Beranda Belajar Islam Amalan Pesta Pernikahan Islami

Pesta Pernikahan Islami

501
0
BERBAGI

Pesta Pernikahan Islami

Setelah Penulis menyelesaikan tulisannya yang berjudul “Rute Menjemput Jodoh”, yang membahas proses awal seorang lelaki mengungkapkan ketertarikannya terhadap seorang wanita kepada orang tuanya atau walinya, untuk dinikahinya dengan meminangnya terlebih dahulu.

Selanjutnya pada tulisan kali ini, Penulis akan membahas cara menyelenggarakan pesta pernikahan (walimatul urs) Islami, maksudnya resepsi yang sesuai konsep Islam. Agar kebiasaan buruk yang sudah terjadi di negeri kita ini, perlahan mulai membaik dengan kembali mengikuti konsep Islam. Dan hendaknya merasa banggalah kita sebagai orang yang beragama Islam, dengan terus berusaha menerapkan konsep Islam dalam kehidupan kita.

Sesuai kebiasaan (urf) masyarakat, yang namanya walimah pernikahan maka diselenggarakan setelah akad nikah, bukan sebelumnya.

Meski pun ulama berselisih pendapat mengenai: Apakah walimah itu diselenggarakan setelah kedua mempelai bertemu (setelah akad nikah) atau setelah berhubungan badan (malam pertama)? Namun, itu semua berkenaan afdhaliyyah (keutamaan) dan pada dasarnya itu dikembalikan kepada urf yang berlaku di masyarakat, yang intinya walimah itu diselenggarakan setelah akad nikah.

Dalam membuat pesta pernikahan bukan berbicara megah, mewah, melainkan ikutilah sunnah! Karena dengan kita melakukan amalan sunnah, itu sebagai bentuk cinta kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan sunnah merupakan bagian dari Islam. Karena agama Islam berdiri di atas 2 pilar, yaitu: Al-Quran (firman Allah) dan As-Sunnah (sunnah Rasulullah).

Maka dari itu sangat pentingnya amalan sunnah untuk diterapkan dalam kehidupan kita, sebagai orang yang mengaku beragama Islam dan umatnya Rasulullah, sehingga perlu ilmu, usaha dan komitmen yang kuat untuk mengamalkannya.

Abdullah bin Masud radhiyallaahu anhu berkata;
“Seandainya aku tahu ajalku tersisa 10 hari lagi, sungguh aku lebih suka untuk mengisinya dengan menikah. Aku ingin pada malam-malam yang tersisa bersama seorang istri yang tidak berpisah dariku.”
(Mushannaf Abdurrazzaq, no.10382)

A. Akad Nikah

Setelah melalui masa khitbah, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan akad nikah, yang dengannya menjadi halal wanita yang dipinang. Dan perlu diketahui juga, ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi ketika akad nikah, di antaranya;

1. Adanya wali.
Wali adalah orang yang paling dekat nasabnya dengan si wanita dan orang yang paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya dan nasab ke atas seterusnya.

Boleh juga anak laki-lakinya wanita dan cucu laki-lakinya, kemudian saudara laki-laki seayah-seibu ataupun seayah (kakak/adik), kemudian (keponakan) baik seayah-seibu ataupun seayah, paman dari ayah, kemudian anak laki-laki dari paman (sepupu), saudara laki-laki kakek (paman dari ayah), kemudian anak laki-laki mereka. Lalu sulthan (penguasa) juga bisa menjadi wali bagi wanita yang tidak memiliki wali.
(Al-Mughni, 9:129-135)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah menjelaskan;
“Para ulama berbeda pendapat tentang wali. Jumhur (mayoritas) ulama, di antaranya Imam Malik, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Laits, Imam Asy-Syafii dan para Imam yang lainnya, menyatakan: Wali dalam pernikahan adalah ashabah (dari pihak ayah), sedangkan paman, ayah dan saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali.”
(Fathu Al-Bari, 9:187)

• Mengapa seorang wanita ketika akan menikah harus memiliki wali?

Karena Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita sebagai penghormatan bagi wanita tersebut, memuliakan serta menjaga masa depannya dan ini semata untuk menutupi pintu zina. Sehingga, wajib adanya wali yang membimbing urusan wanita, mengurus akad nikahnya dan tidak boleh baginya menikah tanpa wali, karena jika terjadi maka pernikahannya tidak sah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَالْمَهْرُ لَهَا بِمَا أَصَابَ مِنْهَا فَإِنْ تَشَاجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
“Setiap wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya adalah batal. Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Apabila dia tleah mencampurinya, maka baginya mahar karena sesuatu yang dia peroleh darinya, kemudian apabila mereka berselisih, maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.”
(HR. Abu Dawud, no.2083)

Dalam riwayat yang lain, Nabi bersabda;

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
“Tidak sah pernikahan melainkan dengan wali.”
(HR. Abu Dawud, no.2085)

Jadi, pihak yang berhak mewalikan pernikahan seorang wanita adalah orang yang memiliki nasab keturunan terdekat dengan si wanita tersebut. Ada pun penguasa atau naib (pengganti) yang biasanya dari pihak KUA, hanya boleh mewalikan jika memang wanita tersebut tidak memiliki wali sama sekali, dan inilah syariat Islam. Maka ikuti dan jangan dirubah! Dan hukum wali ini berlaku bagi wanita, baik yang masih gadis mau pun janda.

2. Harus meminta persetujuan si wanita.
Apabila pernikahan tidak sah jika tanpa wali, maka termasuk keharusan dan kewajiban juga untuk meminta persetujuan, keridhaan dari wanita yang berada di bawah perwaliannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ تَسْكُتَ
“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah dimintai persetujuannya. Sedangkan, seorang gadis juga tidak boleh dinikahkan kecuali setelah dimintai izinnya. Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, seperti apakah izinnya? Beliau menjawab: Jika dia diam saja.”
(HR. Imam Bukhari, no.5136)

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhumaa bercerita;

أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Bahwasannya ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah dan mengadu bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan dia tidak ridha dengan lelaki tersebut. Maka Rasulullah menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ingin meneruskan pernikahannya ataukah ingin membatalkannya?)”
(HR. Abu Dawud, no.2096)

3. Adanya mahar atau mas kawin.
Mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya, dengan sebab pernikahan, dan tidak boleh diberikan kepada seorang wanita sebelum menjadi Istrinya. Mahar atau mas kawin adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh lelaki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang istri, dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, kecuali jika dia ridha.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَاٰ تُوا النِّسَآءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً
“Berikanlah kepada wanita-wanita itu mas kawin (mahar) sebagai pemberian karena ketulusan dan kerelaan!”
(Surat An-Nisa: ayat 4)

Islam melarang bermahal-mahal, bermewah-mewahan dalam menentukan mahar. Bahkan dianjurkan untuk meringankan mahar, agar mempermudah proses pernikahan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَيْسِيْرُ خِطْبَتِهَا، وَتَيْسِيرُ صَدَاقِهَا، وَتَيْسِيْرُ رَحِمِهَا
“Sesungguhnya di antara tanda kebaikan seorang wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.”
(HR. As-Sakhawi, Al-Maqashid Al-Hasanah, no.244. Hadits ini sanadnya baik)

Urwah berkata: Maksud dari mudah rahimnya yaitu rahimnya mudah melahirkan (subur).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ
“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.”
(HR. Abu Dawud, no.2117)

• Bagaimana jika seorang lelaki yang akan menikah tidak memiliki harta sama sekali untuk dijadikan mahar?

