Beranda Belajar Islam Amalan Rute Menjemput Jodoh

Rute Menjemput Jodoh

2456
0
BERBAGI

Rute Menjemput Jodoh

Melihat realita di zaman ini, banyak manusia yang mulai perlahan tidak peduli dengan ilmu agama Islam. Seolah ilmu agama cukup baginya dipelajari hanya sebatas di jenjang SD (sekolah dasar) atau MD (madrasah diniyah), atau cukup baginya belajar sewaktu-waktu saja. Kalau ada waktu luang ya belajar, kalau tidak ada ya tidak belajar. Yang akibatnya sangat fatal, mereka lebih banyak melakukan kesalahan dari pada kebenaran, banyak melakukan keburukan dari pada kebaikan.

Fenomena yang menyedihkan bukan? Bahkan sampai pada masa menuju pernikahan pun, mereka sangat banyak melakukan hal-hal yang tidak sesuai syariat Islam. Semoga Allah segera bantu kita untuk memperbaiki keadaan ini.

Pada dasarnya, di antara tujuan utama menikah adalah menghalalkan seseorang yang semula haram untuk kita. Selain itu, mereka pun ingin memiliki keluarga yang diridhai Allah dan nantinya sakiinah, mawaddah, dan rahmah.

Pertanyaannya: Sudahkah kita tahu cara untuk memiliki keluarga yang diridhai Allah?

Maka melalui tulisan singkat ini, insyaallah Penulis akan berusaha menjelaskan tentang proses menuju pernikahan yang sesuai syariat Islam, yang dengannya insyaallah kita bisa memiliki keluarga yang Allah ridhai.

Ilustrasinya, dalam suatu perjalanan kita harus mengikuti rute yang benar, agar kita bisa sampai ke tujuan. Karena jika rute yang kita ikuti itu salah, maka kita akan tersesat dan tidak akan sampai ke tujuan.

Di antara rute yang harus ditempuh oleh setiap muslim dan muslimah untuk menjemput jodoh atau menikah yang sesuai syariat Islam adalah;

A. Mengungkapkan Rasa Ketertarikan Kepada Wanita Dengan Meminangnya (Khitbah)

Khitbah adalah proses pendahuluan sebuah pernikahan yang tidak memiliki konsekuensi apa pun. Artinya ia berbeda dengan akad nikah, dan hal ini dibenarkan oleh syariat Islam.

Khitbah adalah seorang lelaki meminta kepada seorang wanita atau walinya untuk dinikahinya, dan jika permintaannya tersebut disetujui oleh pihak wanita, maka kedudukannya tetap tidak lebih hanya sebuah janji untuk menikah. Meski pun keduanya sudah merasa saling suka, cocok dan setuju, keduanya tetap belum halal. Sehingga mereka harus tetap menjaga syariat Islam tentang batasan dengan lawan jenis, sampai lelaki tersebut melangsungkan akad pernikahan dengan walinya.

Saat ini, hal tersebut banyak disalah pahami oleh umat Islam. Ingat, seseorang menjadi halal itu ketika setelah akad nikah, bukan setelah meminang! Jadi, bagi lelaki yang suka atau tertarik dengan seorang wanita, maka datangilah rumahnya untuk menemui orang tuanya atau walinya, dan ungkapkan perasaannya, bahwa anda tertarik dengan putrinya dan berniat untuk meminangnya! Bukan malah hanya berani lewat media sosial, apalagi cuma berani hubungi si wanitanya saja, ditambah banyak basa-basinya pula, ini contoh tipe lelaki yang pengecut!

Maka ketika anda menyukai seorang wanita, pilihannya hanya ada dua: Halalkan atau putuskan. Halalkan adalah dengan meminang dan menikahinya, sedangkan jika belum mampu, maka putuskan dan tinggalkanlah dia!

