Beranda Belajar Islam Aqidah Mengenal Dan Menyikapi Hari Natal

Mengenal Dan Menyikapi Hari Natal

277
0
BERBAGI

Mengenal Dan Menyikapi Hari Natal

Sebelum kita mengetahui sikap apa yang harus kita lakukan pada saat hari natal tiba, maka kita perlu juga mengetahui sejarah hari natal, agar kita bisa mengenalnya dengan jelas dan tuntas, sehingga kita bisa menghukuminya dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu.

A. Pandangan Umum

Pada situs web Wikipedia dijelaskan;
Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam perjanjian baru. Menurut Lukas, seorang Malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada.

Catatan pertama: Peringatan hari natal adalah pada tahun 336, sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi, agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

Pada tahun 1100 natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan pada tahun 1500-an, gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut hari natal sebagai hari raya kafir, karena mengikut sertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali pada kebiasaan semula.

Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari natal, yaitu menghias pohon natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.

Dalam bahasa Inggris, kata Christmas (hari natal) dipastikan berasal dari kata Cristes Maesse, frasa dalam bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Christos). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Tradisi natal diawali oleh gereja Kristen terdahulu untuk memperingati suka-cita kehadiran juru selamat “Mesias” di dunia. Sampai hari ini, hari raya natal adalah hari raya umat Kristen di dunia untuk memperingati hari kelahiran “Raja Damai” Yesus Kristus. Secara tarikh (sejarah), tidak ada tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus namun, kalender Masehi telah menetapkan tanggal memperingati atau merayakan hari natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, gereja kemudian mengadakan ibadah perayaan keagamaan khusus. Selama masa natal, umat Kristen mengekspresikan cinta-kasih dan suka-cita mereka dengan bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun holly, mistletoe dan pohon natal.

Kata adven berarti datang, di mana masa-masa menyambut kedatangan “Mesias” Yesus Kristus ke dunia, ragam tradisi merayakan masa adven. Untuk kebanyakan umat Kristiani, masa adven memuncak pada malam sebelum natal (malam natal), tanggal 24 Desember. Gereja-gereja dihiasi dengan lilin, lampu, dan daun-daunan hijau dan bunga pointsettia.

Meski kebiasaan ini bukan esensi dari hari raya natal, kebiasaan untuk tukar-menukar kado kepada sanak-saudara dan teman-teman pada hari natal, kemungkinan bermula di Romawi kuno dan Eropa utara. Di daerah-daerah tersebut, orang-orang memberikan hadiah kepada satu sama lain sebagai bagian dari perayaan akhir tahun.

Karena pada awalnya, malam natal adalah hari raya keagamaan umat Kathalik, hari tersebut ditetapkan sebagai hari libur resmi. Gereja-gereja mengadakan perayaan pada malam itu, mereka mengadakan prosesi keagamaan di gua natal (replika dari kandang domba tempat Yesus “Mesias” Kristus lahir, yang telah dihiasi dengan dengan patung-patung tokoh Yesus, Mariam, Yusuf, para gembala) sambil menyanyikan lagu-lagu natal.

Di Eropa, konon ada tradisi tersendiri dalam perayaan natal, di mana orang-orang dewasa minum eggnog, semacam susu, telur, madu, yaitu campuran krim, susu, gula, telur kocok dan brandy (semacam minuman beralkohol) atau rum. Konon, pada malam natal, Santa Claus menaiki kereta salju penuh hadiah, ditarik oleh delapan ekor rusa kutub. Santa Claus lalu terbang menembus awan untuk mengantarkan hadiah-hadiah itu kepada anak-anak di seluruh dunia. Untuk mempersiapkan kunjungan Santa, anak-anak mendengarkan orang tuanya membacakan The Night Before Christmas (Malam Sebelum Natal) sebelum tidur pada malam natal. Puisi tersebut dikarang oleh Clement Moore pada tahun 1832. Konon, para anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian. Santa turun dari cerobong asap dan meninggalkan permen dan hadiah-hadiah dalam kaus kaki itu untuk anak-anak. Kini, tradisi itu tetap diteruskan namun, kaus kakinya digantikan oleh tas kain merah berbentuk kaus kaki.

