Beranda Faidah Ilmu Berilmu Sebelum Beramal

Berilmu Sebelum Beramal

3527
1
BERBAGI

Berilmu Sebelum Beramal

Pada tulisan kali ini merupakan seri lanjutan dari tulisan sebelumnya, yang berjudul: Beradab Sebelum Berilmu.

Adanya tulisan ini, semata mengharap ridha Allah azza wa jalla, semoga menjadi washilah (perantara) Allah memberikan taufiq dan ilmuNya kepada diri Penulis dan juga para Pembaca. Aamiin

Imam Bukhari rahimahullah berkata;

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
“Ilmu itu dimiliki sebelum berkata dan beramal.”
(Muqaddimah Shahih Al-Bukhari)

Maksudnya, setiap orang harus memiliki ilmu sebelum mengatakan suatu ucapan dan melakukan suatu perbuatan.

Yang mengakibatkan setiap orang termasuk kita, terjerumus dalam sebuah kesalahan dan dosa dari suatu hal yang kita ucapkan maupun lakukan, adalah disebabkan kita tidak mempelajari ilmu yang menjelaskan tentang hukum dari hal tersebut sebelumnya. Karena sebetulnya dengan ilmu, kita akan terdidik, terarah pada jalan yang benar, bukan yang salah. Bahkan dengan ilmu juga, Allah akan mengangkat derajat kita.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Pasti Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derajat. Dan Allah maha teliti tentang yang kalian lakukan.”
(Surat Al-Mujadilah: ayat 11)

Tidakkah kita ingin diangkat derajatnya oleh Allah? Yang dengan sebab itu, Allah akan muliakan kita di atas makhlukNya yang lain.

Maka sebuah hal yang keliru, jika kita beriman kepada Allah azza wa jalla, dan ingin diangkat derajatnya oleh Allah namun, kita malas menuntut ilmu agama (Islam), tidak mau hadir ke majelis ilmu. Maka dari itu, mari hiasi keimanan kita dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu!

Ada suatu hal yang perlu kita ketahui, bahwa ilmu itu lebih kita butuhkan dari pada makanan dan minuman.

Sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata;
“Umat manusia jauh lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman hanya dibutuhkannya dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu dibutuhkan sepanjang waktu.”
(Al-Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu, hlm.91)

Berdasarkan pernyataan di atas, ternyata yang menjadi kebutuhan pokok diri kita adalah ilmu. Namun, pembuktian dan realita yang terjadi saat ini, kita lebih semangat mencari makanan dan minuman dari pada ilmu.

Sebagai bukti realita: Kalau kita dihadapkan dengan dua keadaan, waktu majelis ilmu dengan kerjaan duniawi, mana yang akan kita dahulukan? Biasanya kita lebih mendahulukan kerjaan duniawi dari pada majelis ilmu. Betul tidak?

Sebagai penyemangat jiwa kita yang mulai malas dan lalai dalam menuntut ilmu agama Islam, di bawah ini Penulis bawakan beberapa kisah tentang semangatnya para ulama dalam mencari dan mempelajari ilmu.

A. Semangat Mendatangi Majelis Ilmu

• Jafar bin Darustuwaih rahimahullah menceritakan;
“Aku memesan (memboking) tempat di majelis ilmu Ali bin Madini pada waktu ashar hari ini, untuk majelis besok hari. Maka aku duduk di tempat tersebut sepanjang malam, aku takut besok hari ada orang lain yang mendahuluiku menempati tempatku ini untuk mendengarkan hadits. Dan aku juga melihat seseorang yang sudah tua di majelis tersebut, sedang buang air kecil dalam sebuah wadah kecil sambil menutupkan dengan bajunya sampai selesai, karena dia takut ada orang lain yang mengambil tempat duduknya, jika dia pergi untuk buang air kecil.”
(Al-Jaami Li Akhlak Ar-Rawi Wa Adab As-Sami, 1:152)

Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tempat belajar pada waktu itu, bukanlah di masjid, karena tidak akan cukup untuk menampung banyaknya penuntut ilmu yang hadir. Akan tetapi, di sebuah tanah lapang yang luas dan dapat menampung banyak orang. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan, agar dapat mendengarkan pengajian (penjelasan ilmu) dengan jelas.

Sudah seberapa besar pengorbanan yang telah kita buktikan dan kerahkan untuk mempelajari ilmu Islam? Jangan sampai pengorbanan kita hanya sebatas di lisan saja!

Semoga Allah mudahkan kita untuk mengikuti contoh kebaikan dan semangat dari orang-orang shalih dalam menuntut ilmu.

