Beranda Belajar Islam Amalan Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

215
0
BERBAGI

Agar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak juga membiarkannya untuk disakiti. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah pun akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah pun akan menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah pun akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.”
(HR. Imam Bukhari, no.2262)

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقْ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan barang siapa menyusahkan manusia, maka Allah juga akan menyusahkannya pada hari Kiamat.”
(HR. Imam Bukhari, no.6619)

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan di dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari Kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hamba tersebut mau menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke Surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al-Quran, kecuali mereka akan diberikan ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para Malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada para Malaikat yang berada di sisiNya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak akan bisa meninggikannya.”
(HR. Imam Muslim, no.4867)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan;
“Kesempitan (Al-Kurbah) adalah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan (At-Tanfis) maksudnya adalah berupaya meringankan beban tersebut dari si penderita. Sedangkan, upaya melepaskan (At-Tafrij) dengan cara menghilangkan beban penderitaan dari si penderita, sehingga kesedihan dan kesusahannya hilang. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain adalah Allah akan meringankan kesulitannya. Dan balasan menghilangkan kesulitan adalah Allah akan menghilangkan kesulitannya.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:286)

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَا فِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
“Dan masing-masing orang memiliki tingkatannya (derajat) sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Rabbmu tidak lengah terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Surat Al-Anam: ayat 132)

Kemudian Rasulullah bersabda;

مَنْ أَرَادَ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَأَنْ تُكْشَفَ كُرْبَتُهُ فَلْيُفَرِّجْ عَنْ مُعْسِرٍ
“Barang siapa yang ingin dikabulkan doa dan dihilangkan kesusahannya, hendaklah dia meringankan beban orang yang sedang kesusahan.”
(HR. Ahmad, no.4519. Al-Haitsami menyatakan hadits ini para perawinya tsiqah, Majmu Az-Zawaid, 4:136)

• Mengapa kita harus mendapatkan kemudahan dari Allah?

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمْ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ قَالَ فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا
“Pada hari Kiamat, matahari didekatkan kepada manusia hingga sebatas satu mil. Berkata Sulaim bin Amir: Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata, lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang, dan ada juga yang benar-benar tenggelam oleh keringat.”
(HR. Imam Muslim, no.5108)

إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ بَاعًا وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ أَوْ إِلَى آذَانِهِمْ
“Sesungguhnya keringat pada hari Kiamat menyebar di tanah seluas 70 depa (1 depa=4 hasta), dan sesungguhnya keringat tersebut mencapai mulut-mulut manusia atau hingga telinga-telinga mereka.”
(HR. Imam Muslim, no.5107)

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ. يَقُومُ أَحَدُهُمْ فِي رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ
“Firman Allah: Pada hari manusia menghadap Rabb alam semesta (Surat Al-Muthaffifin: ayat 6). Rasulullah bersabda: Mereka di hari itu dalam genangan keringatnya hingga pertengahan kedua telinganya.”
(HR. Imam Bukhari, no.6050)

يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ
“Pada hari Kiamat manusia akan berkeringat, hingga keringat mereka di bumi setinggi 70 hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinga.”
(HR. Imam Bukhari, no.6051)

تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ
“Kalian akan dikumpulkan dengan keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan. Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan, satu sama lain bisa melihat auratnya? Nabi menjawab: Kejadian ketika itu lebih dahsyat, sehingga memalingkan mereka dari keinginan seperti itu.”
(HR. Imam Bukhari, no.6046)

Allah azza wa jalla berfirman;

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا. وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا. وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا. يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا. بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا. يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya: Mengapa bumi menjadi begini? Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan padanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, pasti dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan sekecil apapun, pasti dia akan melihat balasannya juga.”
(Surat Al-Zalzalah: ayat 1-8)

Syaikh As-Sadi rahimahullah menjelaskan;
“Bumi menjadi saksi bagi setiap orang yang dahulu telah beramal di atasnya. Sejak dahulu bumi telah menjadi saksi terhadap amalan setiap hamba. Dan Allah memerintahkan (bumi) untuk memberitahukan amalan-amalan manusia.”
(Taisir Al-Karimi Ar-Rahman, hlm.932)

Lalu, beliau pun berkata;
“Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walaupun sedikit. Begitu juga menunjukkan ancaman bagi yang beramal buruk walaupun itu kecil.”
(Taisir Al-Karimir Ar-Rahman, hlm.932)

Allah subhanahu wa taala berfirman;

