Beranda Belajar Islam Apa Itu Riba?

Apa Itu Riba?

693
0
BERBAGI

Apa Itu Riba?
(Membahas riba secara ringkas dan tuntas)

A. Pengertian Riba

1. Secara bahasa
Riba menurut bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Riba adalah penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada Peminjam.
(Wikipedia)

Kata riba berasal dari kalimat;
رَبَا يَرْبُوْ رَبْوًا وَرَبًا
Artinya: Bertambah, berlipat, bertumbuh. Dengan kata lain, riba bermakna tambahan.
(Lisan Al-Arab)

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai orang-orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 276)

Dari kalimat وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ diambil istilah riba, yang hukumnya adalah haram, sebagaimana Allah azza wa jalla menjelaskan;

وَمَآ ءَاتَيْتُمْ مِّنْ رِّبًا لِّيَرْبُوَا۠ فِىٓ أَمْوٰلِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُوا عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَآ ءَاتَيْتُمْ مِّنْ زَكٰوةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ
“Dan riba (tambahan) yang kalian berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak akan bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kalian berikan berupa zakat yang kalian maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang melipat-gandakan (pahalanya).”
(Surat Ar-Rum: ayat 39)

2. Secara istilah
Menurut linguistik (ilmu bahasa) riba juga berarti tumbuh dan membesar. Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil (salah). Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, tetapi secara umum terdapat benang merah yang menegaskan, bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.
(Wikipedia)

Riba adalah akad pertukaran barang tertentu dengan tidak diketahui, bahwa kedua barang yang ditukar itu sama nilainya dalam pandangan syariat, baik dilakukan saat akad ataupun dengan menangguhkan (mengakhirkan) dua barang yang ditukarkan atau salah satunya. Seperti; pertukaran sesama mata uang, baik berupa emas, perak, gandum dan jenis mata uang lainnya.
(Mughni Al-Muhtaaj)

Misalnya: Perak dijual atau ditukar dengan perak, rupiah dengan rupiah, maka harus sama jumlah atau nilainya (tunai) dan harus diserahkan secara langsung. Setiap tambahan atau kelebihan jumlah pada salah satu komoditas (barang dagangan atau benda niaga) yang ditukar atau keterlambatan penyerahannya, maka itu adalah riba.

Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ
“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, syair (salah satu jenis gandum) dijual dengan syair, kurma dijual dengan kurma dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara langsung (uang diserahkan, barang diterima). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka dia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya, sama-sama berada dalam dosa.”
(HR. Imam Muslim, no.1584)

Pada hadits tersebut, terdapat dua penjelasan;
a. Jika barang yang sejenis ditukar, semisal emas dengan emas atau gandum dengan gandum, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu: tunai (langsung) dan sama atau senilai dalam takaran atau timbangannya.
b. Jika barang berbeda jenis dan masih satu illah atau satu kelompok ditukar, maka hanya ada satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu: tunai (langsung), meskipun dalam takaran atau timbangan salah satunya berbeda.

Lalu, apakah barang ribawi hanya terbatas pada enam komoditas yang sudah dijelaskan di atas?

Para ulama mengqiyaskannya dengan barang lain yang semisalnya. Namun, mereka berselisih pendapat mengenai illah (sebab), di antara penjelasannya;

– Menurut ulama Hanafiyah dan Hanbaliyah;
“Illah pada emas dan perak, karena keduanya adalah barang yang ditimbang, sedangkan empat komoditas lainnya adalah barang yang ditakar.

– Menurut ulama Malikiyah;
“Illah pada emas dan perak, karena keduanya sebagai alat tukar secara umum atau sebagai barang berharga untuk alat tukar dan sebab ini hanya berlaku pada emas dan perak. Sedangkan, untuk empat komoditas lainnya, karena sebagai makanan pokok yang dapat disimpan.

– Menurut ulama Syafiiyah;
“Illah pada empat komoditas, yaitu karena mereka sebagai makanan. Ini perkataan terbaru ketika di Mesir dari Imam Syafii. Sedangkan, menurut perkataan yang lama ketika di Baghdad dari Imam Syafii, beliau berpendapat bahwa ke empat komoditas tersebut memiliki illah yaitu sebagai makanan yang dapat ditakar atau ditimbang. Ulama Syafiiyah lebih menguatkan perkataan terbaru dari Imam Syafii. Sedangkan untuk emas dan perak, karena keduanya sebagai alat tukar atau sebagai barang berharga untuk alat tukar.

– Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah;
“Illah pada empat komoditas adalah sebagai makanan yang dapat ditakar atau ditimbang. Sedangkan pada emas dan perak adalah sebagai alat tukar secara mutlak. Sehingga semisal emas dan perak memiliki illah yang sama, yaitu mata uang berupa logam ataupun kertas.

– Pendapat yang dilihat lebih kuat dalam masalah ini, sebagaimana ini adalah pendapat dari Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsri adalah dengan menggabungkan illah yang ada. Kita dapat menyimpulkan bahwa untuk emas dan perak karena sebagai alat tukar. Oleh karena itu, mata uang dimisalkan dengan emas dan perak. Sedangkan untuk empat komoditas lain, illahnya karena mereka adalah makanan yang dapat ditakar atau ditimbang. Oleh karena itu, berlaku juga riba dalam beras dan daging, karena keduanya adalah makanan yang dapat ditakar atau ditimbang. Sebagai contoh, jika kita menukar beras jelek dengan beras bagus, maka harus tunai dan salah satunya tidak boleh berlebih (berbeda) dalam hal timbangannya.

Maka kami nasihatkan, bagi teman-teman yang ingin membeli atau menjual emas, untuk menggunakan cara langsung bertemu dengan pihak yang akan menjual atau membeli emas. Dengan cara itu, transaksi yang dilakukan akan bebas dan selamat dari riba, sehingga rezeki yang didapatkan menjadi rezeki yang Allah berkahi. Jadi jangan menggunakan cara online atau ekspedisi (jasa pengiriman)! Karena hal tersebut yang membuat transaksinya menjadi haram, karena mengandung unsur riba fadhl.

Contoh lain: Jika kita meminjamkan uang kepada teman, lalu qadaarullah sampai pada waktu yang telah disepakati, teman tersebut belum bisa melunasinya tepat waktu, maka kita tidak boleh memberikan penambahan nominal yang harus dilunasinya, sebagai sanksi untuknya yang telat membayar, dengan istilah yang lebih populer yaitu denda dan hal ini termasuk riba.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, maka riba hukumnya haram menurut Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma ulama.

Allah azza wa jalla berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum diambil), jika kalian orang-orang yang beriman!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 278)

Allah juga berfirman;

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 275)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا أَضْعٰفًا مُّضٰعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda!) bacaannya ada yang memakai alif dan ada juga yang tidak, maksudnya adalah memberikan tambahan pada harta yang diutang atau yang ditangguhkan pembayarannya dari tempo yang telah ditetapkan (dan bertakwalah kalian kepada Allah) dengan menghindarinya! (Supaya kalian mendapatkan keberuntungan) atau hasil yang gemilang.”
(Surat Ali Imran: ayat 130)

Selain dari Al-Quran, terdapat banyak juga hadits-hadits Rasulullah yang mengharamkan riba.

