Beranda Belajar Islam Amalan Menyelesaikan Permasalahan Muslimah Di Bulan Ramadhan

Menyelesaikan Permasalahan Muslimah Di Bulan Ramadhan

780
0
BERBAGI

Menyelesaikan Permasalahan Muslimah Di Bulan Ramadhan

Permasalahan (polemik) yang dialami kaum wanita di bulan Ramadhan sangat banyak. Mulai dari keadaan sedang haidh, nifas, hamil, menyusui, sakit, lanjut usia dan permasalahan semisalnya, yang membuat mereka tidak bisa berpuasa di bulan Ramadhan, sehingga menuntut mereka untuk mengganti puasanya yang ditinggalkan tersebut di luar bulan Ramadhan.

Tidak hanya itu, ternyata masih banyak lagi permasalahan yang muncul setelahnya. Yakni, bagaimana jika mereka belum bisa mengganti puasanya sampai bertemu kembali dengan bulan Ramadhan tahun depan? Harus mengqadha atau membayar fidyah? Dan berbagai permasalahan semisalnya.

Sedikit penjelasan, untuk solusi dari permasalahan-permasalahan di atas tidak akan jauh dari 2 kewajiban, yaitu: Qadha (mengganti puasa di luar Ramadhan) dan fidyah (memberi makan 1 porsi setiap 1 hari yang ditinggalkannya kepada 1 orang miskin).

Mari kita simak berbagai polemik dan solusinya di bawah ini!

A. HAIDH DAN NIFAS

Seorang wanita yang haidh dan nifas dilarang untuk melakukan puasa, sebagaimana hadits dari Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda;

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا
“Bukankah wanita itu jika sedang haidh dia tidak shalat dan tidak berpuasa? Maka itulah kekurangan agamanya.”
(HR. Imam Bukhari, no.1815)

Apa hikmah dilarangnya seorang wanita yang mengalami haidh untuk tidak berpuasa?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Haidh menyebabkan keluarnya darah. Wanita yang sudah mendapatkan haidh dapat berpuasa di selain saat-saat merahnya yaitu dalam kondisi tidak keluar darah (tidak haidh). Karena puasa pada waktu tersebut adalah puasa dalam kondisi fisik yang seimbang dimana darah yang merupakan inti kekuatan tubuh, tidak keluar. Puasanya di saat haidh akan menguras darah sehingga berdampak pada menurun dan melemahnya tubuh, sehingga puasanya tidak pada kondisi fisik yang seimbang. Oleh karena itu, wanita diperintahkan untuk berpuasa di luar waktu-waktu haidhnya.”
(Majmu Fatawa)

Muadzah rahimahullah pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha;

أَتَجْزِي إِحْدَانَا صَلَاتَهَا إِذَا طَهُرَتْ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ كُنَّا نَحِيضُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا يَأْمُرُنَا بِهِ أَوْ قَالَتْ فَلَا نَفْعَلُهُ
“Apakah kami perlu mengqadha shalat kami ketika suci? Aisyah menjawab; apakah kamu seorang Haruri (Khawarij)? Dahulu kami mengalami haidh di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam masih hidup namun, beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqadhanya. Atau Aisyah berkata: Kami pun tidak mengqadhanya.”
(HR. Imam Bukhari, no.310)

Dalam riwayat hadits Muadzah yang lain;

مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
“Kenapa wanita yang haidh mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat? Maka Aisyah menjawab: Apakah kamu dari golongan Haruriyah (Khawarij)? Aku menjawab: Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya ingin bertanya. Aisyah menjawab: Kami dahulu juga mengalami haidh, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”
(HR. Imam Muslim, no.335)

Berdasarkan kesepakatan para ulama;
“Wanita yang dalam keadaan haidh dan nifas tidak wajib puasa dan wajib mengqadha puasanya.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah, 28:20-21)

Lalu Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
“Dahulu aku pernah memiliki utang puasa Ramadhan. Namun, aku tidak mampu melunasinya kecuali di bulan Syaban.”
(HR. Imam Bukhari, no.1950)

Dalam riwayat lain terdapat tambahan;

اَلشُّغْلُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. Imam Muslim, no.1146)

Aisyah, istri tercinta Nabi shallallahu alaihi wa sallam berusaha untuk selalu siap sedia melayani suaminya, kapan pun suaminya datang. Sehingga Aisyah tidak ingin hajat suaminya tertunda gara-gara beliau sedang qadha puasa Ramadhan. Hingga beliau akhirkan qadha puasanya sampai bulan Syaban, dan itu adalah kesempatan terakhir untuk qadha puasa.

