Beranda Belajar Islam Adab Adab Berpenampilan

Adab Berpenampilan

2545
0
BERBAGI

Adab Berpenampilan

Allah azza wa jalla berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-tin, Ayat 4)

Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللّٰهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar debu (biji). Ada seseorang yang bertanya: Bagaimana dengan seseorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
(HR. Muslim, No.91)

Di antara adab dan sunnah-sunnah yang harus diperhatikan saat bergaya atau berpenampilan adalah:

A. MERAPIKAN RAMBUT

Sepertinya kita sering melihat laki-laki yang berambut panjang (gondrong) namun, rambutnya acak-acakan (tidak rapi). Melihatnya saja mengerikan, apalagi jika dia sedang marah, tentunya lebih menakutkan lagi.

Perlu kita ketahui, bahwa islam tidak melarang seseorang untuk berambut panjang namun, islam benci dengan penampilan yang kusut, tidak rapi, berantakan, sehingga menjadikan wajah yang tampan menjadi mengerikan atau wajah cantik rupawan menjadi menakutkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ
“Barang siapa memiliki rambut panjang, maka hendaknya dia memuliakan rambutnya (merawatnya dengan baik).”
(HR. Abu Daud, No.3632),

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu bercerita:

أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى رَجُلًا شَعِثًا قَدْ تَفَرَّقَ شَعْرُهُ فَقَالَ أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ وَرَأَى رَجُلًا آخَرَ وَعَلْيِهِ ثِيَابٌ وَسِخَةٌ فَقَالَ أَمَا كَانَ هَذَا يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوْبَهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendatangi kami, lalu beliau melihat seorang lelaki yang rambutnya kusut (acak-acakan). Lalu beliau bersabda; Tidakkah lelaki ini memiliki sesuatu yang dapat dia gunakan untuk merapikan rambutnya? Jabir berkata; beliau juga melihat lelaki yang berpakaian kotor, maka beliau juga bersabda; Tidakkah lelaki ini memiliki sesuatu yang dapat dia gunakan untuk mencuci bajunya?”
(HR. Abu Daud, No.3540)

Selain itu, Islam juga sudah menjelaskan adab dan sunnah-sunnah dalam merapikan rambut, di antaranya:

1. Mulai Menyisir Rambut Dari Sebelah Kanan.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam suka memulai dari sebelah kanan ketika mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala aktivitasnya.”
(HR. Bukhari, No.163)

2. Tidak Boleh Mencukur Sebagian Rambut.
Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ الْقَزَعِ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ قُلْتُ وَمَا الْقَزَعُ فَأَشَارَ لَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ إِذَا حَلَقَ الصَّبِيَّ وَتَرَكَ هَا هُنَا شَعَرَةً وَهَا هُنَا وَهَا هُنَا فَأَشَارَ لَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ إِلَى نَاصِيَتِهِ وَجَانِبَيْ رَأْسِهِ قِيلَ لِعُبَيْدِاللَّهِ فَالْجَارِيَةُ وَالْغُلَامُ قَالَ لَا أَدْرِي هَكَذَا قَالَ الصَّبِيُّ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ وَعَاوَدْتُهُ فَقَالَ أَمَّا الْقُصَّةُ وَالْقَفَا لِلْغُلَامِ فَلَا بَأْسَ بِهِمَا وَلَكِنَّ الْقَزَعَ أَنْ يُتْرَكَ بِنَاصِيَتِهِ شَعَرٌ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ غَيْرُهُ وَكَذَلِكَ شَقُّ رَأْسِهِ هَذَا وَهَذَا
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari qaza (mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain). Ubaidullah berkata; Aku bertanya; Apakah qaza itu? Ubaidullah lalu mengisyaratkan kepada kami sambil berkata; Jika rambut anak kecil dicukur, lalu membiarkan sebagian yang ini, yang ini, dan yang ini. Ubaidullah menunjukkan kepada kami pada ubun-ubun dan samping (kanan dan kiri) kepalanya. Ditanyakan kepada Ubaidullah; Apakah hal itu berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan? Dia menjawab; Aku tidak tahu yang seperti ini. Penanya bertanya lagi; Apakah khusus untuk anak laki-laki? Ubaidullah mengatakan; Pertanyaan itu pernah juga aku ulangi (kepada syaikhku), lalu dia berkata; Dan boleh (membiarkan) rambut depan kepala dan rambut tengkuk bagi anak-anak, akan tetapi maksud qaza adalah membiarkan sebagian rambut yang ada di ubun-ubun, hingga di kepala hanya tersisa itu, begitu pula dengan memangkas rambut kepalanya ini dan ini.”
(HR. Bukhari, No.5465)

Jadi, qaza adalah jenis potongan rambut yang tidak merata. Karena cara memotongnya dengan mencukur sebagiannya saja dan sebagiannya lagi tidak dicukur atau dicukur dengan ukuran yang tidak seimbang, sehingga menghasilkan tampilan rambut yang tidak rapi.

Maka sebab itu, kalau kita ingin mencukur rambut, cukurlah dengan rapi, pangkaslah bagian rambut dengan seimbang atau rata ukurannya, agar terlihat lebih indah dan bersih. Kalau rambut kita mau dipanjangkan, silakan dengan rapi. Atau kalau mau dipendekkan, silakan dengan rata.

Karena apapun nama model rambutnya, ketika cara mencukurnya dengan memotong sebagian dan meninggalkan sebagian, dikhawatirkan itu termasuk qaza. Salah satu alasannya, karena mengandung unsur menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang kafir.

Para orang tua seharusnya berusaha memantau anak-anaknya ketika akan mencukur rambutnya. Karena seperti itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Rasulullah bersabda:

ُادْعُوا لِي بَنِي أَخِي فَجِيءَ بِنَا كَأَنَّا أَفْرُخٌ فَقَالَ ادْعُوا لِي الْحَلَّاقَ فَأَمَرَهُ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا
“Undanglah kemari anak saudaraku! Kami lalu dihadapkan kepada beliau, seperti anak-anak ayam, beliau lantas bersabda; Panggilkan tukang cukur kepadaku! Lalu beliau memerintahkan tukang tukur tersebut untuk mencukur, hingga kami semua dicukur olehnya.”
(HR. Abu Daud, No.3660)

Syaikh Jamal Abdurrahman hafizhahullah menjelaskan:
“Hadits tersebut mengandung petunjuk dan nasihat bagi para orang tua, termasuk kita, agar kita yang mengatur proses pencukuran rambut anak-anaknya, dan menetapkan waktu untuk dicukur dan untuk dibiarkan. Sebaiknya kita tidak membebaskan masalah mencukur rambut anak, karena bisa jadi anaknya akan meniru potongan rambut yang aneh-aneh. Akibatnya, mereka meninggalkan petunjuk Rasulullah dan berpaling dari sunnahnya.”
(Athfal Al-muslimin Kayfa Rabbahum An-nabi Al-amin Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Hlm.85)

3. Tidak Berlebih Dalam Mengurusi Rambut.
Apabila seseorang sudah menghabiskan waktunya untuk mengurus dan menghias rambutnya, maka ini merupakan tindakan berlebih-lebihan dan hukumnya makruh.

Sahabat Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ أَوْ يَبُولَ فِي مُغْتَسَلِهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang salah seorang dari kami menyisir rambut setiap hari atau buang air kecil di tempat mandinya.”
(HR. Abu Daud, No.26)

Maksudnya, Rasulullah melarang untuk menyisir rambut secara berlebihan, apabila rambut masih terlihat bagus dan rapi, maka tidak perlu disisir kembali. Berlebihan dalam bersisir membuat seseorang tersibukkan dari mengurus perkara-perkara yang lebih bermanfaat dan lebih penting lagi, dapat melalaikannya dari dzikrullah dan kegiatan ibadah lainnya.

Banyak para wanita yang senang pergi ke salon untuk mengurus rambutnya, padahal itu merupakan salah satu sikap berlebih-lebihan dalam mengurus rambut. Selain itu, sering pergi ke salon dapat membuang harta secara mubadzir (boros). Apalagi, kebanyakan salon masih mencampur-baurkan antara kaum lelaki dan kaum wanita, sehingga memungkinkan wanita untuk memperlihatkan rambutnya atau bagian auratmya kepada lelaki yang bukan mahramnya. Maka sebab itu, wajib bagi para wanita untuk menghindari tempat semacam itu, karena sangat banyak kemungkaran dan kemaksiatan di dalamnya.

4. Tidak Boleh Menyemir Rambut Dengan Warna Hitam.
Bagi teman-teman yang sudah beruban, maka diperbolehkan untuk mengubah warna rambutnya dengan warna apapun, kecuali warna hitam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam!”
(HR. Muslim, No.2102)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga telah mengabarkan bahwa pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan bisa mencium aroma Surga.

Rasulullah juga bersabda:

يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
“Pada akhir zaman nanti akan ada orang-orang yang mengecat rambutnya dengan warna hitam seperti warna mayoritas dada merpati, mereka tidak akan bisa mencium aroma Surga.”
(HR. Abu Daud, No.3679)

5. Merapikan Rambut Dengan Benar Ketika Mengenakan Hijab.
Karena di antara muslimah saat ini, masih banyak belum tahu cara yang dibolehkan oleh syariat Islam dalam merapikan rambut ketika mengenakan jilbab.

Salah satu cara yang salah adalah dengan mengumpulkan rambut bagian belakang, seperti disanggul pada bagian atas. Sehingga ketika mengenakan jilbab, tampak dari luar seperti punuk unta.