Sahabat Jabir radhiyallahu anhu berkata;

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ. وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya dan dua saksinya, lalu beliau bersabda: Mereka semua sama.”
(HR. Imam Muslim, no.1598)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ! وَذَكَرَ مِنْهُنَّ: آكِلَ الرِّبَا
“Jauhilah tujuh perkara yang membawa kehancuran! Dan beliau menyebutkan di antaranya: Memakan riba.”
(HR. Imam Bukhari, no.2766)

Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ، فَهُوَ حَرَامٌ، بِغَيْرِ خِلَافٍ
“Setiap utang yang dipersyaratkan adanya tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama (disepakati).”
(Al-Mughni, 6:436)

B. Macam-Macam Riba

1. Riba fadhl
Riba yang terjadi pada transaksi barang yang sejenis, disebabkan adanya tambahan.

Riba fadhl merupakan riba yang muncul karena adanya jual-beli atau pertukaran barang ribawi yang sejenis namun, berbeda kadar atau takarannya.

Misalnya: 2 kg gandum yang bagus (berkualitas) ditukar dengan 3 kg gandum yang sudah berkutu.

• Kasus: Menukar emas 20 karat dengan emas 18 karat dan salah satunya dilebihkan dalam hal timbangan. Atau menukar uang 5.000,- dengan pecahan 1.000,- tapi hanya dengan 4 lembar. Sehingga nominalnya hanya 4.000,-

Sebagai contoh dari kasus tersebut, ada beberapa kasus riba yang biasa dilakukan oleh masyarakat tanpa disadari.

• Contoh: Si A adalah seorang penjual bakso. Ketika ada Pembeli yang ingin membeli baksonya seharga 10.000,- dan Pembeli tersebut membayarnya dengan uang pecahan 20.000,-. Maka si A harus mengembalikan uang tersebut senilai 10.000,-. Dikarenakan si A hanya memiliki uang pecahan 20.000, 50.000, 100.000 dan tidak memiliki uang receh atau pecahan 10.000,- maka si A mengatakan kepada si B: “Saya mau menukar uang 20.000,- dengan pecahan 10.000,- menjadi 2 lembar, bisa?” Si B mengatakan: “Saya hanya punya uang pecahan 10.000,- 1 lembar. Sisa 1 lembarnya saya berikan nanti saja, bagaimana?” Lalu si A mengatakan: “yasudah, tidak mengapa”. Maka si B menyerahkan uangnya senilai 10.000,- dan si A menyerahkan uangnya senilai 20.000,-. Pada kasus semacam ini hukumnya adalah riba dan tidak boleh dilakukan. Karena adanya keterlambatan penyerahan uang dan perbedaan nominalnya.

• Solusi: Si A bisa meminjam uang si B terlebih dahulu dengan nominal yang dibutuhkannya, yaitu 10.000,- lalu nanti bisa dibayar sesuai kesepakatan. Jadi akadnya bukan tukar, tapi utang. Karena berbeda akad dan cara, beda juga hukumnya.

2. Riba nasiah
Riba yang terjadi pada transaksi barang sejenis atau beda jenis namun, masih dalam satu sebab (illah) dan terdapat tambahan dalam takaran atau timbangan, dikarenakan waktu penyerahan yang tertunda (tempo).

Riba nasiah merupakan riba yang muncul karena jual-beli atau pertukaran barang ribawi tidak sejenis yang dilakukan secara utang (tempo) dan adanya tambahan nilai transaksi, karena perbedaan atau penangguhan waktu transaksi (tempo).

Misalnya: Si A pinjam uang kepada si B sebesar 10.000,- dengan tempo 1 pekan, jika pengembalian lebih dari satu pekan, maka akan ditambah 1.000,-. Jadi total yang harus dibayar adalah 11.000,-

• Kasus: Membeli emas dengan cara menukar uang dengan emas, tapi uangnya tertunda, yakni dibeli secara kredit (utang). Atau sebaliknya, membeli emas secara tunai namun, emasnya diberikan belakangan atau adanya jeda penyerahan emas tersebut, misal karena dikirimkan melalui ekspedisi dan semisalnya.

• Contoh: si A tinggal di daerah Majalengka, dia membeli emas kepada si B yang berada di daerah Cirebon. Karena jaraknya yang cukup jauh, maka mereka melakukan transaksi dengan cara yang mereka anggap lebih mudah. Yaitu si A membayarnya dengan mengirimkan uangnya melalui transfer ke rekening bank si B dan si B mengirimkan emasnya tersebut kepada si A melalui ekspedisi atau mengantarkannya beberapa waktu setelahnya. Transaksi semacam ini termasuk riba dan tidak boleh dilakukan oleh siapa pun dan kapan pun.

• Solusi: Si A bisa mengajak si B untuk ketemuan di suatu tempat, guna melakukan transaksi secara langsung. Sehingga si A bisa menyerahkan uangnya secara langsung kepada si B dan si B juga bisa menyerahkan langsung emasnya kepada si A.

• Contoh: Si A membeli emas (anting) sebesar 1 gram di toko emas si B. Dengan berbagai alasan, seling beberapa hari si A berencana untuk mengganti anting emas yang dibelinya dengan ukuran yang sebesar 2 gram. Datanglah si A ke toko emas si B kembali, lalu si A mengatakan: “Saya mau tukar-tambah anting ukuran 1 gram ini dengan ukuran yang 2 gram. Berapa biaya lagi yang harus saya bayarkan untuk menambahnya?” Maka si B menjawab: “400.000,- lagi”. Praktik semacam ini adalah praktik riba yang sudah dianggap wajar dan dimaklumi oleh sebagian masyarakat. Padahal itu adalah sesuatu yang haram dan tidak boleh dilakukan oleh siapa pun dan kapan pun.

• Solusi: Seharusnya, jika si A ingin mengganti model anting emasnya dengan ukuran yang berbeda, maka tidak dengan sistem tukar-tambah, tapi si A jual terlebih dahulu anting emas miliknya kepada si B, lalu setelah si A mendapatkan uang hasil jual anting emasnya, barulah si A membeli anting emas yang diinginkannya, dengan menambahkan beberapa rupiah, sesuai dengan harga emas tersebut.

3. Riba qardh
Riba dalam utang-piutang dan disyaratkan adanya penambahan nominal (bunga) atau timbal balik berupa pemanfaatan. Seperti halnya seseorang berutang namun, dipersyaratkan oleh orang yang memberikan utang untuk dibolehkan memanfaatkan barang-barang milik orang yang berutang.

Riba qardh merupakan riba yang muncul karena tambahan atas pokok pinjaman yang dipersyaratkan di awal oleh si Pemberi pinjaman kepada si Peminjam yang diambil sebagai keuntungan.

Misalnya: Si A memberikan pinjaman kepada si B senilai 500.000,- dan wajib mengembalikannya senilai 700.000,- saat jatuh tempo dan kelebihan uang ini tidak dijelaskan peruntukannya.

• Kasus: Si A meminjamkan uang sebesar 100.000,- kepada si B, lalu disyaratkan mengembalikan 110.000,- atau disyaratkan selama masa utang, HP si B digunakan oleh si A (Pemberi utang). Kasus semacam ini termasuk riba qardh, karena para ulama sepakat: “setiap utang yang mendapatkan keuntungan, maka itu adalah riba”.

Selain contoh kasus tersebut, ada beberapa kasus riba yang biasa dilakukan oleh masyarakat tanpa disadari.

