanfaat bagi diri kita, manusia, serta makhluk yang ada di muka bumi. Sehingga jangan sampai bumi (dunia) dan segala isinya melalaikan diri kita dari mengingat Allah dan mengingat kehidupan yang abadi, yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan, yakni Surga.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah taala adalah orang yang sangat bermanfaat bagi manusia. Ada pun amalan yang paling dicintai oleh Allah taala adalah membuat seorang muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”
(HR. At-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, no.13280. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Sahabat Abdurrahman bin Abu Bakrah radhiyallahu anhumaa bercerita, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah;

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ، قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ. قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ، قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik? Beliau menjawab: Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Lalu lelaki tersebut bertanya lagi: Lalu siapakah manusia yang terburuk? Beliau menjawab: Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2330. Beliau menyatakan hadits ini hasan shahih)

Maka bersemangatlah untuk mempelajari akhlak serta ilmu tentang akidah dan tauhid, agar keislaman kita semakin indah, kokoh dan tidak mudah terbawa oleh pemahaman dan keyakinan yang salah. Pelajari juga ilmu Islam lainnya yang bisa menjadi bekal kita untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla dengan istiqamah!

Fokuslah terhadap sesuatu yang bermanfaat, dan tidak perlu pedulikan sesuatu yang tidak bermanfaat!

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan kehidupan yang kita alami penuh dengan kemudahan untuk beribadah kepadaNya dengan berbagai macam amal shalih.

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan berkah usia dan ilmu yang kita miliki.

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan kita sebagai penghuni Surga Firdaus. Aamiin
___
@Kota Angin-Majalengka, Jawa Barat.
11 Jumadal Ulaa 1440 H/16 Januari 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaLebih Dahulu Ayam Atau Telur?
Artikel sesudahnyaMenjadi Manusia Yang Amanah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here