Kalender masehi menetapkan 25 Desember sebagai hari raya keagamaan Kristen maupun Kathalik, maka hari tersebut ditetapkan sebagai hari libur resmi. Namun, umat Kristen masa kini merayakan natal dengan beranjak dari sisi esensinya, yaitu merayakan “Anugerah” terbesar yang Tuhan sediakan, yaitu datangnya “Juru Selamat” sang Raja Damai ke dalam dunia. Mitos maupun dongeng-dongeng atau sejarah, bukanlah esensi natal. Karena sejarah akan selalu membuahkan polemik mau pun pro-kontra. Bersyukur atas anugerah dan meneladani Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup.

Aktivitas ini menjadi populer sejak tahun 1800-an. Lagu-lagu natal yang disebut Carol, dinyanyikan dan diperdengarkan selama masa liburan, menjadi populer sejak tahun 1800-an menghias rumah. Kebanyakan orang Amerika menghias pohon natal, yaitu pohon cemara atau pohon buatan, di rumah-rumah mereka. Lampu-lampu dan lingkaran daun-daunan dari pohon empat musim, mistletoe dan ucapan “Selamat Natal” diletakkan di dalam dan di luar banyak rumah, menjadi populer sejak tahun 1800-an.

Seringkali dengan kalkun. Selain itu, banyak yang mengadakan pesta perjamuan persis sebelum dan sesudah natal.

Umat Kathalik memiliki legenda tentang Santa Claus, seorang bernama Santo Nikolas, kemudian menjadi legenda sebagai “Bapak Natal” yang suka memberi hadiah kepada anak-anak. Santa Claus adalah tokoh mitos yang dikatakan tinggal di Kutub utara, di mana dia membuat mainan sepanjang tahun.

Saat ini, momen natal juga untuk mewujudkan cinta-kasih dan amal pemberian. Pemberian sumbangan khusus bagi ke rumah sakit dan panti asuhan atau dibuat dana khusus untuk membantu mereka yang membutuhkan. Di Indonesia sendiri, momen natal juga menjadi berkah, di mana para Narapidana mendapatkan potongan hukuman atau remsi. Bahkan konon, pada saat hari raya natal, pertempuran juga dihentikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka kita bisa memahami bahwa hari natal itu sama seperti hari perayaan lainnya. Dan ternyata hari natal dirayakan juga di negara lainnya, meskipun bentuk perayaannya berbeda.

Setelah kita mengetahui penjelasan hari natal menurut ilmu sejarah, maka ada satu pertanyaan yang muncul;

Apakah dengan banyaknya negara yang ikut serta merayakan hari natal, itu menjadi bukti bahwa hari perayaan tersebut boleh dirayakan juga menurut islam? Sehingga umat islam juga boleh ikut merayakannya?

B. Mempelajari Kisah Lahirnya Nabi Isa bin Maryam

Nabi Isa termasuk di antara Nabi dan Rasul Allah azza wa jalla. Berbeda dengan manusia lainnya, Nabi Isa terlahir tanpa seorang ayah, dan ibunya adalah seorang wanita suci dan shalihah. Demikianlah jika Allah azza wa jalla menghendaki sesuatu terjadi, maka itu akan terjadi.

Seperti Adam, Allah azza wa jalla ciptakan tanpa perantara ayah dan ibu, hawa lahir tanpa campur tangan wanita. Dan Isa hanya dari seorang ibu.

Maryam adalah seorang wanita shalihah yang selalu menjaga diri dan kehormatannya. Berita tentang kelahiran Nabi Isa alaihissalam menyebar perlahan. Satu per-satu orang mulai tahu, bahwa Maryam yang tidak bersuami melahirkan anak laki-laki. Saat hendak melahirkan putranya, Maryam menyendiri di ujung timur Masjid Al-Aqsha.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا
“Maka Maryam mengandungnya, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.”
(Surat Maryam: ayat 22)

Maryam menyepi dan menyendiri. Dia takut beredar fitnah tentang dirinya di masyarakat. Tentu mereka akan bertanya dari mana dia peroleh anak itu? Mana suaminya? Apakah hasil dari zina? Siapakah bapaknya? Dan tuduhan keji lainnya, sehingga dia takut akan semua gunjingan tersebut.

Peristiwa ini sangat berat baginya. Seorang wanita tak akan tahan jika kehormatannya dijadikan bahan hinaan dan cacian. Maryam adalah wanita jujur serta ahli ibadah. Dia mengabdikan diri di tempat yang suci, di tanah yang mulia.