• Contoh: Si A sedang berada di suatu tempat, lalu si B menghubungi si A dan mengatakan: “Saya mau minta tolong belikan gorengan dan tolong uangnya ditalangi dulu ya! Nanti uangnya saya ganti di rumah”. Setelah itu, si A datang ke rumah si B sambil membawa pesanannya. Si B membukakan pintu rumahnya, lalu mempersilakan si A untuk masuk ke dalam rumahnya. Si A mengatakan kepada si B: “ini pesananmu tadi”. Lalu si B menerimanya, kemudian menawarkan dan memberikan gorengan tersebut kepada si A untuk ikut menyicipinya dan si A pun memakannya. Maka pada kasus semacam ini, hukumnya adalah riba dan tidak boleh dilakukan. Sebabnya, karena si A mendapatkan keuntungan atau pemanfaatan dari utang yang diberikannya kepada si B, yaitu berupa memakan gorengan yang dibelikannya untuk si B.

• Solusi: Seharusnya, jika ingin transaksi tersebut selamat dari hukum riba, si B menyelesaikan transaksi utangnya kepada si A terlebih dahulu, ketika utangnya sudah dibayarkan, lalu tawarkan gorengan tersebut kepada si A. Sehingga ketika si A ikut memakan gorengan tersebut menjadi halal hukumnya, karena dia sudah tidak ada hubungan utang-piutang dengan si B.

Pada contoh kasus semacam itu, biasa ditemukan juga pada akad gadai.

• Contoh: Si A sedang membutuhkan uang senilai 500.000,- lalu dia menggadaikan HP-nya kepada si B. Ketika itu si B menyerahkan uangnya senilai 500.000,- kepada di A dan si A menyerahkan HP-nya kepada si B. Lalu si B menggunakan HP tersebut untuk kepentingannya, meskipun hanya sebentar, itu tetap dikatakan sebagai riba dan hukumnya haram.

• Solusi: Seharusnya, ketika si A menggadaikan HP-nya kepada si B, karena sedang membutuhkan uang, maka si B tidak boleh menggunakan atau memanfaatkan HP milik si A sedikitpun.

C. Jenis Jual-Beli Yang Mengandung Riba

Setelah kita memahami macam-macam riba, maka selanjutnya kita akan mempelajari beberapa contoh jual-beli yang mengandung riba, di antaranya;

1. Jual-beli inah.
Seseorang menjual barang secara tidak tunai (kredit) kepada seorang pembeli, kemudian dia membelinya kembali dari pembeli tersebut secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mensiasati agar bisa mendapat keuntungan dalam transaksi utang-piutang.

• Contoh: Seorang si A adalah Pemilik sawah. Karena sedang ada kebutuhan, maka si A ingin meminjam uang kepada si B. Karena pada saat itu si B belum punya uang tunai, maka si A mengatakan: “Saya jual sawah ini kepadamu secara kredit senilai 100 juta dengan tempo pelunasan sampai 2 tahun”. Sebulan setelah itu, si A mengatakan kepada si B: “Saat ini saya akan membeli tanah tersebut kembali dengan harga 80 juta, secara tunai”.

Artinya: Si A (Pemilik sawah) sebenarnya melakukan akal-akalan. Dia ingin meminjamkan uang 80 juta dengan pengembalian lebih, menjadi 100 juta. Dan sawah tersebut hanya sebagai perantara. Sebetulnya, keuntungan dari utang tersebutlah yang ingin dicarinya. Inilah yang disebut transaksi inah dan ini termasuk di antara trik riba. Karena setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.

Mengenai hukum jual beli inah, para Fuqaha (ahli fikih) berbeda pendapat, dikarenakan penggambaran jual-beli tersebut yang berbeda-beda.

Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat; tidak membolehkan jual-beli inah. Sedangkan Imam Syafii membolehkannya, karena beliau hanya melihat dari akad secara lahiriyah, sehingga menganggap sudah terpenuhinya rukun dan tidak memperhatikan adanya niat di balik itu.

Namun, pendapat yang dianggap lebih tepat dan mendekati kebenaran, mengenai hukum jual-beli inah adalah jual-beli yang diharamkan. Di antara alasannya;

– Pertama: Untuk menutup rapat jalan menuju transaksi riba. Jika jual-beli ini dibolehkan, sama saja membolehkan kita menukarkan uang 100 juta dengan 80 juta namun, yang salah satunya tertunda, tidak tunai. Ini sama saja dengan riba.
– Kedua: Mengenai larangan jual-beli inah dijelaskan juga oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian berjual-beli dengan cara inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.”
(HR. Abu Dawud, no.3462. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

2. Jual-beli muzabanah dan muhaqalah.
Muzabanah adalah setiap jual-beli pada barang yang tidak diketahui takaran, timbangan atau jumlahnya, lalu ditukar dengan barang lain yang sudah jelas takaran, timbangan atau jumlahnya.

• Contoh: Menukar kurma yang sudah ditimbang dengan kurma yang masih di pohon. Di sini terdapat riba, karena tidak ada kejelasan mengenai takaran kedua kurma yang akan ditukar. Padahal syarat ketika menukar barang ribawi yang sejenis, maka harus tunai (langsung) dan takarannya harus sama.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ الْمُزَابَنَةِ. وَالْمُزَابَنَةُ اشْتِرَاءُ الثَّمَرِ بِالتَّمْرِ كَيْلاً، وَبَيْعُ الْكَرْمِ بِالزَّبِيْبِ كَيْلاً
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari jual-beli muzabanah. Yang dimaksud muzabanah adalah seseorang membeli buah (yang masih di pohon) ditukar dengan kurma yang sudah ditimbang atau membeli anggur yang masih di pohon, lalu ditukar dengan anggur yang sudah ditimbang.”
(HR. Imam Bukhari, no.2185)

Muhaqalah adalah jual-beli dengan menukar gandum yang ada pada mayang (bulir) dengan gandum yang bersih hanya dengan mentaksir. Jika hal ini terjadi pada gandum maka termasuk riba, karena dalam tukar-menukar gandum dengan gandum harus diketahui dengan takaran yang sama.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

نَهَى النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang dari jual-beli muhaqalah dan muzabanah.”
(HR. Imam Bukhari, no.2187)

Namun, ada bentuk jual-beli yang dibolehkan padahal sekilas sama dengan muzabanah dan muhaqalah, yaitu yang dikenal dengan jual beli araya. Araya adalah menukar kurma basah dengan kurma kering di saat ada hajat (butuh).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata;

لَا تَجُوزُ الْعَرِيَّة إِلَّا لِحَاجَةِ صَاحِبِ الْحَائِطِ إِلَى الْبَيْعِ أَوْ لِحَاجَةِ الْمُشْتَرِي إِلَى الرُّطَبِ
“Tidak boleh melakukan transaksi araya, kecuali dalam keadaan hajat yaitu si Penjual sangat butuh untuk menjual atau si Pembeli sangat butuh untuk mendapatkan kurma basah.”
(Fathu Al-Baari, 4:393)

Para ulama menjelaskan bahwa jual-beli arayah diberi keringanan dengan beberapa syarat, di antaranya;

– Bisa ditaksir berapa kurma basah ketika akan menjadi kering.
– Yang ditukar tidak lebih dari 5 wasaq (1 wasaq=60 sha, 1 sha=4 mud, 1 sha=2.176 kg, 1 wasaq=130.56 kg)
– Dilakukan oleh orang yang memang butuh terhadap kurma basah.
-Orang yang menginginkan kurma basah tidaklah memiliki uang, hanya memiliki kurma kering dan dia bisa menaksirnya (menentukannya).
(Manhaju As-Salikin, hlm.142)

3. Jual-beli daging dengan hewan.
Tidak boleh melakukan jual-beli semacam ini. Yang harus dilakukan, terlebih dahulu hewan tersebut bersih dari tulang, setelah itu boleh ditukar dengan daging. Jika terjadi kelebihan takaran atau timbangan, maka terjadilah riba fadhl. Contohnya adalah jual-beli kambing yang masih hidup ditukar dengan daging kambing.

