Beranda Belajar Islam Adab Adab Berpakaian

Adab Berpakaian

541
0
BERBAGI

Adab Berpakaian

A. Perkara Yang Harus Dilakukan

1. Membaca doa sebelum mengenakan pakaian.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ومَنْ لَبِسَ ثوبًا فقال: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَـٰذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang mengenakan pakaian hendaknya mengucapkan: Alhamdulillaah al-ladzii kasaanii haadzats-tsauba wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwah (segala puji bagi Allah yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dariNya tanpa daya dan kekuatan dariku.”
(HR. Abu Dawud, Shahih Abi Dawud, no.4023. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan)

Ketika memakai pakaian baru, sorban, kopiah atau peci baru dan jenis pakaian baru lainnya, hendaknya membaca doa;

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ
“Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberiku pakaian, aku memohon kepadaMu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini.”
(HR. Abu Dawud, Shahih Abi Dawud, no.4020, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

2. Mendahulukan yang sebelah kanan, lalu yang sebelah kiri.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Bahwasanya Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.168)

Maka ketika akan melepaskannya, dibalik. Dahulukan melepas bagian yang kiri, lalu bagian yang kanan. Sebagaimana ketika mengenakan dan melepaskan sandal.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِاليُمْنَى وَإِذَا خَلَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ
“Apabila salah seorang di antara kalian memakai sandal (sepatu), maka mulailah dengan yang kanan dan apabila melepaskannya mulailah dengan yang kiri.”
(HR. Imam Bukhari, no.5855)

3. Mengenakan pakaian berwarna putih.
Warna pakaian yang dianjurkan untuk kaum lelaki adalah warna putih. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِلْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Pakailah oleh kalian pakaian yang putih! Karena itu termasuk pakaian yang paling baik. Dan berilah kafan pada orang mati di antara kalian dengan kain warna putih!”
(HR. Abu Dawud, no.4061, At-Tirmidzi, no.994. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Sahabat Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِلْبَسُوا الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Kenakanlah pakaian warna putih! Karena pakaian tersebut lebih bersih dan paling baik. Kafanilah juga orang yang mati di antara kalian dengan kain putih!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2810 dan Ibnu Majah, no.3567. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Benarlah apa yang Nabi sudah katakan, karena pakaian yang berwarna putih lebih baik dari warna selainnya dari dua aspek. Yaitu: Warna putih lebih terang dan nampak bercahaya, dan jika kain tersebut terkena sedikit kotoran saja maka orang yang mengenakannya akan segera mencucinya. Sedangkan, pakaian yang berwarna selain putih maka bisa menjadi sarang berbagai kotoran dan orang yang memakainya tidak menyadarinya sehingga tidak segera mencucinya. Andai jika sudah dicuci juga, orang tersebut belum tahu secara pasti, apakah kain tersebut sudah benar-benar bersih ataukah belum? Dengan pertimbangan ini Nabi memerintahkan kita, kaum lelaki untuk memakai kain yang berwarna putih. Kain putih di sini mencakup kemeja, sarung atau pun celana. Seluruhnya dianjurkan berwarna putih, karena itulah yang lebih utama. Meski pun mengenakan warna yang lainnya juga tidak dilarang (boleh), asalkan warna tersebut bukan warna khas pakaian wanita. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita. Demikian juga, dengan syarat bukan berwarna merah polos. Karena Rasulullah melarang warna merah polos sebagai warna pakaian laki-laki. Namun, jika warna merah tersebut bercampur warna putih maka tidaklah mengapa.”
(Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 7:287)

B. Perkara Yang Tidak Boleh Dilakukan

1. Tidak dibolehkan memakai kain dari sutra dan emas bagi kaum lelaki.
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau mengambil kain sutra dan memegangnya dengan tangan kanannya, sedangkan emas digenggam dengan tangan kirinya, kemudian bersabda;

إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ
“Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku.”
(HR. Abu Dawud, no.4057)

