Beranda Belajar Islam Amalan Belajar Bersyukur

Belajar Bersyukur

441
0
BERBAGI

Belajar Bersyukur

A. MENGAPA KITA HARUS BERSYUKUR?

1. Karena Bersyukur Itu Ungkapan Terima Kasih.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:
“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa dia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, yaitu berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, yaitu berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.”
(Madariju As-salikin, 2:244)

Selanjutnya, lawan kata dari syukur adalah kufur, yaitu tidak mau menyadari dan mengakui, atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang didapatkan adalah berasal dari Allah azza wa jalla. Seperti ucapan Qarun:

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki.”
(QS. Al-qashash, Ayat 78)

2. Karena Bersyukur Itu Ibadah.
Allah azza wa jalla berfirman:

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ
“Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat kepada kalian. Bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kalian ingkar kepadaKu!”
(QS. Al-baqarah, Ayat 152)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika kalian hanya menyembah kepadaNya.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 172)

3. Karena Bersyukur Itu Salah Satu Sifat Allah.
Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya Allah itu ghafur dan syakur.”
(QS. Asy-syura, Ayat 23)

Imam Abu Jarir Ath-thabari rahimahullah menjelaskan:
“Ghafur artinya Allah maha pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya maha pembalas kebaikan, sehingga Allah akan lipat-gandakan ganjarannya.”
(Tafsir Ath-thabari, 21:531)

Ternyata syukur termasuk salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang mulia. Yaitu Allah azza wa jalla pasti akan membalas setiap amal kebaikan yang dilakukan oleh para hambaNya secara adil.

Selanjutnya, dalam ayat lain Allah juga berfirman:

وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Allah itu syakur lagi halim.”
(QS. At-taghabun, Ayat 17)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Memberi serta membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak.”
(Tafsir Al-quran Al-azhim, 8:141)

Setiap manusia yang merenungi ayat-ayat semisal di atas, dan meyakini bahwa Allah adalah maha pembalas kebaikan, maka dia akan menyadari ternyata sangat layak bagi setiap hamba bersyukur kepada RabbNya terhadap banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

4. Karena Bersyukur Itu Sifatnya Para Nabi.
Allah azza wa jalla berfirman:

ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا
“Keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba Allah yang banyak bersyukur.”
(QS. Al-isra, Ayat 3)

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ. شَاكِرٗا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ
“Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang bisa dijadikan teladan), patuh kepada Allah, dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah). Dia (Ibrahim) mensyukuri nikmat-nikmatNya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.”
(QS. An-nahl, Ayat 120-121)

Selalu berterima kasih (bersyukur) kepada Allah terhadap limpahan nikmat Allah, meskipun cobaan datang dan rintangan menghadang, itulah sifat para Nabi dan Rasul yang mulia.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلَاهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Apabila shalat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri hingga kaki beliau bengkak. Aisyah berkata; Wahai Rasulullah, kenapa anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda; Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”
(HR. Muslim, No.5046)

5. Karena Bersyukur Itu Sifatnya Orang Yang Beriman.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Perkara orang beriman itu mengagumkan. Sesungguhnya semua keadaannya baik dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan dia bersyukur dan syukur itu baik baginya, dan apabila tertimpa musibah dia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
(HR. Muslim, No.5318)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat sesuatu yang disenangi, beliau mengucapkan; Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmush shalihat (Segala puji untuk Allah yang dengan nikmatNya semua kebaikan menjadi sempurna). Dan apabila melihat sesuatu yang dibenci, beliau mengucapkan; Alhamdulillah ala kulli hal (Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan).”
(HR. Ibnu Majah, No.3793. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

6. Karena Bersyukur Itu Cara Untuk Mendapatkan Ridha Allah.
Allah azza wa jalla berfirman:

وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡ
“Dan jika kalian bersyukur, Dia meridhai kesyukuran kalian tersebut.”
(QS. Az-zumar, Ayat 7)

مَّا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا
“Allah tidak akan menyiksa kalian, jika kalian bersyukur dan beriman. Dan Allah maha mensyukuri, maha mengetahui.”
(QS. An-nisa, Ayat 147)

