Beranda Belajar Islam Adab Adab Menguap Dan Bersin

Adab Menguap Dan Bersin

4363
0
BERBAGI

Adab Menguap Dan Bersin

Menguap dan bersin merupakan aktivitas yang semua manusia pasti pernah mengalaminya. Menguap itu dari setan dan dibenci oleh Allah azza wa jalla, sedangkan bersin adalah suatu kebaikan yang dicintai oleh Allah azza wa jalla. Sampai ketika ada orang kafir bersin pun lalu dia memuji Allah, maka kita boleh mendoakan kebaikan berupa petunjuk (hidayah) untuknya.

Sebagai seorang muslim, kita harus tahu fikih mengenai kedua hal tersebut, agar bisa mendapatkan banyak kebaikan, bukan malah keburukan.

Salah satu adab Islam yang sudah banyak ditinggalkan oleh umat Islam adalah adab ketika bersin dan menguap. Banyak umat Islam saat ini yang tidak mengetahui adab dari keduanya. Ketika bersin, banyak di antara kita yang tidak mengucapkan tahmid; Alhamdullillah. Mungkin itu disebabkan, karena kita lupa atau tidak mengetahuinya.

Demikian juga ketika menguap, seharusnya seorang muslim berusaha menahan semampunya. Tetapi masih banyak di antara kita, ketika menguap membuka mulut lebar-lebar, sehingga orang-orang di sekitarnya bisa melihat seluruh isi mulut kita. Ada juga yang ketika menguap, lalu mengucapkan kalimat istighfar, istiadzah, dan kalimat dzikir lainnya, padahal perbuatan semacam itu sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum.

Sesungguhnya jika seorang muslim mengetahui betapa besarnya pahala yang akan diberikan oleh Allah azza wa jalla ketika meneladani sunnah RasulNya shallallahu alaihi wa sallam, maka sudah pasti manusia akan berlomba-lomba mempelajari dan mengamalkan adab-adab yang telah diajarkan oleh syariat Islam, mulai perbuatan yang kecil hingga perbuatan yang besar.

A. ADAB MENGUAP

1. Menahan Semampunya.
Apabila kita menguap, maka tahanlah semampunya! Dengan cara menahan mulut agar tidak terbuka.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ
“Sedangkan menguap itu berasal dari setan, dan apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya dia menahan (mulut) semampunya! Karena jika salah seorang di antara kalian menguap (membuka mulut), maka setan akan tertawa.”
(HR. Bukhari, No.5758)

Jika tidak mampu menahan mulutnya, maka bantulah menutup mulutnya dengan meletakkan tangan pada mulutnya!

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيْهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ
“Apabila salah seorang di antara kalian menguap, maka hendaklah menutup mulutnya dengan tangannya! Karena setan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).”
(HR. Muslim, No.5311)

Jika kita mengaku beragama Islam dan mengaku mencintai Allah azza wa jalla, maka salah satu konsekuensinya adalah berusaha mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah, serta membenci dan menjauhi segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, bukan sebaliknya! Salah satu perkara yang dibenci oleh Allah adalah menguap.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ
‎”Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Jika ada di antara kalian yang bersin lalu ‎mengucap hamdallah (alhamdulillah), maka setiap muslim yang mendengarnya wajib menjawabnya. Sedangkan, menguap ‎sesungguhnya berasal dari setan, maka tahanlah semampunya! Dan apabila dia malah mengeluarkan suara ‘haah’ (ketika menguap), maka setan ‎akan tertawa.”
(HR. Bukhari, No.5755)

Ketika kita menguap, berusahalah untuk menutup mulutnya, agar tidak terbuka. Dan tahanlah juga suaranya, agar tidak terdengar!

Sifat suka dan ‎benci Allah terhadap suatu perkara itu berdasarkan pada sebabnya. Bersin disebabkan oleh kondisi tubuh yang ringan, terbukanya ‎pori-pori, dan perut yang tidak kenyang, sehingga membuat seseorang merasa semangat untuk beribadah. Sebaliknya, menguap terjadi karena kondisi tubuh yang ‎berat akibat konsumsi makanan yang berlebihan dan beragam, sehingga membuat seseorang merasa malas untuk beribadah.

