Beranda Belajar Islam Adab Adab Berpakaian

Adab Berpakaian

1000
0
BERBAGI

Adab Berpakaian

A. AMALAN YANG BOLEH DILAKUKAN

1. Membaca Doa Sebelum Mengenakan Pakaian.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki, tanpa daya, dan kekuatan dariku.”

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ
“Barang siapa memakan suatu makanan, kemudian membaca doa; Alhamdulillah alladzi athamani hadza ath thaama wa razaqanihi min ghairi haulin minni wa la quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini kepadaku sebagai rezeki, tanpa daya, dan kekuatan dariku). Maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan barang siapa memakai baju (pakaian) lalu membaca doa; Alhamdulillah alladzii kasani hadza ats-tsauba wa razaqanihi min ghairi haulin minni wa la quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki, tanpa daya, dan kekuatan dariku). Maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.”
(HR. Abu Daud, No.3505. Syaikh Al-albani menilai hadits ini hasan)

Ketika memakai pakaian, serban, kopiah, atau sarung, dan jenis pakaian baru lainnya, hendaknya membaca doa:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ
“Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepadaMu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini.”

Sebagaimana Sahabat Abu Said Al-khudri radhiyallahu anhu bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ إِمَّا قَمِيصًا أَوْ عِمَامَةً ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ قَالَ أَبُو نَضْرَةَ فَكَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا لَبِسَ أَحَدُهُمْ ثَوْبًا جَدِيدًا قِيلَ لَهُ تُبْلَى وَيُخْلِفُ اللَّهُ تَعَالَى
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika mencoba baju (pakaian) baru, beliau memulai dengan menyebutkan namanya (baju tersebut), seperti kemeja atau imamah (semacam serban yang diikatkan di kepala). Kemudian beliau membaca doa; Allahumma laka al-hamdu anta kasautani asaluka min khairihi wa khairi ma shunia lahu wa audzu bika min syarrihi wa syarri ma shunia lahu (Ya Allah, hanya milikMu segala puji, Engkaulah yang memberikan pakaian ini kepadaku. Aku memohon kepadaMu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang terbuat karenanya (untuk beribadah dan ketaatan kepada Allah). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan yang terbuat karenanya (untuk bermaksiat kepada Allah). Abu Nadhrah berkata; Dan biasanya para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ketika salah seorang dari mereka memakai baju baru, dikatakatan kepadanya; Semoga tahan lama hingga Allah menggantinya dengan yang baru (yakni doa panjang umur).”
(HR. Abu Daud, No.3504)

2. Mendahulukan Yang Sebelah Kanan.
Hendaknya ketika mengenakan pakaian, memulainya dari sebelah kanan. Sebaliknya, ketika melepaskannya mulai dari sebelah kiri.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata:

يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Bahwasanya Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam setiap urusannya.”
(HR. Bukhari, No.163)

Selanjutnya, ketika akan melepaskannya terbalik. Dahulukan melepas bagian yang kiri, lalu bagian yang kanan. Seperti ketika mengenakan dan melepaskan sandal atau alas kaki.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ لِيَكُنْ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ
“Apabila salah seorang dari kalian memakai sandal, hendaknya mulai dengan yang kanan. Dan apabila melepas sandal, hendaknya mulai dengan yang kiri. Agar yang kanan pertama kali mengenakan sandal dan yang terakhir melepaskannya.”
(HR. Bukhari, No.5407)

3. Mengenakan Pakaian Berwarna Putih.
Warna pakaian yang dianjurkan untuk kaum lelaki adalah warna putih.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الْإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ
“Pakailah warna putih untuk pakaian kalian, sebab ia sebaik-baik pakaian untuk kalian. Dan kafanilah orang-orang yang meninggal dari kalian dengannya! Dan sebaik-baik celak kalian adalah Al-itsmid, ia dapat mempertajam pandangan dan menumbuhkan rambut.”
(HR. Abu Daud, No.3539)

