Beranda Belajar Islam Adab Adab Seputar Masjid

Adab Seputar Masjid

5035
0
BERBAGI

Adab Seputar Masjid

A. ADAB MENUJU MASJID

1. Meniatkan untuk ibadah kepada Allah setiap kali akan pergi ke masjid.
Masjid adalah tempat ibadah umat islam, mereka melakukan shalat lima waktu berjamaah di dalamnya, karena mengharap pahala besar yang sudah dijanjikan oleh Allah azza wa jalla.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
“Barangsiapa berangkat pada pagi hari atau sore hari menuju masjid, maka Allah akan mempersiapkan hidangan untuknya di Surga, setiap kali dia berangkat pada pagi hari atau sore hari.”
(HR. Imam Muslim, no.669)

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِيءٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuatu yang sudah dia niatkan.”
(HR. Imam Bukhari, no.1)

2. Bersuci sebelum pergi ke masjid.
Sunnah ini bisa diamalkan di rumah, kontrakan, kos-kosan atau jenis tempat tinggal semisalnya. Sehingga ketika kita pergi menuju masjid, sudah dalam keadaan suci dari hadats dan bersih dari najis.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid atau mushalla) untuk melaksanakan kewajiban yang telah Allah tetapkan (ibadah), maka kedua langkah kakinya, yang satu akan menghapuskan kesalahan dan satunya lagi akan meninggikan derajat.”
(HR. Imam Muslim, no.666)

Penjelasan tersebut berlaku untuk orang yang tidak memiliki hadats besar (jinabah). Sehingga untuk orang yang sedang berhadats besar, harus mandi jinabah terlebih dahulu.

3. Memakai wewangian dan pakaian yang indah.
Allah azza wa jalla berfirman;

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai anak Adam, pakailah oleh kalian pakaian yang indah setiap kali akan memasuki masjid!”
(Surat AI-Araf: ayat 31)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Dalam ayat tersebut, Allah tidak hanya memerintahkan hambaNya untuk menutupi aurat, akan tetapi mereka diperintahkan juga untuk memakai perhiasan. Oleh karena itu, hendaklah mereka memakai pakaian yang paling bagus (terbaik) ketika shalat!”
(Al-Ikhtiyarah Al-Fiqhiyyah, 4:24)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan;
“Berlandaskan ayat tersebut dan ayat yang semisalnya, disunnahkan berhias ketika akan shalat, terlebih ketika hari Jumat dan hari raya (ied). Termasuk dalam perhiasan yaitu siwak dan parfum (wewangian).”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 2:195)

Maka, islam memperbolehkan umatnya untuk membeli pakaian dan perhiasan yang indah dan juga tidak harus mahal. Jadi, tolak ukurnya adalah indah, sehingga nyaman dipakai dan indah dipandang. Namun, perlu diingat, itu semua boleh kita miliki dengan syarat tidak boleh untuk membanggakannya dihadapan manusia. Karena itu merupakan bentuk kesombongan (takabbur) dan membesarkan diri (ujub), keduanya merupakan sikap yang dibenci oleh Allah dan RasulNya.

Islam membolehkan manusia untuk memiliki pakaian dan perhiasan yang indah untuk digunakan ketika beribadah kepada Allah azza wa jalla, bukan untuk selainnya.

Karena realita saat ini sangat menyedihkan. Banyak manusia, mungkin termasuk juga kita, ketika keluar rumah untuk jalan-jalan atau kondangan, memakai pakaian-pakaian dan perhiasan yang bagus, rapi, mahal dan bermerk. Namun, ketika pergi ke masjid untuk beribadah kepada Allah yang sudah menciptakan dan memberikan rezeki kepadanya, mereka hanya memakai kaos daleman, sarung atau celana yang mungkin mereka juga akan merasa malu ketika memakainya untuk kondangan dan acara duniawi lainnya. Mereka lebih merasa segan dan malu kepada manusia, tapi mereka tidak merasa segan dan berani menyepelekan Allah azza wa jalla. Seolah dia tidak terlalu butuh dengan Allah, merasa cuek dan tidak mau peduli dengan adab-adab islam dalam beribadah kepadaNya.

Apakah anda tidak malu sama Allah?

4. Menjaga kebersihan mulut.
Maksudnya adalah seseorang tidak boleh mengkonsumsi makanan yang tidak sedap baunya, makanan yang menyebabkan mulut berbau, seperti bawang putih, bawang merah, jengkol, pete dan termasuk juga rokok atau sesuatu yang semisalnya. Karena Rasulullah melarang seseorang yang mulutnya berbau (tidak bersih) masuk ke masjid.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan jelas melarang seseorang yang telah mengkonsumsi bawang masuk ke dalam masjid.

Sebagaimana Sahabat Jabir radhiyallahu anhu bercerita, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kami dari makan bawang merah dan bawang bakung, tetapi karena kebutuhan memaksa kami, maka kami makan sebagian darinya, lalu beliau bersabda;

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْمُنْتِنَةِ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَأَذَّى، مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الْإِنْسُ
“Barangsiapa makan sebagian dari pohon berbau busuk ini, maka janganlah dia mendekati masjid kami! Karena Malaikat merasa tersakiti (terganggu) dengan sesuatu yang karenanya manusia juga merasa tersakiti (disebabkan baunya).”
(HR. Imam Muslim no.563)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda;

مَنْ أَكَلَ ثَوْمًا أَوْ بَصَلاً فًلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فيِ بَيْتِهِ
“Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah menjauhi kami atau hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk di dalam rumahnya!”
(HR. Imam Muslim, no.564)

Makna hadits tersebut berlaku juga untuk segala sesuatu yang berbau tidak sedap dan menyengat, yang bisa mengganggu orang yang sedang shalat (beribadah). Namun, jika seseorang sebelum pergi ke masjid, bisa menggunakan sesuatu yang dapat mencegah atau menghilangkan bau yang tidak sedap tersebut dari mulut dan badannya, seperti memakai pasta gigi, siwak, mengemut permen, kumur-kumur dan semisalnya, maka setelah itu tidak ada larangan untuknya masuk ke dalam masjid.

Bahkan seseorang yang mulutnya berbau yang tidak sedap, itu layak untuk dikeluarkan dari masjid.

Sahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata;

ثُمَّ إِنَّكُمْ، أَيُّهَا النَّاسُ تَأْكُلُونَ شَجَرَتَيْنِ لَا أَرَاهُمَا إِلَّا خَبِيثَتَيْنِ، هَذَا الْبَصَلَ وَالثُّومَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا وَجَدَ رِيحَهُمَا مِنَ الرَّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ، أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيعِ، فَمَنْ أَكَلَهُمَا فَلْيُمِتْهُمَا طَبْخًا
“Kemudian sesungguhnya kalian, wahai manusia telah memakan dua pohon yang aku memandangnya sebagai pohon yang busuk yaitu bawang merah dan putih. Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila mendapati bau dari seorang laki-laki di masjid, maka pasti beliau memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan ke Baqi. Barangsiapa yang memakan keduanya, hendaklah dia menghilangkan baunya dengan cara dimasak (diolah).”
(HR. Imam Muslim, no.567)

Mengkonsumsi segala sesuatu yang berbau tajam (menyengat) sebelum shalat, maka dihukumi sama dengan memakan bawang.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan;
“Hadits ini (tentang larangan mendekati masjid untuk orang yang telah memakan bawang) dan hadits yang semakna dengannya berdasarkan hadits-hadits yang shahih, itu menunjukkan makruhnya untuk seorang muslim menghadiri shalat berjamaah selama jelas ada bau tidak sedap yang muncul dari dirinya, yang akibatnya dapat mengganggu orang-orang di sekitarnya, baik itu dikarenakan mengkonsumsi bawang putih, bawang merah, bawang perai atau semisalnya, dari segala sesuatu yang baunya tidak disukai (seperti rokok), sampai dengan bau yang tidak disukai tersebut hilang dari dirinya.”
(Majmu Fatawa Ibnu Baz, 12:82)

• Perhatian
Pada saat ini, sangat banyak benda yang bisa dikonsumsi dan memiliki bau yang menyengat lagi tidak sedap, semisal rokok. Efek negatif rokok tidak hanya ada pada baunya, tapi rokok juga mengandung sangat banyak penyakit untuk para penggunanya, bahkan orang-orang yang berada di sekitarnya juga akan terkena dampak negatifnya. Sehingga kita saksikan, banyak manusia di sekitar kita yang memiliki beragam penyakit yang membahayakan, yang berujung menjadi sebab kematiannya, yang berasal dari rokok. Padahal pihak pemerintah sudah menjelaskan secara jelas kepada kita, bahwa rokok itu MEMBUNUHMU, karena rokok mengandung sangat banyak penyakit. Rokok tembakau ataupun elektrik, semuanya sama! Sama-sama mengandung sangat banyak penyakit. Sehingga hukumnya pun sama menjadi haram.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
“Dan dia (Rasulullah) menghalalkan untuk mereka semua yang baik dan mengharamkan untuk mereka semua yang buruk.”
(Surat Al-Araf 7: ayat 157)

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah memberikan sebuah kaidah tentang manhaj (konsep) islam dalam menghalalkan dan mengharamkan sesuatu, beliau berkata;
“Segala sesuatu yang thahir (suci), yang tidak mengandung bahaya sama sekali, seperti biji-bijian, buah-buahan, hewan-hewan, maka hukumnya halal. Dan segala sesuatu yang najis, seperti bangkai, darah atau sesuatu yang terkena najis dan setiap sesuatu yang mengandung bahaya, semisal racun dan lainnya, maka hukumnya haram untuk dikonsumsi.”
(Al-Athimah, hlm.28 )

Dari berbagai penjelasan dalil di atas, kita mengetahui bahwa seseorang yang sudah mengkonsumsi sesuatu berbau tidak sedap dan menyengat saja tidak boleh masuk ke dalam masjid, apalagi jika sampai menggunakan sesuatu yang berbau tidak sedap dan menyengat tersebut di dalam masjid? Tentu hal itu lebih terlarang.

Sebagai contoh: saat ini banyak manusia yang berani merokok di masjid, meskipun hanya merokok di halaman masjid, itu hukumnya sama, tidak boleh. Karena halaman tersebut masih termasuk bagian dari masjid. Seperti halnya berjual-beli di halaman masjid, itu tetap terlarang karena ada hadits dari Rasulullah yang melarang umatnya berjual-beli di masjid.

Maka hal yang perlu diperhatikan dan diketahui juga oleh umat islam, bahwa halaman sekitar masjid itu termasuk ke dalam bagian masjid. Sehingga memiliki hukum yang sama dengan bagian dalam masjid. Setiap hal yang tidak boleh dilakukan di dalam masjid, maka tidak boleh juga dilakukan di tempat dan halaman sekitar masjid.

5. Bersegera menuju masjid.
Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda;

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah (di masjid), itu lebih utama 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian (di rumah).”
(HR. Imam Bukhari, no.609)

Misalkan: ada orang yang ingin memberi uang kepada kita sebanyak Rp.100.000 jika shalat di rumah dan Rp.2.700.000 dengan syarat kita harus shalat berjamaah di masjid. Mana yang akan kita pilih? Jika kita masih memiliki akal yang sehat, pasti kita akan memilih shalat berjamaah di masjid, karena kita akan mendapatkan uang yang lebih banyak nominalnya dari shalat di rumah. Lalu, ketika sudah tahu bahwa kita akan mendapatkan uang sebanyak Rp.2.700.000, kemungkinan kita akan berangkat menuju masjid dengan bersegera atau dengan santai, menunggu sampai iqamat dikumandangkan? Semoga melalui perumpamaan ini banyak hati yang tersadarkan.

Apakah harus dengan cara demikian, agar kita bisa bersegera menuju ke masjid sebelum waktu shalat tiba atau ketika adzan berkumandang? Malulah sama Allah yang sudah menciptakan kita dan memberikan rezeki, serta semua hal yang kita inginkan!

Salah satu tujuan kita bersegera menuju ke masjid ketika sudah masuk waktu shalat adalah agar kita bisa mendapatkan shaf pertama. Karena sangat besarnya keutamaan yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang berada di shaf pertama.

Hal tersebut dicontohkan juga oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sesibuk apapun aktivitas beliau, ketika adzan berkumandang, beliau segera pergi menuju masjid.

Sebagaimana kesaksian dari istri beliau, Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ خَرَجَ
“Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan istrinya dan jika beliau mendengar adzan, beliau segera keluar (untuk pergi menuju masjid).”
(HR. Imam Bukhari, no.4944)

Meskipun beliau sedang melakukan kesibukan yang mulia, yaitu membantu pekerjaan istrinya. Akan tetapi ketika adzan berkumandang, beliau langsung bergegas keluar menuju masjid. Lalu bagaimana dengan kesibukan kita, yang hanya disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi? Sekedar bekerja, bersantai, ngopi, main gadget, menonton televisi dan berbagai kegiatan semisalnya, kita malah cuek, tidak peduli ketika adzan dikumandangkan.

Saking besarnya keutamaan shaf pertama dalam shalat, andaikan untuk mendapatkan shaf pertama itu harus diundi, sungguh orang yang sudah mengetahui keutamaannya akan siap untuk ikut diundi!

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا
“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.580)

Selain itu, termasuk keutamaan lainnya dari shaf pertama adalah Allah dan Para MalaikatNya akan bershalawat kepada orang-orang yang berada di shaf pertama.

Tidakkah kita ingin shalat bersama dengan para Malaikat?

Dari Sahabat Al-Barra bin Adzib radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ، وَالْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوتِهِ وَيُصَدِّقُهُ مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَطِبٍ، وَ يَابِسٍ، وَ لَهُ مِثْلُ أََجْرِ مَن صَلَّى مَعَهُ
“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang berada di shaf pertama, dan Muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) itu akan diampuni dosanya sepanjang radius (sejauh) suaranya dan dia akan dibenarkan oleh segala sesuatu yang mendengarkannya, baik benda basah maupun benda kering dan dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang shalat bersamanya.”
(HR. Al-Albani, Shahih An-Nasai, no.645. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

6. Berjalan dengan tenang.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya berjalan menuju masjid untuk shalat secara tergesa-gesa, meskipun shalat sudah dimulai.

