Beranda Belajar Islam Adab Adab Ketika Di Dalam Kamar Mandi (WC)

Adab Ketika Di Dalam Kamar Mandi (WC)

1787
0
BERBAGI

Adab Ketika Di Dalam Kamar Mandi (WC)

Kamar mandi merupakan tempat manusia untuk buang hajat (kotoran). Maka sudah seharusnya seorang yang mengaku beragama Islam mengetahui adab-adab masuk kamar mandi dan ketika buang hajat, agar dirinya selamat dari kesalahan.

Di antara adab atau sunnah yang harus diketahui dan diamalkan ketika berada di dalam kamar mandi adalah;

1. Tidak Boleh Membawa Sesuatu Yang Bertuliskan Lafazh Allah Ke Dalam Kamar Mandi.
Seperti memakai cincin atau membawa benda lainnya yang bertuliskan nama-nama Allah dan semisalnya. Hal ini terlarang karena kita diperintahkan untuk mengagungkan nama Allah azza wa jalla.

Allah azza wa jalla berfirman;

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah) dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu nampak dari ketakwaan hati.”
(Surat Al-Hajj: ayat 32)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya.”
(HR. Abu Dawud, no.19. Beliau mengatakan bahwa hadits ini munkar. Syaikh Al-Albani juga mengatakan bahwa hadits ini munkar)

Karena statusnya munkar, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah atau dalil dalam beramal.

Namun, memang benar cincin beliau bertuliskan “Muhammad Rasulullah”.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى رَهْطٍ أَوْ أُنَاسٍ مِنْ الْأَعَاجِمِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لَا يَقْبَلُونَ كِتَابًا إِلَّا عَلَيْهِ خَاتَمٌ فَاتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَكَأَنِّي بِوَبِيصِ أَوْ بِبَصِيصِ الْخَاتَمِ فِي إِصْبَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ فِي كَفِّهِ
“Nabiyullah shallallahu alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada pemuka kaum atau sekelompok orang asing, lantas diberitahukan kepada beliau: Sesungguhnya mereka tidak akan menerima surat anda kecuali jika surat tersebut dibubuhi stempel, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam membuat stempel (cincin) dari perak yang diukir dengan tulisan Muhammad Rasulullah, seolah-olah aku melihat kilauan atau kilatan cincin berada di jari tangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau di telapak tangan beliau.”
(HR. Imam Bukhari, no.5423)

Syaikh Abu Malik hafizhahullah berkata;
“Jika cincin atau semacam itu dalam keadaan tertutup atau dimasukkan ke dalam saku atau tempat semisalnya, maka boleh barang tersebut dimasukkan ke wc. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: Jika dia mau, dia boleh memasukkan barang tersebut dalam genggaman tangannya. Ada pun jika dia takut barang tersebut hilang karena diletakkan di luar, maka boleh dibawa masuk ke dalam kamar mandi (wc) dengan alasan kondisi darurat.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:92)

Para ulama memakruhkan mengucapkan lafazh dzikir kepada Allah di kamar mandi (wc), sebagai bentuk mengagungkan nama Allah, yang tidak sepantasnya disebut di tempat tersebut.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Dimakruhkan berdzikir dan berbicara ketika buang hajat. Baik di dalam ruangan mau pun di luar ruangan, kecuali karena keadaan terpaksa. Sampai sebagian ulama madzhab kami (syafiiyyah) mengatakan: Jika orang yang di dalam wc ini bersin, maka tidak boleh membaca tahmid (alhamdulillah), tidak pula mendoakan orang yang bersin (tasymit), tidak boleh menjawab salam, tidak juga menjawab adzan. Bahkan orang yang memberi salam kepada orang yang berada di wc dianggap bertindak ceroboh, sehingga tidak berhak untuk dijawab. Berbicara apa pun dalam kondisi ini hukumnya makruh, meski pun tidak haram. Dan jika dia bersin, kemudian membaca hamdallah dengan hatinya namun, lisannya diam, maka tidak masalah (boleh). Demikian juga yang dilakukan ketika hubungan badan.”
(Al-Adzkar, hlm.26)

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa membawa sesuatu yang berisikan lafazh Allah, termasuk di dalamnya lafazh ayat Al-Quran ke dalam wc saja tidak boleh, apalagi sampai membacanya atau mengucapkannya. Maka termasuk juga di dalamnya menjawab salam dari orang yang berada di luar wc.