B. Semangat Mempelajari Ilmu Dalam Keterbatasan

Selain itu, salah satu yang menjadi alasan lain kita merasa malas, tidak mau menuntut ilmu adalah keterbatasan. Mari, kita simak kembali kisah-kisah menakjubkan dari orang-orang shalih, yang mereka tetap gigih untuk menuntut ilmu dalam segala keterbatasannya.

Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata;
“Aku seorang yatim yang tinggal bersama ibuku. Ibuku menyerahkan aku ke Kuttab (sekolah yang ada di masjid). Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikannya kepada sang pengajar (guru) sebagai upahnya mengajariku. Aku mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian aku menghafalkannya. Dan ibuku juga tidak memiliki sesuatu apa pun untuk membelikan kertas untukku. Maka setiap aku menemukan sebuah tulang putih, aku mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, aku menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.”
(Jamiu Bayani Al-Ilmi Wa Fadhilihi, 1:98)

Masyaallaah laa quwwata illa billah! Apakah keadaan kita lebih miskin dari beliau? Ataukah kita berfikir, bahwa beliau adalah orang yang lebih hina dari diri kita?

Beliau adalah seorang ulama yang namanya mayoritas manusia pasti pernah mendengarnya dan mengenalnya. Beliau adalah seorang ulama yang ilmunya diakui oleh seluruh umat Islam dan tidak ada yang meragukannya!

• Salim Ar-Razy rahimahullah menceritakan;
“Bahwa Syaikh Hamid Al-Isfirayaini dahulu adalah seorang penjaga (satpam) di sebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu di tempat jaganya, karena beliau terlalu faqir, sehingga beliau tidak mampu membeli minyak tanah untuk lampunya, dan beliau makan dari upahnya sebagai penjaga.”
(Thabaqatu Asy-Syafiiyah Al-Kubra, 4:61)

Sebuah ketegaran dan kegigihan seorang penuntut ilmu yang meskipun dia dalam keadaan sangat miskin dan memiliki sebuah pekerjaan namun, keadaannya dan pekerjaannya tersebut tidak menjadi penghalang untuknya tetap belajar!

C. Semangat Mencari Ilmu Dengan Melakukan Perjalanan Sangat Jauh

Lalu, jika kita kembali masih beralasan tidak mau menuntut ilmu Islam karena alasan tempat majelis ilmunya jauh dari tempat tinggal kita, sehingga sulit menjangkaunya, mari kita simak kisah-kisah orang shalih di bawah ini!

• Said bin Al-Musayyab rahimahullah mengatakan;
“Aku terbiasa melakukan rihlah (perjalanan) berhari-hari untuk mendapatkan satu hadits.”
(Al-Bidayah Wa An-Nihayah, 9:100)

Sekarang pertanyaan untuk kita: Berapa jauh jarak majelis ilmu dari rumah kita?

• Imam Baqi bin Makhlad melakukan rihlah sebanyak dua kali. Dari Mesir ke Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20 tahun, secara berturut-turut.
(Tadzkiratu Al-Huffadz, 2:630)

Sudah berapa banyak kitab, buku, serta karya tulis para ulama lainnya yang kita baca dan pelajari?

D. Rela Mengeluarkan Banyak Harta Demi Ilmu

Mungkin, di antara kita masih ada lagi yang tetap merasa malas untuk menuntut ilmu dengan alasan takut hartanya habis?

• Ali bin Ashim rahimahullah bercerita;
“Ayahku memberiku 100.000 dirham dan berkata kepadaku: Pergilah (untuk belajar hadits) dan aku tidak mau melihat wajahmu kecuali kamu pulang membawa 100.000 hadits!”
(Tadzkiratu Al-Huffadz, 1:317)

• Ayah dari Yahya bin Main adalah seorang sekretaris dari Abdullah bin Malik rahimahumullaah. Ketika wafat, Ayahnya meninggalkan 100.000 dirham untuk Yahya. Namun, Yahya bin Main membelanjakan semua hartanya tersebut untuk belajar hadits dan tidak ada yang tersisa dari hartanya, kecuali sandal yang bisa dia pakai.
(Tahdzib At-Tahdzib, 11:282)

Meskipun kisah di atas adalah tentang mencari hadits, tapi yang dimaksudkan adalah ilmu. Karena agama Islam adalah agama ilmu, tanpa ilmu seseorang tidak akan bisa melaksanakan ibadah dengan baik dan benar, yang itu merupakan tujuan diciptakannya manusia. Karena agama Islam terdiri dari 2 pilar ilmu, yaitu Al-Quran (firman Allah) dan As-Sunnah (sabda Rasulullah).