Sedangkan, menurut kedokteran atau ilmu medis modern:
“Menguap terjadi karena otak dan tubuh memerlukan oksigen ‎dan nutrisi. Hal tersebut disebabkan menurunnya kinerja sistem pernapasan dalam menyuplai oksigen ke otak ‎dan tubuh. Sama halnya dengan orang yang mengantuk, pingsan, dan sekarat.‎ Menguap adalah tarikan napas yang dalam melalui rongga mulut. Sedangkan, mulut sendiri tidak ‎diciptakan sebagai alat pernapasan alami, dikarenakan mulut tidak dilengkapi dengan sistem ‎penyaring udara seperti hidung. Jika mulut terbuka lebar saat menguap, masuklah ‎berbagai mikroba, debu, dan polutan bersama udara yang terhirup. Jadi, pantaslah jika menguap ‎dinisbatkan kepada setan, karena ia membawa madharat (bahaya) bagi manusia.‎”

Allah membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah. Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, terlebih ketika pada waktu shalat. Para Nabi tidak pernah menguap, disebabkan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah azza wa jalla.

Maka sebab itu, Nabi shallallaahu alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menahannya sebisa mungkin dan berusaha menutup mulut dengan tangan saat menguap.

2. Tidak Ada Kalimat Khusus Yang Harus Diucapkan Ketika Menguap Atau Setelahnya.
Karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum tidak pernah melakukannya, dan tidak ada satu pun riwayat yang shahih menjelaskan adanya kalimat khusus yang boleh dibaca pada saat menguap. Karena hukum asal suatu ibadah itu terlarang, hingga adanya dalil yang membolehkannya. Maka sebab itu, dalam beribadah kita harus mengikuti Rasulullah, bukan orang lain!

Ada sebuah kaidah dalam Islam:

اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ الْحَظْرُ فَلَا يَشْرَعُ مِنْهَا إِلَّا مَا شَرَعَهُ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ
“Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang, maka suatu ibadah tidak disyariatkan, kecuali ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan RasulNya.”
(Al-qawaid Wa Al-ushul Al-jamiah, Hlm.72)

B. ADAB BERSIN

Bersin adalah perbuatan kebalikan dari menguap. Keadaan yang bersifat kuat dan mendadak, ‎menghembuskan udara bertekanan tinggi dari paru-paru melalui hidung dan mulut. Hembusan tersebut ‎ikut menyeret mikroba, debu, dan polutan yang sempat masuk ke sistem pernapasan.

Manfaat lain ‎dari bersin adalah sebagai refreshing (penyegaran), kejutan yang dirasakan saat bersin akan menyegarkan urat-urat ‎syaraf dan memulihkan konsentrasi. Sebab itu, sangat pantas jika bersin dinisbatkan kepada Allah, ‎karena ia mengandung manfaat yang sangat banyak bagi tubuh.

Di antara adab ketika bersin adalah:

1. Merendahkan Suara.
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ
“Bahwasanya apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya, sambil merendahkan suaranya.”
(HR. Abu Daud, No.4374)

2. Tidak Menolehkan Leher.
Sebaiknya orang yang bersin berusaha untuk menahan diri tidak menolehkan lehernya (menekukkan leher) ke arah kanan atau ke arah kiri ketika bersin, karena hal tersebut dapat membahayakannya.

Seandainya lehernya menoleh itu dimaksudkan untuk menjaga agar tidak mengenai teman yang berada di sampingnya, hal tersebut bisa membuat lehernya cedera. Karena telah terjadi pada beberapa orang, ketika bersin mereka memalingkan wajahnya dengan tujuan untuk menjaga agar orang-orang di sekitarnya tidak terkena namun, perbuatan tersebut malah membuat kepalanya menjadi kaku dalam posisi menoleh (kram).

3. Mengucapkan Tahmid.
Di antara lafazh tahmid yang boleh dibaca setelah bersin adalah:

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ
“Segala puji bagi Allah.”
(HR. Bukhari, no.5755)

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji bagi Allah atas segala hal.”
(HR. Tirmidzi, No.2662. Hadits ini hasan)

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ حَمْدًا كَثِِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَ يَرْضَى
“Segala puji untuk Allah dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh keberkahan sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami.”
(HR. Abu Daud, No.656. Hadits ini hasan)

4. Mengucapkan Tasymit.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ
‎”Maka jika ada di antara kalian yang bersin lalu ‎mengucap hamdallah (alhamdulillah), maka setiap muslim yang mendengarnya wajib menjawabnya.”
(HR. Bukhari, No.5755)

Wajib bagi siapapun mendengarkan orang bersin yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah), untuk mengucapkan tasymit kepadanya.

