Beranda Belajar Islam Ketika Hidayah Allah Menyapa

Ketika Hidayah Allah Menyapa

1732
0
BERBAGI

Ketika Hidayah Allah Menyapa

Kita semua tentunya ingin diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah (akhir hidup yang baik) dan tidak sebaliknya. Namun, terkadang kita itu aneh! Katika kita ingin diwafatkan oleh Allah azza wa jalla dalam keadaan husnul khatimah, mengapa yang kita minta hanya sebatas kekayaan, kesuksesan dalam karir, naik pangkat, gaji yang besar, panjang umur? Itu semua urusan duniawi dan tidak akan bisa dibawa mati.

Sudahkah kita minta agar Allah berikan HidayahNya kepada kita? Seberapa sering kita berdoa untuk meminta agar Allah berikan hidayahNya kepada kita dalam sehari? Jawabannya cukup dalam hati dan renungi.

Salah satu doa yang bisa kita baca dan doa ini disunnahkan juga oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu petunjuk, ketaqwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberianMu).”
(HR. Imam Muslim, no.2721)

Dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada anaknya, Fathimah radhiyallahu anha;

مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوْصِيْكِ بِهِ، أَنْ تَقُوْلِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang aku wasiatkan kepadamu? Hendaknya saat berada di pagi dan sore hari engkau mengucapkan; wahai Dzat yang maha hidup lagi maha berdiri dengan sendiriNya, dengan rahmatMu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata!”
(HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Al-Hakim, dia menyatakan shahih sesuai syarat muslim. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Silsilah Ash-Shahihah, no.227)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa saat tertimpa kesusahan;

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, hanya rahmatMu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau.”
(HR. Abu Dawud, no.5090. Dihasankan oleh Syaikh Syuaib Al-Arnauth dan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no.3388)

اَللَّهمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
“Ya Allah, jadikanlah baik akhir setiap urusan kami dan lindungi kami dari bencana dunia dan adzab akhirat!”
(HR. Imam Ahmad, 4/181)

Semoga Allah memberikan kemudahan untuk kita memperbaiki keadaan diri pribadi yang mulai lalai akan ibadah dan semoga Allah menjadikan diri kita sebagai hambaNya yang selalu bersyukur.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan agar aku dapat mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih!”
(Surat An-Naml 27: ayat 19)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Kalau semua kebaikan asalnya dengan taufiq yang itu adanya di tangan Allah semata dan bukan di tangan manusia, maka kunci untuk membuka pintu taufiq adalah selalu berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, selalu berharap dan takut kepadaNya. Maka ketika Allah telah memberikan kunci taufiq ini kepada seorang hamba, dimudahkan baginya berdoa, berarti Allah ingin membukakan pintu taufiq kepadanya dan ketika Allah memalingkan kunci taufiq ini dari seorang hamba, membuatnya sulit berdoa, berarti pintu kebaikan taufiq akan selalu tertutup baginya.”
(Al-Fawaid, hlm.133)

Jadi, ketika kita sudah mendapatkan hidayah (petunjuk) Allah subhanahu wa taala, maka tugas kita selanjutnya adalah meminta kepada Allah, agar diberikan taufiq (kemudahan) untuk mempelajari ilmu agama islam, sebagai bekal beribadah dan beramal shalih. Karena kaitan antara taufiq dan hidayah Allah itu sangat erat.

Karena taufiq adalah kunci untuk mendapatkan hidayah.
– Tanpa taufiq dari Allah, kita tidak akan menjadi muslim yang shalih.
– Tanpa taufiq, kita tidak akan bisa beribadah.
– Tanpa taufiq, kita tidak akan mampu meninggalkan maksiat.
– Tanpa taufiq, kita juga tidak akan bisa istiqamah dalam kebaikan.

Oleh karena itu, ingatlah untuk terus berdoa kepada Allah, agar Allah selalu berikan taufiqNya kepada kita!

Ketika kita telah Allah berikan hidayah dan taufiqNya, sudahkah kita juga minta kepada Allah agar diberikan istiqamah (keteguhan) dalam keadaan baik? Agar Allah tidak memalingkan hati-hati kita, setelah Allah berikan hidayah dan taufiqNya kepada kita.

Karena bisa jadi, ketika saat ini kita dalam keadaan baik, shalih, rajin beribadah. Apakah ada jaminan, bahwa kita akan tetap bisa melakukan itu semua sampai akhir hidup kita? Akankah kita tetap dalam keadaan shalih sampai Allah mencabut nyawa ini? Sampai ajal tiba?

Jawabnya: Belum tentu!

Doa yang paling sering Nabi shallallahu alaihi wa sallam baca adalah;

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu!”
(HR. At-Tirmidzi, no.3522. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Kenapa doa tersebut yang sering dibaca? Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab;

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun, siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”
(HR. At-Tirmidzi no.3522. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam riwayat lain, Rasulullah menjelaskan;

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Sesungguhnya hati itu berada di tangan Allah azza wa jalla, hanya Allah yang mampu membolak-balikkannya.”
(HR. Ahmad, 3:257. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat, sesuai syarat Muslim)

Mengapa kita harus meminta istiqamah? Karena amal itu dilihat bukan pada saat ini namun, pada akhirnya. Yaitu ketika akhir kehidupan kita menjelang kematian, amal apa yang kita lakukan, amal shalih ataukah maksiat yang kita lakukan?