Sahabat Abu Qatadah radhiyallahu anhu bercerita, saat kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau mendengar suara kegaduhan beberapa orang di belakangnya. Setelah selesai menunaikan shalat, beliau bersabda;

مَا شَأْنُكُم؟ قَالُوْا: اِسْتَعْجَلْنَا إِلىَ الصَّلاَةِ. فَقَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوْا! إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَعَلَيْكُمْ بِاالسَّكِيْنَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا
“Apa yang terjadi pada kalian? Mereka menjawab: kami tergesa-gesa menuju shalat. Maka beliau bersabda: Janganlah kalian lakukan hal itu! Apabila kalian mendatangi shalat, maka hendaklah berjalan dengan tenang! Maka apapun yang kalian dapatkan dari rakaat shalat, shalatlah kalian! Dan untuk rakaat yang terlewat (tertinggal) dari kalian, maka sempurnakanlah!”
(HR. Imam Bukhari, no.635)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa! Apapun yang kalian dapatkan dari shalat, maka ikutilah dan apapun yang tertinggal, maka sempurnakanlah!”
(HR. Imam Bukhari, no.636)

Masih banyak umat islam yang belum mengetahui hadits ini, sehingga setiap kali telat pergi ke masjid, mereka langsung berlari dan terburu-buru dalam mendatangi masjid. Padahal Rasulullah sudah mengajarkan kepada umatnya untuk tetap tenang, meskipun shalat sudah dimulai. Apapun gerakan imam yang kita dapatkan ketika sudah masuk ke dalam shaf shalat, maka segera ikutilah dan jika ada rukun shalat yang tertinggal, maka sempurnakanlah!

Perlu diingat, bahwa tenang dan santai itu berbeda. Dan yang dimaksudkan di dalam penjelasan hadits tersebut adalah tenang, bukan santai.

7. Membaca doa dan dzikir saat menuju masjid.
Ketika sedang dalam perjalanan menuju masjid, hendaknya membaca doa dan dzikir, agar hati tidak kosong. Salah satu doa yang disunnahkan untuk dibaca ketika menuju masjid adalah;

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا
“Ya Allah, berilah cahaya dalam hatiku, cahaya pada lisanku, berilah cahaya pada pendengaranku, berilah cahaya pada penglihatanku, berilah aku cahaya dari belakangku, dari arah depanku dan berikanlah cahaya dari atasku dan arah bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya!”
(HR. Imam Muslim, no.763)

B. ADAB MASUK MASJID

1. Membaca doa ketika akan masuk masjid.
Ada beberapa doa yang disunnahkan untuk dibaca setiap kali akan masuk ke dalam masjid, di antaranya;

بِسْمِ اللَّهِ وَالصَّلاَةُ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ
“Dengan menyebut nama Allah, semoga shalawat, dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah.”
(HR. Ibnu As-Sunni, Amalu Al-Yaum Wa Al-Lailah, no.88. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan, Al-Kalimu Ath-Thayyibu, hlm.92, no.64)

أَعُوْذُ بِاللَّهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah yang maha agung, dengan wajahNya yang mulia dan kekuasaanNya yang abadi, dari setan yang terajam.”
(HR. Abu Dawud, no.466. An-Nawawi menyatakan hadits ini hasan, Al-Adzkar, no.46)
Jika seseorang membaca doa tersebut, maka setan berkata: “dia terjaga (terlindungi) dariku sepanjang hari.”

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmatMu untukku!”
(HR. Imam Muslim, no.713)

اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي ذُنُوبِي وَ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukalah pintu-pintu rahmatMu untukku!”
(HR. Ibnu Majah, 1:128-129. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih dengan beberapa syawahidnya atau penguatnya)

Semua doa-doa di atas boleh kita amalkan, sehingga kita boleh membaca salah satu dari doa di atas setiap kali akan masuk ke dalam masjid.

2. Masuk ke dalam masjid dengan kaki kanan.
Terdapat sebuah kaidah dari para ulama;

تُقَدَّمُ الْيَمِيْنُ فِي كُلِّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ التَّكْرِيْمِ وَالتَّزَيُّنِ وَالْيُسْرَى فِيْمَا عَدَاهُ
“Didahulukan bagian kanan dalam perkara-perkara yang mulia maupun berhias
dan didahulukan bagian kiri dalam perkara selainnya.”
(Al-Qawaidu Al-Fiqhiyyah, no.46)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah menciptakan para makhlukNya dan Dia telah memilih darinya sesuai kehendakNya. Di antara yang dipilihNya adalah sisi sebelah kanan yang ditakdirkan memiliki keutamaan dan kemuliaan yang lebih dibandingkan sisi sebelah kiri. Jika kita mencermati dalil-dalil syari, maka kita dapati bahwa suatu perkara atau perbuatan jika termasuk dalam hal yang mulia, yang indah dan ibadah, maka disyariatkan untuk dimulai dari yang sebelah kanan terlebih dahulu. Namun, jika suatu perkara bukan termasuk dalam kategori tersebut, yaitu berupa hal-hal yang kurang utama, seperti menghilangkan atau mencuci najis atau mengambil benda-benda yang kotor, maka yang lebih didahulukan adalah anggota badan yang sebelah kiri. Inilah makna dan kandungan kaidah tersebut secara umum.”
(Bahjatu An-Nazhirin Syarhu Riyadhu Ash-Shalihin, 2:41)

Di antara dalil yang menunjukkan kebenaran kaidah tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyukai memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam semua urusannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.5926)

Salah satu cara menerapkan kaidah tersebut adalah ketika seseorang masuk ke dalam masjid, yang lebih utama adalah mendahulukan kaki kanannya. Karena masjid adalah tempat yang mulia, sedangkan jalanan adalah tempat yang kurang mulia. Sehingga ketika berpindah ke tempat yang lebih mulia, maka dia harus mendahulukan kaki kanannya, dari pada kaki kirinya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla sudah menjelaskan, bahwa keberadaan masjid adalah kemuliaan bagi manusia.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَأَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kalian menyembah apapun di dalamnya selain Allah!”
(Surat Al-Jinn 72: ayat 18 )

3. Mengerjakan shalat sunnah tahiyyatul masjid.
Termasuk adab ketika memasuki masjid adalah melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum duduk. Shalat ini diistilahkan oleh para ulama dengan shalat tahiyyatul masjid (penghormatan terhadap masjid).

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
“Jika seseorang di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah dia duduk sebelum shalat dua rakaat!”
(HR. Imam Bukhari, no.537)

Yang dimaksud dengan shalat tahiyyatul masjid adalah shalat dua rakaat sebelum duduk di dalam masjid. Amalan sunnah ini sudah tercapai atau terpenuhi dengan shalat apapun yang dikerjakan ketika masuk ke dalam masjid dan sebelum duduk. Oleh karena itu, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah rawatib (qabliyah), bahkan ketika iqamat sudah dikumandangkan dan seseorang ketika masuk ke dalam masjid langsung mengerjakan shalat berjamaah bersama imam, maka itupun termasuk tahiyyatul masjid, jika dikerjakan sebelum duduk.

Sehingga, siapapun tidak boleh lalu-lalang (keluar-masuk) di masjid untuk suatu kepentingan, tanpa mengerjakan shalat dua rakaat (tahiyyatul masjid).

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ، وَأَنْ لَا يُسَلِّمَ إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفُهُ
“Di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seseorang melewati masjid namun, tidak mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya dan seseorang tidak memberikan salam, kecuali hanya kepada orang yang dikenalnya.”
(HR. Ath-Thabrani, Al-Kaabir, 9:9489. Ibnu Hajar, Fathu Al-Bari, 11:25. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.5896)

Jadi, mau sebentar ataukah lama urusan yang ada di masjid, kerjakanlah shalat sunnah sebagai penghormatan terhadap masjid (tahiyyatul masjid) setiap kali masuk ke dalam masjid.

Termasuk suatu hal yang keliru, jika tahiyyatul masjid diniatkan sebagai shalat tersendiri (khusus), karena pada hakikatnya tidak ada satupun hadits yang menjelaskan tentang nama shalat tahiyyatul masjid. Akan tetapi, itu hanyalah penamaan dari para ulama untuk shalat dua rakaat yang dilakukan sebelum duduk, ketika masuk ke dalam masjid. Oleh karena itu, jika seseorang masuk ke dalam masjid setelah adzan, lalu dia mengerjakan shalat qabliyah atau shalat sunnah wudhu, maka itu sudah terhitung sebagai tahiyyatul masjid untuknya. Syariat tersebut berlaku untuk laki-laki, maupun perempuan.

Hanya saja, para ulama mengecualikan syariat tersebut untuk Khatib Jumat (orang yang menyampaikan khutbah Jumat), karena tidak ada satupun dalil yang menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat tahiyyatul masjid sebelum berkhutbah. Akan tetapi, ketika datang ke dalam masjid, Rasulullah langsung naik ke mimbar. Syariat ini juga berlaku untuk semua masjid, termasuk masjidil haram.

Sunnah tentang tahiyyatul masjid itu disyariatkan pada setiap waktu seseorang masuk ke masjid dan ingin duduk di dalamnya, bahkan tetap berlaku juga (boleh dilakukan) pada waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Seseorang dibolehkan melakukan shalat tahiyyatul masjid pada waktu yang dilarang untuk shalat, itu disebabkan karena dia masuk ke dalam masjid. Sehingga dia melakukan shalat tersebut karena sebab masuk ke dalam masjid, sebagai penghormatannya terhadap masjid. Karena larangan shalat pada waktu yang terlarang adalah untuk shalat sunnah mutlak, yang dilakukan tanpa adanya sebab.

Berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ternyata ada lima waktu yang terlarang untuk melakukan shalat. Hal ini harus kita pahami, agar kita tidak melakukan shalat pada waktu yang terlarang, sehingga shalat yang kita lakukan diterima oleh Allah azza wa jalla dan tidak sia-sia.

Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ
“Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar sampai matahari tenggelam.”
(HR. Imam Muslim, no.827)

Sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu berkata;

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau untuk menguburkan orang yang wafat di antara kami yaitu: ketika matahari terbit sampai meninggi, ketika matahari di atas kepala hingga tergelincir ke barat, ketika matahari akan tenggelam hingga tenggelam sempurna.”
(HR. Imam Muslim, no.831)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Para ulama telah sepakat untuk shalat yang tidak punya sebab (mutlak), itu tidak boleh dilakukan pada waktu terlarang tersebut. Para ulama sepakat, bahwa masih boleh mengerjakan shalat wajib di waktu-waktu tersebut. Para ulama berselisih pendapat mengenai shalat sunnah yang punya sebab, apakah boleh dilakukan pada waktu tersebut, seperti shalat tahiyyatul masjid, sujud tilawah dan sujud syukur, shalat Ied, shalat kusuf (gerhana), shalat jenazah dan mengqadha shalat yang tertinggal. Para ulama syafiiyah berpendapat, bahwa shalat yang masih punya sebab masih boleh dikerjakan pada waktu terlarang. Di antara dalil ulama syafiiyah adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengqadha shalat sunnah Zhuhur setelah shalat Ashar. Berarti mengqadha shalat sunnah yang luput, shalat yang masih ada waktunya, shalat wajib yang diqadha, itu masih boleh dikerjakan pada waktu terlarang, termasuk juga untuk shalat jenazah.”
(Syarh Shahih Muslim, 6:100)

• Kesimpulan
Waktu-waktu yang terlarang untuk melakukan shalat, itu ada lima, di antaranya;
– Setelah shalat Shubuh, hingga matahari terbit.
– Mulai matahari terbit (syuruq), hingga matahari meninggi (sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit).
– Ketika matahari berada di atas kepala, tidak condong ke timur atau ke barat, hingga matahari tergelincir ke arah barat.
– Setelah shalat Ashar, hingga matahari mulai tenggelam.
– Ketika matahari mulai tenggelam, hingga tenggelam sempurna.
(Minhah Al-Allam Fii Syarh Bulughi Al-Maram, 2:205)

Maka, berdasarkan kesimpulan dari Imam An-Nawawi rahimahullah di atas, bahwa waktu terlarang untuk shalat hanya berlaku untuk shalat sunnah mutlak (yang tidak punya sebab), sedangkan untuk shalat yang memiliki sebab, maka masih boleh untuk dilakukan. Wallahu alam

5. Tidak keluar masjid setelah adzan dikumandangkan, kecuali karena darurat.
Sahabat Abu Syatsa radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid bersama Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan ketika seorang muadzin telah mengumandangkan adzan, seseorang berdiri meninggalkan masjid sambil berjalan. Abu Hurairah terus melihatnya hingga laki-laki itu keluar dari masjid. Abu Hurairah lalu berkata: Orang ini telah durhaka kepada Abul Qasim (Rasulullah) shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. Imam Muslim, no.655)

Namun, jika seseorang memiliki kebutuhan yang harus ditunaikannya ketika adzan telah dikumandangkan dan jika ditunda akan muncul dampak negatif yang besar, maka pada saat seperti ini, dia boleh keluar dari masjid. Karena dia pada saat itu sedang berada dalam kondisi darurat.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
“Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian sesuatu yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan (darurat).”
(Surat Al-Anam: ayat 119)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman;

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Maka barangsiapa yang dalam kondisi terpaksa memakannya, sedangkan dia tidak menginginkannya dan tidak juga melampaui batas (secukupnya), maka dia tidak berdosa. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 173)

6. Memperbanyak dzikir, doa, membaca Al-Quran, shalat sunnah dan amalan sunnah lainnya setelah adzan sampai dengan iqamat dikumandangkan.
Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhumaa pernah mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar Muadzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh Muadzin, lalu bershalawatlah atasku! Maka sungguh barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di Surga. Tidaklah seseorang layak mendapatkan kedudukan tersebut, kecuali untuk seorang hamba di antara hamba-hamba Allah yang lain. Aku berharap aku adalah dia (yang berhak mendapatkannya). Barangsiapa yang meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafaatku (pertolongan).”
(HR. Imam Muslim, no.384)

Perlu diketahui juga, bahwa para ulama sudah menjelaskan:
Amal ibadah akan diterima oleh Allah azza wa jalla jika memenuhi dua syarat, yaitu;
– Ibadah dilakukan dengan ikhlash (hanya karena Allah). Hal ini berkaitan dengan tujuan dilakukannya ibadah tersebut.
– Mengikuti sunnah (ajaran) Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dan hal ini berkaitan dengan tata caranya.

