Beranda Belajar Islam Amalan Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya

187
0
BERBAGI

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً. قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ
“Bahwa orang-orang faqir (miskin) dari kalangan Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sambil berkata: Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya: Apa maksud kalian? Mereka menjawab: Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa namun, mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan (amal shalih) kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan? Mereka menjawab: Baiklah, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak 33 kali. Abu shalih berkata: Tidak lama kemudian, orang-orang faqir Muhajirin datang kembali ke Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu juga! Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Itu adalah keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya.”
(HR. Imam Muslim, no.936)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh mendengki (hasad) kecuali pada dua hal: Terhadap seseorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran (kebaikan), dan seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.”
(HR. Imam Bukhari, no.71)

كُلُّ مَعْرٌوْفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap kebaikan itu bernilai sedekah.”
(HR. Imam Bukhari, no.6021)

Rasulullah juga bersabda;

لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
“Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal, yaitu: Seseorang yang diberi karunia Al-Quran oleh Allah sehingga dia bisa membacanya (shalat dengannya) di pertengahan malam dan siang hari, dan seseorang yang diberi karunia harta oleh Allah sehingga dia bisa menginfaqkannya di malam dan siang hari.”
(HR. Imam Bukhari, no.4637)

Kemudian Rasulullah bersabda;

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
“Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang, yaitu: Pertama, seorang hamba yang dikarunia oleh Allah harta dan ilmu, dengan ilmu dia bertaqwa kepada Allah dan dengan harta dia menyambung silaturrahim dan dia mengetahui Allah memiliki hak pada hartanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik. Kedua, seorang hamba yang diberi oleh Allah ilmu, tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, dia berkata: Andai saja aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan seperti amalan si Fulan, maka dia mendapatkan apa yang dia niatkan, pahala mereka berdua sama. Ketiga, seorang hamba yang diberi harta oleh Allah, tapi tidak diberi ilmu, dia melangkah serampangan tanpa ilmu dalam menggunakan hartanya, dia tidak takut kepada Rabbnya dengan harta tersebut dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah pada hartanya, ini adalah tingkatan terburuk. Keempat, seorang yang tidak diberi oleh Allah harta ataupun ilmu, dia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si Fulan yang serampangan mengelola hartanya, dan niatnya benar, maka dosa keduanya sama.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2247)

Sahabat Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhu bercerita;

بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadaku, beliau memerintahkan: Ambillah pakaianmu dan senjatamu, lalu menghadaplah kepadaku! Aku pun mendatangi beliau ketika beliau sedang berwudhu. Beliau melihat-lihat kepadaku, kemudian bersabda: Aku akan mengutusmu memimpin satu pasukan, semoga Allah akan menyelamatkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap kamu menyukai harta dengan kesukaan yang baik. Amr bin Al-Ash berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak masuk Islam karena harta. Tetapi aku masuk Islam karena mencintai Islam dan agar aku bisa bersama Rasulullah. Lalu beliau bersabda: Wahai Amr, sebaik-baik harta yang baik adalah untuk orang yang shalih.”
(HR. Ahmad, no.17798. Ibnu Hajar menyatakan hadits ini sanadnya hasan)

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ. لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Seseorang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat). Mereka melakukan hal tersebut agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karuniaNya kepada mereka, dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.”
(Surat An-Nur: ayat 37-38)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga berkata; “Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan atau dilalaikan dengan perniagaan usahanya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya. Maka ketika tiba waktu shalat fardhu, hendaknya dia segera meninggalkan perniagaannya untuk menunaikan shalat, agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah taala dalam ayat di atas.”
(Tafsir Al-Qurthubi, 5:156)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan atau dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli (berbisnis) dan meraih keuntungan besar dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (Allah) yang maha menciptakan dan melimpahkan rezeki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa balasan kebaikan di sisi Allah taala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis atau musnah, sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal (abadi).”
(Tafsir Ibnu Katsir, 3:390)

Sebagaimana Sahabat Abdullah bin Asy-Sakhir bin Auf radhiyallahu anhu bercerita;

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ: أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ. قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan beliau sedang membaca ayat Al-Quran (artinya): Bermegah-megahan telah melalaikan kalian! (Surat At-Takatsur: ayat 1). Lalu beliau bersabda: Anak cucu Adam (manusia) berkata: Hartaku, hartaku! Lalu beliau melanjutkan sabdanya: Hartamu wahai anak cucu Adam, hanyalah sesuatu yang kamu makan lalu habis, yang kamu kenakan lalu usang, atau yang kamu sedekahkan lalu kekal.”
(HR. Imam Muslim, no.5258)

Selain itu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمْ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا
“Sungguh orang-orang yang memperbanyak (mengumpulkan harta) akan menjadi sedikit (melarat) pada hari Kiamat, kecuali orang yang diberikan kebaikan oleh Allah padanya, beliau sambil meniup ke sebelah kanan, kiri, depan, dan belakangnya, lalu dia menggunakan harta tersebut dengan baik.”
(HR. Imam Bukhari, no.5962)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Yang dimaksudkan dengan ‘memperbanyak’ adalah dengan harta, dan ‘menyedikitkan’ adalah dengan pahala akhirat. Ini (terjadi) pada diri orang yang memperbanyak harta, akan tetapi dia tidak memenuhi dengan sifat yang ditunjukkan oleh pengecualian setelahnya, yaitu berinfaq.”
(Fathu Al-Bari, 18:261)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang menggunakan harta Allah dengan cara tidak benar, bagi mereka adalah Neraka pada hari Kiamat.”
(HR. Imam Bukhari, no.2886)