Maka seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu apa pun untuk dijadikan mahar, maka dia boleh membayar mahar tersebut dengan mengajarkan ayat Al-Quran yang dihafalnya.

Sebagaimana Sahabat Sahl bin Sa’d As-Saidi radhiyallahu anhu bercerita;

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي قَالَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ فِيهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ فَلَمَّا رَأَتْ الْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا فَقَالَ وَهَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ اذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لَا وَاللَّهِ مَا وَجَدْتُ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي قَالَ سَهْلٌ مَا لَهُ رِدَاءٌ فَلَهَا نِصْفُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ مِنْهُ شَيْءٌ فَجَلَسَ الرَّجُلُ حَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسُهُ قَامَ فَرَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُوَلِّيًا فَأَمَرَ بِهِ فَدُعِيَ فَلَمَّا جَاءَ قَالَ مَاذَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا عَدَّدَهَا فَقَالَ تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اذْهَبْ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ
“Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku untuk anda. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memandangi wanita tersebut, beliau arahkan pandangannya ke atas dan ke bawah, lalu beliau menundukkkan kepalanya. Maka wanita itu melihat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memberi putusan apa pun terkait dengan dirinya, maka dia pun duduk. Tiba-tiba seorang sahabat berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, jika anda tidak berhasrat kepada wanita itu maka nikahkanlah aku dengannya. Maka beliau pun bertanya: Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk dijadikan mahar)? Sahabat itu menjawab: Tidak, demi Allah wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Pergilah kepada keluargamu, dan lihatlah barang kali ada sesuatu. Laki-laki itu pun pergi dan kembali seraya berkata: Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak mendapatkan sesuatu. Beliau bersabda lagi: Lihatlah, meski pun yang ada hanyalah cincin dari besi. Laki-laki itu pergi, kemudian kembali dan berkata: Tidak, demi Allah wahai Rasulullah meski pun hanya cincin besi. Akan tetapi aku mempunya kain ini. Sahl berkata: Dia tidak memiliki kain kecuali setengah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda: Apa yang dapat kamu lakukan dengan kainmu itu. Jika kamu memakainya maka dia tidak akan kebagian, dan jika dia memakainya maka tidak akan kebagian. Akhirnya laki-laki itu duduk hingga lama, lalu dia beranjak. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun melihatnya hendak pulang. Maka beliau memerintahkan seseorang agar memanggilnya. Ketika laki-laki itu datang, beliau bertanya: Surat apa yang kamu hafal dari Al-Quran. Dia berkata: Yaitu surat ini. Dia menghitungnya. Beliau bersabda: Apakah kamu menghafalnya dengan baik? laki-laki itu menjawab: Ya. Akhirnya beliau bersabda: Sesungguhnya aku telah menikahkanmu dengan wanita tersebut dengan mahar hafalan Al-Quranmu.”
(HR. Imam Bukhari, no.5087)

Jadi, bukan hanya sekedar membacakannya saja seperti yang dilakukan oleh kebanyakan lelaki muslim saat ini. Tapi lebih dari itu, yaitu mengajarkannya. Baik dari segi hukum bacaannya, makna dan tafsirnya, serta cara mengamalkannya.

4. Khutbah nikah.
Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Sesuai sunnah Rasulullah sebelum dilaksanakan akad nikah, hendaknya diadakan khutbatun nikah atau khutbatul hajat.”
(Khutbah Al-Hajrah, Syaikh Al-Albani)

Maka perlu dipahami, yang dimaksud dengan disunnahkan membaca khutbah nikah menjelang akad nikah adalah dengan membaca;

إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ نَحْمَدُهُ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. KepadaNya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.”

Lalu membaca;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam!”
(Surat Ali Imran: ayat 102)

Lalu membaca;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, serta darinya Allah menciptakan istrinya dan keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) namaNya kalian saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.”
(Surat An-Nisa: ayat 1)

Lalu membaca;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 70-71)

Lalu membaca;

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Amma badu: “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (dalam agama) dan setiap yang baru itu adalah bidah dan setiap bidah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”
(HR. Abu Dawud, no.1097)

Intinya, khutbah nikah atau khutbah hajah itu harus mengandung kalimat tasyahud (persaksian) yang merupakan kalimat tauhid, karena Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu menjelaskan;

كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيْهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ
“Setiap khutbah yang tidak terdapat tasyahud di dalamnya, maka ia seperti tangan yang berpenyakit kusta atau yang terpotong.”
(HR. Abu Dawud, no.4841)

Khutbah nikah ini hendaknya dibacakan oleh wali dari mempelai wanita sebelum mengucapkan kalimat ijab terhadap mempelai pria, atau sebelum melakukan akad nikah. Dan untuk nasihat pernikahan boleh dilakukan sebelum akad nikah atau setelah setelah akad nikah. Karena nasihat pernikahan adalah sesuatu yang sangat baik, mengandung banyak faidah ilmu untuk kedua mempelai, dan untuk semua orang-orang yang hadir pada majelis akad nikah tersebut sebagai bekal mereka menjalani rumah tangganya.

Disebabkan karena tidak adanya dalil shahih dari Al-Quran dan As-Sunnah yang menjelaskan ketentuan waktu pelaksanaan nasihat pernikahan pada majelis akad nikah, sehingga kita tidak boleh meyakini nasihat pernikahan termasuk amalan sunnah yang harus dilakukan pada majelis akad nikah yang harus dilakukan secara rutin pada waktu yang sudah ditentukan. Karena hal semacam ini yang akan menjadi sebab amalan bidah muncul. Sebagaimana Rasulullah menyatakan, setiap amalan yang Rasulullah tidak perintahkan dan contohkan, maka tidak boleh ada satu pun orang yang memerintahkannya atau pun melakukannya, apalagi merutinkannya.

Termasuk kasus nasihat pernikahan, meski pun hal tersebut tidak diperintahkan secara tekstual oleh Rasulullah namun, hal tersebut masuk dalam keumuman dalil yang memerintahkan kita untuk saling memberi nasihat dan mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran. Sehingga jika hal yang banyak manfaat (mashlahat) semacam ini dilakukan secara terkadang saja, maka hal ini tidak terlarang (boleh). Namun, bisa menjadi terlarang, jika dilakukan secara rutin.

5. Pelaksanaan ijab-qabul.
Di antara rukun nikah adalah adanya ijab-qabul. Ijab adalah perkataan wali pengantin wanita kepada pengantin pria, misal: “Zawwajtuka ibnatii…”, (saya nikahkan kamu dengan putriku…). Sedangkan qabul adalah ucapan pengantin pria, misal: “Saya terima…”. Jika sudah dilakukan ijab-qabul dan dihadiri dua saksi laki-laki atau diumumkan (diketahui oleh masyarakat), maka nikahnya sah.

Dalam pengucapan ijab-qabul, tidak disyaratkan harus menggunakan kalimat tertentu. Akan tetapi, semua kalimat yang dikenal masyarakat sebagai kalimat ijab-qabul akad nikah, maka boleh digunakan dan status nikahnya tetap sah.