Perlu kita ketahui juga, bahwa meminang bukanlah syarat sah suatu pernikahan. Sehingga apabila pernikahan berlangsung tanpa didahului oleh pinangan (khitbah), maka pernikahan tersebut tetap sah. Namun, tidak dipungkiri bahwa istilah meminang juga dijadikan oleh manusia sebagai sarana menuju pernikahan.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِۦ مِنْ خِطْبَةِ ٱلنِّسَآءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّآ أَن تَقُولُوا۟ قَوْلًا مَّعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا۟ عُقْدَةَ ٱلنِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ ٱلْكِتَٰبُ أَجَلَهُۥ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ فَٱحْذَرُوهُ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“Dan tidak ada dosa bagi kalian meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kalian sembunyikan (keinginan) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kalian akan menyebut-nyebut mereka. Tetapi janganlah kalian membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kalian menetapkan akad nikah sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui sesuatu yang ada dalam hati kalian, maka takutlah kepadaNya! Dan ketahuilah bahwa Allah maha pengampun, maha penyantun.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 235)

Salah satu manfaat adanya anjuran khitbah sebelum menikah adalah untuk memastikan wanita yang akan dinikahi tidak sedang dalam pinangan orang lain, karena syariat Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa berkata;

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلَا يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang sebagian kalian untuk berjual-beli atas jual-beli saudaranya. Dan janganlah seseorang meminang atas pinangan yang lain, hingga dia meninggalkannya atau menerimanya, atau pun dia telah diberi izin oleh pihak peminang pertama.”
(HR. Imam Bukhari, no.5142)

Hal tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian bagi para lelaki dan wanita yang akan menikah. Karena sangat banyak saat ini, di antara para lelaki yang meminang dan wanita yang menerima pinangan, menjadikan hal itu sebagai kesempatan baginya untuk memilih pasangan hidup yang sesuai selera dan hawa nafsunya, maka hal tersebut salah, dan sangat menyelisihi syariat Islam.

• Ada banyak hal yang boleh dilakukan ketika masa khitbah, di antaranya;

1. Kita boleh memandangnya.
Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang, begitu pun wanita boleh melihat wajah lelaki yang akan meminangnya, dan sangat dianjurkan bagi seorang lelaki untuk melihat sesuatu dari wanita tersebut, bagian yang dapat mendorong dan menarik perhatiannya untuk menikahinya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ
“Jika seseorang di antara kalian meminang seorang wanita, apabila dia bisa melihat sesuatu yang dapat mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah!”
(HR. Abu Dawud, no.2082. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Salah seorang Sahabat Nabi, Al-Mughirah bin Syubah radhiyallahu anhu pernah meminang seorang wanita, maka Nabi memerintahkan kepadanya;

اُنْظُرْ إِلَيْها، فَإنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا
“Lihatlah wanita tersebut! Karena hal itu bisa menjadi sebab langgengnya cinta kasih antara kalian berdua.”
(HR. At-Tirmidzi, no.1087)

Imam At-Tirmidzi rahimahullah juga menjelaskan;
“Sebagian ulama berpendapat dengan hadits di atas, bahwasannya tidak mengapa seseorang melihat wanita yang akan dipinangnya, selama tidak melihat bagian yang diharamkan untuknya, karena tidak semua bagian tubuh wanita bisa dilihat.”

2. Batasan melihat wanita yang akan dipinang.
Mengenai batasan hal ini, para ulama berbeda pendapat dan perbedaan mereka berkaitan: Bagian apa saja yang boleh dilihat?

Jumhur ulamra mazhab juga berpendapat;
“Bahwa yang boleh dilihat dari anggota tubuh wanita yang akan dipinang hanyalah wajah dan kedua telapak tangan.”
(Bidayatu Al-Mujtahid, 2:3)

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَلأ يُبْدِ يْنَ زِيْنَتَهُنَّ أِلأَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya), kecuali apa yang biasa terlihat darinnya.”
(Surat An-Nur: ayat 31)

Sedangkan sebagian ulama Hanabilah berpendapat;
“Bolehnya melihat bagian tubuh wanita yang dipinang sebatas yang tampak pada saat bekerja di rumah, seperti wajah, kedua telapak tangan, leher, kepala, kedua tumit kaki dan sebagainya. Tidak boleh memandang anggota tubuh yang pada umumnya tertutup seperti dada, punggung dan yang lainnya. Sebagaimana Nabi memperbolehkan seorang Sahabat memandang wanita tanpa sepengetahuannya, disebabkan bahwa beliau mengizinkan memandang seorang wanita yang akan dipinang dari segala yang tampak pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin hanya memandang wajah, sehingga diperbolehkan juga memandang yang lainnya, karena sama-sama tampak seperti halnya wajah.”
(Al-Mughni, 6:554)

Ulama Hanafiyyah berpendapat;
“Membolehkan laki-laki yang meminang untuk melihat wajah, telapak tangan dan telapak kaki dari wanita yang akan dipinangnya.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 19:199)

Ada yang berpendapat boleh melihat kepada selain wajah dan kedua telapak tangan. Berdasarkan sabda Nabi: Melihat sesuatu yang dapat mendorongnya untuk menikahinya. Akan tetapi pendapat yang dilihat lebih kuat dan disepakati oleh para ulama adalah hanya melihat wajah dan kedua telapak tangan.”
(Syarh Shahih Muslim)

Catatan;
Ingat, bahwa tujuan melihat wanita yang dibolehkan oleh Islam adalah dengan niat untuk meminang dan menikahinya, bukan hanya untuk melampiaskan dan memuaskan hawa nafsunya!