Keluarganya pun menanyakan tentang putranya (Isa bin Maryam). Mereka bertanya: Apakah bisa tanaman tumbuh tanpa benih? Maryam menjawab: Bisa. Siapakah yang pertama menciptakan tanaman? Lalu mereka kembali bertanya: Bisakah pohon tumbuh tanpa air? Maryam menjawab: Bisa. Siapakah yang menciptakan pohon pertama kali? Mereka bertanya lagi: Bisakah seorang anak lahir tanpa seorang ayah? Maryam menjawab: Bisa. Sesungguhnya Allah menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu. Setelah itu, mereka pun diam.

Keluarga Maryam adalah orang yang sangat mencintai dan mengenalnya, tapi mereka pun tetap mempertanyakan dan timbul selintas rasa kekhawatiran dan kecurigaan di hati mereka. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang jauh dari hubungan kekerabatan dengan Maryam, orang-orang fasik, orang-orang yang tidak mengenal Maryam, kemungkinan apa yang akan mereka katakan tentang Maryam dan Nabi Isa?

Ada beberapa kategori manusia yang menilai kejadian tersebut, lalu kita akan termasuk yang mana?

1. Orang-orang Yahudi.
Mereka menuduhnya sebagai anak zina, karena menurut mereka Maryam berzina dengan Yusuf An-Najjar.

2. Orang-orang Nashrani.
Mereka menganggap Isa sebagai anak Allah. Dan maha suci Allah dari anggapan demikian.

3. Orang-orang Islam.
Mereka memuliakan Nabi Isa sebagai seorang Nabi dan Rasul. Namun, tidak berlebih-lebihan terhadapnya, dengan mengimaninya sebagai hamba Allah.

Maryam pergi ke Betlehem, saat sampai di sana dia berkata;

فَأَجَآءَهَا الْمَخَاضُ إِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata: Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”
(Surat Maryam 19: ayat 23)

Maryam berharap seandainya mati, karena beratnya keadaan tersebut. Lalu dalam ayat selanjutnya Allah azza wa jalla menghibur Maryam;

فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ أَلَّا تَحْزَنِى قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا. وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا. فَكُلِى وَاشْرَبِى وَقَرِّى عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
“Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah: Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan (menjatuhkan) buah kurma yang matang kepadamu. Maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu! Jika kamu melihat seseorang, maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Rabb yang maha pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”
(Surat Maryam 19: ayat 24-26)

Pada ayat tersebut, para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang menyeru. Said bin Jubair, Adh-Dhahhak, Amr bin Maimun, dan ulama lainnya menyatakan bahwa itu adalah Jibril. Sedangkan, Mujahid, Al-Hasan, dan lainnya menyatakan bahwa itu adalah Nabi Isa. Nabi Isa menghiburnya: Wahai Ibu, janganlah bersedih. Sang anak menunjukkan bahwa kelahirannya adalah mukjizat dan karunia dari Allah azza wa jalla, maka Maryam pun menjadi tenang.

Kutipan ayat di atas juga menunjukkan bahwa Maryam melahirkan Nabi Isa alaihissalam pada saat kurma sedang berbuah dan musim saat kurma berbuah adalah musim panas. Jadi, selama ini natal yang diidentikkan dengan musim dingin adalah suatu hal yang keliru (salah).

Bahkan pada ayat tersebut dijelaskan juga, bahwa Nabi Isa dilahirkan ketika Ibunya (Maryam) berada di sebuah tempat yang terbuka dan disekitarnya terdapat pohon kurma, bukan di kandang hewan (domba). Maka termasuk penghinaan terhadap Nabi Isa, ketika selama ini orang-orang Nashrani yang merayakan hari natal dengan berkeyakinan Nabi Isa dilahirkan di kandang hewan (domba). Sangat keji keyakinan dan sikap mereka terhadap orang yang menjadi utusan Allah.

Setelah merasakan ketenangan, Maryam pulang dan bertemu kaumnya. Mereka berkata;

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا. يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang sangat munkar. Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu bukanlah seorang pezina.”
(Surat Maryam: ayat 27-28 )

Berbeda dengan keluarganya yang mempertanyakan keadaannya terlebih dahulu, orang-orang fasik malah langsung menuduh Maryam. Mereka mencaci Maryam dengan sangkaan telah melakukan sesuatu yang sangat munkar, yakni perzinaan. Mereka juga sebut kedua orang tuanya yang baik-baik, agar Maryam semakin merasa malu.

