Beranda Belajar Islam Adab Adab Berdoa

Adab Berdoa

3213
0
BERBAGI

Adab Berdoa

Hampir semua manusia, termasuk kita ingin doanya dikabulkan oleh Allah azza wa jalla. Namun, tidak sedikit (banyak) di antara kita dan mereka belum mengetahui cara dan sebab agar doanya dikabulkan oleh Allah azza wa jalla. Sehingga, antara keinginan dan kadar usahanya tidak sesuai.

Maka solusinya, segera pelajari cara dan sebab yang membuat doa-doa kita dikabulkan oleh Allah azza wa jalla! Dan itu semua bisa kita ketahui, salah satunya dengan mempelajari adab-adab dalam berdoa dan berusaha untuk mengamalkannya.

Di antara adab dalam berdoa yang harus kita ketahui dan amalkan adalah;

1. Tidak memakan dan menggunakan sesuatu yang haram.

Karena hal itu menjadi sebab tertolaknya doa. Sebagaimana Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ.(المؤمنون:٢٣/الآية:٥١). وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ. (البقرة:٢/الآية:١٧٢). ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu, kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman seperti yang diperintahkanNya kepada para Rasul. Sebagaimana Allah berfirman: Wahai para Rasul! Makanlah oleh kalian makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih! Sesungguhnya Aku maha mengetahui sesuatu yang kalian kerjakan. (Surat Al-Mukminun 23: ayat 51). Dan Allah juga berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik, yang telah kami rezekikan kepada kalian! (Surat Al-Baqarah 2: ayat 172). Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Orang tersebut mengangkat tangannya ke langit, seraya berdoa: Wahai Rabbku, wahai Rabbku! Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doanya?”
(HR. Imam Muslim, no.1015)

Jika sudah terlanjur memakan dan menggunakan sesuatu yang haram, maka segera beristighfar (memohon ampun) dan bertaubatlah kepada Allah azza wa jalla!

Beristighfar dan bertaubat merupakan cara untuk kembali dan mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla. Banyak mendekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintaNya Allah. Karena dengan dicintai Allah, maka doa seseorang akan mudah dikabulkan. Dan di antara amal yang sangat dicintai oleh Allah azza wa jalla adalah dengan memperbanyak istighfar dan taubat.

Mengakui dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat, itu mencerminkan sempurnanya penghambaan terhadap Allah azza wa jalla.

Dari Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الْعَبْدِ إِذَا قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ إِنِّيْ قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. قَالَ: عَبْدِيْ عَرَفَ أَنَّ لَهُ رَباًّ يَغْفِرُ وَ يُعَاقِبُ
“Sesungguhnya Allah kagum kepada hambaNya, apabila dia berkata: Tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Engkau. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku! Karena sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Allah berfirman: HambaKu telah mengetahui bahwa untuknya ada Rabb yang mengampuni dan menghukumi.”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.1821)

Allah azza wa jalla berfirman;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kalian kepadaKu, pasti akan Aku kabulkan untuk kalian! Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepadaKu, mereka akan dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan hina.”
(Surat Ghafir 40: ayat 60)

Allah azza wa jalla sudah berjanji untuk mengabulkan semua doa dan permintaan hamba-hambaNya. Namun, justru kita sendiri yang malah menghalangi terkabulnya doa tersebut. Yaitu disebabkan oleh dosa dan maksiat yang sudah kita lakukan selama ini.

Sebagaimana Yahya bin Muadz Ar-Razi rahimahullah menjelaskan;
“Janganlah sekali-kali kamu merasa permohonanmu tidak dikabulkan, ketika kamu berdoa kepada Allah. Karena sungguh kamu (sendiri) yang telah menutup pintu-pintu pengabulan doamu dengan dosa-dosamu.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, hlm.108 )

Allah azza wa jalla berfirman;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ  ۖ  أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ  ۖ  فَلْيَسْتَجِيبُوا لِى وَلْيُؤْمِنُوا بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku itu dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila dia berdoa hanya kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu (taat kepada Allah) dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran.”
(Surat Al-Baqarah 2: ayat 186)

Yahya bin Muadz Ar-Razi rahimahullah juga menjelaskan;
“Allah menjanjikan pengabulan doa hamba-hambaNya yang selalu berusaha mengerjakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya, serta beriman kepadaNya. Lalu bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan permohonan dan doa orang-orang yang selalu menentangNya dengan berbagai perbuatan maksiat dan mengonsumsi harta haram?”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, hlm.107)

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
“Tidak ada ibadah yang dilakukan hambaKu untuk mendekatkan dirinya kepadaKu yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Jika hambaKu terus-menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku akan mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Aku lah pendengarannya yang dijadikannya untuk mendengar, dan pandangannya yang dijadikannya untuk memandang, dan tangannya yang dijadikannya untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jika dia meminta kepadaKu, pasti Aku beri dan jika meminta perlindungan kepadaKu, pasti Aku lindungi.”
(HR. Imam Bukhari, no.6021)

Maka solusinya, bertaubatlah jika ingin doanya dikabulkan oleh Allah azza wa jalla! Untuk memahami taubat lebih lengkap dan jelas, silakan para Pembaca bisa membaca dan mempelajari tulisan Penulis yang tersedia di website khiyaar.com dengan judul: AKU INGIN TAUBAT.

2. Memantapkan hati dalam berdoa dan meyakini bahwa Allah akan mengabulkannya.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ  ۖ  أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ  ۖ  فَلْيَسْتَجِيبُوا لِى وَلْيُؤْمِنُوا بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi (mengerjakan) perintahKu dan beriman kepadaKu agar mereka memperoleh kebenaran.”
(Surat Al-Baqarah 2: ayat 186)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ. لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ
“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan: Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki, Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkehendak! Akan tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam meminta (berdoa), karena Allah sama sekali tidak ada yang memaksaNya (tidak merasa keberatan untuk mengabulkan).”
(HR. Imam Bukhari, no.5864)

Termasuk bentuk yakin ketika berdoa kepada Allah adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu dan merasa butuh terhadapnya. Sebagaimana Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اُدْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3401. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Sangat banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi dan makna dari doa yang diucapkan. Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya diucapkan tanpa direnungkan maknanya. Maka dari itu, dibolehkan juga berdoa dengan menggunakan bahasa keseharian atau bahasa yang dipahami, misal: bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, Inggris dan bahasa lainnya. Namun, jika bisa berdoa dengan bahasa Arab dan membaca doa yang dianjurkan dan dicontohkan oleh Allah dan RasulNya, maka tentu itu lebih baik dan utama.

