Beranda Belajar Islam Amalan Keberkahan Ilmu

Keberkahan Ilmu

2806
0
BERBAGI

Keberkahan Ilmu

Para Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah azza wa jalla!

Sebelum kita membahas lebih dalam tentang keberkahan ilmu, ada beberapa hal yang perlu kita pelajari lebih dulu, di antaranya;

A. Makna Keberkahan

Ibnul Manzhur rahimahullah berkata;
“Secara ilmu bahasa, Al-Barakah yakni berkembang, bertambah dan kebahagian.”
(Lisan Al-Arab, 10:395)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.”
(Syarh Shahih Muslim, 1:225)

Barakah bermakna tetapnya sesuatu dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu.
(Maqayis Al-Lughah, 1:227-228)

Tabriik adalah mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan. Sedangkan tabarruk adalah istilah untuk mengambil berkah atau dengan istilah yang lebih dikenal “ngalap berkah”.

Segala sesuatu, meskipun jumlahnya sedikit tapi berkah, maka itu lebih baik dibandingkan dengan sesuatu yang jumlahnya banyak, tapi tidak berkah. Maka dalam pembahasan kali ini, kita akan fokus pada pembahasan: Bagaimana caranya agar ilmu yang dipelajari selama ini menjadi berkah? Sehingga kita bisa merasakan banyak manfaat dari ilmu yang kita miliki.

B. Sebab Ilmu Menjadi Berkah

Tidak sedikit, artinya banyak manusia termasuk kita yang menuntut ilmu, baik sifatnya rutin apalagi hanya sewaktu-waktu saja, tapi ilmu yang dipelajarinya tidaklah membuat pribadinya berubah menjadi lebih baik, malah ada yang makin buruk dari keadaan sebelumnya.

Itu mungkin salah satu tanda ilmu yang dimilikinya tidak berkah. Dan perlu segera diperbaiki dan dicari solusinya, agar kita bisa menjadi manusia yang beruntung.

Di antara sebab-sebab ilmu menjadi berkah adalah;

1. Mempelajari kisah ulama.
Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata;
“Kisah-kisah keteladanan para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan membahas masalah-masalah fiqih. Karena kisah-kisah tersebut berisi adab dan tingkah laku mereka untuk diteladani.”
(Jaamiu Bayaani Al-Ilmi Wa Fadhlihi, 1:509)

Seperti itulah para ulama menerangkan bahwa terkadang membaca kisah-kisah para Nabi, orang-orang shalih dan para ulama, lebih disukai dari pada mempelajari teori. Karena kisah-kisah mereka adalah praktek nyata dari teori yang dipelajari. Kemudian jika kita merasa malas, sedang tidak semangat (futur) dalam beribadah dan menuntut ilmu, maka salah satu cara agar kita bersemangat kembali adalah dengan melihat dan membaca kembali kisah-kisah mereka rahimahumullah. Karena cara itu adalah obat yang sangat tepat untuk membangkitkan kembali semangat kita yang mulai hilang.

Allah azza wa jalla berfirman;

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi alaihimussalam dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(Surat Yusuf: ayat 111)

Para ulama salaf sangat dikenal dengan semangat dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu. Bahkan hanya untuk mendapatkan satu hadits, mereka rela dan siap menempuh perjalanan yang sangat lama dan jauh.

Mengapa semangat mereka dalam menuntut ilmu sampai seperti itu?Karena mereka tahu hakikat ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Sebagaimana Imam Malik rahimahullah berkata;

الْعِلْمُ يُؤْتٰى وَلَا يَأْتِي
“Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.”

Ibnu Manzhur rahimahullah menceritakan;
“Khalifah Harun Ar-Rasyid mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas agar beliau berkenan datang ke istana, agar kedua anaknya yaitu Amin dan Makmun bisa belajar ilmu agama langsung kepada Imam Malik. Lalu Imam Malik menolak permintaan Khalifah dan mengatakan: Ilmu agama itu didatangi, bukan mendatangi! Untuk kedua kalinya Khalifah Harun Ar-Rasyid mengutus utusan yang membawa pesan sang khalifah: Aku kirimkan kedua anakku agar bisa belajar ilmu agama bersama murid-muridmu. Maka Imam Malik menjawab: Silakan, dengan syarat keduanya tidak boleh melangkahi pundak orang lain, agar bisa duduk di depan dan hendaknya, mereka berdua duduk di mana saja, pada tempat yang longgar saat pengajian. Akhirnya kedua putra Khalifah tersebut hadir dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Imam Malik.”
(Mukhtashar Tarikh Dimasyq, hlm. 3769)

Jadi, jika kita ingin ilmu yang dipelajari menjadi berkah dan bermanfaat, maka datangilah majelis ilmu untuk belajar ilmu, jangan hanya sekedar belajar dengan duduk manis di depan TV, HP, Laptop, atau media lainnya! Dan sekali lagi, itupun jika kita ingin ilmu yang dipelajari menjadi berkah.