Pihak Lajnah Daimah pernah ditanya mengenai lafazh nikah. Mereka menjawab;
“Semua kalimat yang menunjukkan ijab-qabul, maka akad nikahnya sah dengan menggunakan kalimat tersebut, menurut pendapat yang lebih kuat. Di antara kalimat yang paling tegas adalah kalimat: Zawwajtuka atau ankahtuka (aku nikahkan kamu), kemudian mallaktuka (aku serahkan kepadamu).”
(Fatawa Lajnah Daimah, 17:82)

a. Bolehkah akad nikah (ijab-qabul) dengan bahasa selain bahasa Arab?
Menurut pendapat yang lebih kuat; “Bahwa akad nikah tetap sah dengan selain bahasa Arab, meski pun dia bisa berbahasa Arab. Mayoritas ulama berpendapat: Bahwa orang yang tidak bisa bahasa Arab boleh melakukan akad nikah dengan bahasa kesehariannya. Karena dia tidak mampu berbahasa arab, sehingga tidak harus menggunakan bahasa Arab, sebagaimana orang bisu. Meski pun terdapat perselisihan para ulama tentang akad nikah dengan selain bahasa Arab, yang kesimpulannya: Akad nikah tetap sah dengan bahasa apa pun, meski pun orangnya bisa bahasa Arab. Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah, Syafiiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qudamah rahimahumullah. Dalam hal ini kedudukan bahasa selain Arab dengan bahasa Arab sama saja. Karena Orang yang menggunakan bahasa selain Arab, memiliki maksud yang sama dengan orang yang berbahasa Arab.”
(Mausuah Fiqhiyah Kuwaitiyyah: 11:174)

b. Apakah nama pengantin wanita harus disebutkan?
Di antara syarat sahnya pernikahan adalah adanya kejelasan masing-masing pengantin. Seperti menyebut nama pengantin wanita atau dengan isyarat tunjuk, jika pengantin ada di tempat akad. Misalnya: Seorang wali pengantin wanita berkata kepada pengantin lelaki: Aku nikahkan kamu dengan anak ini. Kemudian si wali menunjuk putrinya yang berada di sebelahnya, maka hukum akad nikahnya sah.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan;
“Di antara syarat nikah adalah adanya kejelasan pengantin. Karena orang yang melakukan akad dan yang diakadkan harus jelas. Kemudian dilihat, jika pengantin wanita ada di tempat akad, kemudian wali mengatakan: Saya nikahkan kamu dengan anak ini. Maka akad nikahnya sah. Karena isyarat sudah dianggap sebagai penjelasan. Jika ditambahi, misalnya dengan mengatakan: Saya nikahkan kamu dengan anakku yang ini atau dengan anakku yang bernama Fulanah. Maka ini sifatnya hanya menguatkan makna. Namun, jika pengantin wanita tidak ada di tempat akad, maka ada dua keadaan: 1. Wali hanya memiliki satu anak perempuan, maka dia boleh mengatakan: Saya nikahkan kamu dengan putriku, jika disebutkan namanya maka statusnya hanya menguatkan. 2. Wali nikah memiliki anak perempuan lebih dari satu. Wali ini tidak boleh menggunakan kalimat umum, misalnya mengatakan: Saya nikahkan kamu dengan putriku. Dalam keadaan ini akad nikahnya tidak sah, sampai si wali menyebutkan ciri khas salah satu putrinya yang hendak dia nikahkan, baik dengan menyebut nama atau sifatnya. Misalnya dia mengatakan: Saya nikahkan kamu dengan putriku yang pertama atau yang bernama…”
(Al-Mughni, 7:444)

B. Persiapan Pesta Pernikahan

Walimah adalah istilah untuk makanan yang dihidangkan secara khusus dalam resepsi pernikahan.
(Shahih Fiqh Sunnah, 3:182)

Walimatul urs atau resepsi pernikahan hukumnya wajib. Ini adalah pendapat Imam Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hazm Az-Zahiri rahimahumullah, berdasarkan perintah Nabi kepada Sahabat Abdurrahman radhiyallahu anhu agar mengadakan walimah. Sedangkan, jumhur ulama menganggap walimah hukumnya sunnah muakkad dan diselenggarakannya dengan sederhana, tidak perlu mewah.

Sebagaimana Rasulullah bersabda;

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ
“Selenggarakanlah walimah, meski hanya dengan menyembelih seekor kambing!”
(HR. Imam Bukhari, no.2049)

Ingat, tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak untuk menyelenggarakan walimah! Karena itu bukan konsep Islam, sehingga perlu ada usaha dari kita untuk memperbaiki kebiasaan buruk yang biasa masyarakat lakukan tersebut. Karena segala suatu yang berlebihan itu tidaklah baik. Karena yang Nabi ajarkan kepada umatnya adalah untuk menyelenggarakan walimah dengan sederhana.

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyalllahu anhumaa berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ، فَإِنَّمَـا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِيْ الدِّيْنِ
“Dan jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (berlebihan) dalam masalah agama! Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama.”
(HR. Imam Ahmad, no.215)

Hilangkan sifat gengsi dan tidak perlu dengarkan omongan orang! Karena tidak mengapa kita dicela oleh banyak manusia, asalkan kita tidak dicela oleh Allah dan RasulNya. Salah satu hikmah dan perintah Nabi untuk menyederhanakan walimah adalah agar sisa uang yang ada, bisa digunakan sebagai bekal perjalanan rumah tangga baru kedua mempelai dan untuk kebutuhan lainnya.

1. Konsep persiapan resepsi pernikahan Islami.
a. Mengundang orang miskin dan orang kaya.
Rasulullah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang mengadakan walimah agar tidak hanya mengundang orang kaya, melainkan turut mengundang orang-orang miskin juga.

Mengapa demikian? Karena makanan-minuman yang paling buruk adalah yang dihidangkan hanya untuk orang-orang kaya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah yang di dalamnya hanya mengundang orang-orang kaya untuk makan, sedangkan orang-orang faqir (miskin) tidak diundang. Barang siapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka dia telah durhaka terhadap Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. Imam Bukhari, no.5177)

Sebagai pengingat, hukum asal orang yang mengundang adalah hukumnya sunnah, sedangkan orang yang diundang hukumnya wajib untuk hadir. Namun, jika memiliki udzur syari (halangan yang dibenarkan oleh Islam) untuk menghadirinya, misal: Karena sakit, hujan lebat dan semisalnya, maka dia gugur dari kewajiban menghadirinya.

Meski pun dia tidak bisa hadir pada hari yang sudah ditentukan karena adanya udzur syari, maka dibolehkan untuk menghadirinya pada hari setelahnya untuk mengucapkan tahniah (ucapan selamat).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا
“Jika salah seorang dari kalian diundang untuk menghadiri walimah, maka datanglah!”
(HR. Imam Bukhari, no.5173)

• Lalu bagaimana jika kita diundang, sedangkan kita dalam keadaan puasa?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ
“Apabila salah seorang di antara kalian diundang makan, maka penuhilah undangan tersebut. Apabila dia tidak berpuasa, maka makanlah hidangannya! Tapi jika dia sedang berpuasa, maka hendaklah dia mendoakan (orang yang mengundangnya)!”
(HR. Imam Muslim, no.1431)

Hendaknya orang yang diundang, tidak boleh mengajak orang lain (yang tidak diundang), kecuali jika sudah minta izin terlebih dahulu terhadap orang yang mengundangnya (shahibul hajat).

