Beranda Belajar Islam Adab Adab Ketika Di Dalam Toilet

Adab Ketika Di Dalam Toilet

4420
0
BERBAGI

Adab Ketika Di Dalam Toilet

A. TIDAK MEMBAWA SESUATU YANG TERDAPAT LAFAZH ALLAH

Seperti memakai cincin atau membawa benda lainnya yang bertuliskan nama-nama Allah dan semisalnya. Hal tersebut terlarang karena kita diperintahkan untuk mengagungkan Allah azza wa jalla.

Sebagaimana Allah berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah) dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu nampak dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-hajj, Ayat 32)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya.”
(HR. Abu Daud, no.18. Syaikh Al-albani juga menyatakan bahwa hadits ini mungkar)

Karena statusnya mungkar, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah atau dalil untuk beribadah.

Namun, dalam riwayat lain Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita:

فَاتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam membuat stempel (cincin) dari perak yang diukir dengan tulisan Muhammad Rasulullah.”
(HR. Bukhari, No.5423)

Syaikh Abu Malik hafizhahullah menjelaskan:
“Jika cincin atau semacam itu dalam keadaan tertutup atau dimasukkan ke dalam saku atau tempat semisalnya, maka boleh barang tersebut dibawa ke dalam ke toilet. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: Jika dia mau, dia boleh memasukkan barang tersebut dalam genggaman tangannya. Adapun jika dia takut barang tersebut hilang karena diletakkan di luar, maka boleh dibawa masuk ke dalam kamar mandi (toilet) dengan alasan kondisi darurat.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1;92)

Imam An-nawawi rahimahullah berkata:
“Dimakruhkan berdzikir dan berbicara ketika buang hajat. Baik di dalam ruangan ataupun di luar ruangan, kecuali karena keadaan terpaksa. Sampai sebagian ulama madzhab kami (Syafiiyah) mengatakan; Jika orang yang di dalam toilet ini bersin, maka tidak boleh membaca tahmid (alhamdulillah), tidak boleh juga mendoakan orang yang bersin (tasymit), tidak boleh menjawab salam, tidak juga menjawab adzan. Bahkan orang yang memberi salam kepada orang yang berada di toilet dianggap bertindak ceroboh, sehingga tidak berhak untuk dijawab. Berbicara apapun dalam kondisi ini hukumnya makruh, meskipun tidak haram. Dan jika dia bersin, kemudian membaca tahmid dengan hatinya namun, lisannya diam, maka tidak masalah (boleh). Demikian juga yang dilakukan ketika berhubungan badan di dalamnya.”
(Al-adzkar, Hlm.26)

Dari penjelasan di atas dapat dipahami, bahwa membawa sesuatu yang berisikan lafazh Allah atau lafazh ayat Al-quran ke dalam toilet itu tidak boleh, apalagi sampai membacanya atau mengucapkannya. Maka termasuk juga di dalamnya menjawab salam dari orang yang berada di luar toilet.

1. Bolehkah Mengucapkan Salam Di Dalam Toilet?
Para Ahli Fiqih sepakat menyatakan hukumnya makruh menyampaikan atau menjawab salam bagi orang yang sedang buang hajat atau berada di dalam toilet.

Sahabat Abu Juhaim Al-anshari radhiyallahu anhu berkata:

أَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ فَمَسَحَ بِوَجْهِهِ وَيَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam kembali dari sumur Jamal, lalu ada seorang laki-laki menemui beliau sambil memberi salam namun, beliau tidak membalasnya. Kemudian beliau menghadap ke arah dinding, lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya. Setelah itu, beliau membalas salam kepada orang tersebut.”
(HR. Bukhari, No.325)

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

أَنَّ رَجُلًا مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ
“Bahwa seorang laki-laki pernah melewati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau sedang buang air kecil, laki-laki tersebut lalu mengucapkan salam namun, beliau tidak menjawabnya.”
(HR. Muslim, No.555)

Sahabat Al-muhajir bin Qunfudz radhiyallahu anhu bercerita:
أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ عَلَى طَهَارَةٍ
“Bahwasanya dia pernah menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau sedang buang air kecil, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi namun, beliau tidak menjawab salamnya hingga berwudhu, kemudian beliau meminta maaf dan bersabda; Sesungguhnya aku tidak suka menyebut Nama Allah taala, kecuali dalam keadaan suci.”
(HR. Abu Daud, No.16)

