Beranda Belajar Islam Amalan Merasakan Nikmatnya Masuk Ke Dalam 8 Pintu Surga Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq...

Merasakan Nikmatnya Masuk Ke Dalam 8 Pintu Surga Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu

395
0
BERBAGI

Merasakan Nikmatnya Masuk Ke Dalam 8 Pintu Surga Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu

Mari, kita berdoa;

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada orang tuaku, dan agar aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih!”
(Surat An-Naml: ayat 19)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu agar bisa melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan ampunilah aku dan rahmatilah aku! Apabila Engkau menghendaki suatu fitnah kepada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah (husnul khatimah)! Aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3159)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
“Ya Allah, aku meminta kepadaMu Surga dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka!”
(HR. Abu Dawud, no.672)

Para pembaca yang budiman!

Allah azza wa jalla berfirman;

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah itu menjadi gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka menjadi bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakal,”
(Surat Al-Anfal: ayat 2)

Allah juga berfirman;

اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْابِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ
“Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya dan mereka tidak menyombongkan diri.”

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًا  ۖ  وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (mengurangi waktu tidur), mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfaqkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّاۤ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍ ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Maka tidak seorang pun mengetahui sesuatu yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap sesuatu yang sudah mereka kerjakan.”

اَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا ۗ لَا يَسْتَوٗنَ
“Maka, apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama.”

اَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ جَنّٰتُ الْمَأْوٰى ۖ  نُزُلًا بِۢمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, maka mereka akan mendapat Surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala atas sesuatu yang telah mereka kerjakan.”

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فَسَقُوْا فَمَأْوٰٮهُمُ النَّارُ كُلَّمَاۤ اَرَادُوْۤا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَاۤ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَقِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ
“Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat kediaman mereka adalah Neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: Rasakanlah azab Neraka ini yang dahulu kalian dustakan!”
(Surat As-Sajdah: ayat 15-20)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;

أَخْفَى قَوْمٌ عَمَلَهُمْ فَأَخْفَى اللَّهُ لَهُمْ مَا لَمْ تَرَ عَيْنٌ وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Suatu kaum ada yang menyembunyikan amalan mereka. Allah pun membalasnya dengan menyembunyikan balasan untuk mereka yang sebelumnya tak pernah mereka pandang dan tak pernah terbetik dalam benak.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6:145)

Apakah dalam hati kita, pernah terlintas keinginan untuk masuk ke dalam 8 pintu Surga?

Padahal Allah azza wa jalla sudah menyiapkan 8 pintu Surga untuk seluruh hambaNya yang shalih. Yaitu: Pintu Shalat, pintu Sedekah, pintu Jihad, pintu Ar-Rayyan, pintu Haji, pintu Al-Ayman, pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha Wa Al-Afina An An-Nas, dan pintu Dzikir atau pintu Ilmu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَاعَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menginfaqkan dua jenis (berpasangan) dari hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu Surga. Kemudian dikatakan kepadanya: Wahai Abdullah, inilah kebaikan (dari sesuatu yang kamu kerjakan)! Maka barang siapa dari kalangan ahli shalat, dia akan dipanggil dari pintu Shalat. Dan barang siapa dari kalangan ahli jihad, dia akan dipanggil dari pintu Jihad. Dan barang siapa dari kalangan ahli puasa, dia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan barang siapa dari kalangan ahli sedekah, dia akan dipanggil dari pintu Sedekah. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu berkata: Demi bapak dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, jika seseorang dipanggil di antara pintu-pintu Surga tersebut adalah sebuah kepastian namun, apakah mungkin ada seseorang yang akan dipanggil dari semua pintu Surga tersebut? Beliau bersabda: Benar, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka!”
(HR. Imam Bukhari, no.1764)

Rasulullah juga bersabda;

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapakah di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa? Abu Bakar menjawab: Aku. Beliau bertanya lagi: Siapa di antara kalian yang hari ini telah menghantarkan jenazah? Abu Bakar menjawab: Aku. Beliau bertanya lagi: Siapa di antara kalian yang hari ini telah memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: Aku. Beliau bertanya lagi: Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: Aku. Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah semua amalan tersebut ada pada diri seseorang, kecuali dia pasti akan masuk Surga.”
(HR. Imam Muslim, no.1707)

Abu Bakar Al-Muzani rahimahullah berkata;

مَا فَاقَ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَصْحَابَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمٍ وَلاَ صَلاَةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ قَالَ الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ اَلحُبُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّصِيْحَةُ فِي خَلْقِهِ
“Tidaklah Abu Bakar bisa melampaui para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (semata-mata) karena banyak mengerjakan puasa atau shalat, tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya. (Mengomentari perkataan Al-Muzani tersebut), Ibnu Aliyah berkata: Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah azza wa jalla dan sikap nasihat, yakni ingin terus memberi kebaikan terhadap makhluk Allah (manusia).”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 1:225)

Sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu bercerita;

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ قَالَ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang aku miliki. Lalu aku mengatakan: Apabila aku dapat mendahului Abu Bakar pada suatu hari, maka hari ini aku akan mendahuluinya. Kemudian aku datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Aku katakan: Harta yang sama seperti ini. Lalu Umar berkata: Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh harta yang dia miliki. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Dia menjawab: Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya. Maka aku mengatakan kepada Abu Bakar: Aku tidak akan bisa mendahuluimu terhadap sesuatu apapun selamanya.”
(HR. Abu Dawud, no.1429. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Allah azza wa jalla berfirman;

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi alaihimussalam dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat (dongeng), akan tetapi ia membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(Surat Yusuf: ayat 111)

Allah juga berfirman;

وَاِذَا مَاۤ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَادَتْهُ هٰذِهٖۤ اِيْمَانًا  ۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat (Al-Quran), maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat tersebut menambah imannya dan mereka merasa gembira.”

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَا تُوْاوَهُمْ كٰفِرُوْنَ
“Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surat itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.”

اَوَلَا يَرَوْنَ اَنَّهُمْ يُفْتَـنُوْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوْبُوْنَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan, bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun namun, mereka tidak bertaubat dan tidak juga mengambil pelajaran?”
(Surat At-Taubah: ayat 124-126)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari buruknya pendengaranku, dari buruknya pandanganku, dari buruknya lisanku, dari buruknya hatiku dan dari buruknya air maniku!”
(HR. Abu Dawud, no.1327)
___
@ Kota Udang Cirebon, 20 Rabiul Akhir 1441H/17 Desember 2019M.

✍ Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaINFAQ PEMBUATAN UNIT USAHA KHIYAAR TV
Artikel sesudahnyaKESEMPATAN KERJA BERSAMA KHIYAAR TV
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here