Beranda Belajar Islam Amalan Fiqih Darah Wanita

Fiqih Darah Wanita

176
0
BERBAGI

Fiqih Darah Wanita

Di tulisan kali ini kita akan mengenal dan menyikapi darah yang dialami oleh para wanita beserta pembahasan hukumnya dengan tuntas. Sehingga para wanita bisa mengetahui tentang status hukum darahnya dan bisa mengetahui sikap yang harus dilakukannya, dan hendaknya para lelaki juga mengetahui ilmu tentang hal ini, untuk mengajarkan kepada ibunya, istrinya, putrinya, dan saudarinya.

Pembahasan tentang darah yang menjadi kebiasaan para wanita di antaranya: Haidh, nifas, dan istihadhah. Itu semua adalah pembahasan yang paling sering dipertanyakan oleh kaum wanita, dan pembahasan ini juga merupakan salah satu bahasan yang tersulit dalam masalah ilmu fiqih, sehingga masih sangat banyak yang keliru dalam memahaminya dan menyikapinya. Bahkan walaupun pembahasannya sudah dibahas berulang kali, ternyata masih banyak wanita muslimah yang belum memahami kaidah dan perbedaan dari ketiga darah tersebut. Itu semua disebabkan karena darah tersebut keluar dari jalur yang sama namun, pada setiap wanita memiliki keadaan yang berbeda, sehingga berbeda juga hukum dan cara menyikapinya.

Termasuk realita yang menyedihkan adalah ketika seorang wanita mengalami salah satu di antara 3 jenis darah tersebut namun, dia malah kebingungan, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Bertanya kepada orang tuanya, tidak paham. Bertanya kepada saudarinya, tidak paham. Bertanya kepada suaminya, tidak paham juga. Pada akhirnya, tindakan yang dilakukannya berdasarkan hawa nafsu, bukan ilmu.

Mari, kita tunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan mempelajari syariatnya dengan benar dan totalitas!

Maka sebab itu, silakan baca dan pelajari penjelasannya di bawah ini dengan perlahan dan tuntas. Semoga Allah berikan kemudahan kepada kita untuk memahami syariatNya dengan benar. Selamat membaca!

A. DARAH HAIDH

Haidh adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita pada waktu-waktu tertentu yang bukan disebabkan oleh suatu penyakit atau karena adanya proses persalinan, dan keluarnya darah tersebut merupakan sunnatullah (ketentuan Allah) yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kaum wanita. Sifat darah ini berwarna merah kehitaman yang kental, keluar dalam jangka waktu tertentu, bersifat panas, dan memiliki aroma yang khas dan tidak sedap.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ
“Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam.”
(HR. Imam Bukhari, no.285)

Haidh adalah sesuatu yang normal terjadi pada seorang wanita, dan pada setiap wanita memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Ada yang ketika keluar haidh ini disertai dengan rasa sakit pada bagian pinggul namun, ada juga yang tidak merasakan sakit tersebut. Ada yang masa haidhnya 3 hari, ada juga yang lebih dari 10 hari. Ada yang ketika keluar didahului dengan lendir kuning kecoklatan, ada juga yang langsung berupa darah merah yang kental. Dan pada setiap kondisi inilah yang harus dikenali oleh setiap wanita, karena dengan mengenali masa dan karakteristik darah haidh merupakan dasar untuk seorang wanita dapat membedakannya dengan darah-darah lain yang keluar setelahnya.

Memang tidak banyak para wanita yang secara sadar melihat dan memperhatikan warna darah haidhnya. Karena ternyata warna darah haidh juga bervariasi dan bisa menjadi indikasi kesehatan tubuhnya.

Secara umum, coba lihat kulit kita ketika terluka, darah yang pertama kali keluar dari tubuh kita adalah berwarna merah segar. Kemudian kita menutupi luka tersebut dengan perban atau semisalnya.

Apakah ada perubahan? Lama kelamaan darah yang menempel pada perban akan berubah menjadi warna merah gelap. Karena darah tersebut sudah bereaksi dengan lingkungan sekitarnya, salah satunya adalah oksigen.

Darah yang keluar pada saat haidh itu bukan berasal dari kolam darah yang ada di dalam rahim wanita, melainkan berasal dari sel telur yang tidak berhasil dibuahi. Hal tersebut membuat menurunnya kadar progesteron dan estrogen, sehingga dinding rahim pun luruh (runtuh) menjadi darah haidh. Lalu proses luruh dan situasi di dalam rahim itulah yang mempengaruhi warna darah haidh.

1. Mengenali Darah Haidh.
Di antara penjelasan warna darah haidh yang harus diketahui dan dipahami oleh para wanita adalah;

Pertama: Warna cokelat atau merah tua.
Pada saat awal dan akhir masa haidh, darah yang keluar akan berwarna cokelat atau merah tua, dan warna darah haidh seperti ini artinya normal.

Kemudian darah tidak keluar deras ketika awal dan akhir masa haidh, itu disebabkan darah butuh waktu keluar lebih lama dari uterus, dan warna cokelat atau merah tua itu disebabkan oleh hal tersebut.

Kedua: Warna Merah Terang.
Bedakanlah warna merah pada darah haidh, karena ada yang gelap dan ada juga yang terang.

Darah haidh berwarna merah terang biasanya terjadi pada hari kedua atau ketiga, karena saat itu dinding rahim melepaskan sel telur yang tidak terbuahi dengan sangat cepat. Saking cepatnya luruh, tidak ada waktu bagi molekul lain untuk menggelapkan warnanya.

Ketiga: Warna Merah Muda.
Darah berwarna merah muda atau pink biasanya keluar dalam bentuk bercak pendarahan. Beberapa orang kerap mengalami ‘mid cycle spotting’.

Menurut beberapa pakar ilmu keperawatan, warna merah muda atau pink pada darah haidh terjadi karena kurangnya kadar hormon estrogen. Apalagi jika diiringi dengan volume darah yang sangat sedikit dan haidh tidak teratur. Hati-hati, kekurangan estrogen bisa menyebabkan vagina kering, tubuh lemas, dan kehilangan gairah seksual.

Estrogen adalah sebutan untuk sekelompok hormon yang berperan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan karakteristik seksual wanita serta proses reproduksi. Hormon ini sebenarnya tidak hanya diproduksi dalam tubuh wanita, tapi juga terdapat dalam tubuh pria dengan kadar yang jauh lebih rendah.