يَرْحَمُكَ اللَّهُ
“Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.”

Apabila kita tidak mendengar dari orang yang bersin mengucapkan tahmid, maka kita tidak wajib mengucapkan tasymit untuknya, dan tidak perlu juga mengingatkannya untuk mengucapkan tahmid.

Sebagaimana Abu Burdah rahimahullah bercerita:

دَخَلْتُ عَلَى أَبِي مُوسَى وَهُوَ فِي بَيْتِ بِنْتِ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ فَعَطَسْتُ فَلَمْ يُشَمِّتْنِي وَعَطَسَتْ فَشَمَّتَهَا فَرَجَعْتُ إِلَى أُمِّي فَأَخْبَرْتُهَا فَلَمَّا جَاءَهَا قَالَتْ عَطَسَ عِنْدَكَ ابْنِي فَلَمْ تُشَمِّتْهُ وَعَطَسَتْ فَشَمَّتَّهَا فَقَالَ إِنَّ ابْنَكِ عَطَسَ فَلَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ فَلَمْ أُشَمِّتْهُ وَعَطَسَتْ فَحَمِدَتْ اللَّهَ فَشَمَّتُّهَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتُوهُ فَإِنْ لَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ فَلَا تُشَمِّتُوهُ
“Aku bertamu ke Abu Musa, saat berada di rumah putri Al-fadhl bin Abbas, aku bersin tapi dia tidak mendoakanku. Kemudian putri Al-fadhl bersin, lalu dia mendoakannya. Aku kembali kepada ibuku, lalu aku menceritakan hal tersebut kepadanya. Saat ibuku mendatanginya, dia berkata; Anakku bersin di dekatmu tapi kamu tidak mendoakannya, dan dia (putri Al-fadhl) bersin, lalu kamu mendoakannya. Abu Hurairah berkata; Putramu bersin dan tidak membaca hamdallah, sebab itu aku tidak mendoakannya, sementara dia (putri Al-fadhl) bersin dan membaca hamdallah, sebab itu aku mendoakannya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Apabila salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah (mengucapkan alhamdulillah), maka doakanlah dia! Tapi apabila dia tidak memuji Allah, maka jangan mendoakannya!”
(HR. Muslim, No.5308)

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Ini merupakan penegasan, bahwa perintah mendoakan orang yang bersin, berlaku jika dia mengucapkan tahmid. Dan ini pun berisi penegasan larangan mendoakan orang yang bersin, yang tidak mengucapkan tahmid. Maka sebab itu, makruh mendoakan orang yang bersin, yang tidak membaca hamdallah. Jika orang yang bersin itu membaca hamdallah namun, tidak didengar orang, maka dia tidak diperintahkan mendoakannya. Imam Malik rahimahullah menjelaskan; Tidak perlu mendoakannya hingga dia mendengar orang yang bersin membaca hamdallah.”
(Syarh Shahih Muslim, 18;121)

5. Mendoakan Hidayah Untuk Orang Kafir Yang Bersin Mengucapkan Tahmid.
Jika ada orang kafir bersin, kemudian dia memuji Allah, maka kita boleh menjawabnya dengan membaca:

يَهْدِيْكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Semoga Allah memberikan kepada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian.”

Sahabat Abdullah bin Qais radhiyallahu anhu berkata:

كَانَتْ الْيَهُودُ تَعَاطَسُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَاءَ أَنْ يَقُولَ لَهَا يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ فَكَانَ يَقُولُ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Orang-orang Yahudi sering bersin di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka berharap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkenan mengucapkan kepada mereka; Yarhamukumullah (Semoga Allah memberikan rahmat bagi kalian) namun, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hanya mengucapkan; Yahdikumullah wa yushlihu balakum (Semoga Allah memberikan kepada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).”
(HR. Abu Daud, No.4381)

6. Membiarkan Orang Yang Bersin Lebih Dari Tiga Kali.
Apabila orang yang bersin menambah jumlah bersinnya lebih dari tiga kali, maka tidak perlu dijawab dengan ucapan tasymit (yarhamukallah).

