Beranda Motivasi Aku Ingin Taubat

Aku Ingin Taubat

1042
0
BERBAGI

Aku Ingin Taubat

Tidakkah kita ingin menjadi manusia yang lebih baik? Dan menjadi hamba Allah yang terbaik? Jika jawabannya ingin, segeralah bertaubat, kembali pada jalan Allah azza wa jalla!

Maka ketika kita sudah sadar, bahwa selama ini kita dalam zona yang tidak aman, yakni berada dalam gelapnya kemaksiatan yang penuh dengan dosa, bersegeralah untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla! Karena hanya dengan cara inilah kita bisa keluar menuju zona aman, yakni berada dalam keadaan yang lebih baik, terang dengan cahaya iman dan penuh dengan amalan ibadah kepada Allah azza wa jalla.

Untuk meyakinkan tekad kita dalam bertaubat kepada Allah dan istiqamah dalam melakukannya, mari kita simak beberapa penjelasan mengenai hukum-hukum yang berkaitan dengan taubat. Agar kita bisa melakukan taubat dengan ilmu, sehingga taubat yang kita lakukan adalah taubat nasuha.

A. Pengertian Dan Hukum Taubat

Secara bahasa, taubat berasal dari kata تَوَبَ yang bermakna kembali. Seseorang bertaubat, artinya dia kembali dari dosanya (berpaling dan menarik diri dari dosa).
(Mujam Maqayis Al-Lughah, 1:357)

Taubat adalah kembali kepada Allah dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus terlena melakukan dosa, lalu melaksanakan semua hak-hak Allah azza wa jalla.

Secara istilah, taubat adalah meninggalkan dosa karena takut kepada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya dan memperbaiki sesuatu yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amal dan perbuatannya tersebut.

B. Hakikat Taubat

Adalah perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah azza wa jalla pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa. Melakukan amal shalih dan meninggalkan seluruh larangan adalah wujud nyata dari taubat.

Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabbnya, inabah (kembali) kepada Allah azza wa jalla dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah. Jadi, sekedar meninggalkan perbuatan dosa namun, tidak melaksanakan amalan yang dicintai Allah azza wa jalla, maka itu belum dianggap bertaubat.

Seseorang dianggap bertaubat jika dia kembali kepada Allah azza wa jalla dan melepaskan diri dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa. Dia tanamkan makna taubat dalam hatinya sebelum diucapkan oleh lisannya, senantiasa mengingat apa yang disebutkan Allah azza wa jalla berupa keterangan terperinci tentang surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang taat dan mengingat siksa neraka yang di ancamkan bagi pendosa. Dia berusaha terus melakukan itu agar rasa takut dan optimismenya kepada Allah semakin menguat dalam hatinya. Dengan demikian, dia selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla dengan penuh harap dan cemas agar Allah azza wa jalla berkenan menerima taubatnya, menghapuskan dosa dan kesalahannya.
(At-Taubatu Ilallah Maknaha Haqiqatuha Fadhluha Syurutuha, hlm.10)

C. Syarat Diterimanya Taubat

Para ulama rahimahumullah berkata;
“Taubat itu hukumnya wajib bagi setiap dosa yang telah diperbuat. Maka jika dosa tersebut antara seorang hamba dengan Allah azza wa jalla, tidak ada kaitannya dengan hak manusia, maka wajib baginya untuk memenuhi tiga syarat, yaitu: 1.Meninggalkannya, 2.Menyesalinya, 3.Bertekad tidak mengulanginya kembali. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka tidaklah sah taubatnya. Apabila maksiat yang dilakukan berkaitan dengan manusia, maka ada empat syarat taubat yang harus dipenuhi. Tiga syarat yang sudah disebutkan di atas, ditambah dengan satu syarat lagi, yaitu: 4.Mengembalikan haknya. Maksudnya, pelaku maksiat tersebut harus mengembalikan segala hak orang lain yang pernah diambilnya. Jika kezhaliman tersebut berkaitan dengan kehormatannya atau sesuatu yang tidak bisa di kembalikan, maka mintalah maaf dan keridhaan darinya, agar dia merelakan atau meridhai hal tersebut.”
(Mukhtashar Riyadhu Ash-Shalihin, hlm.10)