Larangan ini hanya berlaku untuk kaum lelaki. Ada pun kaum wanita dibolehkan menggunakan pakaian sutra. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَتِي، وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا
“Dihalalkan emas dan sutra bagi wanita dari kalangan umatku dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya.”
(HR. An-Nasai, no.5163. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih An Nasai)

Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَن لبِس الحريرَ في الدُّنيا لم يلبَسْه في الآخرةِ وإنْ دخَل الجنَّةَ لبِسه أهلُ الجنَّةِ ولم يلبَسْه هو
“Barang siapa yang memakai pakaian dari sutra di dunia, maka dia tidak akan memakainya di akhirat. Walaupun dia masuk surga dan penduduk surga yang lain memakainya namun, dia tidak memakainya.”
(HR. Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hibban, no.5437)

Imam Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan;

اَلْآثَارُ مُتَوَاتِرَةٌ بِذَلِكَ
“Hadits-hadits tentang hal ini (larangan memakai sutra) adalah mutawatir.”
(Syarh Maani Al-Atsar, 4:246)

Mutawatir artinya hadits tentang hal ini sangat banyak dan shahih, sehingga harus diyakini dan diamalkan.

Jadi, hukum asal sutra itu diharamkan untuk kaum lelaki dan dihalalkan untuk kaum wanita. Namun, jika sutra digunakan untuk pengobatan, maka kaum lelaki pun boleh menggunakannya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan kelonggaran bagi laki-laki untuk menggunakan sutra untuk pengobatan. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata;

رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan kelonggaran untuk Zubair dan Abdurrahman untuk memakai sutra karena penyakit gatal yang mereka derita.”
(HR. Imam Bukhari, no.5839)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan;

قَالَ الطَّبَرِيُّ: فِيهِ دَلَالَة عَلَى أَنَّ النَّهْي عَنْ لُبْس الْحَرِير لَا يَدْخُل فِيهِ مَنْ كَانَتْ بِهِ عِلَّة يُخَفِّفهَا لُبْس الْحَرِير
“Ath-Thabari menjelaskan: Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa larangan menggunakan sutra tidak termasuk di dalamnya orang yang memiliki penyakit yang bisa diringankan dengan memakai sutra.”
(Fathu Al-Baari, 16:400)

Sehingga dibolehkan menggunakan sutra jika ada kebutuhan untuk menyembuhkan penyakit atau kondisi darurat lainnya.

2. Tidak boleh isbal (memanjangkan pakaian, yang menjulur dari atas sampai ke bawah hingga menutupi pergelangan tangan atau mata kaki) bagi kaum lelaki.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ
“Kain yang berada di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka.”
(HR. Imam Bukhari, no.5787)

Kita sudah sering mendengar bahwa hukum isbal itu hanya ada pada celana, sarung atau pakaian bagian bawah (izar) lainnya. Padahal isbal tidak hanya terdapat pada bagian itu saja, pada pakaian bagian atas, yaitu lengan baju juga berlaku larangan isbal. Maksudnya adalah tidak boleh lengan baju tersebut melebihi pergelangan tangan.

Imam An-Nawawi rahimahullah membawakan dua hadits yang menjelaskan tentang hukum memanjangkan lengan baju, yaitu;
a. Sahabat Asma binti Yazid Al-Anshari radhiyallahu anha berkata;

كَانَ كُمُّ يَدِ رَسُولِ اللّٰهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى الرُّسْغِ
“Panjang lengan baju Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah sampai pergelangan tangan.”
(HR. Abu Dawud, no.4027 dan At-Tirmidzi, no.1765. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

b. Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْإِسْبَالُ فِى الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ وَالْعِمَامَةِ مَنْ جَرَّ مِنْهَا شَيْئًا خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللّٰهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Isbal ada pada celana, kemeja dan imamah. Barang siapa yang menjulurkannya dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.”
(HR. Abu Dawud, no.4094 dan An-Nasai, no.5336. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali hafizhahullah menjelaskan;
“Tentang hadits kedua: isbal (menjulurkan pakaian) bukan hanya pada celana (atau sarung) saja. Namun, isbal juga bisa terdapat pada kemeja (baju). Hendaklah bagian lengannya sampai pergelangan tangan saja! Begitu juga imamah (penutup kepala), bagian ujungnya tidak boleh sampai ke pantat.”
(Bahjatu An-Nazhirin, 2:80)

Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan;
“Hadits yang ada menyebutkan larangan isbal pada celana (pakaian bawah). Mayoritas manusia dimasa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenakan pakaian bawah dan pakaian atas. Tetap saja, untuk baju (pakaian atas) memiliki hukum yang sama juga dengan larangan pada pakaian bagian bawah (celana atau sarung).” Ibnu Batthal menjelaskan: Bahwa qiyas (penyamaan) tersebut sangat tepat. Seandainya tidak ada dalil mengenai larangan isbal pada kemeja, maka larangan yang ada tetap mencakup pakaian atas dan bawah. Ada pun tentang menjulurkan imamah di sini, perlu ditinjau kembali. Jika maksudnya adalah menjulurkan imamah lebih dari kebiasaan adat setempat, itulah yang termasuk isbal.”
(Fathu Al-Baari, 10:262)

3. Tidak boleh menggunakan busana ciri khas lawan jenis.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ الْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.”
(HR. Imam Bukhari, no.5886)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَعَنَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang memakai busana lelaki.”
(HR. Abu Dawud, no.4098)

Diwajibkan bagi setiap muslimah untuk memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 59)

Dalam firmanNya yang lain;

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka! Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (jilbab) ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan (menghentakkan) kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung!”
(Surat An-Nur: ayat 31)

4. Tidak boleh mengenakan pakaian yang terdapat gambar makhluk bernyawa (manusia atau hewan).
Aisyah radhiyallahu anha berkata; Nabi shallallahu alaihi wa sallam memasuki rumahku, lalu di sana ada kain yang tertutup gambar (makhluk bernyawa yang memiliki ruh). Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihatnya, beliau langsung merubah warnanya dan menyobeknya. Lalu beliau bersabda;

إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الّذيْنَ يُشَبِّهُوْنَ ِبخَلْقِ اللّٰهِ
“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah yang menyerupakan ciptaan Allah.”
(HR. Imam Muslim, no.2107)

Perlu diketahui juga bahwa gambar makhluk juga termasuk dari perhiasan. Jadi, hal ini sudah termasuk dalam larangan bertabarruj.

Untuk kaum wanita ada pelarangan tambahan, yaitu tidak boleh memakai pakaian untuk berhias yang banyak dihiasi dengan gambar bunga dan yang warna-warni. Semua itu dilarang, karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kalian wanita tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj seperti orang-orang jahiliyyah terdahulu!”
(Surat Al-Ahzab: ayat 33)

Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup. Karena hal tersebut dapat menggoda kaum lelaki.

Ingatlah, bahwa maksud dari perintah Allah dan RasulNya untuk mengenakan hijab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal jika hijab yang berfungsi untuk menutupi perhiasan wanita, malah menjadi pakaian untuk berhias dan menampakkan bagian yang harus ditutupi, sebagaimana yang saat ini sering kita temukan. Sehingga yang semula fungsinya untuk menolak pandangan menjadi menarik pandangan. Sungguh ini adalah sebuah musibah yang kita harus berlindung kepada Allah azza wa jalla.

5. Tidak boleh mengenakan pakaian yang
tipis, tembus pandang dan ketat.

Karena pakaian seperti itu bisa menampakkan aurat dan bentuk lekukan tubuh. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu (1) Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan (2) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang, dia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu bisa tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.”
(HR. Imam Muslim, no.2128)

Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan;
“Makna ‘kasiyatun ariyatun’ adalah para wanita yang memakai pakaian tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian namun, pada hakikatnya mereka telanjang (tidak berpakaian).”
(Jilbab Al-Marah Al-Muslimah, hlm.125-126)

Cermatilah! Dari sini kita bisa menilai, apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat, yang saat ini banyak dikenakan para wanita itu sesuai syariat ataukah tidak?

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita dan mereka.