3. Memanfaatkan waktu dan tempat yang mustajab.

Waktu dan tempat mustajab adalah kesempatan untuk berdoa yang lebih mudah untuk dikabulkan oleh Allah azza wa jalla, dibandingkan waktu dan tempat selainnya. Karena pada waktu dan tempat yang mustajab tidak ada hijab (penghalang) antara doa seorang hamba dengan Allah azza wa jalla. Waktu dan tempat yang mustajab merupakan waktu dan tempat yang lebih utama dari waktu dan tempat selainnya. Maka sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim memanfaatkan waktu mustajab untuk banyak berdoa kepada Allah azza wa jalla, bukan untuk hal yang tidak ada manfaatnya!

Di antara waktu dan keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah;

a. Sepertiga akhir malam.
Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يَتَنَزَّلُ رَبَّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلُّ لَيْلَةٍ إلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلْنِيْ فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita yang maha berkah lagi maha tinggi, turun pada setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepadaKu, maka Aku akan kabulkan. Barangsiapa yang memohon kepadaKu, pasti Aku akan perkenankan. Dan barangsiapa yang meminta ampunan kepadaKu, pasti Aku akan mengampuninya.”
(HR. Imam Muslim, no.758 )

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Waktu akhir malam lebih utama digunakan untuk shalat, berdoa, beristighfar dan melakukan berbagai ketaatan lainnya, dari pada waktu awal malam.”
(Syarh Shahih Muslim, 6:38 )

b. Ketika terbangun dari tidur pada malam hari.
Dari Sahabat Amr bin Anbasah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ عَبْدٍ بَاتَ عَلَى طُهُوْرٍ ثُمَّ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَسَأَلَ اللَّهَ شَيئًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا اَوْ مِنْ أَمْرِ اْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ
“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan bersuci (sudah berwudhu), lalu terbangun pada malam hari, kemudian dia memohon sesuatu kepada Allah tentang urusan dunia atau urusan akhirat, melainkan Allah akan mengabulkannya.”
(HR. Al-Albani, Shahih Ibnu Majah, no.3145. Beliau menyatakan bahwa hadits ini shahih)

c. Waktu sahur.
Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita tabaaraka wa taala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: siapa saja yang berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepadaKu, maka akan Aku ampuni.”
(HR. Imam Bukhari, no.1145)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa bentuk keberkahan makan sahur di antaranya adalah karena waktu tersebut orang bangun, adanya dzikir dan doa pada waktu mulia tersebut. Saat itu adalah waktu diturunkannya rahmat serta diterimanya doa dan istighfar.”
(Syarh Shahih Muslim, 9:182)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa akhir malam sangat utama untuk berdoa dan beristighfar. Sebagaimana firman Allah (yang artinya): yaitu orang-orang yang rajin beristighfar di waktu sahur, dan doa di waktu sahur itu adalah mustajab.”
(Fathu Al-Bari, 3:31)

Oleh karena itu, kebiasaan orang-orang shalih di masa silam, mereka banyak memanfaatkan waktu sahur untuk semakin mendekat kepada Allah, bersimpuh di hadapanNya, berdoa dan memohon ampunanNya.

Sebagaimana Allah menceritakan tentang sifat Ahli Surga;

اَلصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
“Merekalah orang-orang yang penyabar, jujur, tunduk, rajin berinfaq dan rajin beristighfar di waktu sahur.”
(Surat Ali Imran 3: ayat 17)

d. Di antara adzan dan iqamat.
Dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak (pasti dikabulkan).”
(HR. At-Tirmidzi, no.196)

e. Pada saat sujud dalam shalat.
Dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِي الدُّعَاءِ فَقُمَنَّ أَنْ يُسْتَجَابَلَكُمْ
“Adapun pada saat sujud, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdoa! Karena pada saat itu sangat mungkin untuk doa kalian dikabulkan.”
(HR. An-Nasai, no.1035)

f. Setelah shalat fardhu.
Dari Sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya;

أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ
“Doa apakah yang paling didengar? Beliau bersabda: Doa di tengah malam terakhir dan setelah shalat-shalat wajib.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3421. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

g. Ketika hujan turun.
Dari Sahabat Sahl bin Saad As-Saidi radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ الْمَطَرِ
“Ada dua doa yang tidak pernah ditolak: doa pada waktu adzan dan doa pada waktu turun hujan.”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.3078 )

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ: عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ
“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: bertemunya dua pasukan, menjelang shalat dilaksanakan dan saat hujan turun.”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.1026)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak, dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat, khususnya curahan hujan pertama di awal musim.”
(Fathu Al-Qadir, 3:340)

h. Di penghujung hari Jumat.
Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَهِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ
“Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat suatu waktu, jika ada seorang hamba muslim yang memanjatkan doa kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, pasti Allah akan memberikan sesuatu yang dia minta. Waktu itu adalah setelah shalat Ashar.”
(HR. Ahmad Syakir, Musnad Ahmad, 14:103)

Dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لَا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلَّا أَتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“Hari Jumat itu memiliki 12 jam (waktu). Tidak ada seorang muslim yang meminta kepada Allah, kecuali Allah azza wa jalla akan mengabulkannya. Maka bersegeralah untuk mendapatkannya pada waktu-waktu akhir setelah shalat Ashar!”
(HR. Abu Dawud, no.884)

i. Ketika berpuasa hingga berbuka.
Dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ، دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَ دَعْوَةُ الصّـَائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak (pasti dikabulkan): doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa orang yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir).”
(HR. Al-Baihaqi, 3:345)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻻَ ﺗُﺮَﺩُّ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻬُﻢُ ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺍﻟْﻌَﺎﺩِﻝُ، ﻭَ ﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻔْﻄِﺮَ، ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﻈْﻠُﻮﻡِ ‏
“Ada tiga doa yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka puasa, dan doa orang yang terzhalimi (teraniaya).”
(HR. At-Tirmidzi, no.3595, Ibnu Majah, no.1752. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Ibnu Hajar)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Doa yang mustajab adalah sebelum atau menjelang berbuka yaitu ketika akan terbenam matahari. Karena saat itu terkumpul (sebab-sebab mustajabnya doa), berupa hati yang tunduk dan perasaan rendah (di hadapan Rabb) karena dia berpuasa. Semua sebab ini adalah penyebab dikabulkannya doa. Adapun setelah berbuka puasa, badan sudah kembali segar dan nyaman. Bisa jadi dia lalai (akan sebab-sebab mustajab).”
(Liqau Asy-Syahriy, no.8 )

