Beranda Belajar Islam Anakku, Jadilah Sebab Orang Tuamu Masuk Surga!

Anakku, Jadilah Sebab Orang Tuamu Masuk Surga!

2397
0
BERBAGI

Anakku, Jadilah Sebab Orang Tuamu Masuk Surga!

Siapa yang tidak ingin masuk ke dalam SurgaNya Allah? Yang di dalamnya penuh dengan kenikmatan dan keindahan. Dan memang, tidak semua orang bisa memasukinya. Hanya orang-orang yang Allah kehendaki, akan bisa memasuki SurgaNya.

Perlu diketahui, bahwa semua kenikmatan dan kebahagiaan yang diinginkan oleh manusia di dunia, semua itu akan ada di Surga.

Allah azza wa jalla berfirman;

ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴُﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺪَّﻋُﻮﻥَ
“Di dalam Surga, kalian akan memperoleh segala kenikmatan yang kalian inginkan dan memperoleh juga di dalamnya segala kenikmatan yang kalian minta.”
(Surat Fusshilat: ayat 31)

Dalam serial tulisan ini, terdapat peringatan (tanbih), penjelasan (bayan) untuk para orang tua, dan umumnya untuk para pemuda-pemudi yang akan menikah, bahwa dalam mendidik anak itu tidak semudah yang kita bayangkan dan tidak sesulit yang kita sangkakan. Karena mendidik itu mengandung dua unsur: mencontohkan dan mengajarkan, mencontohkan butuh akhlak dan mengajarkan butuh ilmu.

Maka dari itu hendaknya setiap manusia yang ingin atau sudah menjadi orang tua, segera belajar akhlak untuk memiliki kepribadian yang baik dan menuntut ilmu sebagai bekal dirinya serta anak keturunannya! Agar anda bisa mendidik anak-anaknya dengan akhlak dan ilmu, sehingga anda bisa menjadikan anak-anaknya sebagai sebab untuk Allah memasukkan anda ke dalam surgaNya.

Nabi Ibrahim alaihissalam berdoa;

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih!”
(Ash-Shaffat: ayat 100)

Ini salah satu doa yang biasa kita ucapkan kepada Allah untuk meminta keturunan, terutama keturunan yang shalih.

Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas;
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku anak yang shalih, yang nantinya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang shalih!”
(Zaadu Al-Masiir, 7:71)

Sehingga yang dimaksud keturunan shalih, yakni mereka yang bisa membantu orang tuanya semakin taat kepada Allah azza wa jalla, bukan sebaliknya.

Jadi, sebetulnya kewajiban para orang tua terhadap anak-anaknya itu bukan hanya sekedar memberikan makanan-minuman, jajan, pakaian, memenuhi keperluan sekolah serta kehidupannya dan berbagai kebutuhan yang semisalnya. Namun, ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu untuk mendidiknya dengan akhlak dan ilmu.

Karena tidak sedikit (banyak) para orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anaknya. Dikarenakan mereka mendidiknya dengan hawa nafsu, bukan dengan akhlak dan ilmu.

Dengan ilmu seseorang bisa menjadi shalih, karena dia tahu apa saja perintah Allah yang harus dia kerjakan dan apa saja larangan Allah yang harus dia tinggalkan. Menjadi orang shalih itu suatu hal yang mulia dan menguntungkan, sehingga layak untuk diperjuangkan. Yakni dengan terus mempelajari ilmu islam, mengamalkannya dan mendakwahkannya.

Bahkan jika kita bisa menjadikan diri dan keluarga kita menjadi shalih, hal tersebut akan menjadi sebab kita dan keluarga bisa selalu bersama di dunia dan akhirat.

Allah azza wa jalla berfirman;

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ
“Surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak-cucunya.”
(Surat Ar-Radu: ayat 23)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud ayat tersebut;
“Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam Surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk Surga. Sampai-sampai, Allah mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi, tanpa mengurangi derajat keluarganya yang tinggi (agar mereka berkumpul di dalam Surga yang sama derajatnya).”
(Tafsir Ibnu Katsir)

Ini adalah dalil bahwa satu keluarga bisa masuk ke dalam Surga bersama, dengan syarat menjadi “shalih”. Maka jadikanlah ayat tersebut sebagai motivasi besar untuk kita membangun keluarga menuju Surga.