7. Karena Bersyukur Itu Cara Untuk Mendapatkan Tambahan Nikmat Allah.
Allah azza wa jalla juga berfirman:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmatKu) kepada kalian, tetapi jika kalian mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.”
(QS. Ibrahim, Ayat 7)

Selanjutnya, bahkan bersyukur itu bukan hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah azza wa jalla. Karena dengan bersyukur akan menuai pahala dan juga akan membuka pintu rezeki di dunia.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ كِتَٰبٗا مُّؤَجَّلٗاۗ وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلۡأٓخِرَةِ نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَاۚ وَسَنَجۡزِي ٱلشَّٰكِرِينَ
“Barang siapa menginginkan pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) tersebut. Dan barang siapa menginginkan pahala akhirat, Kami berikan juga kepadanya pahala (akhirat) tersebut. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Ali Imran, Ayat 145)

Imam Ath-thabari rahimahullah menjelaskan:
“Karena bersyukur, Allah akan memberikan kebaikan yang sudah Allah janjikan di akhirat dan Allah juga akan melimpahkan rezeki di dunia.”
(Tafsir Ath-thabari, 7:263)

B. BAGAIMANA CARA UNTUK BERSYUKUR?

1. Menyadari Dan Mengakui Bahwa Seluruh Nikmat Yang Kita Dapatkan Itu Berasal Dari Allah.
Karena orang yang bersyukur akan selalu menisbatkan setiap nikmat yang didapatkannya kepada Allah azza wa jalla. Dia selalu menyadari, bahwa hanya karena takdir dan rahmat Allah semata nikmat tersebut bisa didapatkan.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bercerita:

مُطِرَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْبَحَ مِنْ النَّاسِ شَاكِرٌ وَمِنْهُمْ كَافِرٌ قَالُوا هَذِهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَقَدْ صَدَقَ نَوْءُ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ (فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ حَتَّى بَلَغَ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ)
“Suatu ketika manusia diberi hujan pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau berkata; Dengan hujan ini di antara manusia ada yang berubah menjadi hamba yang bersyukur dan ada juga yang kufur. Sebagian mereka berkata; Hujan ini adalah sebuah bukti dari rahmat Allah. Namun, sebagian yang lain berkata; Bintang ini dan ini sungguh telah benar. Sahabat Ibnu Abbas berkata; Kemudian turunlah ayat; (Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian bintang), hingga ayat; (Dan kalian mengganti rezeki yang Allah berikan dengan mendustakan Allah). QS. Al-waqiah, Ayat 75-82.”
(HR. Muslim, No.107)

Selanjutnya, mungkin kebanyakan di antara kita lebih sering menyebutkan dan mengeluhkan kesulitan yang kita hadapi kepada orang lain, dengan berbagai ungkapan keluhan. Semisal; Hari ini saya sedang sakit, saya baru dapat musibah, kemarin saya rugi sekian rupiah, saya sudah ketipu oleh seseorang, dan ungkapan semisalnya. Namun, sesungguhnya orang yang bersyukur itu akan lebih sering menyebutkan kemudahan daripada kesulitan yang sudah Allah berikan.

Karena Allah azza wa jalla berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, maka perbanyaklah menyebutnya!”
(QS. Adh-dhuha, Ayat 11)

Catatan; Dalam menceritakan berbagai nikmat Allah tersebut, tentu harus tetap dengan menjaga hati dari sifat sombong dan berbangga diri.

2. Membuktikan Rasa Syukur Dengan Ketaatan Dalam Beribadah Kepada Allah.
Termasuk hal yang sangat aneh, jika ada hamba Allah yang mengaku bersyukur, dia menyadari segala yang dimiliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah. Namun, di sisi lain dia juga melalaikan perintah Allah dan mengerjakan larangan Allah, dia tidak mau shalat, tidak mau belajar ilmu tentang Islam, tidak mau berzakat, suka memakan harta haram dan syubhat, dan perbuatan semisalnya.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal pada saat itu kalian dalam keadaan lemah. Maka sebab itu, bertakwalah kepada Allah, supaya kalian mensyukuriNya!”
(QS. Ali Imran, Ayat 123)

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur!”
(QS. Az-zumar, Ayat 66)

Secara logis, mewujudkan rasa syukur kepada Allah dengan patuh terhadap setiap perintahNya itu seperti kita bekerja dengan cara yang halal.