Sebagaimana ketika kita ingin membuat suatu makanan yang enak untuk orang tua, meskipun kita sudah tahu caranya namun, kita tidak mau mengikuti tata cara (tahapan) yang sudah dijelaskan. Kemungkinan makanan yang kita buat akan berhasil, rasanya jadi enak? Orang tua kita bakal terima makanan tersebut atau tidak?

Masalah duniawi saja ketika dibuat dengan tidak mengikuti cara yang sudah dijelaskan, maka hasilnya pun tidak akan baik dan tidak diterima. Apalagi masalah akhirat (ibadah)? Tentu harus benar-benar mengikuti cara atau tahapan yang sudah dijelaskan oleh pembuat syariat islam, yaitu Allah azza wa jalla, yang sudah dicontohkan oleh utusanNya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, agar amal ibadah yang dilakukan sah dan diterima oleh Allah azza wa jalla.

Selain itu, bershalawat kepada Rasulullah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat mulia. Namun, masih sangat banyak penyimpangan dan kesalahan yang dilakukan oleh umat islam berkaitan dengan shalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Shalawat kepada Nabi memang banyak macamnya. Namun, secara umum dapat dibagi menjadi dua macam;

– Pertama: Shalawat yang disyariatkan.
Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya.

Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah shalawat Ibrahim (shalawat yang biasa dibaca ketika tasyahud dalam shalat) adalah;

اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya Allah, berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia! Ya, Allah, berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia!”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.4416)

Bentuk shalawat yang disyariatkan lainnya adalah shalawat yang diriwayatkan oleh hadits-hadits Rasulullah yang shahih atau hasan dan shalawat yang biasa diucapkan dan ditulis oleh para ulama hadits.

Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-Abbad hafizhahullah menjelaskan;
“Para ulama salafush shalih, termasuk para ahli hadits, sudah biasa mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika menyebut nama beliau dengan dua bentuk lafazh yang sangat ringkas, di antaranya;
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
(Shallallahu alaihi wa sallam)
عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
(Alaihish shalaatu wassalaam)
Bahkan, ketika mereka menulis wasiat-wasiat di dalam karya tulisnya, mereka berusaha untuk menjaga hal tersebut (shalawat) dengan bentuk yang sempurna, yaitu dengan menggabungkan antara shalawat dan permohonan salam atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”
(Fadhlu Ash-Shalah Ala An-Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, hlm.15)

– Kedua: Shalawat yang tidak disyariatkan.
Yaitu shalawat yang berasal dari hadits-hadits dhaif (lemah), maudhu (palsu). Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh Ahlu Bidah), kemudian mereka tetapkan dengan berbagai nama dan istilah shalawat ini atau shalawat itu. Dan shalawat-shalawat seperti demikian sangat banyak jumlahnya.

Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-Abbad hafizhahullah juga menjelaskan;
Di antara bentuk shalawat yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah (bidah) seperti: shalawat nariyyah, shalawat fatih, dan shalawat-shalawat semisalnya. Dan termasuk musibah besar, ternyata sebagian shalawat bidah tersebut mengandung makna kesyirikan.
(Fadhlu Ash-Shalah Ala An-Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, hlm.20-24)

Cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah;

– Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyariatkan, karena shalawat termasuk dzikir dan dzikir termasuk ibadah. Sehingga harus mengikuti cara yang sudah diajarkan oleh Rasulullah alaihishshalatu wassalam. Dan hendaknya tidak membaca shalawat bidah, karena seluruh amalan bidah adalah tertolak dan merupakan kesesatan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan (ibadah) tersebut tertolak.”
(HR. Imam Muslim, no.3243)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Dzikir dan doa termasuk ibadah-ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah itu harus dilakukan di atas ittiba (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Tidak ada seorang pun yang berhak untuk menyatakan suatu amalan termasuk sunnah dari dzikir dan doa yang tidak disunnahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Lalu menjadikannya sebagai kebiasaan yang rutin dan orang-orang pun selalu melakukannya. Semacam itu termasuk membuat perkara baru (bidah) dalam agama islam yang tidak diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan doa, yang terkadang seseorang berdoa dengannya dan tidak menjadikannya sebagai suatu kebiasaan.”
(Fiqhu Al-Adiyah Wa Al-Adzkar, 2:49)

– Banyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat, terlebih pada hari Jumat, atau pada saat disebut nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan di berbagai tempat semisalnya, yang sudah dijelaskan melalui hadits-hadits yang shahih.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali.”
(HR. Imam Muslim, no.408)

– Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara (ritual), yang tidak ditentukan oleh syariat islam.

Seperti: Menentukan untuk membacanya pada waktu akan mengumandangkan adzan, saat khatib Jumat duduk di antara dua khutbah dan keadaan-keadaan semisalnya.

– Dilakukan dengan cara masing-masing dan tidak secara berjamaah (dipimpin oleh seseorang).

Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan ibadah, sehingga harus mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan sependek pengetahuan Penulis, tidak ada dalil yang menjelaskan cara bershalawat dengan berjamaah. Karena, jika dilakukan secara berjamaah, tentu akan dibaca dengan suara keras dan ini bertentangan dengan adab dzikir yang diperintahkan oleh Allah, yakni membacanya dengan suara yang tidak keras (pelan).

Di antara adab berdzikir, yaitu membacanya dengan suara pelan, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan (harus) membacanya dengan suara yang keras.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
“Dan berdzikirlah (ingatlah dan sebutlah nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan disertai rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara (pelan), di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
(Surat Al-Araf: ayat 205)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan;
“Ini menunjukkan, bahwa meninggikan suara dalam berdzikir adalah terlarang.”
(Tafsir Al-Qurthubi, 7:355)

Imam Muhammad Ahmad Lauh menjelaskan;
“Di antara sifat-sifat dzikir dan shalawat yang disyariatkan, yaitu tidak dengan suara yang keras, tidak mengganggu orang lain, atau mengesankan bahwa (Dzat) yang dituju oleh orang yang berdzikir dengan dzikirnya, itu berada di tempat yang jauh, sehingga untuk menyampaikannya harus dengan cara mengeraskan suara (semisal berteriak).”
(Taqdisu Al-Asykhas Fii Fikri Ash-Shufi, 1:276)

Sahabat Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu berkata;

لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسَ عَلَى وَادَ فَرَفَعُوا اَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيْرِ اللَّهُ أَكْبْرُ اَللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ لاَ تَدْعُونَ اَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُوا سَـمِيْعًا قَرِيْيًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَّا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ فَقَالَ لِي يَـا عَبْدَاللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَدَاكَ أَبَـِي وَأُمِّي قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَ بِاللَّهِ
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah! Maka, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Pelanlah! Sesungguhnya kalian tidaklah menyeru kepada Dzat yang tuli dan tidak nampak. Sesungguhnya kalian menyeru (Allah) yang maha mendengar dan maha dekat, dan Dia (Allah) bersama kalian (dengan ilmuNya, pendengaranNya, penglihatanNya dan pengawasanNya). Dan aku (Abu Musa) sedang berada di belakang hewan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau mendengar aku mengatakan: Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kemudian beliau bersabda kepadaku: Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa). Aku berkata: Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah. Lalu beliau bersabda: Maukah aku tunjukkan kepada kalian terhadap suatu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanan-simpanan Surga? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah! Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu. Beliau bersabda: Laa haula wa laa quwwata illa billah.”
(HR. Imam Bukhari, no.4205)

– Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi rebana atau jenis alat musik lainnya, karena hal ini termasuk bidah.

Perbuatan ini mirip dengan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang Shufi. Mereka membaca qasidah-qasidah atau syair-syair yang dinyanyikan dan diiringi dengan pukulan stik, rebana atau semisalnya. Mereka menyebutnya dengan istilah “sama atau taghbiir”

Para ulama Ahlussunnah mengingkari hal tersebut, di antaranya;

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang taghbiir, lalu beliau menjawab;
“Bidah.”
(Tahrim Ala Ath-Tharb, hlm.163)

Imam Asy-Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Di Iraq, aku meninggalkan sesuatu yang dinamakan taghbiir (sejenis syair berisi anjuran untuk zuhud di dunia yang dinyanyikan oleh orang-orang Shufi dan sebagian orang yang hadir memukulkan kayu pada bantal atau kulit sesuai dengan irama lagunya). Itu adalah perkara baru yang diada-adakan (dalam agama islam) oleh Zanadiqah (orang-orang zindiq: menyimpang), mereka menghalangi manusia dari Al-Quran.”
(Al-Hilyah, 9:146)

Imam Ath-Thurthusi rahimahullah pernah ditanya tentang sekelompok orang (yaitu orang-orang Shufi) di suatu tempat yang membaca Al-Quran, lalu seseorang di antara mereka menyanyikan syair, kemudian mereka menari dan bergoyang. Mereka memukul rebana dan memainkan seruling. Maka, apakah menghadiri mereka itu halal ataukah tidak? Lalu Beliau menjawab;
“Jalan orang-orang Shufi adalah batil (salah) dan sesat. Islam itu hanyalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun menari dan pura-pura menampakkan cinta (kepada Allah), maka yang pertama kali mengada-adakan hal tersebut adalah kawan-kawan Samiri (pada zaman Nabi Musa alaihissalam). Yaitu ketika Samiri membuatkan patung anak sapi yang bisa bersuara untuk mereka, lalu mereka datang menari di sekitarnya dan berpura-pura menampakkan cinta (kepada Allah). Tarian itu merupakan bagian dari agama orang-orang kafir dan para penyembah anak sapi. Adapun majelis Rasulullah dan para Sahabatnya penuh ketenangan, seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung. Maka, seharusnya penguasa dan wakil-wakilnya melarang mereka menghadiri masjid-masjid dan tempat semisalnya (untuk menyanyi dan menari). Dan untuk seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir (Kiamat), tidaklah halal (tidak boleh) menghadiri acara mereka, tidak halal membantu mereka melakukan kebathilan (keburukan). Ini adalah jalan yang dilakukan oleh Imam Malik, Imam Asy-Syafii, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan para ulama lainnya dari kalangan para imam kaum muslimin.”
(Tahrim Ala Ath-Tharb, hlm.168-169)

Maka sudah sangat jelas, jika kita ingin mendapatkan syafaat dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bershalawatlah dengan shalawat yang telah diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah! Jangan membuat dan mengarang shalawat baru, karena hal itu merupakan sikap menentang Allah dan RasulNya.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah setelah jelas kebenaran baginya, dan malah mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, maka Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya tersebut dan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahannam, dan Jahannam adalah tempat kembali yang paling buruk.”
(Surat An-Nisa: ayat 115)

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Dan telah diketahui secara pasti dari agama Islam, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mensyariatkan kepada orang-orang shalih dan para ahli ibadah dari umat beliau, agar mereka berkumpul dan mendengarkan bait-bait yang dilagukan (dinyanyikan) dengan tepuk-tangan, atau pukulan dengan kayu (stik), atau rebana. Sebagaimana beliau tidak membolehkan bagi seorang pun untuk tidak mengikuti beliau, atau tidak mengikuti sesuatu yang ada pada Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Beliau tidak membolehkannya, baik dalam perkara batin, perkara lahir, untuk orang awam, atau untuk orang tertentu.”
(Majmu Fatawa, 11:565)

Karena sesungguhnya fungsi terbesar masjid adalah tempat untuk memuliakan Allah dan mengagungkan namaNya.

