Beranda Belajar Islam Amalan Apa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?

Apa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?

68
0
BERBAGI

Apa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?

Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus kita ketahui jawabannya, agar kita bisa bersikap bijak dalam menilai dan menyikapi keberadaan media-media yang menisbatkan aktivitasnya terhadap dakwah Islam.

Seperti adanya Yayasan Islam, Pondok Pesantren, Sekolah Islam, Lembaga Dakwah, Panitia Kajian, dan ada juga Media Dakwah yang berusaha menyebarkan dan mensyiarkan agama Islam dengan berbagai macam fikih dakwah serta cara yang dibolehkan oleh syariat Islam. Dan pihak-pihak tersebut juga memiliki porsi peran (bagian) dalam dakwah yang berbeda-beda. Di antaranya;

1. Yayasan: Sebuah badan hukum yang bisa melegalkan dan menguatkan berbagai macam kegiatan, termasuk kegiatan keagamaan dan keislaman. Karena untuk mendapatkan badan hukum yayasan ini kita harus berurusan dengan pihak hukum yakni notaris, dan semua prosedurnya mengikuti aturan pemerintah.

2. Pondok Pesantren: Sebuah tempat yang menjadi sarana belajar agama Islam. Secara umum, memang pondok pesantren sedikit berbeda dengan sekolah, karena kalau sekolah lebih fokus pada pendidikan umum, sedangkan pondok pesantren fokus pada pendidikan Islam.

3. Sekolah Islam: Sebuah lembaga pendidikan yang fokus pada pendidikan umum dan Islam. Meskipun dinamakan sekolah Islam namun, aktivitas pembelajarannya tidak bisa lepas dari pendidikan umum, karena hukum asal sekolah adalah untuk mempelajari pengetahuan umum. Sehingga meskipun ada pendidikan Islam di dalamnya, porsi waktu pembelajarannya tidak banyak.

4. Lembaga Dakwah: Sebuah komunitas yang menangani semua urusan yang berkaitan dengan program-program dakwah Islam.

5. Panitia Kajian: Sebuah komunitas yang fokus pada penyelenggaraan pengajian yang bersifat rutin, atau sewaktu-waktu, seperti: Tabligh Akbar, Daurah Ilmiah, dan semisalnya.

6. Media Dakwah: Sebuah komunitas yang fokus pada penyebaran konten dakwah, berupa video, poster, artikel, hingga program-program sosial.

Kalau dicermati, di antara pihak-pihak yang berkontribusi di dalam dunia dakwah ternyata hanya Media Dakwah yang memiliki porsi peran yang cukup banyak, luas, dan fleksibel.

Sebagai contoh: Yayasan Islam, Pondok Pesantren, Sekolah Islam, Lembaga Dakwah, Panitia Kajian, semuanya akan bisa merealisasikan program-program dakwahnya (seperti pengajian), dan menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan sosial (seperti baksos) hanya dengan melalui Media Dakwah. Karena Media Dakwah adalah sarana dan penghubung antara para aktivis dakwah tersebut dengan masyarakat. Sudah terbukti, saat ini sudah banyak juga Media Dakwah yang siaran dakwah dan sosialnya bisa tembus hingga pelosok daerah dan luar negeri.

Hal tersebut disebabkan karena Media Dakwah memiliki berbagai macam sarana dan strategi dalam menyebarluaskan dakwah Islam, mulai dari konten audio, video, buletin, baliho, poster, dan cara semisalnya. Selain itu, sarana dan strategi tersebut bisa dilakukan dimanapun, kemanapun, kapanpun, dan berapapun. Disebabkan banyaknya peluang yang bisa dilakukan oleh Media Dakwah, mengharuskan Media Dakwah saat ini membuat program sosial juga, seperti: Penyaluran air bersih, pemanfaat harta riba dan harta syubhat, kegiatan baksos (tebar busana, buku, sembako, donor darah, dan kegiatan semisalnya), pembagian makanan gratis kepada masyarakat, pembebasan tanah wakaf, renovasi rumah warga tidak mampu, membantu orang-orang miskin dan yatim-dhuafa.

Program dakwah dan sosial dari Media Dakwah tersebut semuanya bisa dilakukan karena banyaknya manusia yang bisa mengetahui informasinya dan merasakan manfaat dari programnya. Di antaranya ada yang memanfaatkan waktu mereka untuk belajar ilmu Islam dari konten-kontennya, dan memanfaatkan hartanya untuk disalurkan melalui program-programnya.

Sebetulnya, pihak-pihak yang lain pun bisa mengadakan program dakwah dan sosial tersebut, hanya manfaat yang mereka akan lakukan sangat terbatas, kecuali jika dibantu dengan Media Dakwah, sehingga manfaatnya tersebut menjadi tidak terbatas. Itulah salah satu manfaat besar dari Media Dakwah, karena tanpa Media Dakwah, kegiatan sebesar apapun manfaatnya, maka akan terbatas. Sehingga akan membuat sebagian besar masyarakat tidak mengetahui informasinya dan tidak bisa merasakan manfaat dari programnya.