اِلْبَسُوا الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Kenakanlah pakaian yang berwarna putih! Karena pakaian tersebut lebih bersih dan paling baik. Kafanilah juga orang yang mati di antara kalian dengan kain putih!”
(HR. Tirmidzi, No.2734)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Benarlah yang Nabi sudah katakan, karena pakaian yang berwarna putih lebih baik dari warna selainnya dari dua aspek. Pertama; Warna putih lebih terang dan nampak bercahaya. Kedua; Jika kain tersebut terkena sedikit kotoran, maka orang yang mengenakannya akan segera mencucinya. Sedangkan, pakaian yang berwarna selain putih, maka bisa menjadi sarang berbagai kotoran dan orang yang memakainya tidak menyadarinya, sehingga tidak segera mencucinya. Meskipun sudah dicuci, orang tersebut belum mengetahui secara pasti, apakah pakaian tersebut sudah benar-benar bersih ataukah belum? Dengan pertimbangan ini Nabi memerintahkan kita, kaum lelaki untuk memakai kain yang berwarna putih. Kain putih di sini mencakup kemeja, sarung, ataupun celana. Seluruhnya dianjurkan berwarna putih, karena warna itulah yang lebih utama. Meskipun mengenakan warna yang lainnya juga tidak dilarang (boleh), asalkan warna tersebut bukan warna khas pakaian wanita. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita. Demikian juga, dengan syarat bukan berwarna merah polos. Karena Rasulullah melarang warna merah polos sebagai warna pakaian laki-laki. Namun, jika warna merah tersebut bercampur warna putih (atau warna selainnya), maka tidaklah mengapa untuk digunakan.”
(Syarh Riyadh Ash-shalihin, 7;287)

B. AMALAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN

1. Bagi Kaum Lelaki Tidak Boleh Mengenakan Kain Dari Sutera Dan Emas.
Sahabat Ali radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mangambil sutera lalu meletakkannya di sisi kanannya dan mengambil emas lalu meletakkannya di sisi kirinya. Kemudian beliau bersabda; Sesungguhnya dua barang ini haram bagi umatku yang laki-laki.”
(HR. Abu Daud, No.3535)

Perlu diingat, bahwa larangan ini hanya berlaku untuk kaum lelaki. Adapun untuk kaum wanita dibolehkan mengenakan pakaian sutra.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا
“Emas dan sutra dihalalkan bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan bagi kaum lelakinya.”
(HR. Nasai, No.5057)

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْهَا حُلَّةً فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ مَا قُلْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا فَكَسَاهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًا
“Bahwa Umar bin Al-khatthab melihat pakaian sutera di depan pintu masjid, maka dia pun berkata; Wahai Rasulullah, seandainya engkau membeli pakaian ini, lalu engkau kenakan pada hari Jumat atau saat menyambut utusan (delegasi) ketika datang menghadap engkau. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab; Sesungguhnya orang yang memakai pakaian seperti ini tidak akan mendapat bagian di akhirat. Kemudian datang hadiah untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, di antaranya berupa pakain sutera. Beliau lalu memberikan pakaian sutera tersebut kepada Umar bin Al-khatthab radhiyallahu anhu. Maka Umar berkata; Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan pakaian ini untukku, padahal engkau telah menjelaskan konsekuensi untuk orang yang memakainya! Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Aku memberikannya kepadamu bukan untuk kamu pakai. Maka Umar bin Al-khatthab memberikan pakaian sutera tersebut kepada saudaranya yang musyrik di kota Makkah.”
(HR. Bukhari, No.837)

Imam Ath-thahawi rahimahullah berkata:
“Hadits-hadits tentang larangan memakai sutra itu mutawatir.”
(Syarh Maani Al-atsar, 4;246)