Sahabat Said bin Al-Musayyib radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ بَيْعِ اللَّحْمِ بِالْحَيَوَانِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang dari jual-beli daging dan hewan.”
(HR. Imam Malik, Muwatha, 2:655, Al-Baihaqi, 5:296. Al-Baghawi menyatakan bahwa hadits Ibnul Musayyib meski pun mursal namun, dikuatkan dengan amalan para Sahabat. Imam Syafii pun menganggap hadits ini hasan, yakni mursal dari Said bin Al-Musayyib. Syarh As-Sunnah, 8:77)

4. Jual-beli utang dengan utang.
• Contoh: Si A membeli baju dari si B dengan tempo, tapi barang tersebut belum diserahkan. Ketika jatuh tempo, baju yang dipesan tersebut belum jadi. Ketika itu si A berkata: “Jualkan barang tersebut kepadaku hingga waktu tertentu dan aku akan memberikan tambahan”. Jual-beli pun terjadi namun, belum ada taqabudh (serah-terima barang). Bentuk jual-beli semacam ini adalah menjual sesuatu yang belum ada dengan sesuatu yang belum ada dan pada transaksi tersebut terdapat riba, karena adanya tambahan.

Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu berkata;

‎أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang jual-beli Al-Kali Bil-Kali (utang dengan utang).
(HR. Ibnu Hajar, Takhrij Misykah Al-Mashabih, 3:164. Hadits ini hasan)

Imam As-Syaukani rahimahullah menjelaskan;
“Meski pun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Musa bin Ubaidah Ar-Rabadzi namun, ada pendukung kuat dari penulikan ijma, bahwa tidak boleh jual-beli utang dengan utang.”
(As-Sailu Al-Jarar, hlm.480)

Imam Malik rahimahullah menjelaskan;
“Jual-beli Al-Kali Bil-Kali hukumnya terlarang.”
(Al-Muwatha, 2:628)

Imam As-Syafii rahimahullah berkata;
“Kaum muslimin dilarang untuk jual-beli utang dengan utang.”
(Al-Umm, 4:30)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Ibnul Mundzir mengatakan: Ulama sepakat bahwa jual-beli utang dengan utang tidak boleh. Imam Ahmad mengatakan: Ulama sepakat dalam masalah ini.”
(Al-Mughni, 4:186)

Sehingga berdasarkan ijma ulama inilah yang menjadi landasan kita untuk menyatakan, bahwa jual-beli utang dengan utang hukumnya terlarang dalam Islam. Namun, makna hadits ini benar dan disepakati oleh para ulama, yaitu terlarangnya jual-beli utang dengan utang.

Karena sebab inilah dalam jual-beli salam (uang dahulu, barang belakangan), berlaku aturan uang secara utuh diserahkan di muka (DP), tidak boleh ada yang tertunda.

Jadi, jika kita ingin membeli barang yang disyaratkan bayar di muka (DP), maka harus dibayar utuh, jangan sebagian! Karena praktik yang ada saat ini, DP yang diterapkan hanya membayar sebagian.

5. Jual-beli kredit melalui pihak ketiga.
Jual beli secara kredit asalnya boleh selama tidak melakukan hal yang terlarang. Namun, perlu diperhatikan bahwa kebolehan jual-beli kredit harus melihat beberapa kriteria, karena jika tidak diperhatikan, seseorang bisa terjatuh dalam jurang riba. Di antara kriterianya adalah;

a. Barang yang dikreditkan sudah menjadi milik penjual
• Contoh: Si A membeli HP secara kredit kepada si B dengan harga yang sudah ditentukan, dengan syarat tanpa adanya denda jika mengalami keterlambatan pembayaran. Antara si A (Pembeli) dan si B (Penjual) bersepakat mengenai waktu melakukan pembayaran, apakah setiap pekan ataukah setiap bulan dan seterusnya. Dalam hal ini ada angsuran di muka (DP) dan sisanya dibayarkan pada waktu yang sudah ditentukan.

b. Jika barang (HP) tersebut bukan milik si si B namun, masih milik si C (pihak ketiga/suplayer). Maka si A meminta kepada si B untuk membelikan barang tersebut kepada si C. Lalu si A melakukan kesepakatan dengan si B, bahwa dia akan membeli barang tersebut dari si B. Namun, dengan syarat, kepemilikan barang sudah berada pada si B, bukan lagi pada si C (suplayer). Sehingga yang menjamin kerusakan dan lainnya adalah si B, bukan lagi si C. Pada keadaan seperti ini, si A boleh melakukan transaksi untuk membeli barang tersebut dari si B dengan kesepakatan harga yang ditentukan. Namun, jual-beli bentuk ini harus memenuhi dua syarat: harganya jelas di antara kedua pihak, meskipun adanya tambahan dari harga ketika si B membeli dari si C dan tidak ada denda, jika terjadi keterlambatan angsuran.

Jika salah satu dari dua syarat tersebut tidak bisa dipenuhi, maka mereka akan terjerumus pada pelanggaran dan kesalahan.

-Misal, si A membeli barang yang belum diserah-terimakan secara sempurna oleh si C kepada si B, artinya barang tersebut belum menjadi milik si B namun, sudah dijual kepada si A.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ
“Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah dia menjualnya kembali hingga dia selesai menerimanya!”
(HR. Imam Bukhari, no.2136)

Lalu Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan maksud hadits tersebut;
“Aku berpendapat bahwa segala sesuatu, itu hukumnya sama dengan bahan makanan.”

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata;

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ
“Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus kepada kami, dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tersebut ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.”
(HR. Imam Muslim, no.1527)

Atau bisa jadi transaksi tersebut terjerumus dalam riba, karena bentuknya sama dengan mengutangkan HP kepada Pembeli, lalu mengambil keuntungan dari utang tersebut. Padahal para ulama telah berijma (bersepakat) akan haramnya keuntungan bersyarat yang diambil dari akad utang-piutang.

D. Hukuman Untuk Para Pelaku Riba

Dalam kehidupan saat ini, sangat banyak manusia yang berada di sekeliling kita, orang-orang yang mengaku beragama islam, mereka bermudah-mudahan mencari jalan pintas dengan berbagai alasan untuk mendapatkan harta, mobil, rumah dan barang duniawi lainnya, dengan rela melakukan transaksi riba. Padahal, pelaku riba akan mendapatkan ancaman yang sangat dahsyat dari Allah azza wa jalla.