Setiap manusia pasti pernah terjerumus dalam dosa. Mungkin saja seseorang sudah terjerumus dalam kelamnya zina, membunuh orang lain tanpa jalan yang benar, pernah meminum minuman keras (khamr), atau seringnya meninggalkan shalat lima waktu, padahal meninggalkan satu shalat saja termasuk dosa besar berdasarkan kesepakatan para ulama. Inilah dosa besar yang mungkin saja di antara kita pernah terjerumus di dalamnya. Lalu masihkah terbuka pintu taubat? Tentu saja pintu taubat masih terbuka, karena ampunan Allah azza wa jalla sangat luas.

Sebagai motivasi untuk kita terus bersemangat dalam bertaubat, Sahabat Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, bahwasannya Allah azza wa jalla berfirman;

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu menyeru dan mengharap kepadaKu, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya kamu mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepadaKu, tentu Aku akan mendatangiMu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3540)

D. Bertaubat Adalah Sebab Terhapusnya Dosa

Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah benar-benar maha pengampun. Setiap dosa, termasuk dosa kecil, dosa besar, dosa syirik bahkan dosa kekufuran, bisa diampuni selama seseorang bertaubat sebelum datangnya kematian walau pun dosa itu sepenuh bumi.

Allah azza wa jalla berfirman;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah! Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang.”
(Surat Az-Zumar: ayat 53)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, meski pun dosa tersebut sangat banyak, bagai buih di lautan.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 12:138-139)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni setiap dosa meski pun itu dosa kekufuran, kesyirikan dan dosa besar.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan;
“Berbagai penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap dosa (termasuk juga kesyirikan) jika seseorang mau bertaubat. Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah! Walau pun begitu banyak dosa yang dilakukan, karena pintu taubat dan rahmat Allah sangat luas.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 12:140)

E. Dosa Yang Dilakukan Berulang Kali

Mengenai hal ini, cobalah kita renungkan dalam hadits dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, bahwasannya Allah azza wa jalla berfirman;

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ
“Ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu dia mengatakan: ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ (ya Allah, ampunilah dosaku!). Lalu Allah berfirman: HambaKu telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang maha mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa (maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut berbuat dosa kembali, lalu dia mengatakan: ‘Ay rabbighfirliy dzanbiy’ (wahai Rabb, ampunilah dosaku!). Lalu Allah berfirman: HambaKu telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang maha mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa (maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut berbuat dosa kembali, lalu dia mengatakan: ‘Ay rabbigfirli dzanbiy’ (wahai Rabb, ampunilah dosaku!). Lalu Allah berfirman: HambaKu telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang maha mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh kamu telah diampuni!'”
(HR. Imam Muslim, no.2758)

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan;
“Bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ pada hadits tersebut adalah selama kamu berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.”

Lalu, beliau juga mengatakan;
“Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu dia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali dia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur (diampuni). Seandainya dia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah dia melakukan semua dosa tersebut, taubatnya pun diterima (sah).”
(Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17:75)

F. Bertaubat Dengan Tulus

Allah azza wa jalla berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus!”
(Surat At-Tahrim: ayat 8)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuha) sebagaimana penjelasan para ulama: Menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, dan bertekad tidak melakukannya kembali di masa yang akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka dia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 14:61)

