Beranda Belajar Islam Amalan Ketika Usiaku Menginjak 40 Tahun

Ketika Usiaku Menginjak 40 Tahun

75
0
BERBAGI

BAB 1; Ketika Usiaku Menginjak 40 Tahun

Allah azza wa jalla berfirman:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهًا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهًاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحًا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya juga dengan susah payah. Masa mengandung hingga menyapihnya selama 30 bulan, sehingga apabila dia (anak) telah dewasa dan usianya telah mencapai 40 tahun, dia berdoa; Rabbi Auzini An Asykura Nimatakallati An Amta Alayya. Wa Ala Walidayya Wa An Amala Shalihan Tardhahu Wa Ashlih Li Fi Dzurriyyati Inni Tubtu Ilaika Wa Inni Minal Muslimin (Ya Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat mengerjakan kebaikan yang Engkau ridhai. Dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir hingga kepada anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri).”
(QS. Al-ahqaf, Ayat 15)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir dari ayat tersebut:
“Setelah ayat pertama Allah azza wa jalla menyinggung masalah tauhid dan pemurnian ibadah serta istiqamah kepadaNya, Dia (Allah) menyambungnya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana hal tersebut telah disebutkan secara bersamaan dalam beberapa ayat lainnya dalam Al-quran, misalnya firman Allah taala:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيمًا
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua!”
(QS. Al-isra, Ayat 23)

Sedangkan dalam surat Al-ahqaf ini, Allah azza wa jalla memerintahkan kita agar berbuat baik serta berlemah-lembut kepada kedua orang tua. Karena seorang ibu, dia telah mengandung, mengalami kesulitan, dan kepayahan, seperti mengidam, pingsan, rasa berat, dan cobaan lainnya yang sudah dialami. Kemudian, dia mengandung dan menyapih anaknya hingga 30 bulan.

Berdasarkan ayat tersebut dan QS. Luqman, Ayat 14, kemudian QS. Al-baqarah, Ayat 233, Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berpendapat, bahwa masa minimal untuk menyusui atau menyapih adalah selama 6 bulan.

Hal tersebut merupakan kesimpulan kuat lagi shahih yang disetujui oleh Sahabat Utsman dan sekelompok Sahabat radhiyallahu anhum. Muhammad bin Ishaq bin Yasar meriwayatkan dari Mamar bin Abdillah Al-juhani, dia berkata; Ada seorang laki-laki dari kami yang menikahi seorang wanita dari suku Juhainah, lalu wanita tersebut melahirkan seorang anak untuknya dalam waktu 6 bulan penuh. Kemudian suaminya tersebut berangkat menemui Utsman bin Affan radhiyallahu anhu dan menceritakan peristiwa tersebut kepadanya. Lalu Sahabat Utsman mengutus seseorang kepadanya, setelah wanita tersebut berdiri untuk memakai bajunya, saudara perempuannya menangis, maka dia bertanya; Apa yang menyebabkan menangis? Demi Allah, tidak ada seorang pun dari makhluk Allah taala yang menggauliku kecuali dia (suaminya), sehingga Allah menakdirkan bagi kami anak yang dikehendakiNya.

Setelah dia dibawa menghadap Sahabat Utsman bin Affan, maka Sahabat Utsman menyuruh agar wanita tersebut dirajam. Hingga akhirnya berita tersebut terdengar oleh Sahabat Ali bin Abi Thalib, lalu dia mendatangi Sahabat Utsman, dan berkata; Apa yang telah kamu lakukan? Sahabat Utsman menjawab; Wanita tersebut telah melahirkan tepat 6 bulan. Apa mungkin hal tersebut terjadi? Maka Sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu bertanya; Tidakkah kamu membaca Al-quran? Ya, jawab Sahabat Utsman. Ali berkata; Tidakkah kamu pernah mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman; ‘Mengandungnya sampai menyapihnya adalah 30 bulan’. Dan Allah juga berfirman; ‘Para ibu, hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh.’ Dari 30 bulan itu, tersisa 6 bulan jika diambil 2 tahun (24 bulan).

Kemudian Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu berkata; Demi Allah, aku tidak memahami ini. Bawa kemari wanita tersebut! Tetapi orang-orang menemukan wanita tersebut telah selesai dirajam, lalu Mamar berkata; Demi Allah, tidaklah burung gagak dengan burung gagak, atau telur dengan telur itu serupa melebihi keserupaannya dengan ayahnya.