Teman-teman sudah tahu, seberapa besar kejahatan yang dilakukan oleh para pelaku riba? Dan sudah tahukah kalian seberapa banyak hukuman yang akan Allah azza wa jalla berikan kepada mereka? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan;

1. Mereka disebut sebagai pezina
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ
“Riba itu ada 73 pintu. Pintu riba yang paling ringan itu seperti dosa seseorang yang memperkosa ibu kandungnya sendiri.”
(HR. Al Hakim, Al-Mustadrak, no.2259. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi, Shahihu At-Targhib, no.1851)

Masihkah teman-teman bisa merasa nyaman, senang dan tenang menikmati serta memungut bunga (riba), meskipun disebut sebagai Pezina? Apalagi ini sebutan Pezina yang menzinai ibu kandungnya sendiri, seorang ibu yang mengandung, melahirkan dan mengurusi kita sejak kecil?

2. Mereka akan dibangkitkan dari kubur dalam keadaan gila.
Allah azza wa jalla berfirman;

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan, karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), bahwa sesungguhnya jual-beli itu sama seperti riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Maka barangsiapa yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu dia berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan barangsiapa yang kembali (tetap mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 275)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas;
”Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 1:708)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan;
”Para ulama berbeda pendapat tentang ayat ini. Apakah maksud ayat ini adalah mereka tidaklah bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali dalam kondisi semacam ini, yakni bangkit dari kubur seperti orang gila atau kerasukan setan? Atau maksudnya adalah mereka tidaklah berdiri untuk bertransaksi riba (di dunia), (yaitu) mereka memakan harta riba seperti orang gila karena sangat rakus, tamak dan tidak peduli? Maka ini adalah kondisi (sifat) mereka (pelaku riba) di dunia. Yang benar, jika sebuah ayat mengandung dua kemungkinan makna, maka ditafsirkan kepada dua makna tersebut semuanya.”
(Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 1:1907)

3. Allah akan memusnahkan harta riba
Allah azza wa jalla berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ، وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan (menambahkan) sedekah. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 276)

Ini adalah hukuman di dunia bagi pelaku riba, yaitu Allah akan memusnahkan atau menghancurkan harta mereka. Menghancurkan yang dimaksud ada dua macam;

a. Menghancurkan yang bersifat konkret (nyata). Misalnya pelakunya ditimpa bencana atau musibah, seperti jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan (yang tidak sedikit). Atau ada keluarganya yang jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat banyak atau hartanya terbakar atau dicuri orang. Akhirnya harta yang didapatkan, seluruhnya habis dengan sangat cepat.
b. Menghancurkan yang bersifat abstrak (tidak nyata), yaitu dengan Allah menghilangkan (menghancurkan) berkahnya. Dia memiliki harta yang sangat berlimpah, akan tetapi dia seperti orang faqir-miskin yang tidak bisa memanfaatkan hartanya. Dia simpan untuk ahli warisnya namun, dia sendiri malah tidak bisa memanfaatkan hartanya.
(Syarhu Riyadh Ash-Shalihin, 1:580)

E. Cara Memanfaatkan Harta Riba

Pertanyaan;
Setelah kita mengetahui bahwa riba itu hukumnya adalah haram dan harus ditinggalkan, lalu jika kasusnya kita memiliki harta riba, baik yang berasal dari bank ataupun dari sebab lainnya, apa yang harus dilakukan? Dan bolehkah digunakan untuk membayar pajak?

Jawaban:
Secara umum, terdapat dua pendapat di antara para ulama;

1. Harta riba yang terlanjur didapatkan harus diinfaqkan untuk kepentingan masyarakat umum dan yang tidak terhormat, seperti: pembangunan jalan raya, jembatan, jamban (toilet) umum atau yang semisalnya. Dan tidak dibenarkan jika digunakan untuk membangun masjid atau diberikan kepada faqir-miskin.

2. Harta riba harus disalurkan pada kegiatan-kegiatan sosial, baik yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat umum, semisal pembangunan madrasah atau hanya yang dirasakan oleh sebagian masyarakat saja, misalnya dibagikan kepada faqir-miskin.

Dari dua pendapat tersebut, bahwa pendapat kedua inilah yang dilihat lebih kuat, karena memiliki beberapa alasan yang menguatkannya. Di antaranya;

a. Tidak adanya dalil yang membedakan antara amal sosial yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat umum dan amal sosial yang manfaatnya hanya dirasakan oleh sebagian masyarakat.
b. Harta haram dalam islam dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, di antaranya;

• Harta haram karena dzatnya.
Semisal: anjing, babi, bangkai dan khamer (minuman yang memabukkan). Barang-barang tersebut diharamkan dalam semua keadaan dan tetap saja hukumnya haram, meskipun didapatkan dengan cara yang halal. Misalnya; didapatkan dengan cara berburu, membeli atau hibah (pemberian).
• Harta haram karena cara memperolehnya, bukan karena dzatnya.
Semisal: harta hasil riba, mencuri dan menipu. Harta-harta tersebut diharamkan karena cara memperolehnya, meskipun asal-usul harta tersebut adalah halal.

Berkaitan dengan harta haram jenis ini, sebagian ulama fiqih telah memberikan kaidah yang sangat jelas;

تَغَيُّرُ أَسْبَابِ الِمْلِك يُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ تَغَيُّرِ الأَعْيَان
“Berubahnya metode mendapatkan suatu benda, itu dihukumi sebagai berubahnya hukum benda tersebut.”

Dengan demikian, harta riba tersebut haram untuk kita, karena kita memperolehnya dengan cara-cara yang diharamkan, yaitu riba. Akan tetapi, dzat uang itu sendiri tidak dapat dinyatakan haram atau halal. Selanjutnya jika harta riba, itu diberikan kepada faqir-miskin, berarti harta itu berpindah kepada mereka dengan cara-cara yang halal, bukan dengan cara yang haram, karena mereka mendapatkannya dengan cara diberi, bukan dengan cara riba.

Oleh sebab itu, dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tetap berniaga (jual-beli atau bertransaksi) dengan orang-orang Yahudi, padahal beliau sudah mengetahui, bahwa kebiasaan kaum Yahudi mendapatkan sebagian hartanya dari memperjual-belikan babi, khamer dan menjalankan riba.

Hal tersebut tetap Rasulullah lakukan, dikarenakan beliau shallallaahu alaihi wa sallam bertransaksi dengan orang-orang Yahudi dengan cara-cara yang dibenarkan, yaitu dengan cara jual-beli. Sehingga perbuatan Yahudi memperjual-belikan babi di belakang beliau tidak menjadi masalah dan tidak merubah status halalnya harta yang beliau dapatkan.