Maka dari itu, hendaknya setiap tuan rumah atau shahibul hajat ketika akan mengundang, tulislah nama orang-orang yang ingin diundangnya dengan jelas dan lengkap. Misal kita ingin mengundang orang yang sudah memiliki keluarga, jika kita ingin mengundang suami dan istrinya, maka tulislah nama suaminya beserta istri atau keluarganya! Jangan hanya menulis salah satunya! Karena itu akan membuat yang diundang merasa bingung jika ingin hadir bersama keluarganya. Berbeda hal jika kita ingin mengundang salah satunya saja, maka kita boleh mengundang dengan mencantumkan nama salah satu dari mereka yang ingin diundang.

b. Mengundang orang-orang yang shalih.
Catatan penting, hendaknya yang diundang adalah orang-orang shalih, baik yang miskin mau pun kaya.

Sebagaimana Rasulullah bersabda;

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
“Janganlah kamu bergaul, kecuali dengan orang-orang beriman dan jangan biarkan ada yang memakan makananmu, kecuali orang-orang yang bertaqwa!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2395. hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

c. Amalan sunnah bagi orang yang diundang.
• Mendoakan shahibul hajat (tuan rumah) setelah makan.
Disunnahkan membaca doa;

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ
“Ya Allah, berkahilah sesuatu yang Engkau rezekiiokan kepada mereka, ampunilah mereka dan rahmatilah mereka.”
(HR. Imam Muslim, no.2042)

• Mendoakan kedua mempelai
Disunnahkan membaca doa;

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”
(HR. Abu Dawud, no.2130)

d. Hukum pemberian tamu undangan.
Ada dua pendapat mengenai kado pernikahan, sebagai utang atau hadiah?
Di dalam Madzhab Syafii dijelaskan;
“Kebiasaan yang ada di zaman kita berupa menyerahkan kado pernikahan kepada pengantin secara langsung ataukah wakilnya, apakah itu tergolong hibah (pemberian) ataukah utang? Sejumlah ulama fiqih mengatakan bahwa itu adalah utang. Namun, ada juga ulama fiqih yang mengatakan bahwa itu hibah. Pendapat kedua ini menjelaskan bahwa budaya dalam hal ini tidak mempengaruhi status hadiah tersebut karena ketidakpastian budaya dalam hal ini, kecuali jika pemberi kado (tamu undangan) mengatakan: Ambillah ini! Dan dia meniatkan hal tersebut sebagai utang, maka anggapan si pemberi atau wakilnya tersebut bisa diterima dalam masalah niat, hal ini sebagai alasan dari pendapat ulama yang mengatakan bahwa kado pernikahan adalah utang. Sebagian ulama fiqih menggabungkan dua pendapat di atas dengan mengatakan bahwa kado pernikahan itu hadiah jika di daerah tersebut tidak ada kebiasaan meminta timbal-balik (balasan) dari pihak pemberi kado. Tentu saja ini berbeda-beda tergantung perbedaan pribadi, nilai kado dan tempat domisili (lingkungan). Kado pernikahan dinilai sebagai utang, jika di daerah tersebut terdapat kebiasaan meminta timbal-balik. Mengingat adanya berbagai kemungkinan, maka mengambil pendapat ini adalah sebuah kemungkinan.”
(Hasyiyah Al-Bujairimi Ala Manhaj Ath-Thullab, 8:46)

e. Pisahkan antara tempat lelaki dan wanita.
Ini berlaku untuk kedua mempelai dan juga tamu undangan. Karena hal tersebut merupakan perintah Allah dan RasulNya.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Di saat beliau keluar dari masjid, sedangkan orang-orang laki-laki ikhtilath (bercampur-baur) dengan para wanita di jalan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita: Minggirlah kalian! Karena sesungguhnya kalian tidak berhak berjalan di tengah jalan, kalian wajib berjalan dipinggir jalan! Maka para wanita merapat ketembok atau dinding, hingga baju mereka terkait di tembok karena rapatnya. Alasan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika melarang para wanita ikhtilath di jalan, dikarenakan hal tersebut akan menyeretnya pada fitnah (kemaksiatan dan kesesatan), maka bagaimana mungkin dikatakan boleh ikhtilath pada selain itu?
(Fatawa Al-Marah Al-Muslimah, hlm.568)

Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusi rahimahullah juga menjelaskan;
“Dan termasuk bidah adalah keluarnya kaum lelaki bersama-sama atau sendiri bersama para wanita dengan berikhtilath (bercampur).”
(Al-Hawadits Wa Al-Bida, hlm.151)

• Macam ikhtilath dan hukumnya

Ikhtilath (bercampur-baur) antara laki-laki dengan para wanita ada tiga macam keadaan;
-Ikhtilath antara para wanita dengan laki-laki mahram mereka, maka hal semacam ini dibolehkan.
-Ikhtilath antara laki-laki asing (bukan mahram) dengan para wanita untuk tujuan kerusakan (maksiat), maka hal ini tidak ada keraguan tentang haramnya (tidak boleh).
-Ikhtilath antara laki-laki asing (bukan mahram) dengan para wanita di majelis-majelis ilmu, sekolah, madrasah dan semisalnya, toko-toko, warung, kedai, perpustakaan, rumah sakit, pesta-pesta dan yang semacamnya. Sebagian orang menyangka, bahwa hal ini tidak akan menjadikan mereka saling terfitnah (tergoda untuk berbuat kemaksiatan) dengan lawan jenis. Untuk mengetahui hakikat dari bagian ini, maka kita harus bisa memahaminya secara umum dan secara terperinci.

Secara umum;
Bahwa Allah azza wa jalla telah menjadikan kekuatan bagi laki-laki dan naluri tertarik kepada wanita. Demikian juga Allah telah menjadikan naluri wanita tertarik kepada laki-laki bersamaan dengan kelemahan dan kelembutannya. Maka jika terjadi campur baur antara keduanya, pasti akan muncul dampak-dampak yang menimbulkan tujuan yang buruk. Karena sesungguhnya jiwa itu banyak memerintahkan pada keburukan, dan hawa-nafsu akan membutakan dan menjadikan tuli, serta setan akan memerintahkan kekejian dan kemunkaran.

Secara rinci;
Bahwa syariat itu dibangun di atas al-maqashid (tujuan-tujuan) dan wasail (sarana-sarana). Dan dalam kaidah Islam, bahwa sarana yang mengantarkan pada satu tujuan itu memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Yang perlu diingat, wanita adalah tempat untuk menyalurkan kebutuhan laki-laki (syahwat).

Di antara dalil yang menjelaskan tentang bahayanya dampak dari ikhtilath adalah;

– Allah azza wa jalla berfirman;

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ اْلأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَاىَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya, dia menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: Marilah ke sini! Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung.”
(Surat Yusuf: ayat 23)

Ketika terjadi ikhtilath (percampuran) antara istri Aziz Mesir (Zulaikha) dengan Nabi Yusuf alaihissallam, muncullah (nafsu) wanita itu, yang dahulunya terpendam, maka dia meminta kepada Nabi Yusuf untuk mengikuti kemauannya. Tetapi Yusuf mandapatkan rahmat Allah, dan Allah menjaga beliau dari wanita tersebut. Sebagaimana Allah berfirman;

فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.”
(Surat Yusuf: ayat 34)

Demikianlah, jika terjadi ikhtilath (percampuran) laki-laki dengan wanita, maka akan muncul ketertarikan di antara mereka, dan setelah itu mereka akan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkannya. Lihat, di atas adalah bukti nyata ketika laki-laki dan wanita bertemu, berkumpul di suatu tempat tanpa adanya pemisah yang bisa memisahkan penglihatannya, maka akan muncul fitnah yang sangat besar.

– Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (ujian; yang menyebabkan kesesatan) setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki dari pada wanita.”
(HR. Imam Muslim, no.2740)

Rasulullah telah menyatakan kaum wanita adalah fitnah bagi kaum lelaki. Lalu bagaimana mungkin dikumpulkannya antara wanita yang membuat fitnah, dengan laki-laki yang terkena sasaran fitnah itu boleh dilakukan? Tentu hal semacam ini sangat menyalahi syariat Islam.

– Dari Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda;

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian penguasa di dunia, kemudian Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah kalian terhadap wanita! Karena sesungguhnya fitnah (kesesatan) pertama kali di kalangan Bani Israil adalah dalam perkara wanita.”
(HR. Imam Muslim, no.2742)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk berhati-hati terhadap wanita, dan perintah beliau tersebut hukumnya adalah wajib. Maka sangat tidak layak, ketika kita mengaku sebagai umat Islam yang menjadi umatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan mencintainya, malah berani melanggar setiap perintahnya.

Sebetulnya masih sangat banyak dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah yang menjelaskan tentang larangan ikhtilath namun, Penulis mencukupkan dengan tiga dalil di atas. Dan semoga dalil-dalil yang sudah dijelaskan bisa menyadarkan hati kita yang mulai melalaikan syariat Islam.

Pemisahan tempat walimah berlaku untuk tempat duduk, makan, wc, jalur akses dan semisalnya. Namun, jika kita terkendala dengan area dan fasilitas tempat walimah yang terbatas, sehingga kita merasa tidak ada jalan keluar yang lain kecuali disatukan atau dicampurkan tempat antara lelaki dan wanita, maka itu adalah cara dan pemikiran yang salah.

Solusi yang tepat dan benar dalam menyelesaikan masalah semacam ini adalah dengan diatur waktunya. Misal dibatasi, bergiliran untuk waktu kehadiran tamunya dan penggunaan tempat makannya atau tempat lainnya. Yang intinya tidak sampai membuat mereka bercampur, berdesakan antara lelaki dan wanita.

Salah satu hikmah dipisahnya tempat duduk antara lelaki dan wanita adalah tidak berjabat tangan (salaman) antara mempelai lelaki dengan tamu wanita, dan mempelai wanita dengan tamu lelaki. Karena dosa yang akan didapatkan oleh seseorang yang bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya itu sangatlah besar.

Dari Sahabat Maqil bin Yassar radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”
(HR. At-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, no.486. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.226)

Bagaimana rasanya jika kepala kita ditusuk oleh jarum atau paku? Maka hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman dari larangan perbuatan tersebut. Jadi jangan pernah menganggap remeh dosa sedikit pun!

Hikmah yang lainnya adalah istri kita akan aman, tidak dilihat oleh para lelaki yang bukan mahram. Sehingga hanya kita yang berhak melihatnya, dan istri kita juga aman dari penyakit ain (pandangan hasad).

Penyakit ain adalah penyakit yang ada pada badan mau pun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki atau pun merasa takjub (kagum). Sehingga dimanfaatkan oleh setan, dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkenanya.

Ibnul Atsir rahimahullah berkata;
“Dikatakan bahwa Fulan terkena ain, yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya, lalu pandangan tersebut mempengaruhinya, hingga menyebabkannya jatuh sakit.”
(An-Nihayah, 3:332)

Sekilas, ini terkesan dibuat-buat atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa ain adalah ada dan nyata.

Sebagaimana beliau bersabda;

الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا
“Pengaruh ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului taqdir, ain lah yang dapat mendahuluinya. Dan apabila kalian diminta mandi (untuk mengobati orang yang kalian timpakan penyakit ain) maka mandilah!”
(HR. Ibnu Hibban, no.6107)

Maka dari itu, berhati-hatilah dari penyakit ain! Karena hal tersebut mudah mengenai siapa pun. Dan salah satu akibat dari penyakit ain akan membuat korbannya memiliki kebiasaan, kelakuan yang aneh dan hal-hal yang tidak wajar.

Termasuk jangan biarkan istri kita dipajang di depan tamu undangan lelaki, meski pun dengan alasan untuk tanda tangan berkas pernikahan oleh pihak KUA, jangan biarkan itu terjadi! Karena sebetulnya hal terserbut bisa disiasati, dicarikan solusinya. Yaitu dengan dibawa berkasnya oleh kita selaku suaminya, sekalian kita menemuinya untuk pertama kali setelah akad nikah berlangsung, karena dia sudah sah menjadi istri kita dan halal untuk kita.

Setelah kita selesai menemui istri kita untuk menandatangani berkas-berkas tersebut, maka kita bisa kembali keluar sambil membawa berkas tersebut dan menyerahkannya kembali kepada pihak KUA, lalu setelah itu kita bisa masuk kembali menemui istri kita, untuk melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam setelah akad nikah. Mudah bukan?

Sebetulnya tidak ada yang sulit dalam menerapkan sunnah dan melakukan kebaikan, yang penting kita mau berusaha, berkomitmen dan mencari solusinya, maka akan dimudahkan oleh Allah azza wa jalla.

e. Menghilangkan tradisi dan ritual yang bukan berasal dari Islam setelah akad nikah.
Ingat, yang perlu kita ikuti adalah perintah Allah dan RasulNya, bukan perintah pihak KUA, dukun rias, tukang foto, pihak wedding organizer, masyarakat awam dan termasuk orang tua!

Karena terkadang masih banyak manusia yang merasa dia awam dalam masalah agama namun, dia lancang, berani mengatur, merubah syariat Islam, termasuk dalam masalah pernikahan.

Apalagi biasanya ritual-ritual yang dilakukan di kalangan masyarakat ada kaitannya dengan keyakinan atau kepercayaan, seperti: Siraman, injak telur, sungkeman, saweran, foto mesra di hadapan tamu undangan dan ritual nyeleneh lainnya. Tentu ini termasuk perbuatan syirik (menyekutukan Allah) yang hukumnya haram dan tidak boleh dilakukan oleh seluruh umat Islam.

Secara logis jika kita sedang sakit, lalu ada orang yang bukan dokter, lalu memberikan resep obat, arahan kepada kita tentang kesehatan. Kemungkinan kita akan percaya dan mau melaksanakan arahan dan perintahnya tersebut ataukah tidak?

Jika akal kita masih sehat, pasti tahu jawaban yang benar dan tepat. Maka berhati-hatilah terhadap penilaian dan anggapan dari orang-orang yang tidak mengerti dalam masalah agama Islam, tidak perlu kita dengar dan taati!

Karena yang seharusnya dilakukan oleh kedua mempelai setelah akad nikah adalah melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, agar keduanya mendapatkan pahala, ridha dan keberkahan dari Allah subhanahu wa taala.

