Beranda Belajar Islam Amalan Stimulasi Sedekah

Stimulasi Sedekah

1723
0
BERBAGI

Stimulasi Sedekah

Sebuah dorongan, anjuran, dan renungan untuk kita yang terkadang merasa berat, susah, gelisah, ragu, rugi ketika ingin memanfaatkan hartanya di jalan Allah azza wa jalla.

Mari kita baca motivasi dari Allah dan Rasulullah untuk mengobati dan menghilangkan sifat kikir yang ada di dalam diri kita!

A. BERDASARKAN AL-QURAN

1. Allah azza wa jalla berfirman:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
“Kitab (Al-quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, yakni petunjuk untuk mereka yang bertakwa. Orang-orang yang bertakwa itu adalah mereka yang beriman pada sesuatu yang ghaib, melaksanakan shalat, dan menginfaqkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 2-3)

2. Allah azza wa jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang sangat pedih? Yaitu kalian beriman kepada Allah dan RasulNya, dan berjihad di jalanNya dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surgaNya, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kalian) ke tempat tinggal yang baik, yakni di Surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”
(QS. Ash-shaff, Ayat 10-12)

3.Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah (laki-laki dan perempuan), dan memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka akan dilipat gandakan (balasan pinjamannya) untuk mereka, dan mereka akan mendapatkan pahala yang banyak (berharga).”
(QS. Al-hadid, Ayat 18)

4. Allah azza wa jalla berfirman:

يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak suka kepada setiap orang yang tetap berada dalam kekafiran dan bergelimang dosa.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 276)

5. Allah azza wa jalla berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap sesuatu yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa saja yang dipelihara dari sifat kekikiran pada dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-hasyr, Ayat 9)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Yang dimaksudkan pada ayat ini adalah mereka (Anshar) mendahulukan orang-orang (Muhajirin) yang sedang butuh dari kebutuhannya sendiri, padahal mereka (Anshar) juga sebenarnya sedang butuh.”
(Tafsir Al-quran Al-azhim, 7;229)

6. Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”
(QS. Yasin, Ayat 12)

7. Allah azza wa jalla berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian (maksudnya; menampakkan sedekah dengan tujuan agar dicontoh orang lain, bukan untuk riya), maka itu baik. Dan jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang faqir, maka itu lebih baik bagi kalian! Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian dan Allah maha teliti terhadap apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 271)

8. Allah azza wa jalla berfirman:

مَّنْ ذَا الَّذِى يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“(Siapakah yang bersedia memberi pinjaman kepada Allah) yaitu dengan menafkahkan hartanya di jalan Allah (yakni dengan pinjaman yang baik) dengan ikhlash kepadaNya semata, (maka Allah akan menggandakan) pembayarannya; menurut satu qiraat dengan tasydid hingga berbunyi ‘fayudha’ifahu’ (hingga berlipat-lipat) mulai dari 10 sampai pada 700 kali lipat lebih, (dan Allah mampu menyempitkan) atau menahan rezeki orang yang dikehendakiNya sebagai ujian (dan melapangkannya) terhadap orang yang dikehendakiNya, juga sebagai cobaan (dan kepadaNya kalian dikembalikan) di akhirat akan dibangkitkan dari mati dan akan dibalas segala amal perbuatan kalian.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 245)

9. Allah azza wa jalla berfirman:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian. Maka dia (mayit) berkata (menyesali): Ya Allah, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.”
(QS. Al-munafiqun, Ayat 10)

10. Allah azza wa jalla berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apapun yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia adalah pemberi rezeki yang terbaik.”
(QS. Saba, Ayat 39)

11. Allah azza wa jalla berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ ۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفَآئِزُوْنَ. يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَّجَنّٰتٍ لَّهُمْ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُّقِيْمٌ ۙ. خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Allah menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan, dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”
(QS. At-taubah, Ayat 20-22)