Maka seseorang jika ingin mendapatkan ilmu, maka dia harus keluar dari rumahnya dan mencari ilmu!

Seorang Tabiin, Said bin Al-Musayyab rahimahullah berkata;
“Sesungguhnya aku berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.”
(Jaamiu Bayaani Al-Ilmi Wa Fadhlihi, 1:395)

Ibnu Mandah rahimahullah berkata;
“Saya mengelilingi timur dan barat (untuk menuntut ilmu) sebanyak dua kali.”
(Siyar Alam An-Nubala, 12:503)

Ibnul Jauzi rahimahullah juga berkata;
“Imam Ahmad bin Hanbal keliling dunia sebanyak dua kali, hingga dia bisa mengumpulkan (membuat) kitab Musnad.”
(Shaidu Al-Khatir, hlm.246)

Mari kita lihat, perjuangan para ulama salaf dalam menuntut ilmu! Mereka terus merasa lapar dan haus dengan ilmu. Tidak ada kata kenyang dan tidak ada kata lelah, malas bagi mereka dalam mencari ilmu. Itu semua terjadi, karena mereka merasa butuh dengan ilmu.

Mereka tidak merasa cukup dan puas dengan mendengar hadits atau ilmu dari temannya yang berasal dari seorang guru. Mereka ketika mendengar suatu hadits atau ilmu, mereka segera mendatangi sumbernya dan ingin segera mendengar hadits atau ilmu tersebut langsung dari lisan gurunya.

Sehinggga pada saat ini kita bisa merasakan buah manis dari perjuangan mereka, yang berasal dari keberkahan ilmunya, berupa karya tulis (kitab) mereka yang sangat banyak, tipis, tebal, dan penuh dengan faidah ilmu. Perjuangan yang sangat besar, yang mereka kerahkan dalam menuntut ilmu, menyebabkan mereka mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat. Sebuah teladan yang patut kita jadikan motivasi untuk di ikuti.

Teorinya: Semakin besar tenaga yang kita kerahkan untuk menggali sebuah tanah (sumur) agar menjadi dalam, maka akan semakin banyak juga isi (air) yang dapat kita simpan di dalamnya. Sebaliknya, semakin rendah tempat galian tersebut, maka akan semakin sedikit pula isinya.

Serta aplikasi dari kisah-kisah mereka dalam menuntut ilmu, bisa juga kita terapkan pada zaman ini dengan cara langsung mendatangi majelis ilmu guru kita.

Meskipun saat ini sudah tersedia banyak sarana belajar yang telah Allah mudahkan untuk kita belajar, mendengar penjelasan ilmu dari seorang guru, baik berupa radio, televisi, rekaman suara, cuplikan video kajian, live streaming, buku-buku ilmiyah dan sarana lainnya, maka kita jangan pernah merasa puas dan cukup dengan itu semua!

Karena selama kita mampu dan tidak ada udzur syari yang menghalangi kita untuk hadir ke majelis ilmu, maka bersegeralah untuk menghadiri majelis ilmu guru kita secara langsung! Selain banyak keutamaan yang akan Allah berikan kepada para penuntut ilmu yang berkumpul di majelis ilmu, ada tujuan utama lain dari itu semua, yaitu kita bisa mendengar langsung penjelasan ilmu tersebut dari lisan guru kita, sebagaimana yang dilakukan dan dicontohkan oleh para ulama salaf.

Maka, mari kita rasakan bedanya ilmu yang kita berusaha dapatkan dengan mencarinya, dengan ilmu yang cuma kita dapatkan dari sarana-sarana tersebut!

