Beranda Belajar Islam Amalan Ya Allah, Aku Hanya Bertawakal KepadaMu!

Ya Allah, Aku Hanya Bertawakal KepadaMu!

152
0
BERBAGI

Ya Allah, Aku Hanya Bertawakal KepadaMu!

A. MEMAHAMI TAWAKAL

Di antara manusia, termasuk kita masih banyak yang salah memahami dan mengamalkan makna tawakal. Sehingga ketika ada orang yang mengingatkan diri kita tentang pentingnya tawakal yang benar dalam kehidupan, kita malah menanggapinya dengan ucapan: “Iya, tapi kan tidak hanya tawakal yang harus ditingkatkan, justru usaha yang harus terus dilakukan! Karena tawakal tanpa adanya usaha, itu akan tidak berguna.”, dan ungkapan-ungkapan semisalnya.

Sekilas, ucapan tersebut tidak salah namun, kalau kita perhatikan dengan cermat, kita akan dapati bahwa ucapan tersebut menunjukkan kesalahpahaman terhadap makna dan tujuan tawakal. Karena ucapan tersebut terkesan memisahakan antara tawakal dan usaha. Padahal syariat sudah menjelaskan, bahwa usaha adalah bagian dari tawakal, bahkan usaha merupakan sarana atau sebab untuk meraih suatu keberhasilan yang diharapkan.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata;
“Ada seorang ulama salaf berucap: Cukuplah bagimu untuk melakukan tawasul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah adalah dengan Dia mengetahui adanya tawakal yang benar kepadaNya dalam hatimu, berapa banyak hambaNya yang memasrahkan segala urusannya kepadaNya, maka Dia pun akan mencukupi semua keperluan hamba tersebut.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:497)

Sebagaimana Allah azza wa jalla juga berfirman;

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti Allah akan memberikan untuknya jalan ke luar bagi setiap urusannya. Dan Allah pun akan memberinya rezeki dari arah (sebab) yang tidak diduga, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, pasti Allah akan mencukupi segala keperluannya.”
(Surat Ath-Thalaq: ayat 2-3)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan;
“Barang siapa yang percaya kepada Allah dalam menyerahkan semua urusan hanya kepadaNya, maka Dia akan mencukupi segala keperluannya.”
(Fathu Al-Qadir, 7:241)

Maka, dengan kita bisa melakukan tawakal yang benar, itu merupakan sebab utama berhasilnya seluruh usaha-usaha kita, termasuk dalam urusan dunia ataupun agama, dan bahkan hal itu menjadi sebab kemudahan dari Allah azza wa jalla untuk kita bisa meraih manfaat dari segala kebaikan dan perlindungan dari segala keburukan.

Sehingga, kesimpulan dalam memahami hasil tawakal dari seluruh harapan kita adalah berpusat pada ketaqwaan kepada Allah. Selama kita sudah memiliki resep taqwa kepada Allah dalam kehidupan, maka konsekuensinya Allah akan memberikan solusi dari setiap urusan kehidupan kita dan juga akan memberikan rezekiNya kepada diri kita dari cara atau sebab yang tidak pernah kita duga atau prediksi. Jadi, dalam menyikapi urusan dunia itu sederhana dan tidak perlu harus banting-tulang, mikirin mati-matian, menghabiskan banyak waktu-tenaga, karena pada akhirnya Allah akan memberikan solusi dan rezekiNya dari cara dan sebab yang tidak pernah kita perkirakan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Taqwa adalah seseorang mengerjakan ketaatan kepada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmatNya, dan dia meninggalkan kemaksiatan karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut terhadap siksaNya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri kepada Allah, kecuali dengan menjalankan kewajiban yang telah Allah tetapkan dan mengerjakan amalan yang sunnah. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah taala berfirman: Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan wajib yang Aku cintai, dan juga hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya (HR. Imam Bukhari, no.6021).”
(Majmuatu Al-Fatawa, 10:433)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga bercerita;
“Imam Sufyan bin Uyainah pernah berkata: Para ulama di masa lalu, biasa menuliskan surat kepada yang lainnya dengan beberapa untaian kalimat, yaitu:

مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ
Barang siapa yang memperbaiki amalan batinnya, maka Allah pun akan memperbaiki amalan lahiriyahnya.

وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ
Barang siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah pun akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.

وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ
Barang siapa yang beramal untuk tujuan akhirat, maka Allah akan mencukupkan urusan dunianya.”
(Majmuatu Al-Fatawa, 7:9)

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ
“Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya, kemudian mengucapkan: BISMILLAHI TAWAKKALTU ALAALLAHI LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH (Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada kemampuan dan kekuatan, kecuali dengan izin Allah). Lalu beliau bersabda: Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya: Kamu telah mendapatkan petunjuk, telah diberi kecukupan, dan telah mendapatkan penjagaan. Sehingga setan-setan berusaha menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata: Bagaimana kamu akan mengoda seorang laki-laki yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan, dan penjagaan?”
(HR. Abu Dawud, no.4431)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Tawakal kepada Allah adalah termasuk sebab yang paling kuat untuk melindungi diri dari gangguan, kezhaliman dan permusuhan orang lain yang tidak mampu dihadapinya sendiri. Allah akan memberikan kecukupan kepada orang yang bertawakal kepadaNya. Barang siapa yang telah diberi kecukupan dan dijaga oleh Allah taala, maka tidak ada harapan bagi musuh-musuhnya untuk bisa mencelakakannya, bahkan dia tidak akan ditimpa kesusahan kecuali sesuatu yang pasti dirasakan oleh seluruh makhluk, seperti panas, dingin, lapar, dan dahaga. Adapun gangguan yang diinginkan musuhnya, maka selamanya tidak akan menimpanya. Maka sangat jelas perbedaan antara gangguan yang secara nyata menyakitinya, meskipun pada hakikatnya merupakan kebaikan baginya untuk menghapuskan dosa-dosanya dan untuk menundukkan nafsunya, dan gangguan dari musuh-musuhnya yang dihilangkan darinya.”
(Badai Al-Fawaid, 2:464)

Termasuk dalam hal ini, usaha untuk mencari rezeki yang halal dan berkah. Seseorang yang beriman kepada Allah azza wa jalla dalam usahanya mencari rezeki, tentu dia tidak hanya menargetkan nominal keuntungan yang besar dan berlipat namun, keberkahan dari rezeki tersebut untuk memudahkannya dalam memanfaatkannya di jalan yang benar, yakni dengan cara-cara yang Allah ridhai.

Maka sebab itu, merealisasikan tawakal yang benar sama sekali tidak bertentangan dengan usaha mencari rezeki yang halal, bahkan ketidakmauan melakukan usaha atau menempuh sebab yang halal, itu merupakan pelanggaran terhadap syariat Allah azza wa jalla, yang justru menyebabkan rusaknya tawakal seseorang kepada Allah.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan benar, niscaya kalian akan diberi rezeki seperti rezekinya seekor burung. Burung pergi dalam keadaan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dalam keadaan perut terisi penuh.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2266)

Imam Al-Munawi rahimahullah menjelaskan;
“Burung itu pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di waktu petang dalam keadaan perutnya telah penuh (kenyang). Namun, melakukan usaha (sebab) ini bukanlah semata yang mendatangkan rezeki, karena yang mampu melimpahkan rezeki hanyalah Allah taala. Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan isyarat, bahwa tawakal (yang benar) bukanlah berarti bermalas-malasan dan enggan melakukan usaha (untuk mendapatkan rezeki), bahkan tawakal yang benar itu harus dengan melakukan berbagai macam sebab (yang dibolehkan oleh syariat Islam). Maka sebab itu, Imam Ahmad ketika mengomentari hadits ini berkata: Hadits ini tidak menunjukkan larangan melakukan usaha (sebab), sebaliknya bahkan menunjukkan pada kewajiban mencari rezeki yang halal, karena makna hadits ini adalah kalau manusia bertawakal kepada Allah ketika mereka pergi (untuk mencari rezeki), ketika kembali dan ketika mereka mengerjakan semua aktifitas mereka, dengan mereka meyakini bahwa semua kebaikan ada di tangan Allah, maka pasti mereka akan kembali dalam keadaan selamat dan mendapatkan limpahan rezeki (dariNya), sebagaimana keadaan burung.”
(Tuhfatu Al-Ahwadzi, 7:7)