Jadi, hukum asal sutra itu diharamkan untuk kaum lelaki dan dihalalkan untuk kaum wanita. Namun, jika sutra digunakan untuk selain perhiasan, seperti untuk pengobatan, maka kaum lelaki pun boleh menggunakannya.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah memberi izin kepada Zubair dan Abdurrahman untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal yang dideritanya.”
(HR. Bukhari, No.5391)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:
“Dalam hadits ini terdapat dalil tentang larangan menggunakan sutra, itu tidak termasuk di dalamnya berlaku untuk orang yang memiliki penyakit yang bisa diringankan dengan memakai sutra.”
(Fath Al-bari, 16;400)

Sehingga sutra boleh digunakan ketika ada kebutuhan, seperti untuk menyembuhkan penyakit atau kondisi darurat semisalnya. Wallahu alam.

2. Bagi Kaum Lelaki Tidak Boleh Isbal.
Isbal adalah mengenakan pakaian yang menjulur dari atas ke bawah hingga menutupi pergelangan tangan atau mata kaki.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ
“Barang siapa menjulurkan kain sarungnya hingga di bawah mata kaki, maka tempatnya adalah di Neraka.”
(HR. Bukhari, No.5341)

Selain itu, mungkin kita sudah sering mendengar tentang hukum isbal itu hanya ada pada celana, sarung, atau pakaian bagian bawah (izar) lainnya. Padahal isbal tidak hanya terdapat pada bagian bawah, tapi pada pakaian bagian atas, yakni pada lengan baju juga berlaku larangan isbal. Maksudnya, tidak boleh juga lengan kemeja, jaket, jas, dan semisalnya melebihi pergelangan tangan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْإِسْبَالُ فِي الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ وَالْعِمَامَةِ مَنْ جَرَّ مِنْهَا شَيْئًا خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Isbal itu ada pada sarung, baju, dan serban. Barang siapa yang memanjangkan salah satu darinya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.”
(HR. Abu Daud, No.3571)

Syaikh Salim bin Ied Al-hilali hafizhahullah menjelaskan:
“Isbal bukan hanya pada celana (pakaian bawah). Namun, isbal juga bisa terdapat pada kemeja (pakaian atas). Hendaklah bagian lengannya sampai pergelangan tangan saja! Begitu juga serban (imamah), bagian ujungnya tidak boleh sampai ke bokong (pantat).”
(Bahjah An-nazhirin, 2;80)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan:
“Hadits yang ada, menyebutkan tentang larangan isbal pada celana (pakaian bawah). Mayoritas manusia di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenakan pakaian bawah dan pakaian atas. Tetap saja, untuk baju (pakaian atas) memiliki hukum yang sama juga dengan celana (pakaian bawah).”
(Fath Al-bari, 10;262)

3. Tidak Boleh Mengenakan Busana Yang Menjadi Identitas Lawan Jenis.
Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita, dan juga para wanita yang menyerupai para lelaki, Beliau berkata; Keluarkanlah mereka dari rumah kalian! Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengeluarkan seseorang, dan Umar juga pernah mengeluarkan seseorang.”
(HR. Bukhari, No.5436)

Sebaliknya, telah diwajibkan bagi para wanita untuk memanjangkan pakaiannya hingga menutupi kedua mata kakinya (isbal), dan hendaknya menjulurkan juga kain jilbabnya hingga menutupi leher dan dadanya.

Allah azza wa jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para istrinya orang-orang yang beriman; Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Dengan cara tersebut mereka akan lebih mudah untuk dikenal, sebab itu mereka tidak akan diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
(QS. Al-ahzab, Ayat 59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada para wanita yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dari mereka! Dan hendaklah mereka menutupkan kain jilbab ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita muslimah, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan (menghentakkan) kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung!”
(QS. An-nur, Ayat 31)

4. Tidak Boleh Mengenakan Pakaian Yang Terdapat Gambar Makhluk Bernyawa.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata:

