Beranda Belajar Islam Amalan Ada Apa Dengan Isra Miraj?

Ada Apa Dengan Isra Miraj?

220
0
BERBAGI

Ada Apa Dengan Isra Miraj?

Ketika masuk bulan Rajab, biasanya mulai ramai di mimbar masjid ketika khutbah Jumat, pengajian rutin, tabligh akbar, atau moment semisalnya, disebutkan kisah tentang isra miraj Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Namun, tidak sedikit yang memahami tentang kisah tersebut. Bahkan banyak juga orang yang jahil terhadap agama, berani menyimpulkan syariat ibadah yang disandarkan pada kisah tersebut.

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita dan mereka.

Perlu diketahui, bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya isra miraj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan rajab dan ada pula yang mengatakan pada bulan ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya isra miraj pada bulan tertentu atau di sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.”
(Zaadu Al-Maad, 1:54)

Abu Syamah rahimahullah mengatakan;
“Sebagian orang menceritakan bahwa isra miraj terjadi di bulan Rajab. Namun, para pakar Jarh Wa Tadil (pengkritik perawi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.”
(Al-Bida Al-Hawliyah, hlm.274)

Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan;
“Telah diriwayatkan bahwa di bulan rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun, sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah dilahirkan pada awal malam bulan tersebut, ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab dan ada pula yang menyatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun, itu semua tidaklah shahih.”

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan isra miraj sendiri masih diperselisihkan oleh para ulama, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan;
“Tidak dikenal seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam isra miraj memiliki keutamaan dari malam lainnya, apalagi dari malam lailatul qadr. Begitu juga para Sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, tidak pernah mengkhususkan malam isra miraj untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam isra miraj tersebut.”
(Zaadu Al-Maad, 1:54)

Begitu juga Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan;
“Ada pun melaksanakan perayaan tertentu selain dari dua hari raya yang disyariatkan (yaitu idul fithri dan idul adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabiul Awal (yang disebut dengan malam maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rajab (perayaan isra miraj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jumat dari bulan Rajab atau perayaan hari ke-8 Syawwal dengan idul abrar (ketupat lebaran), ini semua adalah bidah yang tidak dianjurkan oleh para Sahabat Nabi (manusia yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melakukannya.”
(Majmu Fatawa, 25:298)

Ibnul Haaj rahimahullah mengatakan;
“Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan dari Rasulullah, yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam isra miraj pada tanggal 27 Rajab.”
(Al-Bida Al-Hawliyah, hlm.275)

• Catatan penting;
Banyak tersebar di tengah-tengah manusia, sebuah riwayat dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Beliau mengatakan: “ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengucapkan: “Allahumma baarik lanaa fii rajab wa syaban wa ballignaa ramadhan”
[Ya Allah, berkahilah kami di bulan rajab dan syaban, dan perjumpakanlah kami dengan bulan ramadhan].
(HR. Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam kitab Amalu Al-Yaum Wa Al-Lailah. Namun, perlu diketahui, bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah atau dhaif. Karena di dalamnya ada perawi yang bernama Zaidah bin Abi Ar-Ruqad. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dhaif. Hadits ini dikatakan dhaif (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam kitab Lathaifu Al-Maarif, hlm.218, Syaikh Al-Albani dalam Tahqiq Misykatu Al-Mashabih, no.1369)

Dari berbagai macam penjelasan para ulama, ternyata tidak ada perintah sama sekali dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, baik berasal dari lisannya langsung, perbuatannya mau pun dari kisah perjalanan isra mirajnya, untuk kita selaku umatnya melakukan dan merayakan isra miraj dan ritual semisalnya.

Coba deh kita pelajari kembali Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah yang shahih, termasuk dari kisah isra mirajnya, adakah perintah dari Rasulullah untuk merayakannya?

Maka nasihat untuk para Pendakwah (Dai) dan Khatib, berhati-hatilah dalam menyampaikan dan menjelaskan ilmu kepada umat, jangan sampai malah membuat mereka sesat! Menyampaikan ilmu itu butuh ilmu, bukan sekedar modal buku yang cuma sekedar dibaca, tanpa dipelajari dan dipahami terlebih dahulu, apalagi mempelajarinya tanpa bimbingan guru.

Ingat, ada ancaman yang sangat keras dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, untuk orang-orang yang hobi terbiasa menyampaikan ilmu yang salah, membawakan lafazh-lafazh hadits yang tidak shahih. Karena itu sama saja berdusta atas nama Rasulullah dengan sengaja.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka!”
(HR. Imam Bukhari, no.1291)

Tidakkah kita takut dengan ancaman tersebut? Maka sadarlah wahai saudaraku! Karena apa yang telah kalian ajarkan kepada umat, itu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah azza wa jalla.

Semoga Allah selalu berikan hidayahNya dan taufiqNya kepada Penulis dan para Pembaca, sehingga kita bisa menjadi hambaNya yang selalu bersyukur dan taat kepadaNya. Aamiin

Wallahu waliyuttaufiq.
_____
Alhamdulillaah alladzi binimatihi tatimmush shaalihaat, selesai ditulis pada pagi hari Senin, 23 Rajab 1439H/09 April 2018M.
Di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAda Berapa Tabunganmu?
Artikel sesudahnyaLELANG WAKAF TABLET/IPAD
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here