Beranda Belajar Islam Adab Ketika Rintikan Hujan Turun

Ketika Rintikan Hujan Turun

1314
0
BERBAGI

Ketika Rintikan Hujan Turun

Para pembaca yang semoga Allah berikan kemudahan untuk selalu bersyukur.

• Apa yang sudah kita ketahui tentang hujan?
• Apa yang biasanya kita lakukan ketika hujan?

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya merasa berbahagia, merasa senang ketika hujan turun. Sebab dia tahu apa itu hujan, dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan ketika hujan turun.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَمِنْ ءَايٰتِهِۦٓ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خٰشِعَةً فَإِذَآ أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِىٓ أَحْيَاهَا لَمُحْىِ الْمَوْتٰىٓ ۚ إِنَّهُۥ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“(Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus) yaitu tidak ada tumbuh-tumbuhan padanya (maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya bumi bergerak) berubah (dan subur) yakni menjadi subur dan rimbun penuh dengan tumbuhan-tumbuhan. (Sesungguhnya Allah yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu).”
(Surat Fusshilat: ayat 39)

Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan kepada hamba-hambaNya bahwa hujan itu adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaanNya, dan ini sebagai bukti bahwasanya Allah itu ada, berada di atas bukan di bawah. Karena yang dikatakan Allah menurunkan air hujan, berarti dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Inilah aqidah yang harus dimiliki dan diyakini oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam.

Bahkan dengan Allah menurunkan air hujan, sebetulnya Allah sedang memberikan banyak kebaikan kepada para hambaNya. Namun, sangat disayangkan, masih banyak di antara kita yang belum bisa memahami makna hujan dengan baik dan benar, disebabkan kejahilan (kebodohan) kita terhadap ilmu Islam.

Tidak sedikit di antara kita sering menyalahkan Allah, mencela hujan yang Allah turunkan, bahkan melewati masa hujan turun dengan begitu saja, sehingga jadilah kita sebagai manusia yang sangat buruk dan merugi.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَآءً ثَجَّاجًا. لِّنُخْرِجَ بِهِۦ حَبًّا وَنَبَاتًا. وَجَنّٰتٍ أَلْفَافًا
“(Dan Kami turunkan dari awan yang tebal) yaitu awan yang banyak mengandung air dan sudah saatnya menurunkan air yang dikandungnya, sebagaimana halnya seorang gadis yang sudah masanya untuk berhaidh (air yang tercurah) artinya bagaikan air yang dicurahkan. (Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian) seperti biji gandum (dan tumbuh-tumbuhan) seperti buah tin. (Dan kebun-kebun) atau taman-taman (yang lebat) tumbuh-tumbuhannya.”
(Surat An-Naba: ayat 14-16)

Setelah kita membaca tiga ayat di atas, sudah pahamkah kita tentang tujuan Allah menurunkan air hujan? Sudah bisakah membuat kita berprasangka baik kepada Allah?

Karena salah satu bagian dari aqidah (keyakinan) yang harus diyakini oleh setiap muslim adalah meyakini setiap yang Allah ciptakan itu pasti ada manfaatnya dan tidak mungkin sia-sia (tidak bermanfaat).

Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman dan keyakinan terhadap Islam yang benar lagi lurus.

Pada ayat yang lain, Allah menjelaskan sekilas proses terjadinya hujan. Allah berfirman;

