Beranda Belajar Islam Adab Beradab Sebelum Berilmu

Beradab Sebelum Berilmu

11673
1
BERBAGI

Beradab Sebelum Berilmu

Saudara-saudari muslim, yang semoga Allah hiasi diri kita dengan akhlak yang baik.

Di zaman ini, banyak manusia termasuk kita terlalu tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, sampai membuat lupa akan kewajiban untuk mempelajari adab sebelum ilmu.

Yang membuat keadaan saat ini banyak di antara para penuntut ilmu termasuk kita, mudah mencela sebuah majelis ilmu, menggibahi gurunya, mencela temannya, bahkan sampai meremehkan ilmu beserta penjelasannya. Laa haulaa wa laa quwwata illa billaah!

Maka melalui tulisan ini, Penulis ingin sedikit menjelaskan tentang manfaat belajar adab sebelum ilmu, guna menyadarkan hati-hati kita yang mulai lalai akan keutamaan menuntut ilmu dengan adab.

Beberapa hal yang perlu diketahui oleh para penuntut ilmu, di antaranya;

A. Keutamaan Mempelajari Adab

Imam darul hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy;
“Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu!”
(Hilyatu Al-Auliya, 6:330)

Apa yang membuat para ulama begitu antusias mendahulukan belajar adab sebelum belajar ilmu?

Sebagaimana Yusuf bin Al-Husain rahimahullah juga berkata;
“Dengan adab kamu akan mampu memahami ilmu, dan dengan ilmu amalmu menjadi benar.”
(Iqtidha Al-Ilmi Al-Amal, hlm.31)

Bahkan Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata;
“Aku mempelajari masalah adab selama 30 tahun, sedangkan aku mempelajari ilmu selama 20 tahun. Dahulu para ulama mempelajari adab sebelum ilmu.”
(Ghayatu An-Nihayah Fii Thabaqati Al-Qura, 1:446)

Kita bisa lihat kesungguhan para ulama, orang-orang shalih terdahulu begitu antusias, begitu semangat dalam mempelajari adab sebelum ilmu.

Mereka yang saat ini sukses dalam menuntut ilmunya, sangat luas pemahaman ilmunya, indah akhlaknya, salah satu sebabnya adalah karena mereka bersungguh-sungguh mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Maka jika kita ingin seperti mereka, ikutilah jejaknya dalam menuntut ilmu, yaitu beradab sebelum berilmu!

Beberapa adab yang perlu dipahami dan diamalkan oleh para penuntut ilmu, di antaranya;

1. Adab terhadap ilmu.
Tidak sedikit, di antara penuntut ilmu saat ini termasuk kita, begitu mudahnya memandang rendah sebuah ilmu dan hal itu terjadi disebabkan karena buruknya adab atau akhlak mereka. Mungkin kita pun terkadang tidak peduli terhadap tulisan-tulisan para ahli ilmu, semisal kitab, artikel, nasihat dan semisalnya.

Salah satu contohnya adalah ketika ada pesan masuk ke HP kita berupa tulisan ilmiyah, nasihat, artikel Islam dan semisalnya, kita begitu mudah untuk melewatinya, mengabaikannya, menghapusnya, seolah hal itu tidak ada manfaatnya untuk diri kita.

Dengan cara itu kah, kita membuktikan rasa syukur kepada Allah? Yang pada saat ini, Allah telah permudah jalan kita untuk mempelajari agamaNya, begitu mudahnya kita untuk mendapatkan ilmu dan nasihat, hanya dengan menyentuh salah satu menu yang ada pada HP atau teknologi lainnya.

Bersyukurlah saudara-saudariku! Manfaatkan dengan baik semua fasilitas yang saat ini Allah amanahkan kepada kita untuk hal-hal yang diperintahkan dan dibolehkan oleh syariat Islam.

Termasuk hal lain yang sering kita juga anggap sepele adalah ilmu yang disampaikan secara berulang kali atau dengan kata lain, merasa bosan, jenuh dengan penjelasan ilmu yang sudah pernah didengar atau dibaca sebelumnya. Biasanya, begitu mudahnya kita melontarkan ucapan yang bernada: Ah, ini lagi ini lagi!, Lah, ini mah udah pernah denger!, Aduh, kok diulangi lagi? Serta ungkapan nyeleneh semisalnya. Maka sudah seharusnya, mari kita mengobati dan memperbaiki kebiasaan buruk ini dengan mempelajari adab sebelum ilmu, agar diri kita menjadi manusia yang beruntung, bukan merugi!

