Beranda Belajar Islam Kehidupan Sehari hari Ketika Musibah Melanda

Ketika Musibah Melanda

587
0
BERBAGI

Ketika Musibah Melanda

Para Pembaca yang semoga Allah berikan kemudahan untuk membaca dan memahami ilmu serta nasihat.

Apa yang akan kita lakukan jika bencana alam ada di sekitar tempat tinggal kita? Berteriak, menangis, kabur, ataukah mengungsi?

Seorang muslim yang cerdas, dia akan tahu apa yang harus dilakukannya dan hal tersebut bisa diketahui hanya dengan ilmu, sedangkan ilmu hanya bisa didapatkan dengan belajar dan belajar hanya bisa dilakukan dengan kemauan dan kesungguhan yang kuat, bukan hanya sekedar keinginan dan angan-angan semata.

Hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap muslim ketika menghadapi musibah, di antaranya;

1. Meyakini bahwa setiap musibah itu datangnya dari Allah.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوٰلِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِينَ. الَّذِينَ إِذَآ أَصٰبَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رٰجِعُونَ. أُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“(Dan sungguh Kami akan memberi kalian cobaan berupa sedikit ketakutan) terhadap musuh, (kelaparan) paceklik, (kekurangan harta) disebabkan datangnya malapetaka, (dan jiwa) disebabkan pembunuhan, kematian dan penyakit, (serta buah-buahan) karena bahaya kekeringan, artinya Kami akan menguji kalian, apakah kalian bersabar atau tidak? (Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar) bahwa mereka akan menerima balasan kesabaran itu berupa Surga. (Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah) bencana atau malapetaka (mereka mengucapkan: Innaa lillaahi) artinya sesungguhnya kita ini milik Allah; maksudnya menjadi milik dan hambaNya yang dapat diperlakukan sekehendakNya, (wa innaa ilaihi raajiuun) artinya dan sesungguhnya kepadaNya kita akan kembali, yakni ke akhirat, di sana kita akan diberiNya balasan. Dalam sebuah hadits disebutkan: Barang siapa yang istirja atau mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun ketika mendapat musibah, maka dia akan diberi pahala oleh Allah dan diiringi dengan kebaikan. Juga diberitakan bahwa pada suatu ketika lampu rumah Nabi shallallahu alaihi wa sallam padam, maka beliau pun mengucapkan istirja, lalu kata Aisyah: Bukankah ini hanya sebuah lampu? Jawabnya: Setiap yang mengecewakan (hati) orang mukmin itu berarti musibah. (Diriwayatkan oleh Abu Daud rahimahullah, dalam kumpulan hadits-hadits mursalnya). (Mereka itulah yang mendapat shalawat) artinya ampunan (dari Allah serta rahmat) atau nikmat (dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk) ke arah yang benar.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 155-157)

Setelah membaca 3 ayat di atas, kita tahu bahwa musibah yang datang kepada kita adalah cobaan dan ujian dari Allah, untuk mengetahui sabar ataukah tidak, benar beriman ataukah tidak kita ini? Karena ketika seseorang yang mengatakan “saya beriman kepada Allah”, pasti dia akan diberikan ujian oleh Allah. Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allah juga akan semakin besar.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu;

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ
“Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab: para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2398, Ibnu Majah, no.4523)

Jadi jelas sudah, jika selama ini kita selalu berdoa: “Ya Allah..kuatkanlah imanku, angkatlah derajatku, ampunilah segala dosaku!”, atau dengan lafazh doa yang semakna dengan itu, maka konsekuensinya kita harus siap diuji oleh Allah! Karena segala sesuatu itu perlu perjuangan dan ada konsekuensinya.

2. Selalu berdoa dan bersyukur kepada Allah.

Hendaknya ketika kita sedang terkena musibah, membaca doa;

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اَللَّهُمَّ أُجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali (di hari Kiamat). Ya Allah, berilah pahala kepadaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku).”