Jadi, cara yang aman dan benar adalah dengan mengumpulkan rambut, lalu mengikatnya pada bagian bawah, bukan di bagian atas. Dan ini berlaku hanya untuk wanita yang berambut panjang, adapun yang rambutnya pendek, maka tidak perlu diikat, diuraikan itu lebih aman.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu; Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya dia memukuli orang. Dan kaum wanita yang berpakaian, tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan tergelincir dari ketaatan, rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk Surga dan juga tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu bisa tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.”
(HR. Muslim, No.5098)

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan:
“Makna ‘kasiyatun ariyatun’ adalah para wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga bisa menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna. Mereka memang berpakaian namun, pada hakikatnya mereka telanjang (tidak berpakaian).”
(Jilbab Al-marah Al-muslimah, Hlm.125)

6. Tidak Boleh Menyambung Rambut.
Sebagai contoh realita di negeri ini, ketika tiba Hari Kartini biasanya masyarakat, di antaranya kaum wanita mulai sibuk merias dirinya dengan menggunakan konde (sanggul), kebaya, dan perlengkapan semisalnya. Padahal Islam sudah menjelaskan hukum konde atau sanggul, karena itu biasanya digunakan dengan cara menyambung rambut dengan rambut.

Di antara penjelasan mengenai hukum konde (sanggul) adalah:

a. Rasulullah sangat melarang menyambung rambut.
Meskipun itu dilakukan karena sakit atau untuk menutupi aib.

Asma binti Abu bakr radhiyallahu anhuma bercerita:

أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أَنْكَحْتُ ابْنَتِي ثُمَّ أَصَابَهَا شَكْوَى فَتَمَرَّقَ رَأْسُهَا وَزَوْجُهَا يَسْتَحِثُّنِي بِهَا أَفَأَصِلُ رَأْسَهَا فَسَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ
“Bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata; Sesungguhnya aku hendak menikahkan putriku, ternyata putriku menderita suatu penyakit yang menyebabkan rambutnya rontok, sedangkan calon suaminya sangat kasihan kepadanya. Apakah aku boleh menyambung rambutnya? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mencela orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung rambutnya.”
(HR. Bukhari, No.5479)

لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ
“Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya, lalu melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato.”
(HR. Bukhari, No.5477)

b. Kriteria sambung rambut yang terlarang
Sambungan rambut yang statusnya terlaknat adalah sambungan rambut yang bentuknya rambut, termasuk rambut manusia atau rambut sintetis.

Karena semacam itu mengandung kesan penipuan namun, jika sambungan rambut itu dengan benda selain rambut, menurut pendapat para ulama yang lebih kuat, maka hal tersebut dibolehkan. Seperti, kain, plastik, atau benda semisalnya.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:
“Yang diharamkan adalah menyambung rambut dengan rambut, karena terdapat tadlis (penipuan) dan menggunakan sesuatu yang masih diperdebatkan kenajisannya. Adapun selain itu tidak diharamkan, karena tidak mengandung makna ini (tadlis dan najis), dan juga adanya maslahat (kebaikan) untuk mempercantik diri di hadapan suami dengan tidak mendatangkan madharat (bahaya).”
(Al-mughni, 1;70)

Tentu saja, konde yang dikenakan oleh beberapa wanita ketika peringatan hari kartini, pesta nikah, atau pesta adat lainnya, termasuk menyambung rambut yang terlarang, karena bentuknya sama persis dengan rambut.

c. Memakai konde untuk mengagungkan tokoh.
Dalam hadits di atas, seorang wanita yang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sedang sangat membutuhkan sesuatu untuk bisa menutupi aib putrinya, yakni dengan menyambung rambutnya. Apalagi dia didesak oleh suami putrinya, agar segera menangani masalah fisik putrinya. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tetap melarangnya.

Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan:
“Jika menyambung rambut untuk kondisi darurat saja tetap hukumnya tidak boleh, lalu apalagi lagi untuk kasus yang tidak darurat?
(Al-istidzkar, 8;431)

Orang-orang yang memakai konde pada momen peringatan tersebut, secara umum dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Namun, keadaan semacam ini biasanya disebabkan prakarsa (upaya) para orang tuanya. Jika yang memakai konde belum baligh, mereka tidak menanggung dosa.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ
“Pena catatan amal diangkat untuk tiga orang; Orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga besar (baligh), dan orang gila hingga dia sadar atau berakal.”
(HR. Abu Daud, No.4398)

Tentu saja permasalahan tidak berhenti sampai di sini. Karena perbuatan menyambung rambut yang dilakukan oleh pihak salon dan semisalnya di atas adalah peran orang yang mengendalikannya. Dengan demikian, ada dua pihak yang bertanggung jawab untuk menanggung dosa kemaksiatan tersebut:
– Pihak salon yang memasangkan konde, dan mereka adalah Al-washilah (orang yang menyambung rambut).
– Pihak orang tua atau semua pihak yang mengarahkan anaknya atau orang lain untuk memakai konde, karena mereka memprakarsai terwujudnya kemaksiatan tersebut.

Kami hanya bisa menasihatkan, agar berhati-hati dalam bersikap, terutama terkait adat yang tidak sesuai syariat Islam. Karena bisa jadi satu pelanggaran yang kita anggap sebagai hal remeh, padahal itu termasuk pelanggaran besar dalam syariat Islam.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ
“Kemudian nampak bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.”
(QS. Az-zumar, Ayat 47)

Bisa jadi kita menyangka itu hanya hal biasa dan bukan dosa. Namun, ternyata hasilnya adalah balasan adzab yang sangat dahsyat dan luar biasa dari Allah azza wa jalla.

B. MENGHIAS WAJAH

Wajah merupakan cerminan keindahan seseorang. Ganteng atau cantiknya seseorang, biasanya ditentukan oleh tampilan wajah. Dan perlu diingat, Islam sudah mengatur cara berhias yang benar. Sehingga seorang yang mengaku beragama Islam, harus tahu juga hal ini, agar bisa selamat dari cara berhias yang salah.

1. Tidak Boleh Mencukur Alis.
Perlu kita ketahui, ketika Iblis diusir oleh Allah azza wa jalla, Iblis bersumpah di hadapanNya untuk menyesatkan seluruh hamba-hambaNya.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Iblis berkata; Aku bersumpah dengan KeagunganMu ya Allah, sungguh akan aku sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu diantara mereka yang baik keimanannya.”
(QS. Shad, Ayat 82-83)

Salah satu misi besar Iblis untuk menyesatkan manusia adalah memerintahkan mereka untuk mengubah ciptaan Allah. Sebagaimana Allah menjelaskan tentang janji Iblis:

وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّٰهِ
“Sungguh aku akan perintahkan mereka untuk mengubah ciptaan Allah.”
(QS. An-nisa, Ayat 119)

Terbukti, sebagian besar yang terjebak dalam larangan ini adalah kaum wanita. Dan Allah jadikan, bagian dari keindahan wanita, yaitu tidak ada bulu di bagian wajah, selain alis dan bulu mata.

Untuk mencegah kaum wanita agar selamat dari rayuan Iblis, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam sudah memberikan peringatan, bahwa beliau melaknat siapapun yang mencukur bulu alisnya.

Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata:

لَعَنَ اللّٰهُ الوَاشِمَاتِ وَالمُوتَشِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللّٰهِ
“Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, Al-mutanamishah dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan (keindahan), yang mengubah ciptaan Allah.”
(HR. Bukhari, No.4886)

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Al-mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan, wanita yang menjadi tukang cukurnya disebut An-Namishah.”
(Syarh Shahih Muslim, 14;106)

Beliau juga menegaskan:
“Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah.”
(Syarh Shahih Muslim, 14;106)

Ibnul Allan rahimahullah juga berkata:
“An-namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan, Al-mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.”
(Dalil Al-falihin, 8;482)

Jadi, setiap cara mengubah anggota tubuh (ciptaan Allah), semisal dengan mencukur alis, pasang konde, behel gigi, atau dengan cara-cara lainnya, itu tetap dilarang oleh Allah azza wa jalla. Kecuali jika sangat dibutuhkan (darurat menurut Islam).

2. Bagi Kaum Wanita Boleh Berdandan Hanya Di Dalam Rumah.
Ini merupakan hal yang harus diperhatikan dan dipahami oleh kaum wanita. Karena masih banyak juga di antara mereka yang belum mengetahuinya, sehingga di antara mereka tetap ada yang bersolek atau berdandan ketika akan keluar rumah, apalagi tujuannya untuk diperlihatkan kepada lelaki yang bukan suaminya.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى 
“Dan hendaklah kalian, para wanita tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu!”
(QS. Al-ahzab, Ayat 33)

Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup di hadapan umum, karena perbuatan tersebut dapat menggoda kaum lelaki.

Jika seorang wanita berdandan tujuannya hanya untuk diperlihatkan kepada suaminya, untuk memuaskan syahwat suaminya, maka hal seperti ini yang sangat diperintahkan oleh Islam. Itulah salah satu kriteria wanita shalihah, yang menjadi perhiasan terbaik di dunia ini, yang berusaha membantu suaminya menjaga pandangannya dari sesuatu yang tidak halal untuknya.

Maka sebab itu, kaum lelaki wajib memilih wanita (pasangan hidup) yang kuat dan baik agamanya serta berakhlak mulia.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim, No.1467)

أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu; Istri shalihah yang jika dipandang akan menyenangkannya, jika diperintah akan menaatinya, dan jika dia pergi si istri akan menjaga dirinya.”
(HR. Abu Daud, No.1417)

Sudah tentu, bersolek atau berdandan di hadapan suami itu bernilai pahala. Jadi, jika seorang suami merasa senang jika istrinya bersolek di hadapannya, maka dia juga harus berusaha bersolek (bergaya) di hadapan istrinya, agar istrinya juga turut merasakan senang ketika melihatnya.

3. Memendekkan Kumis Dan Memanjangkan Janggut.
Inilah kriteria lelaki jantan (gagah berani). Karena setiap wanita pasti ada yang berkumis meskipun tipis, tapi tidak ada wanita yang berjanggut. Jadi, jika kita mengaku sebagai lelaki, peliharalah janggut bukan kumis!

Buktikanlah, jika kita mengaku cinta kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dengan mengikuti sunnah-sunnahnya, bukan malah menyelisihinya! Karena Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam memelihara janggutnya dan mencukur kumisnya.

Janggut adalah rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu. Jadi, semua rambut yang tumbuh pada dagu, di bawah dua tulang rahang bawah, pipi, dan sisi-sisi pipi disebut lihyah (janggut), kecuali kumis.