Jadi, luruskanlah niat kita ketika akan melihat (nazhar) seorang wanita yang akan dipinang! Dan di saat melihatnya, kita pun boleh memintanya dalam keadaan tetap berpakaian syari untuk sekedar berdiri dan sedikit memutar, agar nampak jelas bentuk fisiknya.

Mengapa Islam hanya membolehkan kita melihat bagian wajah dan kedua telapak tangan dari seorang wanita?

Karena wajah sudah mewakili kecantikannya, sedangkan kedua telapak tangannya sudah mewakili kesempurnaan dan keindahan tubuhnya.

Perlu diketahui juga, bahwa seorang lelaki boleh melihat (nazhar) kembali wanita yang akan dipinangnya, meski pun tanpa seizinnya. Misal: Kita melihatnya dengan sembunyi-sembunyi dari jarak jauh, alias curi-curi pandang. Agar makin jelaslah tampilan fisiknya, sehingga kelak kita tidak menyesal setelah menikahinya. Namun, dalam masalah ini kita harus membatasi diri ketika melihatnya kembali, yaitu hanya sesuai kadar kebutuhannya. Yang tujuannya adalah untuk memastikan ketertarikan dan penerimaannya terhadap wanita tersebut.

3. Boleh membatalkan pinangan ketika wanita tersebut tidak menarik hati.
Apabila seorang lelaki sudah melihat wanita yang akan dinikahinya, tapi wanita tersebut tidak menarik hatinya, maka hendaklah dia diam! Tidak boleh menyebarkan sesuatu yang dia tidak sukai dari wanita tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, lelaki yang meminangnya tidak boleh mengatakan: Aku tidak mau dengannya! Karena hal itu akan menyakiti hati wanita tersebut.
(Shahih Fiqh Sunnah)

Dibolehkan juga bagi orang tua atau wali wanita untuk meralat (mengubah) jawaban pinangan, jika dia melihat ada kemashlahatan (kebaikan) bagi si wanita tersebut. Dan tidak dilarang juga bagi seorang wanita untuk mengembalikan pinangan, jika dia tidak suka kepada lelaki yang meminangnya. Karena pernikahan adalah akad yang konsekuensinya berlangsung sepanjang masa, dan kebaikan juga keburukannya akan dirasakan sejak akad tersebut dilaksanakan. Maka sudah seharusnya seseorang harus teliti dan berhati-hati untuk dirinya dan melihat akibat selanjutnya. Namun, jika keduanya menarik pinangan tanpa alasan yang syari, maka hal ini hukumnya makruh (dibenci). Karena sama dengan menyalahi janji dan meralat ucapan. Meski pun demikian hukumnya tidak haram, karena belum ada ikatan pernikahan di antara keduanya secara syariat Islam.

Begitu juga makruh hukumnya, jika peminang (lelaki) meninggalkan wanita yang dipinangnya setelah ada isyarat persetujuan darinya. Sebab nantinya tidak ada kejelasan bagi si wanita, dan lelaki lain tidak bisa meminang si wanita yang telah merasa cenderung kepada peminang yang pertama.
(Shahih Fiqh Sunnah)

Maka dari itu, seorang lelaki yang meminang seorang wanita lalu dia tidak tertarik, sehingga tidak berminat untuk menikahinya maka hendaklah dia memberi kepastian (konfirmasi) kepada wanita tersebut, agar lelaki lain dapat meminangnya dan menikahinya. Jadi, intinya jangan menggantungkan keputusan! Jika tertarik memberikan konfirmasi, bila tidak pun memberikan konfirmasi.

4. Tetap jaga jarak sampai akad nikah.
Perlu diingat, dalam masa meminang menuju pernikahan, keduanya tidak boleh berhubungan, baik komunikasi secara langsung mau pun melalui media, kecuali ada kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat Islam. Misal: Menanyakan alamat, keperluan dan persiapan pesta pernikahan (walimah) yang mendesak dan keadaan darurat lainnya menurut Islam.