Dengan melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah dalam resepsi pernikahan dan mengawali rumah tangga setelah akad nikah, membuat rumah tangga kita akan Allah jadikan sakiinah, mawaddah dan rahmah. Karena setiap kebaikan hanya akan didapatkan dengan ketaatan kepada Allah azza wa jalla, bukan sebaliknya!

2. Konsep pelaksanaan pesta pernikahan Islami.
Di antara sunnah yang bisa diamalkan oleh kedua mempelai setelah akad nikah adalah;
a. Segera menemui istri setelah akad nikah.
Saat pertama kali pengantian lelaki menemui istrinya setelah akad nikah, maka disunnahkan melakukan beberapa amalan, di antaranya;

• Pengantin lelaki hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya, seraya mendoakan kebaikan untuknya.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوْ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ. وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ أَبُو دَاوُد زَادَ أَبُو سَعِيدٍ ثُمَّ لِيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ فِي الْمَرْأَةِ وَالْخَادِمِ
“Apabila salah seorang di antara kalian menikah atau membeli budak, maka hendaknya dia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ASALUKA KHAIRAHAA WA KHAIRA MAA JABALTAHAA ALAIHI WA AUUDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI MAA JABALTAHAA ALAIH (Ya Allah, aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan sesuatu yang Engkau ciptakan padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan sesuatu yang Engkau ciptakan padanya). Dan apabila dia membeli unta maka hendaknya dia memegang punuknya, dan mengucapkan seperti itu! Abu Daud berkata: Abu Said menambahkan: Kemudian hendaknya dia memegang ubun-ubunnya dan berdoa untuk mendapatkan berkah pada wanita dan budak tersebut.”
(HR. Abu Dawud, no.2160. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Doa ini selain bisa kita amalkan terhadap istri kita yang baru dinikahi untuk mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang telah Allah berikan kepadanya, ternyata doa ini bisa juga kita amalkan ketika kita membeli sesuatu, misal: Membeli HP, kendaraan, tempat tinggal atau barang-barang lainnya. Yaitu dengan cara memegang salah satu bagian benda tersebut, lalu membaca doa di atas.

• Melakukan shalat sunnah dua rakaat bersama istri.
Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Hal ini sudah ada sandarannya dari para ulama salaf (Sahabat dan Tabiin).”

Abu Wail rahimahullah berkata;
“Seseorang datang kepada Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, lalu berkata: Aku menikah dengan seorang gadis dan aku khawatir dia membenciku. Abdullah bin Masud pun mengatakan: Sesungguhnya cinta itu berasal dari Allah, sedangkan kebencian itu berasal dari setan untuk membenci sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Jika istrimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua rakaat di belakangmu. Lalu bacalah doa;

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي في أَهْلِي، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ
“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan keluargaku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku disebabkan mereka dan berikanlah rezeki kepada mereka disebabkan aku. Ya Allah, satukanlah antara kami berdua dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami berdua dalam kebaikan.”
(HR. Abdurrrazaq, Al-Mushannaf, no.10460. Syaikh Al-Albani mengatakan; sanadnya shahih)

• Bercumbu mesra dengan penuh kelembutan.
Misalnya dengan cara memberinya segelas air minum atau makanan-minuman yang disukainya.

Sebagaimana Asma binti Yazid binti As-Sakan radhiyallahu anha bercerita;

إِنِّي قَيَّنْتُ عَائِشَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جِئْتُهُ فَدَعَوْتُهُ لِجِلْوَتِهَا فَجَاءَ فَجَلَسَ إِلَى جَنْبِهَا فَأُتِيَ بِعُسِّ لَبَنٍ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَفَضَتْ رَأْسَهَا وَاسْتَحْيَا قَالَتْ أَسْمَاءُ فَانْتَهَرْتُهَا وَقُلْتُ لَهَا خُذِي مِنْ يَدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ فَأَخَذَتْ فَشَرِبَتْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطِي تِرْبَكِ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلْ خُذْهُ فَاشْرَبْ مِنْهُ ثُمَّ نَاوِلْنِيهِ مِنْ يَدِكَ فَأَخَذَهُ فَشَرِبَ مِنْهُ ثُمَّ نَاوَلَنِيهِ قَالَتْ فَجَلَسْتُ ثُمَّ وَضَعْتُهُ عَلَى رُكْبَتِي ثُمَّ طَفِقْتُ أُدِيرُهُ وَأَتْبَعُهُ بِشَفَتَيَّ لِأُصِيبَ مِنْهُ مَشْرَبَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ لِنِسْوَةٍ عِنْدِي نَاوِلِيهِنَّ فَقُلْنَ لَا نَشْتَهِيهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَجْمَعْنَ جُوعًا وَكَذِبًا فَهَلْ أَنْتِ مُنْتَهِيَةٌ أَنْ تَقُولِي لَا أَشْتَهِيهِ فَقُلْتُ أَيْ أُمَّهْ لَا أَعُودُ أَبَدًا
“Aku pernah merias Aisyah untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian aku mendatanginya dan memberikan apa yang dia minta. Tiba-tiba Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang dan duduk di sampingnya, lalu beliau diberi semangkuk susu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun meminumnya dan memberikan (sisanya) kepada Aisyah. Aisyah pun malu sambil menundukkan kepala. Asma berkata: Lantas aku menghardiknya, aku berkata kepadanya: Ambillah dari tangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam! Asma melanjutkan: Aisyah kemudian mengambil dan meminumnya. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya: Berikanlah kepada saudaramu! Asma berkata: Wahai Rasulullah, ambil dan minumlah, kemudian berikanlah lewat tanganmu! Kemudian beliau mengambilnya dan meminumnya. Setelah itu beliau memberikannya kepadaku. Asma berkata: Kemudian aku duduk sambil menaruh (semangkuk susu) di atas pangkuanku. Lalu aku memutar ujung dari bekas minumnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita yang berada di sampingku: Berikanlah kepada mereka! Kami mengatakan: Kami tidak berselera. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian menggabungkan rasa lapar dengan kebohongan! Apakah kalian mengatakan: Aku tidak berselera, padahal kalian sebenarnya mau? Maka aku berkata: Aku tidak akan mengulanginya kembali.”
(HR. Imam Ahmad, no.26309)

Setelah melaksanakan seluruh rangkaian sunnah tersebut, kedua mempelai bisa kembali menuju pelaminan secara terpisah (suaminya di tempat tamu lelaki dan istrinya di tempat tamu wanita). Jadi, jangan sibukkan diri kita dan istri kita dengan berfoto, berpose suap-suapan di hadapan seluruh tamu undangan, bermesraan di hadapan kamera, apalagi sampai melakukan ritual-ritual kesyirikan. Sadarlah dan bertaqwalah kepada Allah!

b. Tidak perlu ada musik.
Ingat, lantunan suara yang boleh dikumandangkan saat walimah hanya rebana! Karena disunnahkan menabuh rebana di hari pernikahan, disebabkan hal tersebut mengandung dua manfaat: Untuk mengumumkan pernikahan dan menghibur kedua mempelai.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَرَامِ وَالْحَلَالِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ
“Perbedaan antara yang diharamkan (zina) dan yang dihalalkan (pernikahan) adalah dengan memukul rebana (yang dimainkan oleh gadis-gadis kecil) dan suara (nyanyian).”
(HR. At-Tirmidzi, no.1088. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda;

أَعْلِنُوا النِّكَاحَ
“Umumkanlah (ramaikanlah) pernikahan!”
(HR. Ibnu Hibban, no.1285)

Berdasarkan penjelasan Rasulullah di atas, bahwa termasuk sunnah menabuh rebana di hari pernikahan, yaitu dengan syarat yang menabuhnya adalah gadis kecil (anak-anak), bukan orang dewasa apalagi ibu-ibu, karena hal itu termasuk menyelisihi sunnah Rasulullah.

