Beranda Belajar Islam Amalan Gosip Itu Ghibah

Gosip Itu Ghibah

1544
0
BERBAGI

Gosip Itu Ghibah

اَللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي
“Ya Allah, Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku!”
(HR. Ahmad, 1:403)

Ghibah atau gosip adalah sebuah penyakit atau kebiasaan buruk yang tanpa disadari sudah dimiliki dan sering dilakukan oleh manusia, termasuk kita.

A. PENGERTIAN GHIBAH

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ قَالُوْا اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيْلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ قَالَ إنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Apakah kalian tahu, apa itu ghibah? Para Sahabat menjawab; Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Beliau bersabda; Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai. Seorang Sahabat bertanya; Bagaimana jika sesuatu yang aku ceritakan itu memang benar-benar ada padanya? Beliau bersabda; Jika sesuatu yang kamu ceritakan itu memang benar ada padanya, maka berarti kamu telah berbuat ghibah terhadapnya dan jika tidak benar, berarti kamu telah membuat kebohongan (dusta) terhadapnya.”
(HR. Muslim, No.2589)

Berdasarkan penjelasan di atas, secara ringkas kita dapat memahami ghibah adalah menceritakan tentang saudara-saudari muslim kita di belakangnya dengan sesuatu yang tidak disukainya.

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Ghibah adalah menyebutkan kejelekan orang lain ketika dia tidak ada saat pembicaraan.”
(Syarh Shahih Muslim, 16:129)

Mengapa masih banyak manusia di antara kita masih suka mengghibahi atau menggosipi orang lain?

Inilah permasalahan yang harus segera dibasmi dan diselesaikan! Karena kalau dibiarkan, maka akan terus mengakar dan menyebar di antara umat Islam.

Ghibah sudah menjadi hal yang dianggap biasa, bahkan dirasa harus ada di setiap perkumpulan (kongkow) sebagian manusia secara langsung atau tidak langsung, semisal obrolan di berbagai media sosial. Dan ghibah juga merupakan hal yang sering dianggap remeh dosanya oleh manusia, termasuk kita. Padahal dosa ghibah lebih dahsyat dan lebih besar dari dosa zina!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ وَإِنَّ أَربَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْـمُسْلِمِ
“Riba itu ada 73 pintu. Pintu riba yang paling ringan adalah seperti dosa seseorang yang memperkosa ibu kandungnya sendiri. Dan riba yang paling berat adalah seperti merusak (menjatuhkan) kehormatan seorang muslim.”
(HR. Baihaqi, Syuabu Al-iman, 4:1931)

Perhatikanlah ini saudara-saudariku!
Berapa banyak orang yang asyik membicarakan tentang keburukan (aib) orang lain, yang tujuannya untuk merusak kehormatannya, ketika berkumpul atau di berbagai media sosial. Dan ini adalah musibah besar yang menimpa umat Islam.

Karena perbuatan tersebut merusak amalnya, bahkan mencukur habis agamanya, dan perbuatan tersebut dapat merusak hubungannya dengan saudara-saudari muslim lainnya.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوا بَلَى قَالَ صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada derajat puasa, shalat, dan sedekah? Mereka berkata; Tentu. Yaitu baiknya hubungan di antara sesama. Karena rusaknya hubungan di antara sesama, dapat mengikis habis agama.”
(HR. Tirmidzi, No.2509)

Harus kita ingat, bahwa kehormatan seorang muslim itu mulia di sisi Allah azza wa jalla. Jangan sampai kita bangkrut di hari Kiamat disebabkan lisan kita yang tidak dijaga!

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Ghibah adalah sesuatu yang sangat jelek namun, sudah tersebar secara publik. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini, hanya sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain namun, yang diceritakan adalah sesuatu yang dia tidak suka untuk diperdengarkan kepada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melalui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.”
(Al-adzkar, Hal.597)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka secara umum gosip atau ghibah tidak hanya terkait keburukan, tapi bisa juga terkait kebaikan orang lain yang tidak boleh diketahui oleh siapapun untuk menjaga keikhlasan.