Mereka tuduh Nabi Zakariya lah yang menzinainya. Tanpa alasan, mereka hakimi Nabi Zakariya dengan membunuhnya. Di antara mereka juga ada yang menuduh Yusuf An-Najjar (sepupu Maryam) adalah bapaknya Nabi Isa.

Di samping itu, Maryam mengetahui anaknya mampu berbicara dan bersaksi untuk mereka. Dia pun mengatakan;

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا
“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”
(Surat Maryam: ayat 29)

Lalu Nabi Isa memberikan jawaban dan persaksian, membantah tuduhan keji yang ditujukan kepada ibunya;

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
“Berkata Nabi Isa: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”
(Surat Maryam: ayat 30)

Kalimat pertama dari lisan Nabi Isa menegaskan bahwa dia adalah hamba Allah azza wa jalla dan bukan anak Allah. Sekaligus juga membantah tuduhan kaumnya terhadap ibunya. Dia membantah orang yang mengatakannya sebagai anak Allah atau anak zina.

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا. وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا. وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
“Dan Allah menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
(Surat Maryam: ayat 31-33)

Sebagai penutup dari kisah ini, Allah menjelaskan tentang Nabi Isa alaihissalam;

ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ. مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ ۖ سُبْحَانَهُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, maha suci Allah. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata: Jadilah! Maka jadilah.”
(Surat Maryam: ayat 34-35)

C. Pandangan Islam

Hari raya adalah hari yang di dalamnya ditumpahkan segala rasa suka-cita yang senantiasa dirayakan oleh umat-umat terdahulu hingga saat ini. Mereka mengungkapkan segala makna peribadahan kepada sesembahan mereka dengan berbagai macam cara yang menurut persangkaan mereka itu adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada sang pencipta alam semesta (Allah). Padahal sesungguhnya perbuatan yang mereka lakukan itu adalah hal yang sia-sia, tidak bermanfaat. Bahkan membuat mereka mendapatkan adzab dari Allah azza wa jalla, bukan ridhaNya. Itu semua dikarenakan mereka telah berbuat syirik terhadap Allah azza wa jalla, yakni menyamakan Allah dengan makhluk.

Dalam agama islam, hari raya besar umat islam itu cuma ada dua, dan tidak ada yang lainnya. Yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dahulu orang-orang Jahiliyyah mempunyai dua hari dalam setiap tahun untuk bermain-main. Setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau bersabda: Kalian dahulu mempunyai dua hari untuk bermain-main, sungguh Allah telah menggantinya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha.”
(HR. An-Nasai, no.1538 )

Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الْأَنْصَارُ فِي يَوْمِ بُعَاثٍ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَبِمَزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدِ الْفِطْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Abu Bakar masuk ke dalam rumahku, sementara di sisiku ada dua anak gadis Anshar. Keduanya melantunkan nyanyian yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari raya Buats, dan mereka berdua bukanlah seorang penyanyi. Lalu Abu Bakar berkata: Apakah ada seruling setan di rumah Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Dan pada saat itu bertepatan hari raya Idul Fithri, hingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.”
(HR. Ibnu Hibban, no.1888 )

Dalam riwayat yang lain, Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِدُفَّيْنِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُنَّ فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا
“Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam masuk ke tempatnya dan di sisinya ada dua anak perempuan yang sedang menabuh dua rebana, maka Abu Bakar pun membentak kedua budak tersebut. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Biarkan saja mereka! Sesungguhnya bagi setiap kaum memiliki hari raya.”
(HR. An-Nasai, no.1575)

Jadi, hal mendasar yang harus kita ketahui dan pahami, bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dan hari raya untuk umat islam hanya ada dua, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Karena ketika suatu kaum mengikuti hari raya dari hari raya kaum yang lainnya, atau mengikuti kebiasaan dari kaum lainnya, maka dia dihukumi sama seperti kaum tersebut.