Syaikh Ibnu Jibrin, setelah menjelaskan larangan menabung di bank kecuali darurat, beliau ditanya tentang hukum menyalurkan bunga bank untuk para Mujahid. Lalu beliau menjawab;
“Seseorang boleh mengambil keuntungan yang diberikan oleh bank, seperti bunga, tapi jangan dimasukkan dan disimpan sebagai hartanya. Akan tetapi disalurkan untuk kegiatan sosial, seperti diberikan kepada faqir-miskin, mujahid atau semisalnya. Perbuatan ini lebih baik dari pada meninggalkannya di bank, yang nantinya akan dimanfaatkan untuk membangun gereja, menyokong misi kekafiran dan menghalangi dakwah islam.”
(Fatawa Islamiyyah, 2:884)

Lalu beliau juga berpendapat;
“Boleh menggunakan bunga bank untuk membangun masjid. Karena bunga bank bisa dimanfaatkan oleh semua masyarakat. Jika boleh digunakan untuk kepentingan umum, tentu saja untuk kepentingan keagamaan juga tidak jadi masalah.”
(Fatawa Islamiyyah, 2:885)

Syaikh Dr.Abdullah Al-Faqih berpendapat;
“Membayar pajak dengan bunga bank, hukumnya tidak boleh, karena pembayaran pajak akan memberikan perlindungan bagi harta miliknya, sehingga dia telah memanfaatkan harta riba yang haram ini.”
(Fatawa Syabakah Islamiyyah, no.23036)

Perlu diperhatikan, bahwa bunga bank yang ada di rekening, sama sekali bukan harta milik kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh menggunakan uang tersebut, yang manfaatnya kembali kepada diri kita, apapun bentuknya, meskipun hanya berupa pujian. Oleh sebab itu, ketika kita hendak menyalurkan harta riba, pastikan bahwa kita tidak akan mendapatkan pujian dari tindakan tersebut. Mungkin bisa dengan cara diserahkan secara diam-diam, atau dijelaskan bahwa itu bukan uang kita, tapi itu uang riba, sehingga si Penerima yakin bahwa itu bukan amal baik kita. Karena itu semata cara kita untuk berlepas diri dari harta yang haram.

• Kesimpulan;
Harta riba yang didapatkan, hukumnya wajib untuk disalurkan kepada orang lain yang sangat membutuhkan atau untuk mendanai kegiatan sosial dan tidak dibenarkan bagi anda untuk menggunakannya untuk kepentingan pribadi, termasuk untuk membayar pajak. Karena pembayaran pajak, meskipun pajak diharamkan dalam islam, tapi itu tetap termasuk bagian dari kepentingan pribadi.

Selanjutnya, jika kita mendapatkan harta riba sebab bagi-hasil yang didapatkan dari perbankan syariah, maka hendaknya diperlakukan sama seperti bunga yang didapatkan dari perbankan konvensional. Karena praktik kedua jenis perbankan tersebut (syariah-konvensional) tidak ada bedanya, sama-sama membungakan uang dan bukan bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Apalagi menurut peraturan perbankan yang ada di Indonesia, perbankan adalah badan keuangan dan tidak boleh merangkap sebagai badan usaha, dengan demikian ruang lingkupnya hanya sebatas pembiayaan, yang statusnya aman dari resiko usaha (kerugian).

F. Solusi Untuk Berepas Dari Lilitan Utang Riba

Utang itu membuat hidup tidak tenang, baik utang yang tanpa riba maupun yang ada unsur riba. Apalagi jika utang sudah menumpuk dan terus dikejar Debt Collector (Penagih utang), Rentenir dan semisalnya, pasti membuat tidur dan istirahat jadi tidak nyaman.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya, hingga dia melunasinya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.1078. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata;
“Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita untuk mereka, bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya, sampai utangnya tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini juga ditujukan untuk orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya, tapi dia tidak mau melunasinya. Sedangkan, orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka dia akan mendapatkan pertolongan Allah untuk melunasi utangnya tersebut, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam beberapa hadits.”
(Nailu Al-Authar, 6:114)

Selain itu, bentuk buruk lainnya yang timbul dari banyak berutang yaitu; utang akan mengajarkan orang untuk mudah berbohong.

Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ. فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa berdoa di dalam shalat: ‘Allahumma inni audzu bika minal matsami wal maghrami’ (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari berbuat dosa dan banyak berutang). Lalu ada yang bertanya kepada beliau: mengapa engkau sering meminta perlindungan dari utang? Rasulullah menjawab: jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta dan jika dia berjanji, dia akan mengingkari.”
(HR. Imam Bukhari, no.2397)

Al-Muhallab rahimahullah menjelaskan;
“Dalam hadits di atas terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika berlindung dari utang dan utang termasuk sarana yang dapat mengantarkan pada dusta.”
(Syarhu Al-Bukhari, 12:37)

Penjelasan tersebut memang sudah terbukti di zaman ini. Orang yang berutang sering berdusta ketika pihak Penagih utang datang untuk menagih: “Kapan akan bayar utang?” dan biasanya Pihak yang berutang berkata: “Mungkin besok, pekan depan, bulan depan”. Padahal itu hanya alasan untuk menutupi dustanya, sedangkan dia tidak mau melunasinya.

1. Cara untuk melunasi utang riba
a. Bertaubat dan beristighfar dari dosa riba.
Seseorang harus sadar, bahwa riba adalah dosa dan haram dilakukan oleh siapa pun dan kapan pun. Bahkan pelakunya akan terkena laknat dari Allah azza wa jalla dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam.

Sahabat Jabir radhiyallahu anhu berkata;

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat Pemakan riba (misal:Rentenir), Pemberi riba (misal:Nasabah atau Peminjam), Penulis transaksi riba (Sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata beliau: Mereka semua sama berada dalam dosa.”
(HR. Imam Muslim, no.1598)

Taubat yang sungguh-sungguh adalah bertekad tidak ingin kembali meminjam uang atau melakukan transaksi dengan cara riba sedikit pun. Allah azza wa jalla memerintahkan kepada setiap hambaNya untuk melakukan taubat yang tulus, Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang tulus)!”
(Surat At-Tahrim: ayat 8)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai maksud taubat yang tulus;
“Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari (menjauhi) dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad untuk tidak mengulangi dosa itu kembali di masa yang akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka dia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 7:323)

Hudzaifah rahimahullah berkata;
“Cukup seseorang dikatakan berdusta ketika dia mengucapkan: Aku beristighfar kepada Allah (aku memohon ampun kepada Allah), lalu dia kembali melakukan dosa tersebut.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:411)

Hal penting yang harus dilakukan adalah bertekad untuk tidak berutang dengan cara riba kembali, meski pun hanya sedikit dan sesempit apa pun keadaan hidup.

Setelah sadar dan bertekad untuk tidak akan kembali melakukan transaksi riba, maka jangan lupa syarat taubat yang selanjutnya, yaitu memohon ampunan Allah!

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan manfaat dari istighfar yang sangat dahsyat;
“Sesungguhnya pernah ada seseorang yang mengadukan kepadanya tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu beliau memberikan nasihat: Beristighfarlah (mohon ampun) kepada Allah! Kemudian ada orang lain mengadu lagi kepadanya tentang kemiskinannya. Lalu beliau memberikan nasihat: Beristighfarlah (mohon ampun) kepada Allah! Kemudian ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan yang terjadi pada lahan kebunnya. Lalu beliau memberikan nasihat: Beristighfarlah (mohon ampun) kepada Allah! Kemudian ada orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai pada waktu itu belum memiliki anak. Lalu beliau memberikan nasihat: Beristighfarlah (mohon ampun) kepada Allah! Kemudian setelah itu beliau membacakan firman Allah;

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Rabb kalian! Sesungguhnya Dia adalah maha pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat dan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan juga di dalamnya untuk kalian sungai-sungai (Surat Nuh: ayat 10-12).”
(Fathu Al-Bari, 11:98)

Jadi, istighfar adalah salah satu pembuka pintu rezeki dan pembuka jalan (solusi) untuk setiap permasalahan hidup, termasuk solusi untuk terlepas dari utang dan masalah lainnya yang memberatkan beban hidup.

