Beranda Belajar Islam Amalan Ensiklopedia Ramadhan

Ensiklopedia Ramadhan

492
0
BERBAGI

ENSIKLOPEDIA RAMADHAN
(Keseharian Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Di Bulan Ramadhan)

Pada tulisan kali ini, kita akan mencoba untuk merasakan nikmatnya ibadah, menjalani kehidupan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selama bulan Ramadhan. Mulai dari menentukan awal bulan Ramadhan sampai dengan tibanya hari raya idul fithri.

A. MENENTUKAN AWAL BULAN RAMADHAN

Menentukan permulaan bulan Ramadhan, kita diperintahkan untuk melihat hilal atau menggenapkan jumlah bulan Syaban menjadi 30 hari, bila hilal terhalang dari penglihatan manusia (tidak terlihat). Itulah satu-satunya cara (solusi) yang disyariatkan dalam agama Islam, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui sabdanya, di antaranya;

Hadits dari Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah! Dan jika kalian melihatnya kembali, maka berbukalah (berhari raya)! Lalu, jika kalian terhalangi (tidak dapat melihatnya), maka ukurlah!”
(HR. Imam Bukhari, no.1906)

Demikian juga dijelaskan dalam hadits Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ
“Berpuasalah kalian karena melihatnya, dan berbukalah kalian (Idul Fithri) karena melihatnya! Jika (hilal) tertutup oleh awan mendung, maka sempurnakanlah Syaban 30 hari!”
(HR. Imam Bukhari, no.1909)

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَقْدُرُوْا لَهُ ثَلاَثِيْنَ
“Jika kalian terhalang melihat hilal, maka ukurlah untuknya 30!”
(HR. Imam Muslim, no.2496)

Dari sekian banyaknya hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut, dijelaskan bahwa cara untuk menentukan awal di setiap bulan yang sesuai sunnah Rasulullah adalah dengan ruyah (melihat hilal), bukan hisab (menggenapkan jumlah bulan menjadi 30 hari). Namun, jika hilal tidak terlihat dengan sebab syari, misal karena awan mendung, maka metode hisab boleh digunakan.

Sebagaimana dalam bulan Ramadhan juga berlaku hal tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَصُوْمُوْا ثَلاَثِيْنَ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا الْهِلاَلَ قَبْلَ ذَلِكَ
“Jika datang Ramadhan maka berpuasalah 30 hari, kecuali kalian telah melihat hilal sebelumnya.”
(HR. Ath-Thabrani, Mujam Al-Kabir, 17:171 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

B. MENYAMBUT DATANGNYA BULAN RAMADHAN DENGAN BAHAGIA

Mualla bin Fadhl rahimahullah menjelaskan;
“Dahulu para Sahabat Rasulullah, selama 6 bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama 6 bulan setelahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal ibadah yang mereka kerjakan ketika di bulan Ramadhan.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.264)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah mengatakan;
“Di antara doa sebagian para sahabat Nabi radhiyallahu anhum ketika datang bulan Ramadhan: Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai pada Ramadhan dan antarkanlah Ramadhan kepadaku dan terimalah amal-amalku di dalamnya!”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.264)

Para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum yang kedudukannya lebih mulia dari kita, mereka sangat antusias dan penuh harapan dalam menghadapi bulan Ramadhan. Dan tentunya mereka pun sangat bersemangat dalam beribadah di dalamnya. Di samping itu yang membuat kita tertinggal jauh dari mereka adalah mereka 6 bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, meminta agar Allah mempertemukan mereka kembali dengan bulan Ramadhan, agar mereka bisa memperbaiki dan memperbanyak amalan ibadah di dalam bulan Ramadhan. Setelah Ramadhan selesai, selama 6 bulan mereka kembali berdoa kepada Allah, agar amalan ibadah yang mereka lakukan diterima oleh Allah azza wa jalla. Dan ini sebagai bukti kesungguhan mereka dalam beribadah dan rasa bahagia terhadap datangnya bulan Ramadhan.

Jadi, dikatakan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan kebahagiaan itu bukan dengan menyalakan petasan atau dengan hal-hal aneh lainnya yang bukan berasal dari agama Islam.

Salah satu hal aneh dan bukan berasal dari Islam yang sering digunakan oleh umat Islam untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah petasan, kembang api dan semisalnya.

Petasan, kembang api dan sejenisnya sangat disukai oleh anak-anak dan remaja, bahkan orang tua. Di malam bulan Ramadhan, permainan ini biasanya laku keras dan bertambah marak. Namun, ada hukum Islam yang harus kita ketahui mengenai mainan tersebut, apakah ia dihukumi seperti permainan lainnya yang hukumnya mubah?

Fadhilatu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Jika ada orang yang hobi memainkan petasan, membeli dan meledakkannya, maka orang seperti ini tergolong ‘safih’ (bodoh, tidak bisa mengelola hartanya dengan baik) dan harus dihajr (dilarang bertransaksi).”
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 9:304)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhahullah menjelaskan;
“Tentang petasan yang menyebabkan gangguan kesehatan atau masalah ekonomi untuk pembelinya, maka hukumnya tidak boleh.”
(Arsip Multaqa Ahli Al-Hadits, 61:297)

Beliau melanjutkan;
“Permainan ini memilik banyak unsur negatif seperti membahayakan tubuh dan kesehatannya, merusak lingkungan, mengganggu ketenangan masyarakat dan membuang-buang harta secara sia-sia. Sudah banyak orang yang menjadi korban dari permainan ini. Tangan anak-anak yang hancur karena ledakannya, rumah dan bangunan yang terbakar, mobil yang meledak saat mengangkutnya dan sebagainya. Oleh karena itu, bukan hanya para ulama yang melarang permainan seperti ini, pada umumnya orang-orang yang berakal sepakat akan bahayanya, sehingga bisnis ini dilarang secara resmi di banyak negara. Bahkan para pedagang petasan yang meraup keuntungan besar dari bisnis ini pun tidak memungkiri bahayanya (mengakui akan bahayanya).”
(Arsip Multaqa Ahli Al-Hadits, 61:299)

Perlu diketahui juga, bahwa para ulama tidak membedakan antara petasan dan kembang api dalam masalah hukum, keduanya sama. Jadi, hindarilah barang-barang semacam itu, jika ingin selamat!

Di samping itu, petasan dan sejenisnya mengandung unsur kezhaliman. Karena ketika dinyalakan, bunyi yang keluar pasti akan mengganggu ketenangan orang di sekitarnya, terlebih jika di sekitarnya ada orang yang sedang sakit jantung dan penyakit lainnya. Sungguh ini kezhaliman yang sangat besar!

Ingat, kezhaliman sekecil apa pun, itu adalah kegelapan di hari Kiamat! Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِتَّقُوا الظُّلْمَ! فَإِنَّ الظُّلمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jauhilah oleh kalian kezhaliman! Karena sesungguhnya kezhaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat.”
(HR. Imam Muslim, no.2578)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga telah mengingatkan tentang keadaan orang yang bangkrut.

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Sahabat menjawab: Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan harta. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, zakat namun, dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan dan memukul fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zhalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terbalas semua kezhalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zhalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke dalam api Neraka.”
(HR. Imam Muslim, no.2581)

Maukah kita menjadi orang yang bangkrut seperti itu? Wal iyyaadzubillah!

• Terdapat beberapa kesalahan di dalam kebiasaan menyambut bulan Ramadhan, di antaranya;

1. Padusan.
Yaitu mandi besar pada satu hari menjelang 1 Ramadhan dimulai. Perbuatan ini tidak disyariatkan dalam agama Islam, yang menjadi syarat untuk melakukan puasa Ramadhan adalah niat untuk berpuasa besok hari pada malam sebelum puasa, ada pun mandi junub untuk puasa Ramadhan sama sekali tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

2. Mendahului puasa satu hari atau dua hari sebelumnya.
Rasulullah telah melarang umatnya mendahului puasa Ramadhan dengan melakukan puasa pada 2 hari terakhir di bulan Syaban, kecuali bagi yang memang sudah terbiasa puasa pada jadwal tersebut, misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Dawud. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ
“Janganlah mendahulukan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari.”
(HR. Imam Muslim, no.1082)

3. Berziarah kubur.
Tradisi ziarah kubur menjelang atau sesudah Ramadhan banyak dilakukan oleh kaum muslimin yang awam terhadap Islam, bahkan di antara mereka ada yang sampai berlebihan dalam berziarah kubur, yakni dengan melakukan perbuatan-perbuatan syirik di sana dan perbuatan ini tidak disyariatkan. Ziarah kubur dianjurkan agar kita teringat dengan kematian dan akhirat, akan tetapi mengkhususkannya karena moment tertentu, itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah mau pun para sahabatnya radhiyallahu anhum.

4. Munggahan.
Istilah ini adalah berasal dari sunda, yang maksudnya untuk merayakan datangnya bulan Ramadhan dengan memasak makanan, misal dengan memotong 1 atau 2 ekor ayam, bebek. Semua kegiatan tersebut sebetulnya sama tujuannya, yakni untuk memuliakan bulan Ramadhan. Namun, yang namanya syariat Islam itu ditentukan benar atau salahnya bukan dengan perasaan, pemikiran atau dugaan semata. Melainkan dengan dalil (ilmu), yang berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jika Allah dan RasulNya mengatakan kerjakan, maka kerjakanlah! Namun, jika tidak ada perintah untuk mengerjakannya, maka tidak boleh seorang pun untuk melakukannya!

5. Perayaan nuzulul quran.
Yaitu melaksanakan perayaan pada tanggal 17 Ramadhan, untuk mengenang saat-saat diturunkannya Al-Quran. Perbuatan ini tidak ada perintah dan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, begitu pula para sahabatnya sepeninggal beliau tidak pernah melakukannya. Jika memang ingin memuliakan Al-Quran, bukan dengan merayakannya namun, membacanya dengan rutin, menghafalkannya, memahami maknanya dan mengamalkan isinya.

Semua hal ini dilarang dan tidak boleh dilakukan, karena Allah tidak pernah memerintahkan kepada para hambaNya untuk melakukan hal-hal tersebut dan Rasulullah tidak pernah memberikan contoh kepada umatnya mengenai hal-hal tersebut. Jadi, bagi yang ingin melakukan hal-hal tersebut, sadarlah kalian telah membuat syariat baru dalam agama ini!

Apalagi, biasanya kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan disertai adanya keyakinan. Dan diketahui keyakinan tersebut pasti akan mengarah pada syirik (menyekutukan Allah). Hal inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim dan muslimah!

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah bersabda;
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad (As-Sunnah). Seburuk-buruk ibadah adalah ibadah yang di ada-adakan (yang saat ini dilakukan, sedangkan tidak pernah dilakukan dizaman Nabi) dan setiap perkara yang tidak sesuai sunnah Rasulullah (bidah) adalah sesat.”
(HR. Imam Muslim, no.867)

C. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Allah azza wa jalla telah mewajibkan bagi umat islam untuk mengerjakan puasa sepanjang bulan Ramadhan. Bulan tersebut merupakan Sayyid Asy-Syuhuur (penghulu dari bulan-bulan lainnya), padanya dimulai penurunan Al-Quran.

Di antara dalil yang menjelaskan akan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan adalah;

Allah azza wa jalla berfirman;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىٓ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang salah). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian berada di negeri tempat tinggalnya pada bulan tersebut, maka berpuasalah! Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain (diluar bulan Ramadhan). Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 185)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas 5 perkara; bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusanNya, melaksanakan shalat, membayar zakat; menunaikan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan.”
(HR. Imam Bukhari, no.8)

Sehingga bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam, bersiaplah untuk melakukan seluruh perintah Allah dan sunnah RasulNya, serta menjauhi setiap yang dilarang oleh keduanya. Termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim adalah berpuasa di bulan Ramadhan. Karena realita saat ini, banyak yang berani meninggalkan puasa Ramadhan tanpa adanya alasan (udzur) yang dibenarkan oleh syariat Islam, padahal mereka adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam. Semoga Allah segera memberikan hidayahNya kepada mereka.

1. Hukuman meninggalkan puasa.
Sebagai peringatan bagi saudara-saudariku yang masih saja enggan untuk berpuasa pada bulan yang diwajibkan puasa bagi mereka, ada sebuah kisah yang dialami oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam berkenaan hukuman dunia dan akhirat yang akan didapatkan oleh para pelaku yang enggan berpuasa di bulan Ramadhan.

• Hukuman di akhirat.
Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;
“Ketika aku tidur, aku didatangi oleh 2 orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke sebuah gunung yang terjal. Keduanya berkata: Naiklah! Lalu aku katakan: Sesungguhnya aku tidak mampu. Kemudian keduanya berkata: Kami akan memudahkanmu. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya: Suara apa itu? Mereka menjawab: Itu adalah suara jeritan para penghuni Neraka. Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka (kaki di atas dan kepala di bawah), mulut mereka robek dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya: Siapakah mereka itu? Rasulullah menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya berbuka.”
(HR. Ibnu Khuzaimah, 7:263)

Itu adalah hukuman di akhirat bagi yang enggan berpuasa di waktu manusia berpuasa dan ternyata tidak hanya itu, ada juga hukuman di dunia untuk para pelakunya.

• Hukuman di dunia.
Jika dia tidak puasa karena menyakini bahwa puasa dibulan Ramadhan itu tidak wajib, maka hukumannya dia bisa terancam dengan kekafiran karena puasa merupakan rukun Islam. Kemudian dia wajib melanjutkan puasa atau tidak makan-minum sampai Maghrib, meski pun sudah makan sebelumnya dan wajib bertaubat.

2. Konsekuensi meninggalkan puasa.
Mengenai apakah dia wajib mengqadha puasa ataukah tidak, maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama.