Sebagaimana jika kita selaku umat islam yang sudah memiliki dua hari raya, lalu kita malah mengikuti juga hari raya umat lainnya, semisal umat Nashrani, yakni dengan ikut merayakan hari raya natal. Maka dengan demikian, kita akan termasuk juga sebagai umat Nashrani (Kristen). Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, maka dia juga termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud, no.3512)

Maksud dari tasyabbuh pada hadits tersebut bersifat umum, siapa pun yang mengikuti kebiasaan yang menjadi ciri khas suatu kaum apa pun bentuknya, maka dia termasuk ke dalam golongan kaum tersebut. Dan sangat hina dan merugi jika kita selaku umat islam, umat yang Allah muliakan namun, malah mengikuti umat yang Allah hinakan dan binasakan. Maka dari itu, jadilah umat islam yang tidak latah! Yang tidak asal mengikuti dan melakukan sesuatu, tanpa mencari tahu tentang hukum dari perbuatan tersebut sebelumnya. Karena agama islam adalah agama dalil (ilmu), sehingga setiap hal yang berkaitan dengan islam harus disertai dengan alasan yang sesuai dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Jadi islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati perayaan selain dari keduanya (Idul Fithri dan Idul Adha). Seperti hari natal, Yesus Kristus, hari ibu, hari Kartini, kelahiran Nabi, tahun baru hijriyah, tahun baru masehi, turunnya Al-Quran, Isra Miraj, Isa Al-Masih, hari buruh Nasional, dan berbagai hari raya lainnya yang disematkan atas nama islam atau pun atas nama nasional. Sehingga kita selaku umat islam tidak perlu ikut campur merayakan hari natal, baik dengan melakukan ritualnya, mengucapkan kata selamat hari natal, saling tukar kado atau hadiah lainnya, ikut menyebarluaskan informasi berkenaan hari raya natal, atau pun hal-hal lainnya yang berkaitan dengan hari natal.

Seharusnya umat islam merasa bahagia dengan agamanya (islam) dan mencukupkan diri dengan pedoman yang sudah islam ajarkan, yakni dengan merayakan dua hari perayaan islam tersebut. Karena dua hari perayaan yang sudah dijelaskan oleh Rasulullah (Idul Fithri dan Idul Adha) adalah hari perayaan yang Allah berikan untuk kita selaku umat islam, hari raya yang lebih baik dan lebih mulia dari pada hari perayaan selainnya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla menjelaskan tentang agama islam;

اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agama kalian, maka sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu! Pada hari ini sudah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku cukupkan nikmatKu untuk kalian, dan telah Aku ridhai islam sebagai agama kalian.”
(Surat Al-Maidah 5: ayat 3)

Islam adalah agama yang sudah sempurna syariatnya, sehingga tidak perlu direnovasi dan diubah, tidak perlu ditambah dan dikurangi. Cukup bagi kita sebagai umat islam melakukan apa yang Allah perintahkan dan mengikuti apa yang Rasulullah contohkan.

D. Alasan Tidak Boleh Merayakan Hari Natal

Salah satu hari perayaan yang bukan berasal dari islam adalah hari natal. Mereka yang merayakannya akan saling mengucapkan: Merry Christmas, atau yang artinya Selamat Hari Natal. Dan biasanya, momen ini disandingkan dengan ucapan Selamat Tahun Baru. Untuk pembahasan hari perayaan tahun baru, insyaallah akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Sebagian orang menganggap ucapan semacam itu tidak bermasalah, artinya boleh diucapkan oleh siapa pun. Karena di kalangan orang-orang yang bukan beragama islam itu merupakan hal yang sudah wajar. Namun, hal ini menjadi masalah yang sangat besar dan termasuk hal yang tidak wajar, jika seorang yang beragama islam mengucapkan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang yang bukan beragama islam, semisal hari natal.

Bahkan ada juga sebagian di antara umat islam, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir, yakni dengan alasan dan anggapan toleransi dalam beragama. Toleransi beragama bukanlah seperti kesabaran yang tidak ada batasnya. Namun, toleransi beragama juga dijunjung tinggi oleh syariat, asalkan di dalamnya tidak terdapat penyelisihan syariat. Salah satu bentuk dari toleransi adalah membiarkan mereka berhari raya, tanpa ikut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu mengucapkan ucapan selamat kepada mereka.

Islam sudah mengajarkan kemuliaan dan akhlak-akhlak terpuji kepada umatnya. Tidak hanya perlakuan baik terhadap sesama muslim namun, islam juga sudah mengajarkan akhlak terpuji terhadap orang-orang yang bukan beragama islam. Bahkan seorang muslim dianjurkan berbuat baik kepada orang-orang yang bukan beragama islam, selama orang-orang yang bukan beragama islam tersebut tidak memerangi umat islam.