Setelah ayah anak tersebut melihatnya, maka dia berkata; Anakku, demi Allah! Aku tidak meragukannya lagi.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata; Jika seorang wanita melahirkan anak 9 bulan, maka cukup baginya menyusui anaknya 21 bulan, dan jika dia melahirkan anak kehamilan 7 bulan, maka cukup baginya menyusui selama 23 bulan, jika dia melahirkan untuk kehamilan 6 bulan, maka cukup baginya menyusui 2 tahun penuh (24 bulan).

Karena Allah taala berfirman; ‘Mengandungnya hingga menyapihnya adalah 30 bulan, sehingga apabila dia telah dewasa, semakin kuat dan tumbuh besar.’ Dalam ayat yang lain, Allah berfirman; ‘Dan usianya hingga 40 tahun’. Maksudnya akal pikirannya sudah matang, pemahaman, dan kesabarannya juga sudah sempurna.

Abu Bakar bin Iyasy menuturkan dari Al-amasy, dari Al-qasim bin Abdirrahman, dia berkata; Aku pernah mengatakan kepada Masruq; Kapan seseorang itu dijatuhi hukuman atas dosa-dosa yang sudah diperbuatnya? Dia menjawab; Jika kamu sudah berusia 40 tahun, maka berhati-hatilah!

Abu Yala Al-mushili meriwayatkan dari Utsman radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً خَفَّفَ اللَّهُ حِسَابَهُ وَإِذَا بَلَغَ سِتِّينَ سَنَةً رَزَقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِينَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِينَ سَنَةً ثَبَّتَ اللَّهُ حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِينَ سَنَةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وشَفَّعَهُ اللَّهُ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ وَكُتِبَ فِي السَّمَاءِ أَسِيرَ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ
Jika seorang hamba muslim sudah mencapai usia 40 tahun, maka Allah taala meringankan hisabnya. Jika sampai usia 60 tahun, maka Allah taala mengaruniakan kepadanya kesempatan kembali (bertaubat) kepadanya. Jika mencapai usia 70 tahun, maka dia akan dicintai oleh penduduk langit. Jika mencapai usia 80 tahun, maka Allah taala menetapkan baginya berbagai kebaikannya dan menghapuskan berbagai kesalahannya. Dan jika sampai usia 90 tahun, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang, dan Allah akan menerima syafaatnya bagi keluarganya, serta dilangit dia dicatat sebagai tawanan Allah di bumiNya.
(Riwayat tersebut didhaifkan oleh Syaikh Al-albani dalam kitab Dhaif Al-jami, No.4043)

Dalam catatan kaki yang ada dalam kitab tersebut, pentahqiq menjelaskan; Bahwa hadits tersebut adalah hadits dhaif (lemah). Kelemahan hadits tersebut karena ada satu perawi lemah dalam sanadnya, yaitu Azrah bin Qais Al-azadi. Para ahli hadits yang mendhaifkan Azrah bin Qais di antaranya adalah Yahya bin Main, Al-bukhari, dan Al-haitsami.

Allah azza wa jalla memerintahkan kita untuk membaca doa:

رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحًا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ
Ya Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat mengerjakan kebaikan yang Engkau ridhai. Dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir hingga kepada anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Di dalam doa tersebut terdapat petunjuk bagi orang yang telah berusia 40 tahun, agar dia memperbarui taubat dan kembali kepada Allah azza wa jalla serta bertekad melaksanakan hal tersebut.

Kemudian, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga pernah mengajarkan kepada para Sahabat agar ketika tasyahud membaca:

اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا
Ya Allah, satukanlah hati kami. Perbaikilah keadaan kami. Tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan (menuju Surga). Selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya. Jauhkanlah kami dari perbuatan keji yang nampak ataupun tersembunyi. Berkahilah pendengaran, penglihatan, hati, istri, dan keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha penyayang. Jadikanlah kami hamba yang bersyukur atas nikmatMu, terus memujiMu, dan menerima nikmat tersebut, dan sempurnakanlah nikmat tersebut untuk kami. (HR. Abu Dawud, No. 825).”
(Tafsir Ibnu Katsir, 7;362-365)

Imam Asy-syaukani rahimahullah berkata:
“Para ulama ahli tafsir menyatakan, bahwa tidaklah seorang Nabi diutus melainkan mereka telah berusia 40 tahun. Ayat ini menunjukkan bahwa jika seseorang mencapai usia 40 tahun, selayaknya dia membaca doa seperti yang terdapat dalam ayat tersebut.”
(Fath Al-qadir, 5;24)

Imam Al-qurthubi rahimahullah menjelaskan:
“Bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun, maka dia telah mengetahui tentang besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga dia terus mensyukurinya. Imam Malik berkata; Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka telah sibuk dengan berbagai aktivitas dunia dan pergaulan bersama manusia. Ketika mereka sampai di usia 40 tahun, mereka menjauh dari manusia.”
(Al-jami Li Ahkam Al-quran, 14;218)