Karena seharusnya di zaman ini, ketika Allah bukakan ilmu untuk kita, cukup dengan gadget dan sarana teknologi lainnya yang kita miliki, kita bisa mendapatkan berbagai tulisan ilmu, ratusan kitab hadits yang berisikan ribuan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kita juga bisa lebih banyak mendapatkan ilmu, banyak hadits yang bisa kita hafalkan, dan tentunya kita bisa lebih faqih (paham terhadap ilmu) dibandingkan para ulama salaf, sehingga seharusnya kita lebih unggul dari mereka. Karena waktu untuk kita belajar lebih efektif dari pada para ulama salaf, tidak perlu menempuh perjalanan yang sangat jauh dan lama untuk mendapatkan satu hadits. Dengan hitungan menit, kita bisa membuka puluhan kitab hadits, bisa membaca ratusan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan bisa menadapatkan banyak faidah ilmu lainnya.

Tapi pertanyaannya: Apa yang membuat para ulama salaf selalu berada satu tingkat di atas kita, dan membuat kita selalu berada satu tingkat di bawah mereka?

Pertanyaan tersebut juga pernah ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Muhtar Asy-Syinqity, lalu beliau menjawab: “Itu disebabkan karena keberkahan ilmu.”

Maka hendaknya yang harus dicari oleh setiap penuntut ilmu, itu bukan hanya mencari ilmu, tapi mencari keberkahan ilmu. Karena satu hadits (ilmu), tapi berkah itu lebih baik, dari pada ratusan hadits, tapi tidak berkah. Ini sebagaimana penjelasan tentang berkah yang sudah dijelaskan pada awal pembahasan.

Meskipun sesuatu itu jumlahnya lebih sedikit tapi berkah, maka itu lebih berharga dan lebih bermanfaat dibandingkan dengan sesuatu yang jumlahnya lebih banyak tapi tidak berkah, dan ini berlaku juga untuk hal lainnya, semisal harta. Jadi makna keberkahan di sini, tidak berlaku untuk ilmu saja.

Itulah yang menjadi alasan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta ilmu yang bermanfaat kepada Allah azza wa jalla pada setiap pagi hari, selesai shalat Subuh. Beliau berdoa;

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.”
(HR. Ibnu Majah, no.925)

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga memohon kepada Allah perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa;

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak merasa puas dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).”
(HR. Abu Dawud, no.1548)

Imam Hasan Bashri rahimahullah menjelaskan;

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dari pada mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh namun, jangan sampai meninggalkan ibadah! Gemarlah beribadah namun, jangan sampai meninggalkan ilmu!
Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah namun, meninggalkan belajar.”
(Miftahu Dari As-Saadah, 1:299-300)

2. Mencatat penjelasan ilmu.
Karena dalam menuntut ilmu tidak hanya diperintahkan mendengarkan saja. Namun, harus diikat juga dengan menulisnya dan mengamalkannya. Agar ilmu tersebut tidak lepas (hilang) seketika.

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda;

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya!”
(Al-Jami Ash-Shaghir, no.6149)

Imam Asy-Syabi rahimahullah berkata;

إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ
“Apabila kamu mendengar suatu ilmu, maka tulislah, meskipun pada dinding!”
(Al-Ilmu, no.146)

Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata;

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ. فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat! Termasuk kebodohan kalau kamu memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.”
(Diwanu Asy-Syafii, hlm.103)

Sadarlah, daya ingat manusia itu lemah dan terbatas! Maka kita dianjurkan untuk mencatat ilmu. Karena dengan mencatat ilmu di majelis ilmu, itu sebagai bukti kita berusaha mengumpulkan dan menyimpan penjelasan ilmu serta nasihat yang disampaikan oleh seorang guru.

Dengan mencatat ilmu, membuat kita lebih fokus ketika mengikuti majelis ilmu, dan membuat ingatan kita lebih kokoh. Selain itu, dengan mencatat ilmu, menunjukkan perhatian dan kepedulian kita terhadap ilmu, serta sebagai bukti kita memuliakan ilmu.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan;
“Allah tabaraka wa taala menjelaskan kepada kita tentang cara mengobati penyakit lupa, yakni dengan menulis. Dan sekarang menulis lebih mudah dibandingkan dahulu, karena saat ini alat untuk menulis mudah didapatkan.”
(Musthalah Al-Hadits, Syaikh Al-Utsaimin)

Dengan menulis ilmu, membuat kita mudah untuk membaca dan mengulang kembali penjelasan ilmu yang sudah kita pelajari ketika lupa.

Imam Bukhari rahimahullah adalah orang yang kuat hafalannya. Beliau pernah ditanya;
“Apa obat lupa itu? beliau menjawab: Senantiasa melihat ke kitab (yaitu selalu membaca dan mengulanginya).”
(Jaami Bayaani Al-Ilmi Wa Fadhlihi, 2:1277)

Maka dari itu, mulai saat ini kita mulai biasakan untuk mencatat ilmu!