Maka, segera ubahlah konsep hidup anda bersama istri dan anak keturunannya, yang semula sehidup-semati, menjadi sehidup-sesurga!

Dengan demikian, anda juga harus mengetahui tahapan dan proses yang harus anda lakukan, agar anda dan keluarganya bisa menjadi orang-orang yang shalih, sehingga anda bisa selalu hidup bersama keluarga dan orang-orang tercintanya di dunia dan akhirat, yaitu di dalam SurgaNya Allah azza wa jalla. Di antara proses yang harus anda ketahui dan lakukan adalah;

A. MENDIDIK ANAK ADALAH TANGGUNG-JAWAB ORANG TUA

Setiap rumah tangga haruslah memiliki keinginan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Sehingga setiap anggota keluarga harus memiliki peran dalam menjalankan amanah tersebut. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik dalam mengemban tanggung-jawabnya, karena Allah azza wa jalla akan mempertanyakan amanah tersebut di akhirat kelak.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Kalian adalah pemimpin dan kalian bertanggung-jawab atas orang-orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.893)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda;

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ؟ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang sesuatu yang dipimpinnya. Apakah dia tunaikan ataukah dia lalaikan? Sampai seseorang ditanya tentang keluarganya.”
(HR. An-Nasai, Isyratu An-Nisaa, no.292. Ibnu Hajar menyatakan hadits ini shahih)

Hadits ini sebagai pecut untuk menyadarkan diri kita yang sedang mengemban amanat, apapun kedudukan kita. Baik dalam rumah, instansi, komunitas dan semisalnya. Karena ketika kita lalai dengan amanat yang sudah kita terima, maka bersiaplah untuk mempertanggung-jawabkannya di hadapan Allah azza wa jalla! Bahkan kelalaian tersebut akan menjadi sebab dosa untuk kita, karena hal tersebut termasuk kezhaliman dan dosa akan merusak kehidupan pelakunya secara perlahan namun, pasti.

Seorang suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, dengan mempelajari ilmu-ilmu agama islam, memahaminya, serta mengamalkan setiap yang diperintahkan, serta meninggalkan setiap yang dilarang oleh Allah azza wa jalla dan RasulNya. Kemudian hendaknya dia berusaha mengajak dan membimbing istrinya untuk berbuat demikian juga, sehingga anak-anaknya dapat meneladani kedua orang tuanya dalam kebaikan. Karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru segala hal yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Sehingga suami-istri harus menjadi orang yang shalih-shalihah, hendaknya kompak dan bekerja sama untuk membina keluarganya dengan akhlak dan ilmu, agar bisa bersama-sama selamat dan masuk ke dalam surgaNya. Sungguh tujuan hidup yang sangat indah dan tidak semua keluarga menyadarinya. Semoga kita termasuk keluarga yang memiliki cita-cita demikian.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang makna dari shalih;

الْقَائِمُ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ وَحُقُوقِ عِبَادِهِ وَتَتَفَاوَتِ دَرَجَاتِهِ
“Orang yang menjalankan kewajibannya terhadap Allah dan kewajibannya terhadap sesama hamba Allah. Dan kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.”
(Fathu Al-Baari; 2:314)

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak, di antaranya;

1. Mencontohkan Akhlak Yang Terpuji.

Berdoalah kepada Allah azza wa jalla, agar diri kita dihiasi dengan akhlak yang baik!

قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: اللَّهُمَّ كَمَا أَحْسَنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah perindah fisikku, maka perindahlah pula akhlakku!”
(HR. Ahmad, 1:403. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Karena dengan akhlak yang terpuji, seseorang akan menjadi mulia dan disukai oleh manusia, karena tabiat manusia itu suka jika diperlakukan dengan santun dan baik. Bahkan dengan akhlak yang baik, itu merupakan bukti bahwa kita adalah umatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Tidak termasuk golongan kami, yaitu orang yang tidak mau menyayangi yang kecil di antara kami dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kami.”
(HR. At-Tirmidzi, no.1919. Abu Thahir menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Karena menghormati bukanlah dengan meletakkan tangan kanan di atas kepala, melainkan anda memperlakukan seseorang dengan akhlak yang baik, memenuhi haknya, tidak menyinggung dan menyakiti perasaannya, serta menempatkan seseorang sesuai kedudukannya, itulah hakikat menghormati.