b. Banyak berdoa kepada Allah.
Ada beberapa doa yang dicontohkan oleh Rasulullah dan bisa kita hafalkan, lalu dibaca untuk membantu kita agar terlepas dari lilitan utang, yaitu;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari berbuat dosa dan sulitnya utang.”
(HR. Imam Bukhari, no.2397)

Sahabat Ali radhiyallahu anhu berkata;
“Ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan dirinya dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) lalu mendatanginya, dia berkata: Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku. Ali pun berkata: Maukah kuberitahukan kepadamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepadaku, yaitu seandainya kamu memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Maka ucapkanlah doa;

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan rezekiMu yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karuniaMu dari bergantung kepada selainMu!”
(HR. At-Tirmidzi, no.3563, beliau dan Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Atau baca juga doa;

اَللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ، وَتَنْزِعُ الْمُلكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وُتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الخَيْرُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَحْمَانَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا، تُعْطِيهِمَا مَنْ تَشَاءُ وَتَمْنَعُ مِنْهُمَا مَنْ تَشَاءُ، اِرْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, pemilik seluruh kekuasaan! Engkau memberi kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabutnya dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tanganMu segala kebaikan, dan Engkau maha berkuasa atas segala sesuatu. Wahai pengasih di dunia dan akhirat, dan penyayang di keduanya, Engkau memberikan keduanya (dunia dan akhirat) kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan menahan keduanya dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Rahmatilah aku dengan rahmatMu yang menjadikanku tidak lagi memerlukan belas kasih kepada selainMu.”
(HR. Al-Albani, Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib, no.1821. Beliau menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu: Maukah kamu kuajari sebuah doa yang jika kamu ucapkan, maka walau pun kamu memiliki utang sebesar gunung Uhud, Allah akan melunasinya? Maka bacalah wahai Muadz doa di atas!

Kalau dalam hadits sebelumnya terdapat isyarat agar kita mengakhiri doa dengan penegasan akan nilai tauhid, dalam hadits ini sebaliknya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk memulai permintaan dengan menegaskan masalah tauhid. Karenanya beliau memulainya dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan kemahaesaan Allah dari sisi rububiyyah. Lalu mengikutinya dengan kalimat yang berhubungan dengan tauhid asma wa sifat. Yaitu dengan menetapkan bahwa semua kebaikan berada di tanganNya, dan bahwasanya Dia berkuasa atas segala sesuatu. Demikian juga dengan kalimat berikutnya, yang merupakan seruan kepada Allah, dengan menyebut dua di antara nama-nama Allah yang indah, yaitu Rahman dan Rahim. Kemudian barulah seseorang menyebutkan keperluan utamanya, yaitu agar Allah melunasi utangnya dan menolongnya dari kemiskinan.

Tentunya, doa ini tidak akan efektif jika hanya diucapkan tanpa diresapi maknanya dan diwujudkan hakikatnya dalam kehidupan sehari-hari. Percuma saja jika seseorang mengucapkan doa tersebut namun, tidak memperdulikan status penghasilannya, halal ataukah haram. Percuma juga jika dia rajin mengucapkan doa tersebut namun, masih berlumuran dengan syirik akbar yang membatalkan seluruh amalnya.

Oleh karena itu, agar doa ini efektif dan mustajab, kita harus mengucapkannya sembari berusaha memahami ajaran agama Islam dengan maksimal dan totalitas, agar kita tahu mana yang halal untuk kita dapatkan dan mana yang haram untuk kita tinggalkan,

c. Jual aset dan harta yang dimiliki.
Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba, meski pun nominalnya puluhan-ratusan-jutaan rupiah. Namun, karena saking besar hasratnya untuk tetap memiliki harta, jadi utang tersebut terus ditahan dan tidak kunjung lunas. Padahal jika tanah, tabungan, kendaraan atau rumah dan berbagai aset yang dimiiki bisa dijual, maka dengan izin Allah hal tersebut akan mampu melunasi semua utangnya, atau setidaknya meringankan nominal utangnya tersebut.

Ingatlah, bahwa orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah azza wa jalla. Sebaliknya, orang yang tidak mau melunasinya, padahal punya aset atau mampu melunasinya, tentu akan jauh dari pertolongan Allah!

Dahulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan: Jangan kamu lakukan itu! Lalu sebagian kerabatnya ini, mereka mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan: Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan Khalilku (kekasihku) shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا
“Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkannya untuk melunasi utang tersebut di dunia.”
(HR. Ibnu Majah, no.2399. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih kecuali tambahan lafazh “fii ad-dunya”)

Juga terdapat hadits dari Sahabat Abdullah bin Jafar radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ
“Allah akan bersama (memberi pertolongan) kepada orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya), sampai dia melunasi utangnya tersebut, selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Ibnu Majah, no.2400. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi perlu kita yakini, bahwa orang yang serius dan bersungguh-sungguh untuk melunasi utangnya, maka akan Allah tolong!

d. Lebih giat untuk bekerja dan berusaha.
Seseorang yang semakin giat bekerja dan terus memperhatikan nafkah keluarga, maka Allah akan memberikan ganti dan memberikan jalan keluar untuknya.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ketika seorang hamba berada di setiap pagi hari, maka ada dua Malaikat yang turun dan berdoa: Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang gemar bersedekah (rajin memberi nafkah kepada keluarga)! Lalu Malaikat yang lain berdoa: Ya Allah, berikanlah kebangkrutan kepada orang yang tidak mau bersedekah (memberi nafkah).”
(HR. Imam Bukhari, no.1442)

e. Mencari pinjaman uang kepada keluarga atau orang lain untuk segera melunasi utang riba.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Setiap orang wajib berlepas diri dari riba sesuai dengan kemampuannya, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba (rentenir) dan orang yang menyerahkan riba (nasabah). Boleh jadi dia meminta pinjaman utang dari saudara atau kerabatnya untuk melunasi utang bank tersebut agar gugur darinya riba. Yang terpenting adalah dia harus tetap merencanakan hal ini. Jika tidak mungkin, maka dia berusaha meminta pada bank agar jangan ada lagi tambahan riba. Akan tetapi setahu kami, bank tidak mungkin menyetujui hal ini.”
(Liqa Al-Bab Al-Maftuh, 12:194)

Tentu saja pinjaman tersebut bisa diperoleh jika kita punya sifat amanat dan bisa mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

f. Menjaga amanat yang diterima.
Utang merupakan amanat yang harus dijaga, diingat dan dilunasi. Semakin kita bersikap amanat, maka orang-orang akan semakin menaruh kepercayaan kepada kita. Sebaliknya, semakin tidak amanat, maka kita sendiri yang akan mendapatkan kesusahan, karena kita tidak menjaga amanat yang diterima dengan baik. Itu realita yang terjadi di tengah-tengah kita. Kalau dalam masalah utang, kita bersikap amanat dalam mengembalikannya, maka tentu orang akan terus menaruh rasa percaya dan bisa saja tidak dikenakan denda (riba) saat peminjaman.

Sifat amanat dalam berutang sudah tentu wajib dimiliki oleh setiap manusia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ
”Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat kepadamu!”
(HR. Abu Dawud, no.3535 dan At-Tirmidzi no.1624, hadits ini hasan shahih)

g. Membiasakan pola hidup sederhana.
Dengan membiasakan hidup sederhana ketika lapang, terkhusus ketika terlilit utang, maka itu akan mengurangi beban pengeluaran, sehingga bisa memprioritaskan untuk pelunasan utangnya. Sifat qanaah yaitu merasa cukup dan benar-benar bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan dan sungguh sifat tersebut akan mendatangkan banyak kebaikan.