Perlu diingat juga, bahwa menabuh rebana ini tidak harus seharian lamanya. Menabuh rebana yang dibenarkan adalah sekadar untuk meramaikan dan mengumumkan pesta pernikahan saja. Ada pun selain rebana, misal musik, kaset dan nyanyian, maka tidak boleh dikumandangkan. Karena musik dan alat-alatnya memang dilarang oleh syariat Islam dan bukan bagian dari Islam.

Rasulullah pernah bersabda;

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَّ وَالْحَرِيرَ، والْخَمْرَ وَالمَعَازِفَ
”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras (khamr) dan alat-alat musik.”
(HR. Imam Bukhari, no.5590)

Coba perhatikan! Ketika Rasulullah mengatakan: Akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan 4 hal terserbut, kemungkinan saat ini 4 hal terserbut hukumnya tetap halal ataukah haram? Mari kita berfikir dengan cermat!

Mengenai larangan musik dan alat-alatnya, ternyata tidak hanya Rasulullah yang melarang, bahkan Allah pun melarangnya. Karena ternyata banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang pelarangan ini, di antaranya;

Firman Allah azza wa jalla;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak bermanfaat untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebuah olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.”
(Surat Luqman: ayat 6)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Bahwasanya setelah Allah menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbahagia dalam ayat 1-5 sebelumnya, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dari firman Allah (Al-Quran) dan mereka merasa menikmati dan mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Quran, lalu Allah azza wa jalla menceritakan dalam ayat ke-6 ini tentang orang-orang yang sengsara, yang mereka ini berpaling dari mendengarkan Al-Quran dan berbalik arah menuju nyanyian dan musik.

Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhumaa berkata;
Ketika ditanya tentang maksud ayat ini, maka beliau menjawab bahwa itu adalah musik, seraya beliau bersumpah dan mengulangi perkataannya tersebut sebanyak tiga kali.

Begitu juga dengan Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhumaa yang didoakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar Allah memberikan kelebihan kepada beliau dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga beliau dijuluki sebagai: Turjumanul Quran, bahwasanya beliau juga mengatakan: Bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan nyanyian (musik).”
(Tafsir Ibnu Katsir, 3:556)

Al-Wahidy rahimahullah berkata;
“Bahwasanya ayat ini menjadi dalil bahwa nyanyian itu hukumnya haram.”
(Ighatsatu Al-Lahafan, hlm.239)

Masih banyak lagi, dalil lainnya yang menjelaskan akan keharaman musik dan alat-alatnya. Selanjutnya, setelah kita membaca sebagian dari ayat Al-Quran dan Hadits Nabi, apakah masih berani bilang musik itu halal?

c. Jangan sampai menghalangi jalan (akses) masyarakat.
Salah satu sebab seorang mendapatkan dosa jariyah adalah dengan berbuat zhalim kepada manusia, mengganggu kenyamanan mereka dan perbuatan semisalnya. Karena makna dari kezhaliman adalah sikap tidak adil, kebengisan, kejam, menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Sehingga jangan sampai pesta pernikahan yang diselenggarakan memakan jalan, menghalangi akses jalan manusia. Karena tentu hal tersebut akan mengganggu kenyamanan mereka, dan jelas ini termasuk perbuatan zhalim. Semakin banyak orang yang merasa dizhalimi sebab dari perbuatan kita, maka semakin banyak juga dosa yang akan kita dapatkan.

Maka manfaatkan ruangan dan halaman rumah kita sebaik dan semaksimal mungkin! Jika memang memungkinkan dan kita mampu, maka menyewa gedung atau aula bisa menjadi solusi dari keterbatasan area tempat tinggal kita yang terbatas. Namun, jika kita tidak mampu, maka buatlah dekorasi pestanya seminimal mungkin, agar tempat yang tersedia bisa cukup, tanpa harus memakan jalan umum.

Perlu kita ingat, kezhaliman sekecil apa pun, itu akan menjadi kegelapan di hari Kiamat!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
“Hindarilah kezhaliman! Karena kezhaliman itu mendatangkan kegelapan pada hari Kiamat kelak! Jauhilah kekikiran! Karena kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan.”
(HR. Imam Muslim, no.2578)

Selain itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga telah mengingatkan tentang keadaan orang yang bangkrut.

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Sahabat menjawab: Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan harta. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, zakat namun, dia pernah mencaci Fulan, menuduh Fulan, memakan harta Fulan, menumpahkan darah Fulan dan memukul Fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zhalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezhalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zhalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke api Neraka.” 
(HR. Imam Muslim, no.2581)

Maukah kita menjadi orang yang bangkrut seperti itu?

Hendaknya pesta pernikahan tidak diselenggarakan sampai berhari-hari lamanya, karena hal tersebut termasuk berlebihan (ghuluw) dalam syariat Islam.

d. Boleh menjamak shalat di hari walimah.
Ini berdasarkan perkataan Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhumaa;

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ، قِيْلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjamak antara shalat Zhuhur dan Ashar, dan antara Maghrib dan Isya di Madinah tanpa sebab takut dan hujan. Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbas, Rasulullah menjawab: Agar tidak memberatkan ummatnya.”
(HR. Imam Muslim, no.705)

Dalam kasus ini, pada hari walimah merupakan saat yang menyibukkan kedua mempelai dan keluarga, beserta pihak yang berkaitan dengannya. Sehingga keadaan seperti inilah yang membuat siapa pun yang mengalaminya boleh menjamak shalat, yakni menggabungkan dua shalat dalam satu waktu.

Dengan demikian, kita tahu bahwa pensyariatan jamak dalam shalat bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada umat Rasulullah dalam masalah-masalah yang menyulitkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa para pekerja industri dan petani apabila pada waktu tertentu mengalami kesulitan (masyaqqah), seperti lokasi air yang jauh dari tempat pelaksanaan shalat, sehingga jika mereka pergi ke lokasi air dan bersuci bisa mengakibatkan hilangnya pekerjaan yang dibutuhkan. Jika demikian kondisinya, maka mereka boleh shalat di waktu musytarak (Maksudnya waktu yang diperbolehkan dua shalat dilaksanakan padanya) lalu menjamak (menggabungkan) dua shalat.”
(Majmu Al-Fatawa, 21:458)

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk kita tidak melaksanakan shalat! Ini bukti Allah maha pemurah lagi maha penyayang, Dia memberikan udzur (keringanan) kepada hamba-hambaNya dalam beribadah kepadaNya.

e. Lalu yang terakhir, persiapan malam pertama.
Salah satu hal yang dihalalkan bagi suami-istri adalah berjima (berhubungan intim). Namun, sebelum berjima disunnahkan membaca doa;

بِسْمِ اللَّهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan untuk mengganggu sesuatu yang Engkau rezekikan kepada kami!”