Abdullah bin Zahr rahimahullah berkata;
“Termasuk durhaka kepada orang tua adalah anda memanggil orang tua dengan namanya saja dan anda berjalan di depannya.”
(Al-Majmu, 8:257)

Maka persilakan orang tua kita, untuk berjalan mendahului kita. Namun, jika ada udzur, seperti: Mereka tidak bisa melihat karena indra penglihatannya sudah tidak sehat, karena suasana gelap di malam hari, atau karena berbagai keadaan udzur lainnya, maka kita boleh berjalan di hadapan mereka, untuk menunjukkan arah jalan kepada mereka.

Karena akhlak yang baik dapat membuat timbangan amal shalih seseorang menjadi berat di akhirat kelak, ketika hari perhitungan (yaumul hisab).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ماَ مِنْ شَيْءٍ فِيْ اْلمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
“Tidak ada suatu perbuatanpun dalam timbangan amal yang lebih berat timbangannya selain akhlak yang mulia.”
(HR. Abu Dawud, no.4799 dan At-Tirmidzi, no.2002. Hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

Perlu diingat juga, bahwa berbicara akhlak itu bukan hanya soal menghormati. Namun, segala hal yang membuat diri kita dan orang lain merasa nyaman dan bahagia.

2. Mengajarkan Akidah Yang Benar.

Ajarkanlah tauhid kepada anak-anak! Agar anak-anak kita bisa mentauhidkan Allah dan laranglah mereka dari berbuat syirik! Sebagaimana Allah menjelaskan tentang nasihat Luqman kepada anaknya;

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ  إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: Wahai anakku! Janganlah kamu mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan Allah (syirik) adalah benar-benar kezhaliman yang sangat besar.”
(Surat Luqman: ayat 13)

Maka tahapan awal belajar yang tepat adalah dengan mempelajari akidah terlebih dahulu, sebelum ilmu lainnya dan dalam dakwah pun demikian. Dakwah terhadap akidah dan tauhid itulah yang harus jadi prioritas (diutamakan).

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Dari Sahabat Jundub bin Abdillah, dia berkata; kami dahulu bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ketika itu kami masih anak-anak yang mendekati masa baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Quran. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Quran hingga bertambahlah iman kami pada Al-Quran.”
(HR. Ibnu Majah, no.61. Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Para Sahabat radhiyallahu anhum ketika masa kecil, mereka sangat semangat mempelajari masalah iman (berbagai hal terkait rukun iman) sebelum perkataan dan perbuatan, begitu juga mereka semasa kecil sangat semangat mempelajari dan menghafalkan Al-Quran.

Para Sahabat sangat semangat belajar ilmu agama islam. Karena mereka mengetahui pentingnya membekali diri dengan iman dan ilmu, mulai dari beriman kepada Allah, iman kepada para Malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada para Rasul, iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir. Inilah asas akidah yang harus ditanamkan dalam diri kita dan anak keturunan kita, sebelum mempelajari ilmu Al-Quran dan ilmu lainnya. Itulah yang kita kenal dengan rukun iman yang enam. Karena mempelajari Al-Quran akan menjadi bermanfaat, jika memiliki bekal iman (akidah) yang benar dan lurus.

Akidah hendaklah sudah ditanamkan kepada anak-anak kita sejak dini (kecil). Sudah benarkah iman mereka kepada Allah? Sehingga meyakini bahwa Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta ini? Dan dalam dakwah juga harus memprioritaskan dakwah terhadap akidah, baik dakwah kepada keluarga, maupun kepada masyarakat.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ: إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ
“Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus Sahabat Muadz ke Yaman, beliau pun berkata kepadanya: Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab. Maka jadikanlah dakwahmu pertama kali kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah taala. Jika mereka telah memahami hal tersebut (tauhid), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari-semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir-miskin di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal tersebut, maka ambillah dari harta mereka, tapi berhati-hatilah dari harta berharga yang mereka miliki!”
(HR. Imam Bukhari, no.7372)

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, kecuali dengan hak islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.”
(HR. Imam Bukhari, no.25)

Ini adalah awal benih kebaikan. Karena akidah sebagai bekal utama bagi setiap manusia. Dengan akidah yang benar, seseorang akan selamat dari kesesatan dalam beribadah kepada Allah azza wa jalla, sehingga mudah untuk masuk ke dalam SurgaNya dan sebaliknya, tanpa akidah yang benar, maka seseorang akan mudah tersesat dalam kesyirikan yang akan membawanya masuk ke dalam api Neraka.