Imam Abdurrahman bin Muhammad rahimahullah berkata:
“Segala sesuatu yang ada maksud untuk mengghibah, maka termasuk dalam ghibah dan hukumnya haram.”
(Majma Al-anhar, 2:552)

B. HUKUM GHIBAH

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian (termasuk kehormatan) adalah haram di antara kalian, seperti haramnya hari ini, bulan ini, dan negeri ini.”
(HR. Muslim, No.2137)

Aisyah radhiayallahu anha berkata kepada Nabi:

حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ غَيْرُ مُسَدَّدٍ تَعْنِي قَصِيرَةً فَقَالَ لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
“Cukuplah Shafiah bagimu seperti ini dan seperti ini, maksudnya pendek. Kemudian beliau bersabda; Sungguh kamu telah mengatakan suatu kalimat, sekiranya itu dicampur dengan air laut, maka ia akan bisa menjadikannya berubah tawar.”
(HR. Abu Daud, No.4232)

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

صَعِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَنَادَى بِصَوْتٍ رَفِيعٍ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لَا تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ قَالَ وَنَظَرَ ابْنُ عُمَرَ يَوْمًا إِلَى الْبَيْتِ أَوْ إِلَى الْكَعْبَةِ فَقَالَ مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةً عِنْدَ اللَّهِ مِنْكِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menaiki mimbar lalu menyeru dengan suara yang lantang; Wahai orang yang telah berIslam dengan lisannya namun, keimanan belum tertancap di hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin dan jangan pula kalian memperolok mereka, jangan pula kalian menelusuri dan membongkar aib mereka! Maka barang siapa yang menyelidiki aib saudara muslimnya, niscaya Allah akan menyelidiki aibnya. Dan barang siapa yang diselidiki aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkar aibnya, meskipun di dalam rumahnya sendiri. Nafi berkata; Suatu hari Ibnu Umar melihat Kabah, lalu beliau berkata; Betapa agungnya kamu dan betapa luhurnya kehormatanmu namun, seorang mukmin lebih agung kehormatannya di sisi Allah dari padamu.”
(HR. Tirmidzi, No.1955. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Ghibah termasuk dosa besar dan diharamkan oleh ijma ulama. Sebagian ulama membolehkan ghibah pada non muslim seperti Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian ulama lainnya tetap melarang ghibah terhadap kafir zhimmi (kafir yang dilindungi).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah berkata:
“Ghibah merupakan dosa besar, tidak bisa terhapuskan dosanya dengan shalat, sedekah, puasa, bahkan haji.”
(Syarh Riyadh Ash-shalihin, 6:109)

Jadi sebetulnya gosip atau ghibah itu sama, dan merupakan perbuatan yang tidak bermanfaat sedikitpun. Bagi yang melakukannya hanya mendapatkan dosa, cape, dan kesia-siaan.

Sebagai ilustrasi, jika kita disuruh melakukan suatu pekerjaan yang tidak menghasilkan upah, tidak ada bayarannya, hanya cuma-cuma, apakah kita mau melakukannya? Tentu tidak!

Lalu, kenapa kita masih suka melakukan perbuatan yang sia-sia seperti menggosip atau mengghibah? Sebaiknya berpikirlah dengan cermat, sebelum berbuat!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Sesungguhnya termasuk tanda dari baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya.”
(HR. Ibnu Hibban, No.229)

Jadi, ketika kita ingin beragama Islam dengan baik dan totalitas, hindari melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya! Karena gosip atau ghibah itu maju kena-mundur kena, benar dapat dosa dan salah juga dapat dosa. Jadi, lebih baik kita tinggalkan!

C. PENYEBAB GHIBAH ADALAH PRASANGKA BURUK

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah oleh kalian prasangka! Karena sesungguhnya prasangka adalah perbuatan yang paling buruk.”
(HR. Bukhari, No.5143)

Karena Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbaik sangka (husnuzhan) terhadap siapapun, termasuk terhadap Allah azza wa jalla.