كَانَ لَنَا سِتْرٌ فِيهِ تِمْثَالُ طَائِرٍ وَكَانَ الدَّاخِلُ إِذَا دَخَلَ اسْتَقْبَلَهُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَوِّلِي هَذَا فَإِنِّي كُلَّمَا دَخَلْتُ فَرَأَيْتُهُ ذَكَرْتُ الدُّنْيَا قَالَتْ وَكَانَتْ لَنَا قَطِيفَةٌ كُنَّا نَقُولُ عَلَمُهَا حَرِيرٌ فَكُنَّا نَلْبَسُهَا
“Kami memiliki tirai bergambar burung yang diletakkan di ruangan rumah bagian depan. Maka setiap orang yang masuk pasti dia akan melihatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaku: “Wahai ‘Aisyah, pindahkanlah tirai ini! Sebab saat aku masuk dan melihatnya, aku selalu ingat dengan dunia.” ‘Aisyah berkata, “Kami juga memiliki selembar kain tebal yang gambarnya terbuat dari sutera, dan kami biasa memakainya.”
(HR. Muslim, No.3934)

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَّرْتُ عَلَى بَابِي دُرْنُوكًا فِيهِ الْخَيْلُ ذَوَاتُ الْأَجْنِحَةِ فَأَمَرَنِي فَنَزَعْتُهُ
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pulang dari pepergian, beliau melihat kain tirai bergambar kuda bersayap yang aku tutupkan pada pintuku. Maka beliau menyuruhku untuk mencabutnya, dan aku pun mencabutnya.”
(HR. Muslim, No.3935)

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُتَسَتِّرَةٌ بِقِرَامٍ فِيهِ صُورَةٌ فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ
“Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masuk ke kamarku, sedangkan pada saat itu aku menutupi kamar dengan kain tipis yang bergambar (makhluk bernyawa). Maka berubahlah raut wajah beliau dan langsung mengambilnya kemudian merobeknya. Lalu beliau bersabda; Sesungguhnya orang yang paling pedih siksaannya pada hari Kiamat adalah orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan ciptaan Allah.”
(HR. Muslim, No.3936)

Selain itu, bahwa gambar makhluk bernyawa juga termasuk dari perhiasan. Sehingga, hal tersebut sudah termasuk dalam larangan bertabarruj.

5. Bagi Kaum Wanita Boleh Berhias Hanya Untuk Di Hadapan Suami.
Allah azza wa jalla berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى 
“Dan hendaklah kalian wanita tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj seperti orang-orang jahiliyyah terdahulu!”
(QS. Al-ahzab, Ayat 33)

Tabarruj adalah perilaku yang menampakkan perhiasan dan keindahan, atau membuka segala sesuatu yang seharusnya ditutup.

Ingatlah, bahwa maksud dari perintah Allah dan RasulNya untuk mengenakan hijab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal jika hijab yang berfungsi untuk menutupi perhiasan wanita, malah menjadi pakaian untuk berhias dan menampakkan bagian yang harus ditutupi, sebagaimana yang saat ini sering kita temukan. Sehingga yang semula fungsinya untuk menolak pandangan menjadi menarik pandangan. Sungguh ini adalah sebuah musibah yang kita harus berlindung kepada Allah azza wa jalla.

6. Tidak Boleh Mengenakan Pakaian Yang
Tipis, Transparan, Dan Ketat.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu; Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya dia memukuli orang. Dan kaum wanita yang berpakaian, tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan tergelincir dari ketaatan, rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk Surga dan juga tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu bisa tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.”
(HR. Muslim, No.5098)

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan:
“Makna ‘kasiyatun ariyatun’ adalah para wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga bisa menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna. Mereka memang berpakaian namun, pada hakikatnya mereka telanjang (tidak berpakaian).”
(Jilbab Al-marah Al-muslimah, Hlm.125) 

Berdasarkan penjelasan tersebut, kita bisa menilai, apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat, yang saat ini banyak dikenakan para wanita itu sesuai syariat Islam ataukah tidak?

Kemudian, larangan ini berlaku juga untuk kaum lelaki, bukan hanya untuk kaum wanita.