Sebagaimana Atha bin Abi Rabah rahimahullah bercerita;
“Ada seorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarnya, seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu, padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum dia dilahirkan.”
(Siyar Alam An-Nubala, 5:86)

Karena sebetulnya ilmu yang kita dengar secara berulang kali itu memiliki tiga manfaat, yakni: Sebagai pengetahuan bagi kita yang belum pernah mendengarnya, sebagai pengingat bagi kita yang sudah pernah mendengarkannya lalu lupa, dan sebagai penguat daya ingat bagi yang sudah pernah mendengarnya.

Selain itu, meski pun orang yang menyampaikan nasihat dan ilmu kepada kita, tapi kita tidak suka kepadanya dikarenakan usia kita lebih tua darinya, atau karena gelar kita lebih tinggi darinya, maka wajib atas kita untuk tetap menerima nasihat dan ilmu yang disampaikannya, serta berusaha untuk tetap menghormatinya! Perlu kita ketahui juga, bahwa sikap semacam itu adalah buah dari sifat sombong.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk Surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya: Sesungguhnya seorang laki-laki menyukai baju dan sandalnya yang bagus, apakah ini termasuk kesombongan? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Imam Muslim, no.131)

Di antara adab terhadap ilmu selanjutnya adalah mencatat ilmu.

a. Keutamaan mencatat ilmu.
Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda;

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan menulisnya!”
(Silsilah Ash-Shahihah, no.2026)

Imam Asy-Syabi rahimahullah berkata;

إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ
“Apabila kamu mendengar sesuatu tentang ilmu, maka tulislah meskipun pada dinding!”
(Al-Ilmu, no.146)

Imam Asy-Syafii rahimahullah juga berkata;

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ، قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ. فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat! Maka termasuk kebodohan, kalau kamu memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.”
(Diwanu Asy-Syafii, hlm.103)

Daya ingat manusia itu lemah dan terbatas. Karenanya kita dianjurkan untuk mencatat ilmu. Dengan mencatat ilmu ketika di majelis ilmu, maka kita berusaha mengumpulkan dan menyimpan penjelasan ilmu yang disampaikan.

Hal ini membuat kita lebih fokus ketika mengikuti majelis ilmu dan membuat ingatan kita lebih kokoh, dan yang lebih penting sikap ini menunjukkan perhatian dan kepedulian kita terhadap ilmu serta memuliakan ilmu agama yang penuh dengan berkah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Kita katakan: Ya, lupa ada obatnya (dengan karunia dari Allah) yaitu dengan menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hambaNya dengan surat Al-Alaq, yaitu iqra. Kemudian mengajarkan dengan perantara pena, maksudnya: bacalah dengan hafalannya! Jika tidak hafal maka dengan tulisanmu! Allah azza wa jalla menjelaskan kepada kita bagaimana mengobati penyakit ini, yaitu penyakit lupa dan kita dapat obati dengan menulis. Dan sekarang menulis lebih mudah dibandingkan dahulu, karena mudah didapatkan dan segala puji bagi Allah, sekarang bisa direkam.”
(Mushthalah Al-Hadits, Syaikh Al-Utsaimin)

b. Ikat juga ilmu dengan amal.
Pada saat ini, adanya sarana tulis-menulis dan kemudahan copy-paste melalui internet, sarana sosial media, maka mencatat dan menyalin suatu tulisan cukup mudah dilakukan, karenanya ada sebuah ungkapan;

قَيِّدُ الْعِلْمَ بِالْعَمَلِ
“Ikatlah ilmu dengan mengamalkannya!”

Ilmu lebih layak diikat dengan amal karena ilmu yang telah diikat pada kitab-kitab telah banyak dilupakan. Apalagi di zaman ini kita sangat butuh terhadap amal, contoh seperti mengamalkan akhlak mulia terhadap keluarga dan masyarakat. Maka dari itu, jangan malas untuk mencatat dan mengamalkan ilmu!

Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As-Sakhtiyani rahimahumallaah;

إذَا حَدَثَ لَك عِلْمٌ فَأَحْدِثْ فِيهِ عِبَادَةً وَلَا يَكُنْ هَمُّكَ أَنْ تُحَدِّثَ بِهِ النَّاسَ
“Apabila kamu mendapat ilmu, maka munculkanlah keinginan ibadah di dalamnya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikannya kepada manusia.”
(Al-Adab Asy-Syariyyah, 2:45)

Allah azza wa jalla berfirman;

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰٮةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا ۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
(Surat Al-Jumuah: ayat 5)

2. Adab terhadap guru.
Pada point yang kedua ini merupakan hal yang saat ini sangat banyak tidak dipedulikan oleh sebagian besar penuntut ilmu, termasuk kita. Di antara kita banyak yang sering diam-diam saling mengghibahi gurunya, orang yang mengajarkan ilmu kepadanya dicela, digosipin, dan diperlakukan tanpa akhlak.

Maka inilah salah satu bentuk cerminan akhlak yang buruk. Jika kita memiliki sifat demikian, mari segera bertaubat dan memperbaiki akhlak tersebut! Agar diri kita tidak menyesal disebabkan sifat buruk yang kita miliki, dan agar ilmu yang kita pelajari menjadi berkah dan bermanfaat!

Karena bagaimana mungkin ilmu yang kita pelajari menjadi berkah, jika orang yang mengajarkan ilmu kepada kita, malah kita cela, kita hina, kita perlakukan tanpa adab?

Maka, Penulis mengajak diri sendiri dan juga para Pembaca, agar kita bersama memperbaiki akhlak (adab) kita terhadap orang-orang yang sudah mengajarkan ilmu, memberikan nasihat dan bimbingan terhadap kita, meskipun hanya sedikit dan sebentar. Karena mereka sudah berbuat baik, sudah mau mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada kita, membimbing kita penuh dengan perjuangan dan kesabaran. Maka sudah sangat layak kita membalas kebaikannya tersebut dengan kebaikan lagi, bukan dengan keburukan dan kejahatan.

Di antara adab kepada guru yang harus kita perhatikan dan biasakan, adalah;

a. Menghormatinya.
Ini adalah pengamalan dari hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).”
(HR. At-Tirmidzi, no.1919. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan, Shahih Al-Jami, no.5443)

Karena cara menghormati bukanlah dengan meletakkan tangan kanan di atas kepala seperti halnya ketika upacara. Melainkan, kita memperlakukan seseorang dengan akhlak yang baik, memenuhi haknya, tidak menyinggung serta menyakiti perasaannya dan memposisikan seseorang sesuai kedudukannya! Itulah hakikat menghormati.

b. Memanggil dengan sebutan yang baik.
Hal ini merupakan penerapan dari ayat Al-Quran;

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian terhadap sebagian yang lain!”
(Surat An-Nur: ayat 63)

Pada ayat tersebut, Allah azza wa jalla memuliakan nama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Salah satu sebabnya, karena Rasulullah sudah mengajarkan ilmu dan banyak kebaikan kepada manusia. Dan para guru juga adalah orang yang sudah mengajarkan ilmu kepada manusia, maka mereka juga berhak untuk mendapatkan penghormatan semacam itu. Karena mereka juga telah mengajarkan banyak kebaikan, berupa nasihat dan bimbingan kepada manusia.

Kalau di negeri Indonesia, kita bisa menggunakan beberapa panggilan yang baik dan sudah merupakan kebiasaan masyarakat, di antaranya: Ulama, Syaikh, Kyai, Ustadz, Guru, Dosen, dan panggilan semisalnya. Maka panggilan-panggilan tersebut, bisa kita gunakan juga untuk menghormati orang-orang yang sudah mengajarkan ilmu, memberikan nasihat kepada kita, meskipun hanya sesaat.

Selain itu, termasuk adab ketika bergaul (muamalah) dengan orang yang lebih tua usianya dari kita, yakni memanggilnya dengan panggilan Aa, Mas, Om, Bang, Kang, Pa’le atau panggilan semisalnya. Maka dari itu, jangan cuma dipanggil dengan namanya saja! Karena hal tersebut bagian dari adab Islam. Dan hal ini merupakan adat yang kita bisa terapkan di lingkungan sekitar, dan juga tidak dilarang oleh agama Islam.

Ingat, adab Islam semacam itu berlaku untuk semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, anak-anak maupun dewasa!