Pada dasarnya prasangka adalah hanya menebak-nebak. Menebak sesuatu yang belum jelas benar atau salahnya. Maka sebab itu, jika kita mendengarkan sesuatu tentang saudara kita, hendaknya kita tidak telan mentah-mentah namun, bertabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu kepada yang bersangkutan, untuk memastikan kabar yang kita dengar tentangnya itu benar ataukah salah.

Inilah tradisi baik dari Islam yang mulai hilang dari kita. Lisan kita mudah menjudge (menghakimi) keadaan seseorang dengan kabar burung yang kita dapatkan dari orang lain yang sumbernya belum jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Salah satu penyebab munculnya prasangka buruk terhadap orang lain adalah karena ketidaksukaan atau kebencian diri kita terhadapnya. Padahal bisa jadi orang yang kita anggap rendah, orang yang kita nilai buruk, ternyata dia lebih baik dari kita di hadapan Allah azza wa jalla dan para makhlukNya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اُنْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلاَ أَسْوَدَ إِلاَّ أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى
“Lihatlah, sesungguhnya kamu tidaklah akan menjadi lebih baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam, sampai kamu mengungguli mereka dengan takwa!”
(HR. Arnauth, Takhriju Al-musnad, No.21407. Beliau menyatakan hadits ini shahih lighairihi)

Sehingga, ketika kita ingin berburuk sangka atau ingin merendahkan orang lain, lihatlah diri kita! Apakah diri kita lebih baik dan lebih mulia darinya? Bisa jadi dia lebih baik dan lebih mulia kedudukannya di hadapan Allah dibandingkan diri kita.

Allah azza wa jalla berfirman:

‎إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.”
(QS. Al-hujurat, Ayat 13)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dengan dilihat dari keturunan kalian.”
(Tafsir Al-quran Al-azhim, 13:169)

Imam Ath-thabari rahimahullah juga menjelaskan:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling tinggi takwanya kepada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi berbagai maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.”
(Tafsir Ath-thabari, 21:386)

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata:
“Mulianya seseorang di dunia adalah karena kaya. Namun, mulianya seseorang di akhirat adalah karena takwa.”
(Maalim At-tanzil, 7:348)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang mendapatkan dosa, dengan sebab dia menceritakan setiap kabar yang didengarnya (tanpa bertabayyun).”
(HR. Ibnu Hibban, No.30)

D. TABAYYUN SEBELUM MENGHAKIMI

Mari kita mulai perbaiki kebiasaan buruk yang selama ini kita lakukan, yakni menghakimi seseorang hanya dengan katanya, kata orang, dan ungkapan semisalnya.

Allah azza wa jalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika orang yang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya! Agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kalian menyesali perbuatan kalian tersebut.”
(QS. Al-hujurat, Ayat 6)

Tabayyun dulu! Ketika memang kabar burung yang kita dapatkan tentang orang lain benar ada padanya, segera nasihati, tutupi keburukannya, dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya! Dan ketika ternyata kabar burung yang kita dapatkan tentangnya salah dan tidak ada padanya, maka segera minta maaflah dan jauhkan prasangka tersebut dari diri kita!

E. MENINGGALKAN MAJELIS GHIBAH

Kemudian, para ulama juga mengingatkan kita untuk berpaling atau menjauhi dari tempat yang di dalamnya sedang ada perbincangan gosip atau ghibah, karena itu merupakan sikap orang  yang beriman.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوْا عَنْهُ
“Dan apabila mereka mendengar laghwu (kata-kata yang tidak bermanfaat), mereka berpaling darinya.”
(QS. Al-qashash, Ayat 55)

Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman:

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.”
(QS. Al-muminun, Ayat 3)

Imam Sufyan Ats-tsauri rahimahullah Berkata:
“Kurangi rasa ingin tahumu tentang orang lain, niscaya ghibahmu juga akan berkurang!”
(Siyar Alam An-nubala, 5:62)

F. MENOLONG ORANG YANG SEDANG DIGHIBAHI

Bahkan sangat dianjurkan bagi kita untuk menolong saudara muslim kita yang sedang digosipi atau dighibahi, bukan hanya mencegah ghibah tersebut, tapi kita harus berusaha untuk membela kehormatannya juga.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ رَدَّ اللَّهُ وَجْهَهُ النَّارَ
“Barang siapa mempertahankan kehormatan saudaranya yang dicemarkan (dihinakan), maka Allah akan menolak api Neraka dari wajahnya pada hari Kiamat.”
(HR. Tirmidzi, No.1931. Syaikh Salim Ied Al-hilali menyatakan hadits ini shahih atau hasan)

Sebagaimana contoh dari pengamalan para ulama salaf, ketika ada saudaranya yang dighibahi, maka mereka langsung berusaha membelanya.

