Beranda Belajar Islam Amalan Menjadi Yang Terdepan

Menjadi Yang Terdepan

280
0
BERBAGI

Menjadi Yang Terdepan

Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi terdepan? Layaknya peserta dalam sebuah perlombaan, semuanya ingin menjadi yang terdepan. Manusia di dunia ini semuanya adalah peserta, ya peserta yang berlomba untuk sampai dan mendapatkan SurgaNya Allah azza wa jalla. Namun, terkadang merasa heran juga jika ada salah seorang peserta malah ingin menjadi yang terbelakang. Apakah kita seperti itu? Semoga itu bukan kita.

Dalam sebuah perlombaan, biasanya yang dituju adalah suatu garis, tali pita dan semisalnya. Yang itu merupakan tujuan akhir semua peserta dan tanda berakhirnya sebuah perlombaan.

Bayangkan, demi mencapai sebuah garis, meraih sebuah tali saja, semua peserta harus siap, rela mengerahkan semua jerih payah, tenaga yang dimilikinya demi menjadi yang terdepan, agar dia bisa mengalahkan seluruh peserta yang ada, sehingga dia bisa menjadi seorang pemenang.

Lalu, bagaimana dengan sebuah perlombaan, yang tujuan akhirnya di situ bukan berupa garis dan tali pita, melainkan suatu tempat yang di dalamnya penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan, yaitu SurgaNya Allah?

Dengan demikian, apakah jerih payah yang harus dikeluarkan oleh setiap peserta untuk mendapatkan surgaNya Allah, itu lebih sedikit atau lebih banyak dari itu semua? Coba deh kita berfikir sebentar saja!

Teorinya;
* Semakin kecil suatu yang diraih, maka semakin kecil pula usaha yang harus dikeluarkan.

* Sebaliknya, semakin besar suatu yang digapai, maka semakin besar juga upaya yang harus dikerahkan.

Sebagai contoh dari teori tersebut;
* Ketika kita hendak membeli sepeda, apakah uang yang harus dikeluarkan itu jumlahnya banyak?

* Lalu, dibandingkan ketika kita ingin membeli mobil, apakah uang yang harus disiapkan itu jumlahnya sedikit?

Jika kita masih memiliki akal yang sehat, insyaallah pasti bisa menjawabnya dengan tepat.

Seorang muslim, pasti sudah tahu bahwa menggapai Surga itu tidak hanya cukup dengan berkhayal dan memimpikannya. Karena Surga hanya bisa diraih dengan amal shalih dan taufiq dari Allah. Hal tersebut yang menjadi sebab untuk kita dimudahkan memasuki SurgaNya.

Maka sebab itu, Allah, RasulNya dan para ulama memberikan perintah, anjuran, motivasi kepada kita untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Allah azza wa jalla berfirman;

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Berlomba-lombalah dalam kebaikan!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 148)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud ayat tersebut;
“Jadilah orang yang nomor satu (terdepan) dalam melakukan kebaikan!”
(Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:6)

Perlu diingat, bahwa dalam melakukan kebaikan, kita bisa melakukannya sesuai kemampuan kita.

Allah azza wa jalla berfirman;

قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ إِنِّى عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُۥ عٰقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُونَ
“Katakanlah (Muhammad): Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukan kalian (kemampuan), aku pun berbuat (demikian). Kelak kalian akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.
(Surat Al-Anam: ayat 135)

Lalu dalam ayat yang lain, Allah berfirman;

وَمَنْ أَرَادَ الْأَاخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُورًا
“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”
(Surat Al-Isra: ayat 19)

Jika dalam perlombaan di dunia ini, yang biasanya hadiahnya adalah sesuatu yang berkisar barang-barang kebutuhan rumah tangga, peralatan sekolah atau yang semisalnya, untuk mendapatkannya saja itu tidak mudah. Perlu usaha, kerja keras untuk menjadi yang terdepan dan pemenang, sehingga dia layak mendapatkan hadiah yang sudah disediakan oleh panitia perlombaan.

Kita lihat, untuk meraih sesuatu yang nominalnya sedikit dan tidak terlalu berharga, bahkan manfaatnya tidaklah banyak, ketika kita ingin mendapatkannya sangatlah antusias, semangat, berjuang dengan sungguh-sungguh dan sangat fokus.

Bahkan hal tersebut bisa membuat kita lupa dengan urusan-urusannya yang lain. Malah bisa juga membuat kita lupa akan hak dan kewajiban kita yang lain. Salah satu buktinya ketika kita sedang ikut perlombaan, dan adzan shalat dikumandangkan, apakah kita hentikan perlombaan tersebut untuk shalat ataukah tetap berlanjut?

Lalu bagaimana lagi dengan keinginan kita meraih sesuatu yang lebih berharga, lebih indah dan sangat mulia dari itu semua, yaitu Surga?

Maka, tentu seharusnya Surga lebih layak untuk kita perjuangkan, dan perjuangan yang pernah kita kerahkan untuk hal-hal selainnya, tentu itu tidaklah cukup untuk mendapatkan Surga, yang nominalnya jauh lebih mahal, berharga, mulia dan sangat indah. Maka perlu kita tambah lagi porsi upaya, kesungguhan dan kerja kerasnya, agar kita pun bisa menjadi hamba Allah yang terdepan dalam meraih SurgaNya.

Menggapai sesuatu yang fana (akan hilang) saja perlu perjuangan, apalagi untuk mendapatkan sesuatu yang kekal (tidak akan hilang), maka itu lebih layak kita perjuangkan dan usahakan!