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰٓئِکَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَالسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِ ۚ وَاَ قَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّکٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Kebaikan itu bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan ke arah barat, tetapi kebaikan itu adalah kebaikan orang yang beriman kepada Allah, hari Akhirat, Malaikat-Malaikat, kitab-kitab, dan Nabi-Nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya (budak), yang mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan (kesusahan), penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 177)

وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kalian menyedekahkan, itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 280)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercerita;

كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَجَاوَزُوا عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ
“Ada seorang pedagang yang memberi pinjaman kepada manusia, sehingga jika dia melihat mereka dalam kesulitan, maka dia berkata kepada para pembantunya: Berilah dia tempo hingga mendapatkan kemudahan! Semoga Allah memudahkan urusan kita. Maka kemudian Allah memudahkan urusan pedagang tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.1936)

Lalu, Abdullah bin Abi Qatadah rahimahullah bercerita;

أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ طَلَبَ غَرِيمًا لَهُ فَتَوَارَى عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ فَقَالَ إِنِّي مُعْسِرٌ فَقَالَ آللَّهِ قَالَ آللَّهِ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللَّهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ
“Bahwa Abu Qatadah pernah mencari seseorang yang berutang kepadanya, ternyata orang yang berutang kepadanya tersebut berusaha bersembunyi dan menghindar. Ketika ditemukan, orang tersebut berkata: Sungguh aku sedang dalam kesulitan. Abu Qatadah berkata: Demi Allah! Dia berkata: Demi Allah! Abu Qatadah melanjutkan: Baiklah kalau begitu, sungguh aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa ingin diselamatkan oleh Allah dari kesusahan di hari Kiamat, maka hendaklah dia memberi tangguhan kepada orang yang kesulitan, atau membebaskan utangnya.”
(HR. Imam Muslim, no.2923)

Ubadah bin Al-Walid bin Ubadah bin Ash-Shamit rahimahumullah juga bercerita;

خَرَجْتُ أَنَا وَأَبِي نَطْلُبُ الْعِلْمَ فِي هَذَا الْحَيِّ مِنْ الْأَنْصَارِ قَبْلَ أَنْ يَهْلِكُوا فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ لَقِينَا أَبَا الْيَسَرِ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ غُلَامٌ لَهُ مَعَهُ ضِمَامَةٌ مِنْ صُحُفٍ وَعَلَى أَبِي الْيَسَرِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيَّ وَعَلَى غُلَامِهِ بُرْدَةٌ وَمَعَافِرِيَّ فَقَالَ لَهُ أَبِي يَا عَمِّ إِنِّي أَرَى فِي وَجْهِكَ سَفْعَةً مِنْ غَضَبٍ قَالَ أَجَلْ كَانَ لِي عَلَى فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ الْحَرَامِيِّ مَالٌ فَأَتَيْتُ أَهْلَهُ فَسَلَّمْتُ فَقُلْتُ ثَمَّ هُوَ قَالُوا لَا فَخَرَجَ عَلَيَّ ابْنٌ لَهُ جَفْرٌ فَقُلْتُ لَهُ أَيْنَ أَبُوكَ قَالَ سَمِعَ صَوْتَكَ فَدَخَلَ أَرِيكَةَ أُمِّي فَقُلْتُ اخْرُجْ إِلَيَّ فَقَدْ عَلِمْتُ أَيْنَ أَنْتَ فَخَرَجَ فَقُلْتُ مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ اخْتَبَأْتَ مِنِّي قَالَ أَنَا وَاللَّهِ أُحَدِّثُكَ ثُمَّ لَا أَكْذِبُكَ خَشِيتُ وَاللَّهِ أَنْ أُحَدِّثَكَ فَأَكْذِبَكَ وَأَنْ أَعِدَكَ فَأُخْلِفَكَ وَكُنْتَ صَاحِبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ وَاللَّهِ مُعْسِرًا قَالَ قُلْتُ آللَّهِ قَالَ اللَّهِ قُلْتُ آللَّهِ قَالَ اللَّهِ قُلْتُ آللَّهِ قَالَ اللَّهِ قَالَ فَأَتَى بِصَحِيفَتِهِ فَمَحَاهَا بِيَدِهِ فَقَالَ إِنْ وَجَدْتَ قَضَاءً فَاقْضِنِي وَإِلَّا أَنْتَ فِي حِلٍّ فَأَشْهَدُ بَصَرُ عَيْنَيَّ هَاتَيْنِ وَوَضَعَ إِصْبَعَيْهِ عَلَى عَيْنَيْهِ وَسَمْعُ أُذُنَيَّ هَاتَيْنِ وَوَعَاهُ قَلْبِي هَذَا وَأَشَارَ إِلَى مَنَاطِ قَلْبِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ
“Aku dan ayahku pergi untuk menuntut ilmu di perkampungan Anshar ini sebelum mereka meninggal. Orang yang pertama kali kami temui adalah Abu Al-Yasar, Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dia bersama seorang budak miliknya, dia membawa sekumpulan lembaran, Abu Al-Yasar mengenakan selimut ma’afiri dan budaknya juga mengenakan selimut ma’afiri. Ayahku berkata kepadanya: Wahai pamanku, sesungguhnya aku melihat tanda bekas marah di wajahmu. Dia berkata: Benar. Fulan bin Fulan memiliki utang kepadaku, aku mendatangi keluarganya, aku mengucapkan salam, lalu aku mengucapkan kata-kata, kemudian mereka berkata: Tidak. Lalu seorang anak berperut buncit keluar, aku bertanya: Mana ayahmu? Dia berkata: Dia mendengar suaramu. Selanjutnya ibuku, Arikah, masuk, lalu aku berkata: Keluarlah kemari, aku sudah tahu dimana kamu berada. Aku bertanya: Kenapa kamu bersembunyi dariku? Dia menjawab: Demi Allah, aku akan menceritakan kepadamu, aku tidak bohong, demi Allah, aku takut bercerita kepadamu kemudian aku berdusta dan aku berjanji kepadamu kemudian aku pungkiri. Kamu adalah Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan demi Allah, aku sedang susah. Aku mengucapkan: Allah. Dia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Dia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Dia menyahut: Allah. Lalu dia mengambil lembaran kemudian dihapus dengan tangannya, dia berkata: Bila kamu punya uang lunasilah, dan bila tidak punya maka kamu bebas (dari utang). Penglihatan kedua mataku ini -dia meletakkan jari-jemarinya ke kedua matanya-, pendengaran kedua telingaku ini dan dipahami oleh hatiku ini -dia menunjuk ke tempat hatinya-, menyaksikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa menangguhkan orang susah atau membebaskannya dari utangnya, maka Allah akan menaunginya dalam naunganNya.”
(HR. Imam Muslim, no.5328)

