Beranda Belajar Islam Amalan Menjadi Yang Terdepan

Menjadi Yang Terdepan

686
0
BERBAGI

Menjadi Yang Terdepan

Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi terdepan?

Layaknya peserta dalam sebuah perlombaan, semuanya ingin menjadi yang terdepan. Manusia di dunia ini semuanya adalah peserta, ya peserta yang berlomba untuk sampai dan mendapatkan Surga. Namun, terkadang merasa heran juga jika ada salah seorang peserta malah ingin menjadi yang terbelakang. Itukah kita? Semoga itu bukan kita.

Dalam sebuah perlombaan, biasanya yang dituju adalah suatu garis, tali pita dan semisalnya. Yang itu merupakan tujuan akhir semua peserta dan tanda berakhirnya sebuah perlombaan.

Bayangkan, demi mencapai sebuah garis, meraih sebuah tali saja, semua peserta harus siap, rela mengerahkan semua kemampuannya dan tenaga yang dimilikinya, demi menjadi yang terdepan, agar bisa mengalahkan seluruh peserta yang ada, sehingga bisa menjadi seorang pemenang.

Lalu, bagaimana dengan sebuah perlombaan, yang tujuan akhirnya di situ bukan berupa garis atau tali pita, melainkan suatu tempat yang di dalamnya penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan, yaitu SurgaNya?

Dengan demikian, apakah jerih payah dan kemampuan yang harus dikeluarkan oleh setiap peserta untuk mendapatkan Surga, itu lebih sedikit atau lebih banyak?

*Teori:
• Semakin kecil sesuatu yang diraih, maka semakin kecil pula usaha yang harus dikeluarkan.
• Semakin besar sesuatu yang digapai, maka semakin besar juga upaya yang harus dikerahkan.

*Contoh:
• Ketika kita hendak membeli sepeda, apakah uang yang harus dikeluarkan jumlahnya banyak?
• Ketika kita ingin membeli mobil, apakah uang yang harus disiapkan itu jumlahnya sedikit?

Seorang muslim pasti sudah tahu, bahwa menggapai Surga itu tidak hanya cukup dengan bermimpi dan berharap. Melainkan salah satu sebab yang membuat kita akan dimudahkan oleh Allah untuk bisa mendapatkan SurgaNya adalah dengan mengerjakan amal shalih (ibadah).

Maka sebab itu, Allah, Rasulullah, dan para Ulama memberikan perintah, anjuran, serta motivasi kepada kita untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Allah azza wa jalla berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Berlomba-lombalah dalam kebaikan!”
(QS. Al-baqarah, Ayat 148)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Jadilah orang yang nomor satu (terdepan) dalam melakukan kebaikan!”
(Syarh Riyadhu As-shalihin, 2;6)

Perlu diingat, bahwa dalam melakukan kebaikan, kita bisa melakukannya sesuai kemampuan kita.

Karena Allah juga berfirman:

قُلۡ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَامِلٞۖ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Katakanlah (Muhammad); wahai kaumku! Berbuatlah sesuai kedudukan (kemampuan) kalian, karena aku juga berbuat (demikian). Kelak kalian akan mengetahui, siapa yang akan mendapatkan tempat (terbaik) di akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.”
(QS. Al-anam, Ayat 135)

وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا
“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”
(QS. Al-isra, Ayat 19)

Jika dalam perlombaan di dunia ini, yang hadiahnya adalah sesuatu yang berkisar barang-barang kebutuhan rumah tangga, peralatan sekolah, uang tunai atau yang semisalnya, untuk mendapatkannya itu tidak mudah. Perlu adanya usaha, kerja keras untuk menjadi yang terdepan dan pemenang. Sehingga layak mendapatkan hadiah-hadiah yang sudah disediakan oleh Panitia perlombaan.

Kita lihat, untuk meraih sesuatu yang nominalnya sedikit lagi tidak terlalu berharga, bahkan manfaatnya tidak banyak, manusia ketika ingin mendapatkannya sangatlah antusias, semangat, bersungguh-sungguh dan fokus.

