Beranda Belajar Islam Aqidah Awas, Menular?!

Awas, Menular?!

273
0
BERBAGI

Awas, Menular?!

Apakah dalam Islam ada penyakit menular?

Mari, kita simak penjelasannya di bawah ini!
Memang terdapat beberapa hadits yang meniadakan adanya penyakit menular. Dan para ulama juga berbeda pandangan dalam memahami hadits-hadits tersebut. Di antara haditsnya:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu), tidak ada hammah (keyakinan Jahiliah tentang reinkarnasi), dan tidak ada juga Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat).”
(HR. Bukhari, No.5316)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ الْإِبِلِ تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيُخَالِطُهَا الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ. وَعَنْ أَبِي سَلَمَةَ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ بَعْدُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
“Tidak ada adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat), dan tidak ada juga hammah (keyakinan Jahiliah tentang reinkarnasi). Lalu seorang Arab Badui berkata; Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada di padang pasir, seakan-akan bersih bagaikan gerombolan kijang, lalu datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya, sehingga ia menularinya? Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Lalu siapa yang sudah menulari (unta) yang pertama? Setelah itu Abu Salamah mendengar Abu Hurairah berkata; Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Janganlah (unta) yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.”
(HR. Bukhari, No.5328)

Berdasarkan dua hadits di atas, maka secara umum menjelaskan tidak adanya penularan penyakit. Sedangkan dalam hadits yang lain:

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
“Tidak ada penyakit menular (secara sendiri tanpa izin Allah), tidak ada dampak dari thiyarah, tidak ada keyakinan Jahiliah tentang reinkarnasi, tidak ada kesialan pada bulan Safar. Dan larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa!”
(HR. Bukhari, No.5707. Syaikh Al-albani menyatakan sanad hadits ini shahih)

• Kesimpulan; Terdapat beberapa pendapat para ulama dalam masalah ini serta metode mereka dalam mengompromikan hadits-hadits di atas, yaitu:

1. Penyakit itu tidak dapat menular dengan sendirinya. Namun, Allah azza wa jalla menjadikan penularan penyakit itu ada sebab-sebabnya.

Di antara penyebabnya adalah bercampur atau bergaulnya orang yang sakit dengan orang yang sehat, sehingga orang yang sehat tertular.

Kemudian ada sebab-sebab lain juga yang menyebabkan penularan penyakit, semisal sentuhan, udara, pandangan, dan lainnya. Sehingga boleh juga mengatakan; Si Fulan tertular penyakit dari si Alan. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Shalah.
(Ulumu Al-hadits, Hal.257)

2. Peniadaan adanya penyakit menular diartikan secara umum dan mutlak, artinya sedikit pun tidak ada penularan penyakit. Adapun perintah untuk lari dari penyakit kusta, ini sebagai bentuk menutup celah keburukan.

Karena bisa jadi ketika tidak menjauh dari penyakit, kemudian qaddarullahi wa masyaa faal terkena penyakit yang sama, lalu timbul keyakinan bahwa adanya penyakit menular. Sehingga untuk mencegah timbulnya keyakinan semisal itu, diperintahkan untuk menjauh dari penyakit menular. Sehingga tidak boleh mengatakan; Si Fulan tertular penyakit dari si Alan. Ini adalah pendapat yang dikuatkan Ibnu Hajar Al-asqalani.
(Fathu Al-bari, 10:159)

3. Penetapan adanya penyakit menular khusus untuk penyakit kusta dan yang semisal dengannya. Adapun untuk penyakit lainnya, maka tidak ada yang menular. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Al-baqilani.
(Fathu Al-bari, 10:160)

Wallahu alam, pendapat yang dianggap kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang pertama.

Sebagaimana Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan:
“Makna hadits di atas, Dzat yang menjadikan penyakit pertama kali kepada si A adalah Dzat yang menjadikan penyakit kepada si B, yaitu Allah. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan; Bahwa bercampur dengan orang yang sakit merupakan sebab adanya perpindahan penyakit dengan izin Allah.”
(Tahqiq Ar-raghbah Fi Taudhih An-nukhbah, Hal.76)

Sebagaimana para ulama juga menjelaskan:
“Wabah yang ditiadakan dari hadits tersebut yaitu sesuatu yang diyakini oleh masyarakat Jahiliah. Bahwa wabah itu menular dengan sendirinya (tanpa ada kaitannya dengan takdir Allah). Adapun untuk pelarangan masuk pada suatu tempat yang di dalamnya terdapat wabah menular (thaun), karena itu merupakan perbuatan pencegahan (preventif).”
(Fatwa Al-lajnah Ad-daimah, No.16453)

Jadi, penjelasan dari hadits pertama yang meniadakan penyakit menular yaitu maksudnya penyakit tersebut tidak bisa menular dengan sendirinya, tapi bisa menular dengan kehendak dan ketentuan dari Allah azza wa jalla.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari lepasnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksaMu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaanMu!”
(HR. Muslim, No.4922)

___
Kota Udang Cirebon, 26 Dzulqadah 1442H / 07 Juli 2021M.
Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAyo, Kita Hantarkan Bingkisan Lebaran Untuk Para Dai & Aktivis Dakwah!
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here