Beranda Belajar Islam Adab Adab Di Jalan

Adab Di Jalan

3221
0
BERBAGI

Adab Di Jalan

A. MENUNDUKKAN PANDANGAN

Di antara perintah untuk menundukkan pandangan adalah firman Allah azza wa jalla:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya! Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui sesuatu yang mereka perbuat.”
(QS. An-nur, Ayat 30)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Ini adalah perintah dari Allah taala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan!”
(Tafsir Ibnu Katsir, 6;41)

Menundukkan pandangan mata adalah dasar dan sarana untuk menjaga kemaluan. Maka sebab itu, dalam ayat tersebut Allah taala lebih dulu menyebutkan perintah untuk menahan pandangan mata daripada perintah untuk menjaga kemaluan.

Jika seseorang mengumbar pandangan matanya, maka dia telah mengumbar syahwatnya. Sehingga mata pun bisa berbuat durhaka karena memandang dan hal tersebut adalah zina mata.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan yang membenarkannya atau mendustakannya.”
(HR. Bukhari, No.5774)

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan zina mata pertama kali, karena inilah dasar dari zina tangan, kaki, hati dan kemaluan. Kemaluan yang akan tampil sebagai pembukti dari semua zina itu, jika akhirnya benar-benar berzina. Jika mendustakannya, maka tidak berzina. Maka sebab itu, marilah kita menundukkan pandangan! Karena jika mengumbarnya, berarti kita telah membuka berbagai pintu kerusakan yang sangat besar.

B. TIDAK MENGAMBIL HAK JALAN ORANG LAIN

Hal ini yang sering dilakukan oleh para pengguna jalan. Tidak peduli dengan kewajibannya dan hak orang lain, padahal hal tersebut termasuk kezhaliman.

Zhalim di dalam adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kemudian lawan kata dari zhalim adalah adil.

Secara bahasa, kata zhalim bermakna gelap. Di dalam Al-quran menggunakan kata zhulmu selain itu juga digunakan kata baghyu, yang artinya juga sama dengan zhalim, yaitu melanggar hak orang lain. Namun, pengertian zhalim lebih luas maknanya daripada baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezhaliman memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.

Kalimat zhalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, ketidakadilan, dan perbuatan semisalnya.

Pada dasarnya, sifat ini merupakan sifat yang keji lagi hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak Islam dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal itu untuk melakukan kebaikan, bukan keburukan.

Perlu diketahui, terdapat sangat banyak ancaman dan balasan dari Allah untuk orang yang berbuat zhalim.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعۡمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ. مُهۡطِعِينَ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ
“Dan janganlah kamu mengira, bahwa Allah lengah dari sesuatu yang diperbuat oleh orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka hingga hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak, mereka datang tergesa-gesa (memenuhi panggilan) dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.”
(QS. Ibrahim, Ayat 42-43)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْئٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barang siapa berbuat zhalim kepada saudaranya dalam kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah dia meminta kehalalannya pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang tidak ada Dinar tidak juga Dirham. Apabila dia mempunyai amalan shalih, maka akan diambil darinya sekadar kezhalimannya dan apabila dia tidak mempunyai kebaikan, maka akan diambil dari keburukan orang yang dizhalimi, kemudian ditimpakan kepadanya.”
(HR. Bukhari, No.2449)

Jadi, ketika di negeri Indonesia berlaku jalur sebelah kiri, maka para pengguna jalan tidak boleh mengambil jalur sebelah kanan (dalam satu jalan), karena itu adalah hak jalan orang lain. Selain itu, peraturan tersebut menjadi sebab jalan menjadi tertib dan rapi. Bahkan efek untuk pengguna jalan adalah membuat mereka jadi aman dalam perjalanan, terhindar dari berbagai kemungkinan kecelakaan.