Memelihara dan memanjangkan janggut merupakan syariat Allah dan sunnah Rasulullah. Marilah kita lihat bagaimana bentuk fisik Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang berjanggut!

Syaikh Al-albani rahimahullah menjelaskan:
“Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul pada saat beliau berusia 40 tahun, lalu tinggal di Makkah selama 10 tahun, kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun juga, lalu wafat di penghujung tahun 60-an. Di kepala serta janggutnya hanya terdapat 20 helai rambut yang sudah putih.”
(Mukhtashar Syamail Al-muhammadiyyah, Hlm.13)

• Dalil tentang perintah memelihara janggut:

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Potong (pendeklah) kumis dan biarkan (panjanglah) janggut!”
(HR. Muslim, No.623)

أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَةِ
“Beliau shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan janggut.”
(HR. Muslim, No.624)

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى
“Selisilah orang-orang musyrik! Potonglah kumis dan biarkanlah janggut!”
(HR. Muslim, No.625)

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Pendekkanlah kumis dan peliharalah janggut, dan selisihilah kaum Majusi!”
(HR. Muslim, No.626)

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Selisihilah orang-orang musyrik! Biarkanlah janggut dan pendekkanlah kumis!”
(HR. Bukhari, No.5892)

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Cukur habislah kumis dan biarkanlah janggut!”
(HR. Bukhari, No.5893)

Allah azza wa jalla berfirman:,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut. Tidak ada penggantian pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Ar-rum, Ayat 30)

Selain hadits-hadits di atas menggunakan kata perintah, ternyata memelihara janggut juga merupakan sunnah fithrah.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قال زكريَّاءُ قال مصعبٌ ونسيتُ العاشرةَ إلَّا أن تكونَ المضمضةَ
“Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memendekkan kumis, memelihara janggut, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja (cebok) dengan air. Zakariyya berkata, Mushab berkata; Dan aku lupa untuk yang kesepuluh, kecuali berkumur.”
(HR. Muslim, No.261)

Jadi, mulai saat ini tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mencukur janggut dan memanjangkan kumis. Yang harus kita lakukan dan biasakan adalah mencukur kumis (tipis atau habis), lalu memanjangkan janggut.

Itupun jika kita benar-benar mengakui, bahwa diri kita adalah seorang muslim yang mencintai Allah dan RasulNya. Sehingga konsekuensinya kita harus berusaha menjalankan seluruh perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah dengan totalitas.

C. MEMAKAI PERHIASAN

Perhiasan adalah segala sesuatu yang membuat si pemakainya terlihat indah. Dan dalam hal ini pun Islam sudah mengatur batasannya.

Sehingga perhiasan ada yang boleh digunakan oleh kaum lelaki dan kaum wanita, kemudian ada juga yang hanya boleh digunakan untuk kaum lelaki dan tidak boleh untuk kaum wanita, begitupun sebaliknya.

1. Perhiasan Untuk Kaum Lelaki Dan Kaum Wanita.
Secara umum, perhiasan apapun bentuknya boleh digunakan oleh kaum lelaki dan kaum wanita. Yang terpenting tidak melanggar aturan Islam dan tidak memperlihatkan aurat (bagian tubuh yang harus ditutup).

Semisal; Jam tangan, baju, jaket, celana, gamis, sepatu, sandal, tas, ikat pinggang, kaos kaki, dan perlengkapan perhiasan lainnya.

Namun, sekilas yang membedakan perhiasan yang boleh digunakan hanya untuk kaum lelaki dan hanya untuk kaum wanita, itu ditentukan oleh modelnya (desain). Karena pada zaman ini, semua perhiasan-perhiasan tersebut, dibuat dengan model yang beragam.

Contoh; Baju. Kita bisa dengan mudah membedakan mana baju untuk lelaki dan baju untuk wanita, disebabkan model dan desainnya yang berbeda. Sebab itulah, ketika kita sudah tahu tentang modelnya, maka belilah dan gunakanlah pakaian yang modelnya sesuai dengan jenis kelamin kita! Bagi lelaki, maka tidak boleh membeli model baju untuk wanita, begitu juga sebaliknya. Dan hal tersebut berlaku juga untuk perhiasan-perhiasan lainnya.

2. Perhiasan Untuk Kaum Lelaki.
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa secara umum perhiasan boleh digunakan oleh lelaki ataupun wanita. Namun, Islam sudah memberikan batasan yang dibolehkan dan dilarang untuk umatnya.

Contoh; Celana. Secara umum, celana boleh digunakan oleh lelaki dan wanita namun, ketika celana digunakan sebagai perhiasan ketika keluar rumah, maka celana tersebut hanya boleh digunakan oleh kaum lelaki.

a. Kaum wanita tidak boleh keluar rumah mengenakan celana.
Karena celana dapat memperlihatkan lekukan tubuh seorang wanita. Dan secara adat (urf) yang ada di masyarakat, celana itu diidentikkan dengan kaum lelaki. Sehingga wanita tidak boleh mengenakan celana untuk keluar rumah, apalagi jika celana dijadikan sebagai perhiasan bagian luar. Karena hal tersebut nantinya masuk ke dalam bab “tasyabbuh”.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.”
(HR. Abu Daud, No.3512)

Batasan tasyabbuh, ketika sesuatu tersebut merupakan ciri khas suatu kaum. Sehingga kaum lainnya tidak boleh menggunakannya.

Sebetulnya seorang wanita boleh mengenakan celana, ketika digunakan hanya untuk di hadapan suaminya dan digunakan sebagai perhiasan bagian dalam ketika keluar rumah mengenakan gamis (pakaian dari atas hingga bawah yang longgar, bukan seperti celana), karena hal tersebut bisa menjadi sebab tertutupnya aurat wanita. Karena Allah dan RasulNya memerintahkan kaum lelaki dan kaum wanita untuk menutupi aurat.

Jika seorang wanita mengenakan gamis, tapi dia tidak mengenakan celana di bagian dalamnya, maka kemungkinan terbukanya aurat juga lebih besar dan tentu hal tersebut akan menjadi musibah besar bagi dirinya.

Jadi, seorang wanita boleh mengenakan celana ketika digunakan hanya untuk di hadapan suaminya atau digunakan sebagai perhiasan bagian dalam ketika keluar rumah.

Untuk celana, serta pakaian semisalnya yang digunakan dari atas ke bawah untuk kaum lelaki, ada 2 syarat yang harus diperhatikan. Yaitu tidak boleh ketat dan isbal. Untuk masalah ketat, agar lekukan tubuhnya tidak terlihat dan nyaman saat dikenakan. Dan untuk masalah isbal, silakan para pembaca bisa mempelajarinya pada bab sebelumnya, berjudul; Adab Berpakaian. Kemudian bab isbal hanya berlaku untuk kaum lelaki, tidak berlaku untuk kaum wanita.

b. Batasan aurat lelaki.
– Aurat lelaki di hadapan lelaki; Terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama, tentang batasan aurat sesama lelaki, misal dengan kerabat ataupun orang lain.

Pendapat yang sepertinya lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat jumhur ulama yang menyatakan, bahwa aurat sesama lelaki adalah antara pusar hingga lutut. Artinya pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat, sedangkan bagian tubuh di antara keduanya adalah aurat.

Syaikh Al-albani rahimahullah menjelaskan:
“Adapun dalil dalam masalah ini, semua haditsnya terdapat kelemahan pada sisi sanadnya, tetapi dengan berkumpulnya semua jalur sanad tersebut menjadikan hadits-hadits tersebut bisa dikuatkan redaksi matannya, sehingga dapat menjadi hujjah (dalil).
(Irwa Al-ghalil, 1;297)

– Aurat lelaki di hadapan wanita; Jumhur ulama telah sepakat, bahwa batasan aurat lelaki dengan wanita mahramnya atau yang bukan mahramnya, itu sama seperti batasan aurat sesama lelaki, tetapi mereka berselisih tentang masalah hukum wanita memandang lelaki. Pendapat yang sepertinya lebih kuat dalam masalah ini ada dua pendapat.

Pendapat pertama; Ulama Syafiiyyah berpendapat, bahwa tidak boleh seorang wanita melihat aurat lelaki dan bagian lainnya tanpa ada sebab.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangannya!”
(QS. An-nur, Ayat 31)

Ummu Salamah radhiyallahu anha berkata:

كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ مَيْمُونَةُ فَأَقْبَلَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أُمِرْنَا بِالْحِجَابِ فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجِبَا مِنْهُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللّٰهِ أَلَيْسَ أَعْمَى لاَ يُبْصِرُنَا وَلاَ يَعْرِفُنَا فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ
“Aku berada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika Maimunah sedang bersamanya. Lalu masuklah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu anhu, yaitu ketika perintah hijab telah turun. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda; Berhijablah kalian berdua darinya! Kami bertanya; Wahai Rasulullah, bukankah dia buta sehingga tidak bisa melihat dan mengetahui kami? Nabi shallallahu alaihi wa sallam balik bertanya; Apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian berdua dapat melihatnya?”
(HR. Abu Daud, No.4112. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini dhaif)

Kemudian, mereka juga berdalil dengan qiyas (perumpamaan) yaitu; Sebagaimana diharamkan para lelaki melihat wanita, maka seperti itu juga diharamkan para wanita melihat lelaki.

Pendapat kedua; Pendapat ulama di kalangan madzhab Hanbali, boleh bagi wanita melihat lelaki lain selain dari bagian auratnya.