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنۢ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَنْ يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَنْ مَّنْ يَشَآءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ بِالْأَبْصٰرِ
“(Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan) menggiringnya secara lembut (kemudian mengumpulkan antara bagian-bagiannya) dengan menghimpun sebagiannya dengan sebagian yang lain, sehingga yang tadinya tersebar kini menjadi satu kumpulan (kemudian menjadikannya bertindih-tindih) yakni sebagiannya di atas sebagian yang lain (maka nampaklah olehmu air) hujan (keluar dari celah-celahnya) yakni melalui celah-celahnya (dan Allah juga menurunkan dari langit). Huruf ‘Min’ yang kedua ini berfungsi menjadi ‘Shilah’ atau kata penghubung (yakni dari gunung-gunung yang menjulang padanya) menjulang ke langit. ‘Min Jibaalin’ menjadi Badal dari pada lafazh ‘Minas Samaai’ dengan mengulangi huruf Jarrnya (berupa es) sebagiannya terdiri dari es (maka ditimpakannya es tersebut kepada siapa pun yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa pun yang dikehendakiNya. Hampir-hampir) hampir saja (kilauan kilat awan itu) yakni cahayanya yang berkilauan (menghilangkan penglihatan) mata yang memandangnya, karena silau dengannya.”
(Surat An-Nur: ayat 43)

Lalu Allah azza wa jalla menjelaskan lagi;

أَفَرَءَيْتُمُ الْمَآءَ الَّذِى تَشْرَبُونَ. ءَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ
“(Maka terangkanlah kepadaKu tentang air yang kalian minum)! (Kaliankah yang menurunkannya dari awan?) lafazh ‘Muzni’ adalah bentuk jamak dari lafazh ‘Muznatun’, artinya awan yang membawa air hujan (ataukah Kami yang menurunkannya?)”
(Surat Al-Waqiah: ayat 68-69)

Jadi ketika hujan turun, yakini bahwa yang menurunkan air itu adalah Allah, bukan makhluq. Dan ini sebagai bukti juga, bahwa Allah ketika menciptakan makhluq itu tidak hanya menciptakan begitu saja, melainkan Allah pun yang mengatur rezekinya, dan semua ini diatur dengan kekuasaanNya. Maha kuasa Allah atas segala sesuatu.

Setelah kita tahu bahwa air hujan adalah bentuk kasih sayang (rahmat) Allah kepada para mahluqNya, sudah seharusnya kita menyambut dan membalas kasih sayangNya dengan hati yang senang, bahagia dan ridha, bukan sebaliknya!

Jangan sampai gara-gara kendaraan kita yang baru dicuci, dibersihkan, lalu hujan turun, membuat kendaraan kita jadi kotor kembali sebab terpercik tanah basah dan terlihat dekil kembali, lalu sebab itu membuat kita berani mencela hujan tersebut dan melaknatnya, merasa tidak ridha terhadap hujan yang Allah turunkan tersebut!

Jangan sampai karena kita sedang menjemur pakaian lalu turun hujan, kita langsung menyalahkan Allah dan mengatakan: Kenapa turun hujan sekarang? Tidak nanti saja!, dan ungkapan-ungkapan celaan semisalnya. Seolah-olah hujan itu bukan rahmat untuknya.

Sungguh hinanya orang yang melakukan hal semacam itu! Orang yang seperti itu adalah orang yang tidak tahu diri, orang yang berani menentang kekuasaan Allah! Padahal Allah yang sudah menciptakannya, memudahkan segala urusannya, mengabulkan doanya, dan memberikan rezeki kepadanya. Semoga kita tidak termasuk orang yang semacam itu. Aamiin

Oleh sebab itu, suatu keharusan bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari adab-adab dan amalan sunnah yang bisa dilakukan ketika hujan turun, sehingga dengan hal tersebut kita termasuk hambaNya yang taat lagi bersyukur.

Di antara amalan yang sudah Islam ajarkan dan harus kita lakukan ketika hujan turun adalah;

1. Merasa khawatir ketika mendung tiba.

Istri Rasulullah, Aisyah radhiyallahu anha menjelaskan keadaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika awan mendung tiba.

Ketika muncul mendung, Nabi shallallahu alaihi wa sallam begitu khawatir, merasa takut, jangan-jangan akan datang adzab Allah.