Hal tersebut disebabkan karena mereka berdua belum halal, sampai keduanya melangsungkan akad nikah. Sehingga setiap hubungan yang dilakukan sebelum akad nikah (pernikahan) maka itu adalah maksiat dan hukumnya haram, yang akan berbuah dosa bagi setiap pelakunya dan setiap dosa akan menghasilkan adzab dari Allah azza wa jalla. Dan dosa itu setiap dilakukan oleh seorang hamba, maka ia akan merusak kehidupan pelakunya secara perlahan namun, pasti. Hingga ia pun menjadi sebab rezeki seseorang terhalang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ
“Sesungguhnya seseorang akan terhalang dari rezekinya, disebabkan dosa yang diperbuatannya.”
(HR. Al-Mundziri, At-Targhib Wa At-Tarhib, 3:289. Beliau menyatakan sanadnya shahih)

Bahkan salah satu efek samping dari dosa yang dilakukan sebelum pernikahan adalah akan menghilangkan keberkahan pada pernikahan dan rumah tangganya.

B. Tidak Boleh Menggunakan Ritual Yang Bukan Berasal Dari Islam

Salah satu ritual yang berasal bukan dari Islam, yang anehnya malah sering dilakukan juga oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam saat meminang (khitbah) adalah tukar cincin, atau dengan istilah yang sering disebut sebagai tunangan.

Ingat, dalam ritual tukar cincin banyak mengandung dosa! Karena di dalamnya banyak perbuatan yang melanggar perintah Allah dan RasulNya.

• Di antara bentuk dosa dan pelanggaran yang terdapat pada ritual tukar cincin adalah;

1. Bersentuhannya kulit lelaki dengan kulit wanita yang belum halal (bukan mahram).
Dari Sahabat Maqil bin Yasar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”
(HR. At-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, no.486. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.226)

Bagaimana rasanya jika kepala kita ditusuk oleh jarum atau paku? Maka hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman larangan perbuatan tersebut. Jadi, jangan pernah menganggap remeh dosa sedikit pun!

Sahabat Numan bin Basyir radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ
“Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, yang membuat otaknya mendidih.”
(HR. Imam Muslim, no.213)

Dari Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَنْتَعِلُ بِنَعْلَيْنِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى دِمَاغُهُ مِنْ حَرَارَةِ نَعْلَيْهِ
“Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan siksanya adalah dia memakai dua sandal dari Neraka, seketika itu mendidih otaknya disebabkan panasnya dua sandal tersebut.”
(HR. Imam Muslim, no.211)

Coba bayangkan! Apakah adzab seperti ini ringan bagi kita? Sehingga kita berani melanggar perintah Allah demi memuaskan hawa nafsu? Ini adalah adzab yang paling ringan, lalu bagaimana dengan adzab yang paling beratnya?

2. Kaum lelaki itu tidak boleh memakai emas, apa pun bentuknya.

Bahwasannya Rasulullah melarang kaum lelaki memakai cincin emas. Sebagaimana beliau bersabda;

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا
“Emas dan sutra dihalalkan untuk kaum wanita dari umatku dan diharamkan atas kaum laki-lakinya.”
(HR. An-Nasai, no.5148)

3. Cincin pertunangan adalah tradisi Ahlul Kitab yaitu kaum Nashrani. Kaum lelaki Ahlul kitab ini biasa memberikan cincin kepada calon pengantinnya sebelum dilaksanakannya akad atau resepsi pernikahan.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata;
“Kami tidak mengetahui dasar amalan (tukar cincin) ini dalam syariat Islam. Yang paling utama adalah meninggalkan hal tersebut, baik cincin itu terbuat dari emas, perak atau selainnya.”
(Fatawa Al-Islamiyyah, 3:129)

Bersabarlah saudara-saudariku! Berusahalah untuk menghindari ritual tukar cincin atau ritual lainnya yang melanggar perintah Allah dan RasulNya! Itu pun jika kita ingin selamat dari adzab Allah dan diberkahi rumah tangganya. Jadi, tidak ada alasan karena taat kepada manusia, atau karena mengikuti tradisi masyarakat, sehingga kita berani melanggar perintah Allah dan RasulNya!