Sebagimana Allah azza wa jalla berfirman;

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْأَاصَالِ. رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلٰوةِ وَإِيتَآءِ الزَّكٰوةِ  ۙ  يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصٰرُ
“(Cahaya tersebut) berada pada rumah-rumah yang di dalamnya telah Allah perintahkan untuk memuliakan dan menyebut namaNya, di sana bertasbih (menyucikan) namaNya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).”
(Surat An-Nur 24: ayat 36-37)

Pada ayat 36, Allah azza wa jalla menjelaskan: Bahwa fungsi masjid adalah untuk mengerjakan ibadah kepada Allah. Kemudian pada ayat 37, Allah azza wa jalla menjelaskan: Bahwa orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah kepadaNya, tidak akan terlalaikan dari beribadah kepada Allah, hanya karena mengurusi perniagaan, pekerjaannya atau urusan dunia lainnya. Apalagi sampai berani dan tega menjadikan masjid sebagai tempat untuk berniaga (jual-beli).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga memberikan penjelasan yang semakna, sebagaimana ketika beliau menasihati seorang Arab Badui yang kencing di masjid. Beliau bersabda;

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجِلَّ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya, masjid-masjid ini hanya untuk berdzikir kepada Allah azza wa jalla, shalat dan membaca Al-Quran.”
(HR. Imam Muslim, no.285)

Maka hendaknya, semangat yang dimiliki dalam memakmurkan masjid adalah semangat akhirat, untuk mengagungkan dan memuliakan nama Allah azza wa jalla di dalamnya. Oleh karena itu, Allah memuji orang mukmin yang memanfaatkan masjid sesuai fungsinya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ وَأَقَامَ الصَّلٰوةَ وَءَاتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ  ۖ  فَعَسٰىٓ أُولٰٓئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, serta tetap melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (terhadap apapun), kecuali hanya kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”
(Surat At-Taubah 9: ayat 18 )

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Setelah shalat dua rakaat, hendaknya orang yang shalat untuk duduk menghadap kiblat dengan menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah, berdoa, membaca Al-Quran atau diam. Dan janganlah dia membicarakan masalah duniawi!”
(AI-Mughni, 2:119)

Terdapat juga larangan melingkar di dalam masjid (untuk berkumpul) hanya untuk kepentingan dunia semata.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَحْلِقُوْنَ فيِ مَسَاجِدِهِمْ وَلَيْسَ هُمُوْمُهُمْ إِلاَّ الدُّنْيَا وَلَيْسَ ِللَّهِ فِيْهِمْ حَاجَةٌ فَلاَ تُجَاِلسُوْهُمْ
“Akan datang suatu masa kepada sekelompok manusia, dimana mereka melingkar di dalam masjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada kepentingan apapun kepada mereka, maka janganlah duduk bersama mereka!”
(HR. Al-Hakim, no.7916. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan, Islahu Al-Masajid, no.155)

Terdapat keutamaan yang sangat besar bagi siapapun yang duduk di masjid untuk menunggu shalat berjamaah ditegakkan.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَاكَانَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ وَاْلمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَادَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ: اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ
“Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam shalat, selama shalat yang menahannya di dalam masjid, dan para Malaikat berdoa untuk salah seorang di antara kalian selama dia berada pada tempat shalatnya, Malaikat mengatakan: Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats!”
(HR. Imam Bukhari, no.176)

Ini sebagai bukti, bahwa duduknya seseorang di dalam masjid untuk menunggu iqamat dikumandangkan (sebagai tanda shalat berjamaah dimulai), maka selama itu dia terhitung seperti melakukan shalat (mendapatkan pahala shalat). Selain itu, dia juga mendapatkan doa dari para Malaikat yang mendoakan rahmat dan ampunan untuknya, selama dia tidak menyakiti orang lain dan dalam keadaan masih memiliki wudhu. Sungguh, amalan yang sangat ringan dilakukan namun, sangat besar balasan yang didapatkan. Dan ini merupakan bukti dari sifat maha pemurahNya Allah azza wa jalla.

Termasuk dalam penjelasan dari hadits di atas, jika seseorang selesai menunaikan shalat berjamaah, maka jangan bergeser dari tempat duduknya, apalagi sampai pindah ke belakang. Selesaikan dzikirnya dengan tetap berada di tempat duduknya! Karena kebiasaan masyarakat secara umum, ketika selesai salam dari shalat berjamaah, mereka biasanya langsung mundur ke belakang atau bergeser dari tempat duduknya. Kasus seperti ini yang membuat mereka sangat merugi, karena tidak mendapatkan doa dari makhluk Allah yang mulia dan doanya pasti dikabulkan, yaitu para Malaikat.

Meskipun pada hadits tersebut terdapat juga anjuran untuk tidak berpindah tempat duduk sebelum dan setelah shalat, karena akan mendapatkan doa dari para Malaikat namun, bukan berarti harus memiliki tempat khusus di masjid untuk shalat (ibadah). Karena Nabi shallallaahu alaihi wa sallam melarang seseorang untuk memiliki tempat khusus di dalam masjid.

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ وَافْتِرَاشِ السَّبْعِ وَأَنْ يُوَطِّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيرُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang (sujud dengan cepat) seperti burung gagak mematuk dan (menghamparkan lengan ketika sujud) seperti binatang buas yang sedang membentangkan kakinya dan melarang seseorang mengambil lokasi (tempat) khusus di masjid (untuk ibadah), sebagaimana unta menempati tempat berderumnya.”
(HR. Abu Dawud, no.731. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Hikmahnya adalah karena hal tersebut (memiliki tempat khusus di masjid) bisa mendorong seseorang pada sifat pamer, riya (ingin dilihat) dan sumah (ingin didengar), serta mengikat diri dengan adat dan ambisi. Demikian itu merupakan musibah, maka dari itu seorang hamba harus berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjerumus ke dalamnya.”
(Kanzu Al-Ummal, 7:458 )

Perlu diketahui juga, bahwa doa yang dipanjatkan kepada Allah pada waktu antara adzan dan iqamat itu pasti dikabulkan (mustajab).

Mungkin sebagian kita belum mengetahui, bahwa waktu antara adzan dan iqamat adalah waktu utama dan mustajab. Sehingga karena ketidaktahuannya, setelah adzan mereka malah disibukkan dengan hal-hal lain yang tidak bermanfaat dan menyelisihi sunnah Rasulullah, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamat, termasuk di antara waktu terkabulnya doa (mustajab).

Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang memperhatikan waktu tersebut dan memanfaatkannya untuk banyak bermunajat dan memohon kepada Allah yang maha mendengar dan maha mengabulkan setiap doa hambaNya.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ، فَادْعُوا
“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqamat, maka berdoalah kalian!”
(HR. Ahmad, 3:155. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Waktu antara adzan dan iqamat adalah waktu yang barakah (penuh kebaikan), yang sudah sepantasnya seorang muslim menyibukkan dirinya untuk banyak berdoa saat itu.

Kebanyakan manusia malah meninggalkan doa antara adzan dan iqamat. Mereka menyibukkan diri dengan tilawah Al-Quran. Tidak diragukan lagi, bahwa membaca Al-Quran adalah amalan yang mulia. Akan tetapi tilawah Al-Quran bisa dilakukan di waktu lain. Menyibukkan diri dengan berdoa dan berdzikir pada saat itu lebih afdhal (utama). Karena doa yang dipanjatkan pada waktu tertentu, itu lebih utama dari pada doa yang dipanjatkan di waktu lain.

Adapun khusus untuk shalat Jumat, sebelum shalat Jumat dimulai, maka yang disunnahkan adalah untuk memperbanyak shalat sunnah, bukan berdzikir, baca Al-Quran dan ibadah sunnah lainnya.

Meskipun pada waktu menjelang shalat Jumat tidak ada shalat sunnah rawatib sebelumnya (qabliyah), seseorang tetap boleh melakukan shalat sunnah sebelum shalat Jumat dimulai atau sambil menunggu khatib naik mimbar, tapi shalat sunnah dimaksud adalah shalat sunnah mutlak, bukan qabliyah.

Penjelasan tersebut berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sahabat Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu. Dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, lalu dia bersuci semampu dia, lalu dia memakai wewangian (misal:parfum) di rumahnya, kemudian dia keluar lantas dia tidak memisahkan di antara dua jamaah (yang sedang duduk berdekatan), KEMUDIAN DIA MENGERJAKAN SHALAT SUNNAH YANG DITETAPKAN UNTUKNYA (SEMAMPUNYA), kemudian dia diam ketika imam sedang berkhutbah, melainkan akan diampuni dosanya antara Jumat dan Jumat yang lainnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.883)

Tsalabah bin Abi Malik rahimahullah bercerita;
“Mereka di zaman Umar bin Al-Khatthab melakukan shalat sunnah pada hari Jumat hingga keluar Umar (sebagai imam).”
(Al-Majmu, 4:550)

Naafi rahimahullah juga bercerita;
“Dahulu Ibnu Umar mengerjakan shalat (sunnah) sebelum shalat Jumat sebanyak 12 rakaat.”
(Al-Mushannaf, 8:329)

Dalil-dalil yang sudah dicantumkan di atas, menjelaskan bahwa itu merupakan kebiasaan para Sahabat Nabi dan para ulama setelahnya, ketika sebelum shalat Jumat, mereka mengerjakan shalat sunnah, tapi shalat sunnah yang dikerjakan adalah shalat sunnah mutlak, bukan qabliyah.

Seandainya, jika yang dimaksud adalah shalat sunnah rawatib, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengerjakannya. Karena pada saat shalat Jumat, kebiasaan beliau adalah keluar dari rumah, kemudian masuk ke dalam masjid dan langsung naik mimbar (tanpa ada shalat tahiyyatul masjid), lalu beliau berkhutbah di mimbar, kemudian turun dari mimbar dan mengerjakan shalat Jumat sebagai imam.

Padahal kita sudah tahu, bahwa salah satu adab ketika masuk ke dalam masjid sebelum duduk adalah mengerjakan shalat sunnah, karena itu sebagai tahiyyatul masjid (penghormatan terhadap masjid). Silakan bisa simak kembali penjelasan mengenai shalat tahiyyatul masjid, pada point sebelumnya.

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ، فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
“Sulaik Al-Ghathafani datang (ke masjid) pada hari Jumat, sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang berkhutbah, lalu dia pun langsung duduk. Maka Rasulullah langsung bertanya kepadanya: Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua rakaat dan kerjakanlah dengan ringan! Kemudian Rasulullah bersabda: jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua rakaat dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.”
(HR. Imam Bukhari, no.49)

Para ulama telah bersepakat tentang disyariatkannya shalat sunnah dua rakaat bagi siapa pun yang masuk ke masjid dan mau duduk di dalamnya.

Jadi, bagi seseorang yang ketika masuk ke dalam masjid dan tidak mau mengerjakan shalat sunnah (tahiyyatul masjid) maka dibolehkan, asalkan dia tetap berdiri dan tidak duduk sampai iqamat dikumandangkan. Karena anjuran untuk melakukan shalat sunnah (tahiyyatul masjid) yang sesuai dengan redaksi hadits di atas, itu berlaku untuk orang yang masuk ke dalam masjid dan hendak duduk.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
“Jika seseorang di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah dia duduk sebelum shalat dua rakaat!”
(HR. Imam Bukhari, no.537)

7. Berpindah tempat duduk ketika mengantuk.
Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَالِكَ إلَى غَيْرِهِ
“Jika seseorang di antara kalian mengantuk saat berada di masjid, maka hendaknya dia berpindah dari tempat duduknya ke tempat yang lain.”
(HR. Abu Dawud, no.1119)

Penjelasan tersebut bukan berarti melarang seseorang tidur di masjid, karena tidur di masjid dibolehkan. Namun, penjelasan tersebut menjelaskan tentang anjuran berpindah tempat duduk, pada saat mengantuk ketika sedang duduk di masjid untuk melakukan ibadah. Anjuran tersebut bertujuan agar rasa kantuk yang sedang dialami menjadi hilang, dikarenakan bergeraknya anggota tubuh. Biasanya kantuk itu datang, ketika tubuh kita diam terlalu lama. Jadi untuk mengatasinya bisa dengan merubah gaya duduk atau pindah tempat duduknya.

Karena dibolehkan juga tidur di dalam masjid, untuk orang yang membutuhkannya. Semisal orang yang kemalaman dalam perjalanan atau yang tidak punya keluarga, tidak punya tempat tinggal dan sebab semisalnya.

Dahulu para Sahabat Ahli Suffah (orang-orang yang tidak punya tempat tinggal) radhiyallahu anhum, mereka tidur di dalam masjid. Sebagaimana Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita;

لَقَدْ رَأَيْتُ سَبْعِينَ مِنْ أَصْحَابِ الصُّفَّةِ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ عَلَيْهِ رِدَاءٌ إِمَّا إِزَارٌ وَإِمَّا كِسَاءٌ قَدْ رَبَطُوا فِي أَعْنَاقِهِمْ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ نِصْفَ السَّاقَيْنِ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الْكَعْبَيْنِ فَيَجْمَعُهُ بِيَدِهِ كَرَاهِيَةَ أَنْ تُرَى عَوْرَتُهُ
“Sungguh, aku pernah melihat sekitar 70 orang dari Ashhabu Ash-Shuffah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki rida (selendang), kain, atau baju panjang, kecuali mereka ikatkan dari leher mereka. Di antara mereka ada yang kainnya sampai ke tengah betisnya dan ada juga yang sampai ke mata kaki. Kemudian dia lipatkan dengan tangannya, karena khawatir auratnya terlihat.”
(HR. Imam Bukhari, no.423)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa jumhur ulama berpendapat, bahwa bolehnya tidur di dalam masjid.”
(Fathu Al-Bari, 1:694)

Dibolehkan juga tidur dengan posisi terlentang sambil selonjoran, dengan syarat meletakkan salah satu kaki, di atas kaki lainnya.

عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْطَجِعُ فِي الْمَسْجِدِ رَافِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى
“Dari Sahabat Abbad bin Tamim dari Pamannya, bahwa dia pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang terlentang di masjid, sambil meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.”
(HR. Imam Bukhari, no.5512)

Ibnu Hajar rahimahullah kembali menjelaskan;
“Hadits di atas menunjukkan bolehnya bersandar, berbaring dan segala bentuk istirahat lainnya di dalam masjid.”
(Fathu Al-Bari, 1:729)

8. Tidak lewat di hadapan orang yang sedang shalat.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ
“Kalau saja orang yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa yang akan ditanggungnya, niscaya dia berdiri (menunggu) selama 40 adalah lebih baik untuknya, dari pada melewat di hadapan orang yang sedang shalat.”
(HR. Imam Bukhari, no.510)

Saking besarnya dosa yang akan didapatkan oleh orang yang melewat di hadapan orang yang sedang shalat, sehingga terputus sutrah shalatnya, maka baginya berdiri untuk menunggu orang yang sedang shalat tersebut sampai menyelesaikan shalatnya, itu lebih baik baginya.

Jika dalam shalat berjamaah, maka sutrah (pembatas) makmum adalah imam. Sedangkan, jika seseorang shalat sendiri (munfarid) atau menjadi imam, hendaknya memasang sutrah di dekat tempat sujudnya. Agar ketika ada seseorang yang ingin melintas di hadapannya, bisa melintas di luar wilayah shalatnya, yakni dengan berjalan di depan sutrahnya. Karena yang dimaksud terlarang melintas di hadapan orang yang sedang shalat adalah jika melewati antara tempat berdiri (kaki) dan tempat sujud (kepala) orang yang sedang shalat, sehingga terputuslah tempat sujudnya dan inilah yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

“Tidak ada perbedaan di antara para ulama, bahwa lewat di depan sutrah hukumnya tidak mengapa (boleh) dan lewat di tengah-tengah antara orang yang shalat dengan sutrahnya hukumnya tidak boleh (terlarang) dan orang yang melakukannya berdosa.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 24:184).