Allah azza wa jalla berfirman;

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”
(Surat Al-Kahfi: ayat 110)

Coba kita perhatikan! Di zaman ini banyak permainan anak-anak yang mengandung kesyirikan. Itu semua disebabkan kejahilan dan buruknya akidah mereka dan orang tuanya. Maka, segera perhatikan akidah anak-anak kita dan ajarkan akidah yang benar kepada mereka! Ingat, dalam hal kebaikan apapun, tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya!

Maka perbaikan tersebut harus diawali oleh orang tuanya, dengan belajar akidah yang lurus dan ilmu islam yang benar kepada ustadz atau ulama lainnya yang sudah jelas diketahui akidahnya selamat dari kesesatan dan manhaj (cara beragama) yang lurus dari penyimpangan. Jadi, jangan asal pilih guru dan tempat belajar!

Imam Malik rahimahullah berkata;

لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ، وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ، وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْلِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ
“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: Orang bodoh yang nyata kebodohannya, Pengikut hawa nafsu yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, Orang yang dikenal dusta dalam pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Seorang yang mulia dan shalih namun, tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan.”
(Jami Bayaani Al-Ilmi, hlm.348)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah, no.224)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata;

اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ
“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ilmu adalah agama!”
(Al-Kifayatu, hlm.121)

Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata;

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ مِنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ، وَ تَفَرَّقَتْ أَهْوَاءُهُمْ، هَلَكُوْا
“Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para Sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan dari orang-orang besar (Ahlussunnah). Jika ilmu datang dari arah orang-orang kecil (Ahli Bidah) dan hawa nafsu mereka bercerai-berai, maka binasalah mereka!”
(Az-Zuhud, hlm.281)

3. Menjelaskan Tujuan Allah Menciptakan Makhluk

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.”
(Surat Adz-Dzariyat: ayat 56)

Ingat, Allah tidak akan menciptakan kita sia-sia! Pasti ada suatu perintah yang harus kita jalankan dan ada larangan yang harus kita tinggalkan. Sudah sangat jelas, bahwa kita diciptakan di dunia itu untuk beribadah kepada Allah bukan untuk bermain, bekerja, bersenang-senang, berpoya-poya dan berbagai kegiatan lain yang melalaikan.

Berikan pemahaman kepada mereka tentang arti hidup di dunia ini adalah hanya sementara, tidak akan lama.

Allah jalla wa alaa berfirman;

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah tempat yang kekal.”
(Surat Ghafir: ayat 39)

Kehidupan di dunia ini seperti sebuah permainan, yang saking serunya tidak terasa sangat cepat selesai (tamat). Membuat para pemainnya terlena, lupa waktu dan lupa segalanya.

Allah azza wa jalla juga berfirman;

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ  كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan dan sebagai perhiasan, dan di antara kalian saling bermegah-megahan serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang membuat tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat ada adzab yang keras dan ada ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(Surat Al-Hadid: ayat 20)

Ternyata dunia adalah kehidupan yang menipu. Membuat banyak manusia tertipu dari kesenangan yang abadi dengan kesenangan yang sementara.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(Surat Ali Imran: ayat 185)

Sehingga banyak manusia yang mendapatkan kerugian dari pada mendapatkan kebahagiaan hidup yang abadi di surgaNya Allah, karena tertipu dan terlalaikan oleh kesenangan hidup di dunia yang fana dan hina.

4. Menjadikan Akhirat Sebagai Tujuan Hidup

Dari Sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu, dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barang siapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan (mengacaukan) urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya dan dia tidak mendapatkan dunia, kecuali sesuai ketentuan yang telah ditetapkan untuknya. Barang siapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”
(HR. Ibnu Majah, no.4105. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Oleh karena itu, jadikanlah akhirat sebagai tujuan hidup diri kita dan anak keturunan kita!