Ketika kita bekerja, kemudian kita mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut, dan ternyata nilai upah tersebut juga sesuai dengan yang kita harapkan, lalu sikap apa yang akan kita lakukan kepada orang yang telah mempekerjakan dan memberikan upah kepada kita tersebut?

Apakah kita akan semakin malas bekerja? Atau semakin semangat bekerja? Atau mungkin kita malah keluar dari pekerjaan tersebut?

Sebagai bukti ungkapan terima kasih kita terhadapnya adalah dengan semakin patuh terhadap setiap perintahnya dan semakin giat dalam mengerjakan setiap pekerjaannya.

Karena jika sikap kita malah sebaliknya, maka dia akan mengeluarkan kita dari pekerjaan tersebut.

Bagaimana kalau Allah sampai mengeluarkan kita dari golongan hambaNya, disebabkan kita tidak mau patuh terhadap perintahNya?

3. Berusaha Untuk Selalu Mengungkapkan Terima Kasih Kepada Orang Lain Yang Telah Memberikan Nikmat Allah.
Termasuk cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik kepada kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dianggap bersyukur kepada Allah, yakni orang yang tidak bersyukur kepada manusia.”
(HR. Abu Daud, No.4177)

Nabi juga bersabda:

مَنْ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barang siapa yang berlindung dengan nama Allah, maka lindungilah dia. Barang siapa yang meminta-minta dengan nama Allah, maka berikanlah kepadanya. Barang siapa yang mengundang kalian, maka penuhilah undangannya. Dan barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian, maka balaslah. Kemudian apabila kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka doakanlah dia! Hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.”
(HR. Abu Daud, No.1424)

Maka sebab itu, mengucapkan terima kasih juga termasuk akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Kemudian, setelah mengucapkan terima kasih, sebaiknya menambahkan doa untuk orang yang telah berbuat baik kepada kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ
“Barang siapa yang diperlakukan dengan baik, kemudian mengucapkan; Jazakallahu Khaira, maka sungguh dia telah memberikan pujian yang terbaik.”
(HR. Tirmidzi, No.1958)

4. Memperhatikan Keadaan Sekitar Yang Penuh Dengan Nikmat Allah.
Termasuk cara untuk menambah keimanan kita terhadap Allah azza wa jalla adalah dengan memperhatikan setiap nikmat Allah yang ada di sekitar kita.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.”
(QS. An-nahl, Ayat 78)

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ
“Dan segala nikmat yang ada pada kalian itu berasal dari Allah. Kemudian apabila kalian ditimpa kesengsaraan, maka kepadaNya kalian meminta pertolongan.”
(QS. An-nahl, Ayat 53)

Allah juga berfirman:

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar maha pengampun, maha penyayang.”
(QS. An-nahl, Ayat 18)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Allah benar-benar memaafkan kalian. Jika kalian dituntut untuk mensyukuri semua nikmat yang sudah Allah berikan, tentu kalian tidak akan mampu mensyukuri seluruh nikmat tersebut, dan bahkan bisa enggan untuk bersyukur. Jika Allah mau menyiksa, tentu bisa dan itu bukan tanda Allah zhalim. Tetapi, Allah masih mengampuni dan mengasihi kalian. Allah mengampuni kesalahan yang banyak lagi memaafkan bentuk syukur kalian yang sedikit.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 4:675)

Imam Ibnu Jarir Ath-thabari rahimahullah juga berkata:
“Sesungguhnya Allah memaafkan kekurangan kalian dalam bersyukur. Jika kalian bertaubat, kembali taat, dan ingin menggapai ridha Allah, maka Dia sungguh menyayangi kalian dengan tidak akan menyiksa kalian setelah kalian benar bertaubat.”
(Jami Al-bayan Fi Tawil Ayyi Al-quran, 8:119)