Sebagai bukti: Media Dakwah berupa Media Sosial, Website, Channel, Radio atau TV, itu bisa menyiarkan sebuah penjelasan ilmu dan menyebarluaskan sebuah penjelasan informasi dengan jarak serta waktu yang tidak terbatas.

• Mengapa Media Dakwah tidak hanya membuat dan menyebarluaskan program dakwah namun, program sosial juga?

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru pada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Surat Ali Imran: ayat 104)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُونَ
“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh (berbuat) yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman namun, kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (pelaku dosa).”
(Surat Ali Imran: ayat 110)

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”
(Surat An-Nisa: ayat 114)

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebaikan, dan berkata: Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”
(Surat Fusshilat: ayat 33)

Berdasarkan dalil-dalil di atas, membuat sebagian orang-orang yang berada di Media Dakwah berusaha membuat konsep program dakwah dan juga sosial, agar masyarakat bisa mengikuti dan merasakan manfaat dari program-program tersebut.

Semua aktivitas dakwah dan sosial yang dibuat itu bertujuan untuk mengajak manusia pada kebaikan serta kewajiban, dan mengingatkan manusia dari keburukan serta kelalaian.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

لَوْلَا يَنْهٰىهُمُ الرَّبّٰنِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka dari mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk sesuatu yang mereka perbuat.”
(Surat Al-Maidah: ayat 63)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنۢ بَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ، كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Nabi Daud dan Nabi Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk sesuatu yang mereka perbuat.”
(Surat Al-Maidah: ayat 78-79)

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya! Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya! Dan jika tidak mampu, maka ingkarilah dengan hatinya! Dan hal tersebut menunjukkan serendah-rendahnya iman.”
(HR. Imam Muslim, no.49)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Imam Muslim, no.1893)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
(HR. Imam Muslim, no.2674)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِي النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya para Malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, hingga semut-semut di sarangnya, mereka semua bershalawat (mendoakan dan memintakan ampunan) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
(HR. Imam At-Tirmidzi, no.2685)

فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.”
(HR. Imam Bukhari, no.2942)

Imam Abu Al-Tayyib Muhammad Syams Al-Haqq rahimahullah menjelaskan;
“Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para Sahabat Nabi).”
(Aunu Al-Mabud, 4:206)

“Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan masyarakat Arab ketika itu (di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam).”
(Aunu Al-Mabud, 10:69)

Maka sebab itu, semua aktivis dakwah memiliki tujuan baik, yaitu berusaha mengajak manusia pada agama Islam, merangkul manusia yang mulai lalai terhadap kewajibannya sebagai seorang muslim dengan berbagai macam cara dan strategi. Jadi, meskipun berbeda konsep dan program, selama tujuannya adalah mengajak manusia pada syariat Allah dan sunnah Rasulullah, mari kita dukung! Karena kita tidak tahu, konten atau program mana yang sudah kita berikan kepada manusia, lalu menjadi sebab hidayah (petunjuk) serta taufiq (kemudahan) dari Allah untuk mereka?

Karena pada realitanya, sudah sangat banyak juga manusia yang bertaubat dan masuk Islam, hanya karena mendengarkan penjelasan ilmu dari Media Dakwah. Kemudian banyak juga manusia yang sadar dan mau memanfaatkan rezeki yang sudah Allah amanahkan kepadanya untuk menolong sesama dan mendukung berbagai program kebaikan lainnya, hanya karena membaca penjelasan informasi sosial dari Media Dakwah. Maka apapun kemampuan kita, mari kerahkan itu semua untuk Allah dan di jalan Allah!

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 286)

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. Mereka adalah penghuni-penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya”.
(Surat Al-Araf: ayat 42)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

‎خُذُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَمَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ يَقُولُ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ
“Lakukanlah amalan yang mampu kalian lakukan! Karena Allah tidak akan pernah bosan, hingga kalian sendirilah yang merasa bosan. Dan Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (rutin), meskipun sedikit.”
(HR. Imam Muslim, no.1958)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Kewajiban yang mengenai individu itu bertingkat sesuai pada kemampuan, sesuai tingkat pengetahuan dan kebutuhan.”
(Majmu Al-Fatawa, 3:312)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan;
”Jika setan melihatmu kontinu (rutin atau terus-menerus) dalam melakukan amalan ketaatan, ia pun akan menjauhimu. Namun, jika setan melihatmu beramal, kemudian kamu meninggalkannya setelah itu, dan malah melakukan amalan ketaatan hanya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak dan kontinu untuk menggodamu.”
(Tajridu Al-Ittiba Fi Bayani Asbabi Tafadhuli Al-Amal, hlm.86)

• Nasihat untuk para aktivis dakwah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;

يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ مِنْ الدَّعْوَةِ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُهُ سَقَطَ عَنْهُ وَمَا عَجَزَ لَمْ يُطَالَبْ بِهِ وَأَمَّا مَا لَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَيْهِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِهِ
“Setiap orang dari umat ini punya kewajiban untuk menyampaikan dakwah sesuai kemampuannya. Jika sudah ada yang berdakwah, maka gugurlah kewajiban yang lain. Jika tidak mampu berdakwah, maka tidak terkena kewajiban karena kewajiban dilihat dari kemampuan. Jika tidak ada yang berdakwah padahal ada yang mampu, maka dia terkena kewajiban untuk berdakwah.”
(Majmu Al-Fatawa, 15:166)

قَدْ يُؤَخِّرُ الْبَيَانَ وَالْبَلَاغَ لِأَشْيَاءَ إلَى وَقْتِ التَّمَكُّنِ كَمَا أَخَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ إنْزَالَ آيَاتٍ وَبَيَانَ أَحْكَامٍ إلَى وَقْتِ تَمَكُّنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا إلَى بَيَانِهَا
“Suatu penjelasan dan dakwah pada suatu masalah bisa saja diakhirkan hingga waktu yang memungkinkan, sebagaimana Allah subhanahu wa taala mengakhirkan turunnya ayat dan penjelasan hukum hingga waktu yang memungkinkan saat Rasulullah bisa menerima dan bisa menjelaskannya.”
(Majmu Al-Fatawa, 20:59)

فَإِذَا قَوِيَ أَهْلُ الْفُجُورِ حَتَّى لَا يَبْقَى لَهُمْ إصْغَاءٌ إلَى الْبِرِّ، بَلْ يُؤْذُونَ النَّاهِيَ لِغَلَبَةِ الشُّحِّ وَالْهَوَى وَالْعُجْبِ سَقَطَ التَّغْيِيرُ بِاللِّسَانِ فِي هَذِهِ الْحَالِ وَبَقِيَ بِالْقَلْبِ
“Jika pelaku maksiat sudah semakin keras kepala dan tidak mau berubah menjadi baik, bahkan malah jadi menyakiti orang yang melarangnya dari kemungkaran, maka gugurlah kewajiban mengingkari kemungkaran (berdakwah) dengan lisan dalam kondisi seperti ini. Namun, tetap punya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan hati.”
(Majmu Al-Fatawa, 2:110)

Ingat, di saat Media Konvesional merusak manusia dengan konten dan program umumnya, maka sekarang saatnya Media Dakwah hadir untuk memperbaiki manusia dengan konten dan program Islamnya!

Teruslah berjuang serta berusaha mengenalkan dan menyebarluaskan syariat Allah dan sunnah Rasulullah kepada manusia, yang tujuannya untuk membuat manusia menjadi shalih! Karena dengan menjadi orang yang shalih, kita akan bisa mendapatkan ridhaNya, dan hal tersebut adalah syarat untuk masuk SurgaNya Allah yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Terus bersemangatlah dan jangan putus asa!

Karena Allah azza wa jalla berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.”
(Surat Muhammad: ayat 7)

Imam Al-Auzai rahimahullah bercerita;
“Aku pernah menemui Abu Dzar, yang sedang duduk di dekat Jumrah Al-Wustha (tempat melempar Jumrah). Orang-orang sedang berkumpul di sekelilingnya dan meminta fatwa. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dan berhenti di hadapannya seraya berkata: Bukankah Amirul Mukminin telah melarang anda untuk berfatwa? Lalu beliau mendongakkan kepalanya, kemudian berkata: Apakah kamu bertugas memantauku? Kalau pun kamu sekalian meletakkan pedang baja di atas ini -sambil beliau menunjukkan tengkuknya sendiri- (leher bagian belakang), sedangkan aku yakin, bahwa aku sedang menyampaikan sabda yang kudengar sendiri dari Rasulullah (shahih), dan meskipun kalian menghalangiku, pasti tetap akan aku sampaikan sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam.”
(Siyar Alam An-Nubala, 2:64)

Maka, sekarang jangan pernah berpikir: Apa manfaat dari agama Islam untuk kehidupanku? Tapi berpikirlah: Apa manfaat dari kehidupanku untuk agama Islam?

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Ya Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebaikan yang Engkau ridhai. Dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir hingga kepada anak cucuku! Sungguh, aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang beragama Islam.”
(Surat Al-Ahqaf: ayat 15)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Imam Muslim, no.4897)
___
@Kota Udang Cirebon, 14 Muharram 1441H/14 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly
(Pembina Media Dakwah Khiyaar TV & Pengasuh Website Islam Khiyaar.com)

BERBAGI
Artikel sebelumnyaSungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya
Artikel sesudahnyaAgar Urusan Kita Dimudahkan Oleh Allah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here