Semoga Allah menjadikan semangat yang kita miliki untuk mempelajari agama ini, seperti air yang tidak mudah padam dan akan terus berjalan, meskipun banyaknya rintangan yang menghalangi. Walaupun kita tidak akan bisa menyamai seperti semangatnya para ulama, setidaknya kita bisa mendekati mereka dengan segala usaha yang kita mampu lakukan.

Setelah kita mempelajari kisah semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu, maka selanjutnya yang harus kita ketahui adalah: Apa alasan yang membuat mereka sangat semangat dalam mempelajari ilmu?

Jawabannya adalah: Karena Allah melarang para hambaNya mengikuti dan melakukan sesuatu yang tanpa ilmu.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.”
(Surat Al-Isra: ayat 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah bahwa Allah taala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Surat Al-Isra: Ayat36)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata;

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْلَ ضَلَّ السَّبِيْل وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْلُ
“Barang siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu dia akan tersesat. Dan tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita, selain dengan mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(Miftah Dari As-Saadah, 1:299)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya akan membuat banyak kerusakan dari pada mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh namun, jangan sampai meninggalkan ibadah! Gemarlah beribadah namun, jangan sampai meninggalkan ilmu!
Karena ada segolongan orang yang rajin beribadah namun, meninggalkan belajar.”
(Miftah Dari As-Saadah, 1:299-300)

Apa yang dikatakan oleh Imam Hasan Al-Bashri menunjukkan bahwa sebagian orang, karena saking sibuknya dengan ibadah, membuat mereka tidak mau memperhatikan ilmu. Sehingga ibadahnya pun hanya bermodalkan semangat tanpa didasari dengan landasan dalil (ilmu), dan hal ini sama seperti keadaan kaum Nashrani.

Ingatlah bahwa amalan yang bisa diterima di sisi Allah hanyalah dari orang yang bertaqwa, dan sifat taqwa hanya bisa diraih dengan mempelajari ilmu Islam. Karena dengan ilmu Islam kita akan mengetahui kewajiban yang harus kita lakukan dan larangan yang harus kita tinggalkan.

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima ibadah dari orang-orang yang bertaqwa.”
(Surat Al-Maidah: ayat 27)

Banyak di antara kita yang menyangka, bahwa banyaknya amal ibadah yang dilakukan, hal itu sudah mendapat jaminan untuk hari akhiratnya, setidaknya kita menyangka hal itu sebagai tanda kebenaran dan bukti keshalihannya.

Dapat dibayangkan, seseorang yang mempunyai amalan sebanyak pasir di pantai, akan tetapi setelah ditimbang, amalan tersebut hanya bagaikan debu yang beterbangan.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapkan segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
(Surat Al-Furqan, ayat 23)

Bukan hanya amalan kita yang ditolak Allah, bahkan itu adalah sebab masuknya kita ke dalam api Neraka.

Allah subhanahu wa taala berfirman;

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَة،ِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَة،ٌ عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ، تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً
“Sudah datangkah kepadamu berita tentang hari pembalasan? Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (Neraka).
(Surat Al-Ghasyiah: ayat 1-4)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Dia telah beramal sangat banyak dan berletih-letih, akan tetapi yang diperolehnya adalah Neraka yang apinya sangat panas.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 4:503)

Oleh sebab itu, Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam kitab shahihnya, bab: Berilmu sebelum berucap dan beramal, yang penjelasannya sudah kita bahas pada awal tulisan.

Maka dari penjelasan tentang pentingnya mempelajari ilmu Islam, kita bisa mengetahui alasan bahwa kita tidak boleh beramal tanpa ilmu, karena itu merupakan salah satu ciri dari kaum Nashrani, dan mereka mendapatkan kesesatan.

Jika keadaanya dibalik: Berilmu tanpa amal, maka itu merupakan ciri dari kaum Yahudi, dan mereka juga mendapatkan kemurkaan Allah.

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk kita menjadi seorang muslim sejati, yang mengikuti jalan kebenaran dengan ilmu bukan dengan hawa nafsu.

Semoga melalui tulisan ini, Allah jadikan sebab ilmu yang bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca, sehingga dengannya kita bisa beramal dengan ilmu.

Hanya Allah yang mampu memberikan taufiq dan hidayah kepada manusia.
__________
Walhamdulillah, selesai disusun pada pagi hari yang cerah, 23 Dzulqadah 1438H/16 Agustus 2017M, di kediaman Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaBeradab Sebelum Berilmu
Artikel sesudahnyaGoresan Tinta Untuk Para Penuntut Ilmu
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here