• Bolehkah mengucapkan salam di dalam wc?
Para Ahli fiqih sepakat menyatakan hukum makruh menyampaikan atau menjawab salam bagi orang yang sedang buang hajat atau di dalam wc.

Sahabat Abu Jahm Al-Anshari radhiyallahu anhu berkata;

أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ، فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَرُدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ، فَمَسَحَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ، ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang dari sumur jamal, lalu ada seseorang menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya. Namun, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menjawabnya. Kemudian beliau mendatangi pagar, lalu mengusap muka dan kedua tangannya (tayammum), kemudian beliau menjawab salam.”
(HR. Imam Bukhari, no.337)

Dari Sahabat Muhajirin bin Qunfuz, dia mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang sedang kencing, lalu dia mengucapkan salam dan beliau tidak menjawab salam tersebut. Kemudian beliau berwudhu, lalu beliau meminta maaf kepadanya dengan berkata;

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طَهَارَةٍ
“Aku tidak suka menyebut nama Allah azza wa jalla, kecuali dalam keadaan suci.”
(HR. Abu Dawud, no.17)

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa bercerita;

أَنَّ رَجُلًا مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُولُ، فَسَلَّمَ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ
“Seseorang melewati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang sedang kencing, lalu dia mengucapkan salam namun, beliau tidak menjawab salamnya.”
(HR. Imam Muslim, no.370)

Para ulama dari kalangan madzhab Maliki, Syafii dan Hanbali berpendapat makruh memberi salam kepada orang yang sedang buang hajat. Ulama kalangan madzhab Hanafi juga menyatakan makruh. Ibnu Abidin berkata: Yang dimaksud adalah kencing secara umum, lalu dia berkata: Yang tampak adalah diharamkan.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah, 11:34)

Hukum makruh dan haram mengenai hal tersebut sebagai bukti jelas bagi kita untuk meninggalkannya, bukan malah mengamalkannya.

• Bolehkah wudhu di kamar mandi?
Seseorang yang berwudhu di kamar mandi, akan menjumpai masalah ketika hendak membaca bismillah sebelum berwudhu. Lalu apa yang harus dia lakukan?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini;
a. Membaca bismillah dalam hati, tanpa menggerakkan lisan (mulut).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Apabila seseorang di kamar mandi, Imam Ahmad mengatakan: Jika dia bersin maka bacalah hamdallah dalam hati! Dari keterangan Imam Ahmad ini, disimpulkan bahwa membaca bismillahnya dalam hati.”
(Asy-Syarhu Al-Mumthi, 1:102)

b. Membaca bismillah dengan diucapkan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan;
“Boleh berwudhu di dalam kamar mandi jika butuh melakukan hal tersebut. Tetap membaca bismillah di awal wudhu, dengan ucapkan: Bismillah. Karena membaca bismillah (sebelum berwudhu) hukumnya wajib menurut sebagian ulama dan sunnah muakkad menurut mayoritas ulama. Oleh karena itu, orang ini tetap disyariatkan membaca bismillah dan statusnya tidak makruh. Karena hukum makruh itu hilang, ketika ada kebutuhan untuk membaca bismillah. Sementara kita diperintahkan untuk membaca bismillah ketika mengawali wudhu. Maka dia harus membaca bismillah dan menyempurnakan wudhunya.”
(Majmu Fatawa Ibnu Baz, 10:28)

Catatan;
Untuk memudahkan kita dalam memahami dua fatwa terakhir di atas, kita perlu memahami sebuah kaidah dalam ilmu fikih terkait hukum larangan, baik haram mau pun makruh;
“Sesuatu yang hukumnya haram, bisa menjadi mubah jika dalam kondisi darurat.
Dan sesuatu yang hukumnya makruh bisa menjadi mubah jika ada kebutuhan.”

Berdasarkan keterangan di atas, ulama menegaskan bahwa membaca bismillah di kamar mandi hukumnya makruh. Sementara membaca bismillah ketika wudhu statusnya disyariatkan. Artinya, membaca bismillah ketika wudhu termasuk amal yang dibutuhkan. Karena ini dalam kondisi dibutuhkan, maka kita boleh membaca bismillah ketika berwudhu di kamar mandi.

Kesimpulan;
Pendapat yang dilihat lebih kuat adalah pendapat yang kedua, bahwa boleh membaca bismillah pada saat hendak berwudhu di dalam kamar mandi (wc).