j. Malam lailatul qadar.
Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan. Pada malam itu turun para Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur semua urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(Surat Al-Qadr 97: ayat 1-5)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa kemuliaan lailatul qadar mengharuskan doa setiap hamba pasti dikabulkan.”
(Tuhfatu Adz-Dzakirin, hlm.56)

k. Hari Arafah.
Dari Sahabat Amr bin Syuaib radhiyallahu anhu, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3509. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمْ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ
“Tidak ada satu hari pun yang pada hari tersebut, Allah lebih banyak membebaskan hambaNya dari api Neraka, selain pada hari Arafah. Sebab pada hari itu Allah turun, kemudian membanggakan mereka di hadapan para Malaikat, seraya berfirman: Apa yang mereka inginkan?”
(HR. Imam Muslim, no.2402)

Apakah keutamaan doa hari Arafah hanya khusus bagi orang-orang yang sedang wukuf di Arafah? Apakah berlaku juga keutamaan ini bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji?

Syaikh Shalih Al-Munajjid menjelaskan;
“Pendapat yang benar, bahwa mustajabnya doa tersebut adalah bersifat umum, baik untuk yang sedang berhaji, maupun yang tidak berhaji. Karena keutamaan tersebut adalah keutamaan yang ada pada hari Arafah. Sedangkan, yang berada di Arafah (yang sedang wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah), mereka berarti menggabungkan antara keutamaan waktu dan tempat.”
(Fatawa Al-Islam As-Sual Wa Al-Jawab, no.70282)

l. Ketika berada di sekitar Kabah.
Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ وَأَبُو جَهْلٍ وَأَصْحَابٌ لَهُ جُلُوسٌ إِذْ قَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْض أَيُّكُمْ يَجِيءُ بِسَلَى جَزُورِ بَنِي فُلَانٍ فَيَضَعُهُ عَلَى ظَهْرِ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ فَانْبَعَثَ أَشْقَى الْقَوْمِ فَجَاءَ بِهِ فَنَظَرَ حَتَّى سَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَهُ عَلَى ظَهْرِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ وَأَنَا أَنْظُرُ لَا أُغْنِي شَيْئًا لَوْ كَانَ لِي مَنَعَةٌ قَالَ فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ وَيُحِيلُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ لَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى جَاءَتْهُ فَاطِمَةُ فَطَرَحَتْ عَنْ ظَهْرِهِ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَشَقَّ عَلَيْهِمْ إِذْ دَعَا عَلَيْهِمْ قَالَ وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّ الدَّعْوَةَ فِي ذَلِكَ الْبَلَدِ مُسْتَجَابَةٌ ثُمَّ سَمَّى اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ، وَعَلَيْكَ بِعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ، وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ، وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ، وَعَدَّ السَّابِعَ فَلَمْ يَحْفَظْ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ رَأَيْتُ الَّذِينَ عَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَرْعَى فِي الْقَلِيبِ قَلِيبِ بَدْرٍ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat di dekat Kabah sementara Abu Jahal dan teman-temannya duduk di dekat beliau. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Siapa dari kalian yang dapat mendatangkan isi perut (jeroan) unta milik bani Fulan, lalu dia letakkan di punggung Muhammad saat dia sujud? Maka berangkatlah orang yang paling celaka dari mereka, lalu dia datang kembali dengan membawa kotoran unta tersebut. Orang itu lantas menunggu dan memperhatikan, maka ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sujud kotoran itu dia letakkan di punggung beliau di antara kedua pundaknya. Sementara aku hanya bisa melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Sekiranya aku bisa mencegahnya! Lalu mereka pun tertawa-tawa dan saling menyindir satu sama lain, sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan sujud, beliau tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fatimah. Fatimah lalu membersihkan kotoran itu dari punggung beliau, setelah itu baru Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kepalanya seraya berdoa: Ya Allah, aku serahkan (urusan) Quraisy kepadaMu! Sebanyak tiga kali. Maka doa tersebut membuat mereka ketakutan. Sebab mereka yakin bahwa doa yang dipanjatkan pada tempat tersebut pasti akan diterima Allah. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebut satu persatu nama-nama mereka: Ya Allah, aku serahkan (urusan) Abu Jahal kepadaMu, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf dan Uqbah bin Abu Muaith. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebut yang ke tujuh tapi aku lupa. Sungguh aku melihat orang-orang yang disebut Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut, terbantai di pinggiran lembah Badar (dalam perang Badar).”
(HR. Imam Bukhari, no.233)

m. Saat ajal tiba (sakaratul maut).
Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapati kedua mata Abu Salamah terbuka, lalu beliau memejamkannya, kemudian bersabda;

أَنْ الرُّوْحَ إِذَا قُبَضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ: لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِنُّوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ
“Sesungguhnya ketika ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya, lalu semua keluarga histeris. Beliau bersabda: Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian, kecuali dengan kebaikan! Sebab para Malaikat mengaminkan sesuatu yang kalian ucapkan.”
(HR. Imam Muslim, no.920)

n. Mendoakan orang lain tanpa diketahui.
Dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ لأَِخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوْكِلُ بِهِ آمِيْنَ وَلَكَ بِمِثْلِ
“Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya (muslim) yang tidak ada di hadapannya, kecuali Malaikat yang ditugaskan kepadanya akan berkata: Aamiin (kabulkanlah ya Allah!) dan doa kebaikan tersebut untukmu juga.”
(HR. Imam Muslim, no.4912)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Hadits tersebut menjelaskan tentang keutamaan seorang muslim yang mendoakan saudaranya dari tempat yang tidak diketahui. Jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat islam, maka tetap mendapatkan keutamaan tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama salaf ketika berdoa untuk diri sendiri, mereka menyertakan saudaranya dalam doanya tersebut, karena selain terkabulnya doa tersebut untuk saudaranya, dia juga akan mendapatkan sesuatu semisalnya.”
(Syarh Shahih Muslim, 17:49)