6. Tidak boleh diberi wewangian.
Sahabat Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka merasakan aromanya, maka dia adalah wanita pezina.”
(HR. An-Nasai, Shahih An-Nasai, no.5141. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Catatan;
Bahwa pelarangan ini hanya berlaku untuk di luar rumah dan dihadapan selain mahram. Maka jika menggunakan wewangian atau parfum untuk di dalam rumah, serta dihadapan mahram, itu adalah hal yang dibolehkan. Dan jika digunakan untuk dihadapan suami maka ini hal yang disyariatkan dan diharuskan, karena untuk menyenangkan hati suami. Dan berbuah pahala bagi yang melakukannya.

Jadi, jangan salah tempat menggunakannya!

7. Tidak boleh menggunakan pakaian untuk mencari popularitas (pakaian syuhrah).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِى الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللّٰهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا
“Barang siapa mengenakan pakaian syuhrah di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.”
(HR. Abu Dawud, no.4029. Syaikh As-Suyuti menyatakan sanad hadits ini hasan)

Pakaian syuhrah bisa berupa pakaian yang paling mewah, sehingga pemakainya terlihat orang yang paling kaya, atau pakaian yang paling kucel dan kumuh, sehingga pemakainya terlihat sebagai orang yang zuhud. Kadang juga maksud pakaian syuhrah adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai oleh masyarakat di negeri tersebut dan tidak digunakan pada zaman itu. Semua jenis pakaian syuhrah seperti ini terlarang.

8. Tidak boleh mengenakan pakaian yang terdapat gambar salib.
Sahabat Diqrah Ummu Abdirrahman bin Udzainah berkata;

كُنَّا نَطُوفُ بِالْبَيْتِ مَعَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَرَأَتْ عَلَى امْرَأَةٍ بُرْداً فِيهِ تَصْلِيبٌ فَقَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ اطْرَحِيهِ اطْرَحِيهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَأَى نَحْوَ هَذَا قَضَبَهُ
“Dulu kami pernah berthawaf di Kabah bersama Ummul Mukminin (Aisyah), lalu beliau melihat wanita yang mengenakan burdah yang terdapat salib. Ummul Mukminin lalu mengatakan: Lepaskanlah salib tersebut! Lepaskanlah salib tersebut! Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika melihat semacam itu, beliau menghilangkannya.”
(HR. Ahmad, no.25091. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan)

9. Tidak boleh mengenakan pakaian yang bukan ciri khas dari agama Islam.
Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.”
(HR. Abu Dawud, no.3512, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Keadaan minimal dari hadits ini adalah pengharaman tasyabbuh (penyerupaan). Meski pun redaksi hadits ini memberikan konsekuensi kufurnya orang yang menyerupai orang kafir.”
(Iqtidha Shiratha Al-Mustaqim: 1:241)

Salah satu bentuk menyerupai pakaian yang berasal bukan dari islam dan sangat banyak yang mengenakannya tidak sadar bahwa pakaiannya tersebut masuk dalam bab tasyabbuh yaitu pakaian yang terdapat zunar. Dan biasanya zunar terdapat pada pakaian wanita.

Apa itu zunar?
“Mereka, Ahli Kitab yang menjadi kafir dzimmi (orang kafir yang tidak diperangi) diharuskan untuk memakai zunar. Zunar adalah benang tebal (tali tambang) yang diikatkan pada bagian tengah badan di luar kain.”
(Kifayatu Al-Akhyar, 2:221)

Ada pun memakai zunar atau zinar yang merupakan ciri khas para Pendeta dan Rahib, maka para ulama berselisih pendapat berkenaan hukum menggunakannya. Ada yang menyatakan makruh dan ada juga yang menyatakan haram.

Pendapat yang dilihat lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang kedua, bahwa hukumnya haram. Berdasarkan hadits Rasulullah dan penjelasan dari Ibnu Taimiyyah yang sudah dijelaskan di atas.
(Silakan simak kembali!)