– Wajib mengqadha.
Imam Al-Quffal rahimahullah berkata;
“Dan barang siapa yang berbuka di bulan Ramadhan selain karena jima tanpa udzur, maka wajib baginya mengqadha dan menahan diri dari sisa harinya. Dalam hal ini, dia tidak membayar kaffarat (tebusan) namun, dia ditakzir oleh penguasa (diberi sanksi yang tepat menurut mashlahat yang dipandangnya). Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Daud Azh-Zhahiriy.”
(Hilyatu Al-Auliya, 3:198)

– Tidak mengqadha.
Diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, dia berkata; “Barang siapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadhan tanpa adanya alasan (udzur syari), kemudian mengqadha sepanjang zaman, maka itu tidak diterima.”
(Fathu Al-Baari, 4:161)

Di antara dua pendapat di atas, pendapat yang dilihat lebih kuat adalah pendapat kedua: Tidak mengqadha. Karena jika untuk mengqadha perlu adanya dalil yang menunjukkan bahwa itu perlu diqadha. Karena terdapat sebuah kaidah;

اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ الْحَظْرُ، فَلَا يَشْرَعُ مِنْهَا إِلَّا مَا شَرَعَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ
“Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang, maka suatu ibadah tidak disyariatkan, kecuali ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan RasulNya.”
(Al-Qawaid Wa Al-Ushul Al-Jamiah, hlm.72)

Qadha termasuk ibadah dan hukum asalnya terlarang sampai ada dalil yang membolehkannya. Wallahu alam.

Dengan demikian, lalu bagaimana cara untuk bertaubat? Caranya, dengan sungguh-sungguh bertaubat (taubat nasuha), merasa menyesal dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut kembali, disertai dengan menambah dan memperbanyak amalan-amalan shalih, sehingga dengannya semoga hal tersebut bisa menutupi kesalahannya.

Lihatlah dan renungkanlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja (tanpa udzur)! Maka apalagi dengan orang yang enggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali? Tentu ini suatu adzab yang sangat dahsyat, yang kita berdoa kepada Allah, semoga Allah melindungi kita dari adzab yang demikian.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan;
“Siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadhan, bukan karena sakit (atau udzur syari lainnya), maka dosa yang dilakukan itu lebih jelek dari dosa berzina, lebih jelek dari dosa menenggak minuman keras, bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka termasuk orang-orang munafik dan sempalan.”
(Fiqih Sunnah, 1:434)

Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan, pendekatan diri dan kebaikan, sekaligus sebagai bulan pengampunan, penuh akan rahmat dan keridhaan Allah azza wa jalla. Di dalamnya juga tedapat “Lailatul Qadar” yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun). Mengenai keutamaan bulan ini telah disebutkan dalam banyak hadits, di antaranya;

• Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira kepada para Sahabatnya;

جَاءَكُمْ رَمَضَانُ جَاءَكُمْ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجِنَانِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu Surga dibuka pada bulan itu, dan pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu. Pada bulan tersebut terdapat malam (lailatul qadr) yang lebih baik dari 1000 bulan, barang siapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu, maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung).”
(HR. Ahmad, 2:385, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani, Tamamu Al-Minnah, hlm.395)

Dengarkan dan perhatikanlah seruan Malaikat yang terus mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan berhenti dari keburukan!

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu yang terbuka dan pintu-pintu Surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburuka atau maksiat berhentilah! Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api Neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.”
(HR. At-Tirmidzi, no.618)

• Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Puasa adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan: Sesungguhnya aku sedang berpuasa (sebanyak 2 kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah taala daripada aroma minyak wangi (kasturi), dimana dia berusaha meninggalkan makanan, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untukKu dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan 10 kali lipatnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.1894)

• Sahabat Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ
“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan sedekah.”
(HR. Imam Bukhari, no.1895)

• Sahabat Sahl radhiyallahu anhu berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyan. Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang dapat masuk melalui pintu tersebut, selain mereka. Ditanyakan: Mana orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka pun berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut selain mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang dapat masuk melalui pintu tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.1896)

• Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ
“Jika bulan Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu Jahannam akan ditutup dan setan-setan pun dibelenggu.”
(HR. Imam Bukhari, no.3277)

• Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa bangun pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosanya yang telah lalu.”
(HR. Imam Bukhari, no.1901)

D. SIFAT PUASA RASULULLAH

1. Makan sahur.
Sahur merupakan sunnah yang muakkad (ditekankan), karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk makan sahur, beliau bersabda;

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ
“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada makan sahur itu terdapat keberkahan!”
(HR. Imam Bukhari, no.1923)

Hendaklah seseorang yang akan berpuasa berniat mengikuti perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan makan sahur, sekaligus untuk memperkuat puasanya di siang hari. Dan praktik makan sahur yang sesuai dengan sunnah Rasulullah adalah dengan mengakhirkan waktu makan sahurnya.

Sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu berkata;

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
“Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau berangkat menunaikan shalat, maka aku bertanya: Berapa lama jarak antara adzan dan makan sahur? beliau menjawab: Sekitar waktu yang cukup untuk membaca 50 ayat.”
(HR. Imam Bukhari, no.1921)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hadits tersebut;
“Ketika memperkuat badan untuk berpuasa dan menjaga semangat beraktivitas di dalamnya termasuk tujuan makan sahur, maka termasuk hikmah adalah mengakhirkannya. Dalam hadits yang mulia di atas dijelaskan jarak waktu mulai makan sahur dengan adzan shalat Shubuh adalah seukuran orang membaca 50 ayat secara sedang, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
(Tanbihu Al-Afham, 3:39)

Dengan demikian ketentuan imsak yakni menahan diri dari makan dan minum beberapa saat sebelum terbitnya fajar (Shubuh) yang saat ini dikumandangkan adalah perkara yang diada-adakan (bidah) oleh sebagian umat Islam dan jelas menyelisihi firman Allah azza wa jalla.

Sebagaimana Allah berfirman;

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Dan makan-minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

Ternyata istilah imsak tersebut menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan kebiasaan para Sahabatnya radhiyallahu anhum. Para Ulama telah menegaskan bahwa hal tersebut termasuk sikap berlebih-lebihan dalam beragama, walau pun dilakukan dengan alasan kehati-hatian dan menjaga diri dari perkara yang haram.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Termasuk kebidahan yang munkar adalah yang terjadi di zaman ini berupa dikumandangkannya adzan kedua (yaitu) 20 menit sebelum fajar di bulan Ramadhan dan memadamkan pelita-pelita yang dijadikan sebagai tanda tidak boleh makan dan minum bagi orang yang ingin berpuasa. Ini dengan anggapan dari orang yang membuat-buatnya untuk kehati-hatian dalam ibadah dan hal ini tidak diketahui adanya kecuali oleh beberapa orang saja. Hal ini menyeret mereka untuk tidak mengumandangkan adzan hingga setelah matahari terbenam beberapa waktu untuk memastikan waktunya dalam anggapan mereka. Lalu mereka mengakhirkan buka puasa dan mempercepat sahur, serta menyelisihi sunnah. Oleh karena itu, sedikit sekali kebaikan dari mereka dan terdapat banyak keburukan pada mereka.”
(Khulashatu Al-Kalam, hlm.118)

Allah azza wa jalla mensyariatkan sahur atas kaum muslimin dalam rangka untuk membedakan puasa mereka dengan puasa orang-orang sebelum mereka (Ahlul Kitab), sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Amru bin Al-Ash radhiyallahu anhu;

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”
(HR. Imam Muslim, no.1096)

Di antara keberkahan sahur lainnya adalah mendapatkan shalawat dari Allah dan para Malaikat, sebagaimana dalam hadits Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Sahur adalah makanan yang berkah, maka jangan kalian tinggalkan walau pun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air! Karena Allah dan para Malaikat bershalawat untuk orang-orang yang bersahur.”
(HR. Imam Ahmad, no.11101)

Jadi, meski pun kita bangun kesiangan dan mepet dengan adzan waktu shubuh, maka sahurlah meski pun dengan minum seteguk air atau segigit makanan! Sehingga pengertian sahur itu bukan hanya makan nasi atau semisalnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Keberkahan dalam sahur muncul dari banyak sisi, yaitu karena mengikuti sunnah, menyelisihi Ahli Kitab, memperkuat diri dalam ibadah, menambah semangat dalam beraktivitas, mencegah akhlaq buruk yang diakibatkan rasa lapar, menjadi pendorong agar bersedekah kepada orang yang meminta ketika itu atau berkumpul bersama mereka dalam makan dan menjadi sebab dzikir dan doa di waktu mustajab.”
(Khulashatu Al-Kalam, hlm.111)

Sebagian kita mengira bahwa waktu sahur hanyalah waktu untuk menyantap makanan-minuman. Padahal waktu tersebut bisa juga kita gunakan untuk memanjatkan doa kepada Allah azza wa jalla, untuk memohon setiap kebutuhan kita.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Bahwa bentuk keberkahan makan sahur di antaranya adalah karena waktu tersebut orang bangun, ada dzikir dan doa pada waktu mulia tersebut. Saat itu adalah waktu diturunkannya rahmat serta diterimanya doa dan istighfar.”
(Syarh Shahih Muslim, 9:182)

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita tabaaraka wa taala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman: Siapa saja yang berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepadaKu, maka akan Aku ampuni.”
(HR. Imam Bukhari, no.1145)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa akhir malam sangat utama untuk berdoa dan beristighfar. Dalilnya firman Allah (yang artinya): Yaitu orang-orang yang rajin beristighfar di waktu sahur dan bahwa doa di waktu sahur itu mustajab.”
(Fathu Al-Baari, 3:31)

Imam An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan;
“Dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa waktu akhir malam lebih utama digunakan untuk shalat, berdoa, beristighfar dan melakukan ketaatan lainnya, dari pada waktu awal malam.”
(Syarh Shahih Muslim, 6:38)

Oleh karena itu, kebiasaan orang shalih di masa silam, mereka banyak memanfaatkan waktu sahur untuk semakin mendekat kepada Allah, bersimpuh di hadapanNya, berdoa dan memohon ampunan kepadaNya.

Allah menceritakan tentang sifat ahli Surga;

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
“Merekalah orang-orang yang penyabar, jujur, tunduk, rajin berinfaq dan rajin beristighfar di waktu sahur.”
(Surat Ali Imran: ayat 17)

2. Mengisi siang hari di bulan Ramadhan dengan aktivitas yang berbuah pahala.
Di antara aktivitas yang berbuah pahala adalah;

a. Memperbanyak amalan ibadah.
Kesungguhan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk melakukan ibadah pada bulan Ramadhan, tidak seperti kesungguhannya pada bulan-bulan yang lain. Jika waktu dan tempat itu mulia maka akan mulia juga amal shalih yang dilakukan pada keduanya. Semisal ketaatan di Makkah, lebih utama dari pada di tempat lainnya. Amal kebaikan pada hari Jumat lebih baik dari pada hari lainnya. Seperti bulan Ramadhan, karena keutamaannya maka semua perbuatan baik yang dilakukan di dalamnya menjadi utama pula, misalnya sedekah, qiyamullail, membaca Al-Quran, itikaf, umrah dan ibadah lainnya. Semua amal perbuatan di bulan Ramadhan tersebut lebih baik dari pada dikerjakan pada bulan-bulan lainnya.

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan Al-Qurannya. Sungguh, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih dermawan dari pada angin yang berhembus.”
(HR. Imam Bukhari, no.3554)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Diserupakannya kedermawanan Nabi dengan angin yang berhembus adalah karena kedermawanan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan manfaat yang menyeluruh seperti angin yang berhembus, yang memberikan manfaat pada setiap yang dilewatinya.”
(Fathu Al-Baari,1:68-69)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata;
Kedermawanan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang berlipat ganda di bulan Ramadhan secara khusus mengandung faidah yang sangat banyak.
(Lathaif Al-Maarif, hlm.310-315)

Di antara faidahnya adalah;
• Kemuliaan waktu tersebut dan dilipat gandakan balasan pahala di dalamnya.
• Membantu orang-orang yang berpuasa, shalat dan orang-orang yang berdzikir dalam melaksanakan ketaatan mereka kepada Allah. Sehingga dengan demikian, beliau akan mendapatkan balasan kebaikan seperti balasan pahala yang diterima pelakunya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa yang memberi makan untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat ganjaran yang serupa dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun ganjaran orang yang berpuasa tersebut.”
(HR. At-Tirmidzi, no.807, hadits ini hasan shahih)
• Menggabungkan antara puasa dan sedekah merupakan amalan yang dapat memasukkan seseorang ke Surga, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ فِيْ الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا الله لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ، وَتَابَعَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sesungguhnya di Surga ada kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam, dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya. Allah siapkan kamar-kamar tersebut bagi orang-orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, selalu berpuasa, dan shalat di tengah malam saat manusia tidur.”
(HR. Al-Haitsami, 3:195. Para perawinya tsiqah)
• Menggabungkan antara puasa dan sedekah lebih tepat untuk menjadi sebab terhapusnya dosa, melindungi serta menjauhkan diri dari Neraka Jahannam, terlebih lagi jika kedua perkara tersebut digabungkan dengan shalat malam. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Muadz radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ
“Sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api dan seperti shalatnya seseorang di tengah malam.”
(HR. Ibnu Majah, no.3224. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)
Maksudnya: Bahwa shalatnya seseorang di tengah malam juga dapat menghapus kesalahan (dosa).
• Dalam puasa seseorang pasti ada kekurangannya dan penambal kekurangan puasa tersebut adalah dengan sedekah (zakat fithri) dan sedekah lainnya.
• Menghibur orang-orang miskin merupakan salah satu wujud seseorang mensyukuri nikmat Allah. Seorang yang berpuasa, apabila dia merasakan kelaparan, maka dia akan teringat dan tidak akan melupakan saudaranya yang faqir dan miskin.
• Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata: Aku menyukai apabila seseorang menambah kedermawanannya di bulan Ramadhan, sebagai bentuk peneladanan dia terhadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan juga karena kebutuhan manusia, serta kesibukan sebagian mereka dengan puasa dan shalat, sehingga mata pencaharian mereka terabaikan.