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal kebaikan.”
(HR. Imam Muslim, no.1840)

Meski pun orang tua kita yang memerintahkan keburukan, kita hanya boleh mendengarkannya, dan tetap tidak boleh melaksanakan perintahnya tersebut! Inilah hukum Islam, sehingga jelaslah harus kepada siapa kita berlaku taat secara penuh dan totalitas.

C. Tolak Ukur Diterimanya Pinangan

Sesuatu yang menjadi standar diterimanya seorang lelaki dan wanita bukanlah harta, nasab dan rupa yang indah. Namun, akhlaq yang terpuji dan agama yang baik.

Sahabat Abu Hatim Al-Muzani radhiyallahu anhu berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Jika seseorang datang melamar (anak perempuan dan kerabat) kalian, sedangkan kalian ridha pada agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia! Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan. Para Sahabat bertanya: Meski pun dia tidak kaya? Beliau menjawab: Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, lalu kalian ridha pada agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia!”
(HR. At-Tirmidzi, no.1085. Syaikh Al-Albani menyatakan hasan bima qablahu)

Jadi, tidak hanya lelaki shalih yang dianjurkan mencari wanita yang shalihah dan ideal, tapi wali dari wanita atau si wanita tersebut pun harus mencari lelaki shalih untuk dijadikan pasangan hidupnya. Sehingga, seorang wali dari wanita pun boleh menawarkan wanita tersebut kepada para lelaki yang shalih, tidak perlu malu dan gengsi!

Lihatlah Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu! Beliau adalah seorang khalifah dan merupakan Sahabat Nabi yang sudah diberikan kabar gembira oleh Allah dengan SurgaNya. Ketika anaknya, yakni Hafshah binti Umar radhiyallahu anha ditinggal wafat oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah As-Sahmi radhiyallahu anhu, Umar mendatangi Sahabat yang lain seperti Utsman bin Affan dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhumaa untuk menawarkan anaknya, yakni Hafshah kepada mereka berdua untuk dinikahi.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa bercerita;

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ حِينَ تَأَيَّمَتْ حَفْصَةُ بِنْتُ عُمَرَ مِنْ خُنَيْسِ بْنِ حُذَافَةَ السَّهْمِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتُوُفِّيَ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَتَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ حَفْصَةَ فَقَالَ سَأَنْظُرُ فِي أَمْرِي فَلَبِثْتُ لَيَالِيَ ثُمَّ لَقِيَنِي فَقَالَ قَدْ بَدَا لِي أَنْ لَا أَتَزَوَّجَ يَوْمِي هَذَا قَالَ عُمَرُ فَلَقِيتُ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ فَقُلْتُ إِنْ شِئْتَ زَوَّجْتُكَ حَفْصَةَ بِنْتَ عُمَرَ فَصَمَتَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا وَكُنْتُ أَوْجَدَ عَلَيْهِ مِنِّي عَلَى عُثْمَانَ فَلَبِثْتُ لَيَالِيَ ثُمَّ خَطَبَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْكَحْتُهَا إِيَّاهُ فَلَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَعَلَّكَ وَجَدْتَ عَلَيَّ حِينَ عَرَضْتَ عَلَيَّ حَفْصَةَ فَلَمْ أَرْجِعْ إِلَيْكَ شَيْئًا قَالَ عُمَرُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجِعَ إِلَيْكَ فِيمَا عَرَضْتَ عَلَيَّ إِلَّا أَنِّي كُنْتُ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ ذَكَرَهَا فَلَمْ أَكُنْ لِأُفْشِيَ سِرَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ تَرَكَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبِلْتُهَا
“Ketika Hafshah binti Umar menjadi janda karena wafatnya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi -termasuk salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan dia wafat di Madinah-, Maka Umar bin Al Khaththab berkata: Aku mendatangi Utsman bin Affan dan menawarkan Hafshah kepadanya, maka dia pun berkata: Aku akan berfikir terlebih dahulu. Lalu aku pun menunggu beberapa malam, kemudian dia menemuiku dan berkata: Aku telah mengambil keputusan, bahwa aku tidak akan menikah untuk hari-hari ini. Lalu aku pun menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata kepadanya: Jika kamu mau, maka aku akan menikahkanmu dengan Hafshah. Namun, dia tidak memberi jawaban apa pun kepadaku. Maka aku menunggu selama beberapa malam, dan akhirnya Hafshah pun dikhithbah oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka aku menikahkannya dengan beliau. Kemudian Abu Bakar menemuiku dan berkata: Sepertinya kamu merasa kecewa saat menawarkan Hafshah kepadaku? Umar berkata: Ya. Abu Bakar berkata: Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu, kecuali bahwa aku tahu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyebut-nyebut nama Hafshah. Dan aku tidak mau membuka rahasia Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan sekiranya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggalkannya, niscaya aku akan menerimanya.”
(HR. Imam Bukhari, no.4728)