Sudah terbukti, bagi manusia yang terlalu ambisi, terlalu semangat mencari dunia, bukannya kemudahan dan kelapangan yang didapat namun, malah kesulitan dan kesempitan yang mereka dapatkan di kehidupannya. Dan point ini yang perlu kita tanamkan dalam diri kita dan anak-anak, sejak saat ini juga!

Sehingga konsekuensinya, tanamkan di dalam hati kita dan anak-anak, untuk semangat bersedekah dari pada menabung. Karena sedekah adalah simpanan kita di akhirat dan itulah harta milik kita yang sebenarnya. Sedangkan, menabung adalah simpanan kita di dunia dan itu belum tentu menjadi milik kita, karena ketika tabungan tersebut dicuri maka menjadi milik pencuri, ketika terbakar maka akan menjadi debu dan ketika kita wafat maka tabungan tersebut menjadi hak ahli waris. Cobalah merenung sejenak!

Dunia itu ibarat bayangan. Semakin kamu mengejarnya, maka kamu akan semakin lelah dan tidak mungkin dapat mengejarnya. Solusinya, kamu palingkan dirimu darinya! Maka tidak ada pilihan lain untuk dunia, kecuali ia akan mengikuti dan mengejarmu.

Karena sebetulnya dunia itu akan mengikuti kita, sebagaimana kematian. Kemana pun kita pergi, ia pasti akan menemui kita.

B. BANYAK KETURUNAN ITU BANYAK REZEKI

Pada zaman dahulu, ada sebuah ungkapan: Banyak anak, banyak rezeki. Dan ternyata ungkapan tersebut dibenarkan juga oleh syariat Islam.

Allah azza wa jalla berfirman;

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ
“Maka sekarang campurilah mereka (para istri) dan carilah sesuatu yang sudah ditetapkan Allah untuk kalian!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, menjelaskan kalimat ‘sesuatu yang telah ditetapkan Allah untuk kalian’, beliau berkata;
“Sebagaimana Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas, Ikrimah, Said bin Jubair dan yang lainnya mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah anak.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 1:512)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ
“Nikahilah oleh kalian wanita yang pencinta dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian terhadap umat-umat yang lain.”
(HR. Abu Dawud, no.2052, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Hadits di atas adalah perintah dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya agar menikah dengan wanita yang subur, agar umatnya dapat melahirkan keturunan yang banyak. Beliau ingin jika umat islam banyak anak, agar semakin banyak juga pengikut beliau, sehingga beliau dapat merasa bahagia dengan banyaknya jumlah pengikutnya pada hari kiamat di hadapan para Nabi yang lain, beserta para umatnya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia wafat, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang berdoa untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.1631)

Anak adalah anugerah, kehadiran mereka adalah nikmat. Anak dan keturunan dapat mendatangkan banyak kebaikan dan dalam kehidupan rumah tangga, anak-keturunan ibarat tali pengikat yang dapat menguatkan hubungan antara suami-istri. Dan hal tersebut, dapat menjadi sebab terciptanya keharmonisan dalam rumah tangga, berupa sakinah, mawaddah dan rahmah.

Dilihat dari sisi ini saja, anak-anak dengan sendirinya merupakan rezeki Allah untuk manusia. Allah menjanjikan bahwa setiap anak yang terlahir akan Allah jamin rezekinya. Jadi, tidak perlu takut untuk punya anak banyak! Karena Allah sudah menjamin rezeki kita dan anak-keturunan kita.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan! Kami yang akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.”
(Surat Al-Anam: ayat 151)

Ibnu Al-Manzhur rahimahullah menjelaskan;
“Ar-rizqu adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya dan terdiri dari dua macam. Pertama; yang bersifat zhahirah (terlihat), semisal makanan pokok. Kedua; yang bersifat bathinah (tidak terlihat) untuk hati dan jiwa, berupa ilmu pengetahuan.”
(Lisanu Al-Arab, 10:1115)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk pada 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”
(HR. Imam Muslim, no.2653)

Dalam riwayat yang lain disebutkan;

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan (setelah arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman: tulislah! Maka pena berkata: apa yang harus aku tulis? Allah berfirman: tulislah takdir berbagai kejadian dan yang akan terjadi selamanya!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2155. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

Sibukkanlah pikiran kita untuk memikirkan setiap yang diperintahkan Allah kepada kita! Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untuk kita! Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah Allah jamin untuk seluruh makhlukNya. Selama masih ada sisa usia, rezeki pasti datang. Jika Allah dengan hikmahNya berkehendak untuk menutup salah satu jalan rezeki kita, Allah pasti dengan rahmatNya akan membukakan jalan rezeki lain yang lebih bermanfaat untuk kita.

