Beranda Belajar Islam Amalan Ada Berapa Tabunganmu?

Ada Berapa Tabunganmu?

338
0
BERBAGI

Ada Berapa Tabunganmu?

Para Pembaca yang semoga Allah berikan kemudahan untuk beramal shalih.

Tabungan atau simpanan adalah sebuah hal yang manusia berusaha memilikinya dan merasa ingin lebih besar nominalnya dari yang lain. Di antara mereka saling berlomba-lomba memperbanyak nominal atau jumlah tabungannya. Karena mereka berfikir, bahwa ketika tabungan mereka lebih banyak dari yang lainnya, maka muncullah rasa nyaman, senang dan puas. Kurang lebih, seperti itulah perasaan yang akan muncul.

Namun, sadarkah kita? Bahwa tabungan yang sesungguhnya milik kita adalah bukan harta yang kita miliki, yang kita simpan di dalam tabungan, mau pun rekening bank, bukan juga yang ada di dalam dompet dan bukan juga yang ada dalam investasi bisnis.

Karena ketika tabungan mau pun rekening kita dibobol oleh orang jahat, maka pertanyaannya: Menjadi milik siapakah harta tersebut?

Atau ketika harta yang ada di dalam dompet kita, jatuh atau diambil pencopet, maka pertanyaannya: Menjadi milik siapakah harta tersebut?

Lalu, ketika harta yang kita investasikan dalam sebuah bisnis, misal kerjasama dengan sebuah pihak lain dan ternyata pihak tersebut berkhianat, maka pertanyaannya: Masihkah harta tersebut menjadi milik kita?

Jawabannya: Tentu, tidak!

Lalu, ketika semua kejadian di atas tidak bisa menjamin harta yang sudah kita dapatkan bisa menjadi milik kita seutuhnya, adakah cara lain? Adakah jaminan untuk harta kita, agar tetap menjadi milik kita selamanya?

Jawabannya: Tentu, ada!

Maka melalui tulisan ini, insyaallah Penulis akan sedikit bantu menjelaskan sesuai pengetahuan yang dimiliki.

Para Pembaca yang semoga Allah berikan istiqamah dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Salah satu cara yang bisa menjamin harta yang sudah kita dapatkan menjadi milik kita seutuhnya dan selamanya adalah dengan cara SEDEKAH atau INFAQ.

A. Definisi Sedekah

Secara bahasa: Shadaqah (sedekah) berasal dari bahasa arab yang diambil (musytaq) dari akar kata صدق yang maknanya: Benar.

Karena sedekah menjadi tanda atau bukti atas kebenaran pihak yang mengeluarkan sedekah atas keimanannya.
(Fathu Al-Qadir, 2:399)

Secara istilah: Sedekah berarti beribadah kepada Allah dengan cara menafkahkan (infaq) hartanya yang di luar kewajiban syariah. Dan kata shadaqah dalam bahasa Arab, terkadang bermakna zakat wajib.

Secara umum: Sedekah adalah setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang muslim.

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ مَعْرٌوْفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap kebaikan adalah bernilai sedekah.”
(HR. Imam Bukhari, no.6021)

Maka, jangan perhitungan dalam berbuat baik! Karena hal tersebut termasuk sedekah dan bernilai pahala.

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian (maksudnya: menampakkan sedekah dengan tujuan agar dicontoh orang lain, bukan untuk riya), maka itu baik. Dan jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang faqir, maka itu lebih baik bagi kalian! Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian dan Allah maha teliti dengan setiap yang kalian kerjakan.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 271)

Dengan sebab sedekah yang kita lakukan, Allah mengampuni dosa-dosa kita yang mungkin jumlahnya banyak tidak terhitung! Itulah salah satu bukti maha pemurahNya Allah. Dengan amalan kecil yang dilakukan oleh HambaNya, Allah azza wa jalla berikan kasih sayangNya yang sangat besar kepada hamba-hambaNya yang berbuat baik, meski pun sedikit. Masihkah kita ragu dengan janji Allah?