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ وَقَالَ: بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا. فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ
“Seseorang dari kalian apabila mendatangi istrinya (untuk berjima), kemudian membaca doa: BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAA ASY-SYAITHANA WA JANNIBI ASY-SYAITHANA MAA RAZAQTANAA (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah pula dari anak yang kelak Engkau karuniakan kepada kami)! Kemudian apabila keduanya dikaruniai anak, maka setan tidak akan dapat mencelakakan anak tersebut.”
(HR. Imam Al-Bukhari, no.3031)

Maka, segera hafalkan doa tersebut lalu amalkan dengan istiqamah!

Sorang suami boleh menggauli istrinya kapan saja (bebas) dan dangan cara yang di inginkannya, asalkan pada kemaluannya dan bukan pada waktu haidhnya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

نِسَآ ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian itu kapan saja dengan cara yang kalian sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk diri kalian. Bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kalian (kelak) akan menemuiNya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 223)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Yang namanya ladang tempat bercocok tanam pada wanita adalah pada kemaluannya, yaitu tempat mani bersemai untuk mendapatkan keturunan. Ini adalah dalil bolehnya menyetubuhi istri di kemaluannya, terserah dari arah depan, belakang atau istri dibalikkan.”
(Syarh Shahih Muslim, 10:6)

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhumaa bercerita;

جَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ حَوَّلْتُ رَحْلِي اللَّيْلَةَ قَالَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَالَ فَأُنْزِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ
(نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ)
أَقْبِلْ وَأَدْبِرْ وَاتَّقِ الدُّبُرَ وَالْحَيْضَةَ
“Umar datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata: Ya Rasulullah, binasalah aku. Beliau bertanya: Apa yang membinaskanmu? Umar berkata: Aku mengalihkan tungganganku tadi malam. Namun, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menanggapi apa pun. Kemudian turunlah ayat: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanam kalian itu bagaimana saja kalian inginkan! (Surat Al-Baqarah: ayat 223). Hadapkanlah ke depan atau ke belakang, dan jauhi dubur dan masa haidh!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2906. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

مُقْبِلَةً وَمُدْبِرَةً، مَا كَانَ فِي الْفَرْجِ
“Terserah mau dari arah depan atau belakang, selama di kemaluan (farji).”
(HR. Al-Arnauth, Takhrij Misykal Al-Atsar, no.6126. Beliau menyatakan hadits ini sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Selanjutnya, hendaklah suami berusaha tidak menyudahi jima, sampai istrinya pun merasa puas, karena cara demikian dapat melanggengkan keharmonisan dan kasih sayang antara keduanya. Layanilah istri kita sebagaimana kita ingin dilayani!

• Apabila suami ingin mengulangi jima dengan istrinya, maka hendaknya dia berwudhu terlebih dulu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Jika seseorang di antara kalian menggauli istrinya, kemudian ingin mengulangi untuk menggaulinya kembali, maka hendaklah dia berwudhu terlebih dahulu!”
(HR. Imam Muslim, no.308)

Tentu lebih utama (afdhal) adalah mandi terlebih dahulu. Sebagaimana Sahabat Abu Rafi radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ يَغْتَسِلُ عِنْدَ هَذِهِ وَعِنْدَ هَذِهِ قَالَ قُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَجْعَلُهُ غُسْلًا وَاحِدًا قَالَ هَذَا أَزْكَى وَأَطْيَبُ وَأَطْهَرُ
“Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi setiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya: Ya Rasulullah, tidakkah anda menjadikannya sekali mandi saja? Beliau menjawab: Yang seperti itu (mandi setiap kali akan berhubungan) lebih suci dan lebih baik, serta lebih bersih.”
(HR. Abu Dawud, no.189)

• Terdapat anjuran berhubungan badan (jima) di pagi hari Jumat, bukan di hari Kamis (malam Jumat).

Dari Sahabat Aus bin Aus radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dengan mencuci kepala dan anggota badan lainnya, lalu dia pergi di awal waktu atau dia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu dia mendekat pada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.”
(HR. At-Tirmidzi, no.496)

Tafsir dari makna mandi dalam hadits di atas, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadu Al-Maad;
“Imam Ahmad berkata: Makna ghassala adalah menyetubuhi istri.”

Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan;
“Bahwa karena hubungan intim mengharuskan untuk mandi junub.
(Fathu Al-Baari, 2:366)

• Tetap sah jika mandi Jumat digabungkan dengan mandi junub.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Jika seseorang meniatkan mandi junub dan mandi Jumat sekaligus, maka maksud tersebut dibolehkan.”
(Al-Majmu, 1:326)

• Islam tidak mengenal istilah bulan madu atau honey moon.
Karena yang ada dalam syariat Islam, istilah bagi pasangan suami-istri adalah setiap hari madu atau honey everyday.

Jangan sampai para pasangan suami-istri, khususnya pengantin baru, memiliki keyakinan bahwa hubungan pernikahan itu enaknya cuman satu bulan saja, sehingga masa selanjutnya adalah racun. Nikmati masa memanen pahala yang banyak bersama pasangan hidup kita! Jangan sia-siakan kesempatan yang telah Allah berikan dan mudahkan untuk kita ini dengan tanpa kebaikan!

Ingat, ngobrolnya suami-istri itu berpahala loh! Apalagi lebih dari itu? Maka sangat beruntung yang sudah menikah, bagi yang belum menikah, rugi besar! Untuk teman-teman yang belum menikah, semoga Allah berikan kemudahan untuk segera menikah.

Sebetulnya, nikmatnya menikah itu cuma 3%, sisanya 97% itu nikmat banget. Maka bersegeralah dalam melakukan kebaikan! Terkhusus dalam menyempurnakan separuh agama Islam adalah dengan menikah.

Dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ استَكملَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي
“Jika seseorang menikah, maka dia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertaqwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya!”
(HR. Al-Baihaqi, Syuabu Al-Iman, no.5486. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih lighairihi)

Kita lihat bahwa di antara keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama, sehingga selanjutnya tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi.

Kenapa bisa dikatakan demikian? Para ulama menjelaskan bahwa yang umumnya merusak agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah (kikir).

Nikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu pintu zina dengan kemaluan (syahwat). Karena dengan menikah dia bisa melepaskan syahwatnya di tempat yang halal, yakni istrinya. Berarti dengan menikah separuh agama seseorang telah terjaga dan sisanya, dia tinggal menjaga diri dari perkara yang syubhat (samar hukumnya antara halal-haram).

Semoga tulisan ini bisa menjadi sebab Allah sadarkan diri kita dari kesalahan-kesalahan yang pernah atau sering kita lakukan. Dan semoga Allah pun memberikan kemudahan untuk kita memperbaikinya.

Semoga Allah jadikan kita sebagai hambaNya yang selalu bersyukur dengan menaati setiap perintahNya dan mengikuti sunnah RasulNya shallallaahu alaihi wa sallam. Aamiin
_____
Alhamdulillah aladzi binimatihi tatimmus shaalihaat. Selesai ditulis pada malam hari, di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Sabtu, 08 Rajab 1439H/24 Maret 2018M.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaRute Menjemput Jodoh
Artikel sesudahnyaAnakku, Jadilah Sebab Orang Tuamu Masuk Surga!
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here