Beranda Belajar Islam Adab Adab Menguap Dan Bersin

Adab Menguap Dan Bersin

635
0
BERBAGI

Adab Menguap Dan Bersin

Menguap dan bersin merupakan aktivitas yang semua manusia pernah mengalaminya. Menguap itu dari setan dan dibenci oleh Allah azza wa jalla, sedangkan bersin adalah suatu kebaikan yang dicintai oleh Allah dan RasulNya. Sampai orang kafir bersin pun, jika dia memuji Allah maka kita boleh mendoakan kebaikan berupa petunjuk untuknya.

Sebagai seorang muslim, harus tahu fiqih mengenai kedua hal tersebut agar bisa mendapatkan banyak kebaikan, bukan malah keburukan.

Salah satu adab Islam yang sudah banyak ditinggalkan umat adalah adab ketika bersin dan menguap. Banyak umat Islam saat ini yang tidak mengetahui adab keduanya. Ketika bersin, banyak di antara mereka yang tidak mengucapkan tahmid: Alhamdullillah. Mungkin itu disebabkan mereka lupa atau tidak mengetahuinya.

Demikian juga ketika menguap, seharusnya seorang muslim berusaha menahan semampunya. Akan tetapi, banyak dari kita, membuka mulut lebar-lebar saat menguap, sehingga semua orang pun bisa melihat seluruh isi mulutnya. Ada pula yang ketika menguap, lalu mengucapkan kalimat istighfar, istiadzah dan kalimat dzikir lainnya, padahal perbuatan semacam ini sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum. Sesungguhnya jika seorang muslim mengetahui betapa besarnya pahala yang akan diberikan oleh Allah azza wa jalla ketika meneladani sunnah RasulNya shallallahu alaihi wa sallam, maka sudah pasti manusia akan berlomba-lomba untuk mempelajari dan mengamalkan adab-adab yang telah diajarkan oleh syariat Islam, mulai hal yang kecil sampai hal yang besar.

A. Adab Menguap

1. Menahan semampunya.
Apabila seseorang akan menguap, maka tahanlah semampunya! Dengan cara menahan mulutnya serta mempertahankannya, agar tidak sampai terbuka. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam;

التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ
“Menguap itu datangnya dari setan. Jika salah seorang di antara kalian ada yang menguap, maka hendaklah dia menahan semampunya!”
(HR. Imam Bukhari, no.6226)

Jika tidak mampu menahannya, maka tutuplah dengan meletakkan tangan pada mulutnya, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيْهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ
“Apabila salah seorang di antara kalian menguap, maka hendaklah menutup mulutnya dengan tangannya! Karena setan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).”
(HR. Imam Muslim, no.2995)

a. Allah benci menguap.
Jika kita mengaku beragama Islam dan mengaku bahwasanya kita mencintai Allah azza wa jalla, maka salah satu konsekuensinya adalah berusaha mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah, serta membenci dan menjauhi segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, bukan sebaliknya! Salah satu perkara yang dibenci oleh Allah adalah menguap.

Seperti yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda;

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ العُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ. فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ، وَأَمَّا ‏التَّثَاؤُبُ: فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ
‎”Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Jika ada di antara kalian yang bersin lalu ‎mengucap hamdallah (alhamdulillah), maka setiap muslim yang mendengarnya wajib menjawabnya. Sedangkan, menguap ‎sesungguhnya berasal dari setan, maka tahanlah semampunya! Dan apabila dia malah mengeluarkan suara ‘haaah’ (ketika menguap), maka setan ‎akan tertawa.”
(HR. Imam Bukhari, no.6223)

Jadi, ketika menguap tutuplah mulut kita agar tidak sampai terbuka, dan tahanlah suara kita agar tidak keluar!

b. Allah menyukai bersin dan membenci menguap.
Bersin disebabkan oleh kondisi tubuh yang ringan, terbukanya ‎pori-pori, dan perut yang tidak kenyang. Sehingga membuat pelakunya bersemangat beribadah. Sebaliknya, menguap terjadi karena kondisi tubuh yang ‎berat akibat konsumsi makanan yang berlebihan dan bermacam-macam. Sehingga membuat pelakunya merasa malas beribadah.

