Beranda Belajar Islam Aqidah Ketika Buah Hati Belum Dimiliki

Ketika Buah Hati Belum Dimiliki

932
0
BERBAGI

Ketika Buah Hati Belum Dimiliki

Hampir semua pasangan suami-istri, ketika sudah menikah memiliki keinginan dan cita-cita untuk mendapatkan banyak keturunan yang dapat menyejukkan pandangan dan menghibur hatinya. Namun, apakah kita sudah tahu, bahwa belum hadirnya buah hati (anak) itu adalah termasuk takdir Allah azza wa jalla? Bukan semata karena tidak sehatnya fisik salah satu di antara kedua pasangan tersebut. Maka janganlah kita berpikiran buruk terhadap Allah ketika belum dikaruniai buah hati!

Karen Allah azza wa jalla berfirman;

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan sesuatu yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa pun yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa pun yang dikehendakiNya) dan Dia menjadikan mandul siapa pun yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia maha mengetahui lagi maha kuasa.”
(Surat Asy-Syura: ayat 49-50)

Dengan berusaha memahami firman Allah tersebut, insyaallah semangat kita untuk semakin berharap kepada karunia Allah akan menjadi lebih besar. Kita akan semakin bersandar kepada Allah yang maha kuasa dan tidak bosan mengulang-ulang doa serta permohonan kepadaNya. Dengan semangat ini, diharapkan bisa menjadi sebab Allah memperkenankan doa kita. Karena sekali lagi, kekuatan doa itu setingkat dengan kekuatan keyakinan dan semangatnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Seluruh fenomena ini terjadi berdasarkan ilmu, hikmah dan kekuasaan Allah. Bisa jadi keadaan kamu akan normal, sehingga kamu akan mendapatkan seorang keturunan. Selama istrimu tidak menuntut apa pun darimu, maka janganlah bersedih hati karena hal tersebut! Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas kesabarannya menemani hidupmu. Kita mohon kepada Allah yang maha tinggi lagi maha kuasa agar memberikan kepada kita semua taufik dan pahala. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengabulkan permintaan.”
(Fatawa Manar Al-Islam, 3:625)

Oleh karena itu, bersabarlah dan terus berdoa diiringi dengan usaha agar keinginan untuk mendapatkan keturunan yang shalih atau shalihah yang dapat menyejukkan pandangan dan hatinya segera Allah kabulkan!

A. Berdoa Dan Berusaha

Di antara hal yang harus dilakukan adalah;
1. Selalu berharap kepada Allah.
Satu teladan yang membuktikan hal ini dan layak untuk kita tiru adalah ketabahan Nabi Zakariya alaihissalam. Sampai diusia senja, Allah belum memberikan karunia anak untuknya. Namun, beliau tidak putus harapan, sampai dalam kondisi yang membuat orang pada umumnya putus asa untuk memiliki anak. Dalam Al-Quran, Allah menceritakan perjuangan doa Nabi Zakariya;

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا. إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا. قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا. وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا. يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
“Menyebutkan penjelasan tentang rahmat Rabbmu kepada hambaNya, Zakaria. Ketika dia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Dia berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, ya Rabbku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisiMu seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Yaqub dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, sebagai orang yang diridhai.”
(Surat Maryam: ayat 2-6)

Beliau sudah tua, istri beliau mandul, yang secara logika manusia, mustahil bisa punya keturunan. Tapi bagi Allah, lain. Dia maha kuasa untuk memberikan apa pun yang diharapkan Nabi Zakariya. Maka Allah mengabulkan doanya;

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Ingatlah kisah Zakariya, ketika dia menyeru Rabbnya: Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri dan Engkaulah pewaris yang paling baik. Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Aku perbaiki istrinya sehingga dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.”
(Surat Al-Anbiya: ayat 89-90)

Selain manfaat di atas, ketika seseorang betul-betul meyakini Allah yang mengatur semua urusan hambaNya, tentu dia akan bisa membawa diri dengan baik. Dia akan menerima dan ridha terhadap takdir dan ketetapan Allah. Sehingga sekali pun dia tidak memiliki anak, kesabarannya bisa menjadi sumber pahala baginya.

