Beranda Belajar Islam Adab Adab Bangun Tidur

Adab Bangun Tidur

1536
0
BERBAGI

Adab Bangun Tidur

Di antara sunnah-sunnah Rasulullah yang harus kita biasakan untuk dilakukan setiap bangun dari tidur, adalah:

A. DUDUK DAN MENGUSAP WAJAH

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu pernah menginap di rumah bibinya; Maimunah radhiyallahu anha. Beliau adalah salah satu istri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ
“Ketika sudah masuk pertengahan malam, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bangun, kemudian beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya.”
(HR. Bukhari, No.183)

B. MEMBACA DOA DAN DZIKIR

Di antara bacaan doa yang biasa dibaca oleh Rasulullah ketika bangun tidur adalah:

الْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَ إِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Segala puji untuk Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepadaNya kami akan dibangkitkan.”

Sahabat Hudzaifah bin Al-yaman radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ قَالَ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا فَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak tidur malam, beliau mengucapkan; Allahumma bismika amuutu wa ahya (Ya Allah, dengan namaMu aku mati dan aku hidup). Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan; Alhamdulillahilladzii ahyaana bada maa amatana wailaihinnusyuuur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepadaNya tempat kembali).”
(HR. Bukhari, No.5850)

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan di setiap bangun tidur, yang tidur itu mirip dengan kematian, terhadap hari kebangkitan setelah mati kelak. Para ulama mengatakan; Bahwa hikmah doa sebelum tidur adalah sebagai penutup amalannya, sebagaimana yang sudah disebutkan. Dan hikmah doa bangun tidur adalah sebagai pembuka amalan di hari tersebut, berupa mengingat tauhid dan perkataan yang baik.”
(Syarh Shahih Muslim, 17;35)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah juga menjelaskan:
“(Dengan membaca doa tersebut), maka kamu memuji Allah yang sudah menghidupkanmu dari maut (tidur) dan mengingatkanmu tentang hari kebangkitan, yaitu kebangkitan dari kubur dan keluar dari kuburan, menuju Allah azza wa jalla. Maka dengan bangkit dari kematian yang kecil (tidur), kamu ingat kepada kebangkitan dari kematian yang besar.”
(Syarh Riyadh Ash-shalihin, 1;1652)

Selain itu, hadits tersebut juga menunjukkan anjuran ketika bangun tidur, untuk memperbanyak bacaan dzikir lainnya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang di antara kalian ketika sedang tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatannya ia mengatakan; Malammu masih panjang, teruslah tidur! Maka jika orang tersebut bangun, kemudian dia berdzikir kepada Allah, terbukalah satu ikatan, kemudian jika dia berwudhu terbukalah satu ikatan lagi, kemudian jika dia shalat maka terbukalah seluruh ikatan. Sehingga dia pun bangun dalam keadaan bersemangat dan baik jiwanya. Namun, jika tidak melakukan demikian, maka dia biasanya akan bangun dalam keadaan buruk jiwanya dan malas.”
(HR. Bukhari, no.1074)

C. MEMBACA 10 AYAT TERAKHIR SURAT ALI IMRAN

Dari ayat 190-200, silakan bisa melihat langsung pada mushaf Al-quran!

Dimulai dari ayat:

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَءَايٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبٰبِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah, bagi orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran, Ayat 190)

Berakhir di ayat:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negeri) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung!”
(QS. Ali Imran, Ayat 200)

Selanjutnya, Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan tentang pengalaman beliau ketika menginap di rumah bibinya; Maimunah radhiyallahu anha:

فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ
“Beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya, kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran.”
(HR. Bukhari, no.177)

D. MENCUCI TANGAN

Selanjutnya, ketika bangun tidur disunnahkan untuk mencuci tangan sebelum memasukkan tangan ke dalam bejana atau melakukan aktivitas lainnya.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
“Dan jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah membasuh kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya ke dalam bejana air wudhunya, sebab salah seorang dari kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam (diletakkan).”
(HR. Bukhari, No.157)

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini, tentang:

• Apakah larangan mencelupkan tangan ke dalam bejana (semua tempat yang menyimpan air) di dalam hadits ini; hanya makruh atau haram?
– Ulama Hanabilah berpendapat, bahwa hukumnya haram dan mencuci tangan hukumnya wajib.
– Namun, mayoritas ulama berpendapat, bahwa hukumnya makruh dan mencuci tangan hukumnya sunnah. Dalil yang dijadikan landasan oleh mayoritas ulama adalah firman Allah azza wa jalla:

إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ
“Jika kalian berdiri untuk shalat, maka cucilah wajah-wajah kalian!”
(QS. Al-maidah, Ayat 6)

Maka, pendapat yang dipilih oleh Penulis adalah pendapat mayoritas ulama. Karena kalau saja mencuci tangan itu hukumnya wajib, pasti akan disebutkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Wallahu alam.