Ar-Rabi berkata, bahwa dia mendengar Imam Asy-Syafii rahimahumallah berkata;
“Aku tidaklah pernah kenyang selama 16 tahun kecuali sekali. Ketika kenyang seperti itu aku memasukkan tanganku (dalam mulut) agar aku bisa memuntahkan (makanan di dalam). Ibnu Abi Hatim dari Ar Rabi menambahkan perkataan Imam Syafii: Karena yang namanya kenyang membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, kecerdasan berkurang, lebih banyak tidur dan malas ibadah.”
(Siyar Alami An-Nubala, 10:36)

Sedangkan menurut ilmu kedokteran;
“Menguap terjadi karena otak dan tubuh memerlukan oksigen ‎dan nutrisi. Hal ini dipicu menurunnya kinerja sistem pernapasan dalam menyuplai oksigen ke otak ‎dan tubuh. Sama halnya dengan orang yang mengantuk, pingsan dan sekarat.‎ Menguap adalah tarikan napas yang dalam melalui rongga mulut. Sedangkan, mulut sendiri tidak ‎diciptakan sebagai alat pernapasan alami. Hal ini karena mulut tidak dilengkapi dengan sistem ‎penyaring udara sebagaimana pada hidung. Jika mulut terbuka lebar saat menguap, masuklah ‎berbagai mikroba, debu dan polutan bersama udara yang terhirup. Jadi, pantaslah jika menguap ‎dinisbatkkan kepada setan, karena ia membawa madharat (bahaya) bagi manusia.‎”

Allah membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah. Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, terlebih ketika pada waktu shalat. Para Nabi tidak pernah menguap, dikarenakan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah azza wa jalla.

Sebab itulah, Nabi shallallaahu alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menahannya sebisa mungkin dan menutup mulut dengan tangan saat menguap.

2. Tidak ada kalimat khusus yang diucapkan ketika akan menguap atau pun setelahnya.
Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum tidak pernah melakukannya, tidak ada satu pun riwayat yang shahih menjelaskannya. Karena dalam beribadah kita harus mengikuti cara yang dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah, bukan orang lain.

B. Adab Bersin

Bersin adalah kebalikan dari menguap. Moment yang bersifat kuat dan mendadak, ‎menghembuskan udara bertekanan tinggi dari paru-paru melalui hidung dan mulut. Hembusan tadi ‎ikut menyeret mikroba, debu dan polutan yang sempat masuk ke sistem pernapasan. Manfaat lain ‎dari bersin adalah sebagai refreshing, kejutan yang dirasakan saat bersin akan menyegarkan urat-urat ‎syaraf dan memulihkan konsentrasi. Sebab itulah, pantas sekali jika bersin dinisbatkan kepada Allah, ‎karena ia mengandung manfaat yang banyak bagi tubuh.

Di antara adab yang perlu diamalkan ketika bersin adalah;

1. Hendaknya orang yang bersin untuk merendahkan suaranya dan tidak secara sengaja mengeraskan suara bersinnya.
Hal tersebut berdasarkan hadits dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ
“Bahwasanya apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.”
(HR. Abu Dawud, no.5029, At-Tirmidzi, no.2746)

2. Hendaknya orang yang bersin menahan diri untuk tidak menolehkan lehernya (menekukkan leher) ke kanan atau ke kiri ketika sedang bersin, karena hal tersebut dapat membahayakannya.
Seandainya lehernya menoleh (menekuk ke kanan atau ke kiri) itu dimaksudkan untuk menjaga agar tidak mengenai teman yang berada di sampingnya, hal tersebut tidak menjamin bahwa lehernya tidak cedera. Telah terjadi pada beberapa orang ketika bersin memalingkan wajahnya dengan tujuan untuk menjaga agar teman di sampingnya tidak terkena namun, berakibat kepalanya kaku dalam posisi menoleh.

3. Dianjurkan kepada orang yang bersin untuk mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah dia selesai bersin.
Telah ada ungkapan pujian yang disyariatkan bagi orang yang bersin sebagaimana yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, di antaranya;

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ
“Segala puji bagi Allah.”
(HR. Imam Bukhari, no.6223)

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”
(HR. Imam Bukhari, no.394)

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji bagi Allah atas segala hal.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2738)

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ حَمْدًا كَثِِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَ يَرْضَى
“Segala puji untuk Allah dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh keberkahan sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami.”
(HR. Abu Dawud, no.773)

4. Wajib untuk setiap orang yang mendengar orang bersin (dan mengucapkan alhamdulillah) untuk melakukan tasymit kepadanya, yakni dengan mengucapkan;

يَرْحَمُكَ اللهُ
“Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.”

Apabila tidak mendengarnya mengucapkan alhamdulillah, maka janganlah mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) untuknya, dan tidak perlu mengingatkannya untuk mengucapkan hamdallah (ucapan alhamdulillah).