Aisyah radhiyallahu anha berkata:

رَأَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِى بِرِدَائِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ يَلْعَبُونَ فِى الْمَسْجِدِ، حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِى أَسْأَمُ فَاقْدُرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ الْحَرِيصَةِ عَلَى اللَّهْوِ
“Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menutupiku dengan pakaiannya, sementara aku melihat ke arah orang-orang Habasyah yang sedang bermain di dalam Masjid sampai aku sendirilah yang merasa puas. Karenanya, sebisa mungkin kalian bisa seperti gadis belia yang suka bercanda.”
(HR. Bukhari, No.5236)

Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang dianggap lebih mendekati kebenaran adalah hendaknya seorang wanita jika tidak ada kebutuhan yang dibenarkan oleh Islam, maka tidak boleh melihat bagian tubuh dari lelaki, meskipun bukan aurat. Karena dikhawatirkan setan masuk ke dalam hatinya, sehingga bangkitlah syahwatnya dan merasa tertarik terhadap lelaki tersebut. Apalagi jika wanita tersebut sudah memiliki suami, tentu ini akan membuka pintu perceraian. Sungguh suatu musibah yang sangat besar, maka berhati-hatilah!

– Aurat lelaki di hadapan istri; Suami adalah mahram bagi wanita yang terjadi akibat pernikahan. Dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, bahwa seorang suami atau istri boleh melihat seluruh anggota tubuh pasangannya.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.”
(QS. Al-maarij, Ayat 29-30)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنْ جَنَابَةٍ
“Aku mandi bersama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari satu bejana dalam keadaan junub.”
(HR. Bukhari, No.263)

3. Perhiasan Untuk Kaum Wanita.
Untuk kaum wanita ada perhiasan yang hukumnya wajib dan boleh digunakan. Di antara perhiasan yang harus digunakan oleh wanita seperti; Manset (kain untuk menutupi pergelangan tangan) dan kaos kaki. Karena kedua perhiasan tersebut sering dilupakan oleh kaum wanita, dan keduanya tidak wajib bagi kaum lelaki.

Perlu diketahui, semua perhiasan yang boleh digunakan itu harus memenuhi 2 syarat; Harus menutupi aurat dan tidak menyerupai suatu kaum (tasyabbuh).

Salah satu perhiasan yang menjadi identitas kaum wanita adalah semisal jilbab (hijab), gamis, dan rok. Itu semua merupakan pakaian bagian luar yang menjadi pembeda dengan pakaian luar kaum lelaki. Karena di masyarakat, mereka beranggapan bahwa perhiasan tersebut identik dengan kaum wanita, sehingga tidak boleh dikenakan oleh kaum lelaki.

Adapun rok, kami nasihatkan untuk kaum wanita, ketika ingin lebih selamat di keluar rumah, kenakan pakaian yang utuh dari atas hingga bawah, seperti gamis. Karena jika mengenakan pakaian potongan semisal rok, maka akan membutuhkan pakaian potongan lainnya, yaitu baju atau kemeja. Sedangkan, untuk pakaian potongan bagi kaum wanita, itu merupakan celah terlihatnya lekukan tubuh. Sehingga ini menjadi peluang terbukanya aurat. Adapun jika digunakannya di dalam rumah, maka ini tidak mengapa, asalkan yang bersamanya hanya suami atau mahramnya.

Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu anha berkata:

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
“Asma binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berpaling darinya dan bersabda; Wahai Asma! Sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini. Beliau memberikan isyarat dengan menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya.”
(HR. Abu Daud, No.4140. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Maka, kami mengingatkan kembali kepada kaum wanita, untuk berusaha menutupi auratnya, yakni seluruh anggota tubuhnya, kecuali hanya wajah dan kedua telapak tangan. Karena hanya keduanya yang terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama, ada yang berpendapat termasuk aurat dan ada juga yang berpendapat bukan aurat.

Perlu diingat, bahwa Allah dan RasulNya memerintahkan kaum wanita untuk memakai hijab itu untuk menutupi auratnya, sehingga mampu untuk menolak pandangan, bukan malah menarik pandangan kaum lelaki!

Ada satu bagian aurat lagi yang sering dianggap sepele oleh kaum wanita, yaitu kedua kaki. Di antara mereka masih banyak yang enggan menutupinya dengan kaos kaki, tentunya dengan berbagai macam alasan. Padahal terdapat sangat banyak dalil yang menjelaskan wajibnya menutupi bagian kaki bagi kaum wanita, karena termasuk bagian aurat.

• Dalil tentang kewajiban menutupi kaki untuk kaum wanita.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ يُرْخِينَ شِبْرًا فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدْنَ عَلَيْهِ
“Barang siapa menjulurkan kainnya dengan rasa sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat. Ummu Salamah bertanya; Lalu apa yang harus dilakukan kaum wanita dengan dzail (lebihan kain bagian bawah) mereka? Beliau menjawab; Mereka boleh memanjangkannya satu jengkal. Ummu Salamah kembali berkata; Kalau begitu, telapak kaki mereka akan terlihat! Beliau bersabda; Mereka boleh memanjangkannya sehasta, dan jangan lebih.”
(HR. Tirmidzi, No.1653)

Syaikh Al-albani rahimahullah menjelaskan:
“Hadits tersebut adalah dalil, bahwa kedua qadam (bagian bawah kaki) wanita adalah aurat. Dan ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh para wanita di masa Nabi. Buktinya ketika Nabi mengatakan; Julurkanlah sejengkal! Ummu Salamah berkata; Kalau begitu kedua qadam akan terlihat? Hal ini menunjukkan kesan, bahwa Ummu Salamah sebelumnya sudah mengetahui bahwa kedua bagian bawah kaki adalah aurat yang tidak boleh terbuka. Dan hal tersebut disetujui oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka sebab itu, beliau memerintahkan untuk memanjangkan kainnya sehasta. Dan dalam Al-quran juga ada isyarat terhadap makna seperti ini, yaitu dalam firman Allah taala (artinya); Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan! (QS. An-nur, Ayat 31).”
(As-silsilah Ash-shahihah, 1;828)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
“Memang benar sebagian ulama ada yang berpendapat bagian bawah kaki tidak termasuk aurat wanita. Di antaranya adalah Abu Hanifah. Beliau berkata; Kedua qadam bukanlah aurat, karena keduanya sering nampak dan keduanya sebagaimana wajah.”
(Al-mughni, 1;430)

Maka, bagi teman-teman yang berdalil dengan pendapat tersebut, kami akan sampaikan beberapa penjelasan dari para ulama:

Para ulama madzhab Hanafi menyatakan, bahwa ada perselisihan mengenai pendapat Abu Hanifah dalam masalah ini.

Ibnu Najim rahimahullah berkata:
“Penulis (kitab Kanzul Daqaiq) mengecualikan qadam bagi wanita yang memiliki gangguan pada kakinya, terutama wanita yang fakir. Dan dalam masalah ini terdapat perbedaan riwayat dari Abu Hanifah dan dari para ulama (Hanafiyah).”
(Al-bahr Ar-raiq, 1;284)

Para ulama Hanafiyah yang menganggap qadam bukan aurat wanita, mereka tetap melarang laki-laki yang bukan mahram melihat kaki bagian bawah wanita.

Ibnu Najim juga berkata:
“Ketahuilah, bahwa jika qadam tidak termasuk aurat, bukan berarti boleh dilihat (oleh kaum lelaki). Kehalalan melihatnya itu tergantung pada kondisi tidak adanya kekhawatiran timbulnya syahwat, walaupun itu bukan aurat.”
(Al-bahr Ar-raiq, 1;284)

Perlu diingat, bahwa pendapat ulama bukanlah dalil, bahkan pendapat ulama itu perlu didasari dengan dalil (Al-quran atau As-sunnah), lalu akan ditimbang dan ditinjau kembali dengan dalil. Seorang Muslim ketika melihat perbedaan pendapat, maka keputusannya harus dikembalikan kepada dalil.

Allah azza wa jalla berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-quran) dan Rasul (As-sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-nisa, Ayat 59)

Pendapat Abu Hanifah tersebut bertentangan dengan dalil yang tegas dan sangat banyak, setidaknya bertentangan dengan Al-quran.

Allah taala berfirman:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang yang beriman; Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke suluruh tubuh mereka!”
(QS. Al-ahzab, Ayat 59)

Tidak semua pendapat dalam khilafiyah (perbedaan di antara ulama) itu ditoleransi. Pendapat yang jelas bertentangan dengan dalil-dalil shahih, tidak bisa ditorelansi dan tidak bisa dijadikan hujjah (dalil) untuk beramal atau beribadah.

Tidak boleh sengaja memilih pendapat Abu Hanifah ini dengan alasan lebih cocok dengan selera atau lebih enak, dan lebih sesuai dengan hawa nafsu. Apalagi, realita menyatakan, mayoritas masyarakat Indonesia adalah bermadzhab Syafii.

Sulaiman At-taimi rahimahullah berkata:
“Andai kamu mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul pada dirimu seluruh keburukan.”
(Hilyah Al-auliya, Hlm.3172)

– Kesimpulan:
Al-qadam atau kaki bagian bawah bagi wanita adalah aurat yang wajib ditutupi. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan RasulNya dalam banyak ayat Al-quran dan As-sunnah. Maka sudah seharusnya setiap wanita bertakwa hanya kepada Allah dan senantiasa menutupi auratnya, terkhusus kaki bagian bawah yang saat ini telah banyak dilalaikan dan disepelekan oleh kaum wanita!

a. Boleh memakai emas untuk kaum wanita.
Selanjutnya, di antara perhiasan yang hanya boleh digunakan oleh kaum wanita adalah emas. Dan perhiasan dari emas haram digunakan oleh kaum lelaki.

Sahabat Ali radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mangambil sutera lalu meletakkannya di sisi kanannya dan mengambil emas lalu meletakkannya di sisi kirinya. Kemudian beliau bersabda; Sesungguhnya dua barang ini haram bagi umatku yang laki-laki.”
(HR. Abu Daud, No.3535)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا
“Emas dan sutra dihalalkan bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan bagi kaum lelakinya.”
(HR. Nasai, No.5057)

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita:

اتَّخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي بَطْنَ كَفِّهِ وَنَقَشَ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِمَ الذَّهَبِ فَلَمَّا رَآهُمْ قَدْ اتَّخَذُوهَا رَمَى بِهِ وَقَالَ لَا أَلْبَسُهُ أَبَدًا ثُمَّ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقَشَ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat cincin dari emas, beliau menghadapkan mata cincinnya ke arah telapak tangan, dan beliau memberi ukiran pada cincin tersebut dengan tulisan; Muhammad Rasulullah. Orang-orang lalu ikut membuat cincin dari emas, ketika beliau melihat mereka membuat cincin seperti itu, beliau membuang cincinnya seraya mengatakan; Selamanya aku tidak akan memakainya lagi! Kemudian beliau membuat cincin dari perak dan memberi ukiran pada cincin tersebut; Muhammad Rasulullah’.
(HR. Abu Daud, No.3684)

• Pengecualian kasus pelarangan emas untuk kaum lelaki:

– Untuk operasi mengembalikan cacat yang timbul, maka hukumnya menjadi boleh. Sebagaimana kisah Sahabat Urfujah bin Sa’d radhiyallahu anhu, dia menggunakan emas untuk memperbaiki hidungnya, padahal emas haram bagi kaum lelaki.