12. Allah azza wa jalla berfirman:

اِنْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kalian dalam keadaan ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta kalian dan diri kalian di jalan Allah! Yang demikian itu lebih baik untuk diri kalian, jika kalian mengetahuinya.”
(QS. At-taubah, Ayat 41)

B. BERDASARKAN AS-SUNNAH

1. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِى سَبِيلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
“Barang siapa menginfaqkan hartanya di jalan Allah, maka ditetapkan pahala untuknya 700 kali lipat.”
(HR. Tirmidzi, No.1550)

2. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali 3 perkara (yaitu); sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang shalih.”
(HR. Muslim, No.1631)

3. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar itu sinar panas, sementara Al-quran bisa menjadi pembela (hujjah) untukmu atau sebaliknya, menjadi penuntut (bumerang) untukmu.”
(HR. Muslim, No.328)

Sedekah disebut “burhan” (bukti), karena sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang. Artinya, sedekah dan sifat pemurah identik dengan sifat orang mukmin. Dan sebaliknya, sifat kikir dan bakhil terhadap sesuatu yang dimiliki identik dengan sifat orang munafik.

4. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ صَدَقَةَ السِرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَبِّ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى
“Sesungguhnya sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah.”
(HR. Albani, Shahih At-targhib, No.888. Hadits ini hasan lighairihi)

5. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الصَّدَقَةَ لِتُطْفِيءُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُوْرِ وَإنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ
“Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur untuk pelakunya. Dan sungguh pada hari Kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.”
(HR. Albani, Shahih At-targhib, No.873. Hadits ini hasan)

Salah seorang perawi hadits ini; Yazid menjelaskan:
“Dulu Martsad, setiap kali melakukan satu dosa pada hari tersebut, maka dia akan bersedekah dengan sesuatu yang dia miliki, meskipun hanya dengan secuil kue atau bawang.”
(As-silsilah Ash-shahihah, No.872)

6. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

دَاوُوا مَرضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obati orang sakit di antara kalian dengan sedekah!”
(HR. Albani, Shahih Al-jami, No.3358. Hadits ini hasan)

7. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati pagi harinya, kecuali akan turun (datang) dua Malaikat kepadanya. Lalu salah satunya berkata; Ya Allah, berikanlah pengganti bagi siapa saja yang menafkahkan hartanya. Sedangkan, yang satunya lagi berkata; Ya Allah, berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil).”
(HR. Bukhari, No.1351)

8. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang wasiat Nabi Yahya alaihissalam kepada Bani Israil. Dan salah satu isi wasiat tersebut, Nabi Yahya berkata:

وَأَمَرَكُمْ بِالصَّدَقَةِ وَمِثْلُ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسَرَهُ الْعَدَوُّ فَأَوْثَقُوا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ وَ قَرَّبُوهُ لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ هَلْ لَكُمْ أَنْ أَفْدِيَ  نَفْسِي مِنْكُمْ وَجَعَلَ يُعْطِي الْقَلِيلَ وَالْكَثِيْرَ حَتَّى فَدَى نَفْسَهُ
“Aku perintahkan kalian untuk banyak bersedekah. Perumpamaan sedekah seperti orang-orang yang ditawan oleh musuhnya dan tangannya diikat di lehernya. Ketika mereka hendak dipenggal kepalanya, salah seorang bertanya; Bolehkah aku tebus diriku sehingga tidak kalian bunuh? Kemudian dia memberikan yang dimiliki, sedikit atau banyak, sampai dia berhasil menebus dirinya.”
(HR. Albani, Shahih At-targhib, No.1498 )

9. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Sedekah akan menghapus kesalahan (dosa) sebagaimana air memadamkan api.”
(HR. Ibnu Majah, No.3224)

10. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang sangat bermanfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah taala adalah membuat seorang muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”
(HR. Thabrani, Al-mujam Al-kabir, No.13280. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

11. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللّٰهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ
“Barang siapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat, maka hendaklah dia menangguhkan (mencari jalan keluar) untuk orang yang kesusahan (dalam membayar utang) atau menggugurkannya (dianggap lunas).”
(HR. Muslim, No.1563)

12. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lidah kalian!”
(HR. Abu Dawud, No.2143)

13. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَهُ فِى أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barang siapa menyiapkan bekal untuk orang yang berjihad di jalan Allah, maka sungguh dia juga telah berjihad. Dan barang siapa menjaga keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang berjihad di jalan Allah, maka sungguh dia juga telah berjihad.”
(HR. Muslim, No.1895)

14. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ فِي الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى أَحَدٍ يُدْعَى مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang bersedekah sepasang harta (apapun bentuknya, semisal; Kuda perang) untuk membela agama Allah (di jalan Allah), maka dia akan dipanggil kelak di dalam Surga; Wahai hamba Allah! Inilah pahala kebaikanmu. Barang siapa yang rajin shalat, maka dia akan dipanggil dari pintu shalat. Dan barang siapa yang ikut berjihad untuk menegakkan agama Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Dan barang siapa yang rajin bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Dan barang siapa yang rajin berpuasa, maka dia akan dipanggil dari pintu Surga Ar-rayyan. Kemudian Abu Bakar bertanya; Wahai Rasulullah, adakah orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut sekaligus? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab; Ya, ada. Dan aku berharap kamu termasuk salah satu dari mereka.”
(HR. Muslim, No.1705)

15. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, maka dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun.”
(HR. Tirmidzi, No.735)

16. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barang siapa yang meringankan kesusahan seorang mukmin di antara kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan meringankan kesusahannya di antara kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang sedang kesulitan, pasti Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong seorang hamba, selama dia mau menolong saudaranya.”
(HR. Muslim, No.4867)

17. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barang siapa yang meminta perlindungan dengan nama Allah, maka lindungilah dia! Barang siapa yang meminta sesuatu kepadamu dengan bersumpah menyebut nama Allah, maka berikanlah kepadanya! Barang siapa yang mengundang kalian, maka penuhilah undangannya! Dan barang siapa yang berbuat suatu kebaikan kepada kalian, maka balaslah! Kemudian apabila kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas kebaikannya tersebut, maka doakanlah dia, hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya!”
(HR. Abu Dawud, No.1424)

18. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Thabrani, Al-mujam Al-ausath, No.5787)

19. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَعْرٌوْفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap kebaikan itu bernilai sedekah.”
(HR. Bukhari, No.6021)

20. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Allah berfirman; Wahai anak Adam (manusia) berinfaklah! Pasti kalian juga akan diberi infak (rezeki) oleh Allah.”
(HR. Bukhari, No.4933)

21. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim, No.4689)

22. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu.”
(HR. Bukhari, No.1337)

23. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah yang paling utama adalah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri. Dan tangan di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, dan mulailah memberi kepada orang yang menjadi tanggunganmu.”
(HR. Nasai, No.2487)

24. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang menggunakan harta Allah dengan cara tidak benar, bagi mereka adalah Neraka pada hari Kiamat.”
(HR. Bukhari, No.2886)

25. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertaqwa, yang selalu merasa cukup dan yang rajin beribadah secara diam-diam.”
(HR. Muslim, No.5266)

26. Sahabat Abdurrahman bin Abu Bakrah radhiyallahu anhuma berkata:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
“Ada seseorang bertanya; Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik? Beliau menjawab; Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Lalu lelaki tersebut bertanya lagi; Lalu siapakah manusia yang terburuk? Beliau menjawab; Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya.”
(HR. Tirmidzi, No.2252)

27. Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ قَالَ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang aku miliki. Lalu aku mengatakan; Apabila aku dapat mendahului Abu Bakar pada suatu hari, maka hari ini aku akan mendahuluinya. Kemudian aku datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Aku katakan; Harta yang sama seperti itu. Lalu Umar berkata; Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang dia miliki. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Dia menjawab; Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya. Maka aku mengatakan kepada Abu Bakar; Aku tidak akan bisa mendahuluimu terhadap sesuatu apapun selamanya.”
(HR. Abu Dawud, No.1429. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

28. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ: وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
“Bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau mendatangi istri-istri beliau. Kemudian para istri beliau berkata; Kami tidak punya apa-apa selain air. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada para Sahabatnya; Siapakah yang mau mengajak atau menjamu orang ini? Maka seorang laki-laki dari Anshar berkata; Aku. Lalu Sahabat Anshar itu pulang bersama laki-laki tersebut menemui istrinya, dan berkata; Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini! Istrinya berkata; Kita tidak memiliki apapun, kecuali sepotong roti untuk anakku. Sahabat Anshar itu berkata; Suguhkanlah makanan kamu itu, lalu matikanlah lampu dan tidurkanlah anakmu! Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu, lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya, kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali. Suami-istri itu hanya menggerak-gerakkan mulutnya (seperti mengunyah sesuatu) seolah keduanya ikut menikmati hidangan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak makan malam. Ketika pagi harinya, pasangan suami-istri itu menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau berkata; Malam ini Allah tertawa atau terkagum-kagum karena perbuatan kalian berdua. Maka kemudian Allah menurunkan firmanNya dalam surat Al-hasyr, Ayat 9, yang artinya; Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan sesuatu yang mereka berikan itu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(HR. Bukhari, No.3514)

29. Sahabat Abdullah bin Hubsyi Al-khatsami radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ لَا شَكَّ فِيهِ وَجِهَادٌ لَا غُلُولَ فِيهِ وَحَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ قِيلَ فَأَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقُنُوتِ قِيلَ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ جُهْدُ الْمُقِلِّ قِيلَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ هَجَرَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قِيلَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ جَاهَدَ الْمُشْرِكِينَ بِمَالِهِ وَنَفْسِهِ قِيلَ فَأَيُّ الْقَتْلِ أَشْرَفُ قَالَ مَنْ أُهَرِيقَ دَمُهُ وَعُقِرَ جَوَادُهُ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya; Amal apa yang paling utama? Beliau menjawab; Keimanan tanpa ada keraguan padanya, jihad tanpa ada kedengkian dan haji mabrur. Beliau ditanya; Shalat apa yang paling utama? Beliau menjawab; Lama dalam berdoa ketika shalat, yakni sebelum ruku dan setelahnya. Dikatakan; Sedekah apa yang paling utama? Beliau menjawab; Sedekah yang diupayakan dengan kerja keras saat rezekinya terbatas. Dikatakan; Hijrah apa yang paling utama? Beliau menjawab; Orang yang berhijrah (meninggalkan) apa yang Allah azza wa jalla haramkan. Dikatakan; Jihad apa yang paling utama? Beliau menjawab; Orang yang berjihad melawan kaum musyrikin dengan harta dan jiwanya. Dikatakan; Mati apa yang paling mulia? Beliau menjawab; Orang yang darahnya dialirkan dan kudanya disembelih.”
(HR. Nasai, No.2479)

30. Sahabat Mutharrif radhiyallahu anhu berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa salam dan beliau sedang membaca ayat Al-quran; Bermegah-megahan telah melalaikanmu. (Surat At-takaatsur, Ayat 1). Lalu beliau bersabda; Anak cucu Adam berkata; Hartaku, hartaku! Beliau berkata; Wahai anak cucu Adam hartamu tidak lain adalah sesuatu yang kamu makan lalu habis, sesuatu yang kamu kenakan lalu usang, atau yang kamu sedekahkan lalu kekal.”
(HR. Muslim, No.5258)

31. Sahabat Umar radhiyallahu anhu berkata:

ذُكِرَ لِيْ، أَنَّ الْأَعْمَالَ تَبَاهِي فَتَقُولُُ الصَّدَقَةُ أَنَا أَفْضَلُكُمْ
“Diceritakan kepadaku, bahwa semua amal akan saling dibanggakan. Kemudian amal sedekah mengatakan; Aku yang paling utama di antara kalian.”
(HR. Albani, Shahih At-targhib, No.878)

32. Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

أَصَابَ عُمَرُ بِخَيْبَرَ أَرْضًا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ مِنْهُ فَكَيْفَ تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ فِي الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ
“Umar mendapatkan harta berupa tanah di Khaibar, lalu dia menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan berkata; Aku mendapatkan harta dan belum pernah aku mendapatkan harta yang lebih berharga darinya. Bagaimana anda memerintahkan aku tentangnya? Beliau bersabda; Jika kamu mau, kamu bisa pelihara pohon-pohonnya, lalu kamu sedekahkan hasilnya. Maka Umar mensedekahkannya, di mana tidak dijual pepohonannya, tidak juga dihibahkannya, dan juga tidak diwariskannya namun, dia mensedekahkan hartanya itu untuk para fakir, kerabat, untuk membebaskan budak, dan untuk di jalan Allah, untuk menjamu tamu dan orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang maruf (benar) dan untuk memberi makan teman-temannya, asal bukan untuk maksud menimbunnya.”
(HR. Bukhari, No.2565)

Imam Ash-shanani rahimahullah menjelaskan:
“Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan istilah wakaf. Perlu diketahui bahwa wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari Sahabat Umar bin Al-Khatthab. Kaum Muhajirin berkata; Wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari Umar.”
(Subulu As-salam, 5;226)

Syaikh Abdullah Al-fauzan hafizhahullah berkata:
“Hadits ini jadi dalil akan sahnya wakaf dan pahalanya yang besar di sisi Allah. Di mana wakaf tersebut tetap manfaatnya dan langgeng pahalanya. Contoh, wakaf aktiva seperti tanah, kitab, dan mushaf yang terus bisa dimanfaatkan. Selama benda-benda tersebut ada, lalu dimanfaatkan, maka akan terus mengalir pahalanya pada seorang hamba.”
(Minhah Al-allam, 7;11)

33. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا مِنْ نَخْلٍ وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ قَالَ أَنَسٌ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ). قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ: (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ). وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ
“Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma, dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha (sumur yang ada di kebun tersebut) yang menghadap ke masjid, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering mamemasuki kebun tersebut dan meminum airnya yang baik. Anas berkata; Ketika turun firman Allah taala (Surat Ali Imran, Ayat 92) yang artinya; Kalian sekali-kali tidak akan sampai pada kebaikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah taala telah berfirman; Kalian sekali-kali tidak akan sampai pada kebaikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha itu dan aku mensedekahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya. Maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadamu! Anas berkata; Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu sedekahkan untuk kerabatmu. Maka Abu Thalhah berkata; Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya.”
(HR. Bukhari, No.1368)

34. Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan Al-qurannya. Sungguh, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih dermawan dari pada angin yang berhembus.”
(HR. Bukhari, No.3554)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:
“Diserupakannya kedermawanan Nabi dengan angin yang berhembus adalah karena kedermawanan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan manfaat yang menyeluruh seperti angin yang berhembus, yang memberikan manfaat terhadap setiap yang dilewatinya.”
(Fathu Al-bari, 1;68)

Imam Asy-syafii rahimahullah berkata:
“Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat, sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Yala dan ulama Hanbali lainnya.”
(Lathaif Al-maarif, Hal.301)

C. BERDASARKAN KISAH

Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir berkata, Maula perempuan Abu Umamah bercerita kepadaku:
“Abu Umamah adalah orang yang suka bersedekah dan senang mengumpulkan sesuatu untuk kemudian disedekahkan. Dia tidak pernah menolak seorang pun yang meminta sesuatu kepadanya, sekali pun dia hanya bisa memberi sesiung bawang merah, atau sebutir kurma, atau sesuap makanan.