Jadi, khawatirkanlah sesuatu yang belum jelas dijamin untuk diri kita, yaitu berupa Surga atau kah Neraka yang nanti akan menjadi tempat tinggal kita di akhirat! Dan tidak perlu kita khawatirkan tentang sesuatu yang sudah jelas dijamin untuk kita, yaitu berupa rezeki dan ajal. Kita mau pergi kemana pun, keduanya pasti akan datang kepada kita.

Sekali lagi, rezeki Allah azza wa jalla meliputi setiap makhluk hidup. Limpahan karunia (pemberian) Allah adalah cerminan rahmat dan kemurahanNya. Porsi rezeki masing-masing makhluk sudah ditentukan ketika manusia itu masih berupa janin, berusia 120 hari (4 bulan).

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menceritakan tentang proses penciptaan seorang manusia dalam sabdanya;

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
“Sesungguhnya seseorang di antara kalian mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang Malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan hidupnya sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada Rabb selain Dia, sungguh ada seseorang dari kalian yang mengerjakan amal perbuatan ahli Surga, hingga jarak antara dirinya dan Surga hanyalah satu hasta namun, suratan takdir sudah ditetapkan baginya, hingga dia mengerjakan amal perbuatan ahli Neraka dan akhirnya dia pun masuk Neraka. Ada juga orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli Neraka, hingga jarak antara dia dan Neraka hanya satu hasta, namun, suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian dia mengerjakan amal perbuatan ahli Surga dan akhirnya dia pun masuk Surga.”
(HR. Imam Muslim, no.4781)

Meski pun rezeki sudah ditetapkan semenjak manusia berada di perut ibunya, tetapi Allah azza wa jalla tidak menjelaskan secara detail mengenai ukuran atau porsinya. Sehingga tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui pendapatan rezeki yang akan dia peroleh pada setiap harinya, ataupun selama hidupnya. Dan ini semua mengandung pelajaran untuk semua makhlukNya yang berakal.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا
“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) sesuatu yang akan diperolehnya besok.”
(Surat Luqman: ayat 34)

Maka syukuri setiap nikmat yang kita dapatkan hari ini dengan beribadah kepadaNya dan berdoalah kepada Allah, semoga Allah mencukupkan kita dengan rezekiNya yang halal lagi baik. Karena makna syukur itu bukan hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah. Tapi, itu harus dibuktikan dengan mentaati semua perintahNya dan meninggalkan semua hal yang dilarangNya.

Sebagaimana anda ketika bekerja di sebuah instansi, ketika anda mendapatkan gaji atau upah, kemungkinan anda akan semakin semangat bekerja ataukah semakin malas?

Ingatlah, masalah rezeki selain sudah diatur oleh Allah, ternyata sudah dibagi juga dengan adil oleh Allah.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan kalau saja Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah tetap menurunkan sesuatu yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia maha mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi maha melihat.”
(Surat Asy-Syura: ayat 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Allah memberi rezeki kepada mereka sesuai dengan pilihanNya dan Allah selalu melihat, manakah yang baik untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah yang memberikan kekayaan untuk mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah yang memberikan kefakiran untuk mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6:553)

C. MENCARI REZEKI YANG HALAL

Allah dan RasulNya memerintahkan kita untuk terus berusaha dan istiqamah dalam mencari rezeki yang halal lagi thayyib (baik), sehingga rezeki yang kita dapatkan menjadi berkah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
“Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah! Gunakanlah cara yang baik dalam mencari (rezeki)! Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal dunia sampai dia sudah mendapatkan seluruh (bagian) rezekinya, meskipun tertunda darinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan dengan cara yang baik dalam mencari (rezeki)!”
(HR. Ibnu Majah, At-Tijarat, 2:724. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengingatkan, hendaknya berhati-hati dari fitnah harta. Jangan meremehkan pentingnya mencari rezeki yang halal dan harus selektif juga dalam mencari rezeki.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

َيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
“Akan datang suatu zaman pada manusia yang ketika itu seseorang tidak peduli lagi tentang sesuatu yang didapatnya, apakah dari sesuatu yang halal ataukah haram.”
(HR. Imam Bukhari, no.1918)

Seharusnya kita berusaha untuk terus bersabar dalam mencari rezeki yang halal, jika kita tidak ingin dikurangi jatah rezekinya oleh Allah azza wa jalla.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;
“Tidaklah seorang mukmin dan seorang fajir (yang gemar bermaksiat), kecuali sudah ditetapkan rezeki untuknya dari yang halal. Jika mereka mau bersabar sampai Allah memberikan rezekiNya kepada mereka, pasti Allah akan memberinya. Namun, jika mereka tidak sabar lantas mereka tempuh cara yang haram untuk mendapatkannya, pasti Allah akan mengurangi jatah rezeki yang halal untuknya.”
(Hilyatu Al-Auliya, 1:326)

Pertanyaan: Kenapa kita harus mencari rezeki yang halal?
Jawaban: Karena rezeki yang halal akan membawa keberkahan.

Dari Sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya;

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَهُ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنْ النَّاسِ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ رَحِمَهُ اللَّهُ
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis, maka barang siapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya, maka harta itu akan memberkahinya. Namun, barang siapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun, tidak pernah kenyang. Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Hakim berkata: Aku katakan: Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan mengurangi hak seorangpun (untuk aku ambil) sepeninggal engkau, hingga aku meninggalkan dunia ini. Suatu saat, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu kepadanya namun, dia menolak untuk menerima pemberiannya. Kemudian Umar radhiyallahu anhu juga pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu namun, Hakim juga menolak untuk menerimanya. Maka Umar radhiyallahu anhu berkata: Aku bersaksi kepada kalian, wahai kaum Muslimin tentang Hakim. Sungguh aku pernah menawarkan kepadanya tentang haknya dari harta faiy (harta musuh tanpa peperangan) ini agar dia datang dan mengambilnya. Sungguh Hakim tidak pernah mengurangi hak seorang pun sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hingga dia wafat, semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2545)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa mayoritas manusia tidak memahami keberadaan berkah, kecuali pada harta yang semakin bertambah banyak nominalnya. Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan dengan perumpamaan tersebut, bahwa berkah merupakan salah satu makhluk Allah dan membawakan permisalan yang sudah dipahami oleh manusia.”
(Fathu Al-Baari, 3:337)

Dari penjelasan tersebut kita bisa mengetahui, bahwa cara-cara yang dibolehkan oleh Islam dalam mencari rezeki itu tidak hanya akan mendatangkan rezeki yang halal lagi baik, tapi juga akan berpengaruh pada lahirnya manusia generasi masa depan, yaitu anak-anak yang berjiwa bersih lagi berkepribadian mulia, karena mendapatkan asupan gizi dari makanan yang halal. Selain itu, dapat menghadirkan juga karunia lain, yang tidak bisa terlihat oleh indra manusia dan dihitung oleh kecanggihan teknologi, yaitu berkah.

Jadi rezeki yang berkah itu bukan cuma nominalnya yang banyak, tapi yang manfaatnya banyak. Karena meski pun banyak nominalnya namun, tidak bermanfaat, untuk apa?

Maka jika ingin memiliki harta yang berkah, segera manfaatkan harta yang anda miliki untuk beribadah kepada Allah dan menolong makhluk Allah!

Ibnu Hazm rahimahullah berkata;

كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ
“Setiap nikmat (rezeki) yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah (beribadah), itu hanyalah musibah.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:82)

Dari Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang sangat bermanfaat untuk manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat seorang muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahan orang lain atau membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”
(HR. At-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, no.13280. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Maka siapa pun yang ingin hartanya bermanfaat sehingga menjadi berkah, segera amalkan nasihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut!