أَنَّهُ أُصِيبَ أَنْفُهُ يَوْمَ الْكُلَابِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَاتَّخَذَ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيْهِ  فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ
“Hidungnya terkena senjata pada peristiwa perang Al-Kulab di zaman Jahiliyah. Kemudian beliau tambal dengan perak namun, hidungnya malah membusuk. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menggunakan tambal hidung dari emas.”
(HR. Abu Daud, No.4232. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Adapun operasi kecantikan yang sering dilakukan oleh kaum wanita saat ini, tujuan utamanya adalah untuk mempercantik diri, maka hukumnya adalah haram, tidak boleh dilakukan.

Jadi, ketika ada bahaya (madharat) dan tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sesuatu yang haram, maka Allah memberikan keringanan dan kemudahan, sehingga dibolehkan untuk menggunakan sesuatu yang haram tersebut, sekedar yang dibutuhkan saja. Sama seperti hukum sutra juga demikian.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah memberi izin kepada Zubair dan Abdurrahman untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal yang dideritanya.”
(HR. Bukhari, No.5391)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:
“Dalam hadits ini terdapat dalil tentang larangan menggunakan sutra, itu tidak termasuk di dalamnya berlaku untuk orang yang memiliki penyakit yang bisa diringankan dengan memakai sutra.”
(Fath Al-bari, 16;400)

Sehingga dibolehkan menggunakan sutra jika ada kebutuhan untuk menyembuhkan penyakit atau kondisi darurat semisalnya.

b. Batasan aurat wanita.
– Aurat wanita di hadapan lelaki yang bukan mahram; Di antara sebab mulianya seorang wanita adalah dengan menjaga auratnya dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya. Maka sebab itu, syariat Islam telah memberikan batasan aurat wanita yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan.

Para ulama sepakat ,bahwa seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat yang harus ditutup, kecuali wajah dan telapak tangan yang masih diperselisihkan oleh para ulama tentang kewajiban menutupinya.

Allah azza wa jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang beriman, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang.”
(QS. Al-ahzab, Ayat 59)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِـهَا اسْتَشْـرَفَهَا الشَّيْـطَانُ
“Wanita adalah aurat, jika dia keluar rumah, maka setan akan menghiasinya.”
(HR. Tirmidzi, No.1173)

– Aurat wanita di hadapan mahram; Mahram adalah orang yang haram dinikahi kerena adanya hubungan nasab, kekerabatan, atau persusuan. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah diperbolehkan melihat anggota tubuh wanita yang biasa nampak ketika dia berada di dalam rumahnya seperti kepala, wajah, leher, lengan, kaki, betis, atau dengan kata lain boleh melihat tubuh yang terkena air wudhu (anggota wudhu). Hal ini berdasarkan keumuman ayat Al-quran, dalam QS.An-Nur, Ayat 31.

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ الرِّجَالُ والنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُوْنَ فِيْ زَمَانِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعًا
“Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan wudhu secara bersamaan.”
(HR. Bukhari, No.193)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:
“Bisa jadi, kejadian itu sebelum turunnya ayat hijab dan tidak dilarang pada saat itu kaum lelaki dan wanita melakukan wudhu secara bersamaan. Jika hal ini terjadi setelah turunya ayat hijab, maka hadits ini dibawa pada kondisi khusus, yaitu bagi para wanita dan mahram.”
(Fath Al-bari, 1;300)

– Aurat wanita di hadapan wanita; Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang aurat wanita yang wajib ditutupi ketika berada dihadapan wanita lain. Ada dua pendapat yang dikenal dalam masalah ini:

Pendapat pertama; Sebagian ulama berpendapat, bahwa aurat wanita di hadapan wanita lainnya seperti aurat lelaki dengan lelaki, yaitu dari pusar hingga lutut, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak menimbulkan syahwat bagi orang yang memandangnya.

Pendapat kedua; Batasan aurat wanita di hadapan wanita lain, adalah sama dengan batasan sesama mahramnya, yaitu boleh memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan dan anggota wudhu, seperti rambut, leher, dada bagian atas, lengan tangan, kaki, dan betis.

Allah azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ
“Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam.”
(QS. An-nur, Ayat 31)

Yang dimaksud dengan perhiasan di dalam ayat tersebut adalah anggota tubuh yang biasanya dipakaikan perhiasan.

Imam Al-Jasshas rahimahullah berkata:
“Yang dimaksud dengan ayat di atas adalah bolehnya seorang wanita menampakkan perhiasannya kepada suaminya dan orang-orang yang disebutkan bersamanya (yaitu mahram) seperti ayah dan yang lainnya. Yang dipahami, yang dimaksudkan dengan perhiasan di sini adalah anggota tubuh yang biasanya dipakaikan perhiasan seperti wajah yang terdapat anting, lengan yang biasanya dipakaikan perhiasan gelang, leher yang biasanya dipakaikan kalung, dan betis biasanya dipakaikan gelang kaki. Ini menunjukkan, bahwa bagian tersebut boleh dilihat oleh orang-orang yang disebutkan dalam ayat di atas (yaitu mahram).”
(Ahkam Al-quran, 5;174)

Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah pendapat yang terakhir, yaitu aurat wanita di hadapan wanita (bukan mahram) adalah seperti aurat wanita di hadapan mahramnya, karena dalil yang mendukungnya lebih kuat.

Bagi kaum wanita yang berpendapat semua anggota tubuhnya adalah aurat, termasuk wajahnya, maka dia harus mengenakan cadar dan semisalnya.

c. Hukum memakai cadar.
Kaum wanita yang bercadar biasanya diidentikkan dengan orang arab atau timur tengah. Padahal memakai cadar atau penutup wajah bagi wanita adalah bagian dari syariat Islam yang didasari dalil-dalil yang sangat jelas berasal dari Al-quran, As-sunnah, serta penerapan para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum, serta para ulama yang mengikuti mereka rahimahumullah. Sehingga sangat tidak benar anggapan, bahwa cadar hanya budaya timur tengah.

Berikut ini pendapat-pendapat para ulama madzhab, untuk membuktikan, bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara jelas dan rinci dalam kitab-kitab fiqih empat madzhab. Terlebih, ulama empat madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai berpendapat pada hukum wajib.

– Pendapat madzhab Hanafi.
Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat namun, memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Misal, karena wajah yang manis, cantik, dan indah dipandang, yang memungkinkan sangat bisa membangkitkan syahwat para lelaki.

Imam Ibnu Abidin rahimahullah berkata:
“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya, karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, yang kemudian menimbulkan fitnah. Karena jika wajah diperlihatkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat.”
(Hasyiah Ala Ad-durr Al-mukhtar, 3;188)

Imam Muhammad Alauddin rahimahullah berkata:
“Seluruh badan wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar, demikian juga suaranya. Namun, bukan aurat jika di hadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki.”
(Ad-durr Al-muntaqa, Hlm.81)

Imam Al-hashkafi rahimahullah berkata:
“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun, wajah wanita itu dibuka, sedangkan kepalanya tidak. Seandainya seorang wanita memakai sesuatu pada wajahnya atau menutupnya, maka boleh. Bahkan dianjurkan.”
(Ad-durr Al-mukhtar, 2;189)

Imam Ibnu Najim rahimahullah berkata:
“Para ulama madzhab kami berkata, bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah.”
(Al-bahr Ar-raiq, Hlm.284)

– Pendapat madzhab Maliki.
Mazhab Maliki berpendapat, bahwa wajah wanita bukanlah aurat namun, memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

Imam Az-zarqani rahimahullah berkata:
“Aurat wanita di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga termasuk aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh para lelaki meskipun wanita yang masih muda, hanya untuk melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau para lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat (syahwat), maka hukumnya menjadi haram.”
(Syarh Mukhtashar Khalil, Hlm.176)

Imam Ibnul Arabi rahimahullah berkata:
“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya ataupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya atau kita dipertanyakan, apakah dia adalah orang yang dimaksud (dalam suatu permasalahan) atau bukan.”
(Ahkam Al-quran, 3;1579)

Imam Al-qurthubi rahimahullah berkata:
“Ibnu Juwaiz Mandad (ulama besar Maliki) berkata; Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya dia menutup wajahnya! Jika dia adalah wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya.”
(Tafsir Al-qurthubi, 12;229)

Imam Al-hathab rahimahullah berkata:
“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya! Ini dikatakan oleh Al-qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam kitab Syarh Ar-risalah, dan inilah pendapat yang lebih tepat.”
(Mawahib Jalil, Hlm.499)

– Pendapat madzhab Syafii
Pendapat madzhab Syafii, aurat wanita di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi.