Pada suatu hari ada seorang peminta-minta datang kepadanya, padahal dia sudah tidak memiliki harta, selain uang sebanyak 3 dinar. Orang itu tetap meminta juga, maka Abu Umamah memberikannya 1 dinar. Kemudian datang orang lain untuk meminta, lalu Abu Umamah memberinya 1 dinar. Datang lagi satu orang, lalu Abu Umamah memberinya 1 dinar juga.

Melihat kejadian itu, aku pun marah. Kemudian aku berkata; Wahai Abu Umamah, anda tidak menyisakan untuk kami suatu apa pun! Kemudian Abu Umamah berbaring untuk tidur siang. Ketika adzan Ashar dikumandangkan, aku membangunkannya, lalu dia berangkat menuju masjid. Setelah itu aku bercakap-cakap dengannya, kemudian aku meninggalkannya untuk mempersiapkan makan malam dan memasang pelana kudanya.

Ketika aku masuk kamar untuk merapikan tempat tidurnya, tiba-tiba aku menemukan mata uang emas, dan setelah aku hitung, semuanya berjumlah 300 dinar.

Aku berkata dalam hatiku; Tidak mungkin dia melakukan sesuatu seperti apa yang telah dia perbuat, kecuali dia sangat percaya dengan apa yang akan menjadi penggantinya.

Setelah Isya, dia masuk rumah dan ketika melihat makanan yang telah tersedia dan pelana kuda telah terpasang, dia tersenyum dan berkata; Inilah kebaikan yang diberikan oleh Allah.

Aku berada di hadapannya sampai dia makan malam. Ketika itu aku berkata; Semoga Allah senantiasa mengasihimu dengan infaq yang anda berikan itu, sebenarnya anda telah menyisihkan simpanan, tetapi mengapa anda tidak memberitahuku, sehingga aku dapat mengambilnya. Lalu Abu Umamah bertanya; Simpanan yang mana? Aku tidak menyimpan apapun! Kemudian aku angkat kasurnya, ketika Abu Umamah melihat dinar itu, dia bergembira dan sangat heran.

Seketika itu pun aku potong tali ikatku, sebuah tali yang menandakan aku adalah seorang Majusi atau Nashrani, dan setelah itu aku masuk Islam.

Ibnu Jarir berkata; Aku melihat wanita tersebut (bekas budak), menjadi guru kaum wanita di masjid Himsha yang mengajarkan Al-quran, As-sunnah, dan ilmu faraidh (hukum waris).
(Buku 99 Kisah Orang Shalih)

Itulah kisah nyata dari sosok yang sangat bersemangat untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah, sehingga sedekahnya sebanyak 3 dinar, Allah balas dengan 300 dinar.

Ini merupakan bukti balasan dari Allah itu sangat besar dan banyak. Dan ini baru dari sisi nominal, belum dilihat dari sisi keberkahan harta dan kehidupannya. Sungguh Allah adalah sebaik pemberi balasan.

Semoga penjelasan dari Al-quran, As-sunnah, kisah dari orang shalih tersebut bisa menjadi sebab motivasi untuk kita bisa beramal shalih dengan istiqamah. Dan semoga Allah azza wa jalla menjadikan akhir hidup kita ditutup dengan ibadah, sehingga kematian kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin!

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ
“Setiap nikmat (rezeki) yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah.”
(Jamiu Al-ulum Wa Al-hikam, 2;82)

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk kita bisa membaca, memahami, dan mengamalkan isi dari tulisan ini dengan tuntas dan istiqamah. Sehingga kita bisa menjadi hamba Allah yang bermanfaat di dunia serta akhirat, dan kita juga bisa memiliki amal jariyah untuk kehidupan di akhirat. Dan semoga Allah azza wa jalla menjadikan kita sebagai penghuni Surga FirdausNya. Aamiin!
___
@Kota Angin-Majalengka, Jawa Barat.
04 Jumadal Ula1440H/09 Januari 2019M.

Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaKETENTUAN CHANNEL TELEGRAM PEMIRSA KHIYAAR TV
Artikel sesudahnyaLebih Dahulu Ayam Atau Telur?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here