Abdullah bin Zahr rahimahullah berkata;
“Termasuk durhaka kepada orang tua adalah kamu memanggil orang tua dengan namanya saja dan kamu berjalan di depannya.”
(Al-Majmu, 8:257)

Catatan: Panggilan yang digunakan tidak mengandung unsur berlebihan (ghuluw) dan tidak boleh disingkat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ
“Janganlah kalian berlaku ghuluw (sikap berlebih-lebihan)! Karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah disebabkan karena bersikap ghuluw dalam masalah agama.”
(HR. Ahmad, no.3078. Syuaib Al-Arnauth menyatakan sanad hadits ini shahih)

Termasuk adab yang baik, hendaknya kita memanggil para guru dengan panggilan yang lengkap atau jelas dan tidak disingkat atau diringkas. Sehingga ketika kita ingin memanggilnya dengan sebutan Ustadz, maka panggillah atau tulislah panggilan tersebut dengan lengkap dan jelas, tidak perlu disingkat, misal dengan sebutan atau tulisan: Ust, Ustd, Ustdz, Stadz, Tadz, Tad dan singkatan semisalnya. Sehingga untuk panggilan yang lainnya pun berlaku hal yang sama, selayaknya kita panggil dengan sebutan yang jelas, lengkap dan tidak disingkat.

Perlu diketahui, bahwa hal tersebut tetap berlaku ketika bermuamalah secara langsung, maupun tidak langsung, seperti SMS, Telepon dan media lainnya. Karena setiap hal yang berkaitan dengan urusan dunia hukum asal boleh, selama tidak dilarang oleh Allah dan RasulNya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;

وَالْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ لَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ
“Hukum asal adat (kebiasaan masyarakat) adalah tidaklah masalah (boleh), selama tidak ada yang dilarang oleh Allah di dalamnya.”
(Majmuah Al-Fatawa, 4:196)

Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan;
“Jangan memanggil guru dengan nama atau laqabnya (julukan atau gelar) saja! Seperti jika kamu berkata: Wahai Syaikh Fulan! Sebaiknya panggillah dengan: Wahai Syaikhii (guruku) atau Syaikhunaa (guru kami), dan sebaiknya juga tidak sebut namanya dan ini lebih beradab. Jangan juga memanggilnya dengan kamu atau anta. Jangan juga memanggil guru tersebut dari kejauhan dengan teriak, kecuali jika darurat. Tapi, jika dalam rangka menjelaskan perkataan gurunya, misal: Gurunya berkata seperti ini dan seperti itu, maka boleh menyebutkan namanya. Misal: Guruku, Syaikh Fulan berkata demikian. Ketika itu menyebut namanya diperbolehkan, karena bukan dalam keadaan memanggilnya, tapi hanya menyampaikan suatu berita atau penjelasan yang berasal darinya.”
(Syarh Hilyah Thalib Al-Ilmi, hlm.82)

Termasuk kasus yang sama, yakni pemanggilan dengan kata ganti antum dalam bahasa arab yang artinya kalian, yang biasanya digunakan untuk menghormati seseorang yang lebih tua. Namun, di saat ini ketika panggilan antum sudah dianggap sebagai hal yang biasa, karena panggilan antum digunakan juga untuk panggilan terhadap orang yang seusia atau lebih muda, maka panggilan antum sebaiknya tidak digunakan untuk memanggil seorang guru dan orang yang lebih tua. Kita tetap bisa menghormatinya dengan memanggilnya Ustadz, Guru, atau panggilan semisalnya.

Hal tersebut tidak boleh dilakukan karena sama saja dengan kita menyamakan panggilan guru kita dengan orang lain, sehingga tidak ada bedanya antara orang berilmu dengan orang jahil.

Salah satu cara agar kita bisa menghormati seorang guru adalah dengan berusaha menghilangkan sifat gengsi, tidak mau mengakui kebaikannya, hasad dan sifat-sifat buruk semisalnya. Maka, jangan pernah merasa berat untuk mengakui keutamaan dan kebaikan yang telah dilakukan oleh para guru terhadap diri kita!

Semoga Allah menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia dan semoga kita diberikan kemudahan untuk memuliakan para guru dan orang-orang tua yang ada di sekitar kita.