Imam Al-Mubarak Furi rahimahullah juga menjelaskan;
“Jika seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya dari tempat yang jauh dan tanpa diketahui oleh saudaranya, maka doa tersebut akan dikabulkan. Sebab doa seperti itu lebih berkualitas dan ikhlash, karena jauh dari sifat riya (ingin dilihat) dan sumah (ingin didengar), serta berharap imbalan dari manusia, sehingga lebih mudah diterima oleh Allah.”
(Miratu Al-Mafatih, 7:349-350)

Hal ini sesuai dengan perintah Allah azza wa jalla terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Allah berfirman;

فَاعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنٰتِ  ۗ  وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Rabb (yang patut disembah dengan benar) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang yang beriman, dari laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggal kalian.”
(Surat Muhammad 47: ayat 19)

o. Banyak berdoa pada saat lapang.
Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَيَكْثُرُ الدَّعَاءَ فِى الرَّخَاءِ
“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sempit dan susah, maka hendaklah banyak berdoa pada saat lapang.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3304. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Imam Al-Mubarak Furi rahimahullah menjelaskan;
“Hendaknya seseorang memperbanyak doa pada saat sehat, kecukupan dan selamat dari cobaan. Karena ciri seorang mukmin adalah selalu dalam keadaan siaga sebelum membidikkan panah. Maka sangat baik jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana. Berbeda dengan orang kafir dan zhalim, sebagaimana firman Allah: Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan (bahaya), dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepadaNya. Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmatNya kepadanya, maka lupalah dia akan kemudharatan yang sebelumnya pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk menghilangkannya. (Surat Az-Zumar: ayat 8 ). Dan dalam firman Allah yang lain: Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (Surat Yunus: ayat 12).”
(Miratu Al-Mafatih, 7:360)

p. Pada saat terzhalimi (tersakiti).
Dari Sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Berhati-hatilah kamu terhadap doanya orang yang disakiti! Karena antara doanya dan Allah itu tidak ada penghalangnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2268 )

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ مُسْتَجَابَةُ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا فَفُجُوْرُهُ عَلَى نَفْسِهِ
“Doanya orang yang tersakiti itu terkabulkan, apabila dia adalah seorang yang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada dirinya sendiri.”
(HR. Ahmad, no.8781. Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini sanadnya baik)

q. Doa orang tua dan musafir.
Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan, yaitu: doa orang yang tersakiti, doa orang yang sedang dalam perjalanan jauh, dan doa orang tua terhadap anaknya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.2699)

4. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan.

Sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata;

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
“Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah 1000 pasukan, sedangkan para Sahabat beliau hanya berjumlah 319 orang. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya ke arah Kiblat sambil mengangkat tangannya, beliau berdoa: Ya Allah, tepatilah janjiMu kepadaku! Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku! Ya Allah, jika pasukan islam yang berjumlah sedikit ini musnah, pasti tidak akan ada lagi orang yang akan menyembahMu di muka bumi ini.”
(HR. Imam Muslim, no.3309)

Dari Sahabat Salman radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Rabb kalian yang maha suci dan maha tinggi adalah maha hidup dan maha mulia. Allah merasa malu ketika hambaNya mengangkat kedua tanganya kepadaNya (berdoa), lalu mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).”
(HR. Abu Dawud, no.1273)

Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan:
“Hadits tersebut menunjukkan akan dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika berdoa.”
(Subulu As-Salam, 2:708)

Mengenai cara mengangkat tangan ketika berdoa yang benar sesuai sunnah Rasulullah, yakni ada tiga cara yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma;

اَلْمَسْأَلَةُ أَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ أَوْ نَحْوَهُمَا وَالِاسْتِغْفَارُ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعٍ وَاحِدَةٍ وَالِابْتِهَالُ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ جَمِيعًا
“Al-Masalah adalah dengan mengangkat kedua tanganmu sebatas pundak atau sekitar itu. Al-Istighfar adalah dengan satu jari yang menunjuk (ke atas). Al-Ibtihal (Mubahalah) adalah dengan menengadahkan kedua tangan secara bersamaan.”
(HR. Abu Dawud, no.1274)

Sebagai rincian penjelasan dari tiga cara mengangkat kedua tangan ketika berdoa, silakan simak di bawah ini!

a. Al-Masalah.
Merupakan jenis yang umumnya dilakukan dalam berdoa. Bentuk ini juga yang digunakan ketika membaca doa qunut, istisqa dan pada beberapa rangkaian ibadah haji. Yaitu dengan membuka kedua telapak tangan dan mengangkatnya sebatas pundak, sebagaimana yang sudah digambarkan oleh Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu dan sebagaimana Rasulullah bersabda;

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا
“Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah dengan telapak tanganmu, dan jangan dengan punggung tanganmu!”
(HR. Abu Dawud, no.1271)

b. Al-Istighfar.
Yaitu mengangkat jari telunjuk tangan kanan ke atas. Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan: “Cara ini khusus bagi Khatib yang berdiri. Jika dia berdoa, cukup jari telunjuknya menunjuk ke atas. Ini simbol dari doa dan tauhidnya. Tidak disyariatkan bagi Khatib mengangkat kedua tangannya (ketika berdoa), jika dia berkhutbah sambil berdiri di atas mimbar atau di atas benda lainnya, kecuali jika sedang berdoa istisqa (maka boleh mengangkat kedua tangan).”
(Syarh Arbain An-Nawawiyyah, 1:112)

Maka Khatib Jumat ketika membaca doa, yang sesuai sunnah adalah dengan mengacungkan telunjuk kanannya ke arah langit.