Sebagaimana Ummu Salamah radhiyallahu anhu berkata;

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. اَللَّهُمَّ أُجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah, lalu dia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah: INAA LILLAAHI WAINNAA ILAIHI RAAJIUUN ALLAHUMMA UJURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya), melainkan Allah akan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah berkata: Ketika Abu Salamah telah wafat, aku bertanya: Orang muslim manakah yang lebih baik dari pada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama hijrah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian aku pun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya untukku Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. Imam Muslim, no.1525)

Selain itu, ketika kita melihat orang lain terkena musibah, ucapkanlah doa kepadanya;

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً
“Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkanku dari musibah yang menimpamu, serta memberikan kelebihan kepadaku atas sekian banyak ciptaanNya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3431 dan Ibnu Majah, no.3898)

Dari Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;
“Barang siapa menyaksikan orang yang terkena musibah, kemudian mengatakan: (doa di atas), pasti Allah akan menghindarkannya dari musibah tersebut selama hidupnya, walau bagaimana pun keadaannya.”

Hanya dengan membaca doa tersebut, Allah akan melindungi kehidupan kita dari musibah yang menimpa orang lain. Sungguh suatu amalan yang sangat ringan namun, Allah balas dengan balasan yang sangat besar. Maka segera hafalkan dan amalkan doa-doa tersebut!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan dan itu tidak akan terjadi kecuali terhadap orang yang beriman. Jika dia dianugerahi nikmat dia bersyukur, maka itu baik baginya dan jika dia tertimpa musibah lalu dia bersabar, maka itu baik juga baginya.”
(HR. Imam Muslim, no.2999)

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan;
“Seandainya manusia mengetahui bahwa nikmat Allah yang ada dalam musibah itu, tidak lain sama seperti halnya nikmat Allah yang ada dalam kesenangan, pasti hati dan lisannya akan sibuk untuk selalu mensyukurinya.”
(Syifau Al-Alil, hlm.525)

3. Menghadapi musibah dengan senyuman.

Senyuman hanya bisa dilakukan dalam keadaan hati tenang dan ketenangan hanya dimiliki oleh orang yang bersabar. Sedangkan orang yang sabar atas musibah yang melandanya, itu tandanya dia ridha dengan ujian yang Allah berikan kepadanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka dia akan mendapat keridhaanNya. Siapa yang membencinya maka dia juga akan mendapatkan kemurkaanNya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2396 dan Ibnu Majah, no.4031, Ash-Shahihah, no.146)

Tidak hanya itu, bahkan ketika kita ridha menerima ketentuan dari Allah, maka dengannya dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah azza wa jalla.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan (dosa)nya.”
(HR. Imam Bukhari, no.5642)

Balasan minimalnya bagi seorang Muslim yang tertimpa musibah, sekecil apa pun musibah tersebut, maka Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ
“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba, sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2398, dan Ibnu Majah, no.4523, Ash-Shahihah, no.143)

Artinya selama kita memiliki dosa meski pun sedikit, maka Allah akan terus berikan ujian kepada kita, karena hal tersebut bisa menggugurkan dosa-dosa kita.

Hakam bin Utaibah rahimahullah berkata;
“Jika telah menumpuk dosa seorang hamba namun, dia tidak memiliki amal kebaikan untuk menghapus dosanya, maka Allah akan berikan ujian kepadanya dengan kesedihan untuk menghapuskan dosanya.”
(Ibnu Abi Ad-Dunya, hlm.130)

Bahkan dosa itu setiap dilakukan oleh seorang hamba, maka ia akan merusak kehidupan pelakunya perlahan namun, pasti. Sampai ia pun menjadi sebab rezeki seseorang terhalang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ
“Sesungguhnya seseorang akan terhalang rezekinya disebabkan dosa yang diperbuatnya.”
(HR. Al-Mundziri, 3:289. At-Targhib Wa At-Tarhib, 3:289, sanadnya shahih)

Maka, mulai saat ini perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah azza wa jalla!

3. Introspeksi diri.

Bisa jadi musibah yang melanda disebabkan karena perbuatan kita sendiri. Coba kita merenung sejenak!