Imam Asy-syarwani rahimahullah berkata:
“Wanita memiliki tiga jenis aurat; Aurat dalam shalat, yaitu seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mutamad (diyakini). Aurat ketika berdua bersama mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha.”
(Hasyiah Asy-syarwani Ala Tuhfah Al-muhtaj, 2;112)

Imam Sulaiman Al-jamal rahimahullah berkata:
“Maksud perkataan An-nawawi; Aaurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan kaum lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan kaum lelaki yang bukan mahram adalah seluruh tubuh.”
(Hasyiah Al-jamal Ala Syarh Al-minhaj, Hlm.411)

Imam Muhammad Al-ghazzi rahimahullah berkata:
“Seluruh tubuh wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat, ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh tubuhnya.”
(Fath Al-qarib, Hlm.19)

Imam Ibnu Qasim Al-abadi rahimahullah berkata:
“Wajib bagi wanita menutupi seluruh tubuhnya, selain wajah dan kedua telapak tangan, meskipun penutupnya tipis. Dan wajib juga menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat namun, karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah.”
(Hasyiah Ibnu Qasim Ala Tuhfah Al-muhtaj, 3;115)

Imam Taqiyuddin Al-hushni rahimahullah berkata:
“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh juga wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat, kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi,nmaka boleh. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi, sehingga menimbulkan kerusakan, maka hukumnya haram untuk melepaskan niqab (cadar).”
(Kifayah Al-akhyar, Hlm.181)

– Pendapat madzhab Hanbali.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk juga kukunya.”
(Zad Al-masir, 6;31)

Imam Abdullah bin Abdil Aziz Al-anqari rahimahullah berkata:
“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk juga sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar-Riayah, kecuali wajah. Karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk juga wajahnya ketika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha.”
(Raudh Al-murbi, Hlm.140)

Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata:
“Imam Ahmad berkata; Maksud ayat tersebut adalah jangan mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat Al-quran. Abu Thalib menukil penjelasan dari Imam Ahmad; Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan (lengan baju).”
(Al-furu, Hlm.601)

Imam Manshur Al-bahuti rahimahullah berkata:
“Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya.”
(Kasyf Al-qana, Hlm.309)

d. Cadar adalah budaya Islam.
Dari penjelasan di atas, bahwa memakai cadar dan juga jilbab bukanlah hanya budaya timur tengah. Namun, budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan hanya kepada masyarakat timur tengah. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang harusnya seperti itu, seorang muslim berbudaya Islam dalam kehidupannya.

Di antara bukti lain, bahwa cadar dan juga jilbab adalah budaya Islam:

Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok, atau disebut dengan tabarruj.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj seperti yang dahulu dilakukan wanita Jahiliyah!”
(QS. Al-ahzab, Ayat 33)

Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam belum diutus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab adalah budaya yang berasal dari Islam, bukan dari Arab Saudi.

Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam, seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita:

مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
“(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini; Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka (QS. An-nur, Ayat 31). Mereka merobek selimut mereka, lalu mereka berkerudung dengannya.”
(HR. Bukhari, No.4759)

Penjelasan di atas menunjukkan, bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat mereka, sehingga mereka menggunakan kain yang ada, dalam rangka untuk mentaati ayat (perintah Allah) tersebut.

– Kesimpulan:
Para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi kaum wanita. Sebagian mewajibkan dan sebagian lagi menganjurkan. Tidak ada di antara mereka yang mengatakan, bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur tengah. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, ciri terorisme, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri Arab, dan anggapan-anggapan tercela lainnya.

D. MENJAGA KEBERSIHAN

1. Ketiak.
Bagian tubuh ini termasuk paling banyak mengeluarkan keringat, sehingga harus sangat diberi perhatian. Rambut yang tumbuh di daerah ketiak tidak boleh dibiarkan, tapi harus dicukur atau dicabut, untuk berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالْاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ
“Lima hal yang termasuk perkara fitrah; Khitan, mencukur rambut kemaluan, menggunting kuku, mencabut rambut ketiak, dan memotong kumis.”
(HR. Bukhari, No.5889)

Orang yang tidak memerhatikan bagian tubuh yang satu ini, kita akan dapati darinya bau tidak sedap. Tentu hal ini akan mengganggu orang lain, padahal Islam mengajarkan, agar kita tidak menyakiti dan mengganggu orang lain. Namun, jika dengan mencabutnya terasa sakit, maka boleh mencukurnya dengan gunting atau alat semisalnya.

2. Mulut.
Manusia dalam sehari bisa memakan beragam makanan. Semuanya melewati mulut, lidah, gigi, dan gusi. Dan bisa dipastikan ada sisa makanan yang tertinggal dalam mulut, sehingga apabila mengabaikan kebersihannya, pasti makanan yang tertinggal atau menempel tersebut akan menjadi lahan subur untuk bakteri. Akibatnya, keluarlah dari mulut, bau tidak sedap yang membuat orang lain memalingkan wajahnya untuk menjauh, karena merasa tidak nyaman. Bau tersebut biasanya tidak tercium oleh si pelakunya namun, orang-orang di sekitarnya yang terganggu dengannya. Belum lagi kerusakan gigi dan terganggunya kesehatan gusi akibat sisa makanan yang membusuk.

Kebersihan mulut ini tidak boleh diabaikan oleh seorang yang masih sendiri dan yang sudah menikah. Terlebih bagi seorang wanita yang sudah menjadi istri, dia harus bisa menjaga kebersihan mulutnya untuk suaminya. Karena dengan cara tersebut, insyaallah dia akan mendapatkan ridha dari suaminya dan Allah azza wa jalla.

• Cara untuk menjaga kebersihan mulut.

– Sikat gigi.
Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Membersihkan celah-celah gigi dengan siwak setiap waktu, terkhusus di waktu-waktu yang dianjurkan, seperti; Bangun dari tidur, ketika hendak berwudhu, sebelum mengerjakan shalat, saat hendak membaca Al-quran, ketika bau mulut berubah, bisa jadi karena tidak makan dan minum, mengonsumsi makanan yang beraroma tidak sedap, diam dalam waktu lama atau banyak berbicara.”
(Al-minhaj, 3;135)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Siwak secara bahasa mengandung dua makna. Bisa jadi yang dimaksud adalah perbuatan bersiwak, bisa juga yang dimaksud adalah alat berupa kayu atau miswak yang digunakan untuk membersihkan gigi.”
(Fath Al-bari, 1;443)

Siwak digosokkan dari depan, dari belakang, dan di atas gigi. Jika tidak ada siwak, bisa menggunakan sikat gigi dan pasta gigi.

Imam Ash-shanani rahimahullah menjelaskan:
“Memang, kebanyakan hadits yang menyinggung tentang siwak menyebutkan, bahwa bersiwak itu menggunakan alat berupa kayu tertentu. Namun, jika kita kembali pada pengertian yang ada, setiap alat atau sarana yang bisa menghilangkan kotoran atau bau mulut itu bisa digunakan, seperti kain perca yang kasar, jari yang kasar, dan sikat gigi. Namun, tentu yang paling bagus adalah menggunakan kayu arak yang tidak terlalu kering dan juga tidak terlalu basah.”
(Subul As-salam, 1;64)

Sahabat Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ إِذَا قَامَ لِيَتَهَجَّدَ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Adalah Rasulullah ketika bangun dari tidur malam, beliau menggosok mulut dengan siwak.”
(HR. Bukhari, No.245)

Seperti itulah yang dicontohkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena kita tahu keadaan bau mulut orang yang bangun tidur itu sangat tidak sedap.

– Membersihkan lidah.
Sahabat Abu Musa Al-asyari radhiyallahu anhu berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدْتُهُ يَسْتَنُّ بِسِوَاكٍ بِيَدِهِ يَقُوْلُ أُعْ أُعْ وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ
“Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang ternyata sedang bersiwak dengan siwak yang ada di tangannya. Keluar dari mulut beliau suara, ugh… ugh…, sementara siwak ada dalam mulut beliau, seakan-akan beliau mau muntah.”
(HR. Bukhari, No.244)

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَرْفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ
“Aku masuk menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dalam keadaan ujung siwak di atas lidahnya.”
(HR. Muslim, No.591)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Diambil faidah dari hadits ini, tentang disyariatkannya bersiwak di atas lisan (menggosok lidah dengan siwak).”
(Fath Al-bari, 1;463)

– Tidak merokok.
Karena bau yang ditimbulkan dari mulut perokok itu busuk dan membuat orang ingin lari menjauh, merusak kesehatan pelakunya dan orang di sekitarnya, serta yang paling penting dalam masalah ini, bahwa merokok adalah perkara yang diharamkan dalam agama Islam.

3. Perut.
Ketika seseorang makan sebagian makanan yang beraroma tajam, aroma makanan itu akan keluar lewat mulut dan terkadang lewat keringat yang banyak diproduksi oleh ketiak. Bau yang keluar lewat mulut ini, tentu akan mengganggu orang yang berbicara dengannya.

Maka sebab itu, sebaiknya menghindari makanan yang beraroma tajam. Kalaupun tetap ingin memakannya, hendaklah setelahnya mengonsumsi makanan lain, yang dapat meringankan aromanya, atau dimakan dalam keadaan setelah dimasak terlebih dahulu, karena biasanya bau yang menusuk timbul ketika memakannya dalam keadaan mentah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثَّوْمَ وَ الْكُرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
“Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang, janganlah dia mendekati masjid kami! Karena para Malaikat terganggu dengan sesuatu atau bau yang mengganggu anak Adam (manusia).”
(HR. Bukhari, No.854)

Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ رِيْحَهُمَا مِنَ الرُّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيْعِ. فَمَنْ أَكَلَهُمَا فَلْيُمِتْهُمَا طَبْخًا
“Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika mendapati bau bawang merah dan bawang putih pada seseorang yang berada di dalam masjid, beliau pun menyuruh agar orang tersebut dikeluarkan dari masjid dan menjauh sampai ke Baqi. Maka sebab itu, siapapun yang mau memakannya, hendaklah dia menghilangkan bau bawang tersebut dengan memasaknya.”
(HR. Muslim, No.1258)

Mari perhatikan! Memakan makanan yang hukum asal mubah namun, karena aromanya yang tajam dan tidak sedap, yang dapat menggangu dirinya dan orang di sekitarnya, menjadi sebab terlarangnya orang tersebut masuk ke dalam masjid, meskipun tujuannya untuk beribadah.

Apalagi, jika bau tidak sedap itu berasal dari sesuatu yang haram, bukan mubah. Tentu lebih terlarang lagi! Seperti halnya rokok. Sebuah benda yang tidak ada manfaatnya sama sekali, sehingga Islam pun mengharamkannya, karena benda tersebut juga dapat membahayakan setiap makhluk Allah.