C. BERDZIKIR KETIKA MELIHAT SESUATU YANG MEMBUAT TAKJUB

Jika seseorang melihat sesuatu yang membuatnya takjub dalam masalah harta, maka ucapkan;

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Semua atas kehendak Allah, tidak ada daya kecuali atas kehendak Allah.”

Seperti dalam Al-quran, tentang kisah Shahibul Jannatain (orang yang memiliki dua kebun).

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا
“Dan mengapa ketika kamu memasuki kebunmu tidak mengucapkan; Masyaallah la quwwata illa billah (Sungguh atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, meskipun kamu anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.”
(QS. Al-kahfi, Ayat 39)

Namun, ketika melihat perkara duniawi yang membuat takjub selain dari harta, maka ucapkan:

اَللَّهُمَّ إِنَّ الْعَيشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ
“Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya (hakiki) adalah kehidupan akhirat.”
(HR. Muslim, No.1804)

Atau bisa juga dengan mengucapkan kalimat-kalimat semisalnya:

لَبَّيْكَ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ
“Ya Allah, aku penuhi panggilanmu, sungguh kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat.”
(HR. Muslim, no.1805)

Imam Muhammad bin Idris Asy-syafii rahimahullah menjelaskan:
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkannya pada momen yang paling membahagiakan dan paling menyusahkan.”
(Nihayah Al-mathlab, 4;237)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah berkata:
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu jika melihat suatu perkara dunia yang membuatnya takjub, beliau mengatakan doa tersebut. Karena jika seseorang melihat suatu perkara dunia yang membuatnya takjub, mungkin saja dia meliriknya, sehingga dia berpaling dari Allah. Maka sebab itu, beliau mengucapkan; Labbaik. Sebagai jawaban terhadap panggilan Allah azza wa jalla, kemudian beliau memantapkan hatinya dengan mengucapkan; Sungguh kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat. Karena kehidupan yang membuatmu takjub ini adalah kehidupan yang pasti musnah, sedangkan kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat. Maka sebab itu, termasuk di antara sunnah ketika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan di dunia ini adalah mengucapkan doa di atas.”
(Asy-syarh Al-mumti, 3;124)

Perkataan Rasulullah di atas adalah dalam rangka menundukkan dirinya dengan mengakui, bahwa perkara duniawi seperti apapun keadaannya, dunia sesungguhnya rendah, tidak ada kehidupan hakiki di dalamnya. Karena sesungguhnya kehidupan hakiki adalah kehidupan akhirat.

Doa dan dzikir di atas mengajarkan kita untuk selalu ingat kepada Allah, sadar bahwa hal indah yang membuat kita takjub itu semua adalah ciptaan Allah azza wa jalla. Dan hal itu menjadi sebab pihak yang kita puji terlindungi dari penyakit ain.

Penyakit ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki (hasad) ataupun kagum (takjub), sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.

Imam Ibnul Atsir rahimahullah berkata:
“Dikatakan, bahwa Fulan terkena Ain, yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya, lalu pandangan tersebut mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit.”
(An-nihayah, 3;332)

Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan, bahwa ain adalah ada dan memang nyata.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا
“Ain itu benar adanya, andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka ain akan mendahuluinya. Dan apabila kalian diminta mandi (untuk mengobati orang yang kalian timpakan penyakit ain), maka mandilah!”
(HR. Muslim, No.2188)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:
“Jiwa orang yang menjadi penyebab ain bisa saja menimbulkan penyakit ain tanpa harus dengan melihat (langsung). Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu kepadanya, jiwanya bisa menimbulkan penyakit ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab ain yang bisa menjadi sebab terjadinya ain, hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung.”
(Zad Al-maad, 4;149)

Syaikh Muhammad Shalih Al-munajjid hafizhahullah berkata:
“Maka sebab itu, jelaslah bahwa penyebab ain bisa terjadi ketika melihat gambar seseorang atau melalui televisi atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian orang tersebut terkena ain. Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.”
(Fatwa Al-islam As-sual Wa Al-jawab, No.122272)

Jadi, berdzikirlah ketika kita merasa takjub terhadap sesuatu apapun! Agar sesuatu yang kita kagumi tidak terkena penyakit ain.