“Para ulama dari kalangan madzhab Maliki, Syafii, dan Hanbali berpendapat makruh memberi salam kepada orang yang sedang buang hajat. Ulama kalangan madzhab Hanafi juga menyatakan makruh. Ibnu Abidin berkata; Yang dimaksud adalah kencing secara umum, dia berkata; Yang tampak adalah diharamkan.”
(Al-mausuah Al-fiqhiyah, 11;34)

2. Bolehkah Wudhu Di Dalam Toilet?
Seseorang yang ingin berwudhu di toilet, akan menjumpai masalah ketika hendak membaca bismillah sebelum berwudhu. Lalu apa yang harus dilakukan?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

a. Membaca bismillah dalam hati, tanpa menggerakkan lisan (mulut).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Apabila seseorang di kamar mandi, Imam Ahmad mengatakan; Jika dia bersin maka bacalah tahmid dalam hati! Dari keterangan Imam Ahmad ini, disimpulkan bahwa membaca bismillahnya cukup dalam hati.”
(Asy-syarh Al-mumti, 1;102)

b. Membaca bismillah dengan diucapkan atau dilafazhkan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan:
“Boleh berwudhu di dalam kamar mandi jika butuh melakukan hal tersebut. Tetap membaca bismillah di awal wudhu, dengan ucapkan bismillah. Karena membaca bismillah hukumnya wajib menurut sebagian ulama dan sunnah muakkad menurut mayoritas ulama. Oleh sebab itu, orang tersebut tetap disyariatkan membaca bismillah dan statusnya tidak makruh. Karena hukum makruh itu hilang, ketika ada kebutuhan untuk membaca bismillah. Sementara kita diperintahkan untuk membaca bismillah ketika mengawali wudhu. Maka dia harus membaca bismillah dan menyempurnakan wudhunya.”
(Majmu Fatawa Ibnu Baz, 10;28)

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menegaskan bahwa membaca bismillah di kamar mandi hukumnya makruh. Sementara membaca bismillah ketika wudhu statusnya disyariatkan. Maksudnya, membaca bismillah ketika hendak wudhu termasuk perbuatan yang dibutuhkan. Karena ini dalam kondisi dibutuhkan, maka kita boleh membaca bismillah ketika berwudhu di kamar mandi.

B. MEMBACA DOA SEBELUM MASUK TOILET

Bagi siapapun yang hendak memasuki kamar mandi atau toilet, hendaknya membaca doa:

بِسْمِ اللّٰهِ اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”

Atau boleh juga membaca doa semisalnya:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan perempuan.”

Doa-doa tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ali radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمْ الْخَلَاءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ
“Penghalang antara pandangan mata jin dan aurat bani Adam (manusia) ketika salah seorang dari kalian masuk ke toilet adalah dia membaca bismillah.”
(HR. Tirmidzi, No.551)

Syaikh Abu Malik hafizhahullah berkata:
“Membaca bismillah dan istiadzah (meminta perlindungan kepada Allah) sebelum masuk ke tempat buang hajat itu berlaku untuk seseorang yang memasuki tempat buang hajat berupa bangunan. Sedangkan ketika berada di tanah lapang atau tempat yang terbuka, maka dia mengucapkannya pada saat melepaskan pakaiannya.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1;93)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam masuk ke dalam toilet, maka beliau berdoa; Allahumma inni audzu bika minal khubutsi wal khabaits (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan setan perempuan).”
(HR. Bukhari, No.139)

Dalam riwayat yang lain, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْخَلَاءَ فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Sesungguhnya tempat buang hajat itu dihadiri oleh setan-setan, maka apabila salah seorang dari kalian mendatangi toilet, hendaklah dia mengucapkan; Audzu billahi minal khubutsi wal khabaits (Aku berlindung kepada Allah dari setan jantan dan setan betina).”
(HR. Abu Daud, No.5)

• Ketika Lupa Membaca Doa Sebelum Masuk Toilet.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan sebab adanya anjuran membaca doa ketika masuk toilet:

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْخَلَاءَ فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Sesungguhnya tempat buang hajat itu dihadiri oleh setan-setan, maka apabila salah seorang dari kalian mendatangi toilet, hendaklah dia mengucapkan; Audzu billahi minal khubutsi wal khabaits (Aku berlindung kepada Allah dari setan jantan dan setan betina).”
(HR. Abu Daud, No.5)