Sahabat Umarah bin Ruaybah radhiyallahu anhu berkata;

رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ
“Dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika menjadi Khatib) di atas mimbar. Umarah lalu berkata kepadanya: Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini, karena aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika menjadi Khatib tidak menambah lebih dari yang seperti ini: (Umarah lalu mengacungkan jari telunjuknya).”
(HR. Imam Muslim, no.847)

c. Al-Ibtihal.
Yaitu dengan bersungguh-sungguh mengangkat kedua tangan ke atas dengan sangat tinggi hingga terlihat warna ketiak. Dan mengangkat kedua tangan dengan menjadikan bagian telapak tangan dihadapakan ke langit (atas), lalu punggung telapak tangan dihadapkan ke bumi (bawah).
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 1: 271-272)

Jenis ini dilakukan ketika keadaan benar-benar sulit, mendapatkan musibah yang sangat berat, sedang sangat-sangat mengharapkan sesuatu, atau berdoa dalam keadaan sangat berduka, atau ketika istisqa (memohon hujan). Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengangkat tangannya saat berdoa, kecuali ketika berdoa dalam shalat istisqa. Beliau mengangkat tangannya hingga terlihat putih kedua ketiaknya.”
(HR. Imam Bukhari, no.973)

Dalam riwayat yang lain;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat istisqa, lalu beliau memberi isyarat ke langit dengan punggung kedua telapak tangannya.”
(HR. Imam Muslim, no.1492)

5. Berdoa dengan suara yang lirih (lembut).

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
“Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah juga merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara keduanya!”
(Surat Al-Isra: ayat 110)

Seperti ketika Allah azza wa jalla memuji Nabi Zakariya alaihissalam, yang berdoa kepada Allah dengan penuh khusyu dan suara yang lembut. Allah berfirman;

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا. إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
“Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Rabbmu kepada hambaNya, Zakaria. Yaitu ketika dia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.”
(Surat Maryam: ayat 2-3)

Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman;

اُدْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabb kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (berlebihan).”
(Surat Al-Araf: ayat 55)

Sebagian ulama menjelaskan maksud dari orang-orang yang melampaui batas dalam berdoa adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak seperti halnya pantun atau puisi, dan hal-hal yang tidak wajar semisalnya.

Sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu berkata, kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan apabila menaiki bukit, kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ
“Wahai manusia, rendahkanlah diri kalian! Karena kalian tidak sedang menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia maha mendengar lagi maha dekat. Maha suci namaNya dan maha tinggi kebesaranNya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2770)

6. Memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Termasuk adab ketika memohon dan meminta adalah memuji pihak yang diminta. Maka lebih utama lagi, ketika ingin berdoa kepada Allah, hendaknya kita mengawali doanya dengan memuji Allah, yakni menyebut nama-namaNya yang indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifatNya yang mulia.

Sahabat Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu anhu bercerita;

سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلَ هَذَا ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya dan tidak mengagungkan Allah taala serta tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang ini telah terburu-buru. Kemudian beliau memanggilnya dan berkata kepadanya: Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat (berdoa) maka hendaknya memulai dengan mengagungkan Rabbnya yang maha agung dan perkasa, serta dengan memujiNya, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian setelah itu berdoa dengan apa yang dia inginkan.”
(HR. Abu Dawud, no.1266)

Sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata;

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya doa itu terhenti antara langit dan bumi, tidak naik ke atas hingga kamu bershalawat kepada Nabimu shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. At-Tirmidzi, no.448. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Sahabat Abdullah radhiyallahu anhu bercerita;

كُنْتُ أُصَلِّي وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ مَعَهُ فَلَمَّا جَلَسْتُ بَدَأْتُ بِالثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ ثُمَّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ دَعَوْتُ لِنَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلْ تُعْطَهْ سَلْ تُعْطَهْ
“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan Abu bakar dan Umar sedang bersamanya. Ketika aku duduk dan mulai memuji kepada Allah, serta bershalawat atas Nabi shalallahu alaihi wa salam, kemudian aku berdoa untuk diriku, maka Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda: Mintalah kepada Allah, pasti kamu akan diberi! Mintalah kepada Allah, pasti kamu akan diberi!”
(HR. At-Tirmidzi, no.541. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

7. Memulai doa dengan mendoakan diri sendiri terlebih dahulu.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَالَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوٰنِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman! Ya Rabb kami, sungguh Engkau maha penyantun, maha penyayang.”
(Surat Al-Hasyr 59: ayat 10)

Dalam ayat yang lain, Allah azza wa jalla berfirman;

قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِى وَلِأَخِى وَأَدْخِلْنَا فِى رَحْمَتِكَ  ۖ  وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّٰحِمِينَ
“Dia (Musa) berdoa: Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu! Dan Engkau adalah maha penyayang dari semua penyayang.”
(Surat Al-Araf 7: ayat 151)

Dalam ayat yang lain, Allah azza wa jalla juga berfirman;

رَبَّنَا اغْفِرْ لِى وَلِوٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan semua orang yang beriman pada hari perhitungan (hari Kiamat)!”
(Surat Ibrahim 14: ayat 41)

Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila ingat terhadap seseorang, kemudian ingin mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau memulai dengan mendoakan diri sendiri.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3307)

Meskipun demikian, tidak selamanya Rasulullah ketika akan mendoakan kebaikan untuk orang lain, beliau mendoakan kebaikan untuk dirinya terlebih dahulu. Terkadang beliau langsung mendoakan kebaikan untuk orang lain, tanpa didahului doa kebaikan untuk dirinya. Sebagaimana ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendoakan kebaikan untuk Ibunda Nabi Ismail alaihissalam;

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ أَوْ قَالَ لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنْ الْمَاءِ لَكَانَتْ عَيْنًا مَعِينًا وَأَقْبَلَ جُرْهُمُ فَقَالُوا أَتَأْذَنِينَ أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ قَالَتْ نَعَمْ وَلَا حَقَّ لَكُمْ فِي الْمَاءِ قَالُوا نَعَمْ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdoa: Semoga Allah merahmati Ibunda Nabi Ismail (Siti Hajar), karena kalau dia membiarkan air zamzam, atau beliau bersabda: Kalau dia tidak membendung air zamzam, tentulah air tersebut akan menjadi air yang mengalir. Kemudian datang para musafir kepadanya dan berkata: Apakah kamu mengizinkan kami singgah di tempat kamu? Siti Hajar berkata: Ya boleh namun, kalian tidak berhak memiliki air ini. Mereka menjawab: Baik.”
(HR. Imam Bukhari, no.2195)

8. Mengulang-ulangi doa dan merengek-rengek dalam berdoa.

Misalnya, dengan berkata: Ya Allah, ampunilah hambuMU, ampunilah hambuMu, ampunilah hambuMU yang penuh dosa ini, ampunilah ya Allah!