Syaikh Al-albani rahimahullah menjelaskan:
“Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bukan laki-laki yang berpostur terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidak putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul pada saat beliau berusia 40 tahun, lalu tinggal di Makkah selama 10 tahun, kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun juga, lalu wafat di penghujung tahun 60-an. Di kepala serta janggutnya hanya terdapat 20 helai rambut yang sudah putih (uban).”
(Mukhtashar Syamail Al-muhammadiyyah, Hal.13)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata:
“Bahwa ketika seseorang berada dalam usia 40 tahun, maka telah sempurna akal, pemahaman, dan kelembutannya.”
(Tafsir Al-quran Al-azhim, 6;623)

_____

BAB 2; Sikap Seorang Muslim Di Usia 40 Tahun

A. MEMAHAMI PERJALANAN HIDUP YANG SUDAH DILALUI

1. Tahapan Allah Menciptakan Kita.
Allah azza wa jalla berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخًاۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُۖ وَلِتَبۡلُغُوٓاْ أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ
“Dialah yang menciptakan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, kemudian kalian dilahirkan sebagai seorang anak, kemudian kalian dibiarkan hingga dewasa, lalu menjadi tua. Tetapi di antara kalian ada yang dimatikan sebelum masa tersebut. (Kami berbuat demikian) agar kalian sampai pada waktu yang telah ditentukan, agar kalian mengerti.”
(QS. Ghafir, Ayat 67)

Imam Al-qurthubi rahimahullah berkata:
“Orang tua (syaikh) adalah orang yang telah melewati usia 40 tahun.”
(Al-jami Li Ahkam Al-quran, 15;215)

Allah juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٍ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡـًٔاۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٍ
“Wahai manusia! Jika kalian meragukan hari Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami hingga waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian hingga pada usia dewasa, dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan ada juga di antara kalian yang dikembalikan hingga usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kalian lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, maka hiduplah bumi itu dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.”
(QS. Al-hajj, Ayat 5)

Allah juga berfirman:

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ. ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ. ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمًا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ. ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمًا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ. ثُمَّ إِنَّكُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ. ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تُبۡعَثُونَ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik. Kemudian setelah itu, sesungguhnya kalian pasti mati. Kemudian, sesungguhnya kalian akan dibangkitkan (dari kubur) pada hari Kiamat.”
(QS. Al-muminun, Ayat 12-16)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ
“Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian menjadi alaqah (zigat) selama itu juga. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian Allah mengutus Malaikat yang diperintahkan dengan 4 ketetapan, (dan dikatakan kepadanya); Tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, dan sengsara serta bahagianya, lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni Neraka hingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dengan Neraka kecuali hanya sejengkal, lalu dia didahului oleh catatan (takdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni Surga, kemudian dia masuk Surga. Dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni Surga hingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dengan Surga kecuali hanya sejengkal, lalu dia didahului oleh catatan (takdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni Neraka, lalu dia masuk Neraka.”
(HR. Bukhari, No.3085)

Nabi juga bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلِمَ نَعْمَلُ أَفَلَا نَتَّكِلُ قَالَ لَا اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)
“Tidaklah setiap jiwa dari kalian, kecuali telah diketahui tempatnya di Surga atau di Neraka. Para Sahabat bertanya; Wahai Rasulullah, kalau begitu kenapa kita harus beramal, apakah sebaiknya kita berdiam diri saja tanpa harus berbuat apapun? Rasulullah bersabda; Tidak, Berbuatlah! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat sesuai dengan ketentuannya. Lalu beliau membaca ayat; Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang yang bakhil (pelit) dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (QS. Al-laiI, Ayat 5-10).”
(HR. Muslim, No.4787)

2. Allah Sudah Memberikan Rezeki Kepada Kita.
Allah azza wa jalla berfirman:

وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوٓاْ أَوۡ مَاتُواْ لَيَرۡزُقَنَّهُمُ ٱللَّهُ رِزۡقًا حَسَنًاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ
“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (Surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik.”
(QS. Al-hajj, Ayat 58)

Allah juga berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ
“Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
(QS. Adz-dzariyat, Ayat 58)

Allah juga berfirman:

وَمَا مِنْ دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
“Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi, melainkan semuanya sudah dijamin oleh Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua sudah tertulis di dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Hud, Ayat 6)

Allah juga berfirman:

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ فِي ٱلرِّزۡقِۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُواْ بِرَآدِّي رِزۡقِهِمۡ عَلَىٰ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَهُمۡ فِيهِ سَوَآءٌۚ أَفَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ
“Dan Allah melebihkan sebagian di antara kalian atas sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang yang dilebihkan (rezekinya) malah tidak mau memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, agar mereka bisa bersama-sama merasakan rezeki tersebut. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?”
(QS. An-nahl, Ayat 71)

Allah juga berfirman:

ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ
“Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya dan Dia juga yang membatasi baginya. Sungguh, Allah maha mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-ankabut, Ayat 62)

Syaikh Abdurrahman As-sadi rahimahullah menjelaskan:
“Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal tersebut merupakan kebijaksanaan dariNya dan sesuai dengan ilmuNya tentang sesuatu yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hambaNya.”
(Taisir Al-karim Ar-rahman, Hal.746)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki seperti rezekinya burung, pergi di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.”
(HR. Tirmidzi, No.2266)

Nabi juga bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia. Sesungguhnya sebuah jiwa (makhluk bernyawa) tidak akan mati hingga terpenuhi rezekinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah yang baik dalam mencari dunia, ambilah yang halal dan tinggalkanlah yang haram!”
(HR. Ibnu Majah, No.2135)

Allah azza wa jalla berfirman:

فَأَمَّا ٱلۡإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكۡرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَكۡرَمَنِ. وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَهَٰنَنِ. كَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ
“Maka adapun manusia, apabila Rabb mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata; Rabbku telah memuliakanku. Namun, apabila Rabb mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata; Rabbku telah menghinaku. Sekali-kali tidak! Bahkan kalian tidak mau memuliakan anak yatim!”
(QS. Al-fajr, Ayat 15-17)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
“Orang paling mewah sedunia yang termasuk penghuni Neraka didatangkan pada hari Kiamat, lalu dicelupkan sekali ke Neraka, setelah itu dikatakan kepadanya; Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kebaikan sedikit pun, apa kamu pernah merasakan kenikmatan sedikit pun? Dia menjawab; Tidak, demi Allah. Wahai Rabb! Kemudian orang paling sengsara di dunia yang termasuk penghuni Surga didatangkan, kemudian ditempatkan di Surga sebentar, setelah itu dikatakan kepadanya; Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kesengsaraan sedikit pun, apa kamu pernah merasa sengsara sedikit pun? Dia menjawab; Tidak, demi Allah. Wahai Rabb, aku tidak pernah merasa sengsara sedikit pun dan aku juga tidak pernah melihat kesengsaraan!”
(HR. Muslim, No.5021)

Allah juga berfirman:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ ثُمَّ رَزَقَكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡۖ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَفۡعَلُ مِن ذَٰلِكُم مِّن شَيۡءٖۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ
“Allah yang menciptakan kalian, kemudian memberi kalian rezeki, lalu mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara mereka yang kalian sekutukan dengan Allah tersebut, yang dapat berbuat sesuatu yang seperti itu? Maha suci Dia (Allah) dan maha tinggi dari sesuatu yang mereka persekutukan.”
(QS. Ar-rum, Ayat 40)

Allah juga berfirman:

لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ
“MilikNya perbendaharaan langit dan bumi. Allah melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapapun yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia maha mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Asy-syura, Ayat 12)

Allah juga berfirman:

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah (Muhammad); Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mampu mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab; Allah. Maka katakanlah; Mengapa kalian tidak bertakwa (kepadaNya)?”
(QS. Yunus, Ayat 31)

Allah juga berfirman:

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
“Dan berapa banyak makhluk yang bernyawa yang tidak bisa membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian. Dia maha mendengar, maha mengetahui.”
(QS. Al-ankabut, Ayat 60)

3. Allah Selalu Menolong Kita.
Allah azza wa jalla berfirman:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.”
(QS. Ar-rum, Ayat 47)

Allah juga berfirman:

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا. إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا
“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-insyirah, Ayat 5-6)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-sadi rahimahullah menjelaskan:
“Kata Al-usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum yaitu segala macam kesulitan. Hal tersebut menunjukkan, bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”
(Taisir Al-karim Ar-rahman, Hal.929)

Imam Asy-syaukani rahimahullah menjelaskan:
“Menurut kaidah bahasa Arab; Jika isim marifah diulang, maka kata kedua itu memiliki makna yang sama dengan kata pertama. Sedangkan jika isim nakirah diulang, maka kata kedua memiliki makna yang beda dengan kata pertama.”
(Fath Al-qadir, 8;22)