Tali pinggang yang dilarang adalah yang menyerupai zunar. Ada pun jika tidak menyerupai zunar, seperti misalnya tali baju atau ikat pinggang (sabuk) dan semisalnya, maka tidak mengapa (boleh). Namun, jika tidak ada fungsinya maka tidak boleh.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Dibenci juga manusia memasang tali di bagian tengah pakaiannya, akan tetapi ini tidak mutlak. Yang dilarang adalah tali yang menyerupai zunar dan mengikatkan tali tambang di bagian perut atau tali yang semisal dengannya dan hal ini banyak dilakukan. Hal tersebut dibenci jika tali yang digunakan menyerupai zunar. Zunar adalah seutas tali yang sudah sangat maruf (dikenal) dikalangan kaum Nashrani, yang mereka ikatkan dibagian tengah pakaian mereka. Dibencinya memakai tali yang menyerupai zunar, karena itu menyerupai orang-orang kafir.”
(ِAsy-Syarhu Al-Mumthi, 2:195-196)

Meski bentuknya tidak menyerupai zunar, tapi jika penggunaan tali ini menyebabkan terlihatnya lekukan tubuh wanita, maka itu juga dilarang. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda;

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu (1) Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan (2) wanita yang berpakaian tetapi telanjang, dia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu bisa tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.”
(HR. Imam Muslim, no.2128)

Maka dari itu, jika tali pada gamis wanita tidak menyerupai zunar dan penggunaannya tidak menyebabkan timbulnya lekukan tubuh, maka tidak mengapa (boleh). Dan akan lebih utama jika gamis tersebut ditutup oleh jilbab yang lebar dan panjang, yang menutupi seluruh tubuhnya.

Meski pun tali zunar ini dipakai pada leher atau di tempat lainnya, maka tetap saja ia menjadi sesuatu yang terlarang. Sama seperti salib, apakah ia dipasang sebagai kalung, atau gelang, atau sekedar pajangan di baju dan dinding, lalu hukumnya berubah menjadi boleh?

Tentu tidak! Semuanya terlarang, karena zunar dan salib merupakan salah satu ciri khusus kaum Nashrani dan bukan berasal dari islam. Sehingga, sangat tidak pantas jika orang yang mengaku beragama islam ikut menggunakannya.

Solusinya: Jika saudara-saudariku masih memiliki gamis atau pakaian yang ada untaian tali di bagian pinggangnya (zunar), maka segera dipotong atau dihilangkan! Agar diri kalian selamat dari penyerupaan dengan orang kafir.

Berkenaan dengan larangan mengenakan pakaian yang bukan ciri khas dari agama Islam, itu sangat luas. Jadi, setiap kali ingin membeli pakaian, perhatikan dan pelajari. Apakah pada pakaian tersebut ada unsur tasyabbuh ataukah tidak? Hal tersebut dapat diketahui hanya dengan ilmu. Maka teruslah bersemangat dalam menuntut ilmu agama Islam dan mengamalkannya!

10. Tidak boleh mengenakan pakaian yang berwarna merah polos (tanpa corak).
Perlu diketahui suatu kaidah yang biasa disampaikan oleh para ulama: Hukum asal pakaian adalah mubah (boleh digunakan). Dalilnya adalah firman Allah azza wa jalla;

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 29)

Oleh karena itu, barang siapa yang mengklaim bahwa pakaian warna tertentu itu haram atau terlarang untuk dikenakan, tentu saja dia harus membawakan dalil. Jika tidak ada dalil, maka hukum asalnya dibolehkan.

• Ada tiga warna pakaian untuk kaum lelaki yang diperhatikan oleh syariat Islam, diantaranya;

a. Warna yang dicelup dengan ushfur (sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna merah secara dominan)
(Fathu Al-Baari, 10:305)

Ada pun jika menghasilkan warna merahnya selain dengan ushfur, maka dibolehkan. Sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu anhuma bercerita;

رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat aku memakai dua potong pakaian yang dicelup dengan ushfur, lalu beliau bersabda: sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kamu memakainya!”
(HR. Imam Muslim, no.2077)

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu juga berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ لُبْسِ الْقَسِّىِّ وَالْمُعَصْفَرِ وَعَنْ تَخَتُّمِ الذَّهَبِ وَعَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِى الرُّكُوعِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang mengenakan pakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, memakai pakaian yang dicelup dengan ushfur, memakai cincin emas dan membaca Al-Quran saat ruku.”
(HR. Imam Muslim, no.2078)