D. MEMATUHI RAMBU LALU LINTAS

Terdapat fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah tentang masalah ini.

Pertanyaan:
Apa hukum dalam Islam untuk orang yang melanggar rambu lalu lintas, seperti menerobos lampu lalu lintas, padahal sedang lampu merah?

Jawaban:
Tidak boleh bagi seorang muslim atau non muslim melanggar peraturan negara terkait rambu lalu lintas. Karena tindakan ini menyebabkan bahaya besar baginya dan orang lain. Pihak pemerintah -yang semoga Allah memberikan taufik- membuat undang-undang dan peraturan tersebut, dalam rangka menjaga kemashlahatan (kebaikan) untuk seluruh masyarakat dan menghindarkan bahaya, agar tidak menimpa kaum muslimin. Karena itu, tidak boleh bagi seorang pun untuk melanggar aturan tersebut dan pemerintah boleh memberikan hukuman untuk perbuatan tersebut, yang bisa membuatnya jera (kapok). Karena Allah menghentikan maksiat masyarakat melalui penguasa, yang tidak bisa dihentikan dengan Al-quran dan As-sunnah. Mereka bisa berhenti dari pelanggaran, karena hukuman yang diberikan oleh pemerintah. Mengapa bisa demikian? Karena sedikitnya (lemahnya) iman mereka kepada Allah dan hari akhir.”
(Fatawa Islamiyah, 4;724)

Sebagai tambahan kisah teladan untuk para pembaca dari penjelasan fatwa tersebut adalah seperti yang dicontohkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah.

Bahwa Syaikh Utsaimin suatu ketika menaiki mobil bersama temannya. Berangkat dari Unaizah menuju Buraidah untuk suatu keperluan penting dengan sebuah lembaga sosial. Si pengemudi yang juga pemilik mobil tersebut, membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga diberhentikan oleh polisi. Melihat Syaikh Utsaimin ada di dalam mobil tersebut, polantas (polisi lalu lintas) mengizinkan mobil yang ditumpangi Syaikh tersebut untuk terus jalan saja. Lalu Syaikh menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi kepada temannya, maka dia pun menceritakannya kepada Syaikh. Syaikh berkata; Balik lagi ke tempat tadi! Sesampainya di sana, lalu Syaikh bertanya kepada polisi tadi; Mengapa anda menghentikan laju mobil kami? Polisi; Karena laju mobil ini melebihi batas kecepatan. Syaikh bertanya; Lalu mengapa anda tidak menilang kami? Polisi; Barang kali anda berdua sedang terburu-buru karena suatu urusan penting, ya Syaikh! Syaikh menolak dan bertanya; Berapa biaya tilang karena melanggar peraturan? Setelah mengacu pada undang-undang lalu lintas setempat, ternyata biaya tilangnya adalah 300 real. Syaikh berkata; Ini 150 real dari saya dan ambilah 150 realnya lagi dari teman saya ini! Karena dia telah melanggar peraturan, sedangkan saya tidak menasihatinya.”
(Muqaddimah Syarh Shahih Bukhari)

Seperti itulah kerendahan hati (tawadhu) dan sikap wara seorang ulama Ahlussunnah yang layak untuk kita jadikan panutan. Beliau seorang ulama saja sangat patuh terhadap rambu lalu lintas, bagaimana dengan kita?

E. TIDAK MELUDAH SEMBARANGAN

Hal seperti ini sering dianggap sepele oleh sebagian orang. Padahal itu termasuk hal yang menggangu manusia, terkhusus bagi yang berada di sekitar tempat tersebut.