Walau pun manusia dirundung oleh kemaksiatan dan dosa yang menumpuk, bukan berarti tidak ada lagi pintu (kesempatan) untuk memperbaiki diri. Karena, meski pun menggunungnya perbuatan maksiat seorang hamba namun, pintu rahmat Allah selalu terbuka. Manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, yaitu dengan bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang bisa mengantarkannya ke jurang Neraka. Taubat yang dilakukan haruslah totalitas, yang dikenal dengan taubat nashuha.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun, yang terbaik di antara manusia yang pernah berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2499. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Pernyataan Rasulullah tersebut memberikan pelajaran, bahwa semua manusia tidak ada yang belum pernah berbuat dosa, semuanya pasti pernah berbuat dosa. Karena Rasulullah menjelaskan alasannya;

لَوْ أَنَّ الْعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللّٰهُ الْخَلقَ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ
“Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa, kemudian mengampuni mereka.”
(HR. Al-Hakim, 4:246 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.967)

G. Taubat Dapat Membersihkan Hati Dari Noda Yang Mengotorinya

Karena dosa itu dapat menodai hati, dan membersihkannya kembali merupakan suatu kewajiban. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya sesuatu yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”
(Surat Al-Muthaffifin: ayat 14)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan makna hadits di atas;

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, maka hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan ‘Ar-Raan’ yang Allah sebutkan dalam firmanNya: Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3334, beliau dan Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa, sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama-kelamaan pun mati.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 14:268)

Allah menganjurkan kita untuk segera bertaubat dan beristighfar, karena hal demikian jauh lebih baik dari pada terus larut dalam dosa.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

فَإِن يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَّهُمْ ۖ وَإِن يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
(Surat At-Taubah: ayat 74)

Rasulullah sendiri telah memberikan contoh dalam bertaubat. Beliau shallallahu alaihi wa sallam banyak bertaubat dan beristighfar, sampai-sampai para Sahabat menghitungnya lebih dari 100 kali dalam suatu majelis.

Sebagaimana Nafi Maula Ibnu Umar menyatakan;

كَانَ ابنُ عُمَرُ يُعَدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُومَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ
“Ibnu Umar pernah menghitung (bacaan istighfar) Rasulullah dalam suatu majelis sebelum bangkit darinya sebanyak 100 kali, (yang berbunyi): ‘Rabbighfirlii watub alayya innaka antat tawwaabul ghafuur’ (wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku! Sesungguhnya Engkau maha penerima taubat lagi maha pengampun).”
(HR. At-Tirmidzi, no.3434 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.556)

H. Perbedaan Istighfar Dan Taubat

Dua istilah yang terlihat sama ini, ternyata memiliki perbedaan di dalamnya. Di antara perbedaannya adalah;

a. Pertama: Taubat ada batas waktunya, sementara istighfar tidak ada batas waktunya.
Oleh sebab itu, termasuk orang yang sudah meninggal dunia, mereka masih bisa untuk dimohonkan ampunan. Ada pun taubat, tidak akan diterima ketika nyawa seseorang sudah sampai pada kerongkongan (sudah wafat).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan.”
(HR. Al-Mundzir, At-Targhib Wat-Tarhib, 4:121. Sanadnya shahih atau hasan)

Maka seorang yang telah meninggal dunia tidak ditaubatkan namun, masih mungkin baginya untuk dimohonkan ampunan untuknya.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ، يَقُولُونَ: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Wahai Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman! Wahai Rabb kami, Sesungguhnya Engkau maha penyantun lagi maha penyayang.”
(Surat Al-Hashr: ayat 10)

b. Kedua: Taubat hanya bisa dilakukan oleh si pelaku dosa itu sendiri, ada pun istighfar bisa dilakukan oleh si pelaku dosa dan bisa juga oleh orang lain.
Maka, seorang anak bisa mendoakan ampunan (istighfar) untuk orang tuanya, atau seorang sahabat terhadap sahabatnya yang lain. Namun, tidak bisa dikatakan seorang anak mentaubatkan orang tuanya, atau seorang teman mentaubatkan temannya.

c. Ketiga: Taubat memiliki syarat harus berhenti dari dosa yang ditaubati, sedangkan istighfar tidak disyaratkan demikian.
Oleh karena itu, ada suatu masalah penting yang dikaji oleh para ulama berkaitan hal ini, yakni apakah istighfar akan bermanfaat tanpa taubat?