Dengan seseorang mengulang-ulangi permohonannya, maka hal tersebut menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.

Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ وَأَبُو جَهْلٍ وَأَصْحَابٌ لَهُ جُلُوسٌ إِذْ قَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْض أَيُّكُمْ يَجِيءُ بِسَلَى جَزُورِ بَنِي فُلَانٍ فَيَضَعُهُ عَلَى ظَهْرِ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ فَانْبَعَثَ أَشْقَى الْقَوْمِ فَجَاءَ بِهِ فَنَظَرَ حَتَّى سَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَهُ عَلَى ظَهْرِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ وَأَنَا أَنْظُرُ لَا أُغْنِي شَيْئًا لَوْ كَانَ لِي مَنَعَةٌ قَالَ فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ وَيُحِيلُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ لَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى جَاءَتْهُ فَاطِمَةُ فَطَرَحَتْ عَنْ ظَهْرِهِ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَشَقَّ عَلَيْهِمْ إِذْ دَعَا عَلَيْهِمْ قَالَ وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّ الدَّعْوَةَ فِي ذَلِكَ الْبَلَدِ مُسْتَجَابَةٌ ثُمَّ سَمَّى اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ وَعَلَيْكَ بِعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ وَعَدَّ السَّابِعَ فَلَمْ يَحْفَظْ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ رَأَيْتُ الَّذِينَ عَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَرْعَى فِي الْقَلِيبِ قَلِيبِ بَدْرٍ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat di dekat Kabah sementara Abu Jahal dan teman-temannya duduk di dekat beliau. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Siapa dari kalian yang dapat mendatangkan isi perut (jeroan) unta milik bani Fulan, lalu dia letakkan di punggung Muhammad saat dia sujud? Maka berangkatlah orang yang paling celaka dari mereka, dia lalu datang kembali dengan membawa kotoran unta tersebut. Lalu orang itu menunggu dan memperhatikan, maka ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sujud, kotoran itu dia letakkan di punggung beliau di antara kedua pundaknya. Sementara aku hanya bisa melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau saja aku bisa mencegahnya! Lalu mereka pun tertawa-tawa dan saling menyindir satu sama lain sedang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan sujud, beliau tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fathimah. Fathimah lalu membersihkan kotoran itu dari punggung beliau, setelah itu baru Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kepalanya seraya berdoa: Ya Allah, aku serahkan (urusan) Quraisy kepadaMu! Sebanyak tiga kali. Maka doa tersebut membuat mereka ketakutan. Sebab mereka yakin bahwa doa yang dipanjatkan pada tempat tersebut pasti akan diterima Allah. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebut satu persatu nama-nama mereka: Ya Allah, aku serahkan (urusan) Abu Jahal kepadaMu, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf dan Uqbah bin Abu Muaith. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebut yang ke tujuh tapi aku lupa. Sungguh aku melihat orang-orang yang disebut Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut, terbantai di pinggiran lembah Badar (dalam perang Badar).”
(HR. Imam Bukhari, no.233)

9. Tidak tergesa-gesa ingin segera dikabulkan.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَا أَوْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Doa seseorang di antara kalian akan senantiasa dikabulkan, selama dia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan: Aku telah berdoa kepada Rabbku namun, tidak atau belum juga dikabulkan untukku.”
(HR. Imam Muslim, no.4916)

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa, atau untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa. Lalu ada seorang Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan: Aku telah berdoa dan terus berdoa, tetapi belum juga dikabulkan. Setelah itu, dia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.”
(HR. Imam Muslim, no.4918 )

Mungkin ada satu pelajaran yang perlu kita pahami. Bahwa setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah, jika memang terpenuhi syarat-syaratnya, pasti doa tersebut akan Allah kabulkan. Namun, belum tentu yang Allah kabulkan dan berikan untuk kita, itu persis sesuai yang kita inginkan. Bisa jadi Allah berikan persis, sesuai dengan apa yang kita minta. Bisa jadi Allah memberikan yang lebih baik dari yang kita inginkan. Atau bisa jadi Allah gantikan keinginan kita ke pilihan yang lain, karena bisa jadi yang kita minta bisa mencelakakan diri kita. Itu semua bisa terjadi, tergantung pada kehendak Allah azza wa jalla.

Sebagai contoh untuk kita bisa lebih mudah memahami cara Allah mengabulkan doa kita, secara ringkasnya seperti seorang dokter. Ketika dia kedatangan pasien yang sedang sakit dan ingin segera diobati. Lalu si pasien mengeluhkan penyakitnya seperti ini dan seperti itu. Selanjutnya, dokter pun memberikan pasien tersebut resep obat sesuai keluhannya. Maka bisa jadi, resep obat yang dokter berikan kepada pasien adalah sesuai yang diminta oleh si pasien. Bisa jadi juga dokter memberi resep yang lebih baik, lebih lengkap dari yang si pasien minta. Dan bisa jadi si dokter memberikan resep obat yang lain, yang tidak sesuai si pasien minta. Meskipun demikian, si dokter melakukan hal tersebut karena tahu mana yang terbaik untuk si pasien.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ، قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal: Allah akan segera mengabulkan doanya, Allah akan menyimpan untuknya di akhirat, dan Allah akan menghindarkan darinya keburukan yang semisal doanya. Lalu para Sahabat mengatakan: Kalau begitu, kami akan memperbanyak berdoa. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Maka Allah pun akan banyak mengabulkan doa-doa kalian.”
(HR. Syuaib Al-Arnauth, Takhrij Al-Musnad, no.11133. Beliau menyatakan hadits ini sanadnya baik)

10. Tidak mendoakan keburukan.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ
“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa (keburukan), atau untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.”
(HR. Imam Muslim, no.4918)

Dari Sahabat Jabir radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta-harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.”
(HR. Imam Muslim, no.5328 )

11. Berdoa dengan lafazh (kalimat) yang singkat, padat dan maknanya luas.

Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat menyukai berdoa dengan doa-doa yang singkat, padat dan maknanya luas. Dan tidak berdoa dengan yang selain itu.”
(HR. Abu Dawud, no.1267)