Sifat dermawan dan pemurah itu tidak terbatas pada pemberian harta, akan tetapi bisa juga dengan hal-hal lainnya, di antaranya: Memberikan harta, memberikan ilmu, memanfaatkan kedudukannya untuk membantu orang lain dan memenuhi kebutuhan mereka dan lain sebagainya.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam berderma dengan berbagai macam bentuk kedermawanan, seperti: Memberikan ilmu, harta, mengorbankan jiwanya untuk Allah azza wa jalla dalam mendakwahkan agama Islam dan membimbing hamba-hambaNya, serta memberikan manfaat kepada manusia dengan berbagai cara, seperti: Memberikan makan orang yang kelaparan, menasihati orang yang bodoh, menunaikan kebutuhan manusia dan menanggung beban mereka.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm. 306)

Sifat dermawan dan pemurah termasuk di antara kemuliaan akhlaq yang dimiliki oleh orang-orang arab. Ketika Islam datang, maka kedua sifat tersebut lebih ditekankan lagi. Sahabat Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu anhu berkata;
“Ketika Islam datang, masyarakat Arab memiliki 60 lebih akhlaq yang mulia. Dan semuanya sangat ditekankan di dalam Islam. Di antaranya: Menjamu tamu, menepati janji dan bertetangga yang baik”.
(Al-Jud Wa As-Sakha, hlm.280)

Jadi, ingatlah nasihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut untuk tidak meremehkan kebaikan sedikit pun, baik di bulan Ramadhan atau pun di bulan lainnya!

Dari Sahabat Abu Dzarr radiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Sungguh janganlah kamu memandang rendah sedikit pun suatu kebaikan, meski pun sekedar kamu bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.”
(HR. Imam Muslim, no.2626)

Karena Rasulullah mengatakan bahwa setiap kebaikan itu bernilai sedekah. Beliau bersabda;

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap kebaikan adalah sedekah.”
(HR. Imam Bukhari, no.6021)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يَقُولُ اللَّهُ إِذَا أَرَادَ عَبْدِى أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلاَ تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِى فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةٍ
“Allah taala berfirman: Jika hambaKu bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga dia melakukannya! Jika dia melakukan kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang semisal! Jika dia meninggalkan kejelekan tersebut karenaKu, maka catatlah satu kebaikan untuknya! Jika dia bertekad melakukan satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu kebaikan! Jika dia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya 10 kebaikan yang semisal, hingga 700 kali lipat!”
(HR. Imam Bukhari, no.7062)

Jadi, isilah setiap waktu di bulan Ramadhan dengan kebaikan! Kebaikan apa pun yang kita mampu lakukan, maka segeralah lakukan! Jangan biarkan waktu kita terbuang percuma hanya untuk hal yang tidak bermanfaat!

b. Banyak membaca Al-Quran.
Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan, dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walau pun hal ini tidaklah wajib, artinya jika tidak mengkhatamkan Al-Quran, maka tidak berdosa namun, dia merugi. Karena saat itu dia akan luput dari pahala yang sangat besar.

Pertanyaan: Adakah dalil yang menjelaskan bahwa di bulan Ramadhan kita harus sangat perhatian terhadap Al-Quran?

Jawaban: Lihatlah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Quran di hadapan Jibril alaihissalam sebanyak sekali setiap tahunnya.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ
“Jibril (saling) belajar Al-Quran dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia, beliau dua kali khatam. Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa pula beritikaf setiap tahunnya selama 10 hari. Namun, di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beritikaf selama 20 hari.”
(HR. Imam Bukhari, no.4998)

Ibnul Atsir rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa Jibril alaihissalam saling mengajarkan kepada Nabi seluruh Al-Quran yang telah diturunkan.”
(Al-Jami Fii Gharibi Al-Hadits, 4:64)

Sebab itu, para ulama begitu semangat mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu alaihi wa salam.

Sebagai bukti dari penjelasan di atas, terdapat beberapa contoh dari orang-orang shalih lagi berilmu yang bisa menguatkan keyakinan kita terhadap penjelasan tersebut, di antaranya;

• Al-Aswad bin Yazid, seorang ulama besar Tabiin yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kuffah. Beliau bisa mengkhatamkan Al-Quran dibulan Ramadhan setiap 2 malam.

Ibrahim An-Nakhai berkata;
“Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan setiap 2 malam.”
(Siyar Alam An-Nubala, 4:51)

Selanjutnya dikatakan;
“Di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Quran dalam 6 malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya.”
(Siyar Alam An-Nubala, 4:51)

• Ada seorang ulama dari kalangan Tabiin yang bernama Qatadah bin Da’amah, salah seorang murid dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan: Bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah.

Salam bin Abu Muthi pernah menceritakan tentang semangatnya Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Quran;
“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam 7 hari. Namun, jika datang bulan Ramadhan, dia mengkhatamkannya setiap 3 hari. Ketika datang 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, dia mengkhatamkan setiap malamnya.”
(Siyar Alam An-Nubala, 5:276)

• Muhammad bin Idris Asy-Syafii yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Syafii. Sosok yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab, sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi bin Sulaiman;
“Adalah Imam Syafii biasa mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.”
(Siyar Alam An-Nubala, 10:36)

Ibnu Abi Hatim mengatakan: Bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalatnya.

• Ibnu Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abu Al-Qasim, beliau adalah penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyqi. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya;
“Ibnu Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jamaah dan tilawah Al-Quran. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Quran di setiap pekannya, lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan Al-Quran setiap hari dan beliau biasa beritikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.”
(Siyar Alam An-Nubala, 20:562)

Pertanyaan: Apakah Mengkhatamkan Al-Quran itu hukumnya wajib?

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa keadaan seperti itu berbeda-beda, tergantung pada masing-masingnya. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah juga untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai!”
(At-Tibyan, hlm.72)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan? Beliau menjawab;
“Bahwa mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah seharusnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Quran. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Quran bersama Malaikat Jibril.”
(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 20:516)

Di sisi lain, ada hadits yang melarang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari.

Sebagaimana Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallaahu anhu berkata;

يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ فِى شَهْرٍ. قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ. قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ
“Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Quran? Beliau menjawab: Dalam satu bulan. Abdullah menjawab: Aku masih lebih kuat dari itu. Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan: Khatamkanlah dalam waktu sepekan (7 hari)! Abdullah masih menjawab: Aku masih lebih kuat dari itu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas bersabda: Tidaklah bisa memahaminya, jika ada yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari.”
(HR. Abu Dawud no.1390)

Imam Al-Azhim Abadi rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa hadits tersebut adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari.”
(Aun Al-Mabud, 4:212)

Para ulama menjelaskan bahwa yang tertolak dalam hadits di atas adalah ketidakpahaman terhadap isinya, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari. Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah jika mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari dan sulit untuk memahami maknanya. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang sudah memahami Al-Quran, seperti contoh para ulama yang sudah disebutkan di atas, maka tidaklah masalah (boleh).

Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan;
“Larangan mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari itu ada jika dilakukan terus-menerus. Sedangkan, jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan terlebih lagi pada malam yang ditunggu, yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan dia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan tempat tersebut. Inilah pendapat dari Imam Ahmad Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.306)

Jadi, bagi yang belum pernah mengkhatamkan Al-Quran, tunggu apalagi? Segera tirulah contoh-contoh teladan dari Rasulullah, para Sahabatnya dan para Ulama lainnya! Buktikan cinta kita terhadap mereka, dengan mengikutinya, bukan malah menyelisihinya!

3. Menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat.
Nabi kita yang mulia, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Sesungguhnya termasuk tanda baiknya Islam seseorang, adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.229)

Jadi, jika kita ingin baik Islamnya, hindari melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya! Karena terkadang manusia merasa memiliki banyak waktu luang dan dalam keadaan sehat, membuat mereka bersantai-santai dengan hal yang sebetulnya tidak bermanfaat bagi diri mereka. Karena banyak di antara manusia yang menganggap bahwa yang namanya kesibukan dan kegiatan adalah yang berkenaan hal-hal duniawi. Sedangkan mereka lupa, bahwa ada kesibukan dan kegiatan lain yang lebih penting dan bermanfaat bagi dirinya, yaitu berkenaan hal-hal ukhrawi (akhirat).

Sebetulnya, waktu bagi manusia adalah umur mereka. Waktu merupakan modal bagi manusia untuk kehidupannya yang abadi nanti di akhirat, apakah dia akan berada di dalam Surga yang penuh kenikmatan ataukah di dalam Neraka yang penuh siksa yang sangat pedih?

Waktu terus berjalan tak pernah berhenti, siang dan malam datang silih berganti, berlalu dengan cepat mengurangi jatah usia dan semakin mendekatkan pada waktu kematian.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
“Dan Dia (Allah) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”
(Surat Al-Furqan: ayat 62)

Maka selayaknya seorang Mukmin mengambil dan memetik ibrah (pelajaran) dari perjalanan siang dan malam terutama pada bulan Ramadhan, bulan yang sangat berharga dan moment yang teramat agung. Berapa banyak Ramadhan yang telah kita lalui, datang lalu pergi begitu cepat? Siang dan malam terus berlalu membuat segala hal yang baru menjadi usang, yang tadinya jauh menjadi semakin dekat, jatah usia menjadi semakin berkurang. Perjalanan siang dan malam telah membuat anak kecil berubah menjadi orang dewasa yang beruban dan memusnahkan yang tua. Semua peristiwa ini mengingatkan kita akan perjalanan dunia yang semakin jauh sementara hari Kiamat semakin mendekat.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah mengatakan;

اِرْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
“Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menghadap. Keduanya memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia! Karena sesungguhnya hari ini (maksudnya dunia) tempat beramal tanpa ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) tempat hisab (perhitungan) tanpa ada kesempatan untuk beramal.”
(Takhriju Misykati Al-Mashabih Al-Asqalani, 5:23)

Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu mengatakan;
“Aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari yang telah berlalu, sedangkan pada hari itu umurku berkurang, sementara amalanku tidak bertambah.”

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan;
“Aku pernah bertemu beberapa kaum, perhatian mereka terhadap waktu-waktu mereka melebihi perhatian kalian terhadap dirham dan dinar-dinar kalian.”

Oleh karena itu, barang siapa melewati hari-harinya bukan untuk menunaikan sesuatu yang menjadi kewajibannya dan bukan untuk melakukan hal-hal yang terpuji dan bermanfaat, atau tidak pula untuk mendapatkan ilmu, maka sungguh dia telah mendurhakai harinya, menzhalimi diri dan harinya.

Sangat banyak hadits dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang shahih menjelaskan pentingnya waktu dan beliau shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan agar umatnya memanfaatkannya serta tidak menyia-nyiakannya. Karena seorang hamba akan ditanya tentang waktunya kelak pada hari Kiamat.

Dari Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah yang 5 sebelum datangnya yang 5: Usia muda sebelum datang usia tua, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematian.”
(HR. Al-Baihaqi, Syuabu Al-Iman, no.10248)

Dari Sahabat Abi Barzah Al-Aslami radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ؟ وَعَنْ عِلمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وَفيمَ أنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسمِهِ فِيمَ أبلاهُ؟
“Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai dia ditanya tentang umurnya: Untuk apa dihabiskan? Tentang ilmunya: Dalam hal apa ilmunya diamalkan? Tentang hartanya: Dari mana dia mendapatkannya dan diinfaqkan kemana? Tentang jasadnya: Dipergunakan untuk apa?”
(HR. At-Tirmidzi, no.2417)

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang membuat banyak manusia terlena dengannya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
(HR. Imam Bukhari, no.6412)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata;

كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ
“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:82)

Maka hendaknya pada bulan Ramadhan yang mulia dan penuh berkah serta ampunan Allah azza wa jalla, kita manfaatkan dengan segala hal yang bisa kita lakukan untuk ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla. Hendaknya kita memanfaatkan masa hidup ini sebelum kematian datang menjemput secara tiba-tiba.

Orang-orang yang telah Allah azza wa jalla berikan kesehatan, hendaknya mereka memanfaatkan kesehatannya sebelum Allah azza wa jalla menguji mereka dengan penyakit yang akan menghalangi dan membuat mereka lemah dalam beribadah kepada Allah.

Orang-orang yang Allah azza wa jalla berikan kelonggaran waktu, hendaknya mereka memanfaatkan waktu luang tersebut sebelum mereka tersibukkan oleh berbagai kesibukan yang menghalangi mereka dari beribadah.

Para pemuda hendaknya memanfaatkan waktu muda mereka sebelum datang masa tua yang identik dengan kelemahan dan berbagai macam penyakit.

Orang-orang kaya yang telah Allah anugerahi rezeki melimpah, hendaknya memanfaatkan kekayaan yang mereka miliki sebelum didera kemiskinan dan dikejar berbagai kebutuhan.

Hendaknya mereka semua memanfaatkan kesempatan yang mulia ini supaya mereka bertambah dekat dengan Allah azza wa jalla dan supaya lebih terbuka peluang untuk mendapatkan keberkahan dan rahmat Allah dengan cara bertaubat kepadaNya, sambil memperbanyak perbuatan baik dan menjauhi perbuatan yang buruk.

4. Menjauhi semua hal yang dilarang Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengingatkan, bahwa puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum saja. Beliau bersabda;

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah menahan diri dari perkataan laghwu (tidak bermanfaat) dan rafats (kotor). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil kepadamu, maka katakanlah kepadanya: Aku sedang puasa, aku sedang puasa!”
(HR. Ibnu Majah, Shahih At-Targib Wa At-Tarhib, no.1082)

Puasa juga adalah mempuasakan semua anggota tubuh kita dari setiap kemaksiatan (dosa). Apabila seorang yang berpuasa tidak bisa menjaga diri dari hal-hal ini, bisa jadi pahala puasanya sia-sia dan yang dia dapatkan hanya lapar dan haus.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun, dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali hanya rasa lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad, no.9683, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Bahkan Allah tidak butuh terhadap puasanya dan ini bentuk ungkapan bahwa ibadah puasanya tidak benar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”
(HR. Imam Bukhari, no.1903)

Jadi, pengertian puasa itu bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi menahan seluruh anggota tubuh dari segala yang dilarang oleh Allah dan termasuk juga segala hal yang tidak bermanfaat untuk diri kita.