Selain itu, Rasulullah bersabda;

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah yang ada di sekitarnya, dengan sebab doa mereka, shalat mereka, dan keikhlashan mereka.”
(HR. An-Nasai, no.3127)

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki, melainkan karena adanya (doa) orang-orang yang lemah di antara kalian.”
(HR. Imam Bukhari, no.2681)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah menjelaskan;
“Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlash dan lebih terasa khusyu, karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali hanya dekat kepada Allah. Amalan mereka bersih dan doa mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan). Al-Muhallab berkata: Yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan untuk bersifat tawadhu, tidak sombong, dan tidak perlu menoleh pada harta yang ada di orang lain.”
(Syarh Al-Bukhari Li Ibni Batthal, 9:114)

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat itu memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2258)

Imam Al-Munawi rahimahullah menjelaskan;
“Menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang dapat merusak agama), karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah taala dan membuatnya lupa pada akhirat, sebagaimana firmanNya: Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian merupakan fitnah untuk kalian, dan di sisi Allah pahala yang besar. (Surat At-Taghabun: ayat 15).”
(Faidhu Al-Qadir, 2:507)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Dua serigala lapar yang dilepas menyerang sekelompok kambing, kerusakannya tidak melebihi ambisi seseorang untuk memperoleh harta dan kemuliaan yang dapat merusak agamanya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2298)

Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata;
“Dunia atau harta tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena harta itu bisa menghalangi manusia untuk mencapai ridha Allah taala. Sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu tidak menghalangi dan menyibukkan manusia dari beribadah kepada Allah. Karena berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari beribadah kepada Allah taala, seperti Nabi Sulaiman alaihissalam, demikian juga Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu. Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya justru melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepadaNya.”
(Al-Adabu Asy-Syariyyah, 3:469)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
“Orang termewah sedunia yang termasuk penghuni Neraka didatangkan pada hari Kiamat, lalu orang tersebut dicelupkan sekali ke dalam Neraka, setelah itu dikatakan kepadanya: Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kebaikan sedikit pun, apa kamu pernah merasakan kenikmatan sedikit pun? Dia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb! Kemudian orang tersengsara di dunia yang termasuk penghuni Surga didatangkan juga, lalu ditempatkan di Surga sebentar, setelah itu dikatakan kepadanya: Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kesengsaraan sedikit pun, apa kamu pernah merasakan sengsara sedikit pun? Dia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb! Aku tidak pernah merasa sengsara sedikit pun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan sedikit pun juga.”
(HR. Imam Muslim, no.5021)

Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhshin Al-Badr hafizhahumallah berkata;
“Perlu diketahui, bahwa kenikmatan Allah azza wa jalla kepada hambaNya ada dua macam, yaitu: Nikmat muthlak dan nikmat muqayyad. Pengertian nikmat muthlak, nikmat yang akan mengantarkan pada kebahagiaan abadi, seperti Islam, sunnah, dan lainnya. Adapun nikmat muqayyad, nikmat yang kebahagiaannya khusus di dunia ini, seperti anggota badan yang lengkap, kesehatan, rezeki, harta benda, anak istri, kedudukan, dan hal semisalnya. Semua itu wajib disyukuri, dan ini merupakan jalan keutuhan dan untuk berkembangnya nikmat tersebut. Sebaliknya, dengan tidak disyukuri, nikmat tersebut akan lenyap (hilang). Kami memohon kepada Allah azza wa jalla, agar membimbing kita untuk mensyukuri nikmatNya dan melindungi kita dari perbuatan mengingkari nimatNya.”
(Fiqhu Al-Ad’iyah Wa Al-Adzkar, 1:269)

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmatKu) kepada kalian, tetapi jika kalian mengingkari (nikmatKu), maka pasti adzabKu sangat dahsyat.”
(Surat Ibrahim: ayat 7)

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat kepada kalian. Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian ingkar kepadaKu!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 152)

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نّـِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِ لَيْهِ تَجْئَرُوْنَ ۚ 
“Dan segala nikmat yang ada pada kalian itu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kalian ditimpa kesengsaraan, maka kepadaNya kalian meminta pertolongan.”
(Surat An-Nahl: ayat 53)

Kemudian, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
“Jika salah seorang di antara kalian melihat keadaan orang yang dilebihkan harta dan fisiknya, maka hendaknya dia melihat keadaan orang yang ada di bawahnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.6009)

Karena Nabi bersabda;

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya adalah baik dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan, dia bersyukur dan syukur tersebut baik untuknya. Dan apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar dan sabar tersebut baik untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.5318)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Sahabat Abdullah bin Masud berkata: Iman itu terbagi menjadi dua bagian, sebagiannya adalah sabar dan sebagian lainnya adalah syukur.”
(Uddatu Ash-Shabirin, hlm.88)