Istri Nabi yang mulia, Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاِق السَّمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ. فَإِنْ كَشَفَهُ اللَّهُ حَمِدَ اللَّهَ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: اَللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna) pada salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya (meskipun dalam shalat), kemudian beliau kembali melanjutkan aktivitasnya (jika hujan sudah selesai). Ketika awan mendung telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan: Ya Allah, jadikanlah hujan yang Engkau turunkan ini bermanfaat!”
(HR. Imam Bukhari, no.686, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Dalam riwayat yang lain;

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ، فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم: مَا أَدْرِى لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ (فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ)
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila melihat mendung di langit, beliau beranjak ke depan, ke belakang atau beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajahnya. Apabila hujan turun, beliau shallallahu alaihi wa sallam mulai menenangkan hatinya. Aisyah sudah memaklumi jika beliau melakukan hal itu. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang terjadi (pada kaum Aad) sebagaimana Allah berfirman (yang artinya): Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.”
(HR. Imam Bukhari, no.3206)

Dalam riwayat lain;

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا الْغَيْمَ فَرِحُوا رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَتْ فِي وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ مَا يُؤَمِّنُنِي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alahi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat tekaknya (pangkal kerongkongan), biasanya beliau hanya tersenyum. Jika beliau melihat awan mendung atau angin, semua itu terlihat dari raut wajahnya (yakni beliau bersedih). Aku lalu bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, orang-orang jika melihat awan mendung, mereka berbahagia karena mengharap akan mendapatkan hujan. Tetapi, jika engkau melihat awan mendung maka aku melihat tanda kegelisahan dari raut wajahmu? Beliau menjawab: Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman. Karena di dalamnya terkandung adzab. Dahulu, suatu kaum pernah disiksa oleh Allah dengan angin, dan kaum lainnya saat melihat siksa itu justru berkata: Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”
(HR. Abu Dawud, no.4434)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Hadits ini menunjukkan bahwa seharusnya seseorang menjadi kacau pikirannya jika dia mengingat kembali tentang apa yang telah terjadi pada umat di masa lalu, dan ini merupakan peringatan agar dia selalu merasa takut akan adzab (yang akan menimpanya), sebagaimana ditimpakan kepada mereka yaitu umat-umat sebelumnya.”
(Fathu Al-Bari, 6:301)

Allah azza wa jalla berfirman;

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِۦ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“(Maka ketika mereka melihat adzab itu) (berupa awan) atau mendung yang muncul di cakrawala langit (menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami) maksudnya, awan yang membawa hujan buat kami. Allah taala berfirman: (Bahkan itulah adzab yang kalian minta supaya datang dengan segera) maksudnya, adzab itu yang kalian minta agar disegerakan datangnya (yaitu berupa angin) lafazh ‘riihun’ menjadi badal atau pengganti dari lafazh ‘maau’ (yang mengandung adzab yang pedih) yang menyakitkan.”
(Surat Al-Ahqaf: ayat 24)

Ini suatu penjelasan sekaligus peringatan bagi kita untuk tidak menganggap sepele adzab Allah azza wa jalla dimana pun dan kapan pun!

Termasuk salah satu hal yang disunnahkan juga ketika langit mulai mendung, adalah membaca doa;

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْه
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang terkandung di dalam awan ini.”
(HR. Asy-Syafii, Al-Umm, 2:555. Muhammad Al-Munawi menyatakan hadits ini hasan)

Lalu biasanya, ketika awan mulai mendung suara petir pun terdengar, maka kita juga disunnahkan untuk membaca doa;

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ
“Maha suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para Malaikat, karena takut kepadaNya.”
(HR. Imam Bukhari, no.723)

Terkadang juga, ketika hujan akan turun, lalu awan mulai mendung, biasanya disertai dengan angin yang cukup kencang berhembus. Oleh karena itu, ketika angin berhembus sangat kencang, kita disunnahkan membaca doa;

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin ini dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya.”
(HR. Abu Dawud, 4:326)

Mari, kita hafalkan dan amalkan doa-doa serta sunnah yang telah Rasulullah ajarkan tersebut! Semoga Allah mudahkan kita untuk memahami segala ketentuanNya dan bergantung hanya kepadaNya.