D. BANYAK BERDOA KEPADA ALLAH

1. Doa Memohon Istri Dan Anak Agar Menjadi Penyenang Hati.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan anak-keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam untuk orang-orang yang bertakwa!”
(Surat Al-Furqan: ayat 74)

Bagi seorang muslim yang ingin memperbaiki kepribadiannya, istri dan anak-keturunannya, maka sangat dianjurkan untuk banyak membaca doa tersebut.

2. Doa Meminta Banyak Harta Dan Anak.

اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي
“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku!”
(HR. Imam Bukhari, no.6334)

Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pernah mendoakan anaknya Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu anhuma dengan doa tersebut.

Berdasarkan hal ini, seseorang bisa juga berdoa kepada Allah untuk meminta banyak keturunan yang shalih.

3. Doa Meminta Agar Diberikan Keturunan.

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
“Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pemberi waris yang terbaik!”
(Surat Al-Anbiya: ayat 89)

Doa tersebut adalah doa yang biasa dibaca oleh Nabi Zakariya alaihissalam.

4. Doa Meminta Anak Shalih.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”
(Surat Ash-Shaffat: ayat 100)

Doa tersebut adalah doa yang biasa dibaca oleh Nabi Ibrahim alaihissalam.

5. Doa Meminta Surga Dan Berlindung Dari Api Neraka.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
“Ya Allah, aku mohon kepadaMu Surga dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka.”
(HR. Abu Dawud, no.792. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam berdoa. Jika kita ingin Allah mengabulkan doa dan keinginan kita, maka konsumsilah makanan dan minuman yang halal! Karena makanan dan minuman yang syubhat (samar antara halal atau haramnya) atau pun yang jelas haramnya, itu akan mempengaruhi doa kita, sehingga tidak dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu, kecuali dari yang thayyib. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman seperti yang diperintahkanNya kepada para Rasul. Sebagaimana firmanNya: Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih! Sesungguhnya Aku maha mengetahui sesuatu yang kalian kerjakan. Dan Allah juga berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik, yang telah kami rezekikan kepada kalian! Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Orang tersebut mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: Wahai Rabbku, wahai Rabbku! Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram. Maka bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doanya?”
(HR. Imam Muslim, no.1015)

Dari berbagai penjelasan di atas, kita bisa paham bahwa untuk menjadikan anak dan keturunan sebagai sebab orang tuanya masuk Surga, bahkan mereka juga bisa berkumpul kembali bersama kita disurgaNya Allah azza wa jalla, yaitu dengan sebab keshalihan mereka. Dan membuat mereka menjadi shalih itu hanya bisa dengan cara mendidiknya menggunakan akhlak dan ilmu, memberikan rezeki, serta makanan yang halal lagi baik dan mendoakan kebaikan (keshalihan) untuknya.

Hal tersebut bisa terwujud jika kita punya ilmu, sedangkan ilmu bisa didapatkan hanya dengan belajar dan belajar hanya bisa dilakukan di majelis ilmu dengan istiqamah.

Karena sebaliknya, jika kita tidak mau melakukan hal-hal tersebut, maka bersiaplah anak dan keturunan kita akan menjadi sebab kita selaku orang tuanya masuk ke dalam NerakaNya Allah azza wa jalla dan akan kembali berkumpul bersama mereka di dalamnya. Waliyyadzubillah!

Semoga Allah selalu membantu kita untuk mengamalkan setiap ilmu yang sudah kita pelajari dan mendakwahkannya dengan istiqamah.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat melakukan amal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(Surat Al-Ahqaf: ayat 15)

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِى خَيْرًا
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu Surga dan semua hal yang mendekatkan padanya, dari perkataan mau pun perbuatan. Dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka dan dari semua hal yang mendekatkan padanya, dari perkataan mau pun perbuatan. Dan aku mohon kepadaMu agar Engkau jadikan setiap yang Engkau takdirkan untukku adalah baik.”
(HR. Ibnu Majah, no.3846. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)
_____
Alhamdulillaah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, selesai ditulis pada malam hari di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Rabu, 10 Syaban 1439H/25 April 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaPesta Pernikahan Islami
Artikel sesudahnyaKetika Buah Hati Belum Dimiliki
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here