Sebagaimana perincian dari jawaban ini, pernah dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah.

Beliau berkata;
“Mengucapkan bismillah saat wudhu telah disebutkan dalam beberapa hadits, walau pun haditsnya lemah. Akan tetapi, jalur-jalur yang ada saling menguatkan satu dan lainnya. Hadits yang dimaksud adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

لاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ
Tidak ada wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah padanya.
(HR. Abu Dawud, no.93, Ibnu Majah, no.391. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Berdasarkan hadits ini, jika ditinggalkan dengan sengaja, batallah wudhunya. Namun jika ditinggalkan karena lupa atau karena jahil (tidak tahu), maka wudhunya tetap sah. Sedangkan, Mayoritas ulama menyatakan bahwa: Hukum mengucapkan bismillah sebelum wudhu hanyalah sunnah, bukan wajib. Mereka menganggap bahwa makna لاَ وُضُوءَ (tidak ada wudhu) hanya menunjukkan peniadaan kesempurnaan, bukan menyatakan wudhunya tidak sah.

Sedangkan, mengucapkan bismillah di kamar mandi (wc) yang tidak ada lagi tersisa najis, karena tempat tersebut hanyalah tempat menunaikan hajat, kemudian najis yang ada sudah dibersihkan dengan air, sehingga hilang dan tidak tersisa, maka hal ini tidak termasuk ke dalam tempat yang masih terdapat najis.

Ada pun untuk kamar mandi yang ada saat ini, maka itu jelas berbeda. Najis yang ada yaitu kencing dan kotoran manusia pada kamar mandi saat ini langsung bisa hilang setelah disiram dengan air, sehingga tidak tersisa apa pun. Sehingga boleh saja mengucapkan bismillah ketika berwudhu di kamar mandi.”
(http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=178141)

2.Disunnahkan bagi orang yang akan memasuki kamar mandi atau wc membaca doa;

بِسْمِ اللهِ، اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”

Atau boleh juga membaca doa semisalnya;

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan perempuan.”

Doa tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ali radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

سِتْرٌ مَا بَيْنَ أعينِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللّٰهِ
“Penghalang antara pandangan jin dan aurat anak Adam, jika salah seorang dari kalian memasuki Al-Khalaa (wc) adalah dengan mengucapkan bismillah.”
(HR. At-Tirmidzi, no.606 dan Ibnu Majah, no.297)

Syaikh Abu Malik berkata;
“Membaca bismillah dan taawudz (meminta perlindungan kepada Allah) sebelum masuk tempat buang hajat itu berlaku untuk seseorang yang memasuki tempat buang hajat berupa bangunan. Sedangkan ketika berada di tanah lapang atau tempat yang terbuka, maka dia mengucapkannya pada saat melepaskan pakaiannya.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:93)

Hal itu berdasarkan juga hadits dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu;

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hendak masuk ke kamar kecil, beliau mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan syaitan perempuan.”
(HR. Imam Bukhari, no.142)

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ، فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْخَلَاءَ فَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Sesungguhnya tempat buang hajat, didatangi setan. Jika kalian masuk wc, maka ucapkanlah: Audzu billahi minal khubutsi wal khabaits (aku berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan perempuan).”
(HR. Abu Dawud, no.6. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.1070)

• Bagaimana jika kita lupa membaca doa ketika masuk wc, apakah kita membacanya ketika sudah di dalamnya?
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan sebab anjuran membaca doa ketika masuk wc;

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Sesungguhnya tempat buang air ini dikerumuni setan. Karena itu, ketika kalian hendak memasukinya bacalah: Allahumma inni audzu bika minal khubutsi wal khabaaits.”
(HR. Ibnu Majah, no.312)

Seharusnya doa ini dibaca sebelum masuk wc, ketika posisi kita masih di luar. Karena menyebut nama Allah ketika di tempat buang hajat, hukumnya makruh. Meski pun ada sebagian ulama yang membolehkannya.