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan;
“Disimpulkan dari semangatnya Aisyah untuk mengqadha puasa di bulan Syaban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan, hingga masuk Ramadhan berikutnya.”
(Fathu Al-Baari, 4:191)

Qadha boleh ditunda karena adanya udzur syari (alasan yang dibenarkan oleh Islam). Akan tetapi, hendaknya tidak menunda qadha tanpa udzur hingga masuk bulan Syaban atau justru beberapa hari sebelum Ramadhan tiba, karena hal tersebut justru akan memberatkan fisiknya dalam persiapan bulan Ramadhan. Apalagi lingkungan yang umumnya penuh godaan, seperti banyaknya warung makan yang buka, orang-orang makan di sembarang tempat dan keadaan semisalnya.

Sebagaimana keadaan orang yang junub, seorang wanita yang suci dari haidh sebelum fajar namun, baru mandi setelah terbit fajar maka sah puasanya. Sah juga jika wanita tersebut mendapatkan haidh setelah tenggelamnya matahari meski pun dia belum sempat untuk berbuka puasa.

Jika seorang wanita suci di tengah hari bulan Ramadhan, maka diperbolehkan untuk makan dan minum. Namun, untuk menghormati orang lain yang sedang berpuasa hendaknya dia tidak makan dan minum secara terang-terangan di antara orang yang berpuasa. Meski pun tidak ada dalil yang sharih (jelas) berkenaan pelarangan ini dan setidaknya dalam masalah ini hanya berkenaan etika saja.

Terkadang, seorang wanita dapat mengeluarkan darah namun, bukan darah yang menjadi kebiasaan wanita tersebut. Keadaan tersebut dinamakan dengan darah istihadhah. Pada keadaan seperti ini, wanita tersebut tidak memiliki alasan untuk tidak berpuasa sebagaimana wanita haidh. Artinya, dia tetap harus melaksanakan shalat dan puasa. Hukum istihadhah seperti halnya keadaan wanita dalam keadaan suci kecuali pada beberapa masalah saja. Jadi hukum darah istihadhah secara umum berbeda dengan darah haidh.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya berbagai permasalahan wanita di dalam bulan Ramadhan, di antaranya;

• Sah atau tidak puasa apabila haidh berhenti sebelum fajar.

– Pertanyaan;
Jika haidh berhenti sebelum fajar lalu bersuci, maka bagaimana hukum puasanya?
– Jawaban;
Puasanya tetap sah bila wanita tersebut yakin bahwa haidhnya berhenti sebelum fajar. Berarti yang penting ada keyakinan bahwa dia telah berhenti haidhnya. Memang ada sebagian wanita yang mengira haidhnya telah berhenti padahal tidak. Oleh karena itu, dahulu para wanita dengan membawa kapas (tanda bekas darah haidh) datang kepada Aisyah untuk memperlihatkan tanda haidh berhenti. Aisyah berkata: Kalian jangan tergesa-gesa sebelum kalian melihat cairan putih!

Oleh sebab itu, seorang wanita ketika telah yakin tidak berhaidh, barulah berniat puasa walau mandi haidhnya dilakukan setelah fajar. Tetapi sebaiknya setelah haidh berhenti, hendaklah seorang wanita segera mandi untuk mengerjakan shalat fajar (Shubuh) tepat pada waktunya, sebab wanita haidh wajib segera mandi untuk shalat pada waktunya bahkan dia berhak mempersingkat mandinya. Dan dia boleh untuk menambah kebersihannya (mandi kembali) setelah terbit matahari. Hal seperti ini berlaku juga bagi orang yang junub, baik wanita atau laki-laki. Karena ada riwayat hadits yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mandi junub setelah fajar terbit, padahal beliau berpuasa.

• Qadha bagi yang haidh dan darah haidh tuntas sebelum fajar.