Keempat: Warna Merah Keabuan.
Jika warna darah haidh abu-abu, segera konsultasikan ke dokter atau ahli kesehatan lainnya. Sebab ini bisa jadi karena gejala infeksi atau bisa jadi tanda keguguran. Sehingga keadaan semacam ini kemungkinan terjadi karena sedang hamil, meskipun tidak disadari kehamilannya.

Kapan kita harus berwaspada? Karena selain adanya perubahan warna, ada beberapa faktor lainnya juga yang perlu diwaspadai, di antaranya;

– Volume darah yang keluar saat haidh. Karena normalnya 40 cc atau sekitar 3 sendok makan setiap harinya.
– Periode haidh memanjang lebih dari 7-8 hari. Karena normalnya adalah 3-5 hari.
– Siklus haidh terganggu (lebih cepat 21 hari atau lebih lama 35 hari) dari hari pertama haidh terakhir. Siklus normal 21-35 hari. Karena rata-rata wanita memiliki siklus haidh hingga 28 hari atau 1 bulan.
(Diambil dari situs theasianparent.com, dengan perubahan kalimat)

2. Mengetahui Darah Haidh.
Secara medis, waktu lamanya masa haidh bisa memanjang atau memendek karena adanya gangguan hormon atau penyakit. Misalkan normal masa haidh itu 3-7 hari, maka bisa bertambah lebih dari 7 hari atau berkurang dari 3 hari. Demikian juga panjang siklus haidh, bisa memanjang dan bisa juga memendek. Misalnya panjang siklus 15 hari (normalnya 28 hari atau 1 bulan), maka dalam 1 bulan bisa mengalami 2x haidh atau siklus memanjang, sehingga 2 bulan sekali dapat haidh.

Adapun istilah yang berkaitan dengan siklus darah haidh adalah;

– Menoragi: Haidh memanjang dari normal.
– Brakimenore: Haidh memendek dari normal.
– Polimenore: Siklus haidh memendek dari normal.
– Oligomenore: Siklus haidh memanjang dari normal.

Para ulama juga berbeda pendapat mengenai batas waktu maksimal dan minimal haidh, tetapi pendapat yang lebih kuat adalah tidak adanya batasan maksimal dan minimal haidh, dan pendapat ini juga didukung oleh fakta secara medis. Di antara alasannya;

Pertama: Syariat Islam tidak menetapkan angka tertentu tentang lamanya masa haidh. Karena haidh adalah masalah yang sangat umum, sehingga jika memang ada angka tertentu dalam masa haidh, pasti syariat sudah menjelaskannya.

Kedua: Syariat menetapkan alasan (illat) bersih haidh yaitu bersih dari kotoran. Waktu bersih darah haidh, itulah berhentinya masa haidh.

Ketiga: Para ulama berselisih pendapat tentang batasannya dengan angka yang tidak tetap.

– Madzhab maliki.
Imam Ibnu Nafi rahimahullah berkata;
“Batas maksimal seorang wanita boleh meninggalkan shalat karena haidh adalah 15 hari, kemudian dia harus mandi dan shalat.”
(Al-Mudawanah, 1:151)

– Madzhab syafii.
Imam Al-Qadhi Abu Syuja rahimahullah berkata;
“Batas minimal waktu haidh adalah sehari-semalam, batas maksimalnya adalah 15 hari dan umumnya adalah 6-7 hari.”
(Matan Ghayah Wa Taqrib, hlm.51)

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata;
“Batas minimal adalah 3 hari dan malam, dan maksimalnya adalah 10 hari.”
(Fathu Al-Qadir 1:111)

Imam Malik rahimahullah berkata;
“Tidak ada batas waktu minimal, jika dia melihat satu tetes darah maka itu haidh, dan maksimalnya adalah 15 hari.”
(Asy-Syarhu Ash-Shagir, 1:75)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Dalam mazhad Imam Ahmad (Hanbali) tidak ada perselisihan, bahwa minimal haidh adalah sehari sedangkan maksimalnya adalah 15 hari, ada juga yang berkata 17 hari.”
(Al-Mughni, hlm.325)

Kemudian pendapat yang dilihat lebih kuat dan mendekati kebenaran (rajih), bahwa haidh tidak ada batasan maksimal dan minimalnya.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Mengenai haidh, Allah mengaitkan banyak hukum yang berlaku ketika haidh. Allah tidak memberikan batasan minimal dan maksimal, tidak juga batas hari suci antara dua masa haidh. Padahal hal tersebut sesuatu yang umum di masyarakat dan mereka butuh penjelasan batasan tersebut. Secara bahasa juga tidak menerapkan batasan tertentu, jika menetapkannya berarti menyelesihi Al-Quran dan As-Sunnah. Di antara ulama, ada yang menetapkan batas masa haidh maksimal dan minimal. Namun, mereka berbeda pendapat tentang berapa rincian batas tersebut. Ada juga ulama yang memberi batas maksimal masa haidh namun, tidak memberi batas minimal masa haidh. Maka pendapat ketiga yang dilihat lebih benar, bahwa tidak ada batas minimal dan tidak ada batas maksimal masa haidh.”
(Majmu Fatawa 4:251)

Allah azza wa jalla menjelaskan haidh adalah kotoran, ketika kotoran itu telah berhenti dan suci dari kotoran, maka itulah bukti berhentinya haidh, sehingga diperbolehkan kembali melakukan ibadah.

Sebagimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, itu adalah sesuatu yang kotor. Sebab itu jauhilah istri pada waktu haidh dan jangan kalian dekati mereka sebelum mereka suci! Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepada kalian! Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 222)

Sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَأَهْلَلْنَا بِعُمْرَةٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيُهِلَّ بِالْحَجِّ مَعَ الْعُمْرَةِ ثُمَّ لَا يَحِلُّ حَتَّى يَحِلَّ مِنْهُمَا جَمِيعًا قَالَتْ فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ لَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَلَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ انْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ وَدَعِي الْعُمْرَةَ قَالَتْ فَفَعَلْتُ فَلَمَّا قَضَيْنَا الْحَجَّ أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ إِلَى التَّنْعِيمِ فَاعْتَمَرْتُ فَقَالَ هَذِهِ مَكَانُ عُمْرَتِكِ فَطَافَ الَّذِينَ أَهَلُّوا بِالْعُمْرَةِ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ثُمَّ حَلُّوا ثُمَّ طَافُوا طَوَافًا آخَرَ بَعْدَ أَنْ رَجَعُوا مِنْ مِنًى لِحَجِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَانُوا جَمَعُوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ فَإِنَّمَا طَافُوا طَوَافًا وَاحِدًا
“Kami pergi haji bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada tahun haji Wada, lalu kami ihram untuk umrah. Kemudian beliau bersabda: Barang siapa yang membawa hadya (hewan qurban) boleh ihram untuk haji dan umrah, dan tidak boleh tahallul sebelum keduanya selesai. Aisyah berkata: Setibanya aku di Makkah, tiba-tiba aku haidh, sehingga aku tidak thawaf di Baitullah dan tidak sai antara Shafa dan Marwa. Hal tersebut aku ceritakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau pun bersabda: Lepaskan sanggulmu dan bersisirlah, kemudian teruskan ihrammu untuk haji dan tinggalkan umrah! Apa yang diperintahkan beliau aku laksanakan semuanya. Setelah kami selesai mengerjakan haji, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruhku bersama-sama Abdurrahman bin Abu Bakr pergi ke Tan’im untuk melakukan umrah. Beliau bersabda: Itulah ganti umrahmu yang gagal. Orang-orang yang tadinya ihram untuk umrah, setibanya di Makkah mereka terus thawaf dan sai antara Shafa dan Marwa. Kemudian sekembalinya mereka dari Mina, mereka thawaf kembali sebagai thawaf akhir. Adapun orang-orang yang menggabungkan niat haji dan umrah, mereka thawaf satu kali saja.”
(HR. Imam Muslim, no.2108)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda;

وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ ثُمَّ حُجِّي وَاصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ وَلَا تُصَلِّي
“Dan bertalbiyahlah untuk melakukan haji, kemudian lakukan haji serta kerjakan apa yang dilakukan oleh orang yang melakukan haji, hanya saja janganlah kamu melakukan thawaf di Kabah dan jangan mengerjakan shalat!”
(HR. Abu Dawud, no.1521)

3. Menyikapi Darah Haidh.
Wanita yang sedang haidh tidak dibolehkan shalat, puasa, thawaf, berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya (farji), dan menyentuh mushaf. Meskipun demikian, dia tetap boleh membaca Al-Quran dengan tanpa menyentuh mushaf secara langsung (yakni boleh dengan menggunakan penghalang seperti kain yang suci dari najis atau dengan menggunakan media elektronik seperti gadget), boleh berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya di tempat selain pada kemaluannya.

Ketika wanita yang sedang haidh dilarang melakukan berbagai ibadah namun, ada suatu ibadah yang harus diqadhanya pada saat suci, yaitu puasa.

Sebagaimana Muadzah bin Abdillah rahimahallah bercerita;

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ
“Aku bertanya kepada Aisyah: Kenapa wanita haidh mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat? Aisyah menjawab: Apakah kamu dari golongan Haruriyah? Aku menjawab: Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya. Dia menjawab: Kami dahulu mengalami haidh, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”
(HR. Imam Muslim, no.508)

Tanda berakhirnya masa haidh adalah dengan adanya gumpalan atau lendir putih (seperti keputihan) yang keluar dari jalan rahim. Namun, jika tidak menjumpai adanya lendir putih, maka bisa mengeceknya dengan menggunakan kapas putih yang dimasukkan ke dalam kemaluan (vagina). Jika kapas tersebut tidak terdapat bercak sedikit pun, dan benar-benar bersih, maka wajib untuk segera mandi dan shalat. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa masa haidh sudah selesai.

Sebagaimana dahulu para wanita mendatangi Aisyah radhiyallahu anha dengan menunjukkan kapas yang terdapat cairan kuning, kemudian Aisyah berkata;

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ
“Janganlah kalian terburu-buru hingga kalian melihat gumpalan putih.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.198)

Jadi, tanda berakhirnya masa haidh itu bukan ditentukan bergantung pada hitungan hari (waktu) namun, ditentukan dengan adanya gumpalan putih yang keluar dari kemaluan (vagina).

B. DARAH NIFAS

Nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita bersamaan dengan proses melahirkan, yakni sesudah atau sebelum melahirkan, yang disertai dengan dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan, seperti rasa sakit. Rasa sakit yang dimaksud adalah rasa sakit yang kemudian sertai dengan kelahiran, karena jika darah yang keluar tidak disertai rasa sakit, atau disertai rasa sakit tapi tidak diiringi dengan proses kelahiran bayi, maka itu bukan darah nifas.

Sehingga jika seorang wanita mengalami keguguran, lalu ketika dikeluarkan janinnya belum berwujud manusia (bayi), maka darah yang keluar tersebut dihukumi sebagai darah penyakit (istihadhah) yang tidak menghalangi wanita tersebut dari shalat, puasa, dan ibadah lainnya.

Maka darah jenis ini tentu lebih mudah untuk dikenali, karena penyebabnya sudah pasti, yaitu karena adanya proses persalinan manusia.

Selain itu, harus diketahui juga oleh para wanita, bahwa waktu tersingkat untuk sebuah janin menjadi manusia adalah 80 hari, dimulai dari hari pertama hamil. Dan ada sebagian pendapat lainnya yang mengatakan 90 hari.

Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ
“Sungguh salah seorang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi alaqah (zigot) selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian Allah mengirim Malaikat yang diperintahkan dengan 4 ketetapan (dan dikatakan kepadanya): Tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, dan sengsara serta bahagianya, lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amalan penghuni Neraka hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan Neraka kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan takdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni Surga kemudian masuk surga. Dan ada juga seseorang yang beramal dengan amalan penghuni Surga hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan Surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan takdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni Neraka lalu dia masuk Neraka.”
(HR. Imam Bukhari, no.3085)

1. Mengenali Darah Nifas.
Berdasarkan pengalaman dan pengakuan dari beberapa responden, secara umum darah nifas ini lebih banyak dan lebih deras keluarnya daripada darah haid, warnanya tidak terlalu hitam, kekentalannya hampir sama dengan darah haidh namun, aromanya lebih kuat daripada darah haidh.