Jadi, seorang wanita boleh menawarkan dirinya untuk dinikahi kepada lelaki shalih, yang baik agama dan akhlaqnya. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang tercela, bahkan itu adalah hal yang sangat mulia dan terhormat. Karena hal tersebut merupakan upaya dia untuk menyelamatkan dirinya dari pasangan hidup yang buruk agama dan akhlaqnya.

Jangan mau termakan ucapan orang jahil yang mengatakan: Zaman sekarang bukannya zaman perjodohan, malu lah kalau harus mengemis cinta, atau ungkapan-ungkapan buruk semisalnya!

D. Shalat Istikharah

Shalat istikharah adalah untuk meminta taufiq (kemudahan) kepada Allah dalam memutuskan segala sesuatu. Hukum shalat istikharah adalah sunnah.

Setelah proses melihat (nazhar) dilakukan ketika meminang (khitbah), maka hendaklah masing-masing di antara mereka berdua mengerjakan shalat sunnah istikharah dan berdoa setelahnya. Yaitu memohon kepada Allah agar diberikan kecocokan dan ketenangan, juga memohon kepada Allah agar diberikan pilihan yang terbaik.

Hal ini berdasarkan hadits dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah mengajari kami shalat istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana beliau mengajari surat Al-Quran. Lalu Rasulullah bersabda: Apabila seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya dia melakukan shalat sunnah (istikharah) dua rakaat, kemudian membaca doa;

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ، اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَاذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ، وَمَعَاشِيْ، وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ، فَاقْدُرْهُ لِيْ، وَيَسِّرْهُ لِيْ، ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَاذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ، وَمَعَاشِيْ، وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ، فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ، وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmuMu, aku mohon kekuatan kepadaMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kekuasaanMu dan aku mohon anugerahMu yang maha agung. Sesungguhnya Engkau maha kuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau maha mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau maha mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untuk agama, kehidupan dan akhir urusanku, maka taqdirkanlah ia untukku, mudahkan ia untukku, kemudian berkahilah ia untukku. Tapi jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untuk agama, kehidupan dan akhir urusanku, maka jauhkan ia dariku dan jauhkan aku darinya. Taqdirkanlah yang terbaik untukku dimana pun itu, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya.”
(HR. Imam Al-Bukhari, no.1162)

• Tata cara mengerjakan shalat istikharah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah adalah;

1. Istikharah dilakukan ketika seseorang bertekad untuk melakukan suatu hal tertentu, bukan hanya sebatas lintasan batin. Kemudian dia pasrahkan hasilnya kepada Allah azza wa jalla.
2. Bersuci, baik wudhu atau tayammum.
3. Melaksanakan shalat dua rakaat. Shalat sunnah dua rakaat ini bebas, tidak harus shalat khusus. Bisa juga berupa shalat sunnah rawatib, shalat tahiyyatul masjid, shalat dhuha dan semisalnya, yang penting dua rakaat.
4. Tidak ada bacaan surat khusus ketika shalat istikharah. Artinya cukup membaca Al-Fatihah (ini wajib) dan surat atau ayat lainnya yang dihafal (ini sunnah).
5. Berdoa setelah salam dan dianjurkan mengangkat tangan. Caranya: Membaca doa di atas. Selesai doa dia langsung menyebutkan keinginannya dengan bahasa bebas. Misalnya: Ingin bekerja di perusahaan A, atau ingin menikah dengan B, atau berangkat ke kota C dan yang lainnya.
6. Banyak orang beranggapan bahwa jawaban istikharah akan Allah sampaikan dalam mimpi. Ini adalah anggapan yang salah, yang sama sekali tidak berdasarkan dalil, karena tidak ada hubungannya antara istikharah dengan mimpi.
7. Melakukan apa yang menjadi tekadnya. Jika menjumpai halangan, berarti itu isyarat bahwa Allah tidak menginginkan hal itu terjadi kepada anda.
8. Apa pun hasil akhir setelah istikharah, itulah yang terbaik bagi anda, meski pun bisa jadi tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Karena itu, anda harus berusaha ridha dan lapang dada dengan pilihan Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan dalam doa di atas, dengan menyatakan: Kemudian jadikanlah aku ridha dengannya. Maksudnya adalah ridha dengan pilihanMu ya Allah, meski pun tidak sesuai dengan keinginanku.