-Pertanyaan;
Jika haidh telah berhenti dan ketika sudah tiba waktu shalat Shubuh, mandi baru dilakukan, lalu shalat serta terus berpuasa, maka haruskah puasa tersebut diqadha?
-Jawaban;
Apabila haidh bersih beberapa menit menjelang terbit fajar dan diyakini bersihnya, maka puasa Ramadhan harus dilakukan dan sah, serta tidak wajib diqadha, karena dia puasa dalam keadaan sudah tidak haidh meski pun belum mandi, kecuali setelah terbit fajar. Hal ini berlaku juga untuk lelaki yang junub habis bersenggama atau keluar mani akibat mimpi, lalu dia sahur dan bersuci setelah terbit fajar. Kaitannya dengan hal ini, aku ingatkan hal penting bagi wanita, karena ada sebagian wanita yang menduga bahwa jika haidh datang setelah mereka berbuka puasa sebelum shalat Isya adalah batal puasanya. Dugaan seperti itu tidak ada dasar hukumnya, sebab yang benar adalah puasanya tetap sah walau pun haidh datang beberapa detik setelah terbenam matahari.

• Haidh setelah hampir terbit matahari.

-Pertanyaan;
Apakah sah puasanya seorang wanita yang datang haidh setelah hampir terbenam matahari?
-Jawaban;
Puasa tetap sah bahkan jika tanda-tanda haidh seperti panas dan sakit sudah terasa sebelum terbenam matahari namun, tidak terlihat keluar darah haidh kecuali setelah terbenam, maka puasanya tetap sah. Sebab yang merusak puasa itu adalah keluarnya darah haidh, bukan karena merasa akan haidh. Kami ketahui kebanyakan wanita yang memakai pil, telah membingungkan kebiasaan waktu haidhnya, sehingga para ulama pun merasa cape dalam menetapkan hukumnya. Maka saya sarankan sebaiknya para wanita jangan memakai pil-pil anti haidh, baik dalam bulan Ramadhan atau bulan selainnya.

• Memakai pil anti haidh pada bulan Ramadhan.

-Pertanyaan;
Bolehkah wanita memakai pil anti haid dalam bulan Ramadhan?
-Jawaban:
Setahu saya, para wanita jangan menggunakan berbagai pil, baik pada bulan Ramadhan atau selainnya! Sebab ternyata menurut penelitian dokter pil-pil tersebut berbahaya bagi wanita, kandungan, urat-urat dan darahnya. Karena segala hal yang membahayakan dilarang oleh Islam.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.”
(HR. An-Nawawi, Al-Adzkar, no.502)

Dari sini dapat kita ketahui bahwa dharar (melakukan sesuatu yang membahayakan) dilarang dalam syariat Islam. Maka, tidak halal bagi seorang muslim mengerjakan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri atau membahayakan orang lain.

• Haidh menghalangi puasa dan shalat.

-Pertanyaan;
Bagaimana wanita yang datang bulan (haidh) sebelum waktunya dan dengan menggunakan pengobatan, lalu darah tersebut terhenti. Namun, setelah 8 hari masa haidh tiba pada waktunya, maka bagaimana hukumnya hari-hari yang kosong dari shalatnya?
-Jawaban;
Wanita tersebut tidak perlu qadha atas shalatnya, sebab haidh adalah darah. Ketika ada darah berarti ada hukum, semisalnya karena dia menelan sesuatu yang menghalangi turunnya darah haidh, maka dia tetap harus shalat dan puasa, sebab dia tidak haidh dan hukum itu berjalan menurut ilatnya.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى
“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah; itu adalah sesuatu yang kotor.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 222)

Ketika ada kotoran maka hukumnya ada dan jika tidak ada maka hukumnya tidak ada.

• Peringatan bagi wanita haidh yang tidak qadha puasa.

-Pertanyaan;
Seorang wanita mengakui bahwa dirinya selalu berpuasa Ramadhan namun, ketika haidh dia tidak pernah mengqadha puasa yang ditinggalkannya selama haidh tersebut, selain itu tidak tahu jumlah hari-hari haidhnya, maka kini dia memintakan petunjuk apa yang wajib dilakukannya?
-Jawaban;
Sungguh merugi, andaikan hal seperti itu menimpa segenap wanita muslimah, dikarenakan meninggalkan qadha puasa seperti itu adalah suatu bencana, baik karena sikap bodoh yang harus diobati dengan ilmu, atau karena menyepelekan kewajiban yang harus diatasi dengan taqwa, mendekatkan diri kepada Allah, takut akan siksaNya serta berharap segera mendapatkan hidayahNya. Karena itu, wanita tersebut hendaklah segera bertaubat kepada Allah atas perbuatannya dengan memohon ampunan dan mengqadha atas hari-hari puasa yang ditinggalkannya secara hati-hati, dan berusaha untuk mencoba mengingat kembali jumlah hari yang di tinggalkannya. Semoga Allah menerima taubatnya.