Maksudnya apabila seseorang beristighfar, sementara dia masih terus melakukan maksiat (dosa), apakah istighfar tersebut bermanfaat?

Misalnya: Seseorang merokok dan dia mengakui bahwa rokok itu haram, kemudian beristighfar namun, dia tidak berhenti dari merokok. Apakah istighfarnya tersebut dapat menghapus dosa merokok yang sudah dia lakukan? Mengingat, salah satu syarat taubat adalah berlepas diri (meninggalkan) dari dosa yang ditaubati tersebut.

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini;
• Pendapat pertama: Istighfar tidak bermanfaat tanpa taubat, karena istighfar adalah jalan menuju taubat. Sehingga apabila maksud dari taubat tidak tercapai, maka istighfar yang dilakukan menjadi sia-sia. Maka menurut para ulama yang berpegang pada pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh seorang perokok pada kasus di atas tidak bermanfaat.

• Pendapat kedua: Istighfar bermanfaat meski pun pelaku belum bertaubat. Karena dalam hadits-hadits yang shahih, Nabi shallallahu alaihi wa sallam membedakan antara istighfar dan taubat. Seperti sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali.”
(HR. Imam Bukhari, no.6307)

Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Sebanyak 100 kali.

Pada hadits di atas, istighfar dan taubat disebutkan secara terpisah. Menunjukkan bahwa istighfar dapat bermanfaat dengan sendirinya, meski pun tidak diiringi taubat.

Maka, menurut para ulama yang memegang pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh seorang perokok pada kasus di atas bisa bermanfaat. Bisa jadi Allah mengabulkan permohonan ampunan untuknya, meski pun dia belum bertaubat.

Namun, ada kesimpulan yang sangat baik dari Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili hafizhahullah, ketika memadukan dua pendapat di atas. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan;
– Pertama: Istighfar atau permohonan ampunan untuk pelaku dosa yang dilakukan oleh orang lain.
Seperti istighfarnya Malaikat untuk orang yang duduk di tempat shalat selama wudhunya tidak batal, para Malaikat mendoakannya;

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَهُ اَللّٰهُمَّ ارْحَمْهُ
“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia!”
(HR. Imam Muslim, no.649)

Atau seperti istighfar seorang anak untuk orang tuanya, dan ini termasuk doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam;

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Wahai Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu-bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).”
(Surat Ibrahim: ayat 41)

Nabi juga pernah memerintahkan para Sahabat beliau ketika raja Najasi meninggal dunia, untuk mendoakan ampunan untuknya.

اِسْتَغفِرُوا لِأَخِيكُمْ
“Doakanlah ampunan untuk saudara kalian!”
(HR. Imam Bukhari, no.1327)

Beliau juga bersabda setelah menguburkan salah seorang Sahabat beliau;

اِسْتَغفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا اللَّهَ لَهُ التَّثْبٍيتَ فإنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ
“Doakan ampunan untuk saudara kalian dan mohonkan kepada Allah untuknya ketetapan hati, karena dia sekarang sedang ditanya.”
(HR. Abu Dawud, no.3221)

Maka di sini Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan istighfar untuk mayit, bukan taubat untuk mayit. Karena perbuatan ini diperintahkan oleh syariat, menunjukkan bahwa istighfar untuk mayit bisa bermanfaat. Karena Allah tidaklah memerintahkan sesuatu, kecuali perbuatan yang bermanfaat. Ini adalah kaidah yang sangat penting dalam agama Islam.