Ada beberapa adab membuang ludah yang harus diperhatikan:

1. Tidak Boleh Meludah Ke Arah Kiblat.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَفْلُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَمَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الْخَبِيثَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا
“Barang siapa meludah ke arah kiblat, maka pada hari Kiamat dia akan datang sementara ludahnya ada di antara kedua matanya.”
(HR. Abu Daud, No.3328)

Hadits ini di dalamnya mengandung tuntunan dan pelajaran yang sangat penting, yaitu larangan meludah atau membuang dahak ke arah kiblat secara mutlak, baik di masjid, mushalla, atau di tempat-tempat lainnya.

Imam Ash-shanani rahimahullah menjelaskan:
“Imam An-nawawi lebih yakin dengan larangan melakukan hal-hal tersebut dalam segala situasi, ketika shalat ataupun di luar shalat, di masjid atau di tempat lain.”
(Subul As-salam, 1;230)

2. Tidak Boleh Meludah Ke Arah Depan Ketika Shalat.
Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa bercerita:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقُ قِبَلَ وَجْهِهِ فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat ludah di dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya, kemudian menghadap ke arah orang banyak seraya bersabda; Jika seseorang dari kalian berdiri shalat, janganlah dia meludah ke arah depannya, karena Allah berada di hadapannya ketika dia shalat!”
(HR. Bukhari, No.391)

Ketika terpaksa harus meludah saat shalat, maka boleh meludah ke arah kirinya dengan syarat tidak ada orang lain atau jamaah di sampingnya. Kalau ada orang lain, bisa meludah ke bawah kakinya apabila lantainya tanah atau pasir, sehingga memungkinkan untuk ditutup dengan tanah. Kalau lantainya keramik atau karpet, maka meludah ke tisu atau sapu tangan, atau bisa juga ke bajunya, berdasarkan riwayat tersebut.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ
“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, maka sesungguhnya Allah tabaaraka wa taala berada di hadapannya. Maka janganlah dia meludah ke arah depan atau ke kanan! Hendaklah dia meludah ke sebelah kiri di bawah kaki kirinya dan jika terlanjur keluar, maka hendaklah dia tumpahkan ke pakaiannya. Beliau kemudian melipat bajunya satu sama lain.”
(HR. Muslim, No.3008)

3. Tidak Boleh Meludah Di Masjid.
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat ada dahak di dinding kiblat. Beliau lalu merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda; Jika seseorang dari kalian berdiri shalat, maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya atau sesungguhnya Rabbnya berada di antara dia dan kiblat, maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi lakukanlah ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya)! Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam memegang tepi selendangnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau menggosok-gosok kainnya lalu berkata, atau dia melakukan seperti ini.”
(HR. Bukhari, No.390)

Masjid adalah tempat mulia khusus untuk berdzikir, membaca Al-quran, shalat, dan mengerjakan berbagai ibadah lainnya. Maka dilarang membuang semua bentuk kotoran, termasuk ludah dan dahak. Inilah salah satu cara mengagungkan syiar Islam di rumah Allah. Bahkan disebutkan secara khusus, bahwa orang yang meludah atau membuang dahak di masjid, dia telah melakukan sebuah kesalahan.

4. Kafarat Meludah Di Masjid.
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّفْلُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهُ أَنْ تُوَارِيَهُ
“Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Meludah di masjid adalah suatu kesalahan dan kafaratnya adalah dengan menutupinya.”
(HR. Abu Daud, No.401)

Demikian solusi ketika terpaksa harus meludah di dalam masjid. Yang terbaik, tentu meludah di luar masjid dengan tanpa menghadap kiblat dan ditimbun tanah atau di kloset, dan hal ini lebih sesuai dengan adab. Karena kebanyakan orang memang merasa risih dengan ludah, apalagi dahak. Sementara, memerhatikan kenyamanan orang lain adalah tindakan terpuji. Bahkan, membuangnya dengan sembarangan bisa jadi mendapat dosa, apabila ternyata orang lain merasa terganggu.

Dilihat dari sisi kesehatan (medis) juga tidak kalah penting. Karena, dengan izin Allah, ludah atau dahak merupakan salah satu media penularan penyakit-penyakit tertentu, seperti TBC, batuk, dan penyakit yang semisalnya.