Berdasarkan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ؛ فَشَمِّتُوْهُ، فِإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللّٰهَ فَلاَ تُشَمِّتُوْهُ
“Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya namun, jika tidak mengucapkan alhamdulillah, maka janganlah mengucapkan tasymit untuknya!”
(HR. Imam Muslim, no.2992)

5. Jika ada orang kafir bersin lalu dia memuji Allah, boleh menjawab kepadanya;

يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Semoga Allah memberikan kepada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian.”

Hal ini berdasarkan hadits dari Sahabat Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu, dia berkata;

كَانَ الْيَهُوْدُ يَتَعَاطَسُوْنَ عِنْدَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُوْنَ أَنْ يَقُوْلَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ، فَيَقُوْلُ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ باَلَكُمْ
“Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka berharap Rasulullah berkenan mengatakan kepada mereka yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat bagi kalian) namun, Rasulullah hanya mengucapkan yahdikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan kepada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).”
(HR. Imam Bukhari, no.940)

6. Apabila orang yang bersin itu menambah jumlah bersinnya lebih dari tiga kali, maka tidak perlu dijawab dengan ucapan tasymit (yarhamukallah).
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيْسُهُ، وَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلاَثٍ فَهُوَ مَزْكُوْمٌ وَلاَ تُشَمِّتْ بَعْدَ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ
“Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka bagi yang duduk di dekatnya (setelah mendengarkan ucapan alhamdulillah) menjawabnya dengan ucapan ‘yarhamukallah’, apabila dia bersin lebih dari tiga kali berarti dia sedang terkena flu dan jangan engkau beri jawaban yarhamukallah setelah tiga kali bersin.”
(HR. Abu Dawud, no.5035)

Tidak perlu mendoakan orang yang bersin lebih dari tiga kali, serta jangan juga mengucapkan kepadanya semisal doa;

شَفَاكَ اللهُ وَعَافَاكَ
“Semoga Allah memberikan kesembuhan dan menjagamu.”

Karena seandainya hal tersebut disyariatkan, maka tentulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mencontohkannya sejak dulu.

7. Apabila ada orang yang bersin, lalu imam sedang berkhutbah (shalat jumat), maka dia harus mengucapkan alhamdulillah (dengan merendahkan suara) dan tidak wajib untuk dijawab yarhamukallah, karena diam ketika khutbah jumat hukumnya adalah wajib, sedangkan tasymit hukumnya sunnah.

8. Barang siapa yang bersin sedangkan dia dalam keadaan tidak dibolehkan untuk berdzikir (memuji Allah), misalnya sedang berada di WC, apabila dia membaca alhamdulillah karena lupa atau belum tahu, maka tidak wajib bagi kita yang mendengarkannya untuk menjawab yarhamukallah. Hal ini karena berdzikir di WC adalah terlarang.

9. Bagaimana jika lupa membaca tahmid (alhamdulillah) ketika bersin?
-Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
Tidak perlu diingatkan, sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga tidak ‎mengingatkan orang yang bersin di samping beliau, yang lalu tidak membaca tahmid.
-Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah perlu diingatkan. Sebab termasuk tolong-menolong dalam kebaikan.‎
-Ada pun Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah memiliki cara unik dalam hal ini. Dikisahkan oleh Al-Marudzi, ‎ada seseorang yang bersin di samping Imam Ahmad namun, tidak mengucapkan tahmid. Imam Ahmad ‎tetap menunggunya agar mengucap tahmid, supaya beliau bisa menjawabnya. Ketika orang itu ‎hendak bangkit, beliau bertanya: Apa yang kamu ucapankan bila dirimu bersin? Lalu orang itu menjawab: Alhamdulillah. Imam Ahmad pun membalas: Yarhamukallah.

10. Rangkaian doa yang harus dilakukan oleh orang bersin dan yang mendengarkannya.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kalian bersin, hendaklah mengucapkan;

اَلْحَمْدُ لِلهِ
“Segala puji hanya untuk Allah.”

-Lalu orang yang mendengarnya, mengucapkan;

يَرْحَمُكَ اللّٰهُ
“Semoga Allah memberi rahmat kepadamu.”

