Beranda Belajar Islam Amalan Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

8839
0
BERBAGI

Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak juga membiarkannya untuk disakiti. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah pun akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah pun akan menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan di hari Kiamat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah pun akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.”
(HR. Bukhari, No.2262)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan:
“Kesempitan (Al-kurbah) adalah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan (At-tanfis) maksudnya adalah berusaha untuk meringankan beban tersebut dari si penderita. Sedangkan, usaha melepaskan (At-tafrij) dengan cara menghilangkan beban penderitaan dari si penderita, sehingga kesedihan dan kesusahannya hilang. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain adalah Allah akan meringankan kesulitannya. Dan balasan menghilangkan kesulitan adalah Allah akan menghilangkan kesulitannya.”
(Jami Al-ulum Wa Al-hikam, 2;286)

1. Cara Menolong Orang Yang Berbuat Zhalim

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
“Tolonglah saudaramu yang dia berbuat zhalim atau dizhalimi! Kemudian ada seorang laki-laki bertanya; Ya Rasulullah, aku maklum jika dia dizhalimi namun, bagaimana aku menolong padahal dia yang berbuat zhalim? Nabi menjawab; Kamu mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman tersebut, itulah cara menolongnya.”
(HR. Bukhari, No.6438)

2. Balasan Bagi Orang Yang Suka Menyulitkan Orang Lain

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقْ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan barang siapa menyusahkan manusia, maka Allah juga akan menyusahkannya pada hari Kiamat.”
(HR. Bukhari, No.6619)

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَا فِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
“Dan masing-masing orang memiliki tingkatannya (derajat) sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Rabbmu tidak lengah terhadap sesuatu yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-anam, Ayat 132)

3. Keutamaan Pemimpin Yang Memudahkan Urusan Rakyatnya

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ
“Barang siapa yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla untuk menjadi pemimpin (penguasa) yang mengemban urusan umat Islam, kemudian dia menutup diri dari melayani kebutuhan mereka dan keperluan mereka, maka Allah pun menutup diri darinya dan tidak melayani kebutuhannya, serta keperluannya.”
(HR. Abu Daud, No.2559)

4. Allah Akan Mengabulkan Doa Orang Yang Mau Membantu Orang Lain

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَأَنْ تُكْشَفَ كُرْبَتُهُ فَلْيُفَرِّجْ عَنْ مُعْسِرٍ
“Barang siapa yang ingin dikabulkan doa dan dihilangkan kesusahannya, hendaklah dia meringankan beban orang yang sedang kesusahan.”
(HR. Al-haitsami, Majmu Az-zawaid, 4:136. Beliau menyatakan hadits ini para perawinya tsiqah)

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ
“Barang siapa yang senang Allah mengabulkan doanya ketika dalam keadaan sempit serta berduka, maka hendaknya dia banyak berdoa ketika dalam keadaan lapang.”
(HR. At-tirmidzi, No.3304. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)

5. Mengapa Kita Harus Mendapatkan Kemudahan Dari Allah?

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمْ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ قَالَ فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا
“Pada hari Kiamat, matahari didekatkan kepada manusia hingga sebatas satu mil. Berkata Sulaim bin Amir; Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata, lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang, dan ada juga yang benar-benar tenggelam oleh keringat.”
(HR. Muslim, No.5108)

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ. يَقُومُ أَحَدُهُمْ فِي رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ
“Firman Allah; Pada hari manusia menghadap Rabb alam semesta (QS. Al-muthaffifin, Ayat 6). Rasulullah bersabda; Mereka di hari itu dalam genangan keringatnya hingga pertengahan kedua telinganya.”
(HR. Bukhari, No.6050)

يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ
“Pada hari Kiamat manusia akan berkeringat, hingga keringat mereka di bumi setinggi 70 hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinga.”
(HR. Bukhari, No.6051)

تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan dengan keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan. Aisyah bertanya; Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan, satu sama lain bisa melihat auratnya? Nabi menjawab; Kejadian ketika itu lebih dahsyat, sehingga memalingkan mereka dari keinginan seperti itu.”
(HR. Bukhari, No.6046)