Ibnul Mundzir rahimahullah menjelaskan:
“Tidak boleh menyebut nama Allah dengan lisan ketika di dalam toilet namun, disebut namanya dalam hati.”
(Al-ausath, 1;341)

Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan:
“Kapan doa ini dibaca? Bagi ulama yang memakruhkan berdzikir ketika buang hajat, mereka memberikan rincian. Jika dia buang hajat di dalam ruangan, maka dia membacanya sesaat sebelum masuk tempat itu. Jika dia buang hajat di luar ruangan (tempat terbuka), maka dia baca ketika hendak mulai buang hajat, seperti ketika mulai membuka pakaian. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Mereka juga mengatakan; Oang yang lupa membaca, maka dia berdoa dalam hati dan bukan dengan lisan.”
(Fathu Al-bari, 1;244)

Imam Ath-thahthawi rahimahullah berkata:
“Jika dia lupa, maka dia membacanya di dalam hati bukan di lisan.”
(Hasyiyah Ath-thahthawi, 1;51)

C. MEMBACA DOA SETELAH KELUAR TOILET

Setelah selesai dari toilet, maka ketika keluar darinya disunnahkan juga untuk membaca doa:

غُفْرَانَكَ
“Ya Allah, aku mengharap ampunanMu.”

Ummul Mukminin; Aisyah radhiyallahu anha berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْغَائِطِ قَالَ غُفْرَانَكَ
“Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika keluar dari toilet, maka beliau mengucapkan; Ghufranaka (Ya Allah, aku mohon ampunanMu).”
(HR. Abu Daud, No.28)

D. MENDAHULUKAN KAKI KIRI KETIKA MASUK TOILET DAN MENDAHULUKAN KAKI KANAN KETIKA KELUAR TOILET

Imam Asy-syaukani rahimahullah berkata:
“Hal tersebut berdasarkan sunnah Rasulullah yang memerintahkan agar mendahulukan bagian yang sebelah kanan untuk hal baik, dan mendahulukan bagian yang sebelah kiri untuk hal yang tidak baik.”
(As-sail Al-jarrar, 1;64)

E. MENJAUH DARI MANUSIA KETIKA BUANG HAJAT DI TEMPAT YANG TERBUKA

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ الْبَرَازَ انْطَلَقَ حَتَّى لَا يَرَاهُ أَحَدٌ
“Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika hendak buang hajat, maka beliau pergi hingga tidak ada seorang pun yang melihatnya.”
(HR. Abu Daud, No.2)

F. MENGANGKAT PAKAIAN SETELAH DEKAT DENGAN TANAH YANG MENJADI TEMPAT BUANG HAJAT

Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ حَاجَةً لَا يَرْفَعُ ثَوْبَهُ حَتَّى يَدْنُوَ مِنْ الْأَرْضِ
“Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya hingga telah dekat dari tanah.”
(HR. Abu Daud, No.13)

G. TIDAK BOLEH MENGHADAP DAN MEMBELAKANGI KIBLAT KETIKA BUANG HAJAT

Ada beberapa hadits yang bisa menjadi pertimbangan dalam membahas masalah ini.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى
“Jika kalian mendatangi tempat buang hajat (toilet), maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan juga membelakanginya, tetapi menghadaplah ke arah timurnya atau ke arah baratnya! Abu Ayyub berkata; Ketika kami datang ke Syam, kami dapati toilet rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami alihkan, dan kami memohon ampun kepada Allah taala.”
(HR. Bukhari No.380)

Yang dimaksud; ‘Menghadaplah ke arah barat dan ke arah timur’ adalah ketika kondisinya di Madinah. Karena arah kiblat di Madinah adalah menghadap ke selatan. Jika dikatakan tidak boleh menghadap kiblat atau membelakanginya, berarti yang dimaksud adalah larangan menghadap selatan dan utara. Jadi, yang dibolehkan adalah menghadap barat atau timur. Ini berlaku bagi kota Madinah, sedangkan untuk daerah lainnya tentu berbeda. Sehingga tinggal menyesuaikan saja dengan maksud redaksi hadits tersebut.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِي فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ
“Aku pernah naik di rumah Hafshah karena adanya suatu urusanku. Maka aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam buang hajat membelakangi kiblat, menghadap Syam.”
(HR. Bukhari, No.144)