Untuk mengetahui segala hal yang dibolehkan dan dilarang oleh Allah, bisa diketahui dengan belajar ilmu Islam secara rutin dan tuntas. Karena dengan kita bisa mengetahui segala hal yang dibolehkan oleh Allah, kita bisa mengamalkannya dan ketika kita bisa mengetahui segala hal yang dilarang oleh Allah, kita bisa berwaspada dan meninggalkannya.

5. Persiapan buka puasa.
Ketika masuk waktu sore hari di bulan Ramadhan, masyarakat Indonesia biasanya memiliki beberapa aktivitas rutin. Misal: Ngabuburit, masak-masak dan persiapan buka puasa lainnya. Maka kita perlu mengetahui juga mengenai hukum beberapa kebiasaan tersebut, dibolehkan ataukah dilarang dalam syariat Islam?

a. Ngabuburit.
Istilah ini biasanya digunakan untuk setiap aktivitas yang dilakukan dari setelah waktu shalat Ashar sampai menjelang waktu shalat Maghrib, selama bulan Ramadhan.

Kegiatan yang dilakukan pun bermacam-macam, ada yang jalan-jalan bersama keluarga atau teman-teman, berbelanja makanan, berolahraga, bahkan ada juga yang pergi ke majelis ilmu. Semuanya itu dibolehkan oleh Islam, asalkan tidak melanggar aturan Islam.

Karena kegiatan dunia itu hukum asal mubah (boleh), selama tidak melanggar syariat Islam. Dan salah satu kegiatan dunia yang dilarang oleh Islam, di antaranya: Jalan-jalan bersama lawan jenis yang bukan mahramnya atau bukan istrinya, apa pun alasannya! Dan ini merupakan bentuk pelanggaran besar terhadap syariat Islam, karena pada aktivitas tersebut pasti banyak hal-hal maksiat yang dilakukan, misal: Saling memandang, bersentuhan, berduaan dan prilaku buruk yang lebih keji lainnya, inilah yang mereka sebut dengan istilah “pacaran”.

Perlu kita ketahui, pelarangan pacaran itu ada bukan pada saat ini saja namun, dari dahulu di zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallaahu anhum, ketika syariat Islam Allah turunkan kepada Rasulullah, istilah pacaran sudah dilarang oleh Allah di dalam Al-Quran.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina! Sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
(Surat Al-Isra: ayat 32)

Dalam kitab Tafsir Jalalain dijelaskan;
“Bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras dari pada perkataan: Janganlah melakukan zina! Maksudnya, bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi melakukan zina? Ini jelas-jelas lebih terlarang.”

Dari perkataan Imam Asy-Syaukani, maka kita dapat simpulkan: Bahwa setiap cara atau jalan (perantara) menuju zina adalah suatu yang terlarang. Ini berarti memandang, berjabat tangan, berduaan dan bentuk perbuatan buruk lainnya yang dilakukan dengan lawan jenis (bukan mahram) hukumnya haram, karena hal tersebut sebagai perantara pada zina dan termasuk juga suatu hal yang terlarang.

Karena suatu perantara memiliki hukum yang sama seperti tujuannya. Ada sebuah kaidah fiqih;

وَسَائِلُ الْأُمُوْرِ كَالْمَقَاصِدِ
“Perantara-perantara (washilah) suatu perkara, itu memiliki hukum yang sama seperti tujuannya.”
(Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah, no.24)

Jadi, ketika kita mau tahu tentang hukum suatu hal, lihatlah tujuannya! Jika tujuannya tersebut dibolehkan oleh Islam, maka hukumnya boleh dilakukan. Jika tujuannya dilarang oleh Islam, maka hukumnya pun tidak boleh dilakukan.

Seperti pacaran, hukumnya tidak boleh dilakukan. Karena itu salah satu perantara menuju zina, sedangkan zina hukumnya haram, maka pacaran pun menjadi haram.

Oleh karena itu, jika kita ingin mengisi waktu menjelang buka puasa, isilah dengan kegiatan yang baik lagi bermanfaat. Seperti hadir ke majelis ilmu, mendengarkan penjelasan ilmu, membantu orang tua, membaca Al-Quran (agar bisa mengkhatamkannya), perbanyak berdoa, berdzikir dan kegiatan positif lainnya.

b. Masak-masak.
Termasuk kegiatan yang biasa dilakukan untuk menunggu waktu berbuka puasa adalah menyiapkan makanan.

Di antara hal nyeleneh yang menjadi keyakinan sebagian umat Islam di Indonesia adalah selama berpuasa tidak boleh gosok gigi, mandi, keramas dan termasuk menyicipi masakan. Padahal itu semua dibolehkan oleh Islam untuk dilakukan di bulan Ramadhan dan di bulan lainnya.

Ada seseorang bertanya kepada Syaikh Muqbil rahimahullah.

Pertanyaan;
Apa hukumnya seorang perempuan merasakan masakannya dengan ujung lidahnya, supaya mengetahui apa yang kurang dari bumbu-bumbu masakan tersebut?

Jawaban;
Tidak mengapa tentang hal itu, insyaallah. Asalkan jangan sampai ada yang masuk ke tenggorokannya sesuatu apa pun.
(Bulughu Al-Maram Min Fatawa Ash-Shiyam As-Ilah Ajaba Alaiha, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii)

• Mengenai sikat gigi di siang hari bulan Ramadhan juga dibolehkan oleh Islam.

Pertanyaan;
Apa hukumnya menggunakan hal-hal di bawah ini di siang hari di bulan Ramadhan, misal: Memakai siwak dan sikat gigi atau odol?

Jawaban;
Ada pun memakai siwak dari batangnya, maka ini tidak mengapa (boleh), walau pun warnanya hijau. Ada pun odol atau sikat gigi maka kami menasihatkan untuk meninggalkannya di bulan Ramadhan. Dan kami tidak memiliki dalil bahwa itu akan membatalkan shaum, akan tetapi wajib untuk berhati-hati dalam menggunakannya, sehingga tidak sampai ada sesuatu yang mengalir atau masuk ke dalam perutnya. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dan sempurnakanlah pada waktu istinsyaq, kecuali dalam keadaan shaum! Karena sesungguhnya apabila dia dalam keadaan shaum maka ditakutkan akan mengalir atau masuknya air ke dalam perutnya.”
(Bulughu Al-Maram Min Fatawa Ash-Shiyam As-Ilah Ajaba Alaiha, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii)

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah juga pernah ditanya mengenai hukum menggunakan pasta gigi di siang hari bulan Ramadhan. Maka beliau menjawab;
“Tidak masalah, selama dijaga agar tidak tertelan sedikit pun.”
(Fatwa Syaikh Ibn Baz, 4:247)

• Mengenai keramas di siang hari bulan Ramadhan juga dibolehkan. Karena tujuan keramas untuk mendinginkan badan.

Dari Abu Bakr bin Abdurrahman rahimahullah, dari sebagian Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam bercerita;

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ النَّاسَ فِي سَفَرِهِ عَامَ الْفَتْحِ بِالْفِطْرِ وَقَالَ تَقَوَّوْا لِعَدُوِّكُمْ وَصَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ الَّذِي حَدَّثَنِي لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنْ الْعَطَشِ أَوْ مِنْ الْحَرِّ
“Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang ketika dalam perjalanannya pada tahun penaklukan Mekkah untuk berbuka. Beliau berkata: Perkuatlah tubuh kalian untuk menghadapi musuh! Sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang berpuasa. Abu Bakr berkata: Telah berkata orang yang telah menceritakan kepadaku Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Al-Arj menuangkan air ke kepalanya karena haus atau panas, sementara beliau sedang berpuasa.”
(HR. Abu Dawud, no.2365)

Masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang saat ini dianggap oleh masyarakat tidak boleh dilakukan selama bulan Ramadhan, tapi sebetulnya dibolehkan oleh syariat Islam. Itulah bukti pentingnya berilmu sebelum beramal. Karena sampai kapan pun, tidak akan mungkin sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.

Allah azza wa jalla berfirman;

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
(Surat Az-Zumar: ayat 9)

6. Adab-adab buka puasa.
Di antara adab dalam berbuka puasa yang harus dilakukan oleh setiap muslim yang berpuasa adalah berdoa dan berdzikir. Karena hal ini yang sering dilupakan oleh setiap muslim yang sedang berpuasa.

Di antara adab-adab yang harus dilakukan pada saat berbuka puasa adalah;

a. Banyak berdoa.
Perlu diketahui, bahwa waktu ketika berbuka puasa itu termasuk salah satu waktu terkabulnya doa (mustajab).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدّ، دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصّـَائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
“Ada 3 orang yang doanya tidak ditolak (pasti dikabulkan): Doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir).”
(HR. Al-Baihaqi, 3:345)

b. Membaca bismillah sebelum makan.
Ketika akan membatalkan puasa dengan makan atau minum, bacalah bismillah! Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوّلَهُ وَآخِرَهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia menyebut nama Allah (mengucapkan bismillah). Jika dia lupa untuk menyebut nama Allah di awal, hendaklah dia mengucapkan: Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya).”
(HR. At-Tirmidzi, no.1858, beliau mengatakan hadits ini hasan shahih)

c. Membaca doa buka puasa.
Setelah membatalkan puasa dengan mengucapkan bismillah sebelumnya, maka selanjutnya kita membaca doa sebagaimana yang dibaca oleh Rasulullah;

ذَهَبَ الظّـَمَأُ وَابْتَلّـَتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah hilang dahaga, telah basah kerongkongan dan semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki.”
(HR. Abu Dawud, no.2357. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan)

Ada pun doa buka puasa lainnya, yang merupakan atsar dari perkataan Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma;

اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ
“Ya Allah, aku memohon rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya Engkau mengampuniku.”
(HR. Ibnu Majah, no.1753. Al-Hafizh mengatakan hadits ini hasan)

• Kapan doa buka puasa tersebut dibaca?
Secara zhahir, doa buka puasa tersebut dibaca setelah membatalkan puasa. Silakan simak kembali lafazh doa di atas!

• Kenapa dibaca setelah membatalkan puasa?
Periwayat hadits adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma. Pada awal hadits terdapat redaksi, Abdullah bin Umar berkata: Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah berbuka puasa, beliau mengucapkan (doa tersebut).

Yang dimaksud dengan إِذَا أَفْطَرَ adalah apabila setelah makan atau minum. Karena dari sisi bahasa (lughah), kata أَفْطَرَ menggunakan fiil madhi yaitu bentuk kata kerja lampau (sudah terjadi). Maka diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai ‘telah berbuka’. Berdasarkan tinjauan ini, maka diambil kesimpulan doa tersebut dibaca setelah berbuka puasa, yang menandakan bahwa orang yang berpuasa tersebut telah ‘membatalkan’ puasanya pada waktunya (yaitu ghurubusy syams atau terbenamnya matahari). Oleh karena itu, doa ini tidak dibaca sebelum makan atau minum ketika akan berbuka. Karena ketika sebelum makan atau minum, kita disunnahkan membaca bismillah terlebih dahulu, bukan membaca doa buka puasa.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوّلَهُ وَآخِرَهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia menyebut nama Allah. Jika dia lupa untuk menyebut nama Allah di awal, hendaklah dia mengucapkan: Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).”

Setelah menikmati hidangan berbuka, jangan lupa baca doa setelah makan!

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَـٰذَا وَرَزَقَنِيْهِ، مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji hanya untuk Allah yang telah memberiku makanan ini dan memberi rezeki kepadaku, tanpa daya dan kekuatan dariku.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3458, beliau dan ulama lainnya menghasankan hadits ini)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;
“Barang siapa yang makan makanan, kemudian setelahnya mengucapkan doa di atas, maka diampuni dosanya yang telah lalu.”

Mari kita hafalkan dan amalkan dengan rutin! Dan hendaknya doa ini dibaca juga setiap setelah makan.

* Ada beberapa doa berbuka puasa yang sebetulnya tidak shahih (dhaif) namun, sering dibaca dan diamalkan oleh umat Islam yang sedang berpuasa, di antaranya;

اللَّهُـمّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Ya Allah untukMu aku berpuasa dan atas rezekiMu aku berbuka.”

Ada pun teks hadits secara lengkapnya;

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنّهُ بَلَغَهُ أَنّ النّبِيّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اللَّهُمّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan: Allahumma Laka Sumtu Wa Ala Rizqika Afthartu (Ya Allah untukMu aku berpuasa dan atas rezekiMu aku berbuka).”
(HR. Abu Dawud, no.2358)

Ternyata sanad hadits ini mempunyai dua cacat, di antaranya;
•Pertama: Hadits tersebut merupakan hadits Mursal, karena Muadz bin Abi Zuhrah adalah seorang Tabiin bukan Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Hadits Mursal adalah: seorang Tabiin meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tanpa perantara Sahabat dan langsung dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

•Kedua: Selain itu, Muadz bin Abi Zuhrah ini seorang perawi yang majhul (tidak dikenal). Tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedangkan, Ibnu Abi Hatim di dalam kitabnya Jarh Wa At-Tadil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya.

Hadits mursal merupakan hadits dhaif karena sanadnya terputus. Syaikh Al-Albani pun berpendapat bahwasanya hadits tersebut dhaif.
(Irwau Al-Ghalil, 4:38)

Hadits semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dari Sahabat Anas bin Malik. Namun, sanadnya terdapat perawi dhaif yaitu Daud bin Az-Zibriqan, dia adalah seorang perawi matruk (yang haditsnya ditinggalkan) sebagaimana Al-Hafizh menilai Dawud bin Az-Zibriqan sebagai matruk.
(Taqribu At-Tahdzib, no.1795)

Berarti dari riwayat ini juga sama dhaif. Syaikh Al-Albani pun menyatakan riwayat ini dhaif.
(Irwau Al-Ghalil, 4:37-38)

* Makanan apa yang dimakan pada saat berbuka puasa?
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan kepada umatnya agar berbuka puasa dengan;
•Ruthab (kurma matang berwarna coklat muda dan masih basah)
•Tamr (kurma matang yang sudah kering)
•Air minum

Hal ini berdasarkan dalil yang shahih;

كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلّـِيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berbuka dengan beberapa ruthab (kurma matang namun, masih basah) sebelum melakukan shalat (Maghrib), jika tidak ada ruthab maka dengan beberapa tamr (kurma matang kering), jika itu tidak ada maka beliau meminum air beberapa kali tegukan.”
(HR. Abu Dawud, no.2356, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran berharga, di antaranya;

-Dianjurkannya untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah), apabila tidak ada maka boleh memakan tamr (kurma kering), jika tidak ada pula maka minumlah air.

-Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan shalat. Hal ini merupakan strategi pengaturan yang sangat cermat, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan, sehingga hati tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel-sel tubuh. Selain itu, rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai hati, apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, hati pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak. Air adalah pembersih bagi usus manusia dan itulah yang berlaku alamiyah hingga saat ini.
(Taudhihu Al-Ahkam Min Bulughi Al-Maram, 3:477)

-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan tentang hadits di atas;
“Cara Nabi shallallahu alaihi wa sallam berbuka puasa dengan menyantap kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam. Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apa pun, sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air. Karbohidrat yang ada dalam kurma akan lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut. Terutama sekali, kurma matang yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga sangat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi. Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik, karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi juga. Bila tidak ada, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa, sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu.”
(Ath-Thib An-Nabawy, hlm.309)

Jadi yang sesuai dengan sunnah Nabi, ketika akan buka puasa namun, tidak ada kurma, minumlah air! Bukan kolak atau semisalnya.

E. PANDUAN SHALAT TARAWIH

Setelah menikmati hidangan buka puasa, maka langkah selanjutnya adalah bersiap untuk melakukan ibadah shalat Tarawih.

1. Makna shalat Tarawih.
Qiyaamullail (shalat malam) secara berjamaah di bulan Ramadhan.
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibni Al-Utsaimin, 14:210)

Dinamakan shalat Tarawih yang bermakna ‘mengistirahatkan’, karena para Sahabat radhiyallahu anhum melakukan shalat tersebut dengan memanjangkan berdiri (tenang), ruku dan sujud. Apabila mereka telah shalat 4 rakaat (2 kali salam), maka mereka akan beristirahat, sebelum melanjutkan ke rakaat berikutnya.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 4:10)

Ada pun dilakukan secara berjamaah di masjid, maka itu lebih utama (afdhal), dan boleh juga dikerjakan di rumah, tapi akan berkurang pahalanya, kecuali bagi wanita, lebih afdhal di rumah. Dan apabila di suatu masjid tidak dikerjakan shalat yang sesuai sunnah Rasulullah, misalkan karena bacaan imamnya yang buruk, ngebut shalatnya, maka hendaklah mencari masjid lain yang sesuai sunnah Rasulullah! Jika tidak mendapatkan masjid lain yang sesuai sunnah, maka lebih afdhal shalat sendiri di rumah.
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 7:199)

Ada pun perpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain (Tarawih keliling), bukan untuk tujuan mencari masjid yang sesuai sunnah, maka termasuk kesia-siaan.
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibni Al-Utsaimin, 14:211)

Wanita dengan berdiam di rumah, bukan berarti wanita tidak bisa melaksanakan aktivitas ibadah. Bahkan terdapat banyak ibadah yang bisa dilakukan wanita di dalam rumah, seperti: Shalat, puasa, membaca Al-Quran, berdizkir, mengurusi anak, dan berbakti kepada suaminya. Bahkan sebaik-baik shalat bagi wanita adalah di dalam rumahnya.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.”
(HR. Ahmad, 6:297. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya)

Dari Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya dari pada shalatnya di pintu-pintu rumahnya. Dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya, lebih utama baginya dari pada di bagian lain di rumahnya.”
(HR. Abu Dawud, no.570)

Perlu kita pahami, bahwa shalat wanita di dalam rumah adalah pengamalan dari perintah Allah azza wa jalla, agar para wanita tetap berada di dalam rumah.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah dahulu! Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya! Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 33)

Namun demikian, jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama tetap memperhatikan aturan-aturan Islam, seperti menutup aurat dan tidak memakai wewangian, maka kita tidak boleh melarangnya untuk pergi ke masjid.

Dari Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid! Jika mereka meminta izin pada kalian, maka izinkanlah dia!”
(HR. Imam Muslim, no.442)

Bahkan dengan tetap tinggal di rumahnya, wanita bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak. Aktivitas hariannya di dalam rumah bisa bernilai pahala, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia mengatakan;
“Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berkata: Wahai Rasulullah, kaum laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga bisa berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami, kaum wanita bisa mendapatkan amalan seperti orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Barang siapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim)

2. Hukum shalat Tarawih.
Shalat Tarawih hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), berdasarkan kesepakatan (ijma) ulama, tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.
(Syarh Shahih Muslim, 6:286)

3. Keutamaan shalat Tarawih.
Keutamaannya sangat besar, diantaranya adalah menjadi sebab dosa-dosa diampuni. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat mengajurkan ibadah ini. Beliau bersabda;

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Orang yang melaksanakan Qiyam Ramadhan (Tarawih) karena iman dan ingin mendapatkan balasan (dari Allah), maka dia akan diampuni dari dosanya yang telah lalu.”
(HR. Imam Bukhari, no.37)

Keutamaan shalat Tarawih hanya akan didapatkan, jika memenuhi tiga syarat, dua syarat terdapat dalam hadits di atas, dan satu syarat lagi terdapat dalam hadits yang lain;
• Berdasarkan iman, yaitu iman kepada Allah dan semua yang Allah wajibkan untuk diimani, termasuk mengimani bahwa shalat Tarawih termasuk sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
• Mengharapkan pahala, yaitu hanya mengharapkan balasan dari Allah semata-mata, inilah hakikat keikhlasan.
• Meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam melakukannya. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak berdasarkan petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Imam Muslim, no.1718)

4. Waktu shalat tarawih.
Waktu shalat Tarawih dimulai bada Isya sampai terbit fajar (masuk waktu Shubuh), dan hendaklah dilakukan setelah shalat sunnah badiyah Isya, lalu shalat Tarawih, kemudian shalat Witir. Ada pun jika melakukannya sebelum shalat Isya, maka hal itu tidak sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 4:60)

Maksud ‘Qiyam Ramadhan’ ini mencakup shalat-shalat sunnah yang dilakukan pada malam-malam Ramadhan dan juga shalat Tarawih. Oleh karena itu, seharusnya kita memperhatikan dan senantiasa menjaganya. Kita laksanakan dengan penuh antusias bersama imam dan tidak meninggalkan imam, sebelum Witir selesai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barang siapa shalat bersama imam sampai imam itu selesai, maka dituliskan baginya pahala seperti shalat satu malam.”
(HR. At-Tirmidzi, no.806)

Jadi, jika kita ingin mendapatkan pahala seperti beribadah semalaman, maka ikutilah shalat Tarawih bersama imam secara tuntas! Baik shalat Tarawih yang berjumlah 11 rakaat, 23 rakaat atau 40 rakaat.

Ada pun kepada para imam yang menjadi imam dalam shalat Tarawih, hendaknya bertaqwa kepada Allah azza wa jalla dalam menjalankannya! Seorang imam hendaklah tetap menjaga tumaninah (diam sejenak) di setiap gerakan shalat dan dengan perlahan-perlahan dalam melakukan shalatnya, sehingga para makmum memiliki kesempatan untuk menjalankan amalan-amalan yang wajib dan sunnah, sesuai dengan kemampuannya. Sungguh, pada masa sekarang ini, kita melihat fenomena yang sangat menyedihkan. Ada di antara para imam yang melaksanakan shalat Tarawih secara cepat layaknya pembalap, sehingga meninggalkan tumaninah. Padahal, tumaninah merupakan salah satu rukun shalat. Pelaksanaan ibadah shalat yang tidak memperhatikan tumaninah adalah haram dan menjadi sebab tidak sah shalatnya.

Meski pun seorang imam melakukan shalatnya dengan cepat dan tidak sampai meninggalkan tumaninah, akan tetapi perbuatan imam tersebut telah menyebabkan orang-orang yang makmum kepadanya merasa kelelahan dan tidak bisa melaksanakan yang seharusnya mereka lakukan. Dan perlu diketahui, orang yang menjadi imam dalam shalat, tidaklah sama dengan shalat sendirian. Seorang imam wajib memperhatikan keadaan para makmumnya, menunaikan amanah yang ada dipundaknya, serta melaksanakan shalat sebagaimana Rasulullah melakukannya.

Para ulama menyebutkan, seorang imam dimakruhkan untuk mempercepat shalat, sehingga menyebabkan makmum tidak bisa melaksanakan amalan yang disunnahkan. Lalu bagaimana kalau sang imam mempercepat shalatnya, sehingga para makmum tidak bisa melaksanakan amalan yang diwajibkan dalam shalatnya? Tentu ini lebih layak menjadi sebab shalatnya dan para jamaah tersebut tidak diterima oleh Allah azza wa jalla.

5. Tidak boleh bergadang di malam hari bulan Ramadhan, kecuali untuk ibadah.
Di sebagian daerah, ujat Islam sudah terbiasa mengisi malam Ramadhan dengan tidak tidur sampai waktu Shubuh. Ihyaul lail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadhan memang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, khususnya pada 10 malam terakhir.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Jika masuk 10 malam terakhir, Nabi mengencangkan ikatan sarung beliau, menghidupkan malam dan membangunkan keluarga beliau.”
(HR. Imam Bukhari, no.1920)

Namun, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan menghidupkan malam pada hadits tersebut adalah mengisinya dengan berbagai ibadah, seperti shalat, membaca Al-Quran, berdoa, dzikir dan itikaf.

Imam Al-Munawi rahimahullah berkata;
“Maksudnya meninggalkan tidur dan beribadah di sebagian besar malam, (bukan dengan sepanjang malam). Dengan dalil perkataan Aisyah: Aku tidak mengetahui beliau pernah Qiyamullail sepanjang malam, sampai pagi hari.”
(Faidhu Al-Qadir, 5:132)

Jika bergadang diisi dengan hal-hal selain ibadah, seperti menonton acara-acara yang tidak baik di TV, sepakbola, permainan-permainan yang dilarang Islam (misal: judi), atau ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka tidur lebih baik dari itu semua. Apalagi jika kegiatan bergadang ini membuat kita menjadi lalai dari kewajiban terhadap agama Islam, seperti shalat Shubuh berjamaah di masjid, bahkan bisa menjadi sebab bangun kesiangan.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata;

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنِ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنِ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ
“Barang siapa melewatkan yang sunnah karena tersibukkan dengan kewajiban, itu bisa dimaklumi. Dan barang siapa melewatkan kewajiban karena tersibukkan oleh yang sunnah, maka dia telah tertipu.”
(Fathu Al-Baari, 11:343)

6. Jumlah rakaat shalat Tarawih.
Sebetulnya, dalam permalasalahan jumlah rakaat shalat Tarawih tidak ada masalah dengan 11 atau 23 rakaat.

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha: Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan? Maka Aisyah menjawab;

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah rakaat dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya, lebih dari 11 rakaat.”
(HR. Imam Bukhari, no.1147)

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 rakaat, lalu beliau shalat Witir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau pada saat itu, hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami. Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagi kalian.”
(HR. Al-Albani, Shalat At-Tarawih, hlm.21. Beliau mengatakan derajat hadits ini hasan)

Ibnu Hajar Al-Haitsamiy rahimahullah berkata;
“Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat. Ada pun hadits yang mengatakan: Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 2:9635)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah juga berkata;
“Ada pun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat ditambah Witir, sanad hadits itu adalah lemah (dhaif). Hadits Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 rakaat juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah tersebut. Padahal Aisyah sendiri yang lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada waktu malam dari pada selainnya. Wallahu alam.”
(Fathu Al-Baari, 6:295)

• Jumlah rakaat shalat Tarawih yang dianjurkan.
Jumlah rakaat shalat Tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 rakaat. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana sudah disebutkan pada hadits-hadits di atas.

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan;
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah rakaat dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya, lebih dari 11 rakaat.”
(HR. Imam Bukhari, no.1147)

Sahabat Ibnu Abbas berkata;

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً. يَعْنِى بِاللَّيْلِ
“Shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 rakaat.”
(HR. Imam Bukhari, no.1138)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah 11 rakaat. Ada pun 2 rakaat lainnya adalah 2 rakaat ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai pembuka (awal) melaksanakan shalat malam.”
(Fathu Al-Baari, 4:123)

• Bolehkah menambah rakaat shalat Tarawih lebih dari 11 rakaat?
Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa boleh menambah rakaat dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata;
“Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah rakaat tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit rakaat, siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan rakaat yang banyak.”
(At-Tamhid, 21:70)

Di antara dalil yang membenarkan pendapat ini adalah;
• Pertama: Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
“Shalat malam adalah 2 rakaat 2 rakaat. Jika kamu khawatir masuk waktu Shubuh, lakukanlah shalat Witir 1 rakaat!”
(HR. Imam Muslim, no.749)

Dalam riwayat yang lain;

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Sesungguhnya tidaklah kamu melakukan sekali sujud kepada Allah, melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.”
(HR. Imam Muslim, no.488)

• Kedua: Pilihan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang memilih shalat Tarawih dengan 11 atau 13 rakaat ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Di antara alasannya adalah;
-Perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

-Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 rakaat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 rakaat, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan rakaat yang panjang. Barang siapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan rakaat tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah rakaat yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.”
(Majmu Al-Fatawa, 22:272)

-Rasulullah tidak memerintahkan para Sahabatnya untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 rakaat. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan para Sahabat untuk melaksanakan shalat 11 rakaat namun, tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dan sudah kita ketahui di dalam ilmu ushul, bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus, kecuali jika ada pertentangan.

-Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap rakaat. Di zaman setelah beliau shallallahu alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu rakaat begitu lama. Akhirnya, Sahabat Umar bin Khattab memiliki inisiatif agar shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan namun, dengan bacaan yang ringan.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Ketika Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin kaab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 rakaat kemudian melaksanakan Witir sebanyak 3 rakaat. Namun, ketika itu bacaan setiap rakaat lebih ringan dan diganti dengan rakaat yang ditambahkan. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum dari pada melakukan 1 rakaat dengan bacaan yang begitu panjang.”
(Majmu Al-Fatawa, 22:272)

– Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat Tarawih, Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat Tarawih sebanyak 21 rakaat. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu Shubuh.
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:416)

Terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka juga melakukan shalat Tarawih sebanyak 11 rakaat.