• Wanita nifas dan puasa.

-Pertanyaan;
Saya seorang yang baru menikah dan dianugerahi Allah 2 anak kembar. Masa nifasku telah sampai 40 hari yang bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan, tetapi darahku terus mengalir dengan perubahan warnanya, maka bagaimana hukum shalat dan puasaku?
-Jawaban;
Jika darah yang mengalir setelah habis masa nifas (40 hari) dianggap bertepatan dengan kebiasaan waktu haidhnya, maka hendaklah darah tersebut ditunggu sampai tuntas (selama masa haidh). Jika tidak bertepatan dengan masanya haidh, maka ulama memperselisihkan hukumnya. Di antaranya ada yang berpendapat bahwa ketika itu wanita tersebut wajib mandi dan bersuci, shalat dan berpuasa walau darahnya terus mengalir, sebab dianggap sebagai darah istihadhah (penyakit). Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu perlu ditunggu sampai 60 hari, sebab ada beberapa wanita yang bernifas selama 60 hari.
(Buku 257 Tanya-Jawab Fatwa-Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm.196-199)

B. HAMIL DAN MENYUSUI

Di antara kemudahan dalam syariat Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih, misalnya takut kurangnya air susu karena sebab keadaan keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa dan hal ini disepakati oleh para ulama (ijma).

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ
“Sesungguhnya Allah azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.”
(HR. An-Nasai, no.2275. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Yang menjadi perselisihan ulama dalam masalah ini adalah berkenaan kewajiban untuk wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa, apakah ada qadha ataukah harus menunaikan fidyah?

Ahmad bin Ali Ar-Razi Al-Jashshash rahimahullah menjelaskan;
“Para ulama salaf telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi 3 pendapat;
– Sahabat Ali berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qadha jika keduanya tidak berpuasa dan tidak ada fidyah.
– Sahabat Ibnu Abbas berpendapat cukup keduanya membayar fidyah saja, tanpa ada qadha.
– Sedangkan, Sahabat Ibnu Umar berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah sekaligus qadha.”
(Ahkamu Al-Quran, 1:224)

Untuk penjelasan detail (lengkap) dalam masalah ini ada 5 pendapat, di antaranya;

– Pendapat pertama: Wajib qadha puasa dan fidyah. Inilah pendapat Imam Syafii, Imam Malik dan Imam Ahmad rahimahumullah. Namun, menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (bukan anaknya), maka wajib baginya mengqadha puasa saja, karena keduanya disamakan seperti orang sakit.
– Pendapat kedua: Cukup qadha saja. Inilah pendapat Al-Auzai, Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid rahimahumullah.
– Pendapat ketiga: Cukup fidyah, tanpa qadha. Inilah pendapat Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, Ishaq dan Al-Albani rahimahumallah.
– Pendapat keempat: Qadha bagi yang hamil, sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan qadha dan fidyah. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafiiyah rahimahumullah.
– Pendapat kelima: Tidak qadha dan tidak juga memberi fidyah. Inilah pendapat Ibnu Hazm rahimahullah.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:125-126)

• Dalil ulama yang mengharuskan qadha

– Pertama: Dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata;

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ
“Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.”
(HR. An-Nasai, no.2274. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Al-Jashshash rahimahullah menjelaskan;
“Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Para ulama tidak berselisih pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqashar shalat. Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqadhanya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri tidak merinci masalah ini.”
(Ahkamu Al-Quran, 1:224)

Perkataan Al-Jashshash ini sebagai sanggahan terhadap pendapat keempat yaitu ulama yang berpendapat wajib mengqadha bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqadha dan fidyah bagi setiap hari yang ditinggalkan.

– Kedua: Selain alasan di atas, ulama yang berpendapat cukup mengqadha saja (tanpa fidyah) menganggap bahwa wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit. Sebagaimana orang sakit boleh tidak puasa, dia pun harus mengqadha di hari lain. Ini pula yang berlaku pada wanita hamil dan menyusui, karena dianggap seperti orang sakit, maka mereka cukup mengqadha sebagaimana disebutkan dalam firman Allah azza wa jalla;

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka barang siapa di antara kalian dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 184)