Imam Sahl bin Abdullah At-Tustari rahimahullah berkata;
“Barang siapa yang mencela tawakal, maka berarti dia telah mencela konsekuensi iman. Dan barang siapa yang mencela usaha untuk mencari rezeki, maka berarti dia telah mencela sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(Hilyatu Al-Auliya, 10:195)

B. MENGAMALKAN TAWAKAL

Tawakal yang benar itu memiliki dua rukun yang harus dipenuhi dalam mengamalkannya, yaitu;

1. Berusaha.
Maksud dari rukun tawakal yang pertama ini adalah kita berusaha melakukan sebab-sebab yang memungkinkan untuk kita bisa mendapatkan sesuatu yang diharapkan.

Rukun inilah yang sering disalahpahami oleh sebagian orang, termasuk kita. Karena saat ini masih banyak manusia yang memahami tawakal dengan istilah pasrah dan tidak melakukan sebab atau usaha apapun. Dan pemahaman seperti ini tidak dibenarkan oleh syariat, karena Allah azza wa jalla sudah menciptakan suatu sebab dan akibat pada setiap urusan. Sehingga, manusia harus menempuh sebab dan melakukan usaha untuk mendapatkan sebuah hasil yang diharapkan.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ
“Seandainya kalian sungguh-sungguh dalam bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung, yang ia pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2266)

Perhatikan, seekor burung tidak tahu letak biji-bijian dan makanan yang akan didapatkannya. Bisa jadi makanan tersebut berada di tempat yang kemarin ia dapatkan, atau bisa jadi juga berada di tempat yang berbeda.

Karena yang terpenting prinsip hidup bagi seekor burung adalah;
– Berusaha keluar dari sarang untuk mencari makanan.
– Berusaha optimis terhadap rezeki Allah dan tidak meragukannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, menempuh sebab atau melakukan usaha dalam suatu urusan itu juga penting, karena sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Karena Imam Al-Mughirah bin Abu Qurrah As-Sadusi rahimahullah bercerita;

سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Aku mendengar Sahabat Anas bin Malik berkata: Ada seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakal, atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? Maka Rasulullah menjawab: Ikatlah untamu kemudian bertawakallah!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2441. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Berdasarkan hadits ini, tawakal akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan, jika di dalamnya disertai dengan adanya usaha atau menempuh sebab.

Sebagaimana kita ketika lapar, apakah cukup berdiam untuk menghilangkan rasa lapar? Tentu tidak. Bahkan untuk tawakal yang benar dalam masalah seperti ini, kita pun harus menempuh usaha atau sebab untuk menghilangkan rasa lapar tersebut, yakni dengan berusaha mengambil makanan atau minuman untuk dikonsumsi.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ ۗ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
“Baginya (manusia) ada para Malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka berusaha mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Allah).”
(Surat Ar-Radu: ayat 11)

2. Berdoa.
Selanjutnya, rukun tawakal yang harus kita lakukan adalah berdoa, yakni meminta bantuan kepada Allah dan juga menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah, sehingga kita bisa ridha dengan hasil apapun yang telah Allah takdirkan untuk diri kita.