3. Beradab kepada guru.
Sebab berkah ilmu selanjutnya adalah dengan beradab kepada orang yang mengajarkan ilmu kepada kita, yaitu guru. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa mendapatkan ilmu, jika orang yang memiliki ilmu tidak dia sukai, bahkan dia benci?

Logikanya, ketika kita merasa suka dan cinta terhadap seseorang. Lalu dia hadir dihadapan kita, kemungkinan bagaimana perasaan kita? Pasti senang dan bahagia. Bahkan ketika orang tersebut ada dihadapan kita, maka kita pun akan segera pasang telinga untuk menyimak sesuatu yang akan diucapkannya, meskipun dia belum berbicara.

Sebaliknya, jika kita merasa tidak suka dan benci terhadap seseorang. Lalu dia hadir dihadapan kita, kemungkinan bagaimana perasaan kita? Pasti merasa muak, risih dan berharap dia segera pergi dari hadapan kita. Bahkan kita merasa ingin membuang muka darinya (memalingkan wajah). Tidak hanya itu, meskipun dia belum berbicara, kita segera menutup telinga, karena enggan mendengarkan suaranya.

Padahal hal tersebut terlarang, Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ ۚ
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh! Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(Surat Luqman: ayat 18)

Sekarang, jika realita di atas kita terapkan pada proses belajar ilmu, misalkan seorang murid terhadap gurunya. Maka sangat jelas, jika seorang murid ingin mendapatkan ilmu dari gurunya, hendaklah dia mencintai gurunya tersebut! Namun, jika malah sebaliknya, dia malah membencinya, maka bersiaplah untuknya mendapatkan kerugian yang sangat besar, yakni tidak akan mendapatkan ilmu dari gurunya tersebut.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).”
(HR. At-Tirmidzi, no.1919. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan, Shahih Al-Jaami, no.5443)

Tersirat dari ucapan Rasulullah tersebut, bahwa mereka para ulama dan para guru, mereka wajib di perlakukan sesuai dengan haknya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tidak boleh dilupakan oleh seorang murid.

Mengapa kita harus menghormati seorang guru? Karena mereka telah mengajarkan dan mendidik kita dengan akhlak dan ilmu. Bahkan mereka yang sudah menjadi penerang dan penunjuk jalan kita dalam kegelapan (kebodohan), menuju jalan yang terang akan cahaya ilmu.

Selain itu, para ulama dan para guru adalah tempat untuk kita belajar dan bertanya tentang ilmu, serta sesuatu yang belum kita ketahui.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan ilmu (ulama), jika kalian tidak mengetahui!”
(Surat Al-Nahl: ayat 43)

Maka dari itu, hendaknya kita memperbanyak doa kebaikan untuk para guru kita, baik ketika mereka ada dihadapan kita, maupun ketika tidak ada!

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنِ اسْتَعاَذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيْذُوْهُ، وَمَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوْهُ، وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فاَدْعُوْا لَهُ
“Barang siapa meminta perlindungan kepadamu dengan nama Allah maka lindungilah dia. Barang siapa meminta sesuatu kepadamu dengan bersumpah menyebut nama Allah, maka penuhilah permintaannya. Dan barang siapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikannya. Jika kamu tidak dapat membalas kebaikannya, maka doakanlah dia!”
(HR. Abu Dawud, no.1672)

Adakah kebaikan yang lebih mulia dari pada kebaikan ilmu? Tentu tidak ada. Karena setiap kebaikan itu akan terputus, kecuali kebaikan ilmu, nasihat dan bimbingan, yang kebaikannya akan terus mengalir.

Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْلَ ضَلَّ السَّبِيْل، وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْلُ
“Barang siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu dia akan tersesat. Dan tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita, selain dengan mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(Miftah Dari As-Saadah, 1:299)

Jika seorang murid berakhlak buruk terhadap gurunya, maka akan menimbulkan dampak yang sangat buruk, yakni hilangnya berkah dari ilmu yang didapatkan, sehingga tidak dapat mengamalkan dan menyebarkan ilmunya tersebut. Dan itu semua contoh dari dampak akhlak yang buruk.