Sebagaimana hadits dari Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ! فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيطَانٌ
“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang dijadikan sutrah terhadap orang lain, maka jika ada seseorang yang mencoba lewat di antara dia dengan sutrah, maka cegahlah! Jika dia enggan dicegah (memaksa lewat), maka tolaklah dia dengan keras! Karena sesungguhnya dia adalah setan.”
(HR. Imam Bukhari, no.509)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ! فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ
“Janganlah kamu shalat, kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di hadapanmu! Jika dia enggan dilarang, maka tolaklah dia dengan keras! Karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).”
(HR. Al-Albani, Shifatu Ash-Shalah, no.82. Hadits ini sanadnya jayyid atau baik)

Berdasarkan hadits tersebut, kita tidak boleh lewat di antara orang yang shalat dengan sutrahnya, hendaknya kita mencari jalan lain di luar sutrah shalatnya, atau lewat di belakang orang yang sedang shalat tersebut, atau mencari celah di antara orang-orang yang sedang shalat, atau dengan cara lainnya yang tidak termasuk ke dalam larangan ini.

Sedangkan untuk sikap orang yang sedang shalat, ketika ada orang yang ingin melintas di hadapannya, maka cegahlah dengan tangannya! Katika orang tersebut tetap memaksa untuk melintas di hadapannya, maka cegahlah kembali dengan kuat! Atau orang yang sedang shalat bisa maju ke depan sementara, memberi jalan kepadanya untuk melintas, agar dia bisa tetap melintas, tapi melalui arah belakang orang yang sedang shalat. Sehingga orang yang melintas itu tidak memutus sutrah orang yang sedang shalat tersebut.

9. Menjaga kebersihan masjid.
Berusaha menjaga kebersihan masjid dan membersihkan kotoran-kotoran yang ada di sekitar masjid. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

البُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا
“Meludah di dalam masjid adalah suatu perbuatan dosa dan tebusannya adalah menguburnya (menghilangkan dengan tanah).”
(HR. Imam Bukhari, no.415)

Masjid adalah tempat yang paling dicintai oleh Allah azza wa jalla di muka bumi ini yang harus kita jaga kebersihannya. Maka dilarang meludah dan mengeluarkan dahak, ingus dan semisalnya, lalu membuangnya di dalam masjid, kecuali meludah atau membuangnya di sapu tangan atau pakaiannya. Adapun jika membuangnya di lantai atau tembok masjid, maka hal ini dilarang.

Yang dimaksud mengubur ludah dengan tanah pada hadits di atas adalah apabila lantai masjid itu dari tanah, pasir atau semisalnya. Adapun jika lantai masjid itu berupa semen, kapur, atau keramik, maka hendaknya dia meludah di sapu tangannya, pakaiannya, tangannya atau yang lainnya, asalkan tidak di lantai atau tembok masjid.

Selain itu, terdapat juga larangan meludah ke arah kiblat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَفْلُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ
“Barangsiapa meludah ke arah kiblat, maka pada hari kiamat dia akan datang, sementara ludahnya ada di antara kedua matanya.”
(HR. Abu Dawud, no.3328 )

Hadits ini mengandung tuntunan dan pelajaran yang sangat penting, yaitu larangan meludah, membuang dahak dan semisalnya ke arah kiblat secara mutlak, baik di masjid, mushalla, atau di tempat selainnya.

Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Imam An-Nawawi lebih yakin dengan larangan melakukan hal-hal tersebut dalam segala situasi, baik ketika shalat atau di luar shalat, di masjid atau di tempat lain.”
(Subulu As-Salam, 1:230)

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa bercerita;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقُ قِبَلَ وَجْهِهِ فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat ludah di dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya kemudian menghadap ke arah orang banyak seraya bersabda: Jika seseorang dari kalian berdiri shalat, janganlah dia meludah ke arah depannya (kiblat), karena Allah berada di hadapannya ketika seseorang sedang shalat!”
(HR. Imam Bukhari, no.391)

Ketika terpaksa harus meludah saat shalat, maka boleh meludah ke arah kirinya dengan syarat tidak ada orang lain atau jamaah yang lain. Jika di samping kirinya ada orang lain, maka meludahlah ke bawah kakinya! Karena apabila lantainya dari tanah atau pasir, maka memungkinkan untuk ditutup dengan tanah. Jika lantainya dari keramik atau karpet, maka meludahlah ke tisu, sapu tangan, atau ke pakaiannya!

Sahabat Jabir radhiyallahu anhu mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ
“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, maka sesungguhnya Allah tabaaraka wa taala berada di hadapannya. Maka janganlah dia meludah ke arah depan atau ke kanan! Hendaklah dia meludah ke sebelah kiri di bawah kaki kirinya dan jika terlanjur keluar, maka hendaklah dia tumpahkan ke pakaiannya. Beliau kemudian melipat sebagian bajunya dengan bagian yang lain.”
(HR. Imam Muslim, no.3008 )

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat ada dahak di dinding kiblat. Beliau lalu merasa kesal hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda: Jika seseorang dari kalian berdiri shalat, maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya atau sesungguhnya Rabbnya berada di antara dia dan kiblat, maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi lakukanlah ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya)! Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam memegang tepi selendangnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau menggosok-gosok kainnya lalu berkata: atau dia melakukan seperti ini.”
(HR. Imam Bukhari, no.390)

Masjid adalah tempat mulia khusus untuk berdzikir, membaca Al-Quran, shalat dan berbagai amal ibadah lainnya. Maka dilarang membuang semua bentuk kotoran, termasuk ludah dan dahak. Inilah salah satu cara mengagungkan syiar islam di rumah Allah (masjid). Bahkan disebutkan secara khusus, bahwa orang yang meludah atau membuang dahak di masjid, dia telah melakukan sebuah kesalahan.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

التَّفْلُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهُ أَنْ تُوَارِيَهُ
“Meludah di masjid adalah suatu kesalahan dan kafaratnya adalah dengan menutupinya (menghilangkan).”
(HR. Abu Dawud, no.401. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Demikian itu adalah solusi apabila terpaksa harus meludah di dalam masjid. Yang terbaik tentu di luar masjid dengan tanpa menghadap kiblat dan ditimbun tanah atau di kloset. Hal ini lebih sesuai dengan adab. Karena kebanyakan orang memang merasa risih dengan ludah, apalagi dahak dan ingus. Sementara, memerhatikan kenyamanan orang lain adalah tindakan terpuji. Bahkan, membuangnya dengan sembarangan bisa menjadi sebab mendapatkan dosa, apabila ternyata orang lain merasa terganggu.

Dari sisi kesehatan juga tidak kalah penting. Karena dengan izin Allah, ludah atau dahak merupakan salah satu sebab atau media penularan penyakit-penyakit tertentu, seperti TBC, batuk dan penyakit-penyakit yang semisalnya.

Jadi ketika sedang berada di masjid, meludahlah ke arah kiri atau ke tempat yang tidak ada manusia, yakni ke bawah kaki kiri!

10. Tidak mengumpulkan jari-jemari (tasybik) sebelum shalat.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya melakukan tasybik, yaitu menjalinkan (menyatukan) jari-jemari.

Sahabat Kaab bin Ujrah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنَّهُ فِى صَلاَةٍ
“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu memperbagus wudhunya, kemudian keluar menuju masjid dengan sengaja, maka janganlah dia menjalin jari-jemarinya! Karena dia sudah berada dalam keadaan shalat.”
(HR. Abu Dawud no.562, At-Tirmidzi, no.386. Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Berdasarkan hadits tersebut, menjalin jari-jemari terlarang dilakukan sebelum shalat, yakni ketika sedang menunggu shalat.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَا يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنَّ التَّشْبِيْكَ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Jika salah seorang dari kalian shalat, maka janganlah menjalin atau menyelahi jari-jemarinya (tasybik)! Karena sesungguhnya tasybik itu dari setan.”
(HR. Ibnu Katsir, Al-Ahkamu Al-Kabir, 2:118. Beliau menyatakan tidak ada masalah dengan sanadnya)

Karena orang yang sedang menunggu shalat, itu hukumnya sama seperti orang yang sedang shalat. Adapun jika sudah selesai shalat, tidak mengapa (boleh) melakukan tasybik di masjid ataupun di tempat lainnya. Sedangkan jika sebelum shalat dilaksanakan, maka tidak boleh. Karena orang yang menunggu shalat itu hukumnya sama seperti orang yang shalat. Dalam hal ini berlaku untuk semua manusia, baik yang bertindak sebagai imam, khatib maupun makmum.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدِ كَانَ فِي صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ فَلَا يَقُلْ هٰكَذَا: وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumahnya, lalu mendatangi masjid, maka dia berada dalam shalat hingga pulang. Maka janganlah dia melakukan seperti ini: beliau menyilangkan jari-jemari tangannya!”
(HR. Ibnu Khuzaimah, no.439 dan Al-Hakim, 1:206)

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Hukum menjalin jari-jemari adalah makruh ketika dia keluar berjalan menuju masjid. Sementara ketika dia sudah berada di dalam masjid, maka hukum makruhnya akan bertambah. Lalu ketika shalat dilaksanakan, maka kemakruhan itu pun semakin keras.”
(Syarhu Al-Umdah, hlm.601)

Sehingga orang yang sedang berjalan menuju masjid, maka hukumnya juga sama sebagaimana hukum orang yang shalat (tidak boleh bertasybik).

Jadi kesimpulannya, yang tidak dibolehkan menyelahi jari-jemari (tasybik) itu adalah ketika sedang berjalan menuju ke masjid dan ketika di dalam masjid sewaktu menunggu shalat, karena orang yang sedang menunggu shalat itu hukumnya sama seperti orang yang shalat. Namun, jika shalat sudah selesai dilaksanakan, maka boleh bertasybik.

11. Boleh membawa anak kecil ke masjid.
Sahabat Abu Qatadah radhiyallahu anhu bercerita;

خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ عَلَى عَاتِقِهِ فَصَلَّى فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَفَعَهَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar menemui kami, sementara Umamah binti Abu Al-Ash berada di pundak beliau, kemudian beliau mengerjakan shalat. Apabila hendak ruku, beliau meletakkannya dan apabila bangkit dari ruku beliau pun mengangkatnya kembali.”
(HR. Imam Bukhari, no.5537)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنِّي لَأَدْخُلُ الصَّلَاةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ
“Sungguh aku pernah memulai shalat yang ingin aku panjangkan, lalu karena aku mendengar tangisan seorang anak kecil, maka aku ringankan (shalat tersebut), karena (aku sadar) kesulitan ibunya terhadap anaknya.”
(HR. Imam Bukhari, no.666)

Sahabat Buraidah radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ فَجَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَعَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ فِيهِمَا فَنَزَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَطَعَ كَلَامَهُ فَحَمَلَهُمَا ثُمَّ عَادَ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللَّهُ: إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ. رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا
“Suatu saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang berkhutbah, lalu datanglah Hasan dan Husain radhiyallahu anhumaa yang memakai baju merah, keduanya berjalan tertatih-tatih dengan baju tersebut, maka beliau pun turun (dari mimbarnya) dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, lalu beliau mengatakan: Maha benar Allah dalam firmanNya: Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan). Aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, maka aku tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya.”
(HR. An-Nasai, no.1396 dan Ibnu Majah, no.3590. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Sahabat Abu Bakrah radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي، فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ عَلَى ظَهْرِهِ وَعَلَى عُنُقِهِ، فَيَرْفَعُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَفْعًا رَفِيقًا لِئَلَّا يُصْرَعَ، قَالَ: فَعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مَرَّةٍ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَ بِالْحَسَنِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَهُ؟ قَالَ: إِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنْ الدُّنْيَا وَإِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ
“Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suatu ketika pernah shalat, jika beliau sujud, Hasan melompat ke atas punggung dan leher beliau, maka beliau pun mengangkatnya dengan lembut agar dia tidak tersungkur (jatuh), beliau melakukan hal itu tidak hanya sekali (berulang-kali). Maka seusai beliau mengerjakan shalatnya, para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat engkau memperlakukan Hasan sebagaimana engkau memperlakukannya (hari ini)? Beliau menjawab: Dia adalah permata hatiku dari dunia dan sungguh anakku ini adalah sayyid (seorang pemimpin). Semoga dengannya Allah tabaaraka wa taala mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai).”
(HR. Ahmad, no.19611. Sanad hadits ini jayyid)

Imam Al-Aini rahimahullah berkata;
“Hadits tersebut menunjukkan bolehnya membawa anak kecil ke dalam masjid.”
(Ats-Tsamar Al-Mustathab, 2:761)

Adapun hadits yang berbunyi;
“Jauhkanlah anak-anak kalian dari masjid, maka itu adalah hadits yang dhaif (lemah). Didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, Ibnu Jauzi dan ulama lainnya.”
(Ats-Tsamar Al-Mustathab, 2:585)