As-Saib bin Yazid rahimahullah berkata;
“Bahwa Umar bin Al Khattab memerintah Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dariy untuk melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 11 rakaat. As-Saib mengatakan: Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai shalat hampir Shubuh.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:418)

Jadi, shalat Tarawih 11 atau 13 rakaat yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, itu bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah rakaat shalat Tarawih, terdapat beberapa pendapat, di antaranya;
– Pertama; yang membatasi hanya 11 rakaat. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al-Albani dalam kitab beliau, yang berjudul Shalat At-Tarawih.
– Kedua; shalat Tarawih adalah 20 rakaat (belum termasuk Witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Imam Ats-Tsauri, Al-Mubarak, Asy-Syafii, Ash-Habur Ra’yi, juga diriwayatkan dari Sahabat Umar, Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma) para Sahabat.

Ad-Dasuqiy rahimahullah berkata;
“Shalat tarawih dengan 20 rakaat inilah yang menjadi amalan para Sahabat dan Tabiin.”

-Ketiga; Shalat Tarawih adalah 39 rakaat dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qais, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih.
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:419)
-Keempat; Shalat Tarawih adalah 40 rakaat dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Abdurrahman bin Al-Aswad shalat malam sebanyak 40 rakaat dan beliau Witir 7 rakaat. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah.
(Kasyafu Al-Qana An Matni Al-Iqna, 3:267)

Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada, misal sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Semua jumlah rakaat di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jamaah. Kalau jamaah kemungkinan senang dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 rakaat ditambah dengan Witir 3 rakaat, sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun, apabila para jamaah tidak mampu melaksanakan rakaat-rakaat yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 rakaat itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktikkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 rakaat adalah jalan tengah antara jumlah rakaat shalat malam yang 10 dan yang 40. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 rakaat atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barang siapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 rakaat, maka sungguh dia telah keliru.”
(Majmu Al-Fatawa, 22:272)

Dari penjelasan di atas Penulis mengingatkan;
Hendaknya setiap muslim bersikap bijak dalam menyikapi permasalahan ini. Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jamaah shalat Tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 rakaat karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 rakaat atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 rakaat di rumah. Orang yang keluar dari jamaah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir, maka dia telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jamaah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai, baik imam melaksanakan 11 atau 23 rakaat, maka akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. Rasulullah bersabda: Siapa yang shalat bersama imam sampai dia selesai Witir, maka ditulis untuknya pahala shalat satu malam penuh.”

Jika ada yang ingin memanjangkan rakaat shalatnya, maka dipersilakan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ
“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.”
(HR. Imam Muslim, no.756)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata;

عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiran.”
(HR. Imam Muslim, no.545)

Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 rakaat dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al-Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 rakaat yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 rakaat. Ini sungguh suatu kekeliruan yang sangat fatal. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu, tenang dan tumaninah, bukan dengan kebut-kebutan!

Seharusnya, dilakukan adalah membaca surat Al-Fatihah dan surat-surat al-quran lainnya didalam shalat mau pun diluar shalat dengan tartil. Makharijul hurufnya harus sesuai, tajwidnya harus benar dan berusahalah untuk memahami maknanya!

Maka hendaknya seorang yang akan shalat, membaca setiap ayat al-quran dengan baik dan benar. Dari segi makharijul huruf dan hukum tajwidnya.

Karena tajwid secara bahasa adalah mashdar dari jawwada-yujawwidu, yang artinya membaguskan. Sedangkan secara istilah, Imam Ibnul Jazari menjelaskan;
“Tajwid adalah membaca dengan membaguskan pelafalannya, yang terhindar dari keburukan pelafalan dan keburukan maknanya, serta membaca dengan maksimal tingkat kebenarannya dan kebagusannya.”
(An-Nasyr Fii Al-Qiraat Al-Asyr, 1:210)

Beliau juga menjelaskan hakikat dari ilmu tajwid;
“Maka tajwid itu merupakan penghias bacaan, yaitu dengan memberikan hak-hak, urutan dan tingkatan yang benar kepada setiap huruf dan mengembalikan setiap huruf pada tempat keluarnya dan pada asalnya (makharijul huruf), menyesuaikan huruf-huruf tersebut pada setiap keadaannya dan membenarkan lafadznya dan memperindah pelafalannya pada setiap konteks, menyempurnakan bentuknya. tanpa berlebihan dan tanpa meremehkan.”
(An-Nasyr Fii Al-Qiraat Al-Asyr, 1:212)

Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh ngebut-ngebutan dari segi bacaan dan gerakan, karena itu merupakan shalat orang munafiq, sebagaimana Allah berfirman; “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia, dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali”
(Surat An-Nisa: ayat 142).

Karena sebetulnya, kita itu diperintahkan untuk mengikuti cara shalatnya Rasulullah, bukan orang lain. Beliau bersabda;

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي
“Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihatku shalat!”
(HR. Imam Bukhari, no.6008)

7. Cara melakukan shalat Tarawih.
Maka lakukanlah shalat Tarawih seperti shalat sunnah lainnya! Tidak ada penambahan dan pengurangan cara apa pun. Jadi, jika ada yang melaksanakan shalat Tarawih dengan dimodifikasi atau diberikan tambahan kegiatan didalamnya, maka ketahuilah bahwa itu adalah cara shalat yang menyelisihi sunnah Rasulullah dan hukumnya tidak boleh dilakukan, karena itu termasuk membuat syariat baru dalam agama Islam. Rasulullah saja tidak berani membuat syariat baru dalam agama Islam, selain apa yang sudah diturunkan oleh Allah melalui wahyuNya, masa kita lebih berani dan lebih lancang dari beliau shallallahu alaihi wa sallam?

Dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah bersabda;
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad. Seburuk-buruk ibadah adalah ibadah yang di ada-adakan (yang tidak pernah dilakukan di zaman Nabi) dan setiap perkara yang tidak sesuai sunnah Rasulullah (bidah) adalah sesat.”
(HR. Imam Muslim, no.867)

Maka, rutinitas ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah dari awal sampai dengan terakhir, hendaknya dilakukan terus-menerus sampai berakhirnya bulan Ramadhan. Dan ada pun amalan ibadah yang bersifat umum, berusahalah untuk terus istiqamah mengamalkannya di bulan-bulan lainnya!

F. PANDUAN SHALAT WITIR

1. Cara melakukan shalat Witir.
Sebetulnya, ada 3 cara untuk melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama madzhab namun, ada 2 cara yang dianggap lebih kuat.

• Mengerjakan 3 rakaat dengan pola 2-1 (2 rakaat salam, lalu 1 rakaat salam).
Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di dalam kamar ketika aku berada di rumah dan beliau memisahkan antara rakaat yang genap dengan yang witir (ganjil) dengan salam yang beliau perdengarkan kepada kami.”
(HR. Ahmad, 6:83)

Dari Nafi, dia berkata mengenai shalat Witir dari Ibnu Umar, radhiyallahu anhum;

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِى الْوِتْرِ ، حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ
“Sesungguhnya Ibnu Umar biasa mengucapkan salam ketika 1 rakaat dan 2 rakaat saat shalat Witir, sampai dia memerintah untuk sebagian hajatnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.991)

• Mengerjakan sekaligus 3 rakaat.
Dari Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ
“Siapa yang suka lakukan Witir 3 rakaat, maka lakukanlah!”
(HR. Abu Dawud, no.1422)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa berwitir 3 rakaat sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud), kecuali pada rakaat terakhir.”
(HR. Al-Baihaqi 3:28)

Jadi, kalau ingin melakukan 3 rakaat langsung tidak boleh diserupakan dengan shalat Maghrib, maksudnya dikerjakan dengan 2 kali salam.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تُوْتِرُوا بِثَلَاثٍ أُوْتِرُوا بِخَمْسٍ أَوْ بِسَبْعٍ وَلَا تَشَبَّهُوا بِصَلَاة ِالْمَغْرِبِ
“Janganlah lakukan shalat Witir yang 3 rakaat seperti shalat Maghrib! Namun, berwitirlah dengan 5 atau 7 rakaat!”
(HR. Ibnu Hibban, no.2429)

Maksudnya: Kalau cara mengerjakan shalat Witir sama seperti shalat Maghrib, sehingga 3 rakaat Witir yang digabungkan memakai tasyahud awal di dalamnya, itu yang tidak dibolehkan. Karena menyerupai cara shalat Maghrib.

Bararti untuk pelaksanaan shalat Witir yang berjumlah 5 atau 7 rakaat itu pelaksanaannya sama menggunakan cara yang sudah dijelaskan di atas, yaitu; 2+2+1 atau 2+3, dan 2+2+2+1 atau 2+2+3.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Hadits tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam ingin agar ibadah sunnah tidak disamakan dengan ibadah wajib.”
(Syarhu Al-Mumti, 4:79)

Jadi, intinya kedua cara di atas boleh dilakukan, berdasarkan penjelasan beberapa dalil di atas.

2. Bacaan setelah salam shalat Witir.

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Maha suci Allah, raja yang maha suci (dibaca 3x, dan yang ketiga, beliau membacanya dengan suara keras dan panjang) Rabbnya para Malaikat dan Jibril.”
(HR. Ad-Daruquthni, 2:31)

Perlu diketahui, bahwa tidak ada doa setelah shalat Tarawih atau pun di sela Tarawih. Yang ada adalah doa setelah shalat Witir. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan beberapa macam doa setelah shalat Witir kepada umatnya.

-Subhaanal Malikil Qudduuus (maha suci Allah, raja yang maha suci).

Hadits lengkapnya: Dari Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah salam shalat Witir, beliau membaca: Subhaanal Malikil Qudduuus.”
(HR. Abu Dawud, no.1430)

Dari Sahabat Abdurrahman bin Abza radhiyallahu anhu, terdapat tambahan; “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat Witir dengan membaca surat Al-Ala (rakaat pertama), surat Al-Kaafirun (rakaat kedua) dan surat Al-Ikhlash (rakaat ketiga). Setelah salam, beliau membaca: Subhaanal Malikil Qudduuus 3x. Lalu beliau keraskan (panjangkan) bacaan yang ketiga.”
(HR. An-Nasai, no.1732)

Dari Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, beliau mengatakan: Di bagian akhir beliau membaca: Rabbil Malaaikati War Ruuuh.
(HR. Ad-Daruquthni, no.1660)

Dari beberapa riwayat di atas, dapat kita simpulkan terkait bacaan doa setelah shalat Witir, di antaranya;
– Doa ini dibaca tepat setelah salam shalat Witir.
– Doa yang awal dibaca sebanyak 3x.
– Pada bacaan yang ke-3, dikeraskan dan dipanjangkan: Subhaaanal Malikil Qudduuus.
• Lalu disambung dengan membaca: Rabbil Malaaikati War Ruuuh.

Kalimat Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati War Ruuuh adalah termasuk salah satu doa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika ruku atau sujud.

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca doa ketika ruku dan sujud beliau: Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati War Ruuuh (Maha suci, Maha qudus, RabbNya Malaikat dan ruh).”
(HR. Imam Muslim, no.752)

G. PANDUAN ITIKAF

1. Makna itikaf.
Berdiam diri di masjid umum yang diadakan padanya shalat berjamaah dengan niat beribadah kepada Allah taala di masjid tersebut, yang dilakukan oleh orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu, tata cara tertentu, di waktu tertentu.
(Ash-Shiyamu Fii Al-Islam, hlm.450-451)

2. Syarat itikaf.
•Pertama: Islam.
Karena ibadah yang dikerjakan orang kafir tidak sah (tertolak), sebagaimana firman Allah azza wa jalla;

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
(Surat Al-Furqan: ayat 23)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman;

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(Surat Al-Anam: ayat 88)

•Kedua: Berakal.
Karena orang yang gila tidak disyariatkan beribadah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ، عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ
“Pena diangkat dari 3 golongan, yaitu: Dari orang gila yang tertutup akalnya sampai dia sadar, dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia baligh.”
(HR. Abu Dawud, no.4401)

•Ketiga: Mumayyiz.
Yaitu berumur minimal 7 tahun dan telah memahami ibadah yang dia kerjakan, sudah bisa membedakan hal yang benar dan hal yang salah. Karena tidak sah itikaf anak kecil yang belum mumayyiz.

•Keempat: Berniat itikaf.
Karena setiap amalan tergantung pada niat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

إِنَّمَا الأعْمَالُ بَالْنيَاتِ، وَإنَّمَا لِكل امرئ مَا نَوَى، فمَنْ كَانَتْ هِجْرَتهُ إلَى اللّه وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتهُ إلَى اللّه وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرتُهُ لِدُنيا يُصيبُهَا، أو امْرَأة يتزوَّجُها فَهِجْرَتُه إلَى مَا هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka dia mendapatkan pahala hijrah kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya dinilai terhadap apa yang dia niatkan tersebut.”
(HR. Abu Dawud, no.2201)

Ada 3 macam keluar dari masjid saat itikaf;

-Keluar yang dibolehkan.
Keluar untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukan seperti buang hajat, sakit, berwudhu yang wajib, mandi wajib atau selainnya, demikian juga makan dan minum, apabila tidak disediakan makanan di masjid tempatnya itikaf.

-Keluar yang tidak dibolehkan.
Kecuali dengan melakukan persyaratan niat sejak awal itikaf, yaitu menjenguk orang sakit, mengunjungi orang tua, dan mengantar jenazah. Ini adalah keluar untuk melakukan ketaatan yang tidak diwajibkan, maka tidak boleh dilakukan kecuali apabila telah melakukan persyaratan dalam niat di awal itikaf.