Pendapat yang dilihat lebih tepat dalam masalah ini, bahwa memakai pakaian yang dicelup dengan ushfur adalah haram, karena hukum asal larangan dalam hadits di atas adalah haram. Ada pun baju merah yang dikenakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka merah pada baju tersebut bukan karena menggunakan ushfur namun, karena dicelup warna merah dengan zat selain ushfur.
(Maalimu As-Sunan, 4:179)

b. Warna yang dicelup dengan zafaran (sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna kuning). Ada pun jika dicelup dengan warna kuning dari selain zafaran, maka boleh digunakan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Mengenai larangan menggunakan pakaian yang dicelup zafaran, dijelaskan oleh Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu;

نَهَى النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَتَزَعْفَرَ الرَّجُلُ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang kaum lelaki mencelup pakaian dengan zafaran.”
(HR. Imam Bukhari, no.5846)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Pendapat yang tepat, haram memakai pakaian yang dicelup ushfur, begitu juga zafaran.”
(Syarhu Al-Mumthi, 2:218)

-Bolehkah memakai pakaian berwarna kuning?

Hukum asalnya boleh. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama karena pakaian kuning yang terlarang apabila merupakan hasil celupan zafaran atau ushfur, sebagaimana yang sudah disebutkan dalam penjelasan di atas.

Para ulama menjelaskan;
“Para ulama pakar fiqih sepakat akan dibolehkannya mengenakan pakaian berwarna kuning, asalkan bukan hasil dari celupan ushfur atau zafaran.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 2:2051)

Oleh karena itu, jika pakaian kuning berasal dari zat warna sintetik seperti pada pakaian yang kita temukan saat ini, maka seperti itu tidaklah masalah (boleh digunakan).

c. Warna merah polos yang tidak bercampur dengan warna lainnya. Sedangkan jika warna merah pada pakaian tersebut bercampur dengan warna lainnya, maka ini dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.

-Bagaimana dengan pakaian merah polos?

Dalam masalah ini ada dua pendapat, yaitu ada yang membolehkan dan ada yang melarang.

DALIL YANG MELARANG
Sahabat Al-Bara bin Azib radhiyallahu anhu berkata;

نَهَانَا النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْمَيَاثِرِ الْحُمْرِ وَالْقَسِّىِّ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang kami mengenakan ranjang (yang lembut) yang berwarna merah dan qasiy (pakaian yang bercorak sutera).”
(HR. Imam Bukhari, no.5838)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

نُهِيتُ عَنْ الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَأَنْ أَقْرَأَ وَأَنَا رَاكِعٌ
“Aku dilarang untuk memakai kain yang berwarna merah, memakai cincin emas dan membaca Al-Quran saat ruku.”
(HR. An-Nasai, no.5266. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

DALIL YANG MEMBOLEHKAN
Sahabat Al-Barra bin Azib radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مَرْبُوعًا، وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِى حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang laki-laki yang berperawakan sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), saya melihat beliau mengenakan pakaian hullah (merah) dan saya tidak pernah melihat orang yang lebih bagus dari beliau.”
(HR. Imam Bukhari, no.5848)

Dalam riwayat yang lain, beliau juga berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً مَرْبُوعًا بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ صلى الله عليه وسلم
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu berperawakan sedang, perpundak bidang, rambutnya lebat terurai ke bahu hingga sampai kedua cuping telinganya. Pada suatu ketika, beliau pernah mengenakan pakaian hullah (berwarna merah), tidak ada seorangpun yang lebih tampan dari beliau.”
(HR. Imam Muslim, no.2337)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengenakan burdah (kain bergaris) berwarna merah ketika shalat ied.”
(HR. Al-Haitsami, Majma Az-Zawaid, 2:233-234 mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiqah)

Dalil-dalil yang menyebutkan bolehnya mengenakan pakaian berwarna merah, di sana menggunakan kata hullah dan burdah. Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud burdah dan hullah adalah pakaian yang bergaris merah dan bukan pakaian merah polos.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan;