2. Banyak beristighfar.
Jangan lupa iringi doa dengan banyak beristighfar (memohon ampun) kepada Allah azza wa jalla. Karena Allah menjanjikan banyak hal bagi orang yang banyak beristighfar, salah satunya adalah anak. Allah menceritakan ajakan Nabi Nuh alaihissalam kepada umatnya;

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena sesungguhnya Dia maha pengampun! Niscaya Dia mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anak kalian dan menciptakan kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian.”
(Surat Nuh: ayat 10-12)

Ada seseorang yang mengadu kepada Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah karena sudah lama tidak punya anak. Orang tersebut meminta tolong agar Hasan mendoakannya supaya bisa punya anak. Maka Hasan Al-Bashri mengatakan: Perbanyak istighfar (memohon ampun) kepada Allah! Lalu orang tersebut bertanya: Mengapa anda memberi saran untuk banyak beristighfar? Beliau menjawab: Aku tidak menjawab dengan logikaku. Sesungguhnya Allah berfirman di dalam surat Nuh (yang artinya): Beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena sesungguhnya Dia maha pengampun!”
(Tafsir Al-Qurtubi, 18:302)

3. Memperbanyak doa.
Perlu diingat, bahwa tidak ada doa khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk dibaca agar mendapatkan keturunan.

Para ulama menjelaskan;
“Mengamalkan doa tertentu kemudian dirutinkan, seolah-olah doa itu secara khusus dianjurkan untuk meminta anak dan diyakini adanya anjuran doa tersebut, kami belum menjumpai adanya nash (dalil) yang menunjukkan disyariatkannya doa khusus tersebut.”
(Fatawa Syabakah Islamiyyah, no.43435)

Hanya saja dalam Al-Quran, Allah menyebutkan beberapa doa yang dipanjatkan oleh para Nabi ketika memohon keturunan, dan kita juga boleh mengikutinya.

• Doa Nabi Zakariya

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
“Wahai Rabbku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pewaris yang paling baik.”
(Surat Al-Anbiya: ayat 89)

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau maha mendengar doa.”
(Surat Ali Imran: ayat 38)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari doa tersebut;
“Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku dari sisiMu keturunan yang baik (thayyib) yaitu anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau maha mendengar doa.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 3:54)

• Doa Nabi Ibrahim

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang shalih!”
(Surat Ash-Shaffat: ayat 100)

• Doa agar menjadi hamba yang bersyukur, agar bisa beramal shalih dan meminta anak shalih

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan supaya aku dapat melakukan amal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku! Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(Surat Al-Ahqaf: ayat 15)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah pernah ditanya;
“Bolehkah orang yang lama tidak dikaruniai anak memohon kepada Allah dengan doa Nabi Zakariya? Beliau menjawab: Tidak masalah (boleh) melantunkan doa seperti yang disebutkan, dan jika dia berdoa dengan selain teks doa tersebut, seperti membaca;
اَللّٰهُمَّ اُرْزُقْنِي ذُرّيَةً طَيِّبَةً، اَللّٰهُمَّ هَبْ لِي ذُرّيَةً صَالِحَةً
Ya Allah, berilah aku keturunan yang baik, anugrehkanlah aku keturunan yang shalih!
Atau dengan doa-doa yang semisalnya, itu semuanya baik (boleh).”
(Majmu Fatawa Ibnu Baz, 8:423)

Ketika Allah belum menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini, janganlah khawatir! Karena sesungguhnya Allah telah menyiapkan gantinya di Surga.

Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ، كَمَا يَشْتَهِي
“Seorang mukmin itu apabila sangat menginginkan anak (namun, tidak mendapatkannya), maka di Surga dia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana dia menginginkannya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2563. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Shahih Al-Jami, no.6649)

Syaikh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan maksud hadits tersebut;
“Lafazh ‘hamil’ maksudnya mengandung anak, lafazh ‘kelahiran dan pertumbuhannya’ maksudnya sempurna umurnya yaitu 30 tahun, lafazh ‘sebagaimana yang dia inginkan’ maksudnya sesuai keinginannya, anak laki-laki atau perempuan dan semisalnya.”
(Tuhfatu Al-Ahwazy, 7:241)

Dari hadits di atas, kebanyakan ulama seperti Thawus, Mujahid dan Ibrahim An-Nakhai, berpendapat bahwa bagi yang menginginkan anak namun, tidak mendapatkannya di dunia, maka dia akan mendapatkannya di Surga. Sedangkan, ulama yang lainnya berpendapat bahwa di Surga memang ada jima (hubungan intim) namun, tidak menghasilkan anak atau keturunan.