Bahkan hal tersebut bisa membuatnya lupa dengan urusan-urusannya yang lain, mungkin malah bisa juga membuatnya lupa terhadap hak dan kewajibannya.

Lalu, bagaimana dengan keinginan untuk meraih sesuatu yang lebih berharga, lebih indah, dan sangat mulia dari itu semua, yaitu Surga?

Maka, tentu seharusnya lebih layak untuk kita perjuangkan, dan perjuangan yang pernah kita kerahkan untuk hal-hal sebelumnya, tentu itu tidaklah cukup untuk mendapatkan sesuatu yang nominalnya jauh lebih mahal, berharga, dan sangat indah. Maka, perlu kita tambah lagi porsi upaya dan kerja kerasnya, agar kita pun bisa menjadi hamba Allah yang terdepan dalam memasuki SurgaNya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka dia akan mendapat keridhaanNya. Siapa yang membencinya maka dia juga akan mendapatkan kemurkaanNya.”
(HR. Tirmidzi, No.2396)

Menggapai sesuatu yang fana (akan hilang) saja perlu perjuangan, apalagi untuk mendapatkan sesuatu yang kekal (tidak akan hilang), maka itu lebih layak untuk kita perjuangkan!

Karena sebetulnya kita itu mampu, tapi kita yang tidak mau. Tidak mau memperjuangkan sesuatu yang sangat baik, indah, dan mulia. Seolah, kita itu sudah tidak butuh pahala dari Allah, sudah merasa cukup pahala, atau merasa paling banyak pahala, sehingga merasa enggan atau tidak antusias lagi untuk melakukan amal shalih.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَتِلۡكَ ٱلۡجَنَّةُ ٱلَّتِيٓ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
“Dan itulah Surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan amal ibadah yang telah kalian kerjakan.”
(QS. Az-zukhruf, Ayat 72)

Karena meskipun kita baru mampu mengerjakan sedikit amal ibadah, tetap akan Allah balas dengan pahala.

Allah juga berfirman:

وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ
“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun dirugikan walau sedikit. Meskipun kebaikan yang sudah dilakukannya hanya sekecil biji sawi, pasti Kami akan mendatangkan pahala. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.”
(QS. Al-anbiya, Ayat 47)

Maka sekali lagi, teruslah bersemangat dalam melakukan setiap kebaikan atau amal shalih, sebagai bekal tabungan untuk di akhirat! Jangan biarkan ada seorang pun yang menyaingi kita, bahkan bisa mengungguli kita dalam melakukan berbagai kebaikan atau amal shalih! Agar kita menjadi satu-satunya orang yang terdepan, keluar dari dunia ini sebagai pemenang mendapatkan SurgaNya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah untuk melakukan amal shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada juga yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”
(HR. Muslim, No.118)

Hadits tersebut berisi perintah untuk bersegera melakukan amal shalih, dan yang disebut dengan amal shalih adalah ketika memenuhi dua syarat, yaitu:
1. Ikhlas; berniat hanya karena Allah azza wa jalla.
2. Ittiba; beramal mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Maka, jika tidak memenuhi dua syarat tersebut, suatu amalan yang sudah dilakukan tidak akan diterima oleh Allah azza wa jalla.

Dalam hadits tersebut dijelaskan, bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam, artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Pada saat itu, manusia tidak tahu ke arah yang mana mereka harus berjalan dan mereka tidak tahu arah yang akan mereka tuju. Fitnah tersebut bisa jadi karena syubhat (racun pemikiran), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat).

Bagaimana bisa dikatakan menjual agama? Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan, atau bahkan dengan perempuan. Banyak di antara manusia yang rela menggadaikan atau bahkan mengabaikan syariat Islam hanya untuk mendapatkan keuntungan sedikit dari dunia, seperti seorang muslim atau muslimah yang mereka rela mengenakan atribut Natal untuk menjalankan pekerjaannya, atau menjual atribut tersebut untuk mendapatkan sedikit keuntungan.