• Lalu, bagaimana jika lupa membacanya di luar, sementara kita ingin membacanya?
Ibnul Mundzir membawakan riwayat dari Ikrimah (murid Sahabat Ibnu Abbas);
“Tidak boleh menyebut nama Allah dengan lisan ketika di dalam wc namun, disebut namanya dalam hati.”
(Al-Ausath, 1:341)

Al-Hafidz menjelaskan dengan lebih rinci;
“Kapan doa ini dibaca? Bagi ulama yang memakruhkan berdzikir ketika buang hajat, mereka memberikan rincian. Jika dia buang hajat di dalam ruangan maka dia membacanya sesaat sebelum masuk tempat itu. Jika dia buang hajat di luar ruangan (tempat terbuka), maka dia baca ketika hendak mulai buang hajat, seperti ketika mulai membuka pakaian. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Mereka juga mengatakan: Orang yang lupa membaca, maka dia berdoa dalam hati dan bukan dengan lisan.”
(Fathu Al-Baari, 1:244)

Imam Ath-Thahthawi (ulama Hanafi) menjelaskan adab masuk wc;
“Jika dia lupa, maka dia membacanya di batin bukan di lisan.”
(Hasyiyah Ath-Thahthawi, 1:51)

3. Disunnahkan Jika Keluar Dari WC Membaca Doa;

غُفْرَانَكَ
“Ya Allah, aku mengharap ampunanMu.”

Doa tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan istri Rasulullah, Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلاَءِ قَالَ: غُفْرَانَكَ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan: Ghufraanaka.”
(HR. Abu Dawud, no.30 dan At-Tirmidzi, no.7)

4. Disunnahkan Mendahulukan Kaki Kiri Ketika Masuk Dan Kaki Kanan Ketika Keluar.
Hal tersebut berdasarkan sunnah Rasulullah yang memerintahkan agar mendahulukan bagian yang sebelah kanan untuk hal baik dan mendahulukan bagian yang kiri untuk hal yang tidak baik. Hal tersebut dijelaskan dalam banyak riwayat secara umum.
(As-Sailu Al-Jarraar, 1:64)

5. Jika Di Tempat Terbuka, Maka Disunnahkan Menjauh Dari Manusia Hingga Tidak Terlihat.
Sahabat Jabir radhiyallahu anhu berkata;

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَأْتِي الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يَرَى
“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak buang hajat di lapangan terbuka melainkan bersembunyi hingga tidak terlihat.”
(HR. Abu Dawud, no.2 dan Ibnu Majah, no.268)

6. Tidak Mengangkat Pakaian Kecuali Setelah Dekat Dengan Tanah (Tempat Buang Hajat).
Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ لاَ يَرْفَعُ ثَوْبَهُ حَتَّى يَدْنُوَ مِنَ اْلأَرْضِ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya kecuali setelah dekat dengan tanah.”
(HR. Abu Dawud, no.14 dan At-Tirmidzi, no.14)

7. Apakah Benar Tidak Boleh Menghadap Dan Membelakangi Kiblat?
Ada beberapa hadits yang bisa menjadi pertimbangan dalam membahas masalah tersebut. Di antaranya;
Dari Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا. قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ تَعَالَى
“Jika kalian mendatangi jamban (wc), maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya! Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat! Abu Ayyub mengatakan: Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun kepada Allah taala.”
(HR. Imam Bukhari no.394)

Yang dimaksud “hadaplah arah barat dan timur” adalah ketika kondisinya di Madinah. Karena arah kiblat di Madinah adalah menghadap ke selatan. Kalau dikatakan tidak boleh menghadap kiblat atau membelakanginya, berarti yang dimaksud adalah larangan menghadap selatan dan utara. Jadi, yang dibolehkan adalah menghadap barat atau timur. Ini bagi kota Madinah, sedangkan untuk daerah lainnya tentu berbeda. Sehingga tinggal menyesuaikan saja dengan maksud teks hadits tersebut.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;

نَهَى نَبِىُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ فَرَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَسْتَقْبِلُهَ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang menghadap kiblat ketika kencing. Namun, aku melihat setahun sebelum beliau wafat, beliau menghadapnya.”
(HR. Abu Dawud, no.13 dan At-Tirmidzi, no.9. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa berkata;

ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِى، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى اللّه عليه وسلّم يَقْضِى حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ
“Aku pernah menaiki rumah Hafshah karena ada sebagian keperluanku. Lantas aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam buang hajat dengan membelakangi kiblat dan menghadap Syam.”
(HR. Imam Bukhari, no.148)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam membelakangi kiblat ketika buang hajat dan ketika itu berada di dalam bangunan, artinya terhalangi oleh dinding bangunan. Membelakangi kiblat berarti menghadap ke arah utara, karena Syam berada di utara Madinah.