Pendapat ini didukung juga oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah, beliau berkata;
“Hukum wanita hamil dan menyusui jika keduanya merasa berat untuk berpuasa, maka keduanya boleh berbuka (tidak puasa). Namun, mereka punya kewajiban untuk mengqadha (mengganti puasa) di saat mampu karena mereka dianggap seperti orang yang sakit. Sebagian ulama berpendapat bahwa cukup baginya untuk menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) untuk setiap hari yang dia tidak berpuasa. Namun, pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang benar, mereka berdua punya kewajiban qadha (mengganti puasa) karena keadaan mereka seperti musafir atau orang yang sakit (yaitu diharuskan untuk mengqadha ketika tidak berpuasa). Hal ini berdasarkan firman Allah azza wa jalla (yang artinya): Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Surat Al-Baqarah: ayat 184)”
(Majmu Al-Fatawa Ibnu Baz, 15:225)

• Dalil ulama yang berpendapat mengharuskan fidyah

Sebagaimana firman Allah azza wa jalla;

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa), untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 184)

Menurut ulama yang berpendapat seperti ini, mereka mengatakan bahwa kewajiban fidyah masih berlaku bagi orang yang sudah tua renta (lanjut usia), juga bagi wanita hamil dan menyusui.

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata;
“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta, lalu mereka mampu berpuasa, mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya, pada saat ini tidak ada qadha bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu. Namun, hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”
(Irwau Al-Ghalil, 4:18)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ) قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا، قَالَ أَبُو دَاوُدَ يَعْنِى عَلَى أَوْلاَدِهِمَا، أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا
“Allah berfirman: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, yaitu: Memberi makan seorang miskin (Surat Al-Baqarah: ayat 184). Beliau mengatakan: Ayat ini menunjukkan keringanan bagi laki-laki dan perempuan yang sudah tua renta dan mereka merasa berat berpuasa, mereka dibolehkan untuk tidak berpuasa namun, mereka diharuskan untuk memberi makan kepada satu orang miskin di setiap hari yang dia tidak berpuasa. Hal ini juga berlaku untuk wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir, Abu Daud mengatakan: Khawatir pada keselamatan anaknya, mereka dibolehkan tidak berpuasa namun, keduanya tetap memberi makan (kepada orang miskin).”
(HR. Abu Dawud, no.1974. Ibnul Mulaqqin mengatakan bahwa hadits ini shahih atau hasan, Tuhfatu Al-Muhtaaj, 2:102)

Nafi berkata;
“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy dalam keadaan sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa kehausan. Kemudian Ibnu Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”
(Irwau Al-Ghalil, 4:20. Sanadnya shahih)

Tidak ada Sahabat yang menyelisihi pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu Abbas yang membicarakan surat Al-Baqarah: ayat 185 dihukumi marfu (sebagai sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan Sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al-Baqarah: ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu musthalah (hadits).
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:126-127)

• Sanggahan untuk ulama yang menggabungkan antara fidyah dan qadha.

Syaikh Musthafa Al-Adawi hafizhahullah ketika menjelaskan perselisihan ulama mengenai puasanya wanita hamil dan menyusui, beliau menjaskan;
“Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak puasa namun, dia harus menggantinya dengan menunaikan fidyah dan mengqadha puasanya. Yang berpendapat seperti ini adalah Imam Sufyan, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad. Aku tidak mengetahui adanya dari Al-Kitab (Al-Quran) dan As-Sunnah mengenai pendapat ini.”
(Jami Ahkami An-Nisaa, 5:223-224)

Para ulama yang berpendapat bahwa diharuskannya mengqadha bagi yang hamil, sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqadha dan fidyah bagi setiap hari yang ditinggalkan, maka pendapat tersebut disanggah oleh Ibnu Hazm rahimahullah, beliau menjelaskan;
“Imam Malik berpendapat bahwa ada pun wanita menyusui, maka dia dibolehkan untuk tidak berpuasa dan diharuskan untuk mengganti puasannya dengan menunaikan fidyah, yakni memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan dan dia juga diharuskan untuk mengqadha puasanya. Sedangkan untuk wanita hamil dia cukup mengqadha, tanpa menunaikan fidyah. Mengenai pembagian semacam ini sama sekali tidak diketahui adanya Sahabat dan Tabiin yang berpegang (berdalil) dengannya.”
(Al-Muhalla, 6:264)

Ibnu Rusydi Al-Maliki rahimahullah menjelaskan;
“Barang siapa yang memilih qadha saja atau fidyah saja itu lebih utama dari pada menggabungkan antara keduanya. Ada pun memilih mengqadha saja itu lebih utama dari pada memilih menunaikan fidyah saja, alasannya karena qiraah yang menyebabkan adanya hukum fidyah saja bagi wanita hamil dan menyusui adalah riwayat yang tidak mutawatir. Renungkanlah hal ini karena hal tersebut begitu jelas!”
(Bidayatu Al-Mujtahid Wa Nihayatu Al-Muqtashid, hlm.277)

