Beranda Belajar Islam Amalan MELATIH KEPEDULIAN

MELATIH KEPEDULIAN

203
0
BERBAGI

MELATIH KEPEDULIAN

Sebelum teman-teman membacanya, mohon tenangkan pikiran dan hatinya terlebih dahulu. Agar bisa menikmati penjelasan yang ada di bawah ini dan bisa merasakan manfaat dari tulisan ini. Dan silakan baca secara perlahan, agar mudah untuk memahaminya. Waffaqakumullah!

➡️ Ketika kita melihat keadaan masyarakat di sekitar saat ini, masih banyak yang hidup dalam kekurangan dan kesempitan.

Lalu, apa yang kita pikirkan?

Sebagian dari kita mungkin berpikir:
“Kasihan sekali mereka, hidup serba kekurangan, tidak punya ini dan tidak punya itu. Sangat malang hidup mereka.”

Apakah pola pikir kepedulian semacam itu bisa menyelesaikan masalah mereka?

Tentu, tidak!

Cara untuk melatih kepedulian kita yang benar adalah dengan memiliki pola pikir:
“Apa yang bisa saya bantu untuk meringankan beban hidup mereka dan memperbaiki keadaan mereka?”

Karena dengan memiliki pola pikir semacam ini, maka akan muncul tindakan selanjutnya dari sikap kita tersebut.

Entah, dengan meluangkan waktu dan tenaga kita untuk membantu mereka. Mungkin juga dengan menginfaqkan harta atau barang-barang yang kita miliki untuk meringankan beban mereka. Dan sebetulnya masih banyak lagi cara yang bisa kita lakukan, disebabkan pola pikir kepedulian yang bijak semacam ini.

Bukankah kita sudah diberikan nasihat dan motivasi oleh Rasulullah?

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, pasti Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari Kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, pasti akan Allah memberikan kemudahan untuknya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya tersebut mau menolong saudaranya. Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka akan Allah mudahkan untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (masjid) dalam rangka membaca Al-Quran dan saling mempelajarinya, melainkan pasti akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka akan dikelilingi para Malaikat, serta Allah akan sebut-sebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisiNya (para Malaikat). Dan barang siapa yang lambat amalnya, maka hal itu tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya.”
(HR. Imam Muslim, no.2699)

Karena pola pikir kita adalah penentu jalan hidup kita. Apapun yang diucapkan dan dilakukan, itulah buah dari pola pikir.

Maka nasihat yang bisa dijadikan motivasi:
“Membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.”

Nasihat tersebut berlaku untuk semua kebiasaan kita, berupa pola pikir, prinsip hidup, ucapan, perbuatan, dan hal semisalnya.

➡️ Ketika kita melihat sebuah masjid kotor, bangunannya sudah rapuh, dan tidak terawat.

Lalu, apa yang kita pikirkan?

Sebagian dari kita mungkin berpikir:
“Kasihan sekali masjid tersebut, kumuh, kotor, bangunannya hampir ambruk, dan tidak ada yang merawatnya.”

Apakah pola pikir kepedulian semacam itu bisa menyelesaikan masalah masjid tersebut?

Tentu, tidak!

Cara untuk melatih kepedulian kita yang benar adalah dengan memiliki pola pikir:
“Apa yang bisa saya bantu untuk memperbaiki keadaan masjid tersebut?

Karena dengan memiliki pola pikir semacam ini, maka akan muncul tindakan selanjutnya dari sikap kita.

Entah, dengan meluangkan waktu dan tenaga kita untuk membersihkannya. Mungkin juga dengan mewakafkan harta atau barang-barang yang kita miliki untuk membenahi masjid tersebut. Dan sebetulnya masih banyak lagi cara yang bisa kita lakukan, disebabkan pola pikir kepedulian yang bijak semacam ini.

Bukankah kita sudah diberikan nasihat dan motivasi oleh Rasulullah?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya masjid ini tidak layak dikotori dengan air kencing atau kotoran lainnya. Masjid adalah tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Quran.”
(HR. Imam Muslim, no.285)

Karena pola pikir kita adalah penentu jalan hidup kita. Apapun yang diucapkan dan dilakukan, itulah buah dari pola pikir.

Maka nasihat yang bisa dijadikan motivasi hidup:
“Membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.”

Nasihat tersebut berlaku untuk semua kebiasaan kita, berupa pola pikir, prinsip hidup, anggapan, ucapan, perbuatan, dan hal semisalnya.

➡️ Ketika kita melihat media dakwah, yang merupakan tempat para aktivis dakwah berkumpul, untuk berjuang bersama mendakwahkan agama Allah (Islam), dengan segenap kemampuan yang dimiliki, berupa Radio, Televisi, Channel, Akun Medsos, Yayasan, Pesantren, dan Lembaga Pendidikan.

Ketika kita melihat perkembangan media dakwah tersebut lambat, konten yang ditampilkan kurang menarik, programnya yang kurang berkembang, sarananya yang sangat sederhana, dan mungkin pelayanannya yang kurang maksimal.

Lalu, apa yang kita pikirkan?

