Beranda Belajar Islam Aqidah Lebih Dahulu Ayam Atau Telur?

Lebih Dahulu Ayam Atau Telur?

602
0
BERBAGI

Lebih Dahulu Ayam Atau Telur?

Pertanyaan ini sering diucapkan dan ditanyakan oleh beberapa orang, baik karena ingin tahu tentang hakikat kebenarannya atau hanya untuk sekedar bahan tebak-tebakan (permainan). Padahal pertanyaan tersebut ada kaitannya juga dengan keimanan (akidah) seseorang terhadap Allah azza wa jalla.

Sebelumnya kita harus tahu juga, bahwa adanya pertanyaan semacam ini sebetulnya berasal dari para Ahli Filsafat yang banyak merenungi hakikat kehidupan dengan hanya menggunakan logika dan akal, tanpa adanya ilmu yang melandasi, sehingga hal tersebut merupakan hal yang tidak bermanfaat. Buah dari pemikirannya, mereka mengira dunia ini dan segala isinya ada itu hanya kebetulan, sehingga mereka merasa perlu menyelidikinya. Sama seperti halnya dalam pembahasan ini: Lebih dahulu ayam atau telur? Mereka berusaha menyelidikinya dengan cara mengaitkannya dengan ilmu sains dan disiplin ilmu duniawi lainnya.

Sebagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Ini adalah perselisihan yang panjang, seperti perselisihan tentang permasalahan ini: mana yang lebih dahulu, ayam atau telur? Tidak ada manfaat berdebat tentang hal ini. Mereka (Ahli Filsafat) mengatakan: sebagian Ahli Filsafat membahas tentang hal ini. Sampai di antara mereka terjadi perdebatan dan permusuhan yang sengit di berbagai Negara.”
(Mukhtasharu At-Tahriru, hlm.17)

Dalam menyikapi semua hal yang berkaitan dengan dunia dan akhirat, maka cukuplah Al-Quran (Kalam Allah) dan As-Sunnah (Sabda Rasulullah) sebagai pedoman hidup dalam menyelesaikan semua permasalahan yang sedang kita alami.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ وَّ هُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira untuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”
(Surat An-Nahl: ayat 89)

Dalam ayat lainnya, Allah azza wa jalla berfirman;

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan, pejabat, pemerintah) di antara kalian. Kemudian, jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (As-Sunnah), jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu, lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.”
(Surat An-Nisa: ayat 59)

Maka jawaban yang benar tentang pertanyaan ini dan sesuai akidah umat Islam adalah Allah menciptakan ayam lebih dahulu dari pada telur. Pernyataan (jawaban) ini sangat jelas dan logis (mudah dipahami), karena Allah azza wa jalla telah menciptakan makhluk hidup dengan berbagai keindahannya, termasuk hewan secara berpasang-pasangan.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan dengan berpasang-pasangan, agar kalian mengingat (kebesaran Allah).”
(Surat Adz-Dzariyat: ayat 49)

Dalam ayat yang lain, Allah azza wa jalla berfirman untuk merinci tentang masalah ini;

خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَاَنْزَلَ لَـكُمْ مِّنَ الْاَنْعَامِ ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍ ۗ يَخْلُقُكُمْ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنْۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِيْ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍ ۗ ذٰ لِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ فَاَ نّٰى تُصْرَفُوْنَ
“(Dia menciptakan kalian dari diri yang satu) yaitu dari Nabi Adam (kemudian Dia jadikan darinya istrinya) yaitu Hawa (dan Dia menurunkan untuk kalian binatang ternak) yakni unta, sapi, kambing, domba dan biri-biri (sebanyak delapan ekor yang berpasang-pasangan) yakni dari setiap jenis sepasang, yaitu jantan dan betina. (Dia menjadikan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian) yaitu mulai dari air mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging (dalam tiga kegelapan) yaitu gelapnya perut, gelapnya rahim dan gelapnya selaput pelindung bayi. (Yang mampu berbuat demikian itu adalah Allah, Rabb kalian, Rabb Yang mempunyai kerajaan, tidak ada Rabb selain Dia. Maka bagaimanakah kalian dapat dipalingkan?) Yakni dari menyembah kepadaNya, kemudian kalian menyembah kepada selainNya.”
(Surat Az-Zumar: ayat 6)

Jadi, tidak heran jika pada realitanya yang benar adalah ayam dahulu, lalu kemudian telur. Karena tidak mustahil bagi Allah untuk menciptakan sesuatu tanpa diawali dengan sesuatu yang lainnya. Allah mampu melakukan segala sesuatu sesuai kehendakNya. Allah mampu menciptakan ayam tanpa didahului oleh telur.

Allah azza wa jalla berfirman;

اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙ وَّ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
“Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia adalah pemelihara atas segala sesuatu.”
(Surat Az-Zumar: ayat 62)

Semoga melalui tulisan ini bisa membuat keyakinan (akidah) kita terhadap Allah azza wa jalla semakin kokoh dan lurus, tanpa adanya keraguan sedikit pun.

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk diri kita beribadah kepada Allah dengan istiqamah mengikuti perintahNya dan tuntunan NabiNya.

Semoga dengan kita berusaha memiliki akidah (keyakinan) yang selamat dari kesesatan dan manhaj (cara beragama) yang lurus dari kekeliruan, itu menjadi sebab Allah memasukkan diri kita ke dalam Surga Firdaus. Aamiin

Maka dari itu, solusi dari permasalahan akidah ini adalah dengan terus belajar di majelis ilmu, belajar bersama guru yang memiliki akhlak yang mulia, akidah yang selamat dan manhaj yang lurus.
_____
@Kota Udang, Cirebon-Jawa Barat.
06 Jumadal Ulaa 1440H/11 Januari 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaStimulasi Sedekah
Artikel sesudahnyaBumi Itu Bulat Atau Datar?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here