Jadi ketika sedang berada di jalan, meludahlah ke arah kiri dan ke tempat yang tidak ada manusia atau bukan ke tempat yang biasa digunakan untuk berteduh dan semisalnya!

F. MENYEBUT NAMA ALLAH KETIKA TERSANDUNG

Amir bin Usamah rahimahullah, dari seorang lelaki bercerita:

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ
“Aku pernah boncengan bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu hewan tunggangan kami tersandung, aku pun mengatakan; Celakalah setan! Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku; Jangan kamu katakan; Celakalah setan! Karena jika kamu mengucapkan itu, maka setan akan semakin besar hingga besarnya seperti sebuah rumah dan setan akan berkata; Ini terjadi karena kekuatanku. Tetapi katakanlah; Bismillah. Karena ketika kamu mengucapkan itu, setan akan mengecil hingga seperti lalat.”
(HR. Abu Daud, No.4330)

Masih sangat banyak manusia yang belum mengetahui tentang sunnah ini disebabkan karena kejahilannya terhadap syariat Islam. Buktinya, masih banyak di antara kita ketika tersandung mengucapkan; Innalillahi, Allahu Akbar, Astaghfirullah, dan beberapa lafazh dzikir lainnya. Meskipun itu semua kalimat dzikir dan sangat baik maknanya, tapi jika digunakan dalam rangka beribadah kepada Allah, tanpa dilandasi dengan dalil, maka hukumnya tetap tidak boleh digunakan. Karena dalam beribadah, tidak cukup dengan berdasarkan anggapan baik saja namun, harus dengan berdasarkan dalil yang shahih berasal dari Al-quran dan As-sunnah.

Bahkan ada yang lebih buruk dari itu, yaitu kita malah menjadi orang yang latah. Kita mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak bermanfaat, bahkan mengucapkan kalimat jorok dan kasar. Padahal ucapan seperti itu merupakan cerminan kepribadian seseorang. Seperti teko air, ketika ia diisi oleh air teh, maka akan keluar air teh dari mulutnya. Ketim diisi air bening, maka akan keluar air bening juga.

Jadi yang benar sesuai syariat Islam, ketik tersandung atau terpeleset, ucapkanlah bismillah!

G. MENYINGKIRKAN GANGGUAN YANG ADA DI JALAN
 
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di antara cabang keimanan adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Beliau menjelaskan, bahwa amalan ringan tersebut merupakan cabang keimanan yang paling rendah.

Rasulullah bersabda:

اَلْإِيْـمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيْـمَانِ
“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan; Laa Ilaha Illa Allah (tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar, selain Allah), sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.”
(HR. Muslim, No.35)

• Keutamaan menyingkirkan gangguan dari jalan:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِيْ آدَمَ عَلَى سِتِّيْنَ وَثَلَاثِمِائَةِ مَفْصِلٍ فَمَنْ كَبَّرَ اللَّهَ وَحَمِدَ اللَّهَ وَهَلَّلَ اللَّهَ وَسَبَّحَ اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ وَعَزَلَ حَجَرًا عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ شَوْكَةً أَوْ عَظْمًا عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ وَأَمَرَ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهَى عَنْ مُنْكَرٍ عَدَدَ تِلْكَ السِّتِّيْنَ وَالثَّلَاثِمِائَةِ السُّلَامَى فَإِنَّهُ يَمْشِيْ يَوْمَئِذٍ وَقَدْ زَحْزَحَ نَفْسَهُ عَنْ النَّارِ
“Sesungguhnya setiap manusia dari Bani Adam diciptakan dengan 360 persendian. Siapa yang bertakbir (Allahu akbar), bertahmid (Alhamdulillah), bertahlil (La ilaha illa Allah), bertasbih (Subhanallah), beristighfar (Astaghfirullah) kepada Allah, menjauhkan batu dari jalanan orang, duri atau tulang dari jalanan orang, beramar makruf-nahi mungkar (memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari keburukan) sejumlah 360 persendian itu, maka dia berjalan pada hari itu sedangkan dia benar-benar telah menjauhkan dirinya dari Neraka.”
(HR. Muslim, No.1675) 