Para Pembaca yang budiman!

Apakah kita sudah tahu, bahwa salah satu hal yang Allah ridhai dan Allah suburkan itu adalah sedekah?

Sebagaimana Allah subhaanahu wa taala berfirman;

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 276)

Maksud dari “memusnahkan riba” adalah memusnahkan harta itu atau menghilangkan berkahnya. Dan maksud dari “menyuburkan sedekah” adalah memperbanyak harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat-gandakan berkahnya.

Lalu, yang dimaksudkan “orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa” adalah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya. Maka sebab itu, sudah seharusnya kita segera memperbaiki, membelokkan diri ke arah yang Allah ridhai yaitu dengan membiasakan sedekah bukan riba!

Lalu ketika kita bersedekah untuk di jalan Allah, misal: Membantu keperluan jihad, memenuhi keperluan para penuntut ilmu, menolong orang-orang yang menyeru ke jalan Allah (berdakwah), membantu kegiatan dakwah Islam dan berbagai kegiatan kebaikan lainnya. Maka itu semua akan terhitung seperti pahala jihad, membela agama Allah. Maka, jangan perhitungan dalam masalah kebaikan!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lidah kalian.”
(HR. Imam Abu Dawud, no.2143)

Berdasarkan hadits tersebut, kita dapat memahami bahwa membantu peran dalam sebuah kebaikan tidak harus sama andilnya. Namun, kita bisa berperan andil semampu kita!

Sebagai contoh: Jika kita belum bisa membantu jihad di jalan Allah dengan terjun langsung ke medan perang, dikarenakan kita tidak memiliki kemampuan untuk perang, maka kita tetap bisa membantunya dengan harta yang kita miliki, yakni dengan membantu keperluan jihad dan semisalnya.

Dengan demikian, kita juga akan tetap mendapatkan pahala yang sama dengan mereka yang langsung terjun ke medan perang. Jadi, berbuat baiklah sesuai kemampuannya!

Jadikan diri ini bermanfaat untuk manusia lainnya! Karena, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ath-Thabrani, Al-Mujam Al-Ausath, no.5787)

Teman-teman Pembaca yang semoga Allah berikan kesabaran dalam mempelajari ilmu.

Allahu subhaanahu wa taala berfirman;

مَّنْ ذَا الَّذِى يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“(Siapakah yang bersedia memberi pinjaman kepada Allah) yaitu dengan menafkahkan hartanya di jalan Allah (yakni pinjaman yang baik) dengan ikhlash kepadaNya semata, (maka Allah akan menggandakan) pembayarannya; menurut satu qiraat dengan tasydid hingga berbunyi ‘fayudha’ifahu’ (hingga berlipat-lipat) mulai dari sepuluh sampai pada tujuh ratus lebih, sebagaimana yang akan kita temui penjelasannya nanti (dan Allah menyempitkan) atau menahan rezeki orang yang kehendakiNya sebagai ujian (dan melapangkannya) terhadap orang yang dikehendakiNya, juga sebagai cobaan (dan kepadaNya kamu dikembalikan) di akhirat dengan jalan akan dibangkitkan dari matimu dan akan dibalas segala amal perbuatanmu.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 245)

Allah mengistilahkan orang yang bersedekah seperti orang yang memberikan pinjaman yang baik kepadaNya. Maka yang namanya pinjaman, pasti akan dikembalikan atau dibayar, dan Allah menjamin akan memberikan balasan atau bayaran dengan yang lebih banyak dan lebih baik.

Kita masih enggan sedekah? Jangan sampai kita baru menyesal ketika sudah menjadi mayit. Karena mereka yang sudah menjadi mayit pun ingin bersedekah.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu dia (mayit) berkata (menyesali): Ya Allah, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.”
(Surat Al-Munafiqun: ayat 10)

Kenapa mayit itu tidak mengatakan: Maka aku dapat melaksanakan umrah, atau maka aku dapat melakukan shalat atau puasa dan ibadah lainnya?