كَانَ بَعْض الْعُلَمَاء يَلْبَس ثَوْبًا مُشْبَعًا بِالْحُمْرَةِ يَزْعُم أَنَّهُ يَتْبَع السُّنَّة، وَهُوَ غَلَط، فَإِنَّ الْحُلَّة الْحَمْرَاء مِنْ بُرُود الْيَمَن وَالْبُرْد لَا يُصْبَغ أَحْمَر صِرْفًا
“Sebagian ulama ada yang memakai pakaian merah polos (merah seluruhnya) dan menganggapnya sebagai sunnah. Sungguh ini adalah keliru. Yang dimaksud ‘hullah’ berwarna merah adalah burdah (pakaian bergaris) dari Yaman dan burdah di sini bukanlah pakaian yang dicelup, sehingga berwarna merah polos (merah keseluruhan).”
(Fathu Al-Bari, 16:415)

KESIMPULAN
Sehingga yang dilihat tepat dan mendekati kebenaran dalam masalah ini adalah pria boleh mengenakan pakaian berwarna merah asalkan tidak polos (tidak seluruhnya berwarna merah). Karena jika pakaian tersebut seluruhnya berwarna merah, maka inilah yang terlarang. Inilah pendapat yang dilihat lebih hati-hati dan lebih selamat dari khilaf (perselisihan) para ulama.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan;
“Sedangkan untuk wanita boleh memakai pakaian dengan warna apa saja, asalkan bukan warna yang nantinya akan menjadi perhiasan diri dihadapan orang yang bukan mahramnya.”
(At-Tamhid, 16:123)

Mengenai pakaian yang tidak polos berwarna merah atau kuning (bercorak dan dicampur dengan warna lain), dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Boleh mengenakan pakaian yang bergaris merah, kuning, hijau dan warna pakaian yang bercorak lainnya. Hal ini berdasarkan kesepakatan (ijma) para ulama. Warna pakaian yang bercorak semacam itu tidaklah makruh sedikit pun. Inilah yang dikatakan oleh Imam Syafii dan pengikutnya. Namun, yang paling utama adalah mengenakan pakaian yang berwarna putih.”
(Al-Majmu, 4:452)

Jadi, setiap style (gaya) pakaian dan penampilan yang dikenakan oleh orang-orang kafir, kita perlu waspada. Jangan latah untuk ikut-ikutan mengenakannya! Karena bisa jadi, itu adalah pakaian ciri khas mereka. Ini menunjukkan pentingnya ilmu sebelum beramal.

Maka belilah pakaian yang sesuai aturan islam, bukan hanya yang sesuai selera sendiri! Belilah pakaian yang tidak cuma keren, tapi bisa untuk menutupi aurat!

Untuk menutupi aurat, itu tidak harus dengan pakaian yang mahal. Karena di zaman ini sudah sangat banyak pakaian dengan harga mahal namun, tidak bisa menutupi aurat pemakainya dengan baik dan benar. Jadi, belilah pakaian yang sederhana dan menutupi aurat! Sehingga anda pun nyaman mengenakannya.

Jika anda masih terbatas dengan pengetahuan ilmu islam, silakan konsultasikan dengan para ulama atau orang-orang shalih yang benar-benar menguasai ilmu islam! Islam mengajarkan kepada ummatnya agar mengembalikan setiap permasalahan kepada ahlinya.

Allah azza wa jalla berfirman;

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui!”
(Surat An-Nahl: ayat 43)

Bahkan, dalam urusan duniawi saja kita harus mengembalikannya kepada orang yang ahli dalam urusan tersebut.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُرِ دُنْيَاكُمْ
“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”
(HR. Imam Muslim, no.2363)

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memperbaiki kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik, serta istiqamah dalam melakukannya. Aamiin
_____
@Kota Angin, Majalengka-Jawa Barat.
11 Dzulqadah 1439H/24 Juli 2018M

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Melakukan Aktivitas
Artikel sesudahnyaAdab Berpenampilan
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here