Secara ringkas, dalam jangka beberapa waktu, darah nifas akan mengalami perubahan, di antaranya;

– Hari 1: Darah berwarna merah terang atau merah kecoklatan, karena darah nifas mengandung cukup banyak darah.
– Hari 2-6: Darah nifas akan lebih berair dan berwarna cokelat tua atau merah muda.
– Hari 7-10: Warna darah sama atau menjadi cokelat muda atau merah muda.
– Hari 11-14: Warna darah sama atau semakin muda, ditambah adanya cairan berwarna putih atau putih kekuningan. Ini karena darah nifas kebanyakan terdiri dari sel darah putih lapisan rahim. Namun, jika seorang wanita sudah mulai beraktivitas, maka warna darah nifas mungkin akan menjadi lebih kemerahan dari sebelumnya.
– Pekan 3-4: Jika masih keluar, darah nifas akan berwarna lebih pucat atau putih krem.
– Pekan 6: Jumlah darah nifas yang keluar menjadi semakin sedikit dan berwarna cokelat, merah muda, atau kuning krem.
Kemudian apabila seorang wanit melahirkan melalui operasi Caesar, biasanya jumlah darah nifas yang keluar akan lebih sedikit. Namun, durasi waktunya tetap beberapa pekan, dan warna darah akan berubah dari merah, cokelat, kuning, hingga bening.
(Diambil dari situs alodokter.com, dengan perubahan kalimat)

2. Mengetahui Darah Nifas.
Tidak ada batas minimal masa nifas, sehingga jika kurang dari 40 hari darah tersebut sudah berhenti, maka seorang wanita tersebut wajib mandi dan bersuci, kemudian shalat dan dihalalkan kembali atasnya sesuatu yang dihalalkan bagi wanita yang suci. Adapun mengenai batasan maksimalnya, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama.

Sebagaimana Ummu Salamah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَتْ النُّفَسَاءُ تَجْلِسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَكُنَّا نَطْلِي وُجُوهَنَا بِالْوَرْسِ مِنْ الْكَلَفِ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَهْلٍ عَنْ مُسَّةَ الْأَزْدِيَّةِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ وَاسْمُ أَبِي سَهْلٍ كَثِيرُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى ثِقَةٌ وَأَبُو سَهْلٍ ثِقَةٌ وَلَمْ يَعْرِفْ مُحَمَّدٌ هَذَا الْحَدِيثَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَهْلٍ وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ عَلَى أَنَّ النُّفَسَاءَ تَدَعُ الصَّلَاةَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا إِلَّا أَنْ تَرَى الطُّهْرَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّهَا تَغْتَسِلُ وَتُصَلِّي فَإِذَا رَأَتْ الدَّمَ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ فَإِنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا لَا تَدَعُ الصَّلَاةَ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ وَيُرْوَى عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّهَا تَدَعُ الصَّلَاةَ خَمْسِينَ يَوْمًا إِذَا لَمْ تَرَ الطُّهْرَ وَيُرْوَى عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَالشَّعْبِيِّ سِتِّينَ يَوْمًا
“Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wanita-wanita yang sudah melahirkan duduk berdiam diri selama 40 hari, kami memoles wajah kami dengan waras (sejenis tumbuhan yang wangi) karena sebab kotoran. Abu Isa berkata: Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Abu Sahl, dari Mussah Al-Azdiah dari Ummu Salamah. Dan nama Abu Sahl adalah Katsir bin Ziyad. Dalam hal ini Muhammad bin Ismail berkata: Ali bin Abdul A’la dan Abu Sahl adalah orang yang terpercaya. Dan Muhammad tidak mengetahui hadits ini kecuali dari hadits Abu Sahl. Para ulama telah sepakat, bahwa para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Tabiin, dan orang-orang sesudah mereka telah sepakat, bahwa wanita yang sudah melahirkan boleh meninggalkan shalat selama 40 hari, kecuali jika dia telah suci sebelum waktu tersebut, maka dia harus mandi dan shalat. Apabila dia melihat darah setelah 40 hari, maka sebagian ulama berkata: Dia tidak boleh meninggalkan shalat setelah 40 hari. Ini adalah pendapat sebagian besar ahli fiqih, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Syafii, Ahmad, dan Ishaq. Dan diriwayatkan juga dari Hasan Al-Bashri, dia berkata: Sesungguhnya wanita yang sudah melahirkan, dia tidak shalat selama 50 hari jika dia tidak melihat bahwa dia telah suci. Dan diriwayatkan juga dari Atha bin Abu Rabah dan Asy Sya’bi, yaitu 60 hari.”
(HR. At-Tarmidzi, no.129. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Jumhur ulama Syafiiyyah berpendapat, bahwa umumnya masa nifas adalah 40 hari sesuai dengan kebiasaan kaum wanita secara umum namun, batas maksimalnya adalah 60 hari.

Kemudian ada juga beberapa ulama lainnya yang berpendapat, bahwa tidak ada batasan maksimal masa nifas, bahkan jika lebih dari 50 atau 60 hari, itu masih dihukumi nifas. Namun, pendapat ini tidak dikenal (masyhur) dan tidak didasari oleh dalil yang shahih.

3. Menyikapi Darah Nifas.
Wanita yang sedang nifas juga tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh wanita yang sedang haidh, seperti tidak boleh shalat, puasa, thawaf, berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya (farji), dan menyentuh mushaf. Meskipun demikian, dia tetap boleh membaca Al-Quran dengan tanpa menyentuh mushaf secara langsung (yakni boleh dengan menggunakan penghalang seperti kain yang suci dari najis atau dengan menggunakan media elektronik seperti gadget), boleh berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya di tempat selain pada kemaluannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Adapun masalah yang diduga oleh sebagian wanita, bahwa seorang wanita harus tetap meninggalkan shalat hingga mencapai 40 hari, meskipun dia sudah mendapatkan kesuciannya sebelum 40 hari itu, itu adalah dugaan yang salah dan tidak benar. Yang benar adalah jika seorang wanita telah mendapatkan kesuciannya, maka wajib baginya untuk shalat seperti wanita-wanita suci lainnya, walaupun kesucian tersebut didapati pada hari 10 setelah masa persalinan.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail, 4:281)