Sebagian dari kita mungkin berpikir:
“Kasihan sekali media dakwah tersebut, tidak berkembang, sarananya sangat terbatas, spek peralatannya rendah, kontennya tidak menarik, programnya kurang jelas, dan masyarakat yang peduli pun masih sedikit.”

Apakah pola pikir kepedulian semacam itu bisa menyelesaikan masalah media dakwah tersebut?

Tentu, tidak!

Cara untuk melatih kepedulian kita yang benar adalah dengan memiliki pola pikir:
“Apa yang bisa saya bantu untuk membuat media dakwah tersebut berkembang dan bisa memberikan sarana belajar untuk umat dengan lebih baik?”

Karena dengan memiliki pola pikir semacam ini, maka akan muncul tindakan selanjutnya dari sikap kita.

Entah, dengan meluangkan waktu dan tenaga kita untuk membantu mencarikan solusinya, atau dengan menginfaqkan harta kita untuk menunjang berbagai aktivitas dan kebutuhannya, atau dengan mewakafkan barang-barang yang kita miliki untuk melengkapi peralatan dan perlengkapan media dakwah tersebut. Dan sebetulnya masih banyak lagi cara yang bisa kita lakukan, disebabkan pola pikir kepedulian yang bijak semacam ini.

Bukankah kita sudah diberikan nasihat dan motivasi oleh Allah dan Rasulullah?

Allah azza wa jalla berfirman;

اِنْفِرُوا خِفَافًا وَ ثِقَالًا وَ جَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَ أَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kalian dalam keadaan ringan ataupun berat! Dan berjihadlah dengan harta kalian dan diri kalian di jalan Allah! Yang demikian itu lebih baik bagi diri kalian, jika kalian mengetahuinya.”
(Surat At-Taubah: ayat 41)

Allah azza wa jalla juga berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Wahai orang-orang yang beriman, apakah kalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang sangat pedih? (yaitu) kalian beriman kepada Allah dan RasulNya, serta berjihad di jalanNya dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya. Pasti Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam SurgaNya, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan memasukkan kalian ke tempat tinggal yang baik, yakni di Surga Adn. Itulah kebahagiaan yang besar.”
(Surat Ash-Shaff: ayat 10-12)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda;

مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِى سَبِيلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
“Barang siapa menginfaqkan hartanya di jalan Allah, maka ditetapkan pahala untuknya 700 kali lipat.”
(HR. At-Tirmidzi, 6:363, beliau menyatakan sanad hadits ini hasan)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda;

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَهُ فِى أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barang siapa menyiapkan bekal bagi seorang mujahid di jalan Allah, sungguh dia telah berjihad. Dan barang siapa menjaga keluarga yang ditinggalkan seorang mujahid, maka sungguh dia juga telah berjihad.”
(HR. Imam Muslim, 12:425)

Manusia yang berusaha untuk berdakwah di jalan Allah melalui berbagai media dakwah, mereka adalah mujahid fii sabilillah, yakni orang-orang yang sedang berjihad di jalan Allah. Karena mereka sedang berjihad mendakwahkan agama islam dengan segenap kemampuannya yang disalurkan berupa konten, program, dan layanan untuk umat melalui sarana media dakwah tersebut.

Maka, segeralah bantu para mujahid fii sabilillah dengan segenap kemampuan dan harta kita!

Jika kita tidak mampu berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan kemampuan, maka berjihadlah dengan harta dan benda yang kita miliki!

Karena pola pikir kita adalah penentu jalan hidup kita. Apapun yang diucapkan dan dilakukan, itulah buah dari pola pikir.

Maka nasihat yang bisa dijadikan motivasi dalam hidup:
“Membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.”

Nasihat tersebut berlaku untuk semua kebiasaan kita, baik berupa pola pikir, prinsip hidup, anggapan, ucapan, perbuatan, dan hal semisalnya.

🎁 Melalui beberapa penjelasan di atas, semoga bisa menjadi sarana untuk kita mulai melatih kepedulian kita, agar diri kita bisa memiliki kepedulian yang benar, yang bisa membantu menyelesaikan masalah apapun.

🎁 Permisalan di atas, hanyalah sebagian masalah yang bisa disampaikan melalui tulisan singkat ini. Karena sebetulnya masih sangat banyak permasalahan yang semisalnya. Maka ketika kita sudah mampu memahami inti dari permisalan yang ada di atas, silakan aplikasikan atau terapkan juga pada berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan kita, yang kita lihat, yang kita dengar, ataupun yang kita ketahui.

🎁 Semoga Allah azza wa jalla menjadikan hati-hati kita lembut, sehingga mudah untuk menerima serta memahami nasihat dan ilmu. Dan semoga Allah berikan juga kemudahan untuk kita mengamalkannya dengan istiqamah. Aamiin
___
@Kota Angin Majalengka, 25 Rabiul Awal 1440H/03 Desember 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Seputar Masjid
Artikel sesudahnyaYUK, KITA BANTU PERJUANGAN DAKWAH KHIYAAR TV!
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here