Salah satu contoh dari doa yang dimaksudkan pada hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Farwah bin Naufal radhiyallahu anhu, dia bercerita;

سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَمَّا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِ اللَّهَ قَالَتْ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ
“Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang biasa diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika berdoa kepada Allah azza wa jalla. Maka Aisyah menjawab: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa membaca doa: ALLAHUMMA INNI AUUDZU BIKA MIN SYARRI MAA AMILTU WA MIN SYARRI MAA LAM AMAL (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan).”
(HR. Imam Muslim, no.4891)

Contoh doa lainnya yang singkat dan padat akan maknanya adalah hadits dari Sahabat Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu, dia bercerita;

أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Bahwasanya beliau biasa membaca doa: ALLAHUMMAGHFIRLII KHATHIIATII, WAJAHLIII WA ISRAAFII FII AMRII, WAMAA ANTA ALAMU BIHI MINNII, ALLAAHUMMAGHFIRLII JIDDII, WAHAZLII, WAKHATHAII, WAAMDII, WAKULLUN DZAALIKA INDII, ALLAHUMMAGHFIRLII MAA QODDAMTU WAMAA AKHKHARTU, WAMAA ASRARTU WAMAA ALANTU, WAMAA ANTA ALAMU BIHI MINNII, ANTAL MUQODDIM ANTAL MUAKHKHIR, WA ANTA ALAA KULLI SYAIIN QADIIRUN. (Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui dari pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang akan datang, dosa yang aku sembunyikan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada diriku, Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang menangguhkan, serta Engkaulah yang maha kuasa atas segala sesuatu).”
(HR. Imam Muslim, no.4896)

12. Berdoa dengan tawassul yang diperbolehkan oleh syariat islam.

Tawassul yang sesuai sunnah adalah tawassul yang berlandaskan dalil. Di antaranya;

a. Tawassul dengan nama dan sifat Allah yang mulia.
Hendaknya seseorang memulai doa kepada Allah dengan mengagungkan, membesarkan, memuji, mensucikan, terhadap DzatNya yang maha tinggi, nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang mulia, kemudian berdoa dengan apa yang Dia inginkan dengan menjadikan pujian, pengagungan, dan pensucian tersebut hanya untuk Allah azza wa jalla, agar Allah mengabulkan doa dan mengabulkan apa yang seseorang minta kepadaNya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا  ۖ  وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya milik Allah nama-nama yang baik (Asmaul Husna), maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna tersebut! Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Surat Al-Araf: ayat 180)

Sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّي ثُمَّ دَعَا: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
“Bahwa aku duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan terdapat seorang laki-laki yang sedang melakukan shalat, kemudian orang tersebut berdoa: ALLAAHUMMA INNII ASALUKA BIANNA LAKAL HAMDU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, Al-MANNAANU, BADIIUS SAMAAWAATI WAL ARDHI, YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, YAA HAYYU YAA QAYYUUM (Ya Allah, aku memohon kepadaMu bahwa bagiMu segala pujian, tidak ada Rabb yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau, maha pemberi, pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat yang memiliki keagungan, serta kemuliaan, wahai Dzat yang maha hidup, lagi terus-menerus mengurusi makhlukNya). Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan namaNya yang agung, yang apabila dipanjatkan doa kepadaNya dengan nama tersebut, maka Allah akan mengabulkannya, dan apabila Allah diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan memberinya.”
(HR. Abu Dawud, no.1277)

b. Tawassul dengan doa orang shalih yang masih hidup.
Jika seorang muslim menghadapi kesulitan atau tertimpa musibah besar namun, dia menyadari kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah, sedangkan dia ingin berdoa dan mendapatkan sebab yang kuat terkabulnya doa tersebut oleh Allah, lalu dia pergi kepada orang yang diyakini keshalihan dan ketakwaannya kepada Allah azza wa jalla, atau memiliki keutamaan dan pengetahuan tentang Al-Quran serta As-Sunnah dan mampu mengamalkan keduanya sesuai dengan yang diamalkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, kemudian dia meminta kepada orang shalih tersebut agar dia berdoa kepada Allah untuk dirinya, supaya dia dibebaskan dari berbagai kesedihan dan kesusahan, maka cara demikian itu termasuk tawassul yang dibolehkan.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

أَصَابَتْ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ وَمِنْ الْغَدِ وَبَعْدَ الْغَدِ وَالَّذِي يَلِيهِ حَتَّى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَقَامَ ذَلِكَ الْأَعْرَابِيُّ أَوْ قَالَ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَهَدَّمَ الْبِنَاءُ وَغَرِقَ الْمَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا فَمَا يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ السَّحَابِ إِلَّا انْفَرَجَتْ وَصَارَتْ الْمَدِينَةُ مِثْلَ الْجَوْبَةِ وَسَالَ الْوَادِي قَنَاةُ شَهْرًا وَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ بِالْجَوْدِ
“Pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam manusia pernah tertimpa paceklik. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada seorang Arab badui berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa, dan saat itu kami tidak melihat sedikitpun ada awan di langit. Namun, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh beliau tidak menurunkan kedua tangannya, kecuali gumpalan awan telah datang membumbung tinggi laksana pegunungan. Dan beliau belum turun dari mimbar hingga akhirnya aku melihat hujan turun membasahi jenggot beliau shallallahu alaihi wa sallam. Maka pada hari itu, keesokan harinya dan lusa kami terus-menerus mendapatkan guyuran hujan dan hari-hari berikutnya hingga hari Jumat berikutnya. Pada Jumat berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri, seraya berkata: Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa: ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami). Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya kepada gumpalan awan, melainkan awan tersebut hilang seketika. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, Madinah juga tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan. Dan tidak seorang pun yang datang dari segala pelosok kota, kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.881)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا، قَالَ فَيُسْقَوْنَ
“Bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah, dia meminta hujan dengan berwasilah kepada Abbas bin Abdul Muththalib, seraya berdoa: Ya Allah, dahulu kami meminta hujan kepadaMu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepadaMu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami! Lalu Anas berkata: Mereka pun kemudian mendapatkan hujan.”
(HR. Imam Bukhari, no.954)