Semoga Allah azza wa jalla selalu menjaga guru-guru kita, memberkahi usia dan ilmunya. Aamiin

Sebagai penutup, penjelasan di atas tidak hanya berlaku untuk guru kita saja, akan tetapi berlaku juga untuk semua makhluk Allah. Mari kita perlakukan mereka sesuai kedudukannya!

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
“Tempatkan (perlakukan) manusia sesuai posisi mereka!”
(An-Nawafihu Al-Athiratu, no.59)

Hal tersebut disebabkan mereka juga memiliki hak yang sama untuk dihargai, dihormati, dan diperlakukan dengan adab, sebagaimana diri kita.

Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani rahimahullah pernah berkata dalam salah satu ceramahnya;
“Saya dahulunya mengira bahwa masalah utama dunia islam saat ini hanyalah semata-mata jauhnya mereka dari pemahaman tauhid yang benar terhadap hakikat Laa ilaaha illallaah. Namun, setelah beberapa waktu, tampaklah pada diriku bahwa ada masalah lain (yang tidak kalah penting) sebagai tambahan atas masalah pokok yang pertama tadi, yaitu masalah akhlak.”

3. Adab ketika di majelis ilmu.
Ada beberapa adab dalam majelis ilmu yang mungkin sudah kita lupakan dan lalaikan, salah satunya adalah mencatat ilmu.

Seringnya kita datang ke majelis ilmu dengan niat yang kurang ikhlash, hanya sekedar mendengarkan sambil santai-santai, tambah nganggur (gak ada kerjaan), ada yang sambil mainan HP, ada yang sambil duduk bersandar di posisi paling belakang (tanpa adanya udzur syari), dan itu semua merupakan adab yang tidak selayaknya ada di majelis ilmu, tempat yang mulia dan didoakan oleh para Malaikat.

Semoga niat semacam ini bisa segera kita perbaiki, agar kita bisa mendapatkan keberkahan dari ilmu yang kita pelajari.

Di antara adab yang perlu kita perhatikan dalam majelis ilmu adalah;

a. Melapangkan tempat duduk.
Allah azza wa jalla berfirman;

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepada kalian, Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah! Niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kalian, maka berdirilah! Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui terhadap sesuatu yang kalian kerjakan.”
(Surat Al-Mujadilah: ayat 11)

Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata;

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: خَيْرُ الْمَجَالِسِ أَوْسَعُهَا
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sebaik-baik majelis adalah yang paling luas (lapang).”
(HR. Abu Dawud, no.4183)

b. Mengucapkan salam dan duduk di tempat yang tersedia.
Seorang muslim hendaknya menyampaikan salam ketika menemui suatu kaum, dan hendaknya dia duduk bersama mereka di tempat yang sudah tersedia.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ ثُمَّ إِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الْأُوْلَى أَحَقُّ مِنَ الْآخِرَةِ
“Apabila salah seorang di antara kalian tiba di majelis, maka hendaknya dia mengucapkan salam. Jika ingin duduk, maka duduklah! Kemudian apabila dia ingin bangun, maka hendaklah dia mengucapkan salam! Karena salam yang pertama tidaklah lebih berhak dari pada salam yang terakhir.”
(Al-Jami Ash-Shaghir, no.495)

Demikian juga, hendaknya seorang muslim, apapun kedudukannya dan pangkatnya, duduk di tempat mana saja, ketika tersedia ruang yang cukup untuknya duduk, dan tidak sampai membangunkan (mengusir) orang lain dari tempat duduknya, lalu agar dia bisa duduk di tempat tersebut.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَقْعَدِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا
“Tidak boleh seseorang membangunkan (mengusir) orang lain dari tempat duduknya, lalu dia duduk di tempat duduk orang tersebut. Tapi sebaiknya katakanlah: Geser dan luaskanlah (tempat duduk)!”
(HR. Imam Muslim, no.4044)