Bisa jadi sesuatu yang kita suka, itu tidak baik untuk kita dan bisa jadi sesuatu yang kita benci, itulah yang baik untuk kita.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal baik bagi kalian dan boleh jadi juga kalian menyukai sesuatu padahal sangat buruk bagi kalian. Dan Allah maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 216)

E. Menentukan Hari Pernikahan

Dalam syariat Islam, ada sebuah rumus (kaidah) dari para ulama, bahwa untuk masalah muamalah (dunia), selama tidak ada larangan dalam syariat Islam, maka semuanya baik dan boleh dilakukan. Termasuk penentuan tanggal pernikahan atau tanggal acara lainnya.

Bahkan kita tidak boleh menghukumi adanya hari sial atau tanggal sial, kecuali dengan dalil. Dan ternyata tidak ada satu pun dalil shahih yang menyebutkan tentang adanya hari sial atau tanggal sial dalam Islam, itu semua tidak ada dan tidak benar. Hal semacam itu yang seharusnya dihindari ketika hendak melakukan walimah atau acara lainnya, karena berkeyakinan sial, itu termasuk syirik.

Allah azza wa jalla berfirman;

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah (syirik), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(Surat Az-Zumar: ayat 65)

Dalam pembahasan masalah aqidah, berkeyakinan sial karena melihat peristiwa tertentu atau terhadap hari tertentu disebut: Thiyarah atau tathayur.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, (beliau membacanya sebanyak 3 kali).”
(HR. At-Tirmidzi, no.1614)

Contoh thiyarah yang sudah tersebar di Indonesia adalah keyakinan sial yang dialami masyarakat Jogja dan sekitarnya, terhadap bulan Suro (bulan Muharam). Pantangan bagi mereka untuk melakukan walimah apa pun di bulan tersebut. Karena menurut mereka: Uan Suro Ulan Ciloko (bulan Muharram adalah bulan musibah).

Karena sebetulnya, keyakinan semacam ini sama persis dengan keyakinan masyarakat jahiliyah masa silam, hanya saja bulannya berbeda. Bagi masyarakat jahiliyah masa silam, bulan Syawwal adalah bulan larangan untuk menikah.

Untuk melawan keyakinan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menikahi sebagian istrinya di bulan Syawwal. Beliau ingin membuktikan bahwa pernikahan di bulan Syawwal tidak akan memberi dampak buruk apa pun bagi keluarganya.

Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh istrinya, yakni Aisyah radhiallahu anha;

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menikahiku pada bulan Syawwal, dan mulai berumah tangga bersamaku pada bulan Syawwal, maka tidak ada di antara istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang lebih mendapatkan keberuntungan dari padaku. Perawi berkata: Oleh karena itu, Aisyah sangat senang menikahkan para wanita di bulan Syawwal.”
(HR. Imam Muslim, no.1423)

Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama menganjurkan agar menikah atau melakukan malam pertama di bulan Syawwal. Sementara ulama lainnya mengatakan, hal seperti ini dikembalikan pada tujuan dakwah. Aisyah menyatakan demikian sebagai bentuk tantangan terhadap keyakinan masyarakat jahiliyyah, bahwa nikah di bulan Syawwal tidak akan bahagia dan berakhir dengan perceraian. Namun, Aisyah meyakinkan dirinya adalah wanita paling bahagia, padahal beliau menikah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di bulan Syawwal.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Tujuan Aisyah mengatakan demikian adalah sebagai bantahan terhadap keyakinan jahiliyyah dan khurafat yang beredar di kalangan masyarakat awam pada waktu itu, bahwa dimakruhkan menikah atau melakukan malam pertama di bulan Syawwal. Ini adalah keyakinan yang salah, yang tidak memiliki landasan (dalil). Bahkan keyakinan ini merupakan peninggalan masyarakat jahiliyyah, yang meyakini adanya kesialan menikah di bulan Syawwal.”
(Syarh Shahih Muslim, 9:209)

Di Jawa terdapat ritual semacam itu, dan orang yang diyakini memiliki kemampuan bisa menghitung dan memaknai tanggal, bulan, weton, dan semisalnya disebut Pitungan.