7. Bagi Kaum Wanita Tidak Boleh Memakai Wewangian Di Luar Rumah.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ خَرَجَتْ لِيُوجَدَ رِيحُهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ وَكُلُّ عَيْنٍ زَانٍ
“Wanita manapun yang memakai wewangian (parfum), lalu keluar rumah agar tercium aroma wanginya, maka dia adalah wanita pezina, dan setiap mata yang memandang adalah penyakit.”
(HR. Darimi, no.2532)

Imam Al-munawi rahimahullah berkata:
“Wanita jika memakai wewangian, kemudian melewati majelis (sekumpulan) kaum lelaki, maka dia bisa membangkitkan syahwat dan mendorong mereka untuk melihat kepadanya. Setiap yang melihat kepadanya, maka matanya telah berzina. Wanita tersebut mendapat dosa karena memancing pandangan kepadanya dan membuat hati para lelaki tidak tenang. Jadi, dia adalah penyebab zina mata dan dia juga termasuk pezina.”
(Faidh Al-qadir, 5;27)

• Catatan:
Bahwa larangan ini hanya berlaku untuk di luar rumah dan di hadapan selain mahram dan suami. Maka jika menggunakan wewangian untuk di dalam rumah, bersama mahram, maka itu hal yang dibolehkan. Dan apalagi ketika di hadapan suami, maka ini hal yang disyariatkan, bahkan diharuskan. Karena untuk menyenangkan hati suami, dan bisa berbuah pahala.

8. Tidak Boleh Mengenakan Pakaian Untuk Mencari Popularitas.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ
“Barang siapa memakai baju kemewahan (karena ingin dipuji), maka pada hari Kiamat Allah akan mengenakan untuknya baju yang semisal, lalu akan dilahab oleh api Neraka, yaitu berupa baju kehinaan.”
(HR. Abu Daud, No.3511)

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا
“Barang siapa mengenakan pakaian dengan penuh kesombongan (pamer) di dunia, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan untuknya pada hari Kiamat, dan dia akan dimasukkan ke dalam api Neraka.”
(HR. Ibnu Majah, No.3597. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Pakaian syuhrah bisa berupa pakaian yang paling mewah, sehingga si pemakainya terlihat seperti orang yang paling kaya. Atau berupa pakaian yang paling kucel dan kumuh, sehingga pemakainya terlihat sebagai orang yang zuhud. Kadang juga maksud pakaian syuhrah adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai oleh masyarakat, dan tidak digunakan di zaman tersebut. Sehingga semua jenis pakaian syuhrah seperti ini dilarang dan tidak boleh dikenakan.

9. Tidak Boleh Mengenakan Pakaian Yang Terdapat Gambar Salib.
Sahabat Diqrah Ummu Abdirrahman bin Udzainah berkata;

كُنَّا نَطُوفُ بِالْبَيْتِ مَعَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَرَأَتْ عَلَى امْرَأَةٍ بُرْداً فِيهِ تَصْلِيبٌ فَقَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ اطْرَحِيهِ اطْرَحِيهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى نَحْوَ هَذَا قَضَبَهُ
“Dahulu kami pernah berthawaf di Kabah bersama Ummul Mukminin (Aisyah), lalu beliau melihat wanita yang mengenakan burdah yang terdapat salib. Ummul Mukminin lalu berkata; Lepaskanlah salib tersebut! Lepaskanlah salib tersebut! Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika melihat seperti itu, beliau menghilangkannya.”
(HR. Arnauth, No.25091. Beliau menyatakan hadits ini sanadnya hasan)

10. Tidak Boleh Mengenakan Pakaian Identitas Selain Islam.
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.”
(HR. Abu Daud, No.3512)

Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan:
“Keadaan minimal dari hadits tersebut adalah pengharaman tasyabbuh (penyerupaan). Meskipun redaksi hadits ini memberikan konsekuensi kufurnya orang yang menyerupai orang kafir.”
(Iqtidha Shirath Al-mustaqim, 1;241)