Allah azza wa jalla berfirman;

لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak juga mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
(Surat Al-Mumtahanah: ayat 8 )

Namun, ayat ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk membenarkan secara mutlak sikap baik yang harus dilakukan oleh umat islam kepada orang-orang yang bukan beragama islam. Sehingga sebagian orang menganggap bahwa mengucapkan ucapan selamat hari natal adalah suatu bentuk perbuatan baik kepada orang-orang Nashrani. Maka dalam masalah ini, harus dibedakan antara berbuat baik (ihsan) kepada orang-orang yang bukan beragama islam, dengan bersikap loyal (wala) kepada orang yang bukan beragama islam.

Di antara alasan terlarangnya ucapan selamat natal adalah;

1. Karena natal bukanlah perayaan umat islam.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa perayaan bagi kaum muslimin hanya ada 2, yaitu hari Idul Fithri dan hari Idul Adha. Untuk penjelasannya, silakan para Pembaca bisa membacanya kembali di bagian atas!

Sehingga sebagai muslim yang taat kepada Allah azza wa jalla, cukuplah petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadi sebaik-baik petunjuk.

2. Ucapan tersebut sebagai bukti menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal.
Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakikatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda, dan momen yang semisalnya.

Begitu juga dengan seorang muslim yang mengucapkan selamat natal kepada seorang Nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran orang Nashrani tersebut, yang menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran Tuhan mereka, yaitu Nabi Isa alaihissalam. Karena mereka menganggap bahwa Nabi Isa sebagai Tuhan mereka. Bukankah hal ini adalah kekufuran yang sangat jelas dan nyata?

Allah azza wa jalla berfirman;

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.”
(Surat Al-Kafirun: ayat 6)

3. Merupakan sikap loyal yang salah.
Loyal (wala) tidaklah sama dengan berbuat baik (ihsan). Wala memiliki arti loyal, patuh, taat, menolong, atau memuliakan orang yang kita cintai, sehingga apabila kita wala terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut.

Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita secara perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari dan ada juga beralasan yang diucapkan itu hanya sekedar di lisan saja. Padahal, seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan selain Allah, apa pun bentuknya.

Allah azza wa jalla berfirman;

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرٰهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدٰوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَىْءٍ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya. Ketika mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari kekafiranmu. Dan telah nyata antara kami dan kalian ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya. Sungguh, aku akan memohonkan ampunan untukmu namun, aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu. (Ibrahim berkata), Ya Rabb kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”
(Surat Al-Mumtahanah 60: ayat 4)

4. Nabi melarang umatnya untuk mendahului ucapan salam kepada Ahlul Kitab.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dalam salam (ucapan selamat).”
(HR. Imam Muslim, no.2167)

Mengucapkan assalamualaikum, doa yang penuh dengan kebaikan kepada orang lain saja tidak boleh, apalagi mengucapkan kalimat salam selain itu. Sehingga ucapan selamat natal, termasuk juga di dalam larangan hadits tersebut, karena itu termasuk dari salam.

5. Menyerupai orang kafir.
Sudah sangat jelas, bahwa sebagian umat islam sudah terbiasa berpartisipasi dalam perayaan natal. Kita bisa lihat ketika di pasar-pasar, jalan-jalan, dan pusat perbelanjaan lainnya, sebagian dari umat islam ada yang berpakaian dengan pakaian khas perayaan natal, dengan berbagai atribut lainnya. Padahal Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang umat islam untuk menyerupai orang-orang yang bukan beragama islam.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, maka dia juga termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud, no.3512)

6. Allah melarang umat islam dari menolong dalam keburukan.
Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan keburukan!”
(Surat Al-Maidah: ayat 2)

Ketahuilah wahai umat islam! Perkara yang remeh bisa menjadi perkara yang besar, jika kita tidak mengetahuinya. Mengucapkan selamat pada suatu perayaan yang bukan berasal dari islam saja terlarang, semisal ucapan selamat ulang tahun, bagaimana lagi dengan mengucapkan selamat kepada perayaan orang-orang yang bukan beragama islam? Tentu hal tersebut lebih terlarang.

Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan yang ringan namun, bisa menjadi masalah yang berat dan besar dalam hal keyakinan (aqidah). Sebagai contoh: Coba kita minta kepada orang-orang yang bukan beragama islam, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat! Apakah mereka bakalan mau mengucapkannya? Tentu tidak! Karena mereka tahu konsekuensi dari mengucapkan dua kalimat tersebut, yakni mereka secara otomatis akan masuk ke dalam agama islam dan keluar dari agama mereka sebelumnya.