Allah subhanahu wa taala berfirman;

وَمَآ أَصٰبَكُمْ مِّنْ مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ
“(Dan apa saja yang telah menimpa kalian) khithab ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin (berupa musibah) berupa malapetaka dan kesengsaraan (maka adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri) artinya, sebab dosa-dosa yang telah kalian lakukan sendiri. Diungkapkan bahwa dosa-dosa tersebut dikerjakan oleh tangan mereka, hal ini mengingat, bahwa kebanyakan pekerjaan manusia itu dilakukan oleh tangan (dan Allah memaafkan sebagian besar) dari dosa-dosa tersebut, karena itu Dia tidak membalasnya. Dia maha mulia dari menduakalikan pembalasanNya di akhirat. Adapun mengenai musibah yang menimpa kepada orang-orang yang tidak berdosa di dunia, dimaksudkan untuk mengangkat derajatnya di akhirat kelak.”
(Surat Asy-Syura: ayat 30)

Perhatikan baik-baik! Ternyata betul pepatah yang tersebar: “Tidak akan ada asap kalau tidak ada api”.

Setiap ada yang dibuat, pasti ada yang membuat. Setiap ada yang muncul, pasti ada yang memunculkan.

Sebagai contoh: Terjadinya longsor karena sebab kita suka membuang sampah sembarangan, menggali tanah semaunya tanpa aturan yang benar dan kebiasaan buruk lainnya.

Ketika kita tahu, bahwa kita lah pelakunya, sebab terjadinya suatu musibah, bencana alam, banjir, longsor dan semisalnya. Maka tugas kita adalah untuk menyadari kesalahannya dan memohon ampun, bertaubat kepada Allah azza wa jalla, lalu perbaikilah prilaku kita untuk menjadi lebih baik!

Ini bukti yang sangat nyata. Bahwa dosa adalah suatu perbuatan yang mungkin membuat senang pelakunya ketika berbuat demikian namun, ia memiliki efek samping yang sangat dahsyat, yaitu akan membinasakan pelakunya secara perlahan, tapi pasti! Maka jangan pernah merasa aman dari setiap perbuatan yang sudah kita lakukan. Bersegera bertaubat, beristighfar, sebelum wafat!

Ayat tersebut mengajarkan banyak pelajaran hidup. Di antaranya: Ketika kita memiliki suatu masalah, maka jangan tunjuk orang lain yang bersalah. Namun, tunjuklah diri sendiri! Dan katakan “diri saya lah yang salah.” Itulah yang namanya sikap bijak.

Terkadang kita membenci penyakit yang menimpa diri kita, tapi bisa jadi penyakit tersebut baik untuk diri kita, terkadang kita membenci suatu musibah namun, sengaja Allah kirimkan kepada kita, karena Allah menginginkan kebaikan untuk kita.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu sangat baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu sangat buruk bagi kalian. Allah maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 216)

Seharusnya, seorang hamba yang sedang ditimpa penyakit atau pun musibah, tidak perlu merasa cemas, jangan takut dan jangan selalu dirundung duka, akan tetapi jadikanlah musibah itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri ke SurgaNya Allah dan sebagai sarana menjauhkan diri dari NerakaNya Allah.

Betapa banyak manusia, ketika Allah berikan kenikmatan dan kebahagiaan namun, justru membuatnya melupakan Allah dan membuatnya jatuh dalam neraka, lalu betapa banyak yang diuji dengan musibah oleh Allah, tapi justru musibah tersebut mendekatkannya kepada Allah dan mendekatkan dirinya menuju Surga.

PADA AKHIRNYA, KITA HARUS MEMPERBANYAK ISTIGHFAR (MEMOHON AMPUN) DAN BERTAUBAT KEPADA ALLAH. KARENA SETIAP APA YANG KITA DAPATKAN, ITULAH HASIL DARI PERBUATAN KITA.

Semoga Allah menjadikan kita semua menjadi hambaNya yang selalu bersyukur dan taat, yang semakin hari semakin membaik prilakunya dan semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk istiqamah dalam menuntut ilmu, beramal shalih dan bertaubat kepadaNya.

Sehingga dengan berkurangnya dosa dan kesalahan kita, menjadi ringan pula ujian dan musibah yang Allah berikan kepada kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat.
___
Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmush shaalihaat, selesai ditulis pada malam hari, di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Jumat malam Sabtu, 15 Jumadal Akhirah 1439H/02 Maret 2018M.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaKetika Rintikan Hujan Turun
Artikel sesudahnyaRute Menjemput Jodoh
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here