E. MEMBERSIHKAN GIGI

Sahabat Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila bangun malam, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.”
(HR. Bukhari, No.238)

Karena ada banyak manfaat dari melakukan gosok gigi ketika bangun tidur, terutama bagi kita yang hendak mengerjakan shalat. Selain untuk menyegarkan, gosok gigi atau bersiwak bisa menghilangkan bau mulut yang tidak sedap, sehingga tidak mengganggu para Malaikat yang turut hadir ketika kita mengerjakan shalat malam (qiyamullail).

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk bersiwak, kemudian beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أَتَاهُ الْمَلَكُ فَقَامَ خَلْفَهُ يَسْتَمِعُ الْقُرْآنَ وَيَدْنُو فَلَا يَزَالُ يَسْتَمِعُ وَيَدْنُو حَتَّى يَضْعَ فَاهُ عَلَى فِيْهِ فَلَا يَقْرَأُ آيَةً إِلَّا كَانَتْ فِي جَوْفِ الْمَلَكِ
“Sesungguhnya seorang hamba ketika hendak mendirikan shalat, datanglah Malaikat kepadanya. Kemudian Malaikat tersebut berdiri di belakangnya, mendengarkan bacaan Al-quran dan semakin mendekat kepadanya. Tidaklah dia berhenti sampai Malaikat meletakkan mulutnya pada mulut hamba tersebut. Tidaklah hamba tersebut membaca suatu ayat kecuali ayat tersebut masuk ke perut Malaikat tersebut.”
(HR. Albani, As-silsilah Ash-shahihah, No.1213. Riwayat ini memiliki syawahid)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah juga menjelaskan hikmah dari anjuran membersihkan mulut ketika bangun dari tidur:
“Ini dianjurkan karena ketika tidur bau mulut biasanya berubah, disebabkan uap dari perut yang naik. Dan dalam keadaan ini, dengan bersiwak akan menghilangkan bau yang tidak sedap dari mulut.”
(Al-mulakhas Al-fiqhi, 1;36)

F. MEMBERSIHKAN HIDUNG

Memasukkan air ke dalam hidung dengan cara disedot, dalam bahasa arab disebut ‘istinsyaq’ dan mengeluarkannya disebut ‘istintsar’. Setelah bangun tidur, kita dianjurkan melakukan seperti itu sebanyak tiga kali, untuk membersihkan rongga hidung. Karena ketika manusia tidur, setan menginap di lubang hidungnya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ
“Apabila kalian bangun tidur, maka bersihkan bagian dalam hidung sebanyak tiga kali, karena setan bermalam di rongga hidungnya.”
(HR. Bukhari, No.3052)

G. BERWUDHU

Ketika bangun tidur, rasa kantuk dan malas biasanya masih terasa. Setelah dianjurkan untuk membaca dzikir, membersihkan anggota tubuh, selanjutnya segera berwudhu dan mengerjakan shalat! Di antara tujuannya untuk menghilangkan rasa kantuk dan rasa malas.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang di antara kalian ketika sedang tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatannya ia mengatakan; Malammu masih panjang, teruslah tidur! Maka jika orang tersebut bangun, kemudian dia berdzikir kepada Allah, terbukalah satu ikatan, kemudian jika dia berwudhu terbukalah satu ikatan lagi, kemudian jika dia shalat maka terbukalah seluruh ikatan. Sehingga dia pun bangun dalam keadaan bersemangat dan baik jiwanya. Namun, jika tidak melakukan demikian, maka dia biasanya akan bangun dalam keadaan buruk jiwanya dan malas.”
(HR. Bukhari, no.1074)

H. SHALAT

Barang siapa bangun di malam hari atau bangun di waktu subuh, maka hendaknya bersegera untuk mengerjakan shalat dan tidak menundanya, agar tidak terus tenggelam dalam rasa kantuk dan rasa malas yang sangat berat.

Sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam hadits di atas, dan hal ini juga termasuk bentuk rasa syukur kepada Allah azza wa jalla karena kita telah dihidupkan kembali, diberi kesempatan untuk bangun dan menghirup udara kembali. Sehingga rasa syukur atas hal tersebut diwujudkan dalam bentuk ibadah, bukan malah sebaliknya.

Imam Al-aini rahimahullah menjelaskan:
“Hendaknya orang yang bangun tidur bersungguh-sungguh untuk segera mengerjakan shalat fajar (Shubuh), sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas kehidupan yang telah Allah berikan dan atas dikembalikannya ruh ke dalam tubuhnya. Dan hendaknya dia memahami bahwa hal tersebut merupakan nikmat yang besar.”
(Umdah Al-qari, 5;70)

Catatan; Amalan sunnah atau adab-adab yang sudah dijelaskan adalah untuk dilakukan pada saat setiap bangun dari tidur, termasuk tidur di siang hari atau di malam hari. Wallahu alam!

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan tulisan ini menjadi ilmu yang berkah untuk diri Penulis dan para Pembaca.

Semoga Allah azza wa jalla juga memberikan kemudahan untuk kita bisa mengamalkan setiap amalan sunnah RasulNya dalam keseharian hidup kita.
_____
@Kota Angin, Majalengka.
23 Syawwal 1439H/07 Juli 2018M
Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaBekal Menghadapi Persalinan
Artikel sesudahnyaAdab Menguap Dan Bersin
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here