Beliau rahimahullah juga menjelaskan;
“Jika wanita nifas telah mendapatkan kesuciannya sebelum 40 hari, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat dan puasa jika hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan, dan bagi suaminya dibolehkan untuk menyetubuhinya (berjima) meskipun belum mencapai 40 hari, dan wanita yang telah mendapatkan kesuciannya pada hari 35 dari saat persallinannya ini wajib mengerjakan puasa dan shalat sebagaimana biasanya, lalu jika darah nifas tersebut kembali mengalir setelah 40 hari, maka darah yang keluar itu dianggap darah haidh, kecuali jika keluarnya darah tersebut di luar masa haidh yang biasa dia alami, maka dia hanya meninggalkan shalat selama waktu yang biasanya dia mendapatakan masa haidh saja, kemudian setelah itu dia harus mandi dan mengerjakan shalat sebagaimana biasanya.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail, 4:289)

C. DARAH ISTIHADHAH

Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haidh dan tidak juga karena melahirkan. Secara umum darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering disebut sebagai darah penyakit.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي
“Bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy mengalami istihadhah (mengeluarkan darah penyakit). Maka aku bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan beliau menjawab: Itu adalah darah dari pembuluh darah (yang terluka) dan bukan darah haidh. Jika haidh datang, maka tinggalkanlah shalat dan jika telah selesai mandilah dan shalatlah!”
(HR. Imam Bukhari, no.309)

إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“Itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haidh, apabila darah haidh datang, tinggalkanlah shalat! Apabila darah haidh telah berlalu, bersihkanlah darah tersebut dari dirimu, kemudian shalatlah!”
(HR. Imam Muslim, no.501)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita bukan pada waktunya dan keluarnya dari urat.”
(Syarh Shahih Muslim, 4:17)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga menjelaskan;
“Istihadhah adalah darah segar yang di luar kebiasaan seorang wanita, disebabkan urat yang terputus.”
(Jami Li Ahkami Al-Quran, 3:57)

Aisyah radhiyallahu anha juga bercerita;

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَتَنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ فَاسْتَفْتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ وَلَكِنَّ هَذَا عِرْقٌ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي
قَالَتْ عَائِشَةُ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ فِي مِرْكَنٍ فِي حُجْرَةِ أُخْتِهَا زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَتَّى تَعْلُوَ حُمْرَةُ الدَّمِ الْمَاءَ
“Bahwa Ummu Habibah binti Jahsy, kerabat dekat dari istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan merupakan istri Abdurrahman bin Auf, mengalami istihadhah selama 7 tahun, lalu dia meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Ini bukanlah darah haidh, tetapi ini adalah darah penyakit, maka mandilah dan shalatlah! Aisyah berkata: Maka dia mandi di baskom besar di kamar saudarinya, Zainab binti Jahsy, hingga warna merah darahnya naik ke permukaan air.”
(HR. Imam Muslim, no.503)

1. Mengenali Darah Istihadhah.
Berdasarkan penjelasan dalil di atas menunjukkan, bahwa istihadhah itu tidak sama dengan haidh yang sifatnya alami, yaitu yang pasti dialami oleh setiap wanita normal sebagai salah satu tanda baligh. Namun, istihadhah adalah suatu penyakit yang menimpa kaum wanita dan disebabkan perbuatan setan yang ingin menimbulkan keraguan pada anak Adam (wanita) dalam pelaksanaan ibadahnya.

Sebagaimana Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Makna dari sabda Nabi: Yang demikian itu hanyalah suatu dorongan atau gangguan dari setan, adalah setan mendapatkan jalan untuk membuat kerancuan terhadap para wanita dalam perkara agamanya, antara masa sucinya dan shalatnya, hingga setan menjadikannya lupa terhadap kebiasaan haidhnya. Darah istihadhah berasal dari urat yang dinamakan ‘aadzil, karena dimungkinkan setan mendorong urat tersebut hingga terpancar darah darinya.”
(Subulu As-Salam, 1:159)

Keberadaan darah istihadhah dan darah haidh merupakan suatu masalah yang rumit. Sehingga menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, keduanya harus dibedakan. Caranya bisa dengan adat (mengetahui kebiasaan haidh), atau dengan tamyiz (membedakan sifat darah).

Perbedaan antara darah istihadhah dengan darah haidh adalah darah istihadhah keluar karena pecahnya urat, sifatnya tidak alami, tidak pasti dialami setiap wanita, serta keluar dari urat yang ada di sisi rahim. Sedangkan darah haidh merupakan darah alami, biasa dialami wanita normal dan keluarnya dari rahim.

Kemudian ada perbedaan lain dari sifat darah istihadhah jika dibandingkan dengan darah haidh, di antaranya;

– Perbedaan warna. Darah istihadhah secara umum berwarna merah segar, sedangkan darah haidh berwarna hitam.
– Perbedaan tekstur. Darah istihadhah bertekstur lunak, sedangkan darah haidh bertekstur keras.
– Perbedaan sifat. Darah istihadhah bersifat cair, sedangkan darah haidh bersifat kental.
– Perbedaan aroma. Darah istihadhah tidak beraroma, sedangkan darah haidh beraroma tidak sedap.

2. Mengetahui Darah Istihadhah.
Sifat darah istihadhah ini umumnya berwarna merah segar seperti darah pada umumnya, encer, dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan dia hanya akan berhenti setelah keadaan normal atau darahnya mengering. Kemudian jika seorang wanita memiliki kebiasaan, maka sesuatu yang melebihi kebiasaannya adalah darah istihadhah.

Maka sebab itu, untuk mengetahui siklus darah istihadhah adalah dengan mengetahui perbedaan warna, tekstur, dan sifat di atas. Sehingga tidak berpatokan pada waktu, dan lebih mudah untuk menentukannya.

Jika dia bisa membedakan kedua darah tersebut, maka darah haidh adalah yang berwarna hitam sebagaimana dikenal. Sedangkan yang selain itu adalah istihadhah.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiyallahu anha;

إِذَا كَـانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ أَسْـوَدُ مَعْرُوْفٌ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Jika memang itu darah haidh, maka ia berwarna hitam sebagaimana dikenal, maka tinggalkanlah shalat! Jika tidak seperti itu, maka berwudhulah! Karena ia adalah penyakit.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.204)

3. Menyikapi Darah Istihadhah.
Wanita yang mengalami istihadhah dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga dia tetap harus mengerjakan shalat, puasa, dan boleh berhubungan badan (jima) dengan suaminya.