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan;

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُنَافِسُكَ فِي الدُّنْيَا فُنَافِسُهُ فِي الْآخِرَةِ
“Apabila kamu melihat seseorang bisa mengunggulimu dalam urusan dunia, maka unggulilah dia dalam urusan akhirat!”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.428)

Karena sebetulnya kita itu mampu, tapi kita yang tidak mau. Tidak mau memperjuangkan sesuatu yang sangat baik, indah dan mulia. Seolah kita itu sudah tidak butuh pahala dari Allah, karena sudah menganggap cukup dengan pahala yang dimiliki dan merasa paling banyak pahalanya, sehingga beranggapan enggan untuk melakukan berbagai kebaikan amal shalih lainnya.

Maka, sekali lagi teruslah bersemangat dalam melakukan kebaikan, amal shalih sebagai bekal tabungan di akhirat nanti! Jangan biarkan ada seorang pun yang menyaingi kita, apalagi bisa mengungguli kita dalam melakukan berbagai kebaikan dan amal shalih! Agar kita adalah satu-satunya orang yang terdepan (pemenang) mendapatkan SurgaNya Allah azza wa jalla.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan;

لَوْ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ بِأَحَدٍ أَطْوَعُ لِلَّهِ مِنْهُ كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُحْزِنَهُ ذَلِكَ
“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia bersedih, karena dia telah diungguli dalam hal ketaatan.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.244)

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah untuk melakukan amal shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada juga yang pada sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”
(HR. Imam Muslim, no.118)

Hadits ini berisi perintah untuk bersegera melakukan amal shalih, dan yang dimaksud amal shalih adalah jika memenuhi 2 syarat, yaitu;
1. Ikhlas karena Allah azza wa jalla
2. Mengikuti contoh (sunnah) Rasul shallallahu alaihi wa sallam

Maka jika tidak memenuhi 2 syarat ini, suatu amalan tidak akan diterima oleh Allah azza wa jalla.

Dalam hadits ini dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam, artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah dia harus melangkah, dan tidak tahu arah.

Fitnah tersebut bisa jadi karena syubhat (racun pemikiran), bisa jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat dan lalai dari ibadah).

Fitnah tersebut itu diibaratkan dengan potongan malam yang sekali lagi tidak diketahui. Sehingga seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Kita bisa bayangkan dalam satu hari ada yang bisa demikian, atau dia pada sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi harinya kafir. Mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya (keimanan).

Bagaimanakah bisa dikatakan menjual agama? Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengan perempuan. Demi itu urusan dunia kita berani melakukannya, meski pun hal tersebut melanggar perintah Allah dan RasulNya.

Maka dari itu, jadikan akhirat sebagai tujuan hidup kita dan jadikanlah dunia hanya sebagai sarana untuk menggapai SurgaNya Allah, jangan dibalik!

Sebagai penutup, ada sebuah kisah inspiratif dari salah seorang ulama salaf yang kami jelaskan berupa dialog.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah membawakan sebuah kisah menarik untuk kita renungkan. Yakni mengenai imam besar ahlussunnah dari kalangan Atbaut Tabiin bernama: Fudhail bin Iyadh bin Masud At-Tamimi rahimahullah. Beliau wafat pada 187H. Beliau imam besar dari kalangan Atbaut Tabiin yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan seorang ahli ibadah.
(Taqriibu At-Tahdziib, hlm.403)

Fudhail: Berapa tahun usiamu (sekarang)?
Lelaki: 60 tahun.
Fudhail: Berarti sejak 60 tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai. Lelaki: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya.
Fudhail: Apakah kamu paham makna dari ucapanmu tersebut? Kamu mengatakan: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Barang siapa yang menyadari bahwa dia adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan Allah pada hari Kiamat nanti) dan barang siapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapanNya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggung-jawaban (atas perbuatannya selama di dunia) dan barang siapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggung-jawaban (atas perbuatannya), maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya!
Lelaki: Kalau demikian, bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri pada saat tersebut?
Fudhail: Caranya mudah.
Lelaki: Bagaimana?
Fudhail: Engkau berbuat kebaikan (amal shalih) pada sisa usiamu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu. Karena jika kamu tetap berbuat buruk (dosa) pada sisa usiamu (yang masih ada), kamu akan disiksa pada hari Kiamat karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa usiamu.
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, hlm.464)

Betapa agung dan sempurna kasih sayang Allah azza wa jalla terhadap hamba-hambaNya.

Betapa luas pengampunanNya atas dosa-dosa para hambaNya, sehingga dengan bertaubat dan memperbaiki diri dengan beramal shalih, dosa-dosa yang sudah diperbuat seorang hamba di masa lalu akan diampuni dan dimaafkanNya, sebanyak apa pun dosa itu!

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّ رَبَّكَ وٰسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“Sesungguhnya Rabbmu maha luas pengampunanNya.”
(Surat An-Najm: ayat 33)

Oleh sebab itu, seburuk apa pun masa lalu kita, kita masih memiliki masa depan yang cerah. Maka jangan kita kotori kembali masa depan tersebut dengan kelalaian, kemalasan, kesalahan, dan kemaksiatan.

Bersihkan semua kesalahan dan kemaksiatan yang ada pada masa lalu kita dengan terus memohon ampunan Allah dan mengerjakan amal shalih.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertaqwalah kepada Allah di mana pun kamu berada! Iringilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut, dan berakhlaqlah dengan manusia dengan akhlaq yang baik!”
(HR. At-Tirmidzi, no.1987. Beliau menyatakan hadits ini hasan shahih)
___
Alhamdulillah selesai ditulis pada sore hari, di kediaman Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Rabu, 5 Jumadal Akhirah 1439H/21 Februari 2018M.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaGoresan Tinta Untuk Para Penuntut Ilmu
Artikel sesudahnyaKenapa Kita Harus Berdakwah?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here