• Pelajaran yang bisa diambil dari hadits tersebut adalah;
– Bolehnya membawa anak kecil ke masjid dan boleh menggendongnya ketika shalat, meskipun itu adalah shalat wajib. Karena ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam menggendong Umamah, beliau shalat mengimami para Sahabatnya.
– Badan dan pakaian anak kecil itu hukum asal suci, selama tidak diketahui adanya najis. Adapun anggapan bahwa orang yang hendak shalat tidak boleh menyentuh atau menggendong anak kecil atau bayi, karena dikhawatirkan ada najis pada pakaiannya adalah anggapan yang tidak berdasar. Karena prinsip “ada kemungkinan” hanyalah sebatas keraguan yang tidak meyakinkan. Sedangkan, Rasulullah memerintahkan kita untuk meninggalkan sesuatu yang meragukan dan mengambil sesuatu yang meyakinkan. Karena, jika seseorang meninggalkan perkara yang belum jelas untuknya atau meragukannya, tentu hal itu lebih baik untuk diri dan agamanya.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukanmu! Karena kejujuran adalah ketenangan dan sesungguhnya kedustaan adalah keraguan.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2518)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan;
“Dalam hadits-hadits di atas terdapat dalil bolehnya memasukkan atau membawa anak ke masjid, walaupun mereka masih kecil dan masih tertatih saat berjalan, walaupun ada kemungkinan mereka akan menangis keras, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyetujui hal tersebut dan tidak mengingkarinya, bahkan beliau mensyariatkan untuk para imam shalat agar meringankan bacaan shalatnya, apabila ada jeritan (tangisan) bayi, karena dikhawatirkan akan memberatkan ibu (orang tua) bayi tersebut. Mungkin saja hikmah dari hal ini adalah untuk membiasakan mereka dalam ketaatan dan menghadiri shalat berjamaah mulai sejak kecil, karena sesungguhnya pemandangan-pemandangan yang mereka lihat dan dengar saat di masjid seperti: dzikir, bacaan Al-Quran, takbir, tahmid dan tasbih itu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam jiwa mereka, tanpa mereka sadari. Pengaruh tersebut, tidak akan hilang saat mereka dewasa dan memasuki perjuangan hidup dalam gemerlapnya dunia. Dan sepertinya ilmu psikologi modern, menguatkan kenyataan bahwa anak kecil itu bisa dipengaruhi oleh sesuatu yang didengar dan dilihatnya. Adapun anak yang sudah besar, maka terpengaruhnya mereka dengan hal-hal tersebut sangatlah jelas dan tak terbantahkan. Hanya saja jika ada di antara mereka yang bermain dan berlari-lari di masjid, maka wajib bagi orang tuanya atau walinya yang lain untuk mengambil tindakan (menghukumnya) dan mendidiknya. Atau wajib bagi petugas atau pelayan masjid untuk mengusir mereka (dengan cara yang santun). Seperti inilah praktik kisah yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah: Dahulu Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu, jika melihat anak-anak bermain di masjid, dia memukuli mereka dengan pecut dan setelah waktu Isya beliau memeriksa masjid, sehingga tidak menyisakan satu orang pun.
(Ats-Tsamar Al-Mustathab, 1:761)

Setelah kita mengetahui, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam membolehkan anak-anak pergi ke masjid, bahkan beliau memberikan contoh dalam keadaan shalatnya sebagai imam sambil menggendong anak kecil dan ketika beliau khutbah pun, beliau rela untuk memotong khutbahnya sejenak hanya untuk mengambil cucunya, lalu beliau menggendongnya. Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan, bahwa berikan juga hak kepada anak-anak ketika di dalam masjid.

Salah satu hak anak-anak di dalam masjid adalah membiarkan mereka berada di shaf shalat manapun yang diinginkannya, termasuk shaf pertama (belakang imam). Karena konsep di dalam shaf shalat, siapa cepat dia dapat. Sehingga ketika anak-anak sudah menempati shaf pertama, maka tidak boleh ada seorang pun yang memindahkan mereka dari shaf shalat yang sudah ditempatinya. Jika kita memindahkannya, itu sama dengan kita mengambil haknya dan merupakan bentuk kezhaliman, sehingga tidak boleh dilakukan oleh siapapun.

Ibnu Juraij berkata, aku mendengar Nafi rahimahumallah berkata, aku mendengar Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa berkata;

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقِيمَ الرَّجُلُ أَخَاهُ مِنْ مَقْعَدِهِ وَيَجْلِسَ فِيهِ قُلْتُ لِنَافِعٍ الْجُمُعَةَ قَالَ: الْجُمُعَةَ وَغَيْرَهَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang seseorang meminta saudaranya (orang lain) berdiri dari tempat duduknya, lalu dia menempati tempat duduk tersebut. Aku bertanya kepada Nafi: Apakah ini berlaku hanya pada saat shalat Jumat? Nafi menjawab: Untuk shalat Jumat dan yang lainnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.860)

Berdasarkan hadits di atas, kita tidak boleh mengusir atau memindahkan seseorang dari tempatnya. Jika kita tidak ingin tempat tersebut ditempati oleh orang lain, maka bersegeralah untuk menempatinya, bukan dengan merebutnya dari orang lain!

Meskipun anak-anak dibolehkan menempati shaf shalat manapun, termasuk shaf pertama, tapi tetap harus memperhatikan hak mereka yang lainnya, yaitu mendapatkan bimbingan dari orang tua, orang yang membawanya ke dalam masjid, atau dari para jamaah lainnya yang hadir. Yakni mereka harus tetap didampingi dan diingatkan, bahwa pada saat di masjid adalah waktu untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk bermain. Sehingga tidak boleh mengganggu orang-orang yang sedang beribadah di dalam masjid, baik dengan suara ataupun sikap. Dan cara mendampingi anak-anak adalah kita selaku orang tua atau pengasuhnya berusaha berada di samping tempat shalat mereka atau jika kita melihat ada anak-anak yang berangkat ke masjid tanpa didampingi oleh orang tua atau keluarganya, maka segera peringatkan mereka untuk masuk ke dalam barisan (shaf) shalat orang dewasa, yakni dengan menyelahi shaf shalat tersebut. Sehingga mereka tetap bisa dikondisikan dengan efektif. Terlebih jika kita selaku orang tuanya, maka dengan menempatkan mereka di antara shaf shalat kita, maka akan lebih mudah bagi kita mengkondisikan mereka dengan berada tepat di sampingnya, apalagi kita adalah orang yang lebih mengetahui tentang karakter si anak tersebut.

Jadi, jangan biarkan anak-anak membuat shaf shalat semaunya, tanpa dikondisikan dan didampingi oleh orang dewasa atau orang tuanya. Sehingga mereka membuat shaf shalat dengan bergabung bersama anak-anak yang lainnya. Karena jika mereka berkumpul bersama anak-anak yang semisalnya, tentu hal tersebut akan menjadi sebab munculnya keributan dan keramaian yang akan menggangu shalat berjamaah. Karena akan terasa sulit mengkondisikan mereka dalam keadaan terpisah atau berbeda shaf.

Maka nasihat untuk para orang tua, dampingi anak-anaknya setiap pergi ke masjid. Jangan biarkan mereka terpisah dari orang tuanya, meskipun hanya sebentar! Karena yang bertanggung jawab atas keberadaan anak-anak tersebut di dalam masjid adalah orang tuanya. Jangan sampai anak-anak kalian menjadi sebab terganggunya shalat berjamaah! Dan nasihat untuk para orang dewasa yang berada di masjid, bantulah anak-anak agar terkondisikan dengan baik dalam shalatnya! Agar tujuan shalat berjamaah dengan khusyu bisa terwujud.

Berikanlah mereka bekal ilmu pengetahuan tentang agama islam dan adab serta ilmu seputar masjid! Agar mereka bisa beramal dengan ilmu. Dan dengan dibekali ilmu, mereka akan lebih mudah untuk diingatkan dan dikondisikan. Namun, jika mereka tidak memiliki bekal ilmu, maka mereka akan terasa sulit untuk diarahkan, karena mereka belum tahu apa yang harus mereka lakukan.

12. Tidak boleh bertransaksi di masjid.
Jika jual-beli dilakukan di masjid, maka fungsi masjid yang semula untuk beribadah kepada Allah, akan berubah menjadi pasar dan tempat jual-beli. Sehingga merubah kemuliaan masjid, menjadi tempat yang hina.

Karena terdapat dalil yang menjelaskan perbedaan antara masjid dan pasar. Sebagaimana Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.”
(HR. Imam Muslim, no.1076)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Karena pasar, umumnya adalah tempatnya orang berbuat curang, menipu, melakukan transaksi riba, sumpah palsu, menyalahi janji, tidak ingat kepada Allah, dan aktivitas semisalnya. Masjid adalah tempat turunnya rahmat, sementara pasar adalah kebalikannya.”
(Syarh Shahih Muslim, 5:171)

Hukum jual-beli (bertransaksi) di masjid adalah haram. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُوْلُوا لاَ أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ
“Jika kalian melihat seseorang menjual atau membeli di masjid, maka katakanlah: Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada perdaganganmu!”
(HR. Abu Dawud, no.400 dan At-Tirmidzi, no.1232. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini shahih)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّرَاءِ وَ الْبَيْعِ فِي الْمَسْجِد
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang jual-beli di masjid.”
(HR. Ibnu Majah, no.749)

Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Hadits ini menunjukkan haramnya jual-beli di dalam masjid dan wajib bagi orang yang melihatnya untuk berkata kepada penjual atau pembeli tersebut: Semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual-beli kalian! Hal itu sebagai peringatan kepadanya.”
(Subulu As-Salam, 1:321)

Syaikh Salim Ied Al-Hilali menjelaskan;
“Jual-beli di masjid adalah haram, sebab masjid adalah pasar akhirat. Termasuk di antara adab-adab di masjid adalah menyucikannya dari perkara dunia dan hal apapun yang tidak ada kaitannya dengan akhirat.”
(Al-Manahi Asy-Syariiyyah, 1:371)

Atha bin Yasar jika menjumpai orang yang hendak berjualan di dalam masjid, beliau menghardiknya dengan berkata;
“Hendaknya kamu pergi ke pasar dunia, sedangkan ini adalah pasar akhirat!”
(Al-Muwaththa, no.601)

Bahkan, meskipun transaksi dilakukan di teras (luar) yang ada di sekeliling masjid, jika teras tersebut masih berada dalam satu lingkungan dan termasuk halaman masjid, maka hukum masjid tetap berlaku pada teras tersebut, sehingga tidak boleh digunakan untuk bertransaksi. Karena ada sebuah kaidah (rumus) dari para ulama;

الْحَرِيْمُ لَهُ حُكْمُ مَا هُوَ حَرِيْمٌ لَهُ
“Pada sekelilingnya sesuatu, itu memiliki hukum yang sama dengan hukum yang berlaku pada sesuatu tersebut.”
(Al-Asybah Wa An-Nazhair, hlm.240)

Jadi, nasihat untuk para Pembaca yang semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat, jika ingin melakukan transaksi dengan cara apapun (langsung atau melalui media), lakukanlah di tempat lain, di luar area masjid! Karena cara ini yang dilihat lebih selamat dari terkena larangan dan ancaman yang Rasulullah jelaskan pada hadits-hadits di atas.

13. Tidak boleh mengumumkan barang hilang di masjid.
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ
“Jika kalian melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah: Semoga Allah tidak menguntungkan perdaganganmu! Dan jika kalian melihat orang yang mencari barang hilang di dalam masjid, maka katakanlah: Semoga Allah tidak mengembalikan kepadamu!”
(HR. At-Tirmidzi, no.1321, Ad-Darimi, no.1365. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.1495)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahumullah menjelaskan;
“Masjid-masjid tidak dibangun untuk tujuan mengumumkan barang hilang atau untuk jual-beli. Akan tetapi masjid dibangun untuk beribadah kepada Allah, untuk ketaatan, untuk shalat, dzikir, pengajian dan kegiatan semisalnya. Menempelkan kertas pengumuman barang hilang jika ditempel pada tembok luar masjid atau di pintu luar masjid, maka tidak mengapa (boleh). Adapun jika ditempel di dalam masjid atau sekitar masjid, maka tidak selayaknya dilakukan. Karena cara tersebut menyerupai ucapan (pengumuman) dan hal ini kadang bisa menyibukkan manusia untuk membacanya dan mengamatinya. Yang tampak bagiku, itu semua tidak boleh dilakukan, karena menempelkan kertas pengumuman di dalam masjid artinya mencari barang hilang. Namun, jika ditempel pada tembok luar masjid atau ditempel pada pintu luar masjid, maka tidak mengapa.”
(Fatawa Nurun Ala Ad-Darbi, 2:709)

Maka segala bentuk kehilangan, baik berupa anak, barang dan lainnya, tidak boleh diinformasikan di masjid. Adapun jika diinformasikan di luar area masjid, maka tidak mengapa (boleh). Karena yang terlarang pada hadits di atas adalah jika dilakukan di sekitar area masjid, baik di dalam maupun di luarnya.

Jadi, jika kita ingin menanyakan tentang sesuatu milik kita yang hilang, tanyakan kepada orang lain ketika sudah berada di luar area masjid. Inilah cara yang dilihat lebih selamat dari larangan dan ancaman pada hadits tersebut.

14. Boleh mengumumkan berita kematian di masjid.
Sebetulnya menyampaikan berita kematian kepada masyarakat itu boleh, selama tidak ada unsur terlarang di dalamnya.

Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah berkhutbah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia;

أمَّا بَعْدُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
“Amma badu (adapun setelah itu), maka barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah maha hidup dan tidak akan mati.”
(HR. Imam Bukhari, no.4097)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ رَجُلًا أَسْوَدَ أَوْ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَ يَقُمُّ الْمَسْجِدَ فَمَاتَ فَسَأَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ فَقَالُوا: مَاتَ قَالَ: أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي بِهِ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ أَوْ قَالَ قَبْرِهَا فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا
“Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkulit hitam atau wanita berkulit hitam yang menjadi tukang sapu masjid telah meninggal dunia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu bertanya tentang keberadaan orang tersebut. Para Sahabat pun menjawab: Dia telah meninggal. Beliau bersabda: Kenapa kalian tidak memberi kabar kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya kepadaku! Beliau kemudian mendatangi kuburan orang tersebut, kemudian menshalatinya.”
(HR. Imam Bukhari, no.438 )

Dalam riwayat yang lain, Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَعَى النَّجَاشِىَّ فِى الْيَوْمِ الَّذِى مَاتَ فِيهِ، خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengumumkan berita kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Beliau keluar, menuju tempat shalat, lalu membariskan shaf para jamaah dan melaksanakan shalat jenazah dengan empat kali takbir.”
(HR. Imam Bukhari, no.1168 )

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan;
“Mengumumkan berita kematian tidaklah semua terlarang. Yang terlarang hanyalah yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, karena dahulu mereka mengutus beberapa orang untuk mengumumkan berita kematian di pintu-pintu dan di pasar-pasar.”
(Fathu Al-Bari, 3:116)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Di dalam hadist ini ada anjuran untuk memberitahu kematian seseorang, tetapi bukan dengan cara-cara jahiliyah, yaitu sekedar memberitahukan kematian seseorang dengan tujuan agar dishalatkan dan diurusi jenazahnya, serta diselesaikan tanggungannya. Adapun mengumumkan kematian yang dilarang bukanlah seperti ini, yang dilarang adalah Na’yu Jahiliyah yang bertujuan berbangga-bangga dan yang sejenisnya.”
(Syarh Shahih Muslim, 7:21)

• Kesimpulan
Dari berbagai hadits yang sudah dijelaskan di atas, selanjutnya tinggal melihat realita yang ada di sekitar kita.