Salah satu bentuk menyerupai pakaian yang berasal bukan dari Islam, dan bahkan sangat banyak di antara umat Islam yang mengenakannya dengan tidak sadar, bahwa ternyata pakaiannya tersebut masuk ke dalam bab tasyabbuh, yaitu pakaian yang terdapat “zunar”. Dan biasanya zunar terdapat pada pakaian wanita (gamis).

a. Pengertian zunar.
Imam Taqiyuddin Al-husaini rahimahullah menjelaskan:
“Ahli Kitab yang menjadi kafir dzimmi (orang kafir yang tidak diperangi) diharuskan untuk memakai zunar. Zunar adalah benang tebal (tali tambang) yang diikatkan pada bagian tengah badan di luar kain.”
(Kifayah Al-akhyar, 2;221)

Adapun memakai zunar atau zinar yang merupakan ciri khas para Pendeta dan Rahib, maka para ulama berselisih pendapat berkenaan hukum mengenakannya. Ada sebagian ulama yang menyatakan makruh dan ada juga yang menyatakan haram.

Pendapat yang dilihat lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang kedua, bahwa hukumnya haram, sebagaimana penjelasan di atas.

Tali pinggang yang dilarang adalah yang menyerupai zunar. Adapun jika tidak menyerupai zunar, seperti ikat pinggang (sabuk) dan semisalnya, kemudian ada fungsinya, maka boleh.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Dibenci juga manusia memasang tali di bagian tengah pakaiannya, akan tetapi ini tidak mutlak. Yang dilarang adalah tali yang menyerupai zunar dan mengikatkan tali tambang di bagian perut atau tali yang semisal dengannya dan hal ini banyak dilakukan. Hal tersebut dibenci jika tali yang digunakan menyerupai zunar. Zunar adalah seutas tali yang sudah sangat maruf (dikenal) di kalangan kaum Nashrani, yang mereka ikatkan di bagian tengah pakaian mereka. Dibencinya memakai tali yang menyerupai zunar, karena itu menyerupai orang-orang kafir.”
(ِAsy-syarh Al-mumti, 2;195)

Meskipun bentuknya tidak menyerupai zunar, tapi jika penggunaan tali pada pakaian menyebabkan terlihatnya lekukan tubuh wanita, maka itu juga dilarang oleh Islam.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu; Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya dia memukuli orang. Dan kaum wanita yang berpakaian, tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan tergelincir dari ketaatan, rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk Surga dan juga tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu bisa tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.”
(HR. Muslim, No.5098)

Maka sebab itu, jika tali pada gamis wanita tidak menyerupai zunar dan penggunaannya tidak menyebabkan timbulnya lekukan tubuh, maka dibolehkan. Dan lebih utama jika gamis tersebut ditutup oleh jilbab yang lebar dan panjang, yang menutupi seluruh tubuhnya.

Meskipun tali zunar ini dikenakan pada leher atau di tempat lainnya, maka tetap saja ia menjadi sesuatu yang terlarang. Sama seperti salib, apakah ia dipasang sebagai kalung, gelang, pakaian, atau sekedar pajangan di dinding.

Karena zunar dan salib termasuk salah satu identitas kaum Nashrani dan bukan berasal dari Islam. Sehingga, sangat tidak pantas jika orang yang mengaku beragama Islam ikut menggunakannya. Sebagaimana identitas lainnya, seperti atribut Natal juga terlarang untuk digunakan oleh umat Islam.

b. Solusi untuk zunar.
Jika para muslimah masih memiliki gamis atau pakaian yang ada untaian tali di bagian pinggangnya (zunar), maka segera dipotong atau dihilangkan!

Atau bagi teman-teman yang memiliki usaha sebagai pembuat atau penjual gamis untuk para muslimah, segera hilangkan model tali yang terdapat di bagian pinggang dan semisalnya! Agar diri kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang menyerupai orang kafir.