2. Menyambut hujan turun dengan rasa syukur dan bahagia.

Ketika Allah menurunkan nikmat hujan, dianjurkan bagi setiap muslim untuk membaca doa dalam rangka bersyukur kepadaNya;

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat.”

Itulah yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam ucapkan ketika hujan pertama kali turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha;

إِنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اَللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau berdoa: Allahumma shayyiban naafian (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat).”
(HR. Imam Bukhari, no.1032)

Pada hadits tersebut menjelaskan anjuran untuk berdoa ketika turun hujan, agar kebaikan dan keberkahan yang Allah berikan pada hujan semakin bertambah, begitu juga semakin banyak manfaatnya.

3. Tidak boleh mencela hujan.

Sungguh sangat disayangkan, ketika setiap umat Islam sudah mengetahui bahwa hujan merupakan nikmat dari Allah azza wa jalla namun, ketika hujan turun dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kebencian, sehingga mencelanya: Aduuuh, kok sudah hujan lagi, dasar hujan gak tahu waktu!, dan ungkapan celaan semisalnya.

Perlu kita ketahui, bahwa setiap ucapan seseorang, baik yang bernilai dosa atau pahala, semua akan masuk ke dalam catatan Malaikat.

Allah subhanahu wa taala berfirman;

مَّا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“(Tiada suatu ucapan pun yang dikatakan, melainkan ada Malaikat pengawas) yakni Malaikat pencatat amal (yang selalu hadir) selalu berada di sisinya; lafazh Raqiib dan Atiid ini keduanya mengandung makna Mutsanna.”
(Surat Qaf: ayat 18)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan, lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya tersebut. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya, lalu dia dilemparkan ke dalam Neraka Jahannam.”
(HR. Imam Bukhari, no.6478)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan nasihat, agar jangan selalu menyalahkan sesuatu yang tidak bisa berbuat apa pun, jika kita mendapatkan sesuatu tersebut adalah hal yang tidak kita sukai. Sebagaimana beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluq tersebut tidak dapat berbuat apa pun.

Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah azza wa jalla berfirman;

يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِى الأَمْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Manusia menyakiti Aku, yakni dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur waktu, Aku yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.”
(HR. Imam Bukhari, no.4826)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ
“Janganlah kalian mencaci-maki angin!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2252. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Beberapa dalil di atas, bahwa mencaci maki, mencela waktu dan angin adalah sesuatu yang dilarang. Begitu juga halnya dengan mencaci maki makhluq lainnya yang tidak dapat berbuat apa pun, seperti mencela hujan, pohon dan semisalnya adalah dilarang (tidak boleh dilakukan).

Karena hal tersebut jika dilakukan (mencela hujan dan semisalnya) dengan diyakini bahwa ciptaan Allah itu buruk dan seolah dia bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik dari itu, maka hal ini termasuk syirik akbar (perbuatan syirik yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam).

Meski pun tidak sampai diyakini demikian, maka tetaplah haram hukumnya mencela ciptaan Allah. Karena dia sudah berani mencela sesuatu yang diciptakan oleh Allah, dan itu sama saja dengan dia mencela Allah yang menciptakannya.

Namun, jika mengatakan: Bahwa hari ini hujan, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid, ke sekolah, atau ungkapan semisalnya yang bernada memberikan kabar tanpa adanya niat mencela dan menghujat, maka seperti ini dibolehkan. Wallahu alam.

4. Banyak berdoa ketika hujan turun.

Salah satu sunnah ketika hujan turun adalah banyak berdoa ketika itu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ: عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ
“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: bertemunya dua pasukan, menjelang shalat dilaksanakan dan saat hujan turun.”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.1026. Beliau menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Begitu juga terdapat hadits dari Sahabat Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ
“Ada dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.3078. Beliau menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Bahkan ketika hujan mulai reda, kita juga disunnahkan membaca doa. Sehingga mulai turun hujan sampai dengan selesai, kita mengisinya dengan doa dan adab Islam.