• Kesimpulan;
Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat yang cukup panjang di kalangan para ulama. Namun, pendapat yang dianggap lebih tepat dan kuat sesuai pengetahuan Penulis adalah;
“Sebagaimana yang diyakini oleh madzhab Syafii, yaitu tidak boleh menghadap atau membelakangi kiblat ketika berada di luar bangunan namun, boleh jika di dalam bangunan yang ada penghalang (pembatas/tembok). Dan yang menguatkan hal ini adalah dalil-dalil yang sudah dijelaskan di atas dan pendapat tersebut hasil dari kompromi (menyatukan semua hadits).”

• Kenapa pendapat ini yang dikuatkan?
Syaikh Dr. Saad bin Nashir Asy-Syatsri menjelaskan;
“Bahwa tidak tepat jika mendahulukan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan larangan, dengan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya atau keringanan. Dan tidak perlu sampai menguatkan perkataan dari perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena selama bisa dikompromikan antara perkataan dan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam itulah yang didahulukan, tanpa menempuh jalan tarjih (penguatan pendapat). Sehingga yang dipilih adalah dengan mengkompromikan semua dalil. Maka kita katakan bahwa hadits larangan itu berlaku untuk di luar bangunan, sedangkan hadits rukhsah (keringanan) atau pembolehan dimaksudkan untuk di dalam bangunan.”
(Syarh Umdah Al-Ahkam, 1:46-47)

Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al-Bugha berkata;
“Larangan menghadap atau membelakangi kiblat dibawa pada makna larangan ketika berada di luar bangunan yang tidak tertutup. Sedangkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan pembolehan dipahami bolehnya jika di dalam bangunan.”
(At-Tadzhib, hlm.20)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Bahwa jika di hadapan orang yang buang hajat terdapat penutup atau penghalang yang tingginya 2/3 hasta sampai 3 hasta, maka boleh saja menghadap kiblat baik ketika berada di dalam bangunan atau di luar bangunan. Artinya, patokannya adalah adanya penghalang ataukah tidak di arah kiblat tersebut. Kalau ada penghalang berarti tidak menghadap langsung ke arah kiblat, sehingga tidak masalah (boleh).”
(Kifayatu Al-Akhyar, hlm. 73)

Kata “Hasta” dipakai oleh penterjemah Alkitab bahasa Indonesia (LAI) untuk menerjemahkan kata bahasa Ibrani אמה ‘ammah (bahasa Inggris: cubit) karena keduanya sama-sama menggunakan panjang lengan dari siku sampai jari tangan sebagai ukuran standar panjang tradisional. Hasta pada umumnya sebesar 45 cm. Sedangkan אמה ‘ammah sekitar 44.5 sampai 52.9 cm.
(Wikipedia)

Perlu diketahui, bahwa mengenai hukum pelarangan tersebut adalah haram bukanlah makruh.

Abu Bakr Al-Hishni Al-Husaini berkata;
“Secara tekstual, maka yang dimaksud dengan larangan di sini adalah larangan haram.”
(Kifayatu Al-Akhyar, hlm.73)

8. Dilarang Buang Hajat Di Jalan Yang Dilalui Manusia Dan Tempat Berteduh.
Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ! قَالُوْا: وَمَا اللاَّعِنَانِ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ
“Jauhilah dua perkara yang mengundang laknat! Mereka bertanya: Apakah dua perkara yang mengundang laknat itu, ya Rasulullah? Beliau bersabda: Orang yang buang hajat di jalan (akses) manusia atau di tempat berteduh mereka.”
(HR. Abu Dawud, no.25)

9. Dimakruhkan Kencing Di Tempat Yang Digunakan Mandi.
Dari Sahabat Humaid Al-Himyari, dia berkata, aku menjumpai seseorang yang telah menyertai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana Abu Hurairah radhiyallahu anhu menyertai beliau. Lalu dia berkata;

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ أَوْ يَبُوْلَ فِيْ مُغْتَسَلِهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang salah seorang dari kami bersisir setiap hari dan kencing di tempat mandinya.”
(HR. Abu Dawud, no.28 dan An-Nasai, no.232)

10. Tidak Boleh Kencing Di Air Yang tidak Mengalir (Menggenang).
Dari Sahabat Jabir radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ
“Beliau melarang kencing di air yang menggenang.”
(HR. Imam Muslim, no.281)