5. Berusaha Untuk Selalu Merasa Cukup Terhadap Setiap Nikmat Allah.
Ketahuilah, bahwa setiap nikmat Allah akan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan kita, tapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat dariku lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang mau mengamalkannya? Abu Hurairah menjawab; Aku, wahai Rasulullah. Beliau meraih tanganku lalu menyebutkan lima hal; Jagalah dirimu dari keharaman, niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah. Terimalah pemberian (nikmat) Allah dengan rela, niscaya kamu menjadi orang terkaya. Berbuat baiklah terhadap tetanggamu, niscaya kamu menjadi orang mukmin. Cintailah untuk sesama seperti yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, niscaya kamu menjadi orang muslim. Jangan sering tertawa, karena seringnya tertawa akan mematikan hati!”
(HR. Tirmidzi, No.2227. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

6. Mengerjakan Sujud Syukur Ketika Menerima Nikmat Allah.
Di antara sikap yang sebaiknya dilakukan pada saat menerima nikmat Allah adalah bersujud.

Sahabat Abu Bakrah radhiyallahu anhu bercerita:

كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ
“Apabila terdapat perkara yang menyenangkan atau beliau diberi kabar gembira, maka beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Daud, No.2393)

Sujud syukur tidak disyaratkan menghadap kiblat, juga tidak disyaratkan dalam keadaan suci, karena sujud syukur bukanlah shalat. Namun, hal-hal tersebut sebatas disunnahkan saja dan bukan termasuk syarat sujud syukur. Ini pendapat yang diyakini oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Sekilas cara sujud syukur adalah seperti sujud tilawah, yakni dengan sekali sujud. Pada saat sujud, bacaan yang dibaca adalah seperti bacaan ketika sujud dalam shalat. Lalu setelah itu bertakbir kembali dan mengangkat kepala. Kemudian setelah sujud tidak ada salam dan tidak ada tasyahud.

Catatan; Sujud syukur dikerjakan ketika mendapatkan nikmat yang tidak terduga, atau dengan tempo yang tidak berulang.

7. Selalu Menghiasi Aktivitas Dengan Berdzikir Untuk Mensyukuri Nikmat Allah.
Dengan membaca lafazh-lafazh dzikir dan memuji Allah itu termasuk bentuk rasa syukur kita kepada Allah azza wa jalla.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:
“Sungguh akan benar ada seorang hamba yang datang pada hari kiamat dengan amal keburukan yang besarnya seperti gunung-gunung. Lalu dia dapati lisannya telah meruntuhkannya dengan banyaknya dzikir kepada Allah.”
(Ad-da Wa Ad-dawa, Hal.375)

Allah azza wa jalla berfirman:

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ
“Maka ingatlah kepadaKu, maka Aku pun akan ingat kepada kalian. Bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kalian ingkar kepadaKu!”
(QS. Al-baqarah, Ayat 152)

Sahabat Abdullah bin Busr radhiyallahu anhu bercerita:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
“Bahwa ada seorang laki-laki berkata; Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak yang menjadi kewajibanku, maka beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat aku jadikan sebagai pegangan! Beliau bersabda; Hendaknya senantiasa lidahmu basah karena berzikir kepada Allah!”
(HR. Tirmidzi, No.3297)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَرَ
“Hendaklah Allah itu ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri!”
(HR. Thabrani, Al-mujam Al-kabir, No.8502)

Sebagai penutup, syukur itu bukan hanya menyatakan dengan ucapan Alhamdulillah, tapi menyatakan dengan perbuatan ibadah.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan agar aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.”
(QS. An-naml, Ayat 19)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan agar aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak-cucuku! Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-ahqaf, Ayat 15)

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepadaMu, bersyukur kepadaMu, serta beribadah dengan baik kepadaMu!”
(HR. Abu Daud, No.1301)
___
@Kota Udang Cirebon, Jawa Barat.
Jumat, 09 Muharram 1442H / 28 Agustus 2020M.

Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaNGAJI BARENG KELUARGA SETELAH MAGRIB
Artikel sesudahnyaKetika Usiaku Menginjak 40 Tahun
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here