• Sanggahan untuk ulama yang menyatakan tidak ada qadha dan tidak ada fidyah

Yang berpendapat semacam ini adalah Ibnu Hazm rahimahullah. Pendapat ini beralasan bahwa hukum asalnya adalah seseorang terlepas dari kewajiban.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata;
“Para ahli fiqih juga belum sepakat adanya kewajiban qadha dan fidyah. Sehingga tidak ada sama sekali kewajiban (bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa) karena tidak ada satu pun dalil yang mewajibkannya dan tidak ada juga klaim ijma (kesepakatan ulama) dalam hal ini.”
(Al-Muhalla, 6:264)

Namun, perkataan di atas dapat saja disanggah dengan kita katakan, bahwa sesungguhnya perselisihan itu semata tidak bisa menggugurkan suatu dalil, akan tetapi hendaknya mengambil pendapat dari orang yang memiliki dalil yang lebih kuat. Seandainya setiap perselisihan yang terjadi antara ahli fiqh itu dijadikan sebab untuk menghukumi gugurnya suatu dalil shahih yang menjadi sandaran hukum, pasti tidak akan ada hukum syari yang bertahan kecuali hanya sedikit.

Pendapat Ibnu Hazm juga disanggah oleh Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah dalam penjelasannya;
“Tidak ada satu pun ulama yang berpendapat gugurnya qadha dan fidyah bagi wanita hamil dan menyusui selain Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla. Pendapatnya ini adalah pendapat yang syadz (menyimpang), yaitu menyelisihi dalil-dalil syari yang digunakan oleh mayoritas ulama. Oleh karena itu, pendapat tersebut tidak perlu diperhatikan dan tidak perlu diikuti. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah diwajibkan untuk qadha bagi wanita hamil dan menyusui, tanpa perlu menunaikan fidyah. Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits shahih yang membicarakan wajibnya qadha bagi orang yang sakit dan musafir (ketika dia tidak berpuasa). Wanita hamil dan menyusui adalah sama seperti orang sakit dan musafir. Dasar dari hal ini disebutkan dalam hadits Anas bin Malik Al-Kabi.”

• Menanggapi Pendapat Sahabat Abdullah bin Abbas

Sebagaimana yang telah kami nukilkan di awal tulisan, Ibnu Abbas berpendapat bahwa hukum yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah: ayat 184, belumlah dihapus yaitu masih disyariatkan fidyah pada wanita hamil dan menyusui. Inilah alasan ulama yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa cukup menunaikan fidyah saja, tanpa mengqadha. Ayat yang dimaksud adalah;

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, yaitu; memberi makan kepada orang miskin.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 184)

Namun, pendapat yang benar dalam masalah ini, bahwa ayat di atas telah dinaskh (dihapus) dengan ayat;

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan tersebut, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan tersebut. (Surat Al-Baqarah: ayat 185).”
(Adhwau Al-Bayan, hlm.2054)

Imam Bukhari menjelaskan;
“Surat Al-Baqarah: ayat 184 yang disebutkan di atas menerangkan bahwa orang yang mampu untuk berpuasa, maka dia punya pilihan untuk berpuasa ataukah menunaikan fidyah. Ayat ini telah dihapus dengan ayat setelahnya (ayat 185), yang menerangkan mengenai penegasan wajibnya puasa. Inilah yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Salamah bin Al-Akwa.”
(Shahih Al-Bukhari)

Namun, kenapa Ibnu Abbas berpendapat adanya fidyah bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa?

Sebagaimana Atha mendengar Ibnu Abbas membaca ayat tersebut dengan bacaan;

وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فَلَا يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
“(Dan wajib bagi yuthawwaquunahu untuk membayar fidyah, yaitu: Memberi makan orang miskin). Lalu Ibnu Abbas mengatakan: Ayat ini tidaklah dimansukh (dihapus). Ayat ini masih berlaku pada laki-laki yang sudah tua renta, pada perempuan yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa. Maka mereka punya kewajiban untuk menunaikan fidyah, yaitu memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”
(HR. Imam Bukhari, no.4145)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Maksud yuthawwaquunahu yaitu orang yang dibebani, sedangkan dia tidak mampu. Berarti wanita hamil dan menyusui pun masih dikenakan fidyah berdasarkan qiraah Ibnu Abbas ini.”
(Fathu Al-Baari, 8:180)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Inilah yang menjadi pendapat Ibnu Abbas namun, qiraah ini diselisihi oleh kebanyakan ulama. Hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari setelah ini (yang sudah disebutkan di atas), menunjukkan bahwa ayat tersebut (surat Al-Baqarah: ayat 184) telah dimansukh (di hapus).”
(Fathu Al-Baari, 8:180)