Solusinya, bagi teman-teman yang sudah mengonsumsi makanan yang mengandung bawang atau bahan berbau tajam lainnya, selama itu makanan yang halal dan mubah, maka ketika akan masuk ke dalam masjid, bersihkan terlebih dulu mulutnya, dengan cara berkumur, sikat gigi, atau semisalnya, agar aroma tajamnya tersebut hilang, lalu setelah itu melangkah menuju masjid.

Betapa indahnya Islam, hingga hal semacam itu saja sudah dibahas. Maka tidak ada lagi agama selain Islam, yang membahas tuntas semua urusan kehidupan.

Ketika dihidangkan makanan dan di dalamnya ada jenis-jenis yang disebutkan, Rasulullah tidak memakannya.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu bercerita:

وَإِنَّهُ أُتِيَ بِقِدْرٍ فِيْهِ خَضِرَاتٌ مِنْ بُقُوْلٍ فَوَجَدَ لَهَا رِيْحًا فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيْهَا مِنَ الْبُقُوْلِ فَقَالَ قَرِّبُوْهَا إِلَى بَعْضِ أَصْحَاِبِه فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا قَالَ كُلْ فَإِنِّي أُنَاجِي مَنْ لَا تُنَاجِي
“Didatangkan bakul berisi sayur-sayuran ke hadapan Rasulullah. Beliau dapati aroma yang tajam dari sayur-mayur tersebut. Beliau lalu menanyakannya. Disampaikanlah kepada beliau macam sayuran yang ada dalam bakul tersebut. Beliau pun bersabda kepada sebagian Sahabatnya; Dekatkanlah sayur-sayuran tersebut! Ketika beliau melihatnya, beliau tidak suka memakannya, lalu bersabda; Makanlah, karena aku berbicara dengan Malaikat yang kamu tidak pernah berbincang dengannya.”
(HR. Bukhari, No.855)

Karena Malaikat Jibril alaihissalam biasa mendatangi beliau sewaktu-waktu. Jika sampai beliau mengonsumsi makanan yang mengakibatkan bau mulut tidak sedap, tentu akan mengganggu Malaikat Allah yang mengajak bicara beliau.

Mengisi perut di pagi hari (sarapan), merupakan kebiasaan yang baik. Bisa juga menggunakan sesuatu yang dapat mengharumkan bau mulut dan perut, karena perut yang kosong dari makanan, bisa menimbulkan bau tidak sedap dan bisa mengganggu orang lain, kecuali orang yang sedang berpuasa.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللّٰهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ
“Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari Kiamat, daripada wanginya misik (minyak kasturi).”
(HR. Muslim, No.1151)

4. Wajah.
Wajah selalu dikedepankan saat berbincang dengan orang lain, padahal wajah tidak tertutup dari udara dan debu serta segala sesuatu yang ada di udara, sehingga berpotensi menjadi tempat penumpukan kotoran dan minyak.

Maka sebab itu, seharusnya wajah juga mendapatkan perhatian lebih. Seorang yang mengaku beragama Islam tentunya kurang lebih lima kali dalam sehari membasuh wajahnya saat berwudhu untuk shalat fardhu. Dan disunnahkan juga untuk selalu menjaga wudhunya, meskipun tidak dalam keadaan shalat. Sebagaimana kebiasaan Rasulullah dan para Sahabatnya.

Termasuk juga di dalamnya adalah membersihkan pandangan mata dengan celak, karena mata juga bagian dari wajah.

Hukumnya boleh dan disunnahkan bagi kaum lelaki untuk memakai celak dan bagi kaum wanita lebih diperbolehkan lagi ketika tujuannya untuk berhias di hadapan suaminya.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعَرَ
“Pakailah oleh kalian celak atau batu itsmid! Karena ia dapat memperjelas pandangan dan menumbuhkan rambut.”
(HR. Ibnu Majah, No.3486)

5. Rambut.
Penumpukan minyak dan keringat, ditambah kulit kepala yang telah mati atau mengelupas, berpotensi menimbulkan bau yang tidak sedap.

Kita bisa mendapati bau ini pada orang yang tidak memberikan perhatian pada kulit kepala dan rambutnya. Yang seharusnya, kepala dan rambut rutin dicuci menggunakan pembersih yang khusus, seperti sampo. Selain dicuci atau dikeramas, juga disisir dengan baik atau rapi, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi kita, beliau menyisir rambutnya dan meminyakinya.

Apalagi seorang muslim disunnahkan untuk mengenakan penutup kepala (kopiah) ketika shalat dan seorang muslimah diwajibkan mengenakan penutup kepala (hijab) ketika shalat dan keluar rumah. Tentu membuat rambut kepala menjadi lembab karena tertutup. Sehingga menyebabkan kulit kepala cepat berminyak dan rambut menimbulkan bau yang tidak sedap.

6. Minyak Wangi.
Sebagian orang tidak peduli dengan minyak wangi yang mereka gunakan. Bahkan termasuk diri kita juga belum bisa memilih minyak wangi yang tepat untuk digunakan.

Terkadang, aroma minyak wanginya yang tajam membuat orang lain mual. Maka sebab itu, kata orang Arab; Janganlah minyak wangimu membuatmu dicela!

Perlu diketahui, siwak tidak pernah terpisah dari Rasulullah. Karena beliau tidak suka jika tercium dari diri beliau bau yang tidak sedap. Beliau beranggapan lebih utama shalat yang didahului dengan bersiwak daripada shalat tanpa bersiwak.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat.”
(HR. Muslim, No.588)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْرَبُ عَسَلًا عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ وَيَمْكُثُ عِنْدَهَا فَوَاطَيْتُ أَنَا وَحَفْصَةُ عَلَى أَيَّتُنَا دَخَلَ عَلَيْهَا فَلْتَقُلْ لَهُ أَكَلْتَ مَغَافِيرَ إِنِّي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ مَغَافِيرَ قَالَ لَا وَلَكِنِّي كُنْتُ أَشْرَبُ عَسَلًا عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَلَنْ أَعُودَ لَهُ وَقَدْ حَلَفْتُ لَا تُخْبِرِي بِذَلِكَ أَحَدًا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah minum madu di kediaman Zainad binti Jahsyin dan bermalam di tempatnya. Lalu aku dan Hafshah pun bersepakat bahwa, siapa saja di antara kita yang ditemui oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka hendaklah dia berkata kepada beliau; Apakah engkau memakan buah Maghafir? Sungguh, aku mendapatkan bau Maghafir dari diri engkau. Maka beliau berkata; Tidak. Tetapi aku hanya minum madu di tempat Zainab binti Jahsyin namun, aku tidak akan kembali lagi kepadanya. Dan aku telah bersumpah, dan kamu jangan menyampaikan hal tersebut kepada seorang pun.”
(HR. Bukhari, No.4531)

Maka, orang yang menjaga kebersihan berarti dia telah memberikan kenikmatan kepada dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Seorang suami yang memerhatikan kebersihan dirinya, tentu akan dapat menyenangkan istrinya.

Agama Islam memerintahkan untuk menggunting kuku, mencabut rambut ketiak, dan mencukur rambut kemaluan. Syariat Islam melarang makan bawang putih dan bawang merah yang mentah, karena bau yang ditimbulkan. Dan seharusnya seseorang menerapkan juga hal tersebut untuk rokok dan sejenisnya, agar bisa mencapai puncak kebersihan dan keindahan yang sempurna.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ الطِّيبُّ وَالنِّسَاءُ
“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian, yaitu dua perkara; Minyak wangi dan wanita.”
(HR. Nasai, No.3939)

Sehingga kedatangan beliau bisa diketahui dengan terciumnya aroma yang harum dan semerbak.

Namun, untuk masalah menggunakan minyak wangi, ketika di dalam atau di luar rumah, itu hanya berlaku untuk kaum lelaki. Sedangkan, untuk kaum wanita hanya diperbolehkan menggunakan minyak wangi ketika di dalam rumah saja, itupun ketika hanya di hadapan suami dan mahramnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka merasakan aromanya, maka dia adalah wanita pezina.”
(HR. Nasai, No.5141. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

– Catatan:
Bahwa larangan ini hanya berlaku untuk di luar rumah dan di hadapan selain mahram. Maka jika menggunakan wewangian atau parfum untuk di dalam rumah, serta di hadapan mahram, itu adalah keadaan yang dibolehkan. Dan jika digunakan untuk di hadapan suami, maka ini hal yang disyariatkan dan diharuskan, karena untuk menyenangkan hati suami dan berbuah pahala bagi yang melakukannya.

7. Kuku.
Islam sangat menyukai kebersihan. Termasuk kebersihan pada kuku juga diperhatikan oleh Islam.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ
“Ada lima macam fitrah, yaitu: Khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”
(HR. Bukhari, No.5891)

Kalau kuku tidak bersih, maka ketika makan juga jadi tidak bersih, dikarenakan kotoran yang ada di dalam kuku ikut terbawa. Begitu juga dalam bersuci jadi tidak sempurna karena ada bagian kulit yang terhalang oleh kuku yang panjang dan kotoran yang ada di dalamnya. Maka sebab itu, kebiasaan memanjangkan kuku sangat menyelisihi syariat Islam.

Hukum memanjangkan kuku adalah makruh menurut mayoritas ulama. Jika memanjangkannya lebih dari 40 hari, maka lebih keras lagi larangannya.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

وُقِّتَ لَنَا فِى قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَنَتْفِ الإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketika, mencukur bulu kemaluan, yaitu semua tidak dibiarkan lebih dari 40 malam.”
(HR. Muslim, No.258)

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah jangan sampai kuku dan rambut-rambut, atau bulu-bulu yang disebutkan dalam hadits, dibiarkan panjang lebih dari 40 hari.”
(Syarh Shahih Muslim, 3;133)

Imam An-nawawi juga berkata:
“Adapun batasan waktu memotong kuku, maka dilihat dari panjangnya kuku tersebut. Ketika telah panjang, maka dipotong. Ini akan berbeda antara setiap orang, dan juga dilihat dari kondisi. Hal ini juga yang jadi standar dalam memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak, dan mencabut bulu kemaluan.”
(Al-majmu, 1;158)

Sehingga, meskipun belum 40 hari kuku sudah panjang melebihi ujung jari, maka harus segera dipotong!

a. Apakah ada waktu khusus untuk memotong kuku?
Tidak ada ketentuan hari atau waktu tertentu yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk memotong kuku. Semua hadits yang menceritakan tentang perbuatan atau perintah Rasulullah untuk memotong kuku pada hari atau waktu tertentu adalah lemah (dhaif).