Kata Al-usr (kesulitan) yang diulang dalam surat Al-insyirah itu hanya bermakna satu. Kata Al-usr dalam ayat ke-5 itu sama dengan kata Al-usr dalam ayat ke-6, karena keduanya menggunakan isim marifah (bermakna khusus dan diawali alif-lam). Karena menurut kaidah bahasa Arab; Jika isim marifah diulang, maka kata kedua itu memiliki makna yang sama dengan kata pertama. Sedangkan, kata Yusra (kemudahan) dalam surat Al-insyirah itu ada dua. Karena kata Yusra pertama itu berbeda dengan kata Yusra kedua, dan keduanya menggunakan isim nakirah (bermakna umum dan tidak diawali alif-lam). Menurut kaidah bahasa Arab; Jika isim nakirah diulang, maka kata kedua berbeda dengan kata pertama. Sehingga makna kemudahan dalam surat tersebut itu ada dua. Jadi, satu kesulitan yang Allah berikan kepada kita, bersamanya ada dua kemudahan yang akan Allah berikan juga kepada kita. Terpenting, kita harus mau menjalani setiap kesulitan yang Allah berikan dengan bertakwa kepadaNya.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجًا
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar (solusi untuk kesulitan) baginya.”
(QS. Ath-thalaq, Ayat 2)

Allah juga berfirman:

لِيُنفِقۡ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِۦۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيۡهِ رِزۡقُهُۥ فَلۡيُنفِقۡ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَاۚ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٍ يُسۡرًا
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan sesuai dengan sesuatu yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”
(QS. Ath-thalaq, Ayat 7)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”
(Tafsir Al-quran Al-azhim, 8;154)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:
“Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.”
(Zad Al-masir, 6;42)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, dia pun menggantungkan hatinya kepada Allah semata. Inilah hakikat tawakal kepadaNya. Tawakal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal kepadaNya. Sebagaimana Allah taala berfirman; Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS. Ath-thalaq, Ayat 3).”
(Jami Al-ulum Wa Al-hikam, Hal.238)

Allah azza wa jalla berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila dia mau berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka mendapatkan kebenaran.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 186)

Allah juga berfirman:

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ
“Ataukah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Surga, padahal belum tiba kepada kalian cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang dengan berbagai cobaan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata; Kapankah tiba pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat!”
(QS. Al-baqarah, Ayat 214)

Allah juga berfirman:

مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتًاۖ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. Al-ankabut, Ayat 41)

Allah juga berfirman:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 185)

B. MERASA OPTIMIS UNTUK BERIBADAH DI SAAT KONDISI MULAI LEMAH

1. Meminta Pertolongan Allah.
Allah azza wa jalla berfirman:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
(QS. Al-fatihah, Ayat 5)

Mari, kita berdoa:

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, jika Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, No.974)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ فَإِنَّهُ لاَ يَمْلِكُهَا إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu terhadap sebagian karuniaMu dan rahmatMu, karena sesungguhnya tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau!”
(HR. Albani, Shahih Al-jami, No.1278)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا
“Ya Allah, sungguh aku meminta Surga kepadaMu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku meminta kepadaMu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.”
(HR. Ibnu Majah, No.3836)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah, Rabb yang maha hidup! Ya Allah, Rabb yang maha berdiri sendiri (tidak butuh bantuan siapa pun)! Dengan segala rahmatMu, aku benar-benar meminta pertolonganMu. Perbaikilah segala urusanku, dan janganlah sekejap mata pun Engkau bebankan semua urusan kepadaku!”
(HR. Al-albani, Shahih Al-jami, No.5820. Hadits ini hasan)

Allah azza wa jalla berfirman:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ ضَعۡفًا وَشَيۡبَةً يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ
“Allah yang telah menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kalian setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kalian setelah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan sesuatu yang Dia kehendaki, dan Dia maha mengetahui, maha kuasa.”
(QS. Ar-rum, Ayat 54)

Sahabat Ali radhiyallahu anhu bercerita:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الْأَرْضَ فَقَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى) الْآيَةَ
“Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada dalam rombongan pelayat Jenazah, lalu beliau mengambil sesuatu dan memukulkannya ke tanah. Kemudian beliau bersabda; Tidak ada seorang pun, kecuali tempat duduknya telah ditulis di Neraka dan tempat duduknya di Surga. Para Sahabat bertanya; Wahai Rasulullah, kalau begitu, bagaimana jika kita bertawakal saja terhadap takdir kita tanpa beramal? Beliau menjawab; Beramallah kalian! Karena setiap orang akan dimudahkan pada hal yang diciptakan untuknya. Barang siapa yang diciptakan sebagai Ahlu As-saadah (penduduk Surga), maka dia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan Ahlu As-saadah. Namun, barang siapa yang diciptakan sebagai Ahlu Asy-syaqa (penghuni Neraka), maka dia akan dimudahkan juga untuk melakukan amalan Ahlu Asy-syaqa. Kemudian beliau membacakan ayat; Faamma Man Atha Wat Taqa Wa Shaddaqa Bil Husna (Dan barang siapa yang memberikan hartanya dijalan Allah, dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik).”
(HR. Bukhari, No.4568)