11. Diperbolehkan Kencing Sambil Berdiri, Tapi Duduk (Jongkok) Itu Lebih Utama.
Sahabat Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ: ادْنُهُ، فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam tiba di tempat pembuangan sampah sebuah kaum, lalu kencing sambil berdiri dan aku pun menjauh. Beliau lalu berkata: Mendekatlah! Lalu aku mendekat hingga aku berdiri dekat kaki beliau. Beliau kemudian berwudhu dan membasuh bagian atas kedua khuf (sepatu panjang) beliau.”
(HR. Imam Muslim, no.273)

Dikatakan bahwa duduk lebih utama karena begitulah kebanyakan perbuatan beliau shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga istri beliau, Aisyah radhiyallahu anha berkata;

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ، مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ جَالِسًا
“Barangsiapa mengatakan kepada kalian bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian mempercayainya! Beliau tidak pernah kencing melainkan dengan duduk.”
(HR. An-Nasai, no.29 dan At-Tirmidzi, no.12. Dengan lafazh sedikit berbeda: قَاعِدًا)

Perkataan Aisyah tidak menafikan apa yang dibawakan oleh Sahabat Hudzaifah. Karena Aisyah hanya mengabarkan sesuai apa yang dia lihat. Dan Sahabat Hudzaifah juga mengabarkan apa yang dia lihat. Sebagaimana diketahui (dalam kaidah);
“Bahwa yang menetapkan itu lebih diutamakan dari pada yang menafikan. Karena pada yang menetapkan itu terdapat ilmu yang lebih.”

12. Diwajibkan Bersuci Setelah Kencing Atau Buang Hajat Dengan Tuntas.
Dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melalui dua kuburan, lalu bersabda;

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بَيْنَ النَّاسِ بِالنَّمِيْمَةِ
“Sesungguhnya mereka berdua diadzab. Mereka tidak diadzab karena dosa besar. Salah seorang di antara mereka diadzab karena tidak bersuci dari kencingnya. Sedangkan yang lainnya karena suka menggunjing (adu domba) di antara manusia.”
(HR. Imam Bukhari, no.216)

13. Tidak Boleh Menyentuh Kemaluan Dengan Tangan Kanan Ketika Kencing Dan Tidak Menggunakannya Saat Bercebok Dengan Air.
Dari Sahabat Abu Qatadah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمُسُّ ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ وَلاَ يَسْتَنْجِ بِيَمِيْنِهِ
“Jika salah seorang di antara kalian kencing, janganlah dia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya dan jangan juga dia cebok dengan tangan kanannya!”
(HR. lmam Bukhari, no.154)

14. Boleh Bersuci Dengan Air Dan Batu, Atau Yang Serupa Dengannya.
Sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً، فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memasuki wc. Lalu aku dan anak lain yang seusia denganku membawakan beliau setimba air dan sebuah tombak kecil. Beliau lalu bersuci dengan air.”
(HR. Imam Bukhari, no.152)

Dari Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ فَلْيَسْتَطِبْ بِهَا فَإِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ
“Jika salah seorang diantara kalian hendak buang hajat, maka hendaklah membawa tiga buah batu. Dan hendaklah dia bersuci dengannya, karena itu mencukupinya.”
(HR. Abu Dawud, no.40 dan An-Nasai, no.43)

15. Tidak Boleh Menggunakan Batu Kurang Dari Tiga Buah.
Ada yang bertanya kepada Sahabat Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu: Nabi kalian telah mengajari kalian segala hal, apakah sampai masalah buang air besar? Lalu dia menjawab;

أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِالْيَمِيْنِ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِرَجِيْعٍ، أَوْ بِعِظَمٍ
“Betul. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika kencing atau buang hajat, bersuci dengan tangan kanan, bersuci dengan kurang dari tiga buah batu dan bersuci dengan kotoran atau tulang.”
(HR. Imam Muslim, no.262)

16. Tidak Boleh Bersuci Dengan Tulang Atau Kotoran.
Sahabat Jabir radhiyallahu anhu berkata;

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَمَسَّحَ بِعِظَمٍ أَوْ بِبَعْرٍ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang bersuci dengan tulang atau kotoran.”
(HR. Imam Muslim, no.263)