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan-amalan itu bergantung pada akhirnya”.
(HR. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, no.340)

Maka dari itu, janganlah bosan untuk berdoa, mintalah agar Allah wafatkan kita dalam keadaan iman dan islam!

Maka segera kita hafalkan dan amalkan doa tersebut di setiap sujud, tasyahud akhir dan dalam setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah azza wa jalla pada waktu-waktu mustajab lainnya!

Karena dalam hadits qudsi yang shahih, Allah azza wa jalla berfirman;

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-hambaKu, kalian semua tersesat kecuali seseorang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu! Niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian.”
(HR. Imam Muslim, no.4674)

Perlu kita ketahui, bahwa hidayah itu petunjuk, taufiq itu kemudahan dan istiqamah itu keteguhan. Penulis berikan perumpamaan mengenai penjelasan dari 3 istilah tersebut, yaitu;

• Anda sedang dalam sebuah perjalanan. Qadaarullaah anda tersesat (salah jalan). Maka apa yang akan anda lakukan? Anda pasti akan bertanya kepada orang yang tinggal di sekitar tempat tersebut, meminta petunjuk kepada mereka, agar diberikan petunjuk arah jalan yang benar.
(Itulah hakikat hidayah).

• Ketika anda sudah diberikan petunjuk dan anda sudah tahu arah kemana anda harus pergi. Qadaarullaah di tengah jalan kendaraan yang anda naiki mogok (berhenti dan mati). Maka apa yang selanjutnya akan anda lakukan? Tidak ada hal lain, kecuali mencoba untuk mendorongnya? Apakah anda bisa mendorongnya sendiri? Tentu tidak! Maka anda harus minta bantuan (kemudahan) dari orang yang ada di sekitar, agar ikut bantu mendorong kendaraan tersebut, agar terasa lebih mudah dan ringan. Setelah itu, anda bisa menjalankan kembali kendaraan tersebut pada arah jalan yang tadi sudah ditunjukkan.
(Itulah hakikat taufiq).

• Selanjutnya, ketika anda di tengah jalan, menemukan banyak simpangan jalan, misal: per-tigaan, per-empatan, per-limaan jalan, pasti terbesit dalam hati dan bisa dipastikan hati anda mulai goyah (berubah), merasa bingung, ragu dan khawatir salah jalan. Jika hati anda berubah seperti itu, maka anda kemungkinan besar akan salah dalam mengambil arah jalan. Namun, ketika anda kembali berusaha teguh, mengingat petunjuk yang pernah anda dapatkan dan berusaha fokus kepada petunjuk tersebut, tidak mempedulikan simpangan jalan yang lain, maka anda akan tetap selamat, tidak akan tersesat dan insyaallah anda akan sampai tujuan dengan cepat dan selamat.
(Itulah hakikat istiqamah).

Dari permisalan di atas kita dapat memahami, ternyata kaitan antara 3 hal tersebut (hidayah, taufiq dan istiqamah), adalah sangat erat, tidak bisa dipisahkan. Dan itu merupakan cara yang harus ditempuh oleh setiap Hamba Allah yang ingin berhijrah dari kesesatan menuju kebenaran.

Hendaknya, ketika kita berada dalam sebuah perjalanan (hijrah), jangan sendirian! Ajak juga keluarga, kerabat, teman dan orang lain! Agar kita bisa bersama-sama melewati rintangan yang ada dalam perjalanan tersebut dengan lebih mudah dan tidak merasa kesepian. Di samping itu, bisa saling mengingatkan ketika kita lupa, salah dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Betapa indahnya ketika hidayah mulai menyapa diri kita, keluarga dan teman-teman kita. Yang jauh terasa dekat, yang dekat terasa lebih dekat, yang salah menjadi benar, yang buruk menjadi baik, yang gelap menjadi terang dan yang suram menjadi indah.

Ya Allah.. Jangan Engkau palingkan hati-hati kami, setelah Engkau berikan hidayahMu kepada kami!

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah maha pemberi (karunia).”
(Surat Ali Imran 3: ayat 8 )

Sebagai penutup, perlu kita ketahui bahwa rezeki Allah itu diberikan kepada semua manusia namun, hidayah Allah hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihanNya. Maka berdoalah kepada Allah, semoga kita termasuk ke dalam hamba-hamba pilihanNya!

Semoga, tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi diri Penulis dan para Pembaca, sehingga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.

Segala yang benar itu datangnya dari Allah azza wa jalla. Segala yang salah itu datangnya dari diri Penulis dan setan, dan mohon dimaafkan!

Wallaahu taala alam.
__________
Selesai disusun pada siang hari, 17 Dzulqadah 1438H/10 Agustus 2017M, di kediaman Bojong Cideres-Majalengka, Jawa Barat.
📝 Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMengapa Kita Harus Membaca?
Artikel sesudahnyaAku Ingin Taubat
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here