Lebih parah lagi, jika ada di antara umat islam yang ikut membantu perayaan natal, misalnya dengan ikut membantu menyebarkan informasi tentang ritual ibadah atau hari perayaan mereka, seperti berupa sms, broadcast, spanduk, baliho, pamflet, dan media-media semisalnya.

Allah azza wa jalla berfirman;

إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَا سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتٰنٌ عَظِيمٌ. يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِۦٓ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِينَ
“Ingatlah, ketika kalian menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya sedikit pun, dan kalian menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu adalah sesuatu yang besar. Dan mengapa kalian tidak berkata ketika mendengarnya: Tidak pantas bagi kita membicarakan ini, maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang besar. Allah memperingatkan kalian agar tidak kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kalian orang yang beriman.”
(Surat An-Nur 24: ayat 17)

Maka dari itu, umat islam yang berprofesi sebagai pedagang atau perajin, tidak boleh menerima pesanan yang berkaitan dengan aktivitas ritual ibadah mereka, termasuk untuk hari perayaan mereka, karena itu pun termasuk ke dalam tolong-menolong dalam keburukan dan dosa yang sudah Allah larang.

Selain itu, umat islam yang profesinya sebagai pekerja juga tidak boleh mematuhi peraturan instansi atau tempatnya bekerja yang mewajibkannya untuk mengenakan atribut yang berkaitan dengan ritual ibadah atau hari perayaan selain dari islam, apa pun bentuknya.

Dari Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Bagi setiap muslim, wajib mendengar dan taat kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai atau pun hal yang tidak disukai (dibenci), kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak perlu mendengarnya dan tidak boleh mentaatinya.”
(HR. Imam Bukhari no.7144)

Sahabat Ali radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengutus satu pasukan dan mengangkat seseorang sebagai amir (pemimpin) mereka, amir tersebut kemudian menyalakan api dan memberi perintah: Masuklah kalian ke dalam api ini! Sebagian mereka ingin memasukinya dan sebagian lainnya berkata: Bukankah kita sendiri ingin melarikan diri dari api (Neraka)? Akhirnya mereka melaporkan kasus tersebut kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau bersabda kepada mereka yang ingin memasukinya: Kalau mereka memasukinya, niscaya mereka tetap berada dalam api itu hingga kiamat tiba. Dan beliau berkata kepada sebagian yang lain: Sama sekali tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.”
(HR. Imam Bukhari, no.6716)

Sahabat Ali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dengan bermaksiat kepada Allah azza wa jalla.”
(HR. Ahmad, no.1041. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan hadits ini sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Jadi, seharusnya kita lebih percaya diri dalam beraktivitas dan beramal. Karena islam sudah mengajarkan dan menjelaskan semua kepada umatnya. Maka teruslah berjuang dan berusaha untuk mempelajari semua ilmu islam, agar kita memiliki ilmu untuk beramal. Karena dengan ilmu kita bisa membedakan mana yang benar untuk kita kerjakan dan mana yang salah untuk kita tinggalkan. Sehingga, kita tidak mudah dibohongi, dibodohi dan ditipu oleh orang-orang yang bukan beragama islam, termasuk di dalamnya adalah orang-orang munafik.

Adanya realita saat ini, umat islam mudah dibohongi, dibodohi dan ditipu oleh orang-orang yang bukan beragama islam, karena lemahnya iman kita, yang disebabkan lemah dan minimnya ilmu yang kita miliki, sehingga kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Semoga melalui tulisan ini, Allah jadikan sebab kebaikan, hidayah dan taufiqNya untuk diri Penulis dan para Pembaca. Sehingga kita mampu beribadah sesuai tuntunan syariat islam dengan istiqamah dan tidak terjerumus ke dalam ibadah yang tidak sesuai tuntunan syariat islam.

Semoga Allah memberikan kemudahan untuk kita dalam bekerja dan berwirausaha dengan amanah, jujur dan tidak menghalalkan sesuatu yang telah Allah haramkan dimanapun dan kapanpun. Dan semoga Allah azza wa jalla menjadikan diri kita sebagai penghuni SurgaNya. Aamiin
_____
@Kota Angin-Majalengka-Jawa Barat.
Senin, 16 Rabiul Akhir 1440H/24 Desember 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMengenal Dan Menyikapi Hari Ibu
Artikel sesudahnyaKETENTUAN CHANNEL TELEGRAM PEMIRSA KHIYAAR TV
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here