Jika mengumumkan kematian seseorang, disampaikan kepada keluarga, kerabatnya, tetangganya, serta orang-orang shalih, dengan tujuan agar mereka bisa mendatangi rumah duka untuk bertakziyah, menghibur keluarga si mayit dan agar si mayit bisa segera diurusi sampai dengan pemakamannya, maka itu hal yang mustahab (dianjurkan).

Adapun jika mengumumkan kematian kepada orang-orang, dengan tujuan hanya menyebutkan kelebihan-kelebihan si mayit, maka hukumnya adalah makruh (dibenci).

Dan apalagi, jika mengumumkan kematian dalam untuk meratapi kematiannya, maka hukumnya adalah haram (dilarang).

15. Boleh shalat memakai sandal.
Shalat dengan memakai sandal hukumnya dibolehkan, bahkan itu termasuk salah satu sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang masih banyak belum diketahui oleh umat islam. Padahal shalat dengan memakai sandal di masa Rasulullah dan para Sahabatnya merupakan suatu hal yang biasa dilakukan. Hal tersebut dilakukan bukan karena masjid pada masa itu yang beralaskan pasir, beliau memerintahkan dan mencontohkan hal tersebut karena adanya tujuan tertentu, yang merupakan kebaikan untuk umatnya.

Rasulullah menyebutkan, shalat memakai sandal termasuk sikap tampil beda dengan model ibadahnya kaum Yahudi.

Sahabat Syaddad bin Aus radhiyallahu anhu berkata, Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ، وَلَا خِفَافِهِمْ
“Bersikaplah kalian yang berbeda dengan kaum Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai sandal maupun sepatu.”
(HR. Abu Dawud, no.652)

Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhu bercerita;

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا
“Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkadang shalat dengan tidak beralas kaki dan terkadang shalat dengan memakai sandal.”
(HR. Abu Dawud, no.653. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ، أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيهِ، وَلَا يُؤَذِ بِهِمَا غَيرَهُ
“Apabila kalian shalat, hendaknya dia pakai kedua sandalnya atau dia lepas keduanya untuk diletakkan di antara kedua kakinya. Dan janganlah dia mengganggu yang lain!”
(HR. Ibnu Hibban, no.2183)

Para ulama juga menjelaskan, bahwa dibolehkannya memakai sandal ketika shalat, jika terpenuhi dua syarat;

• Sandalnya suci dari najis, dan tidak kotor. Syaikh Abdullah bin humaid menjelaskan;
“Hanya saja ada syaratnya, yaitu sandal harus suci. Jika pada sandalnya terdapat najis atau menginjak kotoran, maka tidak boleh menggunakannya untuk shalat.”
(Fatwa Islam, no.12033)

• Tidak memakainya di masjid yang beralaskan karpet.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjelaskan;
“Hukum menggunakan sandal ketika shalat itu dianjurkan, setelah dipastikan sandal tersebut bersih (dari najis dan kotoran). Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat dengan memakai sandal. Namun, jika masjidnya beralaskan karpet, yang lebih baik adalah tidak memakai sandal, agar tidak mengotori karpet dan membuat kaum muslimin enggan untuk sujud di karpet tersebut.”
(Fatwa Islam, no.69793)

Dengan demikian, seseorang boleh shalat memakai sandal ketika shalat sunnah di rumah atau shalat wajib di masjid yang tidak beralaskan karpet.

Maka nasihat untuk umat islam, agar berusaha menyempatkan diri dan mencoba untuk mengerjakan shalat dengan memakai sandal di masjid yang tidak beralaskan karpet atau dengan kondisi lainnya yang memungkinkan untuk memakai sandal. Terutama ketika shalat sunnah di rumah, bisa juga memakai sandal di dalam rumah, yang sudah dipastikan kondisi sandalnya suci dari najis dan bersih dari kotoran, agar diri kita bisa membiasakan dan menghidupkan kembali sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada kehidupan keseharian kita dan hal tersebut juga merupakan usaha kita untuk tidak meniru kebiasaan kaum Yahudi yang shalat tidak memakai sandal.

16. Tidak boleh menghiasi masjid berlebihan.
Di antara kesalahan yang terjadi pada masjid adalah menghiasi masjid dan memahatnya secara berlebihan. Padahal Rasulullah tidak pernah memerintahkan umatnya untuk memperindah masjid.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhumaa berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
“Aku tidaklah diperintahkan untuk menghiasi masjid-masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata: Sungguh kalian akan menghiasi masjid-masjid, sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nashrani menghiasi (tempat ibadah mereka).”
(HR. Abu Dawud, no.378)

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي اْلمَسَاجِدِ
“Tidak akan terjadi hari kiamat, sampai manusia berlomba-lomba di dalam (memperindah) masjid.”
(HR. Ibnu Hibban, no.6760)

Dalam riwayat yang lain, beliau bersabda;

إِذَا زَخْرَفْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ وَ حَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ فَالدَّمَارُ عَلَيْكُمْ
“Apabila kalian telah memperindah masjid-masjid kalian dan menghiasi mushaf-mushaf kalian, maka kehancuran telah menimpa kalian.”
(HR. Abdurrazzaq, Al-Mushannaf, no.5132.
Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan, Shahihu Al-Jami, no.585)

Rasulullah menjelaskan, bahwa di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah manusia berbangga-bangga dengan masjid. Dan sebab adanya larangan untuk berlebihan dalam menghiasi masjid, karena hal itu menyelisihi sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang sudah dijelaskan juga pada hadits-hadits di atas.

Salah satu bentuk berlebihan dalam menghias masjid adalah memajang ayat-ayat Al-Quran (kaligrafi) pada dinding masjid.

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menghormati dan memuliakan simbol dan syiar agama islam. Termasuk ayat Al-Quran yang merupakan firman Allah azza wa jalla. Bahkan Allah juga melarang kaum muslimin melakukan perbuatan yang menjadi sebab islam dihinakan.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena nantinya mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”
(Surat Al-Anam: ayat 108 )

Memaki berhala (sesembahan) orang kafir, pada dasarnya tidak masalah (boleh). Karena mereka thaghut yang layak untuk dicela. Namun, ketika tindakan semacam ini menjadi sebab orang kafir membalasnya, dengan memaki Allah azza wa jalla atau memaki syiar-syiar islam yang lainnya, maka perbuatan tersebut hukumnya menjadi terlarang.

Hal itu disebabkan empat ulama madzhab telah sepakat melarang memajang tulisan ayat Al-Quran (kaligrafi).

Karena memajang tulisan ayat Al-Quran, lafazh dzikir, nama-nama Allah, atau tulisan yang berisikan pujian untuk Allah dengan model tulisan apapun, hal itu bisa menjadi sebab penghinaan terhadap nama Allah atau ayat Al-Quran. Oleh karena itu, para ulama dari berbagai madzhab melarang perbuatan tersebut.

Ada beberapa penjelasan para ulama berkenaan memajang ayat Al-Quran (kaligrafi) pada dinding di antaranya;

• Keterangan ulama madzhab Hanafi
– Imam Ibnu Abidin rahimahullah menjelaskan;
“Dibenci menuliskan ayat Al-Quran atau nama Allah pada mata uang, mihrab (tempat imam), dinding, atau semua benda yang dibentangkan.”
(Hasyiyah Ibnu Abidin, 1:179)

– Imam Ibnu Nujaim rahimahullah menjelaskan;
“Bukan tindakan yang baik, menuliskan ayat Al-Quran pada mihrab (tempat imam) atau dinding, karena dikhawatirkan tulisannya jatuh dan terinjak.”
(Al-Bahr Ar-Raiq, 2:40)

• Keterangan ulama madzhab Maliki
– Imam Muhammad Ilyisy rahimahullah menjelaskan;
“Selayaknya dicegah semua bentuk seni tulisan Al-Quran atau nama-nama Allah, karena ini bisa menyebabkan disikapi dengan tidak terhormat. Demikian juga, dilarang memahat di tembok.”
(Minah Al-Jalil Ala Mukhtashar Khalil, 1:517)

– Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan;
“Di antara kehormatan Al-Quran adalah tidak boleh ditulis pada tanah atau di atas tembok, sebagaimana yang terjadi pada masjid-masjid saat ini. Ada sebuah riwayat dari Muhammad bin Zubair, bahwa beliau pernah melihat sikap Umar bin Abdul Aziz terhadap orang yang menulis ayat Al-Quran (kaligrafi) pada dinding. Muhammad bin Zubair berkata: Umar bin Abdul Aziz pernah melihat anaknya menulis ayat Al-Quran pada dinding, lalu beliaupun memukulnya.”
(Tafsir Al-Qurthubi, 1:30)

• Keterangan ulama madzhab Syafii
– Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Dibenci menuliskan Al-Quran atau nama Allah pada tembok atau kain. Dan tidak boleh menuliskan Al-Quran dengan tinta najis. Dan dibenci menuliskan Al-Quran di dinding, menurut madzhab kami.”
(At-Tibyan Fii Adab Hamalah Al-Quran, hlm.89)

– Imam Muhammad Asy-Syirbini rahimahullah menjelaskan;
“Dibenci menuliskan Al-Quran pada dinding, meskipun milik masjid, atau di baju atau makanan, atau semacamnya.”
(Al-Iqna Fii Halli Alfadz Abi Syuja, 1:104)

• Keterangan ulama madzhab Hanbali
– Ibnu Muflih rahimahullah menjelaskan;
“Abul Maali mengatakan: dibenci menuliskan Al-Quran pada mata uang ketika proses pembuatan.”
(Al-Furu, 1:126)

– Imam Al-Buhuti rahimahullah menjelaskan;
“Dibenci menuliskan Al-Quran pada mata uang dirham, dinar atau lempengan logam.”
(Kasyaf Al-Qana, 3:272)

Termasuk ke dalam larangan menghias masjid dengan berlebihan adalah memajang foto atau gambar makhluk bernyawa.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
“Orang yang paling keras (dahsyat) adzabnya pada hari kiamat di sisi Allah adalah tukang gambar (makhluk bernyawa).”
(HR. Imam Bukhari, no.5950)

Dalam riwayat lain;

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتْ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَقَالَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ
“Dari Aisyah radhiyallahu anha, istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa dia mengabarkan kepada Rasulullah, bahwa dirinya membeli numruqah (bantal yang digunakan untuk duduk) yang ada gambarnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk ke dalam rumah. Seolah-olah Aisyah melihat kemarahan di wajah beliau, lalu Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan kepada RasulNya, sebenarnya dosa apa yang telah aku perbuat? beliau bersabda: Ada apa dengan bantal ini? Aisyah menjawab: Aku telah membelinya agar engkau duduk di atasnya atau engkau jadikan sebagai bantal. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang yang menggambar gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat. Dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian buat! Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada gambarnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.5504)

Sahabat Ali radhiyallahu anhu pernah diutus ke suatu daerah, dan Rasulullah memberikan beberapa pesan kepadanya;

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ. وَلَا صُورَةً إِلَّا طَمَسْتَهَا
“Dari Abul Hayyaj Al-Asadi, dia berkata: Ali bin Abi Thalib berkata: Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan patung-patung, kecuali kamu hancurkan, dan jangan juga kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan! Dan jangan juga kamu tinggalkan gambar, kecuali kamu menghapusnya!”
(HR. Imam Muslim, no.1609)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga melarang ada gambar di dalam rumah dan melarang membuatnya. Maka wajib untuk menyingkirkannya dan tidak boleh memajangnya. Ketika di rumah Aisyah, Rasulullah pernah melihat ada gambar di tirai, lalu seketika berubah wajah beliau (karena tidak menyukainya) dan merobeknya. Ini menunjukkan bahwasanya tidak diperbolehkan memajang gambar makhluk bernyawa di rumah. Baik itu gambar pemimpin, orang tua, keluarga, sahabat, teman, ahli ibadah, orang shalih, ulama, artis, tokoh, burung, kucing, harimau, rusa, kupu-kupu, dan gambar makhluk bernyawa lainnya. Semua gambar makhluk bernyawa itu tidak boleh dipajang dan digunakan.

Gambar makhluk bernyawa tidak boleh juga digunakan atau dipajang pada baju (pakaian), tirai, bantal, sprei, meja, kursi, casing HP, kain taplak, tembok, karpet, sandal, mobil, motor, sepeda dan tempat lainnya.

Sehingga wajib bagi semua manusia, terkhusus umat islam untuk segera meninggalkan perbuatan tersebut (memajang gambar makhluk bernyawa) dan menjauhinya! Hal tersebut dilakukan dalam rangka untuk menaati Allah azza wa jalla dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam.

Jadi, dalam hal menghias masjid pada dasarnya dibolehkan, asalkan tidak berlebihan. Berikan hiasan yang dianggap perlu dan tidak sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat islam, semisal menulis atau memajang ayat Al-Quran (kaligrafi) dan memajang gambar makhluk bernyawa pada dinding dan tempat semisalnya.