17. Tidak Boleh Berlama-Lama Di Dalam WC.
Duduk berlama-lama di wc terdapat banyak keburukan di dalamnya. Di antaranya;

a. Umumnya wc tidak bersih dari najis dan kotoran.
Duduk di sana bisa terkena dengannya, sedangkan seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi najis dan membersihkannya.

b. Tempat buang hajat didatangi setan.
Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ، فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْخَلَاءَ فَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Sesungguhnya tempat buang hajat, didatangi setan. Jika kalian masuk wc, maka ucapkanlah: Auudzu billahi minal khubutsi wal khabaits (aku berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan perempuan).”
(HR. Abu Dawud, no.6. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.1070)

Tempat buang hajat adalah tempat tinggal setan, karenanya kita diperintahkan untuk berlindung darinya ketika memasukinya.

Syaikh Ibnu Jibrin berkata;
“Sudah diketahui bahwa setan menyukai tempat yang kotor dan najis. Jika manusia tidak berlindung dari setan, maka dia akan mengganggunya, maka mereka mengenainya dengan najis, atau keburukan, yang tampak atau maknawi. Yang tampak terwujud dengan dia terkena najis namun, dia tidak memperdulikanya. Adapun maknawi dengan cara menimbulkan keragu-raguan sehingga dia terpenjara oleh bisikan setan yang selalu ada padanya. Karena itu, diperintahkan untuk berlindung dari setan dengan berdzikir kepada Allah.”
(Syarh Ahadits Umdah Al-Ahkam)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata;
“Manfaat istiadzah (doa mohon perlindungan) ini adalah berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan perempuan, karena tempat itu adalah tempat yang kotor, sedangkan tempat yang kotor adalah kediaman makhluk yang kotor, maka dia adalah tempatnya setan. Maka cocok, jika seseorang hendak masuk wc dia membaca Auudzu billahi minal khubutsi wal khabaitsi, agar dirinya tidak terkena keburukan dan makhluk yang buruk.”
(Syarh Al-Mumthi, 1:83)

c. Berdiam di dalam wc dalam waktu yang lama tanpa keperluan berarti membuka aurat tanpa alasan.
Tidak dibolehkan bagi seseorang membuka auratnya tanpa alasan walaupun dia seorang diri, kecuali jika ada keperluan.

Sahabat Muawiyyah bin Haidah radhiyallahu anhu berkata;

عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِي مِنْهَا وَمَا نَذَرُ قَالَ احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ الْقَوْمُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ قَالَ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَرَيَنَّهَا أَحَدٌ فَلَا يَرَيَنَّهَا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ أَحَدُنَا خَالِيًا قَالَ اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنْ النَّاسِ
“Wahai Rasulullah, tentang aurat kami, siapakah yang boleh kami perlihatkan dan siapa yang tidak boleh? Beliau menjawab: Jagalah auratmu kecuali kepada istri atau budak yang kamu miliki! Dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan suatu kaum saling bercampur dalam satu tempat (yang mereka saling melihat aurat antara satu dengan yang lain)? Beliau menjawab: Jika kamu mampu, maka jangan sampai ada seorang pun yang melihatnya. Dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika salah seorang dari kami sedang sendiri? Beliau menjawab: Allah lebih berhak untuk kamu malu dariNya dari pada manusia.”
(HR. Abu Dawud, no.3501, At-Tirmidzi, no.2693. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

d. Para ulama berpandangan makruh duduk berlama-lama di wc jika tanpa keperluan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Jangan berlama-lama di tempat itu tanpa keperluan! Karena berdiam lama di tempat itu adalah makruh. Karena itu adalah tempat keberadaan setan dan tempat disingkapnya aurat.”
(Syarh Al-Umdah, 1:60)

Ibnu Hajar Al-Haitsami rahimahullah berkata;
“Dimakruhkan berdiam lama di tempat buang hajat.”
(Tuhfatu Al-Muhtaj, 2:241)

Semoga penjelasan tersebut mudah dipahami dan diamalkan. Dan semoga penjelasan ini menjadi sebab Allah memberikan taufiq kepada kita untuk memperbaiki amalan ibadah kita yang belum benar. Sehingga diri kita menjadi umatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang berpegang teguh dengan sunnah-sunnahnya. Aamiin

Hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk.
_____
@Kota Angin, Majalengka.
07 Dzulqadah 1439H/20 Juli 2018M

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Ketika Mimpi Buruk
Artikel sesudahnyaAdab Melakukan Aktivitas
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here