Beranda Belajar Islam Adab Goresan Tinta Untuk Para Penuntut Ilmu

Goresan Tinta Untuk Para Penuntut Ilmu

598
0
BERBAGI

Goresan Tinta Untuk Para Penuntut Ilmu

Begitu mulianya hamba Allah yang saat ini berusaha menjadi penuntut ilmu.

Begitu agungnya cita-cita tersebut, sehingga mengharuskan pelakunya mengerahkan kesungguhan dan komitmen yang kuat, untuk menggapainya.

Karena tujuan sesungguhnya dari menuntut ilmu adalah untuk mengamalkannya sebagai bekal beribadah kepada Allah azza wa jalla. Dan hal tersebut merupakan tujuan diciptakannya kita selaku hambaNya.

Disebabkan tujuannya yang sangat jelas dan mulia, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mencarinya, mempelajarinya, dan mengamalkannya dengan konsisten.

Sadarlah bahwa seluruh manusia di dunia ini, termasuk kita adalah penuntut ilmu. Karena tugas manusia ada di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah, dan ibadah hanya bisa dilakukan dengan ilmu, sedangkan ilmu hanya bisa didapatkan dengan belajar, dan belajar hanya bisa dilakukan dengan kesungguhan serta komitmen untuk merutinkannya, kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan apapun.

Salah satu buktinya adalah para Salaful Ummah, semisal: Para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum, Tabiin, Tabiut Taabiin, dan orang-orang setelahnya yang mengikuti jejak mereka rahimahumullah jamian.

Mereka semua dahulu hidup dalam lingkaran kegelapan dan kejahilan, tapi saat ini mereka bisa menjadi generasi manusia terbaik di zaman ini.

Teman-teman tahu sebabnya? Ya, karena mereka berusaha mencari hidayah Allah, serta ridha Allah dengan mempelajari ilmu Islam sebagai bekal beribadah kepada Allah dengan kesungguhan dan komitmen yang sangat kuat.

Pertanyaan untuk diri kita;
1. Apakah kita sudah bisa mulai membiasakan apa yang sudah mereka biasakan?
2. Apakah kita bisa terus menerapkan setiap nasihat yang mereka sampaikan?
3. Apakah cara kita beribadah selama ini sudahkah dengan ilmu, sebagaimana mereka melakukannya?
4. Apakah hidup kita lebih payah dan sulit dari mereka, sehingga semangat kita untuk mencari ilmu sangat lemah dibandingkan mereka?
5. Apakah ungkapan rasa cinta kita kepada mereka cuma bualan dan gombalan tak bermakna, atau mungkin penisbatan kita terhadap mereka itu hanya ikutan trend di kalangan para penuntut ilmu saat ini?

Silakan, jawab semua pertanyaan tersebut cukup hanya dalam hati masing-masing! Lalu goreskan jawabannya dalam buku catatan pribadi, sebagai bahan perbaikan dan introspeksi diri sendiri yang selama ini hanya menggombal cinta terhadap mereka!

Dengan cara tersebut, insyaallah kita bisa mulai merubah pola dan cara menuntut ilmunya sejak saat ini, agar kita bisa menjadi hamba Allah yang hidup dengan ilmu dan amal. Dan dengan cara tersebut juga, kita akan bisa keluar dari zona yang gelap dan buruk dengan hawa nafsu, menuju zona yang cerah dan indah dengan ilmu.

Imam Malik bin Dinar rahimahullah berkata;

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْعَمَلِ وَفَّقَهُ اللَّهُ. وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ يَزْدَادُ بِالْعِلْمِ فَخْرًا
“Barang siapa yang mencari ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus memberikan taufik kepadanya. Sedangkan, barang siapa yang mencari ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmu tersebut hanya akan menjadi kesombongan.”
(Hilyatu Al-Auliya, 2:378)

Imam Wahb bin Munabbih rahimahullah juga berkata;

مَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَا يَعْمَلُ بِهِ كَمَثَلِ طَبِيبِ مَعَهُ دَوَاءٌ لَا يَتَدَاوَى بِهِ
“Permisalan orang yang memiliki ilmu namun, tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun, dia tidak berobat dengannya.”
(Hilyatu Al-Auliya, 4:71)

Selain itu, yang harus diperhatikan juga oleh seluruh penuntut ilmu agar bisa terus bersemangat dan istiqamah dalam mencari hidayah Allah dengan menuntut ilmu Islam adalah hendaknya kita miliki kecintaan terhadap ilmu dan orang yang memiliki ilmu (guru). Agar kita merasa ingin terus bersamanya, rindu terhadapnya, dan ingin selalu berlama-lama bersamanya.

Layaknya kita yang mencintai istrinya atau gadgetnya, kita tidak ingin berpisah lama dengannya, selalu merasa rindu jika mulai jauh dan lama tidak berjumpa dengannya. Meskipun setiap hari bersamanya, kita tidak pernah merasa bosan dengannya. Betul atau tidak?

Rasa kecintaan inilah yang mulai hilang di kalangan para penuntut ilmu. Sehingga mereka tidak memiliki kerinduan terhadap ilmu dan gurunya. Seolah jika ada majelis ilmu dan sempat hadir, ya alhamdulillah. Jika tidak ada, ya sudah tidak mengapa. Seperti orang yang tidak butuh dengan ilmu (petunjuk), padahal dia sendiri sedang tersesat, ya tersesat dalam dunia kebodohan.

Bagaikan orang yang sedang tersesat dalam sebuah perjalanan, itu disebabkan karena dia tidak tahu arah jalan tujuan yang harus ditempuh. Lalu bagaimana dengan keadaan orang yang tidak tahu arah jalan menuju Surga?

Kita ingin tahu seberapa besarnya kecintaan para ulama terdahulu terhadap ilmu dan gurunya? Yaitu seperti kecintaan kita saat ini terhadap harta dan dunia.

Semoga rasa cinta kita terhadap mereka bisa dibuktikan dengan ucapan dan perbuatan, sehingga hal tersebut bisa menjadi sebab Allah kumpulkan kita bersama mereka di SurgaNya. Aamiin

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”
(HR. Imam Bukhari, no.5705)

Mari kita berdoa kepada Allah azza wa jalla;

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu agar dapat mencintaiMu, mencintai orang-orang yang mencintaiMu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku pada cintaMu.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3235)

Silakan pahami dan amalkan! Semoga goresan tinta ini, Allah jadikan ilmu dan nasihat yang bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca.

Catatan: Baca dan pelajari juga Kiat Menjadi Pelajar Yang Sukses.

Hanya Allah yang mampu memberikan kemudahan.
___
Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Senin, 03 Jumadal Akhirah 1439H/19 Februari 2018M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaBerilmu Sebelum Beramal
Artikel sesudahnyaMenjadi Yang Terdepan
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here