Mahmud bin Ar-rabi Al-anshari rahimahullah bercerita:

أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي وَأَنَا أُصَلِّي لِقَوْمِي فَإِذَا كَانَتْ الْأَمْطَارُ سَالَ الْوَادِي الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ آتِيَ مَسْجِدَهُمْ فَأُصَلِّيَ بِهِمْ وَوَدِدْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَّكَ تَأْتِينِي فَتُصَلِّيَ فِي بَيْتِي فَأَتَّخِذَهُ مُصَلًّى قَالَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ قَالَ عِتْبَانُ فَغَدَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ قَالَ فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ الْبَيْتِ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ فَقُمْنَا فَصَفَّنَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ قَالَ وَحَبَسْنَاهُ عَلَى خَزِيرَةٍ صَنَعْنَاهَا لَهُ قَالَ فَآبَ فِي الْبَيْتِ رِجَالٌ مِنْ أَهْلِ الدَّارِ ذَوُو عَدَدٍ فَاجْتَمَعُوا فَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ أَيْنَ مَالِكُ بْنُ الدُّخَيْشِنِ أَوِ ابْنُ الدُّخْشُنِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ ذَلِكَ مُنَافِقٌ لَا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُلْ ذَلِكَ أَلَا تَرَاهُ قَدْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُرِيدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّا نَرَى وَجْهَهُ وَنَصِيحَتَهُ إِلَى الْمُنَافِقِينَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ ثُمَّ سَأَلْتُ الْحُصَيْنَ بْنَ مُحَمَّدٍ الْأَنْصَارِيَّ وَهُوَ أَحَدُ بَنِي سَالِمٍ وَهُوَ مِنْ سَرَاتِهِمْ عَنْ حَدِيثِ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيِّ فَصَدَّقَهُ بِذَلِك
“Bahwa Itban bin Malik radhiyallahu anhu adalah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang pernah ikut perang Badar dari kalangan Anshar, dia pernah menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata; Wahai Rasulullah, pandanganku sudah buruk sedang aku sering memimpin shalat kaumku. Apabila turun hujun, maka air menggenangi lembah yang ada antara aku dan mereka, sehingga aku tidak bisa pergi ke masjid untuk memimpin shalat. Aku menginginkan anda dapat mengunjungiku, lalu shalat di rumahku yang akan aku jadikan sebagai tempat shalat. Mahmud berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya; Aku akan lakukan insyaallah. Itban berkata; Maka berangkatlah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar ketika siang hari, beliau lalu meminta izin lalu aku mengizinkannya dan beliau tidak duduk hingga beliau masuk ke dalam rumah. Kemudian beliau bersabda; Di mana tempat di rumahmu yang kamu sukai untuk aku memimpin shalat? Maka aku tunjukkan tempat di sisi rumah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu berdiri dan bertakbir. Sementara kami berdiri membuat shaf di belakang beliau, beliau shalat dua rakaat kemudian salam. Itban melanjutkan; Lalu kami suguhkan makanan dari daging yang kami masak untuk beliau. Maka berkumpullah warga desa di rumahku dalam jumlah yang banyak. Salah seorang dari mereka lalu berkata; Di mana Malik bin Ad-dukhaisyin atau Ibnu Ad-dukhsyun? Ada seorang yang menjawab; Dia munafik, dia tidak mencintai Allah dan RasulNya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda; Janganlah kamu ucapkan seperti itu! Bukankan kamu tahu dia telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan mengharap ridha Allah? Orang tersebut menjawab; Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Itban berkata; Kami lihat pandangan dan nasihat beliau itu untuk kaum munafiqin. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Neraka bagi orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan mengharap ridha Allah. Ibnu Syihab berkata; Kemudian aku tanyakan kepada Al-hushain bin Muhammad Al-anshari, salah seorang dari Bani Salim yang termasuk orang terpandang tentang hadits Mahmud bin Ar-rabi ini. Maka dia membenarkannya.”
(HR. Bukhari, No.407)