Dalil dari pendapat kedua tersebut adalah hadits dari Abu Razin Al-Uqailiy radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda;

الصَّالِحَاتُ لِلصَّالِحِيْنِ تَلَذُّونَهُنَّ مِثْلَ لَذَّاتِكُمْ فِي الدُّنْيَا، وَيَلْذَذْنَ بِكُمْ، غَيْرَ أَنْ لَا تَوَالُدَ
“Wanita shalihah dengan pria shalih di Surga akan saling merasakan kelezatan sebagaimana yang mereka rasakan di dunia. Wanita-wanita itu akan bersenang-senang dengan kalian. Namun, mereka tidak memiliki anak.”
(HR. Ahmad, 4:13. Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif karena musalsal bil mahajahil)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Surga bukanlah negeri untuk menghasilkan keturunan. Surga adalah negeri yang tetap dan kekal di dalamnya. Orang yang berada dalam Surga tidak mengalami kematian dan tidak juga menghasilkan keturunan untuk menggantikan yang mati.”
(Haadi Al-Arwah, 1:173)

Kesimpulan;
Cara menyatukan (kompromi) yang baik dari dua dalil yang terlihat berbeda (kontradiksi) di atas adalah seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Munawi rahimahullah;
“Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih: ‘Sesungguhnya di Surga itu tidak ada anak kecil.’ Oleh karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, dia tidak akan melahirkan anak. Namun, apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.”
(Faidhu Al-Qadir, 6:335)

Imam As-Suyuti rahimahullah berkata;
“Demikianlah diriwayatkan dari Thawus dan Mujahid dan Ibrahim An-Nakhai, berkata Ibnu Ishaq bin Ibrahim mengenai hadits ini: ‘Jika seandainya dia menginginkan’, akan tetapi penduduk Surga tidak menginginkan hal tersebut (keinginan memiliki anak).”
(Mihbahu Az-Zujajah, 1:323)

Karena memang di Surga, seseorang akan mendapatkan sesuatu yang dia inginkan, termasuk kerinduan mendapatkan anak.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam Surga itu terdapat segala sesuatu yang diinginkan oleh hati dan sedap dipandang mata dan kalian kekal di dalamnya.”
(Surat Az-Zukhruf: ayat 71)

C. Nasihat Dan Motivasi

Allah azza wa jalla berfirman;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنٰطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعٰمِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتٰعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُۥ حُسْنُ الْمَئَابِ
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap sesuatu yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.”
(Surat Ali Imran: ayat 14)

Sangat wajar jika manusia selalu menginginkan hal-hal tersebut namun, para Muslimah harus sadar setiap makhluk di dunia ini tidak akan terlepas dari ujian.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوٰلِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِينَ
“Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 155)

Allah azza wa jalla juga berfirman;

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat! Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 153)

Allah azza wa jalla berfirman;

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kalian akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(Surat Al-Anbiya: ayat 35)

Allah azza wa jalla juga berfirman;

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagi kalian. Tetapi bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kalian. Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 216)

Jika sudah sungguh-sungguh berdoa dan berikhtiar (berusaha) dengan berbagai cara namun, qadaarullaah belum juga mendapatkan buah hati, maka langkah selanjutnya adalah senantiasa bersabar atas takdir Allah azza wa jalla. Yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik untuk kita! Dan teruslah berdoa seperti yang telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada kita!