Para ulama salaf adalah suri teladan (panutan) untuk manusia, generasi setelahnya. Dan mereka juga telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru. Salah satu contohnya adalah;

Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam berkata;
Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَـكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ. وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, tentu hal itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah maha pengampun, lagi maha penyayang.”
(Surat Al-Hujurat: ayat 5)

Hal tersebut merupakan etika yang perlu diperhatikan dan diamalkan oleh setiap penuntut ilmu. Itu disebabkan betapa besarnya jasa seorang guru terhadap seorang murid.

Sungguh sangat mulia akhlak para ulama terdahulu (salaf). Mereka adalah teladan umat islam, sehingga tidak heran ketika mereka bisa menjadi ulama besar pada umat ini, dan karya tulisnya masih tetap hidup sampai saat ini, sungguh itu karena keberkahan ilmu mereka, yang disebabkan buah dari akhlak mulia mereka terhadap para gurunya.

Perlu kita ketahui, tidaklah seseorang itu dikatakan bersyukur kepada Allah azza wa jalla, hingga dia berterima kasih kepada manusia yang telah berbuat baik terhadapnya.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, bagi siapa saja yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.”
(HR. Abu Dawud, no.4811)

Jadilah manusia yang tahu diri! Yang tidak mudah melupakan jasa kebaikan orang lain dan jangan sampai kita menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya.

C. Sebab Hilangnya Keberkahan Ilmu

Setelah kita mengetahui sebab-sebab datangnya keberkahan ilmu, maka kita pun harus mengetahui sebab-sebab yang menyebabkan hilangnya keberkahan ilmu. Agar kita bisa berwaspada dan jangan sampai kita melakukannya, sehingga keberkahan ilmu yang sudah kita dapatkan menjadi hilang.

Di antara sebab hilangnya keberkahan ilmu adalah;

1. Berdebat tanpa ilmu.
Debat yang tercela adalah debat yang tidak memakai dasar ilmu dan tanpa dalil. Karena salah satu akibat suka berdebat tanpa ilmu adalah akan menghilangkan keberkahan ilmu.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah memberikan nasihat;
“Debat secara umum, itu akan menghilangkan berkah.”

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras debatnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.4523)

Secara umum, orang yang suka berdebat tanpa ilmu akan menghilangkan keberkahan pada ilmunya. Karena orang yang menjatuhkan diri dalam perdebatan yang tercela, yang tidak ada tujuan lain, kecuali hanya ingin dirinya menang, maka itulah yang akan menjadi sebab hilangnya keberkahan ilmu pada dirinya.

Maka jauhilah perdebatan, meskipun kita berada diposisi yang benar! Karena kelak di Surga, Allah azza wa jalla akan memberikan hadiah untuk kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ، وَ مَنْ تَرَكَهُ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا، ومَنْ حَسُنَ خُلقُهُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا
“Barang siapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan (kesalahan), maka akan dibangunkan sebuah rumah baginya di Surga yang terendah. Dan barang siapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di Surga yang pertengahan. Dan barang siapa yang memperbaiki akhlaknya, maka akan dibangunkan baginya rumah di Surga yang tertinggi.”
(HR. Abu Dawud, no.4800. Al-Mundziri mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih atau hasan, At-Targhib Wa At-Tarhib, 1:106)

2. Salah niat.
Para ulama salaf sangat bersungguh-sungguh dalam berjuang menggapai keikhlasan dan menaklukkan hawa nafsu serta ambisi-ambisi duniawi.

Sebagaimana Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata;
“Tidaklah aku merasa lebih sulit (berat) untuk memperbaiki sesuatu, kecuali urusan niatku.”
(Hilyah Thalib Al-Ilm, hlm.11)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِيءٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan.”
(HR. Imam Bukhari, no.1)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Niat secara bahasa berarti Al-Qashdu (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syari, yang dimaksud adalah berazam (bertedak) mengerjakan suatu ibadah ikhlash karena Allah, dan letak niat adalah di dalam hati. Jadi, jika seseorang ingin meraih keberkahan dari setiap ilmu yang dipelajarinya, maka niatkanlah untuk ikhlash, semata mengharap ridha Allah azza wa jalla dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya.”
(Syarh Hilyah Thalib Al-Ilm, hlm.27)

3. Dosa.
Secara umum, sesuatu yang dapat merusak segala kebaikan adalah dosa. Bahkan dosa akan merusak pelakunya secara perlahan namun, pasti.