Maka perbanyaklah bersedekah! Karena sedekah akan menjadi salah satu sebab utama yang bisa menyelamatkan kita di akhirat.

Bersedekahlah atas nama orang yang sudah meninggal di antara kita! Karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih. Maka wujudkanlah harapan mereka!

Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda;

قَالَ اللَّهُ أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Allah taala berfirman: Berinfaqlah wahai anak Adam! Maka Allah akan membalas infaqmu.”
(HR. Imam Bukhari, no.4933)

Allah memerintahkan manusia, melalui lisan NabiNya yang mulia untuk berinfaq atau sedekah, bukan untuk menabung!

Apakah kita berani melawan perintah Allah dan RasulNya?

Sebetulnya Islam tidak melarang manusia untuk menabung untuk kebutuhannya di dunia. Namun, jika mereka menabung, sehingga enggan berinfaq, maka ini yang dilarang!

B. Perbedaan Sedekah Dan Infaq

Sedekah adalah mengeluarkan harta untuk tujuan ibadah yang tidak wajib. Dengan demikian sedekah adalah suatu perilaku yang bersifat sunnah, disukai dan mendapat pahala apabila diniati dengan ikhlash karena Allah.

Sedangkan infaq secara umum bermakna bisa jadi untuk ibadah, bisa juga untuk perkara yang dibolehkan (tapi tidak mendapatkan pahala), seperti menafkahi anak dan istri, memberi mahar atau mas kawin dan semisalnya, atau perkara yang wajib seperti penjelasan di atas.

Yang pada intinya, kedua istilah tersebut adalah sebuah amalan ibadah yang diperintahkan dan disukai oleh Allah dan RasulNya.

Sebagai penutup, nasihat dari Penulis;
“Harta yang kita miliki sesungguhnya adalah harta yang kita sedekahkan, bukan harta yang ada pada kita saat ini. Karena itu semua belum tentu menjadi milik kita!”

Maka ketika kita bersedekah, itu hakikatnya adalah bentuk kepedulian kepada diri kita sendiri. Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang bersedekah dengan nominal sedikit (bukan karena tidak mampu), tapi karena sifat kikirnya, maka sesungguhnya dia tidak peduli, tidak kasihan dan pelit untuk dirinya sendiri.

Tirulah Sahabat Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu! Beliau menginfaqkan seluruh harta yang dimilikinya untuk di jalan Allah! Dan beliau hanya menyisakan untuk keluarganya, Allah dan RasulNya. Beliau sangat yakin dengan janji Allah dan RasulNya.

Jika tidak mampu, tirulah Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu! Beliau menginfaqkan setengah dari harta yang dimilikinya di jalan Allah dan setengahnya lagi untuk keluarganya!

Jika belum mampu juga, tirulah Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu! Beliau menginfaqkan hartanya untuk membeli dan membebaskan sumur milik orang Yahudi untuk keperluan umat Islam, dan berbagai kebaikan lainnya!

Kebaikan-kebaikan yang telah mereka lalukan, dampaknya masih dirasakan oleh seluruh umat Islam, meski pun mereka semua kini sudah tiada, radhiyallahu anhum ajmaiin.

Semoga penjelasan di atas sedikit memberikan wawasan ilmu yang bermanfaat untuk Penulis dan para Pembaca.

Semoga Allah jadikan tulisan ini menjadi motivasi untuk Penulis dan para Pembaca, agar lebih semangat dan antusias dalam berbuat baik, membantu sesama, saling peduli, berjuang dalam mendakwahkan agama Islam dan melakukan berbagai ibadah lainnya.

Wallaahu waliyuttaufiq.
______________
Walhamdulillaah selesai disusun pada siang hari yang cerah, 25 Dzulqadah 1438H/18 Agustus 2017M, di kediaman Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMau Dapat 2 Juta & Rumah Sepulang Dari Pasar?
Artikel sesudahnyaAda Apa Dengan Isra Miraj?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here