Selain berpendapat dengan alasan di atas, mengenai pendapat yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui cukup menunaikan fidyah saja ketika tidak berpuasa, kita katakan bahwa pendapat tersebut hanyalah pendapat Sahabat Ibnu Abbas dan Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bukanlah riwayat marfu sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

• Kesimpulan

Setelah panjang-lebar membahas dalil-dalil yang digunakan oleh masing-masing pihak dan menyanggah pendapat yang dinilai kurang tepat, maka Penulis menyimpulkan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui (ketika tidak berpuasa) cukup untuk mengqadha tanpa menunaikan fidyah, karena kuatnya dalil yang disampaikan oleh para ulama yang berpegang dengan pendapat ini.

Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qadha. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqadha di luar bulan Ramadhan, ketika dia tidak berpuasa. Namun, apabila mereka tidak mampu untuk qadha puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi untuk berpuasa, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuh. Pada kondisi seperti ini, mereka bisa menunaikan fidyah, dengan cara memberi 1 porsi makan kepada 1 orang miskin di setiap 1 hari yang di tinggalkannya.
(Panduan Ibadah Wanita Hamil, hlm.46)

Al-Jashshash rahimahullah menjelaskan;
“Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa, lalu dapat membahayakan diri, anak atau keduanya, maka pada kondisi seperti ini lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. Akan tetapi, jika tidak membawa dampak bahaya apa pun pada diri dan anaknya, maka lebih baik dia berpuasa dan pada kondisi seperti ini dia tidak boleh tidak berpuasa.”
(Ahkamu Al-Quran, 1:223)

C. KETIKA BELUM MAMPU MEMBAYAR UTANG PUASA SAMPAI BERTEMU KEMBALI DENGAN RAMADHAN MENDATANG

Dalam permasalahan seperti ini, maka ada beberapa rincian penjelasan, di antaranya;

• Orang seperti ini tidak berdosa dan wajib baginya untuk tetap mengqadha sejumlah hari yang dia tinggalkan.

Allah azza wa jalla berfirman;

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertaqwalah kalian kepada Allah menurut kemampuan kalian!”
(Surat At-Taghabun: ayat 16)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang hamba, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 286)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Dan jika Aku perintahkan kalian dengan sebuah perkara, maka kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian!”
(HR. Imam Bukhari, no.7288)

• Pengakhiran qadha puasa Ramadhan karena kelalaian, kemalasan, meremehkan dan tidak mempunyai udzur syari (alasan yang dibolehkan oleh syariat Islam).

Orang seperti ini, menurut kesepakatan para ulama tetap wajib mengqadha, hal ini berdasarkan firman Allah azza wa jalla;

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka barang siapa di antara kalian dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 184)

Namun, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah di samping qadha juga harus membayar fidyah sebagai tebusan atas pengakhirannya tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syariat Islam? Ataukah cukup qadha saja?

Dalam permasalahan ini terdapat 3 pendapat, di antaranya;

– Pertama: Wajib qadha dan fidyah, ini adalah pendapat Sahabat Abdullah bin Abbas, Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhuma, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik bin Anas, Imam Syafii, Imam Ishaq, Imam Ats-Tsaury dan Imam Al-Auzai rahimahumullah.

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma menjelaskan;
“Barang siapa yang meremehkan puasa Ramadhan sampai datang Ramadhan selanjutnya, maka berpuasalah di bulan ini yang dia dapati (dari Ramadhan yang kedua), kemudian berpuasalah dia atas apa yang sudah ditinggalkannya dan memberikan makan setiap harinya kepada 1 orang miskin!”
(HR. Ad-Daruquthni, 2:422)

– Kedua: Wajib qadha saja. Dan ini pendapat Imam Ibrahim dan Imam Hasan Al-Bashri rahimahumallah.