-Kedua: Istighfar pelaku dosa untuk dirinya sendiri.
Yang tepat, istighfar seperti ini dapat bermanfaat untuk pelakunya, meski pun dia belum bertaubat namun, dengan syarat, istighfar tersebut muncul karena rasa takut yang sebenarnya terhadap Allah azza wa jalla dan jujur. Maka orang seperti ini berada pada dua keadaan, antara takut kepada Allah dan kalah oleh hawa nafsu.

Saat rasa takut muncul dia beristighfar, dan saat dia dikalahkan oleh syahwatnya, lalu dia terjerumus dalam dosa dan dia pun menyadari bahwa yang dilakukannya adalah dosa. Istighfar untuk orang seperti ini dikatakan bermanfaat untuknya.

Ada pun istighfar yang hanya di lisan, bukan karena takut kepada Allah, maka ini istighfar yang dusta. Seorang mengatakan astaghfirullah, akan tetapi dalam hatinya tidak ada rasa bersalah, tidak merasa takut kepada Allah dan tidak ada kesadaran bahwa yang dilakukannya adalah dosa. Maka istighfar seperti ini tidak bermanfaat sedikit pun.

Oleh sebab itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menjawab permohonan Abul Qasim Al-Maghribi rahimahullah untuk menuliskan wasiat untuknya, yang kemudian tulisan tersebut dikenal dengan Al-Wasiyyah As-Sughra, menyatakan;
“Allah bisa jadi mengampuninya sebagai pengabulan atas doanya, meski pun dia belum bertaubat. Namun, jika berkumpul antara istighfar dan taubat, maka itulah yang sempurna.”
(Al-Wasiyyah Ash-Shughra, hlm.31)

Bila seorang dapat mengumpulkan istighfar dan taubat, maka itulah yang sempurna. Sebagaimana Allah mengumpulkan kedua hal ini dalam firmanNya;

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah. Lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (beristighfar), siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu (bertaubat), sedang mereka mengetahui.”
(Surat Ali Imran: ayat 135)

I. Kisah Taubatnya Orang Shalih

Salah satu kisah taubat inspiratif dari salah satu orang shalih yang bisa kita jadikan motivasi hidup adalah kisah taubatnya Fudhail bin Iyadh rahimahullah.

Dahulu, beliau adalah seorang perampok yang ditakuti manusia, bisa menjadi takut dan kembali ingat kepada Allah azza wa jalla setelah mendengar percakapan kafilah dagang yang takut kepadanya dan mendengarkan ayat Al-Quran. Padahal hari ini, banyak manusia -mungkin termasuk kita di dalamnya- adalah bukan seorang perampok, bukan juga orang yang dikenal sebagai penjahat atau orang yang terbiasa melakukan dosa secara terang-terangan, tetapi ketika mendengar ayat Al-Quran hati kita tidak bergetar, tidak tersentuh, tidak juga mengingat dan mengagungkan Allah azza wa jalla. Yang kemudian perampok tersebut setelah bertaubat, dia menjadi seorang ulama besar.

Seorang tetangga Fudhail bin Iyadh berkata;
“Fudhail bin Iyadh adalah perampok (hebat), sehingga tidak memerlukan partner atau tim dalam merampok. Suatu malam dia pergi untuk merampok, tidak lama dia bertemu dengan rombongan kafilah. Sebagian anggota kafilah itu berkata kepada yang lain: Jangan masuk ke desa itu, karena di depan kita terdapat seorang perampok yang bernama Fudhail!”

Ketika Fudhail mendengar percakapan anggota kafilah tersebut, beliau menjadi gemetar, beliau tidak mengira bahwa orang-orang sampai setakut itu terhadap gangguan darinya, dia merasa betapa dirinya ini memberi madharat (keburukan) dan bahaya bagi orang lain. Lalu Fudhail pun berkata: ‘Wahai kafilah, akulah Fudhail, lewatlah kalian! Demi Allah, aku berjanji (berusaha) tidak lagi bermaksiat kepada Allah selama-lamanya.’ Sejak saat itu, Fudhail meninggalkan dunia hitam sebagai perampok yang telah digeluti tersebut.