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Ketika seorang lelaki sedang berjalan di suatu jalan, dia mendapati batang kayu yang berduri di jalan tersebut, lalu dia mengambil dan membuangnya, maka Allah azza wa jalla berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.”
(HR. Muslim, No.4743)

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يُؤْذِيْهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
“Ada seseorang melewati sebuah pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata; Demi Allah, aku benar-benar akan menyingkirkannya dari umat Islam, agar tidak mengganggu mereka. Lalu orang tersebut dimasukkan ke dalam Surga.”
(HR. Muslim, No.4744)

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيْقِ كَانَتْ تُؤْذِيْ النَّاسَ
“Sungguh aku benar-benar melihat seorang berguling-guling di Surga (merasakan kenikmatannya) disebabkan sebuah pohon yang dia potong dari tengah jalan yang sebelumnya mengganggu manusia.”
(HR. Muslim, No.4745)

Terlihat ringan namun, terasa besar keutamaannya. Semoga dengan membaca beberapa motivasi dari hadits-hadits tersebut, bisa membuat kita kembali bersemangat untuk istiqamah dalam melakukan berbagai kebaikan.

H. TEGUR SAPA DENGAN SALAM

Kebiasaan baik ini mulai hilang di kalangan umat Islam. Di antara kita saat ini ketika bertemu dengan saudaranya sesama muslim sudah merasa nyaman dan terbiasa dengan tegur-sapa tanpa salam. Ada yang hanya dengan lambaian tangan, menundukkan kepala, senyuman, dan cara-cara semisalnya.

Padahal Rasulullah sudah mengajarkan kita tentang cara tegur-sapa yang benar dari dahulu, yakni dengan mengucapkan salam ketika bertemu dengan saudara muslim, beliau bersabda;

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذاَ مَاتَ فَاتْـبَعْهُ
“Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya itu ada enam; Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika dia meminta nasihat kepadamu maka berilah dia nasihat, jika dia bersin dan mengucapkan; Alhamdulillah, maka doakanlah dia dengan mengucapkan; ‘Yarhamukallah, jika dia sakit maka jenguklah, dan jika dia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya!”
(HR. Muslim, No.2162)

لِيُسَلِّمِ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ وَالرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِيْ
“Hendaklah yang muda memberi salam (terlebih dahulu) kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yang berkendara kepada yang berjalan!”
(HR. Muslim, No.2160)

يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوْا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ، وَيُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ
“Jika rombongan lewat, maka cukup satu orang saja di antara mereka yang mengucapkan salam untuk mewakili semuanya, dan juga cukup satu orang saja yang menjawab salam untuk mewakili semuanya.”
(HR. Abu Daud, No.5210)

لَا تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا وَلَا تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوْا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!”
(HR. Muslim, No.54)

Karena menyebarkan salam dapat menimbulkan kecintaan, maka sebaliknya meninggalkan salam akan menyebabkan kesedihan. Jika ada seseorang yang lewat dan mengucapkan salam kepada kita, maka tentu kita akan merasa senang dan cinta. Namun, jika yang lewat itu tanpa mengucapkan salam, maka kita pun akan merasa ragu atau tersinggung terhadapnya. Realita ini menunjukkan, bahwa salam memiliki urgensi yang sangat tinggi.

Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-ash radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
“Bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; Islam seperti apa yang paling baik? Beliau menjawab; Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.”
(HR. Muslim, No.39)
_____
@ Kota Angin Majalengka, Jawa Barat.
28 Dzulhijjah 1439H/09 September 2018M
Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Keluar Rumah
Artikel sesudahnyaMau Dapat 2 Juta & Rumah Sepulang Dari Pasar?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here