Di antaranya, ada sebuah riwayat yang disebutkan dari Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, beliau berkata:
“Bahwa dia melihat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memotong kukunya pada hari Kamis, kemudian beliau shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan Ali radhiyallahu anhu agar memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur habis rambut kemaluan pada hari Kamis.”
(Silsilah Al-ahadits Adh-dhaifah Wa Al-maudhuah, No.3239. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini dhaif)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Dan tidak ada juga hadits yang shahih tentang sunnahnya memotong kuku pada hari Kamis. Demikian juga hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senang memotong kukunya pada hari Jumat.”
(Fath Al-Bari, 10:346)

Berdasarkan penjelasan ini, tidak ada keterangan hari dan waktu tertentu dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam untuk memotong kuku. Sehingga semakin sering seseorang membersihkannya, itulah yang lebih utama.

b. Apakah harus mencuci ujung jari-jemari setelah memotong kuku?
Demikian juga dengan mencuci ujung jemari setelah memotong kuku, tidak ada keterangan yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hanya saja sebagian ulama menyarankan bagi orang yang telah memotong kuku agar membilasnya dengan air. Dengan alasan bahwa seseorang yang memotong kukunya, kemudian menggaruk badannya dengan kuku tersebut sebelum dicuci, maka hal tersebut dapat berakibat tidak baik.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:
“Dan disukai mencuci ujung jari-jemari setelah memotong kuku. Karena ada yang mengatakan, bahwa menggaruk badan dengan kuku (yang baru dipotong) sebelum dicuci, dapat berdampak negatif.”
(Al-mughni, 1;100)

Salah satu dampak negatifnya adalah bisa merusak kulit yang digaruk, sehingga kulitnya menjadi lecet dan luka.

c. Apakah ada cara memotong kuku sesuai sunnah?
Memotong kuku termasuk di antara sunnah fitrah. Berdasarkan hadits shahih di atas. Dan dianjurkan juga untuk dimulai dari sebelah kanan.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Biasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyenangi kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam seluruh urusannya.”
(HR. Bukhari, No.163)

Adapun penjelasan mengenai aturan dalam memotong kuku berkaitan jari-jemari mana yang harus didahulukan, itu tidak ada dalil shahih yang menjelaskannya.

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:
“Tidak ada satupun hadits shahih yang menjelaskan urutan jari-jemari ketika memotong kuku. Kemudian beliau melanjutkan, Ibnu Daqiq Al-ied mengingkari cara yang disebutkan oleh Al-ghazali dan orang yang mengikutinya. Dengan mengatakan; Semua itu tidak ada asalnya dan anjuran sunnah itu tidak ada dalilnya, hal tersebut jelek menurut sebagian ulama. Memulai dengan kanan dari kedua tangan dan kanan dari kedua kaki itu memang ada asalnya, yaitu hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menyukai dari bagian kanan.”
(Fath Al-bari, 10;345)

Imam Al-iraqi rahimahullah berkata:
“Tidak ada ketentuan tentang cara memotong kuku yang dapat diamalkan.”
(Tarh At-tatsrib, 2;77)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
“Adapun perincian yang disebutkan sebagian ulama, bahwa ketika memotong kuku dimulai dari jari kelingking sebelah kanan, jari tengah, ibu jari, jari manis, kemudian jari telunjuk. Setelah itu ibu jari sebelah kiri, jari tengah, kelingking, telunjuk, kemudian jari manis. Atau, dimulai dari jari telunjuk sebelah kanan, lalu jari tengah, jari manis, kelingking, kemudian ibu jari. Setelah itu kelingking sebelah kiri, jari manis, sampai terakhir.”
(Al-mughni 1;100)

Semua itu tidak ada contohnya dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam, sehingga tidak boleh bagi seorang muslim melakukannya.

Begitu juga tidak ada keterangan yang shahih dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam tentang mendahulukan tangan sebelum kaki.

Imam Ibnu Hajar juga menjelaskan:
“Orang-orang yang berpendapat sunnahnya mendahulukan tangan atas kaki ketika memotong (kuku), itu butuh (mendatangkan) dalil untuk menguatkan pendapatnya tersebut. Karena hadits-hadits yang ada, tidak menunjukkan hal tersebut.”
(Fath Al-bari, 10;345)

– Kesimpulan:
Imam Syamsuddin As-sakhawi rahimahullah berkata:
“Tidak ada hadits yang shahih yang menjelaskan tata cara memotong kuku atau penentuan waktunya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”
(Al-maqashid Al-hasanah, Hlm.489)

d. Apakah harus berwudhu setelah memotong kuku?
Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Barang siapa memotong kukunya atau memendekkan kumisnya, maka wajib atasnya berwudhu.”
(Fath Al-bari, 1;281)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
“Pendapat mayoritas ulama menyelisihi mereka. Dan kami tidak mengetahui mereka memiliki hujjah (dalil) atas pendapatnya tersebut. Wallahu subhanahu wa taala alam.”
(Al-mughni, 1;227)

Jadi, tidak diwajibkan berwudhu setelah memotong kuku atau kumis. Karena Rasulullah juga tidak pernah mencontohkan atau memerintahkannya.

e. Apakah harus merendam potongan kuku?
Sebagian ulama salaf, seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, Muhammad bin Sirin, Ahmad bin Hanbal, dan selain mereka rahimahumullah menyukai memendam potongan kuku atau rambut.

Imam Zainuddin Al-iraqi rahimahullah berkata:
“Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal rahimahullah tentang seseorang yang memotong rambut dan kukunya, apakah potongan rambut dan kukunya dipendam atau dibuang? Imam Ahmad menjawab; Dipendam. Aku bertanya lagi; Apakah sampai kepadamu dalil tentang hal tersebut? Imam Ahmad menjawab; Ibnu Umar memendamnya. Maka sebab itu, boleh bagi seseorang memendam potongan rambut dan kuku-kukunya, apalagi jika dikhawatirkan akan dijadikan target untuk permainan sihir oleh para tukang sihir. Namun, dengan catatan jangan sampai meyakininya sebagai sunnah, karena tidak ada dalil shahih yang menjelaskan hal tersebut. Dalam memotong kuku boleh meminta bantuan orang lain. Apalagi, jika seseorang tidak bisa memotong kuku kanannya dengan baik. Karena umumnya manusia tidak dapat menggunakan tangan kirinya dengan baik untuk memotong kuku tangan kanan, sehingga lebih utama baginya meminta bantuan orang lain untuk melakukannya, agar tidak melukai dan menyakiti tangannya.”
(Tharh At-tatsrib Fi Syarh At-taqrib, 1;243)

8. Pakaian.
Seorang muslim harus memperhatikan juga pakaian yang dikenakannya dari sisi kebersihan, kerapian, keserasian, dan kesesuaiannya. Maka sebab itu, sangat disayangkan ada sebagian orang yang tidak peduli dengan kebersihan pakaian mereka, sehingga tercium dari pakaian mereka bau yang tidak sedap dan aroma keringat yang tidak enak. Padahal dalam masalah kebersihan pakaian, Islam memberikan perhatian khusus. Kita mengetahui bahwa Allah memerintahkan dalam Al-quran kepada Ahlul Masajid (kaum lelaki yang diwajibkan shalat berjamaah di masjid) untuk mengenakan perhiasan mereka, yaitu pakaian yang bersih, ketika datang ke masjid untuk menghadiri shalat berjamaah.

Allah azza wa jalla berfirman:

يٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوٓا ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus ketika setiap akan memasuki masjid, makan dan minumlah, dengan tidak berlebihan! Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-araf, Ayat 31)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga memerintahkan agar kita tidak meninggalkan mandi, setidaknya setiap hari Jumat, untuk kaum lelaki yang menghadiri shalat Jumat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:,

غَسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
“Mandi pada hari Jumat wajib bagi setiap orang yang telah baligh.”
(HR. Bukhari, No.857)

Semuanya ini dimaksudkan agar seorang muslim berada dalam keadaan penampilan yang terbaik.

Rasulullah memberikan perhatian kepada pakaian yang beliau kenakan, sebagaimana kabar yang banyak kita dapatkan dalam sunnahnya. Disebutkan juga dari sebagian salaf, mereka sengaja berhias untuk bertemu dengan saudara-saudara mereka di jalan Allah.

Dari berbagai penjelasan dari awal hingga akhir, memberikan pelajaran untuk kita, bahwa dalam berpenampilan itu konsepnya sangat sederhana. Yaitu sesuai syariat Islam, bukan sesuai selera sendiri.

Sebetulnya, dengan merujuk pada konsep Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam berpenampilan, insyaallah akan membuat diri kita menjadi selamat lagi beruntung di dunia dan akhirat.

Karena agama Islam ini adalah agama yang mudah bagi manusia yang mau mengikuti syariatnya dengan totalitas dan ikhlas.

Semoga Allah selalu memberikan kemudahan kepada kita untuk mengerjakan ibadah yang wajib dan yang sunnah dengan istiqamah.

Semoga Allah jadikan tulisan ini menjadi ilmu yang berkah dan amal jariyah untuk diri penulis, serta menjadi sebab hidayahNya untuk setiap manusia yang membacanya. Aamiin
_____
@Kota Angin, Majalengka, Jawa Barat.
29 Dzulqadah 1439H/11 Agustus 2018M
Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Berpakaian
Artikel sesudahnyaAdab Keluar Rumah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here