Beliau rahimahullah juga menjelaskan;
“Rukun syukur ada tiga yaitu: Mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah taala, menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara nampak (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalam rangka mensyukurinya), menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah. Rukun sabar juga ada tiga yaitu: Menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah taala, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti ketika terjadi musibah menampar wajah, merobek pakaian, memotong rambut, dan keadaan semisalnya.”
(Al-Wabilu Ash-Shayyib, hlm.11)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Hakikat syukur dalam peribadahan adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lidah hambaNya, yaitu dengan pujian dan pengakuan (terhadap nikmat tersebut). Pada hati hamba, yaitu dengan menyaksikan dan mencintai. Dan pada anggota badan hamba, yaitu dengan patuh dan taat. Sehingga syukur dibangun di atas lima tiang (pondasi), di antaranya: Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang disyukuri, kecintaannya, pengakuan terhadap nikmat tersebut, pujiannya dengan sebab nikmat tersebut, dan dia tidak mempergunakannya pada perkara yang tidak disukai oleh si pemberi nikmat tersebut. Inilah lima pondasi syukur, bangunan syukur berada di atas lima ini. Maka jika salah satunya tidak ada, rusaklah satu pondasi dari pondasi-pondasi syukur. Semua orang yang membicarakan tentang syukur dan definisinya, maka pembicaraannya akan kembali dan berkisar pada lima pondasi ini.”
(Madariju As-Salikin, 2:200-201)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Manusia berbeda pendapat, mana yang lebih utama antara: Orang faqir-miskin yang sabar, atau orang kaya yang bersyukur? Pendapat yang benar adalah orang yang lebih utama dari keduanya, yaitu orang yang paling bertaqwa. Jika ketaqwaan keduanya sama, maka derajat keduanya akan sama. Sesungguhnya orang-orang faqir-miskin akan mendahului orang-orang kaya masuk ke dalam Surga, karena tidak ada hisab (penghitungan harta) terhadap mereka. Sedangkan, orang-orang kaya akan ada hisab (penghitungan harta), maka orang-orang kaya yang kebaikannya lebih banyak dari kebaikan orang-orang miskin, derajatnya di Surga lebih tinggi, meskipun mereka lebih lambat masuk ke dalam Surga. Sedangkan, orang-orang kaya yang kebaikannya di bawah kebaikan orang-orang miskin, maka derajatnya di Surga pun lebih rendah dari orang miskin.”
(Majmu Fatawa, 11:21)

Beliau rahimahullah juga berkata;
“Sepantasnya seseorang itu mengambil harta dengan kemurahan jiwa, agar dia diberkahi di dalam hartanya. Jangan sampai dia mengambilnya dengan ambisi dan rakus! Seharusnya dia memandang harta itu seperti fungsi kamar kecil (WC). Manusia membutuhkannya namun, dia tidak memiliki tempat di hati. Dan jika dia berusaha mencari harta, maka dia berusaha mencari harta seperti memperbaiki kamar kecil.”
(Al-Washiyatu Al-Kubra, hlm.55)

Allah azza wa jalla berfirman;

اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّا لٍ وَّبَنِيْنَ. نُسَا رِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْـرٰتِ ۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu berarti bahwa Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, tetapi mereka tidak menyadarinya.”
(Surat Al-Mukminun: ayat 55-56)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya yaitu: Ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal) yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk fasilitas umum, atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya di waktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia wafat.”
(HR. Al-Albani, Shahih Ibnu Majah, no.200. Beliau menyatakan hadits ini hasan)

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apapun yang kalian infaqkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia adalah pemberi rezeki yang terbaik.”
(Surat Saba: ayat 39)

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah (laki-laki dan perempuan), dan memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka akan dilipat gandakan (balasan pinjamannya) untuk mereka, dan mereka juga akan mendapatkan pahala yang banyak (berharga).”
(Surat Al-Hadid: ayat 18)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jari tangannya ini ke dalam lautan, perawi bernama Yahya menunjukkan jari telunjuk, maka perhatikanlah apa yang didapat pada jari tangannya!”
(HR. Imam Muslim, no.5101)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Wajib bagi kalian untuk mengejar negeri akhirat. Kami banyak melihat orang yang mengejar akhirat dia mendapatkan juga dunianya. Namun, kami tidak melihat ada seseorang yang mengejar dunia, tapi dia mendapat akhirat juga bersama dunianya.”
(Az-Zuhd, hlm.12)

اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي وَوَلَدِي وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي
“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadaku!”
(HR. Imam Bukhari, no.5859)

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Jadikanlah aku kaya dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu!”
(HR. At-Tirmidzi, no.3486. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Silakan, baca juga serial sebelumnya: Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin.
___
@Kota Udang Cirebon, 12 Muharram 1441H/11 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaWAKAF PEMBELIAN UNIT SMARTPHONE UNTUK SIARAN DAKWAH KHIYAAR TV
Artikel sesudahnyaApa Peran Media Terhadap Dakwah Islam?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here