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata:

نَهَى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ فَرَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَسْتَقْبِلُهَا
“Nabiyullah shallallahu alaihi wa sallam telah melarang kita menghadap kiblat ketika buang hajat, kemudian aku melihat beliau setahun sebelum wafat, buang hajat menghadap kiblat.”
(HR. Abu Daud, No.12. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Hadits tersebut menjelaskan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam membelakangi kiblat ketika buang hajat, dan pada saat itu sedang berada di dalam bangunan (ruangan), artinya terhalangi oleh dinding bangunan. Membelakangi kiblat berarti menghadap ke arah utara, karena Syam berada di utara Madinah.

• Kesimpulan:
Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat yang cukup panjang di kalangan para ulama. Namun, pendapat yang dianggap lebih tepat dan kuat, yaitu:

Sebagaimana yang diyakini oleh madzhab Syafii, yaitu tidak boleh menghadap atau membelakangi kiblat ketika berada di luar bangunan namun, boleh jika di dalam bangunan yang ada penghalang (tembok). Dan yang menguatkan pendapat ini adalah dalil-dalil yang sudah dijelaskan di atas dan pendapat tersebut hasil dari kompromi (menyatukan semua riwayat hadits).

• Kenapa pendapat tersebut yang dikuatkan?
Syaikh Dr. Saad bin Nashir Asy-syatsri menjelaskan:
“Bahwa tidak tepat jika mendahulukan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan larangan, dengan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya atau keringanan. Dan tidak perlu sampai menguatkan perkataan dari perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena selama bisa dikompromikan antara perkataan dan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, itulah yang didahulukan, tanpa menempuh jalan tarjih (penguatan pendapat). Sehingga yang dipilih adalah dengan mengompromikan semua dalil, maka kita katakan bahwa hadits larangan itu berlaku untuk di luar bangunan, sedangkan hadits rukhsah (keringanan) atau pembolehan dimaksudkan untuk di dalam bangunan.”
(Syarh Umdah Al-ahkam, 1;47)

Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al-bugha berkata:
“Larangan menghadap atau membelakangi kiblat dibawa pada makna larangan ketika berada di luar bangunan yang tidak tertutup. Sedangkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan pembolehan dipahami bolehnya jika di dalam bangunan.”
(At-tadzhib, Hlm.20)

Imam An-nawawi rahimahullah berkata:
“Bahwa jika dihadapan orang yang buang hajat terdapat penutup atau penghalang yang tingginya 2/3 hasta sampai 3 hasta, maka boleh saja menghadap kiblat baik ketika berada di dalam bangunan atau di luar bangunan. Artinya, patokannya adalah adanya penghalang ataukah tidak di arah kiblat tersebut. Kalau ada penghalang berarti tidak menghadap langsung ke arah kiblat, sehingga tidak masalah (boleh).”
(Kifayah Al-akhyar, Hlm.73)

Perlu diketahui, bahwa mengenai hukum pelarangan tersebut adalah haram, bukan makruh.

Abu Bakr Al-hishni Al-husaini berkata:
“Secara tekstual, maka yang dimaksud dengan larangan di sini adalah larangan haram.”
(Kifayah Al-akhyar, Hlm.73)

H. TIDAK BOLEH BUANG HAJAT DI JALAN YANG BIASA DILALUI MANUSIA

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقُوا اللَّاعِنَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّاعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ
“Takutlah kalian terhadap perihal dua orang yang terlaknat! Mereka (para Sahabat) bertanya; Siapakah dua orang yang terlaknat itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab; Yaitu orang yang buang hajat di jalanan manusia atau tempat berteduhnya mereka.”
(HR. Abu Daud, No.23)

I. TIDAK BOLEH KENCING DI TEMPAT MANDI

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ أَوْ يَبُولَ فِي مُغْتَسَلِهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang salah seorang dari kami menyisir rambut setiap hari atau kencing di tempat mandinya.”
(HR. Abu Daud, No.26)

J. TIDAK BOLEH KENCING DI TEMPAT AIR MENGGENANG

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ
“Beliau melarang kencing di air yang menggenang (tidak mengalir).”
(HR. Muslim, No.423)