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

شَمِّتْ أَخَاكَ ثَلَاثًا فَمَا زَادَ فَهُوَ زُكَامٌ
“Jawablah bersin saudaramu hingga tiga kali, jika lebih dari itu berarti dia sakit pilek.”
(HR. Abu Daud, no.4378. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan mauquf dan marfu)

7. Membiarkan Orang Yang Bersin Ketika Imam Sedang Berkhutbah.
Apabila ada orang yang bersin, lalu imam sedang berkhutbah (shalat Jumat), maka dia harus mengucapkan tahmid dengan merendahkan suaranya, dan tidak wajib untuk dijawab dengan tasymit, karena diam ketika khutbah Jumat hukumnya wajib, sedangkan tasymit hukumnya sunnah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin pernah ditanya:
“Apa hukum menjawab salam dan menjawab bersin saat khutbah Jumat? Apa juga hukum menyodorkan tangan kepada orang yang ingin bersalaman ketika imam berkhutbah? Beliau menjelaskan; Menjawab salam orang lain dan menjawab bersin saat imam berkhutbah tidak diperbolehkan, karena hal tersebut termasuk berbicara yang terlarang dan hukumnya haram. Karena seorang muslim (jamaah) tidaklah diperintahkan untuk mengucapkan salam pada saat itu. Disebabkan salamnya tidak diperintahkan, maka demikian juga dengan balasannya. Orang yang bersin pun tidak diperintahkan mengeraskan bacaan ‘alhamdulillah’ ketika imam berkhutbah. Oleh sebab itu, ucapannya tidak perlu dibalas dengan ucapan ‘yarhamukallah’. Sedangkan menyambut jabatan tangan orang yang ingin bersalaman, sebaiknya tidak dilakukan karena termasuk membuat lalai, kecuali jika dikhawatirkan terdapat mafsadat (kerusakan), maka ketika itu tidaklah mengapa (boleh) menyambut sodoran tangannya, akan tetapi tidak boleh ditambah dengan obrolan. Lalu jelaskan juga kepadanya setelah shalat, bahwa pembicaraan saat khutbah itu haram.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin, 16;94)

Kemudian, hukum ini pun berlaku untuk keadaan-keadaan semisalnya, salah satunya ketika berada di dalam kamar mandi.

8. Rangkaian Doa Ketika Bersin.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan; Alhamdulillah (Segala puji untuk Allah). Sedangkan saudaranya atau temannya yang mendengarkan (suara bersin dan tahmidnya) mengucapkan; Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Kemudian orang yang bersin balas mengucapkan; Yahdikumullah wa yushlihu balakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).”
(HR. Bukhari, No.5756)

9. Ketika Anak Kecil Bersin.
Hukumnya sama saja seperti orang dewasa. Jika dia mengucapkan tahmid, maka orang-orang yang mendengarnya harus mendoakan ‘yarhamukallah’. Sebaliknya, jika anak tersebut tidak mengucapkan tahmid, maka tidak perlu didoakan ‘yarhamukallah’.

Imam Musthafa As-suyuthi rahimahullah menjelaskan:
“Untuk anak yang bersin dan membaca hamdallah, kita doakan; Burika fik (Semoga kamu diberkahi), atau Jabarakallah (Semoga Allah menyempurnakanmu), atau Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Kemudian hukumnya makruh mendoakan orang bersin yang tidak membaca hamdallah, berdasarkan hadits dari Abu Musa. Sementara anak kecil atau orang yang baru masuk Islam, maka diajari untuk membaca hamdallah. Demikian juga orang yang tinggal di pelosok, karena kemungkinan mereka tidak tahu.”
(Mathalib Uli An-nuha, 1;945)

Imam Syamsuddin Ibnu Muflih rahimahumullah menjelaskan:
“Jika dia bayi, maka ketika bersin yang membaca tahmid adalah walinya atau orang yang ada di sekitar tempat tersebut, lalu dibacakan tasymit juga seperti itu.”
(Al-adab Asy-syariyyah, 2;343)

Bagi teman-teman yang belum terbiasa dengan sunnah-sunnah yang sudah dijelaskan di atas, silakan setelah mempelajari tulisan ini bisa mulai membiasakannya secara perlahan dan berusaha untuk istiqamah mengamalkan dalam kehidupannya!

Maka teruslah berdoa kepada Allah, memohon pertolongan dan kemudahan kepadaNya!

Karena indahnya menghidupkan sunnah dalam kehidupan, itu tidak hanya bisa dilihat namun, bisa juga dirasakan.
_____
@Kota Angin, Bojong Cideres, Majalengka.
01 Dzulqadah 1439H/14 Juli 2018M
Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Bangun Tidur
Artikel sesudahnyaAdab Ketika Mimpi Buruk
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here