-Selanjutnya, orang yang bersin membaca;

يَهْدِيْكُمُ اللّٰهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Semoga Allah memberi petunjuk kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian.”
(HR. Imam Bukhari, no.5756)

11. Apakah semua orang yang bersin di sekitar kita harus didoakan?
Kita hanya diperintahkan untuk mendoakan (tasymit) orang yang bersin, yang mengucapkan tahmid seusai bersinnya. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita;

عَطَسَ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتْ الْآخَرَ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ: هَذَا حَمِدَ اللَّهَ، وَهَذَا لَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ
“Ada dua orang yang bersin di dekat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Yang satu beliau doakan dan yang satu lagi tidak beliau doakan. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau menjawab: Dia membaca alhamdulillah, sementara yang ini tidak membaca alhamdulillah.”
(HR. Imam Bukhari, no.5753)

Dalam riwayat yang lain, dari Sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتُوهُ، وَإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تُشَمِّتُوهُ
“Apabila ada di antara kalian bersin dan dia memuji Allah (membaca alhamdulillah) maka doakan dia! Dan jika dia tidak membaca tahmid, maka jangan doakan dia!”
(HR. Imam Muslim, no.5308)

Yang dimaksud mendoakan pada hadits di atas adalah mengucapkan: Yarhamukallah.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan;
“Ini penegasan bahwa perintah mendoakan orang yang bersin, berlaku jika dia membaca tahmid. Dan berisi penegasan larangan mendoakan orang yang bersin, yang tidak memuji Allah. Oleh karena itu, makruh mendoakan orang yang bersin, yang tidak membaca tahmid. Jika orang yang bersin itu membaca tahmid namun, tidak didengar orang, maka dia tidak diperintahkan mendoakannya. Imam Malik rahimahullah menjelaskan: Tidak perlu mendoakannya sampai dia mendengar yang bersin membaca tahmid (alhamdulillah).”
(Syarh Shahih Muslim, 18:121)

12. Bagaimana jika anak kecil bersin?
Hukumnya sama saja seperti orang dewasa. Jika dia membaca tahmid, maka orang yang mendengarnya harus mendoakan ‘yarhamukallah’. Sebaliknya, jika anak tersebut tidak mengucapkan tahmid, maka tidak didoakan ‘yarhamukallah’.

Imam Ar-Ruhaibani rahimahullah menjelaskan;
“Untuk anak yang bersin dan membaca tahmid, kita doakan ‘buurika fiik’ (semoga kamu diberkahi) atau ‘jabarakallah’ (semoga Allah menyempurnakanmu), atau ‘yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu), demikian yang dijelaskan Syaikh Abdul Qadir.”
(Mathalib Uli An-Nuha, 1:945)

Beliau juga menjelaskan;
“Makruh mendoakan untuk orang bersin yang tidak membaca tahmid, berdasarkan hadits dari Abu Musa. Sementara anak kecil atau orang yang baru masuk Islam diajari tahmid. Demikian juga orang yang tinggal di pelosok jauh, karena kemungkinan besar mereka tidak tahu.”
(Mathalib Uli An-Nuha, 1:945)

Maka memahami hal ini, jika ada anak kecil yang bersin dan dia bisa diajari, maka sebaiknya dia diajari untuk membaca tahmid (alhamdulillah). Misalnya ditanya: Nak, kalau bersin membaca apa? Setelah dia menjawab: Alhamdulillah. Selanjutnya orang tuanya atau siapa pun yang ada di sekitarnya bisa mendoakannya: Yarhamukallah.

13. Bagaimana jika yang bersin adalah anak kecil yang belum bisa diajari, misalnya karena masih bayi, apakah bisa diwakili oleh orang tua atau walinya?

Ibnu Muflih menjelaskan;
“Jika dia bayi, maka yang membaca tahmid adalah walinya atau orang yang ada di tempat tersebut, lalu didoakan juga seperti itu (yarhamukallah).”
(Al-Adab Asy-Syariyyah, 2:343)

Semoga penjelasan yang ringkas ini bisa memberikan faidah ilmu yang jelas untuk dipahami dan diamalkan.

Bagi teman-teman yang belum terbiasa dengan sunnah-sunnah yang sudah dijelaskan di atas, silakan setelah mempelajari tulisan ini bisa mulai membiasakannya secara perlahan dan istiqamah. Di samping itu dalam membiasakan sesuatu, harus dipaksa dan butuh perjuangan yang panjang. Maka teruslah berdoa kepada Allah, mohonlah pertolongan dan kemudahan kepadaNya!

Indahnya menghidupkan sunnah dalam kehidupan itu tidak hanya bisa dilihat namun, bisa juga dirasakan.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk istiqamah dalam beribadah kepadaNya.
_____
@Kota Angin, Bojong Cideres-Majalengka.
01 Dzulqadah 1439H/14 Juli 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Bangun Tidur
Artikel sesudahnyaAdab Ketika Mimpi Buruk
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here