Maka Penulis menasihatkan untuk diri sendiri dan para Pembaca, berdoalah kepada Allah azza wa jalla agar dimudahkan untuk melakukan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Sahabat An-Nawwas bin Saman radhiyallahu anhu berkata;

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّٰـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَاْلإِثْمِ، فَقَالَ: اَلْبِرُّ حُسْنُ الْـخُلُقِ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِـيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan dan dosa, maka beliau menjawab: Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesuatu yang membuat bimbang (gelisah) hatimu, dan kamu tidak suka jika dilihat (diketahui) oleh manusia.”
(HR. Imam Muslim, no.2553)

Sebagai bukti, dampak buruk dari sebuah dosa, bisa merusak hafalan Imam Asy-Syafii rahimahullah.

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii rahimahullah pernah berkata;

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
“Aku pernah mengadukan kepada Waki tentang buruknya hafalanku. Lalu beliau membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”
(Ianatu Ath-Thalibin, 2:190)

Padahal Imam Asy-Syafii adalah orang yang cerdas dan memiliki daya ingat yang sangat kuat. Imam Syafii pernah bercerita;
“Aku telah menghafalkan Al-Quran ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al-Muwatha (karya: Imam Malik) ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.”

Namun, mengapa hafalan beliau bisa terganggu?

Ketika Imam Syafii mengadukan kepada gurunya, yakni Imam Waki, beliau berkata;
“Wahai guruku, aku tidak dapat mengulangi hafalanku dengan cepat. Apa sebabnya? Imam Waki lalu berkata: Kamu pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah kamu merenungkannya kembali! Aku pun merenungkan keadaan diriku. Aku bergumam: Kemungkinan dosa apa yang telah aku lakukan? Aku pun teringat, bahwa pernah suatu saat aku melihat seorang wanita tanpa sengaja yang sedang menaiki kendaraannya, lantas tersingkap pahanya (ada juga yang mengatakan: yang terlihat adalah mata kakinya). Lalu setelah itu aku memalingkan wajahku.”

Masyaallah, ini merupakan tanda wara dari Imam Asy-Syafii rahimahullah, yaitu kehati-hatian beliau dari sebuah maksiat (dosa). Beliau melihat kaki wanita yang tidak halal baginya, lantas beliau menyebut dirinya bermaksiat. Sehingga membuatnya lupa terhadap sesuatu yang telah dihafalkannya.

Perhatikan, hafalan beliau saja bisa terganggu hanya karena ketidaksengajaan, dan hal itu pun sudah bisa mempengaruhi hafalan beliau. Lalu bagaimana lagi dengan keadaan diri kita yang senang melihat wajah, aurat wanita, atau bahkan melihat bagian dalam tubuh mereka?

Maka ini sebagai peringatan untuk kita, agar berhati-hati dengan dosa. Sehingga kita tidak menjadi penuntut ilmu yang merugi, yang kehilangan keberkahan ilmu, disebabkan oleh maksiat yang kita lakukan.

Bahkan ternyata dosa pun bisa menjadi sebab rezeki kita terhalang. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ
“Sesungguhnya seseorang akan terhalang dari rezekinya, disebabkan dosa yang diperbuatnya.”
(At-Targhib Wa At-Tarhib, 3:289. Al-Mundziri menyatakan hadits ini sanadnya shahih)

Rezeki saja bisa terhalang dengan sebab dosa. Sehingga tidak mustahil jika ilmu pun bisa terhalang dengan sebab dosa. Maka mulai saat ini, mari kita perbanyak memohon ampunan Allah azza wa jalla!

Sebagai penutup, Penulis berharap kepada Allah, semoga melalui tulisan ini menjadi sebab ilmu Penulis menjadi bermanfaat dan berkah. Aamiin

Semoga Allah azza wa jalla selalu memberikan kemudahan kepada kita untuk istiqamah dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Aamiin

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan semua ilmu yang sudah kita pelajari, menjadi ilmu yang berkah. Aamiin

Catatan: Point penjelasan di atas itu mungkin hanya secara ringkas dan umum, yang Penulis tuliskan hanya sesuai dengan kemampuan ilmu yang dimiliki. Jika ada point penjelasan yang luput, belum disampaikan, bisa jadi itu karena keterbatasan diri Penulis.

Wallahu taala alam.
_____
Alhamdulillaah alladzi binimatihi tatimmush shaalihaat, selesai ditulis pada sore hari menjelang malam, di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Kamis, 27 Rajab 1439H/12 April 2018M.

📝 Al-Faqir ila maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaHijrahku Adalah Pilihanku
Artikel sesudahnyaBeradab Sebelum Berilmu
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here