Karena hal tersebut dilarang untuk dilakukan tidak hanya di masjid, tapi dilarang juga untuk dilakukan pada tempat yang lainnya, semisal rumah, kantor, jalanan, tempat orang-orang berkumpul dan di tempat-tempat lainnya. Karena hal tersebut merupakan kemunkaran dan termasuk kemaksiatan terhadap Allah dan RasulNya.

17. Tidak boleh mengganggu orang lain yang sedang beribadah di masjid.
Orang yang sedang menjalankan ibadah di masjid membutuhkan ketenangan dan kenyamanan, sehingga seseorang dilarang mengganggu kekhusyuan (keseriusan) orang yang sedang shalat, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
Di antara kesalahan yang sering terjadi di dalam masjid adalah membaca ayat Al-Quran dengan suara keras, sehingga mengganggu shalat dan bacaan orang lain.
(Al-Adzkar, hlm.120)

Sahabat Abu Said radhiyallahu anhu berkata;

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ: أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beritikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (para Sahabat) mengeraskan bacaan (Al-Quran). Kemudian beliau membuka tirai sambil bersabda: Ketahuilah, sesungguhnya kalian sedang berdialog (bermunajat) dengan Allah. Oleh karena itu, janganlah sebagian dari kalian mengganggu sebagian yang lain dan jangan juga sebagian dari kalian mengeraskan (suara) terhadap sebagian yang lain di dalam membaca (Al-Quran) atau dalam shalatnya.”
(HR. Abu Dawud, no.1135)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda;

إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يُنَاجِيْهِ وَ لاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ
“Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka hendaknya dia memperhatikan isi munajatnya dan janganlah satu sama lain mengeraskan bacaan Al-Qurannya!”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.1951)

Maka siapapun yang berada di masjid, tidak boleh berteriak dan membuat gaduh (keributan) di masjid. Sebab, masjid dibangun sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla.

Termasuk dalam larangan tersebut juga yakni mengganggu orang yang sedang beribadah di masjid dengan membaca Al-Quran menggunakan pengeras suara, menyalakan murattal Al-Quran, obrolan-obrolan dengan suara keras, tertawa terbahak-bahak, berteriak dan keadaan semisalnya.

Sahabat As-Saib bin Yazid radhiyallahu anhu bercerita;

كُنْتُ قَائِماً فِى الْمَسْجِدِ فَحَصَبَنِى رَجُلٌ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ: اذْهَبْ فَأْتِنِى بِهَذَيْنِ. فَجِئْتُهُ بِهِمَا. قَالَ: مَنْ أَنْتُمَا؟ أَوْ مِنْ أَيْنَ أَنْتُمَا؟ قَالاَ: مِنْ أَهْلِ الطَّائِفِ. قَالَ: لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا، تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِى مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
“Aku pernah berdiri di masjid, lalu ada yang melempar batu kerikil kepadaku, maka aku melihat, ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab. Dia (Umar) berkata: Pergilah, ambillah kedua batu ini! Aku pun datang kepadanya dengan membawa kedua batu itu. Dia bertanya: Siapa kalian berdua? Atau: Dari mana kalian berdua? Keduanya menjawab: Dari penduduk Thaif. Dia berkata: Kalau kalian berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu kalian berdua akan aku sakiti. Karena kalian berdua telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. Imam Bukhari, no.470)

Apabila mengeraskan bacaan Al-Quran saja dilarang jika berdampak mengganggu orang lain yang sedang melakukan ibadah, lalu bagaimana jika mengganggu dengan suara-suara gaduh yang tidak bermanfaat? Tentu ini jelas lebih terlarang.

Sungguh realita yang menyedihkan, sebagian orang termasuk orang tua dan anak-anak muda, mereka tidak merasa bersalah jika membuat kegaduhan atau keributan di masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung. Mereka asyik dengan obrolan yang sebetulnya tidak ada manfaatnya. Terkadang mereka sengaja menunggu imam ruku, tidak ikut takbiratul ihram bersama imam, lalu lari tergopoh-gopoh dengan suara gaduh, mereka bercanda sambil berlari untuk mendapatkan ruku bersama imam. Keadaan seperti ini kita masih meragukan sahnya rakaat shalat tersebut, karena mereka tidak membaca Al-Fatihah dalam keadaan sebenarnya mereka mampu untuk melakukannya. Namun, mereka meninggalkannya dengan sengaja, bahkan sampai berdampak mengganggu orang lain yang sedang beribadah kepada Allah azza wa jalla.

Keadaan tersebut berbeda dengan kondisi yang dialami oleh Sahabat Abu Bakrah radhiyallahu anhu yang ketika datang untuk shalat berjamaah bersama Rasulullah dan para Sahabatnya yang lain, dia mendapati beliau shallallahu alaihi wa sallam sedang ruku bersama jamaah yang lainnya, lalu dia ikut ruku bersamanya dan itu dianggap rakaat shalat yang sah, sehingga beliau tidak perlu menambah rakaat. Karena Sahabat Abu Bakrah tidak melakukan takbiratul ihram bersama imam, sehingga dia tidak bisa menyimak bacaan imam atau dia tidak bisa membaca surat Al-Fatihah, itu disebabkan tidak disengaja.

18. Tidak boleh shalat menghadap kuburan.
Sahabat Abu Martsad Al-Ghanawi radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
“Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan jangan juga kalian shalat dengan menghadap ke arahnya (kuburan)!”
(HR. Imam Muslim, no.1613)

Dalam riwayat yang lain;

لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا
“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan janganlah kalian duduk di atasnya!”
(HR. Imam Muslim, no.1614)

Dari Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ
“Seluruh tempat di bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat), kecuali kuburan dan tempat pemandian (misal:toilet).”
(HR. At-Tirmidzi, no.317, Ahmad, 3:83, dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Pada hadits di atas, kita tidak hanya dilarang shalat menghadap kuburan namun, kita juga dilarang dan tidak boleh duduk di atas kuburan. Karena salah satu kebiasaan masyarakat saat ini, ketika masuk ke maqbarah (pemakaman), terutama ketika mengiringi pemakaman jenazah, sebagian di antara masyarakat ada yang suka duduk-duduk di atas kuburan. Padahal siksa yang akan didapatkan akibat perbuatan tersebut sangatlah dahsyat.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ
“Seandainya seseorang duduk di atas bara api, sehingga membakar pakaiannya sampai kulitnya, maka itu lebih baik baginya dibandingkan dia duduk di atas kuburan.”
(HR. Imam Muslim, no.1612)

Berdasarkan hadits di atas, menunjukkan bahwa duduk di atas kuburan termasuk dosa besar, karena adanya ancaman yang keras dan sangat dahsyat untuk para pelakunya.

Allah dan RasulNya memerintahkan manusia untuk beribadah (shalat) menghadap kiblat. Namun, ketika di arah kiblat tersebut terdapat kuburan, maka jangan shalat di tempat (masjid atau mushalla) tersebut! Cari masjid atau mushalla yang tidak ada kuburannya! Karena Allah dan RasulNya melarang manusia untuk shalat di masjid yang di dalamnya atau di sekitarnya terdapat kuburan. Bahkan, syariat islam juga melarang manusia untuk membangun masjid di atas kuburan atau membangun kuburan di atas masjid. Intinya, masjid tidak boleh digabungkan dengan kuburan.

Sahabat Jundab radhiyallahu anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ingatlah bahwa orang-orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kuburan Nabi dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid (tempat beribadah). Ingatlah, jangan kalian jadikan kuburan menjadi masjid! Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian.”
(HR. Imam Muslim, no.532)

Ummu Salamah pernah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai gereja yang dia lihat di negeri Habaysah yang disebut Mariyah. Dia menceritakan kepada beliau sesuatu yang dia lihat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ، أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ
“Mereka adalah kaum yang jika seorang hamba atau orang shalih mati di tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Lalu mereka membuat gambar-gambar (orang shalih) tersebut. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.”
(HR. Imam Bukhari, no.434)

Jika ada masjid atau mushalla yang sudah terdapat kuburan, maka kita bisa melakukan di antara dua cara.

– Pertama: Memindahkan kuburan tersebut ke pemakaman (maqbarah) umum.
– Kedua: Jika pemakaman tersebut bersampingan atau berdekatan dengan masjid atau mushalla, maka buatlah tembok, selokan atau semisalnya, sebagai tanda pemisah antara tanah halaman masjid atau mushalla dengan tanah halaman pemakaman.

Dengan cara demikian, fungsi masjid atau mushalla bisa kembali digunakan untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla.

Maka, sebelum kita shalat di tempat yang belum kita ketahui keadaannya, perhatikanlah sekitarnya! Jika terdapat kuburan, meskipun hanya ada satu, segera pindah dan jangan shalat di tempat tersebut!

Nasihat Penulis untuk para Pewakaf:
Ketika anda mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid atau mushalla di atasnya, maka seketika itu hak kepemilikan tanah tersebut beralih untuk Allah. Sehingga, anda tidak memiliki hak sedikitpun dari tanah tersebut, meskipun sebelumnya tanah tersebut sertifikatnya atas nama anda. Maka, ketika anda akan meninggal dunia, jangan pernah anda memberi wasiat kepada ahli warisnya untuk dimakamkan di atas tanah tersebut! Karena tanah tersebut bukan lagi milik anda.

C. ADAB KELUAR MASJID

1. Membaca doa ketika keluar masjid.
Sahabat Abu Usaid radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka bacalah doa: ALLAAHUMMAFTAH LII ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmatMu untukku!).” Dan apabila keluar masjid, maka bacalah doa: ALLAAHUMMA INNII ASALUKA MIN FADHLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kurniaMu).”
(HR. Imam Muslim, no.1165)

2. Melangkah keluar masjid dengan kaki kiri.
Terdapat sebuah kaidah dari para ulama;

تُقَدَّمُ الْيَمِيْنُ فِي كُلِّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ التَّكْرِيْمِ وَالتَّزَيُّنِ وَالْيُسْرَى فِيْمَا عَدَاهُ
“Didahulukan bagian kanan dalam perkara-perkara yang mulia maupun berhias
dan didahulukan bagian kiri dalam perkara selainnya.”
(Al-Qawaidu Al-Fiqhiyyah, no.46)

Kaidah tersebut dibenarkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyukai memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam semua urusannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.5926)

Salah satu cara menerapkan kaidah tersebut adalah ketika seseorang masuk ke dalam masjid, yang lebih utama adalah mendahulukan kaki kanannya. Karena masjid adalah tempat yang mulia, sedangkan jalanan adalah tempat yang kurang mulia. Sehingga ketika berpindah ke tempat yang lebih mulia, maka dia harus mendahulukan kaki kanannya, dari pada kaki kirinya. Sebaliknya, ketika seseorang berpindah ke tempat yang kurang mulia, maka dia harus mendahulukan kaki kirinya.

Masjid tempat yang mulia, karena tempat untuk manusia beribadah kepada Allah azza wa jalla. Sedangkan, jalanan adalah tempat untuk sekedar lalu-lalang manusia. Bahkan dahulu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melarang para Sahabatnya untuk duduk di jalanan, karena di jalanan bukan tempat yang baik untuk berkumpul.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا بُدَّ لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ أَبَيْتُمْ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ. قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ، وَإِرْشَادُ السَّبِيلِ وَتُغِيثُوا الْمَلْهُوفَ وَتَهْدُوا الضَّالَّ
“Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jauhilah oleh kalian duduk-duduk di pinggir jalan! Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami duduk di sana hanya untuk berbincang-bincang? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu bersabda: Jika kalian enggan meninggalkan tempat tersebut (pinggir jalan), maka berilah haknya! Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa haknya jalan? Beliau menjawab: Menundukkan pandangan, tidak menyakiti orang lain, menjawab salam dan melaksanakan amar-maruf dan nahi-munkar, dan menunjukkan arah jalan, dan memberi pertolongan kepada orang yang teraniaya dan memberi petunjuk orang yang tersesat.”
(HR. Abu Dawud, no.4181)

3. Berusaha untuk mengaitkan hati dengan masjid, agar selalu merasa rindu terhadap masjid.
Hendaknya setiap umat islam berusaha untuk selalu mengaitkan hatinya dengan masjid, dengan berusaha mendatangi masjid sebelum tiba waktu shalat, menunggu shalat dengan berdzikir, berdoa dan melakukan ibadah sunnah lainnya, dan ketika sudah selesai tidak terburu-buru beranjak pergi. Dan keutamaan amalan inilah yang menyebabkan pelakunya akan dinaungi oleh Allah azza wa jalla, ketika nanti tidak ada naungan selain naunganNya Allah.

Sebagaimana Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah di bawah naunganNya (pada hari Kiamat) yang ketika itu tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu: Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabbnya, SESEORANG YANG HATINYA TERPAUT (TERIKAT) DENGAN MASJID, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah juga karena Allah, seseorang yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang kaya lagi cantik lalu dia berkata: Aku takut kepada Allah, seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis.”
(HR. Imam Bukhari, no.1334)

Karena seseorang ketika hatinya sudah terikat dengan masjid, dia akan selalu rindu dengan masjid, ingin berlama-lama di masjid dan selalu merasa nyaman berada di masjid.

• Pertanyaan untuk diri kita:
Sudahkah hati kita terikat dengan masjid?

Semoga Allah azza wa jalla melembutkan hati-hati kita, agar mudah untuk menerima nasihat dan ilmu, sehingga kita bisa menjadi hamba Allah yang selalu memperbaiki diri.

Semoga melalui tulisan singkat ini, bisa menjadi sebab pengetahuan ilmu yang bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca yang Penulis cintai karena Allah.

Dan semoga tulisan ini menjadi amal jariyah untuk diri Penulis. Aamiin

Segala yang benar datangnya dari Allah dan setiap yang salah datangnya hanya dari diri pribadi dan dari setan, mohon dimaafkan.

Wallahu taala alam.
_____
@ Bojong Cideres, Kota Angin-Majalengka, Jawa Barat.
29 Shafar 1440H/07 November 2018M

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMenyelesaikan Permasalahan Muslimah Di Bulan Ramadhan
Artikel sesudahnyaAdab Berdoa
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here