Dikisahkan dari jalur riwayat yang lain ada tambahan kisah, bahwa Fudhail menerima kafilah tersebut sebagai tamunya pada malam itu. Dia berkata: Kalian aman dari Fudhail. Lalu Fudhail mencari makanan untuk hewan ternak mereka. Ketika dia pulang, dia mendengar seseorang membaca ayat Al-Quran;

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya, yang telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah termasuk orang-orang yang fasik.”
(Surat Al-Hadid: ayat 16)

Mendengar ayat tersebut Fudhail berkomentar: Berita-berita kami ditampakkan! Jika Engkau menampakkan keadaan kami, maka apa yang kami sembunyikan pasti akan terlihat dan kami akan malu. Jika Engkau menampakkan amalan kami, maka kami akan celaka karena adzabMu.

Aku (tetangga Fudhail) mendengarnya mengatakan: Kamu berhias untuk manusia, berdandan untuk mereka dan kamu terus berbuat riya, sehingga mereka mengenalmu sebagai seorang yang shalih. Mereka menunaikan kebutuhanmu, melapangkan tempat dudukmu (menyambutmu) dan bermuamalah denganmu karena mereka salah duga. Keadaanmu benar-benar buruk jika demikian adanya.

Aku juga mendengarnya mengatakan: Jika kamu mampu untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Kamu tidak akan rugi meskipun tidak dikenal dan kamu tidak rugi walaupun kamu tidak dipuji. Kamu tidak rugi walau pun kamu tercela di mata manusia, asalkan di mata Allah kamu selalu terpuji.

• Pelajaran yang bisa diambil;
Seseorang yang terbiasa melakukan perbuatan dosa, maka hatinya akan menghitam sehingga sulit menerima hidayah. Namun, terkadang ada sedikit celah di hatinya yang belum tertutup dengan gelapnya maksiat. Apabila dia gunakan bagian kecil itu untuk merenungkan dan mengingat kekuasaan Allah azza wa jalla, maka Allah akan bersihkan hatinya dari noda-noda hitam dosa kemaksiatan. Sebaliknya, apabila dia tetap menuruti hawa nafsunya, maka hati tersebut semakin menghitam dan lama-kelamaan akan mati dan tidak dapat menerima hidayah.

Maka ketika kita sudah mengetahui penjelasan taubat dengan jelas dan terperinci, maka tunggu apalagi untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla? Segera bertaubat, kemudian berhijrahlah! Karena dengan hijrah, kita bisa merubah kebiasaan-kebiasaan buruk dan keji, kita juga bisa terhindar dari hal-hal buruk yang ada disekitarnya, menjadi pribadi yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik dan mulia, sehingga kita juga bisa terhindar dari dampak buruk yang disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat.

Hijrah adalah salah satu sarana untuk bertaubat. Karena terkadang seseorang sudah bertaubat kepada Allah namun, dia belum hijrah dari tempat tinggal atau lingkungan bergaul sebelumnya, yang dikhawatirkan perlahan-lahan dia akan terbawa kembali oleh rayuan setan, sehingga membuatnya kembali lagi ke dalam zona kemaksiatannya dahulu. Waliyyadzubillah!

Oleh karena itu, terus semangatlah untuk memperbaiki kehidupan dengan kembali ke jalan Allah, yakni dengan bertaubat kepadaNya dan berhijrah, karena itu sebagai bentuk perubahan dalam kehidupan kita!

Semoga Allah selalu memberikan kemudahan kepada kita untuk istiqamah di atas jalan kebenaran. Aamiin
_____
@Kota Angin, Majalengka-Jawa Barat.
09 Syawal 1439H/23 Juni 2018M

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaKetika Hidayah Allah Menyapa
Artikel sesudahnyaHijrahku Adalah Pilihanku
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here