Dari Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ
“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk (hidayah) dalam Islam, diberi rezeki yang cukup dan diberi sifat qanaah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.”
(HR. Ibnu Majah, no.4138, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Karena sebetulnya, rezeki yang Allah berikan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tidak akan cukup jika untuk memenuhi gaya hidup.

2. Kisah inspirasi
Beberapa tahun yang lalu, Penulis pernah dihubungi oleh seseorang yang belum dikenal dan dia meminta waktu untuk bisa bertemu. Pada waktu yang sudah Penulis persilakan kepadanya untuk menemui, terjadilah beberapa perbincangan, sampai pada dia mengkonsultasikan suatu permasalahan yang sedang dialaminya, yakni masalah pekerjaan atau profesinya saat ini.

Ternyata dia sudah cukup lama menjalani pekerjaan atau profesi tersebut namun, baru beberapa hari ini dia merasakan sesuatu yang tidak biasa, yakni hatinya selalu gelisah, merasa tertimpa beban yang sangat besar, sehingga hidupnya merasa tidak tenang. Lalu, mulai muncullah pertanyaan di dalam hatinya: Apakah ini disebabkan pekerjaanku?

Karena dia juga sadar dan merasakan adanya beberapa hal yang sebetulnya salah dan tidak sebaiknya dilakukan berkaitan profesinya tersebut, tapi karena melihat dunia pekerjaannya tersebut memang demikian keadaannya, sehingga sudah dianggap maklum oleh orang-orang seprofesinya dan disebabkan juga keterbatasan pengetahuan ilmu Islamnya, yakni tentang fikih muamalah terhadap status pekerjaannya tersebut, sehingga membuatnya bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Setelah dia menceritakan permasalahannya tersebut, maka Penulis melihat bahwa pekerjaannya tersebut mengandung unsur syubhat (samar antara halal-haram) dalam hal transaksi yang dilakukannya. Sehingga Penulis memberikan nasihat dan solusi untuk merubah bentuk transaksinya, karena berbeda bentuk transaksi, berbeda juga hukum transaksi tersebut. Dengan merubah bentuk transaksinya, maka akan merubah status transaksinya.

Setidaknya, ketika seseorang meninggalkan sesuatu yang syubhat (samar) dan mengambil sesuatu yang jelas hukumnya, maka Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. Karena kata Rasulullah: Ketika seseorang meninggalkan sesuatu yang syubhat, maka dia telah melindungi kemuliaan diri dan agamanya. Sedangkan ketika seseorang malah melakukan sesuatu yang syubhat, maka dia telah melakukan sesuatu yang hukumnya sama dengan haram.

Pada akhirnya, karena kesungguhan dan semangatnya untuk mulai mengetahui kebenaran tentang status pekerjaannya tersebut dengan mulai mempelajari ilmu Islam secara perlahan, maka Allah pun memberikan keteguhan pada hatinya dan kemudahan untuknya bisa keluar dari zona yang penuh dengan hal-hal syubhat di dalamnya. Dan ternyata dia mempunyai kesimpulan yang diluar perkiraan, yaitu dia keluar dari zona tersebut bukan dengan merubah bentuk transaksi dan cara bekerjanya, tapi dia meninggalkan pekerjaan tersebut secara totalitas. Karena dia berpikir dan sangat yakin, bahwa dengan dia bersungguh-sungguh bertaubat dan berhijrah ke jalan Allah, maka Allah akan memberikan ganti kepadanya dengan sesuatu yang lebih baik dari itu semua.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya jika kamu meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah akan memberi ganti kepadamu dengan sesuatu yang lebih baik.”
(HR. Imam Ahmad, 5:363)

Bahkan di balik kisah perjuangan hijrahnya tersebut, Penulis mendapatkan kabar bahwa dia mengawali kehidupan bersama keluarganya dari nol (awal) kembali. Dia berani banting stir (beralih profesi) menjadi pedagang susu. Masyaallah laa quwwata illa billah! Suatu tekad yang sangat kuat. Memang dia dahulu adalah seorang yang awam, bahkan jahil terhadap Islam dan hidup di dalam gelapnya dosa. Tapi, sekarang dia adalah orang yang berusaha memperbaiki kehidupannya dengan mempelajari ilmu Islam dan mengamalkannya di dalam kehidupannya. Sehingga jadilah dia sebagai manusia yang Allah muliakan, sebab taubatnya tersebut dan kesungguhannya meninggalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah azza wa jalla dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam.

Menjalani kehidupannya saat ini bersama keluarga tercinta, dengan keadaan pendapatan yang pasti jauh berbeda dari sebelumnya, membuatnya harus menjual aset dan harta-benda yang dimiliki. Sehingga yang dahulu dia mengendarai kendaraan roda empat, saat ini dia mengendarai kendaraan roda dua. Dahulu dia hidup bersama keluarganya dalam keadaan serba kelebihan, sekarang dia hidup dalam keadaan serba kekurangan. Tapi, keadaan demikian sangat wajar dialaminya dan tidak membuatnya menyesal, karena hal tersebut pasti akan dialami juga oleh semua hamba Allah yang mau berhijrah dari kehidupan yang penuh dengan kegelapan dosa, menuju kehidupan yang penuh dengan keindahan ilmu dan amal. Maka ini suatu kemuliaan untuknya, karena dia mau mengambil resiko dari hijrahnya tersebut dengan ikhlash dan lapang dada. Inilah kemuliaan yang sesungguhnya.

Bahkan dia pernah mengatakan;
“Kehidupanku saat ini, lebih terasa tenang dan nyaman dari kehidupan sebelumnya. Meski pun kehidupanku saat ini, serba kekurangan. Karena aku sudah membuktikan, bahwa kebahagiaan itu bukan berasal dari harta, tapi dari hati.”

Semoga kisah tersebut menjadi cerminan dan motivasi untuk para Pembaca, agar bisa menyadari bahwa hakikat kehidupan ini adalah untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla dengan mengikuti semua perintahNya dan meninggalkan semua laranganNya.

Demikian penjelasan tentang riba secara ringkas, semoga para Pembaca bisa membaca dan memahaminya dengan tuntas, sehingga bisa mendapatkan ilmu yang bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-harinya. Aamiin

Dari penjelasan dan contoh kasus yang sudah dijelaskan di atas, itu hanya sebatas contoh dari berbagai kasus lainnya yang sering terjadi di masyarakat. Maka Penulis nasihatkan, untuk mencoba memahami ilmu tersebut, lalu diterapkan untuk memahami realita yang ada di sekitar kita.

Jika teman-teman memiliki harta riba, segera selamatkan harta halalnya dengan menyalurkan harta ribanya di sini.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk bisa melepaskan kehidupan kita dari lilitan utang. Dan semoga Allah memberikan ilmu dan rezeki yang berkah kepada kita. Aamiin
_____
@Kota Udang, Cirebon.
Selesai ditulis di kediaman, Sumber-Cirebon pada hari Ahad, 27 Muharram 1440H/07 Oktober 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMARI, INVESTASI DI KHIYAAR STORE!
Artikel sesudahnyaPUNYA HARTA RIBA? MAU DI KEMANAKAN?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here