Maka sebab itu, jadikan akhirat sebagai tujuan hidup kita dan jadikanlah dunia hanya sebagai sarana untuk menggapai tujuan kita! Karena kalau kita ingin pergi ke suatu desa namun, ada sungai besar yang memisahkan desa tersebut, maka kita butuh sarana untuk melewatinya, yaitu jembatan.

Sebagai penutup, ada sebuah kisah inspiratif dari seorang ulama salaf.

Imam Ibnu Rajab Al-hanbali rahimahullah menceritakan sebuah kisah menarik untuk kita renungkan. Yakni mengenai imam besar Ahlussunnah dari kalangan Atbaut Tabiin, bernama Fudhail bin Iyadh bin Masud At-tamimi. Beliau wafat pada tahun 187H. Beliau imam besar dari kalangan Atbaut Tabiin yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan termasuk seorang ahli ibadah.
(Taqribu At-tahdzib, Hlm.403)

Kisah tersebut disajikan berupa dialog, untuk memudahkan kita dalam memahami kisahnya.

“Fudhail; Berapa tahun usiamu?
Lelaki; 60 tahun.
Fudhail; Berarti sejak 60 tahun yang lalu, kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan mungkin saja kamu hampir sampai.
Lelaki; Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya.
Fudhail; Apakah kamu paham arti ucapanmu tersebut? Kamu mengatakan; aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Barang siapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepadaNya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan Allah pada hari Kiamat) dan barang siapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapanNya), maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (terhadap perbuatannya selama di dunia) dan barang siapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya!
Lelaki; Kalau demikian, bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri pada masa tersebut?
Fudhail; Caranya mudah.
Lelaki; Bagaimana?
Fudhail; Kamu berbuat kebaikan (amal shalih) pada sisa usiamu yang masih ada, maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu. Karena jika kamu tetap berbuat buruk (dosa) pada sisa usiamu yang masih ada, kamu akan disiksa pada hari Kiamat, karena dosa-dosamu di masa lalu dan dosa-dosamu pada sisa usiamu.”
(Jami Al-ulum Wa Al-hikam, Hlm.464)

Masyaallah la quwwata illa billah, betapa luas ampunan Allah terhadap dosa-dosa kita, sehingga dengan bertaubat dan memperbaiki diri dengan beramal shalih, dosa-dosa yang sudah diperbuat kita di masa lalu, akan diampuni dan dimaafkan, sebanyak apapun dosa dan kesalahan tersebut!

Bagi teman-teman yang ingin mempelajari ilmu tentang taubat, silakan bisa membaca tulisan kami di website Khiyaar.com yang berjudul; Aku Ingin Taubat.

Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ وٰسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“Sesungguhnya Rabbmu maha luas pengampunanNya.”
(QS. An-najm, Ayat 33)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku, selamatkanlah aku (dari penyakit dan dari sesuatu yang tidak aku inginkan), dan berilah rezeki kepadaku!”
(HR. Muslim No.4865)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ وَجَهْلِيْ وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جَدِّيْ وَهَزْلِيْ وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ وَكُلُّ ذَالِكَ عِنْدِيْ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Ya Allah, ampunilah kesalahanku dan kebodohanku, keberlebih-lebihan dalam perkaraku, dan sesuatu yang Engkau lebih mengetahui daripada diriku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku dan kelalaianku, kesalahanku dan kesengajaanku, dan semua itu berasal dari sisiku. Ya Allah, ampunilah aku dari dosa yang telah aku lakukan dan yang belum, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan sesuatu yang Engkau lebih mengetahui daripada diriku. Engkaulah yang maha mendahulukan dan yang mengakhirkan, dan Engkau maha kuasa terhadap segala sesuatu.”
(HR. Muslim, No.4896)
___
Alhamdulillah selesai ditulis pada sore hari, di kediaman Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Rabu, 5 Jumadal Akhirah 1439H/21 Februari 2018M.

📝 Al-Faqir ila maghfirati rabbihi:,
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaGoresan Tinta Untuk Para Penuntut Ilmu
Artikel sesudahnyaKenapa Kita Harus Berdakwah?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here