G. BERTAUBAT DARI GHIBAH

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah berkata:
“Ghibah yaitu kamu membicarakannya dalam keadaan dia tidak ada dan kamu merendahkannya di hadapan manusia, sedangkan dia tidak ada. Untuk masalah bertaubat dari ghibah, para ulama berselisih pendapat. Di antara ulama ada yang berkata; Bahwa kamu yang menggibahi harus datang kepada pihak yang dighibahi, lalu berkata kepadanya; Wahai Fulan, sesungguhnya aku telah membicarakanmu di hadapan orang lain, maka aku mengharapkanmu untuk memaafkanku dan merelakan perbuatanku.”

Sebagian ulama yang lainnya berkata:
“Bahwa kamu jangan datang kepadanya.”

Tetapi di dalam pendapat ini terdapat perincian, yaitu:
1. Jika yang dighibahi telah mengetahui bahwa kamu telah mengghibahinya, maka kamu harus datang kepadanya dan meminta agar dia merelakan atau memaafkan perbuatanmu.
2. Jika dia tidak tahu, maka janganlah kamu mendatanginya, tetapi hendaknya kamu berdoa kepada Allah memohonkan ampunan untuknya dan kamu membicarakan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang kamu mengghibahinya. Karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Para ulama yang lain berkata; Tidaklah disyaratkan bagi yang mengghibahi meminta penghalalan atau perelaan dosa ghibahnya dari orang yang dighibahi. Karena jika dia memberitahukan orang yang dighibahi tersebut, bahwa dia telah mengghibahinya maka terkadang malah orang yang dighibahi tersebut lebih tersakiti dibandingkan jika dia belum tahu. Sehingga jalan keluarnya adalah dia (si pengghibah) hendaknya memuji orang tersebut dengan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya di tempat-tempat yang dia telah mencelanya atau mengghibahinya.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 4:276)

H. HUKUMAN GHIBAH

Selain ghibah itu diharamkan, ternyata perbuatan tersebut adalah suatu hal yang sangat buruk. Karena Allah memperumpamakan perbuatan ghibah seperti memakan bangkai manusia.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah kalian saling menggunjing! Apakah ada seseorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian akan merasa jijik terhadapnya dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.”
(QS. Al-hujurat, Ayat 12)

Pada ayat di atas, Allah mengibaratkan orang yang mengghibahi saudaranya seperti memakan bangkai saudaranya yang sudah mati.

Imam Al-qurtubi rahimahullah menjelaskan:
“Ini adalah permisalan yang sangat mengagumkan dan di antara rahasia dari permisalan tersebut adalah:
1. Karena ghibah mengoyak kehormatan orang lain, layaknya seorang yang memakan daging, daging tersebut akan terkoyak dari kulitnya. Mengoyak kehormatan atau harga diri, tentu lebih buruk keadaannya.
2. Allah taala menjadikan bangkai daging saudaranya sebagai permisalan, bukan daging hewan. Hal ini untuk menerangkan bahwa ghibah itu sangatlah dibenci.
3. Allah taala menyebut orang yang dighibahi tersebut sebagai mayit. Karena orang yang sudah mati, dia tidak mampu untuk membela diri. Seperti itu juga orang yang sedang dighibahi, dia tidak berdaya untuk membela kehormatan dirinya.
4. Allah menyebutkan ghibah dengan permisalan yang sangat buruk, agar hamba-hambaNya menjauhi dan merasa jijik dengan perbuatan tercela tersebut.”
(Tafsir Al-qurtubi, 16:335)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-sadi rahimahullah juga menjelaskan:
“Ayat di atas menerangkan sebuah ancaman yang keras dari perbuatan ghibah dan ternyata ghibah termasuk dosa besar, karena Allah menyamakannya dengan memakan daging mayit dan hal tersebut termasuk dosa besar.”
(Tafsir As-sadi, Hal.745)