Dalam riwayat selanjutnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يُقِيمَنَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ ثُمَّ يَجْلِسُ فِي مَجْلِسِهِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ عَنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيهِ
“Janganlah salah seorang di antara kalian membangunkan temannya dari tempat duduknya, kemudian dia menduduki tempat tersebut. Oleh karena itu, apabila seseorang berdiri untuk memberikan tempat duduknya kepada Ibnu Umar, dia tidak mau menempatinya.”
(HR. Imam Muslim, no.4045)

c. Tidak duduk di antara dua orang yang saling berdekatan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يُجْلَسْ بَيْنَ رَجُلَيْنِ إِلَّا بِإِذْنِهِمَا
“Tidak boleh diduduki (tempat) di antara kedua orang, kecuali mereka berdua mengizinkannya.”
(HR. Abu Dawud, no.4204)

d. Mencari tempat duduk yang terdepan.
Sahabat Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para Sahabat, datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan yang seorang lagi pergi. Yang dua orang berdiri sejenak di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian satu di antara keduanya melihat tempat kosong dalam majelis tersebut, maka dia duduk di tempat itu. Sedangkan yang kedua, duduk di belakang majelis, sedang yang ketiga berbalik arah dan pergi. Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tersebut? Adapun seorang di antara mereka, dia mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mendekatkan dia kepadaNya. Yang kedua, dia malu (tidak mengisi tempat yang kosong), maka Allah pun malu terhadapnya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah, maka Allah pun berpaling darinya.”
(HR. Imam Bukhari, no.64)

e. Menutup majelis dengan doa kaffaratul majlis.
Termasuk kebaikan adalah ketika kita selesai dari bermajelis, maka tutuplah dengan membaca doa kaffaratul majlis!

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً
“Tidak ada suatu kaum yang bangun dari majelis, lalu mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalam majelis tersebut, kecuali mereka akan bangun dari tempat yang semisal dengan bangkai keledai, dan hal tersebut akan menjadi penyesalan bagi mereka (di akhirat).”
(HR. Abu Dawud, no.4214)

Teman-teman bisa membaca doa;

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memujiMu, aku bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang berhak di sembah dengan benar, melainkan hanya Engkau, aku meminta ampunan dan bertaubat kepadaMu.”

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ
“Barang siapa duduk di sebuah majelis yang di dalamnya banyak hal tidak bermanfaat, kemudian sebelum berdiri dia mengucapkan: SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ANLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA, maka akan diampuni dosanya selama berada di majelisnya tersebut.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3355)

Abu Barzah Al-Aslami rahimahullah berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنْ الْمَجْلِسِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلًا مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى، فَقَالَ: كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ
“Ketika akan mengakhiri majelis, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengucapkan: ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA. Ada seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah mengucapkan suatu bacaan yang tidak pernah engkau ucapkan sebelumnya. Beliau bersabda: Itu sebagai penebus (kaffarat) dari dosa yang terjadi selama dalam majelis.”
(HR. Abu Dawud, no.4217. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Atau teman-teman juga bisa membaca doa;

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
“Ya Allah, curahkanlah kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia. Berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang menzhalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.”

Sebagaimana Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa berkata;

قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ: اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
“Sangat jarang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri dari majelis, kecuali beliau berdoa untuk para Sahabatnya: ALLAAHUMMA AQSIM LANAA MIN KHASYYATIKA MAA YAHUULU BIHII BAINANAA WA BAINA MAASHIIKA, WA MIN THAATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAKA, WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU BIHI ALAINAA MUSHIIBAATID DUNYAA WA MATTINAA BIASMAAINAA WA ABSHAARINAA WA QUWWATINAA MAA AHYAITANAA, WAJALHUL WAARITSA MINNAA WAJAl TSARANAA ALAA MAN ZHALAMANAA WANSHURNAA ALAA MAN AADAANAA, WALAA TAJAl MUSHIIBATANAA FII DIININAA WA LAA TAJALID DUNYAA AKBARA HAMMINAA WA LAA MABLAGHA ILMINAA, WA LAA TUSALLITH ALAINAA MAN LAA YARHAMUNAA.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3424. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits hasan)

Untuk penjelasan selanjutnya mengenai: Berilmu Sebelum Beramal, insyaallah akan dijelaskan pada tulisan selanjutnya.

Semoga Allah berikan kemudahan kepada Penulis dan para Pembaca untuk istiqamah memahami dan mempelajari ilmu Allah subhanahu wa taala dan menjadikannya sebagai ilmu yang bermanfaat lagi berkah. Dan semoga Allah azza wa jalla menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik.

Wallahu taala alam.
________
Alhamdulillah selesai disusun pada siang hari, 21 Dzulqadah 1438H/14 Agustus 2017M, di kediaman Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.

📝 Al-Faqir ilaa maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaKeberkahan Ilmu
Artikel sesudahnyaBerilmu Sebelum Beramal
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here