Kita adalah seorang hamba Allah yang lemah tanpa pertolongan dariNya, maka kita tidak boleh melupakan Allah, karena Allah yang telah menciptakan kita dan yang telah memberikan kita kemampuan untuk melakukan suatu urusan, serta hanya Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Hanya mengandalkan sebab atau usaha, itu bisa merusak kemurnian tauhid kepada Allah. Dan juga tidak mau melakukan usaha atau sebab adalah celaan terhadap syariat. Seorang hamba berkewajiban untuk menjadikan hatinya bersandar hanya kepada Allah, bukan bersandar pada usaha semata. Allah yang mampu memudahkannya untuk melakukan sebab yang akan mengantarkannya pada kebaikan di dunia dan akhirat.”
(Majmuatu Al-Fatawa, 8:528)

Mari perhatikan salah satu doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah, Rabb yang maha hidup! Ya Allah, Rabb yang maha berdiri sendiri (tidak butuh bantuan siapapun)! Dengan segala rahmatMu, aku benar-benar meminta pertolonganMu. Perbaikilah segala urusanku, dan janganlah sekejap matapun Engkau bebankan semua urusan kepadaku!”
(HR. Al-Albani, Shahih Al-Jami, no.5820. Hadits ini hasan)

Karena seseorang yang terlalu mengandalkan usahanya tanpa berdoa kepada Allah dalam urusannya, itu sangat berpotensi untuk mengalami putus asa dan depresi ketika dia tidak bisa mencapai target atau mendapatkan hasil yang diharapkan, padahal dia sudah berusaha untuk giat dan mengerahkan seluruh kemampuannya.

Namun sebaliknya, seseorang yang bertawakal kepada Allah dengan benar, yakni dengan menggabungkan antara usaha dan doa, maka dia tidak akan mengalami depresi, karena dia berusaha untuk berbaik sangka kepada Allah. Sehingga dia mampu berpikir, apapun yang telah Allah takdirkan adalah sesuatu yang terbaik bagi hambaNya. Dan inilah keadaan yang sangat mengagumkan bagi seorang muslim, karena selalu berusaha ridha terhadap setiap keputusan (takdir) Allah azza wa jalla.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya baik dan hal tersebut tidak dimiliki seorang pun, kecuali orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan, dia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Dan apabila tertimpa kesedihan, dia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
(HR. Imam Muslim, no.5318)

Maka sebab itu, berdoalah kepada Allah sebanyaknya dan berusahalah menempuh sebab secukupnya!

Jadikan persentase terbesar dalam setiap urusan kita untuk Allah, kemudian sisa terkecilnya untuk usaha. Misal kita persentasekan 100% dalam sebuah urusan dunia, maka alokasikan 90% untuk berdoa, di dalamnya mengandung berbagai amalan ketaqwaan kepada Allah azza wa jalla, perbaiki hubungan kita terhadap Allah dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepadaNya, dan berusaha untuk istiqamah dalam mengerjakannya, dan berusaha menerima dengan ketentuan yang akan Allah berikan kepada kita. Kemudian alokasikan 10% untuk berusaha, di dalamnya mengandung berbagai cara yang bisa kita lakukan, seperti membuat strategi, menghubungi relasi untuk merealisasikan tujuan dan mendapatkan hasil yang kita harapkan. Jadi, jangan sampai dibalik ya untuk praktek pembagian persentase tersebut, kalau tidak ingin mengalami kegagalan dan kekecewaan!

Selalu ingatlah kepada Allah di setiap urusan kita, sadarlah bahwa diri kita tidak akan mampu melakukan suatu hal tanpa kemudahan dariNya. Sekuat apapun usaha kita, tidak berguna tanpa pertolongan dariNya.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ
“Barang siapa yang senang Allah mengabulkan doanya ketika dalam keadaan sempit serta berduka, maka hendaknya dia banyak berdoa ketika dalam keadaan lapang.”
(HR. At-Tarmidzi, no.3304. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka jangan pernah melakukan sesuatu urusan hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri namun, berdoa juga kepada Allah untuk meminta pertolonganNya, agar urusan kita bisa terealisasi dengan mudah.

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, jika Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.974)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Imam Muslim, no.4897)
___
@Kota Udang Cirebon, 03 Rabiul Awal 1441H/31 Oktober 2019M.

✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAda Apa Dengan Buah-Buahan?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here