Di Sunda juga terdapat ritual demikian, dan orang yang diyakini memiliki kemampuan bisa menghitung dan memaknai tanggal, bulan, weton, dan semisalnya disebut Patanyaan.

Sesungguhnya tidak ada ilmu baku dalam ritual semacam ini, selain gothak-gathik-gathuk (cok gali cok, digali-gali cocok) atau seperti menghitung kancing baju (ngasal nebak). Dengan metode ilmu ini, para Pitungan atau Patanyaan akan menentukan mana hari baik, mana hari kurang baik, mana hari buruk dan mana hari yang paling berbahaya.

Yakinilah, metode semacam ini adalah ramalan! Karena nasib dan taqdir seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tanggal lahir, weton, tanggal nikah, bulan, jodoh dan lainnya.

Pada hakikatnya, para Pitungan dan Patanyaan, mereka semua sama seperti dukun, paranormal dan peramal. Maka jangan sekali-kali mendekatinya, mendatanginya, apalagi meyakininya! Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan ancaman bagi siapa pun yang mendatangi orang semacam dukun.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barang siapa yang mendatangi peramal (dukun), kemudian bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari.”
(HR. Imam Muslim, no.2230)

Mendatanginya saja tidak boleh, apalagi sampai meyakininya atau mempercayainya. Tentu hukuman yang akan Allah berikan lebih besar dari itu. Sehingga yang benar dalam masalah penentuan waktu untuk suatu acara, semua waktu, tanggal, tahun adalah baik. Jadi, kita boleh menentukan tanggal pernikahan atau acara lainnya kapan pun.

Berdoalah kepada Allah! Semoga Allah memberkahi pernikahan kita dan keluarga kita. Karena setiap hubungan yang dibangun atas ketaatan kepada Allah, pasti akan Allah rahmati, bahkan Allah akan mempertemukannya kembali di SurgaNya. Aamiin

Sebagai penutup, Penulis ingin memberikan nasihat untuk para Pembaca;
“Hendaknya jarak antara masa meminang (khitbah) menuju akad nikah itu sebentar, jangan terlalu lama! Disebabkan semakin lama jaraknya, maka dikhawatirkan semakin besar juga fitnah yang akan muncul di antara keduanya. Karena kita sudah mengetahui dari hadits Rasulullah, fitnah terbesar bagi kaum lelaki adalah wanita.”

Walhamdulillah, akhirnya penulisan Rute Menjemput Jodoh, mulai dari masa meminang sampai persiapan pelaksanaan walimah sudah selesai.

Meski pun penjelasan yang disampaikan itu cukup ringkas, semoga bisa menjadi bekal ilmu yang bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca, baik yang belum menikah atau pun yang sudah menikah.

Agar yang belum menikah, bisa mempersiapkan segalanya dengan baik, sehingga bisa melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah ketika masa menjemput jodohnya, yang dengan sebab itu, semoga Allah berkahi pernikahannya tersebut.

Bagi yang sudah menikah, ketika masa menjemput jodohnya dahulu belum sesuai syariat Islam, bahkan banyak melanggar perintah Allah dan RasulNya, semoga tulisan ini bisa membuatnya sadar dan bisa segera bertaubat kepada Allah. Agar dosa dan kesalahan yang dilakukannya dahulu, segera diampuni oleh Allah azza wa jalla dan bisa diperbaikinya nanti di waktu pernikahan istri kedua sampai keempatnya. Aamiin

Semoga Allah berikan kemudahan untuk kita istiqamah dalam melakukan amalan ibadah yang wajib dan menghiasinya dengan amalan yang sunnah. Aamiin

Semoga Allah memudahkan untuk para Pembaca yang belum menikah, agar bisa segera menikah dengan pasangan hidup yang shalih. Aamiin

Silakan, simpan tulisan ini untuk dipelajari! Sehingga bisa diamalkan, dan disebarluaskan kepada saudara-saudari muslim lainnya, agar mereka juga bisa mempelajari ilmu tentang pernikahan dan mengamalkannya!

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah serta kebaikan untuk diri Penulis. Aamiin
_____
Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, selesai ditulis pada malam hari, di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Kamis, 06 Rajab 1439H/22 Maret 2018M.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaKetika Musibah Melanda
Artikel sesudahnyaPesta Pernikahan Islami
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here