Sebagaimana Ummu Salamah radhiyallahu anhu berkata;

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. اَللَّهُمَّ أُجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah, lalu dia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah: INAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJIUUN ALLAHUMMA UJURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya), melainkan Allah akan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah berkata: Ketika Abu Salamah telah wafat, aku bertanya: Orang muslim manakah yang lebih baik dari pada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama hijrah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian aku pun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya untukku Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. Imam Muslim, no.1525)

Saudariku, anda tidak sendirian! Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariya pun bernasib serupa dengan anda. Mereka dikaruniai buah hati oleh Allah ketika usia mereka telah tua. Juga Ummul Mukminin Istri Rasulullah; Aisyah radhiyallahu anha, orang yang paling dicintai Rasulullah, bukankah beliau juga tidak memiliki buah hati? Wahai muslimah, hendaknya kita mencontoh kesabaran serta ketegaran mereka, dan jangan banyak mengeluh!

Allah lebih tahu siapa yang berhak mendapat bagian rezekiNya. Allah juga yang mampu menentukan manusia itu bertingkat-tingkat. Cobalah anda yang saat ini sedang bersedih karena belum mendapatkan keturunan, untuk melihat dan membaca kisah Nabi Yahya bin Zakariya, Nabi Ibrahim dan Nabi Isa bin Maryam alaihimush shalaatu wassalaam, yang dahulu kedua orang tuanya sangat lama belum memiliki buah hati. Maka bagi wanita yang bersedih, hendaklah anda ridha pada ketentuan Allah dan hendaklah anda banyak meminta akan kebutuhannya hanya kepada Allah! Di balik ketentuan Allah itu ada hikmah yang sangat besar dan ketentuan yang tidak disangka.

Tidak terlarang (boleh) jika wanita tersebut datang kepada dokter wanita spesialis untuk bertanya perihal kehamilan, atau dia datang kepada dokter laki-laki spesialis jika tidak mendapati keberadaan dokter wanita, tentu dengan tetap memperhatikan batasan syariat Islam tentang masalah auratnya di hadapan seseorang yang bukan suami dan mahramnya. Semoga saja dengan konsultasi semacam itu, dia bisa mendapatkan solusi untuk mendapatkan keturunan ketika sebelumnya belum kunjung hamil. Begitu juga untuk sang suami, hendaklah dia pun mendatangi dokter laki-laki spesialis agar mendapatkan jalan keluar (solusi) karena bisa jadi masalahnya adalah pada diri suami.
(Al-Lajnah Ad-Daimah Li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah Wa Al-Ifta, no.8844)

Semoga dengan penjelasan di atas, bisa membangkitkan kembali semangat kita dalam beribadah kepada Allah azza wa jalla dalam keadaan apa pun. Dan segala kemudahan datangnya hanya dari Allah subhanahu wa taala.

Jangan sampai keadaan sulit yang kita hadapi, membuat kita berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, serta berani meninggalkan syariat Islam!

Jangan sampai rasa ingin memiliki buah hati membuat kita berani melakukan ritual-ritual yang bersifat kesyirikan, seperti;
– Ambil anak orang lain untuk diasuhnya dengan tujuan agar rahimnya terpancing atau ikut tertular memiliki anak.
– Ketika ada orang lain melahirkan, ikut menyusuinya agar rahimnya ikut terpancing dan tertular memiliki anak.
– Menggendong bayi orang lain sampai bayi tersebut buang kotoran agar rahimnya ikut terpancing dan tertular memiliki anak.
– Dan berbagai ritual kesyirikan semisalnya.

Semua keyakinan yang melandasi ritual-ritual kesyirikan tersebut adalah tidak benar (bathil). Karena Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkannya dan memerintahkannya untuk dilakukan!

Karena hanya Allah yang mampu memberikan kemudahan dan mengabulkan semua keinginan hambaNya. Sehingga berdoalah hanya kepada Allah azza wa jalla!

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi was allam bersabda;

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan (kesulitan) yang terus menerus, buruknya taqdir serta kesenangan musuh atas musibah yang menimpa kalian!”
(HR. Imam Bukhari, no.6126)

Bersabar dan jangan bersedih! Karena Allah selalu bersama orang yang bersabar. Pahala besar menanti kita, jika kita mampu menjalani ujian demi ujian dengan ikhlash dan ridha.

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan, yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.2427)
_____
@Kota Udang, Cirebon.
29 Ramadhan 1439H/14 Juni 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAnakku, Jadilah Sebab Orang Tuamu Masuk Surga!
Artikel sesudahnyaBekal Menghadapi Persalinan
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here