Setelah mendengar penjelasan dari Rasulullah tersebut, kemudian Sahabat Suraqah radhiyallahu anhu berkata:

فَلَا أَكُوْنُ أَبَدًا أَشَدَّ اِجْتِهَادًا فِيْ اْلعَمَلِ مِنّي الْآنَ
“Aku tidak pernah merasa semangat seperti sekarang ini dalam beramal, (yaitu setelah mendengar hadits tersebut).”
(HR. Ibnu Hibban, No.337. Syaikh Syuaib Al-arnauth menyatakan sanadnya sesuai dengan syarat Muslim)

Allah azza wa jalla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ. وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ. فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ. وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ. وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ. فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ. وَمَا يُغۡنِي عَنۡهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ
“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (Surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak membutuhkan pertolongan Allah), serta mendustakan (adanya pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan), dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.”
(QS. Al-lail, Ayat 5-11)

Allah juga berfirman:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمۡۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡ لَا يَعۡلَمَ بَعۡدَ عِلۡمٍ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Dan Allah telah menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian, di antara kalian ada yang dikembalikan pada usia yang tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah maha mengetahui, maha kuasa.”
(QS. An-nahl, Ayat 70)

Allah juga berfirman:

وَمَن نُّعَمِّرۡهُ نُنَكِّسۡهُ فِي ٱلۡخَلۡقِۚ أَفَلَا يَعۡقِلُونَ
“Dan barang siapa Kami panjangkan usianya, niscaya Kami kembalikan dia pada awal kejadiannya. Maka mengapa mereka tidak mengerti?”
(QS. Yasin, Ayat 68)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit di antara mereka yang melebihi usia tersebut.”
(HR. Tirmidzi, No.3473. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata:
“Allah azza wa jalla mengabarkan, bahwa seorang hamba ketika usianya semakin panjang, maka dia dikembalikan pada keadaan lemah setelah kekuataan, dan keadaan tidak berdaya setelah kondisi prima.”
(Tafsir Al-quran Al-azhim, 6;588)

Syaikh As-sadi rahimahullah berkata:
“Akan kembali pada keadaan semula, keadaan yang lemah, lemah dalam pikiran dan lemah dalam kekuatan. Tidakkah mereka memikirkan bahwa anak Adam itu lemah dalam segala aspek, maka hendaknya mereka memanfaatkan ucapan dan daya pikir mereka untuk taat kepada Rabb mereka.”
(Taisir Al-karim Ar-rahman, Hal.644)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Kemudian setelah usia 40 tahun, (kekuatan dan fungsi) organ tubuh mulai menurun. Dan menurunnya kekuatan fisik berlangsung secara bertahap, sebagaimana dahulu kekuatan fisik berkembang secara bertahap.”
(Tuhfah Al-maudud, Hal.178)

2. Beribadah Dengan Istiqamah.
Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَوۡ أَنَّهُمۡ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيۡرًا لَّهُمۡ وَأَشَدَّ تَثۡبِيتًا. وَإِذًا لَّأٓتَيۡنَٰهُم مِّن لَّدُنَّآ أَجۡرًا عَظِيمًا. وَلَهَدَيۡنَٰهُمۡ صِرَٰطًا مُّسۡتَقِيمًا. وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقًا. ذَٰلِكَ ٱلۡفَضۡلُ مِنَ ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ عَلِيمًا
“Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Dan dengan demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang maha mengetahui.
(QS. An-nisa, Ayat 66-70)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan di setiap hal tersebut memang terdapat kebaikan. Maka capailah dengan sungguh-sungguh sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah! Apabila kamu tertimpa suatu musibah, maka janganlah kamu mengatakan; Seandainya tadi aku berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu. Tetapi ucapkanlah; Qadarullahi Wa Masyaa Faal (lni sudah takdir Allah dan sesuatu yang dikehendaki pasti akan dilakukanNya). Karena sesungguhnya ungkapan kata Law (seandainya) itu akan membuka jalan untuk godaan setan.”
(HR. Muslim, No.4816)

Allah azza wa jalla berfirman:

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ. وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
“Dan infakkanlah sebagian dari sesuatu yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum kematian tiba kepada salah seorang di antara kalian, lalu dia berkata (ungkapan menyesal); Ya Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih. Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah tiba. Dan Allah maha teliti terhadap sesuatu yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-munafiqun, Ayat 10-11)

Mari, kita berdoa:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir dan bersyukur, serta beribadah kepadaMu dengan baik!”
(HR. Abu Dawud, No.1301)

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, tunjukkan aku kepada perbuatan yang terbaik dan kepada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang bisa menunjukkan kepada yang terbaik kecuali Engkau. Jagalah aku dari perbuatan jelek dan akhlak yang jelek, karena tidak ada yang bisa menjagaku dari kejelekan kecuali Engkau!”
(HR. Nasai, No.886)

Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ. أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata; Rabb kami adalah Allah. Kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka juga tidak bersedih hati. Mereka itulah para penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas sesuatu yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-ahqaf, Ayat 13-14)

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata); Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian bersedih hati, dan bergembiralah kalian dengan memperoleh Surga yang telah dijanjikan kepada kalian!”
(QS. Fusshilat, Ayat 30)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan:
“Istiqamah memiliki tiga penjelasan di kalangan ahli tafsir, yakni; Istiqamah di atas tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar Ash-shiddiq dan Mujahid. Istiqamah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas, Al-hasan, dan Qatadah. Istiqamah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul Aliyah dan As-sudi.”
(Zad Al-masir, 5;304)

Sahabat Sufyan bin Abdillah Al-harits radhiyallahu anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
“Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan di dalam Islam, yang tidak akan aku tanyakan kembali kepada seorang pun setelah anda, beliau menjawab; Ucapkanlah, aku beriman kepada Allah, lalu beristiqamahlah!”
(HR. Muslim, No.55)

Allah juga berfirman:

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ وَوَيۡلٌ لِّلۡمُشۡرِكِينَ
“Katakanlah (Muhammad); Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Rabb kalian adalah Rabb yang maha esa. Sebab itu, tetaplah kalian beribadah kepadaNya dan mohonlah ampunan kepadaNya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya!”
(QS. Fusshilat, Ayat 6)

Imam Ibnu Rajab Al-hanbali rahimahullah menjelaskan:
“Ayat di atas; Istiqamahlah dan mintalah ampun kepadaNya. Itu merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqamah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan tersebut adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqamah di jalan yang lurus.”
(Jami Al-ulum Wa Al-hikam, Hal.246)

Allah azza wa jalla berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 286)

Allah juga berfirman:

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. Mereka adalah penghuni-penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-araf, Ayat 42)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

‎خُذُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَمَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ يَقُولُ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ
“Lakukanlah amalan yang mampu kalian lakukan! Karena Allah tidak akan pernah bosan, hingga kalian sendirilah yang merasa bosan. Dan Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (rutin), meskipun sedikit.”
(HR. Muslim, No.1958)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Kewajiban yang mengenai individu itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kemampuan, sesuai tingkat pengetahuan dan kebutuhan.”
(Majmu Al-fatawa, 3;312)

Imam Hasan Al-bashri rahimahullah berkata:
“Jika setan melihatmu kontinu (rutin atau terus-menerus) dalam melakukan amalan ketaatan, ia pun akan menjauhimu. Namun, jika setan melihatmu beramal, kemudian kamu meninggalkannya setelah itu, dan malah melakukan amalan ketaatan hanya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak dan kontinu untuk menggodamu.”
(Tajridu Al-ittiba Fi Bayani Asbabi Tafadhuli Al-amal, Hal.86)

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:
“Wahb bin Munabbih bercerita; Ada seorang ahli ibadah lewat di hadapan ahli ibadah yang lain. Dia pun berkata; Apa yang terjadi kepadamu? Dijawablah; Aku begitu takjub kepada si Fulan, dia bersungguh-sungguh rajin ibadah sampai-sampai dia meninggalkan dunianya. Wahb bin Munabbih berkata; Tidak perlu takjub kepada orang yang meninggalkan dunia seperti itu. Sungguh aku lebih takjub kepada orang yang bisa istiqamah.”
(Hilyah Al-auliya, 4;51)

Imam Muhammad bin Al-munkadar berkata:
“Aku telah menahan diriku selama 40 tahun hingga aku bisa istqamah.”
(Hilyah Al-auliya, 3;146)

Imam Ghanim bin Qais rahimahullah berkata:
“Di awal-awal Islam, kami juga saling menasihati; Wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di waktu sehatmu sebelum tiba sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum tiba matimu!”
(Jami Al-ulum Wa Al-hikam, 2;387)