Imam Bukhari rahimahullah berkata;
“Berkata Ibrahim yaitu An-Nakhai: Jika dia meremehkan sampai datang Ramadhan lain, maka dia berpuasa pada keduanya dan dia tidak berpendapat ada kewajiban fidyah atasnya dan diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal dan juga Abdullah bin Abbas, bahwa dia (juga) membayar fidyah, kemudian Imam Bukhari berkata: Allah tidak menyebutkan membayar fidyah, tetapi hanya berfirman: Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari yang lain.”
(Shahih Al-Bukhari)

– Ketiga: Wajib membayar fidyah saja. Dan ini adalah pendapat Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma.

Beliau juga berkata;
“Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan dan belum berpuasa pada Ramadhan yang lalu, maka hendaklah dia memberi makan (fidyah) setiap harinya kepada 1 orang miskin sebanyak satu mud dari gandum.”
(HR. Ad-Daruquthni, 2:196)

Pendapat yang dilihat lebih kuat dan dipilih oleh Penulis adalah pendapat kedua, yaitu hanya dengan qadha tanpa fidyah.

Sebagaimana penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, beliau berkata;
“Dan ada pun perkataan para Sahabat, sesungguhnya di dalam kehujjahannya menjadi perhatian jika menyelisihi zhahir ayat Al-Quran dan di sini kewajiban memberi makan (fidyah) menyelisihi zhahir Al-Quran, karena Allah taala belum mewajibkan kecuali menggantinya di beberapa hari yang lain dan tidak mewajibkan lebih dari pada itu, maka berdasarkan hal ini kita tidak mewajibkan kepada hamba-hamba Allah dengan sesuatu yang tidak diharuskan oleh Allah taala atas mereka kecuali dengan dalil yang melepaskan kita dari tanggungjawab, dan pendapat yang diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas dan Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhum mungkin dibawa dalam jalur anjuran dan bukan dalam jalur kewajiban, maka yang benar dalam permasalahan ini, bahwa tidak wajib baginya lebih dari pada qadha puasa, tetapi dia tetap berdosa atas pengakhirannya.”
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:451)

Penjelasan-penjelasan yang Penulis paparkan di atas adalah sebatas pengetahuan yang dimiliki. Karena ini adalah ranah fiqih, maka kita harus mengambil pendapat yang kita anggap lebih kuat menurut pengetahuan kita terhadap dalil-dalil yang sudah dijelaskan oleh para ulama, yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Jadi ambillah dan ikutilah pendapat yang lebih kuat, bukan yang lebih mudah! Karena pada setiap pensyariatan sebuah ibadah, pasti ada kemudahan di dalamnya untuk kita kerjakan.

Bagi para Pembaca yang baru mengetahui pembahasan masalah semacam ini, maka penjelasan dan ilmu yang dipaparkan oleh Penulis di atas, bisa dijadikan sebagai dalil untuk beramal (ibadah). Namun, jika ada di antara Pembaca yang sudah mengetahuinya atau pernah belajar berkenaan dalil-dalil atas pembahasan ini, maka silakan pertimbangkan menurut ilmu yang dimiliki, agar bisa menentukan dalil yang lebih kuat di antara dalil-dalil yang lain.

Dengan penjelasan ini, Penulis berharap semoga kita tidak menjadi orang yang mengaku beragama Islam, yang beribadah kepada Allah hanya mengandalkan ngikut, taqlid, fanatik kepada seorang guru saja. Melainkan, kita bisa beribadah kepada Allah dengan ilmu yang benar dan shahih yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Maka sebab itu, seorang guru yang baik dan benar, adalah dia yang tidak mengajarkan kepada murid-muridnya untuk taqlid (mengikuti tanpa ilmu) terhadapnya.

Karena Islam adalah agama yang penuh dengan ilmu (dalil). Islam adalah agama yang mudah, tapi bukan untuk dimudah-mudahkan (dianggap remeh).

Para ulama fiqh berkata;
“Manusia yang tidak mengetahui perselisahan di antara para ulama fiqh di dalam masalah-masalah fiqih, mereka adalah orang-orang yang tidak bisa merasakan aroma wangi dari ilmu fiqh (Islam).”

Semoga Allah memberikan pemahaman yang benar kepada kita untuk memahami seluruh ilmu Islam, sehingga kita juga bisa mengamalkannya dengan baik dan benar, yakni sesuai perintah dari Allah azza wa jalla dan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Aamiin
_____
@Kota Angin, Majalengka.
13 Ramadhan 1439H/29 Mei 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaEnsiklopedia Ramadhan
Artikel sesudahnyaSEPERTI HIDUP SELAMANYA
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here