6. Penjelasan Tentang Kebaikan

Allah subhanahu wa taala berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰٓئِکَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَالسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِ ۚ وَاَ قَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّکٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Kebaikan itu bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan ke arah barat, tetapi kebaikan itu adalah kebaikan orang yang beriman kepada Allah, hari Akhirat, Malaikat-Malaikat, kitab-kitab, dan Nabi-Nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya (budak), yang mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan (kesusahan), penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 177)

Allah juga berfirman:

وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kalian menyedekahkan, itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.”
(QS. Al-baqarah, Ayat 280)

7. Motivasi Untuk Menolong Orang Lain Yang Sedang Mengalami Kesulitan

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercerita:

كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَجَاوَزُوا عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ
“Ada seorang pedagang yang memberi pinjaman kepada manusia, sehingga jika dia melihat mereka dalam kesulitan, maka dia berkata kepada para pembantunya; Berilah dia tempo hingga mendapatkan kemudahan! Semoga Allah memudahkan urusan kita. Maka kemudian Allah memudahkan urusan pedagang tersebut.”
(HR. Bukhari, No.1936)

Abdullah bin Abi Qatadah rahimahullah juga bercerita:

أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ طَلَبَ غَرِيمًا لَهُ فَتَوَارَى عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ فَقَالَ إِنِّي مُعْسِرٌ فَقَالَ آللَّهِ قَالَ آللَّهِ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللَّهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ
“Bahwa Abu Qatadah pernah mencari seseorang yang berutang kepadanya, ternyata orang yang berutang kepadanya tersebut berusaha bersembunyi dan menghindar. Ketika ditemukan, orang tersebut berkata; Sungguh aku sedang dalam kesulitan. Abu Qatadah berkata; Demi Allah! Dia berkata; Demi Allah! Abu Qatadah melanjutkan; Baiklah kalau begitu, sungguh aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa ingin diselamatkan oleh Allah dari kesusahan di hari Kiamat, maka hendaklah dia memberi tangguhan kepada orang yang kesulitan, atau membebaskan utangnya.”
(HR. Muslim, No.2923)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Pertolongan Allah akan selalu menyertai seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(HR. Muslim No. 2699)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Sungguh, Allah pasti menolong hambaNya sesuai dengan kadar pertolongan hamba tersebut kepada saudaranya.”
(At-taliqat Al-arbain An-nawawiyyah, Hal.119)

8. Menjadi Manusia Yang Sangat Dicintai Allah

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang sangat bermanfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah taala adalah membuat seorang muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”
(HR. Al-albani, Shahih Al-jami, No.76. Beliau menyatakan hadits ini hasan)

9. Sesuatu Yang Kita Tanam Adalah Sesuatu Yang Akan Kita Tuai

Allah azza wa jalla berfirman:

هَلْ جَزَآءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُ
“Tidak ada balasan untuk kebaikan, kecuali kebaikan.”
(QS. Ar-rahman, Ayat 60)

مَنْ يَّعْمَلْ سُوْٓءًا يُّجْزَ بِهٖ ۙ وَلَا يَجِدْ لَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا
“Barang siapa mengerjakan keburukan, pasti akan dibalas sesuai dengan keburukan tersebut dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.”
(QS. An-nisa, Ayat 123)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:
“Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap (sifat), maka Allah akan menyikapinya juga dengan sikap tersebut di dunia dan akhirat.”
(Al-wabil Ash-shayyib, Hal.49)

10. Mari Kita Berdoa

Ayo, hafalkan dan amalkan doa-doa yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam!

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah, Rabb yang maha hidup! Ya Allah, Rabb yang maha berdiri sendiri (tidak butuh bantuan siapapun)! Dengan segala rahmatMu, aku benar-benar meminta pertolonganMu. Perbaikilah segala urusanku dan janganlah sekejap matapun Engkau bebankan semua urusan kepadaku!”
(HR. Al-albani, Shahih Al-jami, No.5820. Hadits ini hasan)

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, jika Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, No.974)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Muslim, No.4897)

___
@Kota Udang Cirebon, 17 Muharram 1441H / 17 September 2019M.
✍ Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaApa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?
Artikel sesudahnyaFikih Darah Wanita
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here