Imam Al-munawi rahimahullah menjelaskan:
“Lakukanlah 5 perkara sebelum mendapatkan 5 perkara! Hidupmu sebelum matimu, maksudnya pergunakan hidupmu terhadap sesuatu yang akan memberi manfaat setelah matimu, karena orang yang mati telah terputus amalannya, pupus harapannya, tiba penyesalannya serta beruntun kesedihannya, maka gadaikanlah dirimu untuk kebaikanmu! Dan masa sehatmu sebelum sakitmu, maksudnya gunakan masa sehat untuk beramal, karena terkadang tiba penghalang seperti sakit sehingga kamu mendatangi akhirat tanpa bekal. Dan masa senggangmu sebelum masa sibukmu, maksudnya manfaatkan kesempatan senggangmu di dunia ini sebelum tersibukkan dengan kedahsyatan hari Kiamat yang awal persinggahannya adalah kubur. Manfaatkanlah kesempatan yang diberikan, semoga kamu selamat dari adzab dan kehinaan! Dan masa mudamu sebelum tuamu, maksudnya lakukan ketaatan di saat kamu mampu sebelum kelemahan usia lanjut menghinggapimu, sehingga kamu akan menyesali apa yang telah kamu sia-siakan dari kewajiban terhadap Allah subhanahu wa taala. Dan masa kayamu sebelum miskinmu, maksudnya manfaatkan untuk bersedekah dengan kelebihan hartamu sebelum dipaparkan pada musibah yang menjadikanmu miskin, (jika demikian) kamu akan miskin di dunia dan di akhirat. Kelima hal ini tidak diketahui kadar besarnya, kecuali setelah tidak ada.”
(Faidh Al-qadir, 2;21)

3. Meminta Husnul Khatimah Kepada Allah.
Allah azza wa jalla berfirman:

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثًا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ
“Maka apakah kalian mengira, bahwa Kami menciptakan kalian main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. Al-muminun, Ayat 115)

Allah juga berfirman:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.”
(QS. Adz-dzariyat, Ayat 56)

Ada seseorang pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
“Kapan seorang hamba beristirahat (berhenti dari sibuk melakukan kebaikan)? Maka Imam Ahmad menjawab; Ketika pertama kali telapak kakinya menginjak Surga.”
(Thabaqat Hanabilah, 1;293)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sungguh ada seorang hamba yang melakukan amalan-amalan penghuni Neraka namun, berakhir menjadi penghuni Surga. Dan ada juga seorang hamba yang mengamalkan amalan-amalan penghuni Surga namun, berakhir menjadi penghuni Neraka. Sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupan (akhir hidup).”
(HR. Bukhari, No.6117)

Rasulullah juga bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari-jemari Allah yang maha pemurah bagaikan menjadi satu hati. Allah akan memalingkan hati manusia sesuai kehendakNya. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa; Allahumma Musharrifal Qulub Sharrif Qulubana Ala Thaatik (Ya Allah, Dzat yang mampu memalingkan hati, palingkanlah hati kami pada ketaatan beribadah kepadaMu).”
(HR. Muslim, No.4798)

Allah azza wa jalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim)!”
(QS. Ali Imran, Ayat 102)

Mari, kita berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kematian karena jatuh dari tempat yang tinggi, tertimpa reruntuhan, tenggelam, dan terbakar. Dan aku berlindung kepadaMu dari bujukan setan saat sakaratul maut, kematian saat lari dari perang di jalanMu, serta mati karena sengatan binatang melata.”
(HR. Nasai, No.5436)

اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yang mampu memalingkan hati, palingkanlah hati kami pada ketaatan beribadah kepadaMu!”
(HR. Muslim, No.4798)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang mampu membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu!”
(HR. Tirmidzi, No.3444)

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ
“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku. Berilah aku jalan yang lurus. Jadikan petunjukMu sebagai jalanku dan kelurusan hidupku selurus anak panah!”
(HR. Muslim, No.4904)

اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
“Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku, dan matikanlah aku jika kematian itu baik untukku!”
(HR. Bukhari, No.5874)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan menggunakannya. Lalu ditanyakanlah kepada beliau; Bagaimanakah Allah menggunakannya, wahai Rasulullah? Beliau menjawab; Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih sebelum dijemput kematian.”
(HR. Tirmidzi, No.2068)

___
@Kota Udang Cirebon, Jawa Barat.
Jumat, 08 Shafar 1442H / 25 September 2020M.

Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaBelajar Bersyukur
Artikel sesudahnyaEbook; Ketika Usiaku Menginjak 40 Tahun
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here