11. Tidak Boleh Mengenakan Pakaian Berwarna Merah Polos.
Ada tiga warna pakaian yang dibahas oleh syariat islam, di antaranya:

a. Warna yang dicelup dengan ushfur (sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna merah).
Sahabat Abdullah bin Amru bin Al-ash radhiyallahu anhuma bercerita:

رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا قُلْتُ أَغْسِلُهُمَا قَالَ بَلْ أَحْرِقْهُمَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat aku sedang mengenakan dua potong pakaian yang bercelupkan warna kuning, maka beliau berkata; Apakah ibumu yang menyuruh seperti ini? Aku berkata; Aku akan mencucinya. Beliau bersabda; Jangan, tetapi bakarlah!”
(HR. Muslim, No.3873)

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُبْسِ الْقَسِّيِّ وَالْمُعَصْفَرِ وَعَنْ تَخَتُّمِ الذَّهَبِ وَعَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الرُّكُوعِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang mengenakan pakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, memakai pakaian yang dicelup dengan ushfur, memakai cincin emas, dan membaca Al-quran pada saat ruku.”
(HR. Muslim, No.3874)

Imam Hamad Al-qathabi rahimahullah menjelaskan:
“Bahwa memakai pakaian yang dicelup dengan ushfur adalah haram, karena hukum asal larangan dalam hadits di atas adalah haram. Adapun baju merah yang dikenakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka merah pada baju tersebut bukan karena menggunakan ushfur namun, karena dicelup warna merah dengan zat selain ushfur.”
(Maalim As-sunan, 4;179)

b. Warna yang dicelup dengan zafaran (sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna kuning).
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:,

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَزَعْفَرَ الرَّجُلُ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki memakai minyak zafaran.”
(HR. Bukhari, No.5398)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Pendapat yang tepat, haram memakai pakaian yang dicelup ushfur, begitu juga zafaran.”
(Asy-syarh Al-mumti, 2;218)

Para ulama rahimahumullah menjelaskan:
“Para ulama pakar fiqih sepakat akan dibolehkannya mengenakan pakaian berwarna kuning, asalkan bukan hasil dari celupan ushfur atau zafaran.”
(Al-mausuah Al-fiqhiyah, 2;2051)

Maka sebab itu, jika pakaian kuning berasal dari zat warna sintetik seperti pada pakaian yang kita biasa kenakan saat ini, maka seperti itu boleh digunakan.

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:
“Sedangkan untuk wanita boleh mengenakan pakaian dengan warna apapun, asalkan bukan warna yang nantinya akan menjadi perhiasan diri di hadapan orang yang bukan mahramnya.”
(At-tamhid, 16;123)

Mengenai pakaian berwarna merah atau kuning yang tidak polos, bercorak dan dicampur dengan warna lain, boleh dikenakan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Boleh mengenakan pakaian yang bergaris merah, kuning, hijau, dan warna pakaian yang bercorak lainnya. Hal ini berdasarkan kesepakatan (ijma) para ulama. Warna pakaian yang bercorak semacam itu tidaklah makruh. Inilah yang dikatakan oleh Imam Syafii dan pengikutnya. Namun, yang paling utama adalah mengenakan pakaian yang berwarna putih.”
(Al-majmu, 4;452)

Maka, belilah pakaian yang sesuai selera Islam, bukan hanya yang sesuai selera sendiri! Belilah pakaian yang tidak cuma keren, tapi bisa untuk menutupi aurat dan sesuai syariat!

Karena untuk menutupi aurat tidak harus dengan pakaian yang mahal. Di zaman ini sudah sangat banyak pakaian dengan harga mahal namun, tidak bisa menutupi aurat si pemakainya dengan baik dan benar.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memperbaiki kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik, serta istiqamah dalam melakukannya. Aamiin!

Semoga menjadi ilmu yang berkah.
_____
@Kota Angin, Majalengka, Jawa Barat.
11 Dzulqadah 1439H/24 Juli 2018M
Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Melakukan Aktivitas
Artikel sesudahnyaAdab Berpenampilan
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here