Perhatian: Keluar jenis ini juga dibolehkan apabila ada hal yang darurat walau tanpa persyaratan, seperti membantu orang yang sakit keras dan tidak ada orang lain yang membantunya, atau mengurus jenazah yang tidak ada orang lain yang mengurusnya, apalagi orang sakit atau jenazah tersebut adalah orang yang wajib bagi orang yang beritikaf untuk membantu dan mengurusi, misal orang tuanya, istrinya, anak-anaknya dan semisalnya.

-Keluar yang tidak dibolehkan sama sekali, tidak dengan pensyaratan dan tidak pula tanpa persyaratan niat.
Jika dilakukan maka batal itikafnya, seperti keluar untuk jual-beli di pasar dan berhubungan badan, maka seperti ini tidak boleh meski pun dengan niat atau tanpa persyaratan dalam niat.

Persyaratan ini penting karena pada asalnya keluar masjid itu terlarang bagi orang yang beritikaf, kecuali dengan persyaratan atau karena darurat, sebagaimana dalam hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata;

السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ: أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا، وَلَا يَشْهَدَ جَنَازَةً، وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً، وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ، إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنْهُ، وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ، وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ
“Sunnah bagi orang yang beritikaf untuk tidak menjenguk orang yang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak juga berhubungan badan, tidak keluar karena suatu keperluan kecuali yang harus dilakukan dan tidak ada itikaf (yang lebih utama) kecuali dengan puasa, dan tidak ada itikaf selain di masjid yang digunakan shalat berjamaah.”
(HR. Abu Dawud, no.2135)

•Kelima: Itikaf dilakukan di masjid.
Sebagaimana firman Allah azza wa jalla;

وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan kalian beritikaf dimasjid.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

•Keenam: Itikaf di masjid yang dikerjakan padanya shalat berjamaah.
Ini syarat khusus bagi laki-laki, sebab shalat berjamaah wajib bagi laki-laki, apabila dia harus keluar masjid untuk melakukan shalat berjamaah di masjid lainnya, maka itu menafikan tujuan itikaf, yaitu berdiam diri di masjid, tidak banyak keluar.

Tidak dipersyaratkan masjid tersebut harus diadakan padanya shalat Jumat, karena keluar ke masjid lain untuk shalat Jumat tidak sering dilakukan. Namun, yang utama (afdhal) beritikaf di masjid yang diadakan shalat Jumat, sehingga tidak perlu keluar lagi ke masjid lain.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:509)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma pernah ditanya tentang seorang
(laki-laki) yang menyendiri berpuasa di siang hari dan shalat Tahajjud di malam hari namun, tidak ikut shalat Jumat dan shalat berjamaah, beliau berkata: Dia di Neraka. Maka menyendiri yang disyariatkan bagi umat Islam adalah itikaf di masjid, secara khusus di bulan Ramadhan, yaitu pada 10 hari terakhirnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
(Lathaif Al-Maarif, hlm.207)

Ada pun bagi wanita boleh beritikaf di masjid yang tidak dilakukan padanya shalat berjamaah, karena wanita tidak wajib shalat berjamaah, tetapi dengan syarat, itu adalah masjid umum, bukan masjid khusus di rumahnya, dan syarat lain bagi wanita yang ingin itikaf adalah meminta izin suami atau wali serta aman dari fitnah (seperti godaan antara laki-laki dan wanita, atau adanya bahaya seperti menimbulkan prasangka buruk dan pembicaraan yang tidak baik).
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:509-511)

Demikian juga orang yang diberi keringanan untuk tidak shalat berjamaah seperti karena sakit, maka boleh baginya beritikaf di masjid umum mana saja walau tidak diadakan shalat berjamaah.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:511)

Dan mushalla-mushalla khusus wanita baik di rumah, di sekolah atau di kantor tidak termasuk kategori masjid umum, maka tidak boleh digunakan untuk itikaf.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:52)

Ada pun pensyaratan itikaf hanya pada 3 masjid, yaitu Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha, maka haditsnya diperselisihkan oleh para ulama tentang keshahihannya. Meski pun shahih, maka maknanya yang benar adalah lebih utama (afdhal) beritikaf pada 3 masjid tersebut, dan bukan sebagai pembatasan syariat itikaf hanya pada 3 masjid tersebut.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:502)

3. Hukum itikaf.
Hukum itikaf adalah sunnah (kecuali karena nadzar, maka hukumnya wajib) berdasarkan dalil Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kalian bercampur dengan istri-istri kalian, sedangkan kalian sedang beritikaf di masjid!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

Istri Rasulullah, Aisyah radhiyallahu anha berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه
“Bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam beritikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau masih melakukan itikaf sepeninggal beliau.”
(HR. Imam Bukhari, no.2026)

Itikaf hukumnya sunnah berdasarkan ijma, dan tidak diwajibkan kecuali karena nadzar, hal ini berdasarkan ijma.
(Al-Majmu, 6:407)

Telah sepakat kaum muslimin, bahwa itikaf adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan termasuk amal shalih.
(Syarhu Al-Umdah, 2:711)

4. Tujuan itikaf.
Makna itikaf dan hakikatnya adalah memutuskan semua interaksi dengan makhluk demi menyambung hubungan dengan khidmah (fokus beribadah) kepada Allah, dan setiap kali menguat pengenalan seseorang terhadap Allah, kecintaan kepadaNya dan kenyamanan denganNya, maka akan melahirkan baginya keterputusan dari makhluk untuk berkosentrasi secara totalitas kepada Allah taala pada setiap keadaan.
(Lathaif Al-Maarif, hlm.191)

Hendaknya orang yang beritikaf menyerahkan dirinya, ruhnya, hatinya dan jasadnya secara totalitas untuk beribadah kepada Allah taala, demi mencari ridhaNya, menggapai kebahagian di SurgaNya, terangkat derajat di sisiNya dan menjauhkan diri dari semua kesibukan dunia yang dapat menghalangi seorang hamba untuk berusaha mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.
(Ash-Shiyamu Fii Al-Islam, hlm.459)

Sungguh menakjubkan, di tengah-tengah kesibukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk mendakwahi seluruh manusia, memimpin negara dan mengurus istri-istri, keluarga dan berbagai permasalahan umat Islam lainnya, beliau masih bisa beritikaf setiap tahun, memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, dan memutuskan diri dari segala kesibukan dunia serta mengurangi interaksi dengan makhluk.

Bahkan apabila beliau tidak sempat melakukannya, maka beliau akan mengqadhanya di bulan Syawwal atau di bulan Ramadhan berikutnya, beliau akan beritikaf 20 hari dan ini semua menunjukkan pentingnya itikaf dan termasuk sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah).

Beliau beritikaf demi meningkatkan ibadah kepada Allah azza wa jalla pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, karena inilah hari-hari yang paling afdhal di bulan Ramadhan, terutama waktu malamnya, lebih utama lagi pada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Namun, sangat disayangkan, masih banyak umat Islam termasuk kita, malah kehilangan semangat dan ruh ibadah di akhir-akhir bulan Ramadhan. Apabila di awal Ramadhan masjid-masjid sangat penuh dan sesak, lalu di akhir Ramadhan pasar, mall, jalan-jalan hingga tempat-tempat hiburan yang malah menjadi sangat penuh, ramai dikunjungi. Sungguh kita telah menyelisihi petunjuk Allah dan RasulNya. Allahul mustaan!

Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan melebihi waktu yang lainnya.”
(HR. Imam Muslim, no.1175)

Dalam riwayat yang lain;

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila masuk 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka beliau mengencangkan sarungnya (tidak berhubungan badan dan mengurangi makan-minum), menghidupkan malamnya (memperbanyak ibadah) dan membangunkan keluarganya juga (untuk beribadah kepada Allah).”
(HR. Imam Bukhari, no.2024)

5. Waktu itikaf.
Waktu itikaf adalah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, inilah yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum.

Tidak ada satu riwayat pun anjuran beritikaf selain pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, tidak di awal dan pertengahan Ramadhan, tidak pula di bulan-bulan yang lain, kecuali karena qadha atau nadzar, maka boleh dikerjakan di bulan yang lain. Dan nadzar itu sendiri hukum asalnya adalah makruh menurut pendapat terkuat namun, apabila sudah bernadzar maka wajib untuk ditunaikan.

Andaikan beritikaf selain pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan itu dianjurkan, tentu akan dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Jadi, tidaklah pantas menganjurkan manusia untuk beritikaf di selain 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi barang siapa melakukannya, maka tidak terlarang dan tidak dihukumi bidah, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu untuk menunaikan nadzar itikaf di selain 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:504-505)

Akan tetapi jika seseorang setiap kali masuk ke dalam masjid berniat itikaf, maka hendaklah diingkari dan tidak dilakukan, karena itu tidak termasuk sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:506)

Namun, jika dilakukan sewaktu-waktu (tidak setiap saat) maka hal ini dibolehkan. Wallahu alam.

6. Batas waktu itikaf.
Tidak ada batas waktu minimal dan maksimal yang dipersyaratkan untuk sahnya itikaf, yang afdhal adalah 10 hari dan malamnya secara penuh di akhir bulan Ramadhan. Namun, misalkan seseorang berhalangan untuk beritikaf secara penuh, maka tidak mengapa dia beritikaf sesuai kemampuannya.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjelaskan;
“Pendapat yang benar dalam masalah itikaf adalah tidak ada batas waktu maksimal dan minimalnya, tidak ada batas yang ditentukan, misal seseorang masuk masjid dan berniat itikaf 1 atau 2 jam, maka itu adalah itikaf.”
(Ash-Shiyamu Fii Al-Islam, hlm.461)

7. Waktu dimulai dan berakhirnya itikaf.
– Pertama: Mulai itikaf tanggal 21 Ramadhan dan masuk ke masjid sebelum terbenam matahari di tanggal 20 Ramadhan agar ketika terbenam matahari, orang yang beritikaf sudah ada di masjid, karena saat itu sudah masuk tanggal 21 Ramadhan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dan ini adalah pendapat yang dilihat lebih kuat, karena tidaklah disebut 10 hari yang terakhir kecuali dimulai sejak awal tanggal 21 Ramadhan, yaitu sejak terbenamnya matahari (masuk waktu Maghrib).

Demikian juga, ada kemungkinan lailatul qadr jatuh pada malam 21 Ramadhan, karena hal itu pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka seharusnya untuk mulai itikaf sejak awal malam 21 Ramadhan dan masuk sebelum matahari terbenam agar tidak luput sedikit pun waktunya, karena di antara tujuan penting itikaf adalah memperbanyak ibadah ketika lailatul qadr.

•Kedua: Mulai itikaf bada Shubuh tanggal 21 Ramadhan, berdalil dengan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha;

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ، ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ
“Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila hendak beritikaf maka beliau shalat Shubuh, kemudian masuk ke tempat itikafnya.”
(HR. Abu Dawud, no.2464)

Ini adalah pendapat sebagian ulama, akan tetapi ini adalah pendapat yang lemah, karena hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa beliau baru mulai beritikaf setelah shalat Shubuh, tetapi baru masuk ke tempat itikafnya, yaitu kemah yang disediakan untuk beliau, sebagaimana dalam riwayat lain yang lebih kuat, dari Aisyah radhiyallahu anha;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka aku membuatkan untuk beliau sebuah kemah, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke dalamnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2033)

Bahkan terdapat riwayat yang menegaskan bahwa beliau masuk ke tempat itikaf setelah shalat Shubuh di tempat yang telah beliau lakukan itikaf sebelumnya, bukan baru masuk pertama kali, yaitu riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu anha;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ، وَإِذَا صَلَّى الغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beritikaf di setiap bulan Ramadhan, maka apabila beliau telah shalat Shubuh, beliau masuk ke tempat yang telah beliau lakukan itikaf padanya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2041)

Ada pun waktu keluarnya, jumhur ulama berpendapat adalah terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan dan inilah pendapat yang terkuat, karena yang disyariatkan dan diniatkan adalah itikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, bukan bulan Syawwal. Dan sebagian ulama berpendapat bahwa yang afdhal adalah tetap di masjid dan keluar bersamaan dengan waktu menuju shalat Idul Fithri namun, ini adalah pendapat yang lemah, karena tidak didukung oleh dalil yang shahih lagi sharih (jelas), serta bertentangan dengan sunnah pada hari ied untuk berpenampilan bagus.
(Ash-Shiyamu Fii Al-Islam, hlm.469)

8. Amalan saat beritikaf.
Disunnahkan bagi orang yang beritikaf untuk memperbanyak ibadah kepada Allah azza wa jalla.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:500-501)

Di antara amalan yang seharusnya dilakukan saat itikaf adalah;
– Shalat-shalat sunnah
– Membaca dan menghafalkan Al-Quran
– Berdoa
– Berdzikir
– Istighfar (mohon ampunan Allah)
– Bertaubat
– Menghindari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat dan yang haram namun, tidak disyariatkan juga untuk berniat ibadah dengan cara diam, tidak mau bicara sama sekali
– Mengurangi interaksi dan pembicaraan dengan orang-orang, agar lebih banyak beribadah dan lebih khusyu
– Tidak dianjurkan untuk memperbanyak majelis ilmu, kecuali satu atau dua kali dalam sehari, dan hendaklah lebih fokus beribadah khusus secara pribadi atau shalat berjamaah

9. Hal mubah saat itikaf.
• Keluar masjid untuk menunaikan hajat yang harus dilakukan, baik secara tabiat mau pun syariat, seperti;
– Keluar untuk buang hajat
– Keluar untuk makan dan minum apabila tidak tersedia di masjid (tempat itikaf)
– Keluar untuk berwudhu atau mandi jinabah
– Keluar untuk shalat Jumat
– Keluar untuk bersaksi apabila diwajibkan atasnya
– Keluar karena mengkhawatirkan suatu fitnah yang mengancam diri, keluarga, anak atau harta
– Keluar untuk melakukan sesuatu yang wajib atau meninggalkan yang haram

Maka tidak batal itikaf seseorang, apabila keluarnya karena alasan-alasan di atas, dan hendaklah segera kembali ke masjid (tempat itikaf) apabila hajat-hajatnya tersebut sudah selesai ditunaikan.

Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila beritikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku (tanpa keluar dari masjid) dan aku menyisir rambut beliau dan beliau tidak masuk ke rumah, kecuali karena hajat sebagai manusia.”
(HR. Imam Muslim, no.297)

• Boleh membiasakan satu tempat di masjid untuk beritikaf dan boleh juga membuat kemah kecil untuk beritikaf di dalamnya.
Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka aku membuatkan untuk beliau sebuah kemah, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke dalamnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2033)

• Boleh dikunjungi oleh keluarga dan berbicara dengan mereka serta mengantarkan mereka kembali pulang apabila dibutuhkan.
Sebagaimana dalam hadits Shafiyyah radhiyallahu anha;

أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي المَسْجِدِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً، ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَا
“Bahwasannya beliau mengunjungi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika sedang beritikaf di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka beliau berbicara bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beberapa saat, kemudian bangkit untuk kembali pulang, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun bangkit bersamanya untuk mengantarkannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2035)

• Boleh makan dan minum di masjid dengan tetap menjaga kebersihan.
Sahabat Abdullah bin Al-Harits bin Jaz’in Az-Zubaidi radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ
“Dahulu kami makan roti dan daging pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di masjid.”
(HR. Ibnu Hibban, no.1657)

10. Pembatal itikaf.
• Keluar masjid dengan sengaja tanpa adanya kebutuhan.
Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata;

وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak masuk ke rumah kecuali karena hajat sebagai manusia.”
(HR. Imam Muslim, no.297)

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata;
“Ulama sepakat bahwa orang yang keluar dari tempat itikafnya di masjid tanpa hajat dan tanpa alasan darurat, bukan juga karena suatu kebaikan yang diperintahkan atau disunnahkan, maka itikafnya telah batal.”
(Maratibu Al-Ijma, hlm.74)

• Berhubungan badan (jima).
Sebagaimana firman Allah azza wa jalla;

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kalian berjima dengan istri-istri kalian, sedang kalian beritikaf di masjid.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

• Keluar dari Islam (murtad), hal itu dapat membatalkan itikaf bahkan dapat menghapus seluruh amalan ibadah yang telah dikerjakan dan menghalangi diterimanya ibadah yang akan dikerjakan.
Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barang siapa kafir dengan keimanan, maka terhapuslah amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”
(Surat Al-Maidah: ayat 5)

Allah juga berfirman;

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(Surat Al-Anam: ayat 88)

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِالله وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya.”
(Surat At-Taubah: ayat 54)

H. PANDUAN ZAKAT FITHRI

Mengakhiri bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, Allah azza wa jalla mensyariatkan kepada umat Islam beberapa ibadah agung dan mulia, yang bisa menambah keimanan kita kepada Allah, serta bisa semakin melengkapi nikmat Allah azza wa jalla. Ibadah tersebut adalah zakat fithri.

Zakat fithri diwajibkan atas setiap umat Islam. Zakat fithri ditunaikan dengan mengeluarkan satu sha (sekitar 3kg) bahan makanan pokok, sebagai pembersih bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa dan sebagai bahan makanan bagi orang-orang miskin.

Dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata;

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia, serta perkataan keji dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”
(HR. Abu Dawud, no.1609. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan)

Karena zakat fithri ini merupakan kewajiban kita semua, maka hendaklah kita melaksanakannya dengan benar dalam rangka mentaati perintah Allah dan RasulNya. Hendaklah kita mengeluarkan zakat untuk diri kita dan orang-orang yang berada dalam tanggungan kita.

Seharusnya kita memilih bahan makanan pokok terbaik yang kita mampu dan yang paling bermanfaat, karena zakat ini hanya satu sha dalam setahun. Dan dikarenakan juga tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu dan bisa menjamin bahwa dia akan bisa melaksanakan zakat ini kembali pada tahun yang akan datang.

Apakah kita mau dan rela berbuat bakhil untuk diri kita sendiri yaitu dengan mengeluarkan zakat dari bahan makanan pokok yang jelek atau yang lebih jelek dari yang kita konsumsi? Jawabannya: Tentu tidak!

Janganlah kita menunaikannya dengan membayarkan atau mengeluarkan uang sebagai ganti dari bahan makanan pokok, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, padahal saat itu alat tukar yang sejenis dengan uang sudah ada namun, mereka tidak membayarkan zakat fithri mereka dengan dinar dan dirham yang mereka miliki. Ini menunjukkan hal tersebut tidak disyariatkan atau tidak boleh dilakukan.

Barang siapa menunaikan zakat ini dengan menggunakan uang sebagai ganti dari bahan makanan pokok, maka ibadah zakatnya dikhawatirkan tidak diterima oleh Allah azza wa jalla, karena menyelisihi apa yang telah dicontohkan dan diwajibkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Hendaklah kita menunaikan zakat fithri dan memberikannya kepada orang-orang miskin di sekitar kita, terutama kepada orang-orang miskin yang masih ada hubungan kekeluargaan dengan kita, dan mereka tidak termasuk orang-orang yang wajib kita nafkahi.

Dibolehkan, jika satu orang miskin diberi 2 zakat fithri atau lebih, atau sebaliknya satu zakat fithri dibagikan kepada dua orang miskin. Berdasarkan hal ini, jika ada satu keluarga yang mengumpulkan zakat fithri mereka, lalu diberikan kepada satu orang miskin, maka itu boleh. Dan jika zakat yang kita berikan itu dipergunakan lagi oleh si penerima zakat, misal untuk membayar zakat dirinya dan keluarganya, maka itu juga dibolehkan.

Tunaikanlah zakat fithri pada hari raya sebelum shalat, karena itu yang terbaik. Namun, diperbolehkan juga mengeluarkan zakat fithri 1 hari atau 2 hari sebelum hari raya. Juga tidak boleh menunda zakat fithri sampai setelah shalat hari raya, kecuali karena ada udzur syari, misalnya berita tentang hari raya datang mendadak dan tidak memungkinkan dia untuk mengeluarkannya sebelum shalat, karena waktunya yang sangat singkat.

Apabila kita telah berniat hendak mengeluarkan dan menyerahkan zakat fithri kita untuk seseorang, lalu orang tersebut tidak kunjung kita temukan sementara shalat sudah akan dilaksanakan, maka hendaknya kita memberikannya kepada orang lain. Jangan sampai kita kehilangan waktu tersebut! Jika kita sudah berniat hendak menyerahkannya kepada orang tertentu yang kita pandang paling berhak namun, tak kunjung kita temukan orangnya, maka kita bisa meminta kepada orang lain untuk mewakili orang tersebut dan menyerahkan zakat tersebut kepada orang yang kita maksudkan jika sudah bertemu.

1. Golongan yang berhak menerima zakat fithri (mustahik zakat).
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّـغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”
(HR. Abu Dawud, no.1609)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata;
“Ada pun di antara petunjuk dari Rasulullah adalah mengkhususkan sedekah ini (zakat fithri) untuk orang-orang miskin saja dan beliau tidaklah membaginya kepada golongan yang 8, tidak pernah memerintahkannya dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat melakukannya, serta tidak pula dilakukan oleh orang-orang yang datang setelah mereka. Bahkan ini merupakan salah satu dari dua pendapat madzhab kami bahwa zakat fithri tidak boleh disalurkan kecuali kepada orang-orang miskin saja dan inilah pendapat yang rajih (kuat) dari pendapat yang mewajibkan pembagiannya kepada golongan yang 8 tersebut.”
(Zaadu Al-Maad, 2:21)

Ada pun 8 golongan yang dimaksud adalah: Faqir, miskin, amil (pengurus zakat), muallaf (orang yang masuk Islam), budak yang ingin merdeka, orang yang memiliki utang, orang yang berjihad di jalan Allah dan musafir yang butuh bekal. Sebagaimana tercantum di dalam Al-Quran, surah At-Taubah: ayat 60, mereka semua berhak untuk menerima zakat harta (maal) atau sedekah sunnah, bukan zakat fithri.

2. Tempat mengeluarkan zakat fithri.
Mengenai tempat mengeluarkannya yaitu: Di daerah atau negeri ketika zakat itu dipungut dan dikumpulkan, kecuali apabila kebutuhan orang-orang di tempat tersebut telah tercukupi dan tidak diketahui lagi pihak yang berhak menerimanya, maka boleh disalurkan ke daerah atau negeri lain.

Namun, perlu diingat bahwa pembagian zakat tidak harus disamaratakan dari satu orang miskin dengan miskin lainnya, amil boleh memberikan zakat lebih banyak kepada orang yang lebih membutuhkannya, di sisi lain juga seseorang yang hendak mengeluarkan zakatnya, boleh langsung mendatangi orang miskin yang dikehendakinya, tanpa perlu menitipkannya kepada amil zakat.

• Bolehkah diserahkan untuk keluarga, kerabat atau saudara yang miskin?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya;
“Apakah aku boleh mengeluarkan zakat maal atau zakat fithri untuk saudara-saudariku yang kekurangan, yang telah diasuh oleh ibuku sejak ayahku meninggal? Beliau rahimahullah menjawab: Memberi zakat kepada kerabat yang terhitung keluarga adalah lebih utama dari pada memberikan kepada selain mereka, karena sedekah kepada kerabat adalah termasuk sedekah sekaligus menyambung tali silaturrahim. Kecuali bila kerabatmu itu termasuk orang-orang yang wajib dinafkahi olehmu (tanggungan), maka memberi mereka dengan zakatmu itu tidak diperbolehkan.”
(Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

3. Waktu mengeluarkan zakat fithri.
Zakat fithri atau fitrah adalah zakat yang ditunaikan karena berkaitan dengan waktu hari raya idul fithri, sehingga waktunya pun dekat dengan waktu hari perayaan tersebut. Waktu pembayaran zakat itu ada dua macam;
– Waktu utama (afdhal): Mulai dari terbit fajar pada hari idul fithri, hingga dekat waktu pelaksanaan shalat Id.
– Waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum Id, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sahabat Ibnu Umar.
(Minhaju Al-Muslim, hlm.231)

Yang menunjukkan waktu afdhal tersebut adalah hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata;

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ
“Barang siapa yang menunaikan zakat fithri sebelum shalat (Id), maka zakatnya diterima dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah lainnya.”
(HR. Abu Dawud, no.1609. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sedangkan dalil yang menunjukkan waktu dibolehkan satu atau dua hari sebelum shalat Id adalah;

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رضى الله عنهما يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari raya idul fithri.”
(HR. Imam Bukhari, no.1511)

Ada juga sebagian ulama yang membolehkan zakat fithri ditunaikan 3 hari sebelum idul fithri.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ
“Abdullah bin Umar memberikan zakat fithri atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya idul fithri.”
(Al-Umm, 8:737)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan;
“Seandainya zakat fithri jauh-jauh hari sebelum idul fithri telah diserahkan, maka tentu saja hal ini tidak akan mencapai maksud disyariatkannya zakat fithri yaitu untuk memenuhi kebutuhan si miskin di hari idul fithri. Ingatlah, bahwa sebab diwajibkannya zakat fithri adalah hari idul fithri, di hari yang tidak lagi berpuasa, sehingga zakat ini pun disebut zakat fithri. Karena maksud zakat fithri adalah untuk mencukupi si miskin di waktu yang khusus (yaitu hari idul fithri), maka tidak boleh didahulukan jauh hari sebelum waktunya.”
(Al-Mughni, 4:301)

4. Pihak yang wajib menunaikan zakat fithri.
Zakat fithri wajib ditunaikan oleh;
– Setiap muslim, karena untuk menutupi kekurangan puasa yang disebabkan dengan perkara sia-sia dan kata-kata kotor
– Setiap yang mampu mengeluarkan zakat fithri

Menurut mayoritas ulama, batasan mampu di sini adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari idul fithri. Jadi, apabila keadaan seseorang seperti ini, berarti dia dikatakan mampu dan wajib mengeluarkan zakat fithri. Orang seperti ini yang disebut ‘ghani’ (berkecukupan), sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ
“Barang siapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam.”
(HR. Abu Dawud, no.1435)

Dari syarat di atas, menunjukkan bahwa kepala keluarga wajib membayar zakat fithri orang yang dia tanggung nafkahnya.
(Mughni Al-Muhtaj, 1:595)

Menurut Imam Malik, ulama Syafiiyah dan mayoritas ulama, suami bertanggung jawab terhadap zakat fithri si istri karena istri menjadi tanggungan nafkah suami.
(Al-Minhaj, 7:59)

Penjelasan di atas, menunjukkan bahwa jika kita masih jadi tanggungan orang tua, maka zakat fithri tersebut masih jadi tanggungan orang tua. Namun, kalau kita sudah bisa mandiri, maka sebaiknya kita menunaikan zakat tersebut sendiri untuk diri kita sendiri. Wallahu alam.

Sebagai penutup, Penulis berdoa kepada Allah semoga dengan penjelasan ilmu yang ada pada tulisan ini, bisa bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca. Sehingga kita bisa beramal dan beribadah kepada Allah dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu.

Maka teruslah minta ampunan Allah di bulan Ramadhan! Jangan sampai diri kita celaka, yakni mendapatkan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan namun, diri kita tidak mendapatkan ampunan dari Allah azza wa jalla.

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan amin sebanyak tiga kali tatkala Malaikat Jibril alaihissalam berdoa.

الصَّحَابَةُ: أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّه قَالَ: جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْلَهُ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّانِيَةُ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ: آمِِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّالِشَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ آمِيْن
“Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan Aamiin. Beliau menjawab: Jibril telah mendatangiku, kemudian dia berkata: Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni, maka aku menjawab: Aamiin. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka dia berkata: Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya, lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu, maka aku menjawab: Aamiin. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, dia berkata: Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya namun, mereka tidak memasukkannya ke dalam Surga, maka aku jawab: Aamiin.”
(HR. Al-Hakim, 4:154)

Silakan, baca secara perlahan, pahami lalu amalkan!

Semoga Allah beri kemudahan kepada kita untuk mempelajarinya, mengamalkannya dan mendakwahkannya dengan istiqamah. Aamiin
_____
@Kota Angin Majalengka, Jawa Barat.
Rabu, 30 Syaban 1439H/16 Mei 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here