Dari Sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani, Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Ketika hendak pergi, beliau menghadap jamaah shalat, lalu mengatakan: “Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan: ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dia yang beriman kepadaKu dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan, yang mengatakan ‘Muthirna binnaui kadza wa kadza’ (kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dia yang kufur kepadaKu dan beriman pada bintang-bintang.”
(HR. Imam Bukhari, no.846)

Jadi, mari kita manfaatkan momentum turunnya hujan sampai selesai, dengan banyak berdoa kepada Allah azza wa jalla!

5. Ketika hujan mulai deras.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta kepada Allah agar diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon kepada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdoa;

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami! Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan!”
(HR. Imam Bukhari, no.1014)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Ketika hujan semakin lebat, para Sahabat Nabi meminta pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk berdoa kepada Allah, agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau membaca doa di atas.”
(Zaadu Al-Maad, 1:439)

Jadi, bagaimana pun keadaan hujan turun, jangan dicela! Mohon kebaikan dan berlindunglah kepada Allah azza wa jalla, bukan mengeluh!

6. Mengharap berkah dari air hujan.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan: Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian? Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan;

لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى
“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.”
(HR. Imam Muslim, no.898)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Makna dari hadits ini adalah hujan itu rahmat, yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah taala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut. Dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama Syafiiyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut dan mereka juga berdalil dari hadits ini bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan, apabila melihat orang yang lebih berilmu melakukan sesuatu yang dia tidak ketahui, hendaknya dia menanyakannya tentang hal tersebut untuk diajari terlebih dahulu, lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada yang lain.”
(Syarh Muslim, 6:195-196)

Ini sebuah penjelasan yang menyadarkan diri kita yang sudah mulai terbiasa mengikuti suatu amalan seseorang, tanpa meminta penjelasan (ilmu) darinya, baik dari segi dalil atau hukumnya terlebih dahulu, sebelum mengikutinya. Padahal Islam mengajarkan kepada umatnya untuk beradab sebelum berilmu, berilmu sebelum beramal.

Ingatlah nasihat yang disampaikan oleh Imam Bukhari rahimahullah yang dijelaskan dalam muqaddimah kitab shahihnya, bahwa;

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ والْعَمَلِ
“Ilmu itu hendaknya dimiliki sebelum berkata dan beramal!”
(Muqaddimah Shahih Al-Bukhari)

Mencari berkah dengan air hujan dicontohkan juga oleh Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhumaa.

أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: يَا جَارِيَّةُ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً
“Apabila turun hujan, beliau mengatakan: Wahai jariyyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku! Lalu, beliau membacakan sebuah ayat (yang artinya): Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barakah (banyak manfaatnya). (Surat Qaf: ayat 9)”
(HR. Imam Bukhari, no.1228. Syaikh Al-Albani menyatakan sanad hadits ini shahih dan hadits ini mauquf, perkataan Sahabat)

Semoga kita yang selama ini suka mencela hujan, angin, pohon dan mahkluq Allah yang lainnya, setelah membaca tulisan ini menjadi sadar dengan izin Allah. Sehingga kita bisa menjadi hambaNya yang taat lagi bersyukur.

Penulis berharap, semoga melalui tulisan singkat ini yang banyak akan kekurangan, bisa memberikan banyak kebaikan, ilmu yang bermanfaat dan amal shalih untuk diri Penulis dan para Pembaca.

Ahsanallaahu ilainaa.
Wabillahi at-taufiq, washallallahu alaa nabiyyina muhammadin wa alaa aalihi wa ashaabihi ajmaiin.
___
Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, selesai ditulis pada siang menjelang sore, di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Selasa, 18 Jumadal Akhirah 1439H/06 Maret 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaGosip Itu Ghibah
Artikel sesudahnyaKetika Musibah Melanda
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here