Wanita yang sedang istihadhah memiliki beberapa keadaan, di antaranya;

– Dia memiliki kebiasaan haidh yang tertentu (teratur) sebelum dia mengalami istihadhah. Sehingga ketika keluar darah dari kemaluannya, untuk membedakan darahnya tersebut antara darah haidh atau darah istihadhah, dia cukup kembali pada kebiasaan haidhnya tersebut. Sehingga dia meninggalkan shalat dan puasa di hari-hari kebiasaan haidhnya kemudian berlaku kepadanya hukum-hukum wanita haidh. Adapun di luar kebiasaan haidhnya jika masih keluar darah, maka darah tersebut adalah darah istihadhah dan berlaku kepadanya hukum-hukum wanita suci.

Contoh: Seorang wanita yang haidhnya biasa datang selama 6 hari di setiap awal bulan. Kemudian dia mengalami istihadhah, darahnya keluar secara terus-menerus, maka cara dia untuk menetapkan hukum haidh atau istihadhahnya adalah dengan menghitung 6 hari yang awal di setiap bulannya sebagai darah haidh, sedangkan selebihnya sebagai darah istihadhah.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“Itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haidh, apabila darah haidh datang, tinggalkanlah shalat! Apabila darah haidh telah berlalu, bersihkanlah darah tersebut dari dirimu, kemudian shalatlah!”
(HR. Imam Muslim, no.501)

Sehingga wanita yang keadaannya seperti ini, dia meninggalkan shalat hanya di hari-hari yang menjadi kebiasaan haidhnya, kemudian dia mandi dan setelah itu dia boleh mengerjakan shalat dan tidak perlu mempedulikan darah yang keluar setelahnya, karena darah tersebut adalah darah istihadhah dan dia hukumnya sama dengan wanita yang suci.

– Dia tidak memiliki kebiasaan haidh yang tertentu (tidak teratur) sebelum dia mengalami istihadhah namun, dia bisa membedakan darah tersebut, maka untuk membedakan sifat darah haidh dan darah istihadhah menggunakan cara tamyiz (pembedaan sifat darah). Darah haidh dikenal dengan warnanya yang hitam, kental, dan beraroma tidak sedap. Sehingga jika dia dapati darahnya demikian, maka berlaku padanya hukum-hukum haidh, sedangkan di luar dari itu berarti ia adalah darah istihadhah.

Contoh: Seorang wanita yang melihat darah keluar dari kemaluannya secara terus-menerus, tapi 10 hari yang awal dia melihat darahnya hitam, sedangkan selebihnya berwarna merah, atau 10 hari awal beraroma darah haidh dan selebihnya tidak beraroma, berarti 10 hari yang awal tersebut adalah darah haidh dan selebihnya adalah darah istihadhah.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiyallahu anha;

إِذَا كَـانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ أَسْـوَدُ مَعْرُوْفٌ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Jika memang itu darah haidh, maka ia berwarna hitam sebagaimana dikenal, maka tinggalkanlah shalat! Jika tidak seperti itu, maka berwudhulah! Karena ia adalah penyakit.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.204)

Jika ada seorang wanita yang istihadhah memiliki kebiasaan haidh (adat), dan bisa membedakan sifat darah (tamyiz), cara mana yang harus dia dahulukan untuk menentukan hukum darahnya, adat atau tamyiz?

Maka dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat cara tamyiz yang didahulukan, sebagaimana ini adalah pendapatnya Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad rahimahumullah. Mereka berdalil dengan hadits Fathimah bintu Abu Hubaisy radhiyallahu anha yang sudah dicantumkan di atas. Ada juga yang berpendapat cara adat yang didahulukan, sebagaimana ini adalah pendapatnya Imam Abu Hanifah serta pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumullah.

Jadi, apabila ada seorang wanita memiliki adat haidh (kebiasaan) 5 hari, lalu pada hari ke-4 dari adatnya keluar darah berwarna merah segar seperti darah istihadhah namun, pada hari ke-5 darah yang keluar tersebut kembali berwarna hitam seperti darah haidh, maka dia berpegang dengan adatnya yang 5 hari, sehingga hari ke-4 yang keluar darinya darah berwarna merah segar, itu tetap terhitung dalam masa haidhnya, dan pendapat inilah yang dinilai lebih kuat.

– Dia tidak memiliki kebiasaan haidh (adat) dan tidak juga bisa membedakan darahnya (tamyiz). Sedangkan darah keluar secara terus-menerus sejak awal dia melihat darah keluar dari kemaluannya, dan sifat darahnya tidak jelas perbedaannya. Maka untuk membedakan haidh dan istihadhahnya adalah melihat kebiasaan mayoritas wanita, yaitu dia menganggap dirinya haidh selama 6 atau 7 hari pada setiap bulannya, dan dimulai sejak awal dia melihat keluarnya darah. Kemudian selebihnya itu dihukumi sebagai darah istihadhah.

Contoh: Seorang wanita yang melihat darah pertama kalinya pada hari Kamis bulan Ramadhan dan darah tersebut terus keluar dan tidak bisa dibedakan antara haidh ataukah bukan, maka dia menganggap dirinya haidh selama 6 atau 7 hari, dimulai sejak hari Kamis.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Hamnah binti Jahsyi radhiyallahu anha;

إِنَّمَا هذِهِ رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَياَّمٍ أَوْ سَبْعَةً فِيْ عِلْمِ اللَّهِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ حَتَّـى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَيْتِ فَصَلِّي أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةٍ أَوْ ثَلاَثاً وَعِشْرِيْنَ وَأَيَامَهُنَّ وَصُوْمِيْ فَإِنَّ ذلِكَ يُجْزِيْكِ وَكَذلِكَ فَافْعَلِي فِي كُلِّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيْضُ النِّسَاءُ وَكَمَا يَطْهُرْنَ لِمِيْقَاتِ حَيْضِهِنَّ وَطُهْرِهِنَّ
“Ini adalah salah satu dorongan setan. Maka jalanilah haidhmu selama 6 atau 7 hari menurut ilmu Allah, kemudian mandilah! Sehingga jika kamu menganggap dirimu telah suci dan bersih, maka shalatlah selama 24 malam atau 23 hari, dan berpuasalah, karena itu sudah mencukupimu! Lakukanlah seperti itu di setiap bulan, sebagaimana para wanita menjalani haidh dan suci berdasarkan waktu haidh dan suci mereka.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.205)

Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Makna dari sabda Nabi: Yang demikian itu hanyalah suatu dorongan atau gangguan dari setan, adalah setan mendapatkan jalan untuk membuat kerancuan terhadap para wanita dalam perkara agamanya, antara masa sucinya dan shalatnya, hingga setan menjadikannya lupa terhadap kebiasaan haidhnya. Darah istihadhah berasal dari urat yang dinamakan ‘aadzil, karena dimungkinkan setan mendorong urat tersebut hingga terpancar darah darinya.”
(Subulu As-Salam, 1:159)

Beliau pun menjelaskan;
“Dalam hadits ini, untuk menentukan antara haidh dengan selainnya, Nabi mengembalikan pada kebiasaan umumnya para wanita.”
(Subulu As-Salam, 1:159)

Wanita yang memiliki keadaan seperti ini, maka dia menganggap dirinya suci selama 24 hari jika kebiasaan haidhnya 6 hari atau dia menganggap dirinya suci selama 23 hari jika kebiasaan haidhnya 7 hari. Dan untuk menentukan 6 atau 7 hari itu bukan dengan seenaknya (semaunya) memilih namun, dengan melihat kepada wanita lain yang paling dekat kekerabatannya dan berdekatan umur dengannya.

Sebagaimana Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Nabi mengatakan demikian untuk mengumumkan, bahwasannya para wanita memiliki salah satu dari dua adat, yakni 6 atau 7 hari. Karena di antara mereka ada yang berhaidh 6 hari dan ada yang 7 hari. Maka seorang wanita yang meiliki kebiasaan seperti itu, mengembalikan kebiasaannya kepada wanita yang sama usia dengannya dan memiliki keserupaan (rahim) dengannya.”
(Subulu As-Salam, 1:160)

Para ulama fikih juga menjelaskan;
“Apabila wanita yang istihadhah memiliki adat (kebiasaan) yang tetap dan teratur, maka ketika dia melihat darah haidh, dia berhenti shalat dan puasa pada hari-hari adatnya tersebut, karena adat lebih kuat dari selainnya. Apabila dia tidak mengetahui adatnya, maka dia melakukan tamyiz (membedakan sifat darah). Apabila dia tidak mampu juga membedakan darah, maka dia melihat secara umum kebiasaan kaum wanita.”
(Bulughu Al-Maram, hlm.54)

Sehingga konsekuensinya, apabila kebiasaan wanita yang seumuran dan paling dekat kekerabatan dengannya itu bukan 6 atau 7 hari, misalnya 10 hari, maka dia tetap harus berpedoman dengan kebiasaan wanita tersebut, yaitu 10 hari.

– Dia memliki kebiasaan haidh tertentu (teratur) namun, masa haidhnya tidak teratur bilangannya, maka jika masih memungkinkan melakukan tamyiz, maka kondisinya disesuaikan dengan kondisi kedua di atas.

– Dia memiliki kebiasaan (adat) namun, lupa waktu dan bilangan hari haidhnya dan tidak dapat membedakannya, sementara darah terus-menerus keluar, maka ulama berselisih pendapat mengenai masalah ini. Ada yang berpendapat hukumnya sama dengan wanita yang baru haidh yang tidak dapat membedakan darahnya. Ada juga yang berpendapat untuk kehati-hatian dia anggap dirinya haidh, sehingga tidak halal bagi suaminya untuk menggaulinya dan di sisi lain dia anggap dirinya suci hingga dia terus shalat dan puasa. Ada yang mengatakan dia menetapkan hari-hari haidhnya setiap awal bulan dan jumlah harinya sama dengan wanita di sekitarnya. Adapun yang lain berpendapat dia harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membedakan darahnya semampu dia dan berusaha mengingat keadaan haidhnya.
(Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, 2:396)

Dalam masalah ini yang dinilai lebih kuat (rajih), menurut Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Al-Mumti, adalah mengembalikannya pada kebiasaan wanita yang lain namun, dalam hal ini lebih dipersempit. Misal, wanita tersebut hanya ingat bahwa dia haidh di awal bulan namun, dia lupa tanggalnya, kemudian keluar darah secara terus menerus. Sedangkan ibu dari wanita tersebut memiliki haidh yang teratur di setiap awal bulan pada tanggal tertentu, demikian juga dengan saudarinya di akhir bulan. Maka wanita tersebut harus menetapkan tanggal haidhnya sesuai tanggal haidh ibunya, meskipun kekerabatan rahim dan umurnya lebih mendekati kepada saudarinya.

– Dia tahu bilangan (durasi) haidhnya dan letak waktunya di setiap bulan (awal, tengah atau akhir) namun, dia lupa tanggal berapa tepatnya dia mulai haidh, maka dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ada yang berpendapat, bahwa dia harus mengambil tanggal haidhnya di awal bulan, meskipun dia yakin biasa haidh di tengah bulan. Tetapi menurut Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitab Syarh Al-Mumti yang lebih mendekati pada kenyataan sebenarnya adalah mengambil tanggal pasti dari awal, tengah, atau akhir bulan. Misal wanita tersebut yakin bahwa dia haidh di tengah bulan namun, lupa di tanggal berapa, maka yang lebih mendekati kebenaran dalam kasus ini adalah dia menetapkan tanggal haidhnya adalah tanggal 13, daripada menetapkan tanggal haidhnya di awal bulan.

4. Hukum Wanita Istihadhah.
Perlu dipahami, bahwa hukum wanita yang istihadhah itu sama seperti hukum wanita yang suci, kecuali pada beberapa keadaan, di antaranya;

– Wanita istihadhah jika ingin berwudhu, maka dia harus mencuci bekas darah dari kemaluannya dan menahan darahnya tersebut dengan kain atau pembalut.
Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِهَا مِنْ الْمَحِيضِ فَأَمَرَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ قَالَ خُذِي فِرْصَةً مِنْ مَسْكٍ فَتَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهَّرُ قَالَ تَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِي فَاجْتَبَذْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ
“Seorang wanita bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang cara mandi dari haidh. Beliau lalu menjelaskan kepada wanita tersebut tentang bagaimana cara mandi. Beliau bersabda: Ambillah sepotong kapas yang diberi wewangian, lalu bersucilah! Wanita tersebut bertanya: Bagaimana aku bersucinya? Beliau menjawab: Bersucilah dengan kapas itu! Wanita tersebut berkata lagi: Bagaimana caranya aku bersuci? Beliau bersabda: Bersucilah dengan menggunakan kapas itu! Wanita tersebut bertanya lagi: Bagaimana caranya? Maka beliau berkata: Subhaanallah. Bersucilah kamu! Lalu aku manarik wanita tersebut ke arahku, lalu aku katakan: Kamu bersihkan sisa darahnya dengan kapas itu.”
(HR. Imam Bukhari, no.303)

جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ قَالَ لَا إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ اجْتَنِبِي الصَّلَاةَ أَيَّامَ مَحِيضِكِ ثُمَّ اغْتَسِلِي وَتَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ وَإِنْ قَطَرَ الدَّمُ عَلَى الْحَصِيرِ
“Fatimah binti Hubaisy datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya: Sesungguhnya aku adalah wanita yang keluar darah istihadhah hingga tidak suci, maka apakah aku boleh meninggalkan shalat? Beliau menjawab: Tidak, itu hanyalah penyakit dan bukan haidh. Jauhilah shalat di hari-hari haidhmu, kemudian shalatlah, dan wudhulah pada setiap shalat, meskipun darah menetes di atas tikar!”
(HR. Ibnu Majah, no.616)

– Wanita istihadhah dianjurkan wudhu setiap kali akan shalat.
Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiyallahu anha;

إِذَا كَـانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ أَسْـوَدُ مَعْرُوْفٌ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Jika memang itu darah haidh, maka ia berwarna hitam sebagaimana dikenal, maka tinggalkanlah shalat! Jika tidak seperti itu, maka berwudhulah! Karena ia adalah penyakit.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.204)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“Itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haidh, apabila darah haidh datang, tinggalkanlah shalat! Apabila darah haidh telah berlalu, bersihkanlah darah tersebut dari dirimu, kemudian shalatlah!”
(HR. Imam Muslim, no.501)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Tambahan yang ditinggalkan penyebutannya oleh Imam Muslim adalah: Watawaddhai (berwudhulah). Imam An-Nasai dan lainnya menyebutkan tambahan ini, sedangkan Imam Muslim membuangnya karena Hammad, salah seorang perawi hadits ini, disebabkan bersendiri dalam menyebutkan tambahan tersebut, adapun perawi-perawi yang lain juga tidak menyebutkan tambahan: Berwudhulah.”
(Syarah Shahih Muslim, 4:22)

Jadi perintah wudhu bukanlah berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan perintah yang ada dalam masalah ini adalah lemah, sebagaimana dilemahkan oleh para ulama. Namun, jika ada wanita istihadhah yang wudhunya belum batal dan ingin memperbarui wudhunya ketika akan shalat, maka dibolehkan, meskipun tidak diwajibkan.

– Wanita istihadhah dianjurkan mandi setiap kali akan shalat.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha juga bercerita;

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَتَنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ فَاسْتَفْتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ وَلَكِنَّ هَذَا عِرْقٌ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي
قَالَتْ عَائِشَةُ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ فِي مِرْكَنٍ فِي حُجْرَةِ أُخْتِهَا زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَتَّى تَعْلُوَ حُمْرَةُ الدَّمِ الْمَاءَ
“Bahwa Ummu Habibah binti Jahsy, kerabat dekat dari istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan merupakan istri Abdurrahman bin Auf, mengalami istihadhah selama 7 tahun, lalu dia meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Ini bukanlah darah haidh, tetapi ini adalah darah penyakit, maka mandilah dan shalatlah! Aisyah berkata: Maka dia mandi di baskom besar di kamar saudarinya, Zainab binti Jahsy, hingga warna merah darahnya naik ke permukaan air.”
(HR. Imam Muslim, no.503)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Ketahuilah tidak wajib bagi wanita istihadhah untuk mandi ketika akan mengerjakan shalat, tidak juga wajib mandi dari satu waktu yang ada, kecuali sekali saja setiap berhentinya haidh. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf.”
(Syarh Shahih Muslim, 4:19)

Syaikh Musthafa Al-Adawy hafizhahullah menjelaskan;
“Adapun hadits yang terdapat tambahan lafazh: Nabi memerintahkan Ummu Habibah untuk mandi setiap akan shalat, itu adalah tambahan yang syadz karena Ibnu Ishaq (seorang perawi hadits ini) salah dalam membawakan riwayat, sementara para perawi lainnya yang lebih kuat darinya, meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Syihab dengan lafazh: Adalah Ummu Habibah mandi setiap akan shalat. Dan perbedaan antara kedua lafazh ini sangat jelas. Bahkan Laits bin Saad dan Sufyan Ibnu Uyainah (dua perawi yang lebih kuat) jelas-jelas mengatakan dalam riwayat Abu Dawud, bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintah Ummu Habibah untuk mandi.”
(Jami Ahkami An-Nisa, 1:220)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan;
“Bahwasannya mandi setiap akan shalat, itu hanyalah sunnah, tidak wajib menurut pendapat imam yang empat, bahkan yang wajib bagi wanita istihadhah adalah wudhu setiap akan shalat lima waktu, menurut pendapat jumhur ulama, di antaranya: Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad.
(Bulughu Al-Maram, hlm.53)

– Wanita istihadhah boleh berjima (berhubungan badan) dengan suaminya. Karena larangan berjima tidak berlaku bagi wanita yang istihadhah.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, itu adalah sesuatu yang kotor. Sebab itu jauhilah istri pada waktu haidh dan jangan kalian dekati mereka sebelum mereka suci! Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepada kalian! Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 222)

Pada ayat tersebut, Allah azza wa jalla hanya menyebutkan: “Jangan kalian dekati mereka sebelum mereka suci”, yang berarti ketika seorang wanita dalam keadaan suci, suaminya boleh mendekatinya, dan wanita istihadhah hukumnya sama seperti wanita suci.

Meskipun demikian, sebetulnya seorang wanita tetap boleh didekati oleh suaminya, dengan syarat mencumbunya di selain kemaluannya.

Sebagaimana Maimunah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ الْإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mencumbui istri-istrinya pada daerah di atas sarung (pakaian bagian bawah), sedangkan mereka dalam keadaan haidh.”
(HR. Imam Muslim, no.442)
___
@Kota Udang Cirebon, 20 Muharram 1441H/19 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAgar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah
Artikel sesudahnyaAda Apa Dengan Buah-Buahan?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here