K. BOLEH KENCING KEADAAN BERDIRI DAN LEBIH UTAMA KENCING KEADAAN DUDUK

Sahabat Hudzaifah radhiyallahu anhu bercerita:

كَانَ أَبُو مُوسَى يُشَدِّدُ فِي الْبَوْلِ وَيَبُولُ فِي قَارُورَةٍ وَيَقُولُ إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَ إِذَا أَصَابَ جِلْدَ أَحَدِهِمْ بَوْلٌ قَرَضَهُ بِالْمَقَارِيضِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ لَوَدِدْتُ أَنَّ صَاحِبَكُمْ لَا يُشَدِّدُ هَذَا التَّشْدِيدَ فَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى فَأَتَى سُبَاطَةً خَلْفَ حَائِطٍ فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ فَبَالَ فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ
“Dahulu, Abu Musa sangat keras dalam masalah kencing dan dia kencing di botol, lalu berkata; Sesungguhnya bani Israil ketika air kencing mengenai kulit mereka, niscaya mereka memotongnya dengan gunting. Lalu Hudzaifah berkata; Sungguh aku ingin agar Sahabat kalian tidak terlalu keras dalam masalah ini. Aku pernah bersama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau mendatangi tempat pembuangan sampah di belakang suatu kebun, beliau berdiri sebagaimana salah seorang dari kalian berdiri dan kencing. Pada saat aku menjauh, beliau memberikan isyarat kepadaku untuk mendekat, maka aku mendekat dan berdiri di samping tumit beliau hingga beliau selesai.”
(HR. Muslim, No.403)

Dikatakan, bahwa kencing dengan duduk itu lebih utama, karena begitulah seringnya perbuatan Rasulullah ketika kencing.

Aisyah radhiyallahu anha berkata:

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا جَالِسًا
“Barang siapa mengabarkan kepada kalian bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, jangan kalian mempercayainya! Karena Rasulullah tidak kencing, kecuali sambil duduk.”
(HR. Nasai, No.29)

Perkataan Aisyah tersebut tidak menafikan pernyataan Hudzaifah, karena Aisyah hanya mengabarkan sesuai yang dia lihat. Sebagaimana Sahabat Hudzaifah juga mengabarkan sesuatu yang dia lihat.

L. WAJIB BERSUCI SETELAH KENCING

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bercerita:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewati perkebunan penduduk Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa dalam kubur mereka. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berkata; Keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan sesuatu yang besar (menurut anggapan mereka), kemudian beliau bersabda; Padahal itu adalah dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya lagi disiksa karena suka mengadu domba. Beliau kemudian minta diambilkan sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelah menjadi dua bagian, kemudian beliau menancapkan setiap bagian pada dua kuburan tersebut. Maka beliau pun ditanya; Kenapa engkau melakukan ini? Beliau menjawab; Mudah-mudahan, siksanya diringankan selama dahan tersebut masih basah.”
(HR. Bukhari, No.209)

M. TIDAK BOLEH MENYENTUH KEMALUAN KETIKA CEBOK DENGAN TANGAN KANAN

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَأْخُذَنَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَلَا يَسْتَنْجِي بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ
“Jika salah seorang dari kalian kencing, maka janganlah dia memegang kemaluannya dengan tangan kanan, dan jangan beristinja (cebok) dengan tangan kanan, dan jangan bernafas dalam gelas saat minum!”
(HR. Bukhari, No.150)

N. BOLEH BERSUCI DENGAN AIR ATAU BATU

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً يَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masuk ke dalam toilet untuk buang hajat, lalu aku dan seorang temanku membawa bejana berisi air dan sebatang kayu (tongkat) untuk beliau gunakan cebok.”
(HR. Bukhari, No.148)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ يَسْتَطِيبُ بِهِنَّ فَإِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian pergi untuk buang hajat, maka hendaklah dia membawa tiga buah batu untuk cebok, sungguh itu mencukupinya.”
(HR. Abu Daud, No.36. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Sahabat Salman Al-farisi radhiyallahu anhu bercerita:

قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُونَ إِنِّي أَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى يُعَلِّمَكُمْ الْخِرَاءَةَ فَقَالَ أَجَلْ إِنَّهُ نَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِيَمِينِهِ أَوْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالْعِظَامِ وَقَالَ لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ
“Kaum musyrikin berkata kepada kami; Sungguh, aku melihat sahabat kalian (Rasulullah) mengajarkan kalian hingga masalah bersuci. Maka Salman berkata; Ya. Beliau melarang kami bersuci dengan tangan kanan atau menghadap kiblat, dan beliau juga melarang kamu bersuci dengan kotoran hewan atau tulang. Beliau bersabda; Janganlah salah seorang dari kalian bersuci kurang dari tiga batu!”
(HR. Muslim, No.386)

M. TIDAK BOLEH BERLAMA-LAMA DI DALAM TOILET

Terdapat banyak keburukan ketika berlama-lama di dalam toilet, di antaranya:

1. Toilet Adalah Tempat Najis Dan Kotoran.
Duduk di dalamnya bisa terkena najis dan kotoran, sedangkan seorang muslim diperintahkan untuk selalu membersihkannya.

Para ulama rahimahumullah menjelaskan:
“Najasah adalah setiap hal yang dianggap kotor yang diperintahkan oleh syariat untuk menjauhinya.”
(Al-fiqh Al-muyassar Fi Dhaui Al-kitab Wa As-sunnah, 1;35)

Imam Ibnu Al-jazari rahimahullah berkata:
“Najasat adalah bentuk jamak dari najasah (najis), ia adalah segala sesuatu yang dianggap kotor oleh manusia yang memiliki fitrah yang bersih dan mereka akan berusaha menjauhinya dan membersihkan pakaiannya ketika terkena olehnya, semisal kotoran manusia dan air seni.”
(Ar-raudhah An-nadiyah, 1;12)

2. Didatangi Setan.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْخَلَاءَ فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Sesungguhnya toilet itu didatangi setan. Jika kalian masuk toilet, maka ucapkanlah; Auudzu billahi minal khubutsi wal khabaits (aku berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan setan perempuan).”
(HR. Abu Daud, No.5)

Tempat buang hajat adalah tempat tinggal setan, maka sebab itu kita diperintahkan untuk berdoa, berlindung darinya ketika memasukinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah berkata:
“Manfaat istiadzah (doa mohon perlindungan) adalah untuk berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan setan perempuan, karena tempat tersebut adalah tempat yang kotor, sedangkan tempat yang kotor adalah kediaman makhluk yang kotor, maka dia adalah tempatnya setan. Maka cocok, jika seseorang hendak masuk toilet, lalu dia membaca Auudzu billahi minal khubutsi wal khabaitsi, agar dirinya tidak terkena keburukan dan makhluk yang buruk.”
(Syarh Al-mumti, 1;83)

3. Berdiam Lama Di Dalam Toilet Seperti Membuka Aurat Tanpa Alasan.
Tidak dibolehkan bagi seseorang membuka auratnya tanpa alasan, meskipun dia seorang diri, kecuali jika ada keperluan. 

Sahabat Muawiyyah bin Haidah rahimahullah berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِي مِنْهَا وَمَا نَذَرُ قَالَ احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ قَالَ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَرَاهَا أَحَدٌ فَافْعَلْ قُلْتُ وَالرَّجُلُ يَكُونُ خَالِيًا قَالَ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ
“Wahai Rasulullah, aurat mana sajakah yang yang harus kami tutup dan yang kami biarkan buka? Beliau menjawab; Jagalah auratmu, kecuali kepada istrimu atau budak yang kamu miliki! Dan dia bertanya lagi; Jika sesama lelaki? Beliau menjawab; Jika kamu mampu supaya tidak terlihat oleh seorangpun, maka lakukanlah! Aku bertanya; Jika seseorang sendirian? Beliau menjawab; Allah lebih patut dimalui.”
(HR. Tirmidzi, No.2693)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Jangan berlama-lama di tempat tersebut tanpa keperluan, karena berdiam lama di toilet adalah makruh. Karena itu adalah tempat keberadaan setan dan tempat disingkapnya aurat.”
(Syarh Al-umdah, 1;60)

Imam Ibnu Hajar Al-haitsami rahimahullah juga berkata:
“Dimakruhkan berdiam lama di toilet.”
(Tuhfah Al-muhtaj, 2;241)
_____
@Kota Angin, Majalengka.
07 Dzulqadah 1439H/20 Juli 2018M
Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Ketika Mimpi Buruk
Artikel sesudahnyaAdab Melakukan Aktivitas
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here