Perlu diketahui, bahwa seorang mukmin boleh juga minta didoakan oleh saudaranya, seperti ucapan: Berdoalah kepada Allah, agar Allah memberikan keselamatan untukku atau memenuhi keperluanku! Dan ucapan-ucapan yang serupa dengan itu.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhumaa, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah untukku! Karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya 10 kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di Surga. Tidaklah layak tempat tersebut, kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku adalah hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.577)

Doa memintakan wasilah untuk Rasulullah yang dimaksud pada hadits tersebut adalah doa sesudah adzan, yang sudah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا. الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa berdoa setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DAWATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAAIMAH AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADHIILATA WAB ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WAADTAH (Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini, dan pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad! Bangkitkanlah dia pada kedudukan yang terpuji, sebagaimana yang Engkau telah janjikan!). Maka dia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.”
(HR. Imam Bukhari, no.579)

c. Tawassul dengan amal shalih.
Sebagaimana kisah tiga orang yang terkurung dalam gua, dan masing-masing di antara mereka berdoa dengan menyebutkan amal shalih yang pernah mereka lakukan dengan ikhlash (mengharapkan ridha Allah).

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِنْطَلَقَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوْا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنْ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمْ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لَا يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلَّا أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَكُنْتُ لَا أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلًا وَلَا مَالًا فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلًا أَوْ مَالًا فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الْآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنْ السِّنِينَ فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لَا أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ فَتَحَرَّجْتُ مِنْ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتْ الصَّخْرَةُ غَيْرَ أَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الْأَمْوَالُ فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنْ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَسْتَهْزِئُ بِي فَقُلْتُ إِنِّي لَا أَسْتَهْزِئُ بِكَ فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتْ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ
“Ada tiga orang dari kalangan orang-orang sebelum kalian yang sedang bepergian, ketika mereka singgah dalam gua lalu mereka memasuki gua tersebut hingga akhirnya ada sebuah batu yang jatuh dari gunung hingga metutupi gua tersebut. Mereka berkata: Tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali bila kalian berdoa meminta kepada Allah dengan perantaraan kebaikan amal kalian. Maka seorang di antara mereka berkata: Ya Allah, aku memiliki kedua orang tua yang sudah renta (tua). Dan aku tidaklah pernah memberi minum susu keluargaku pada akhir siang, sebelum keduanya. Suatu hari aku keluar untuk mencari sesuatu dan aku tidak beristirahat mencarinya hingga keduanya tertidur. Aku pulang namun, aku dapati keduanya sudah tertidur dan aku tidak mau mendahului keduanya meminum susu untuk keluargaku. Maka kemudian aku tertidur sejenak dengan bersandar kepada kedua tanganku sambil aku menunggu keduanya bangun. Sampai fajar terbit, lalu keduanya terbangun dan meminum susu jatah akhir siangnya. Ya Allah, seandainya aku kerjakan itu semata mencari ridhaMu, maka bukakanlah celah batu ini! Maka batu itu sedikit bergeser namun, mereka belum bisa keluar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata: Kemudian berkata, yang lain: Ya Allah, bersamaku ada putri pamanku (sepupu) dia menjadi orang yang paling mencintaiku. Suatu hari aku menginginkannya namun, dia menolakku. Kemudian berlalu masa beberapa tahun hingga kemudian dia datang kepadaku, lalu aku berikan dia 120 dinar agar aku dan dia bersenang-senang, lalu dia setuju hingga ketika aku sudah menguasainya dia berkata: Tidak dihalalkan bagimu merusak keperawanan, kecuali dengan cara yang haq. Maka aku selamat dari kejadian itu, lalu aku pergi meninggalkannya padahal dia wanita yang paling aku cintai dan aku tinggalkan juga emas perhiasan yang aku berikan kepadanya. Ya Allah, seandainya apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridhaMu, maka bukakanlah celah pintu gua ini yang kami terjebak di dalamnya! Maka terbukalah sedikit batu itu namun, mereka tetap belum bisa keluar. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: Kemudian orang yang ketiga berkata: Ya Allah, aku pernah memperkerjakan orang-orang lalu aku memberi upah mereka, kecuali satu orang dari mereka yang meninggalkan haknya lalu dia pergi. Kemudian upah orang tersebut aku kembangkan (manfaatkan untuk modal), hingga beberapa waktu kemudian ketika sudah banyak harta(hasil) dari upah orang tersebut yang aku kembangkan, orang itu datang kepadaku lalu berkata: Wahai Abdullah, berikanlah hak upahku! Lalu aku katakan kepadanya: Itulah semua apa yang kamu lihat adalah upahmu berupa unta, sapi, kambing dan pengembalanya. Dia berkata: Wahai Abdullah, kamu jangan mengolok-olokku! Aku katakan: Aku tidak mengolok-olok! Maka orang itu mengambil seluruhnya dan tidak ada yang disisakan sedikitpun. Ya Allah, seandainya apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridhaMu, maka bukakanlah celah batu gua yang kami terjebak di dalamnya. Maka batu itu terbuka, akhirnya mereka dapat keluar dan pergi.”
(HR. Imam Bukhari, no.2111)

Sebagai penutup, Penulis berharap semoga penjelasan yang ada di dalam tulisan ini menjadi sebab taufiq dan hidayah Allah untuk diri Penulis dan para Pembaca. Sehingga dengan bekal ilmu ini, kita bisa memperbaiki cara berdoa kepada Allah azza wa jalla dan semoga dengan kita mengamalkan adab-adab dalam berdoa, menjadi sebab Allah kabulkan semua doa-doa kita. Aamiin

Sebagai perhatian, meskipun penjelasan yang ada di dalam tulisan ini cukup panjang, maka berusahalah untuk membacanya dengan keadaan hati dan pikiran yang tenang! Agar kita bisa membaca dan memahaminya dengan benar dan tuntas. Sehingga kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya Allah yang mampu memberikan kemudahan.

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku! Supaya mereka mengerti perkataanku!”
(Surat Thaha 20: ayat 25-28)
___
@Kota Angin Majalengka, 11 Rabiul Akhir 1440H/19 Desember 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Seputar Masjid
Artikel sesudahnyaMengenal Dan Menyikapi Hari Ibu
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here