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang sangat bermanfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah taala adalah membuat seorang muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”
(HR. At-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, no.13280. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan, Shahih Al-Jami, no.176)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah bercerita;
“Hasan Al-Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan kepada murid-muridnya: Hampirilah Tsabit Al-Banani, bawa dia bersama kalian! Ketika Tsabit didatangi, dia berkata: Maaf, aku sedang itikaf. Murid-murid tersebut kemudian kembali mendatangi Hasan Al-Bashri, lalu mereka mengabarinya. Kemudian Hasan Al-Bashri berkata: Wahai A’masy, tahukah kamu, bahwa jika kamu berjalan menolong saudaramu yang sedang membutuhkan pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji? Lalu mereka pun kembali kepada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan itikaf dan mengikuti murid-murid Hasan Al-Bashri untuk memberikan pertolongan kepada orang lain.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:294)

Allah azza wa jalla berfirman;

هَلْ جَزَآءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُ
“Tidak ada balasan untuk kebaikan, kecuali kebaikan.”
(Surat Ar-Rahman: ayat 60)

مَنْ يَّعْمَلْ سُوْٓءًا يُّجْزَ بِهٖ ۙ وَلَا يَجِدْ لَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا
“Barang siapa mengerjakan keburukan, pasti akan dibalas sesuai dengan keburukan tersebut, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.”
(Surat An-Nisa: ayat 123)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap (sifat), maka Allah akan menyikapinya juga dengan sikap tersebut di dunia dan akhirat.”
(Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm.49)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ
“Barang siapa yang senang Allah mengabulkan doanya ketika dalam keadaan sempit serta berduka maka hendaknya ia banyak berdoa ketika dalam keadaan lapang.”
(HR. At-Tarmidzi, no.3304. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Mari hafalkan dan amalkan di antara doa-doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah, Rabb yang maha hidup! Ya Allah, Rabb yang maha berdiri sendiri (tidak butuh bantuan siapapun)! Dengan segala rahmatMu, aku benar-benar meminta pertolonganMu. Perbaikilah segala urusanku, dan janganlah sekejap matapun Engkau bebankan semua urusan kepadaku!”
(HR. Al-Albani, Shahih Al-Jami, no.5820. Hadits ini hasan)

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, jika Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.974)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Imam Muslim, no.4897)
___
@Kota Udang Cirebon, 17 Muharram 1441H/17 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaApa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?
Artikel sesudahnyaFiqih Darah Wanita
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here