Selain itu, Allah juga memberikan balasan lain untuk para pelaku ghibah (tukang gosip) dengan memberikan mereka kuku yang terbuat dari tembaga.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ
“Ketika aku dinaikkan ke lagit (miraj), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Lalu aku bertanya; Wahai Jibril, siapa mereka itu? Jibril menjawab; Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (melakukan ghibah) dan merusak kehormatan mereka.”
(HR. Abu Daud, No.4235)

I. GHIBAH YANG DIBOLEHKAN

Meskipun hukum asal ghibah itu tidak boleh, tapi ada beberapa keadaan yang menyebabkan ghibah pada saat itu menjadi boleh.

Syaikh Salim Ied Al-hilali hafizhahullah berkata:
“Ketahuilah, bahwa ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar, yang sesuai syariat, yang tujuan tersebut tidak mungkin bisa dicapai kecuali dengan ghibah.”
(Bahjatu An-nazhirin, 3:33)

Imam An-nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Ada enam keadaan yang dibolehkan untuk melakukan ghibah atau membicarakan tentang orang lain, di antaranya:
1. Mengadu tindak kezhaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang.
2. Meminta bantuan agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar.
3. Meminta fatwa (pendapat) kepada seorang mufti (orang yang berilmu).
4. Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu keburukan.
5. Membicarakan orang yang secara terang-terangan berbuat maksiat dan bidah.
6. Menyebut tentang orang lain dengan sebutan yang sudah diketahui (maruf).”
(Syarh Shahih Muslim, 16:125)

Jadi, kalau kita mau membicarakan tentang orang lain, silakan perhatikan keenam kriteria di atas! Jika ternyata informasi tentang orang lain yang ingin kita ceritakan tidak termasuk ke dalam enam kriteria tersebut, maka kita tidak boleh menceritakannya.

• PERHATIAN

Syaikh Salim Ied Al-hilali hafizhahullah berkata:
“1. Bolehnya ghibah untuk hal-hal di atas adalah hukum yang menyusul (bukan hukum asal), maka jika telah hilang illatnya (sebab-sebab yang membolehkan ghibah), maka dikembalikan hukumnya pada hukum asal, yaitu haram.
2. Dibolehkannya ghibah ini adalah karena darurat. Maka sebab itu, ghibah tersebut diukur sesuai dengan ukurannya (seperlunya saja). Maka kita tidak boleh memperluas dan menambahi terhadap bentuk-bentuk di atas (ghibah yang dibolehkan).
Bahkan orang yang mendapatkan keadaan darurat semacam ini (sehingga dia dibolehkan ghibah) hendaknya bertakwa kepada Allah dan janganlah dia menjadi orang-orang yang melampaui batas!”
(Bahjatu An-nazhirin, 4:36)

Sebagai penutup, nasihat dari Penulis:
Kalau kita tidak suka dan tidak mau digosipi atau dighibahi oleh orang lain, maka konsekuensinya kita tidak boleh menggosipi atau mengghibahi orang lain. Karena seseorang akan disikapi sesuai dengan sikapnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

‎لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ
“Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual-beli sesuatu yang masih dalam proses penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara! Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara, mereka tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila dia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tubuh dan rupa kalian, tetapi Allah melihat pada hati kalian. (seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau).”
(HR. Muslim, No.4650)

Hanya Allah yang dapat memberikan taufik untuk kita bisa menjauhi perbuatan-perbuatan buruk yang dibenci Allah dan RasulNya. Semoga Allah menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik.

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan akhlak, amal, dan hawa nafsu!”
(HR. Tirmidzi, No.3515)
_____
Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmush shalihat, selesai disusun pada pagi hari dengan cuaca yang teduh dan udara yang sejuk.

Kota Angin-Majalengka, 4 Dzulhijjah 1438H/26 Agustus 2017M.
📝 Al-faqir ila maghfirati rabbihi; Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaKenapa Kita Harus Berdakwah?
Artikel sesudahnyaKetika Rintikan Hujan Turun
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here